Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    HUBUNGAN ANTARA PRASANGKA SOSIAL DAN INTENSI MELAKUKAN DISKRIMINASI MAHASISWA ETNIS JAWA TERHADAP MAHASISWA YANG BERASAL DARI NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    ABSTRAK   Adelina, Femita. 2016. Hubungan antara Prasangka Sosial dan Intensi Melakukan Diskriminasi Mahasiswa Etnis Jawa terhadap Mahasiswa yang Berasal dari Nusa Tenggara Timur. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed., (II) Indah Yasminum Suhanti, M.Psi, Psi.   Kata kunci: prasangka sosial, intensi diskriminasi, mahasiswa Jawa.   Kota Malang merupakan kota yang mayoritas penduduknya merupakan et-nis Jawa. Sebagai kota pendidikan, mahasiswa etnis Jawa yang ada disini juga berdampingan dengan etnis lain, salah satunya adalah mahasiswa yang berasal dari NTT. Mahasiswa asal NTT seringkali terlibat kasus tawuran baik yang melibatkan sesama mahasiswa NTT maupun dengan kelompok mahasiswa lainnya. Hal itu bukan tidak mungkin dapat memunculkan prasangka sosial dari mahasiswa etnis Jawa terhadap mereka. Lebih buruk lagi, prasangka sosial dapat berubah menjadi diskriminasi. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk mengungkap hubungan antara prasangka sosial dan intensi melakukan diskriminasi mahasiswa etnis Jawa terhadap mahasiswa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korela-sional. Populasi penelitian adalah mahasiswa etnis Jawa di universitas negeri dan swasta di Kota Malang. Sampel penelitian dipilih dengan metode purposive sam-pling. Dari pusposive sampling diperoleh 35 orang mahasiswa etnis Jawa yang terdiri dari mahasiswa Universitas Negeri Malang dan mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Instrumen yang digunakan ada dua yaitu pengemba-ngan subtle and blatant prejudice scales yang dirancang oleh Pettigrew & Mer-teens dan skala intensi melakukan diskriminasi yang dirancang oleh peneliti ber-dasarkan konsep dasar intensi Icek Ajzen. Uji korelasi dilakukan dengan menggu-nakan formula pearson product moment dengan bantuan software SPSS 16.0 for windows. Setelah dilakukan uji korelasi diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,636 dengan nilai signifikansi 0,000. Hasil itu menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara prasangka sosial dan intensi melakukan diskriminasi mahasiswa etnis Jawa terhadap mahasiswa yang berasal dari Nusa Tenggara Ti-mur. Prasangka sosial mahasiswa etnis Jawa yang berada pada kategori sedang berhubungan dengan intensi melakukan diskriminasi yang sedang pula. Saran yang dikemukakan: Masyarakat yang ada di lingkungan yang terda-pat mahasiswa asal NTT sebaiknya juga melakukan interaksi yang intens dengan mahasiswa asal NTT. Pemerintah daerah perlu membuat suatu program yang dapat meningkatkan kondisi ini. Pihak perguruan tinggi perlu mempertahankan kondisi ini dengan membuat mahasiswa etnis Jawa dan mahasiswa asal NTT lebih saling mengenal satu sama lain sejak PKPT. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel penelitian sehingga hasilnya dapat digeneralisasi pada populasi, serta dapat mengembangkan ruang lingkup penelitian sehingga subjek penelitian tidak hanya terbatas pada mahasiswa saja, namun juga kelompok lain seperti masyarakat yang mengetahui mahasiswa asal NTT

    Identitas Sosial Identitas Sosial dan Right Wing Authoritarianism (RWA) sebagai Prediktor Partisipasi Politik Anggota Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto

    No full text
    ABSTRACT Identitas Sosial Identitas Sosial dan Right Wing Authoritarianism (RWA) sebagai Prediktor Partisipasi Politik Anggota Nahdlatul Ulama (NU) MojokertoPeneltian ini dilatar belakangi oleh pergerakan kelompok NU Mojokerto yang tidak hanya fokus pada kegiatan sosial keagamaan namun juga dalam kegiatan politik. Organisasi kemasyarakatan dengan anggota terbesar di Indonesia ini seakan memiliki magnet yang menarik para jagoan politik untuk memanfaatkan kondisi kedekatan yang kuat antar kalangan NU dalam mendulang suara pemilih. Meskipun PKB dikenal lahirdari kandungan NU namun tidak menjamin massa NU secara otomatis ke partai tersebut. Ahlusunnah wal jamaah serta khittah NU yang telah menjadi nilai-nilai pada kalanganNU seakan memberikan arahan dalam keberpihakan kalangan NU. Sosok Ulama atau Kyai dewasa ini memberikan efek yang cukup signifikan dalam politik pasalnya, kalangan NU memiliki ketergantungan kepada sosok Ulama atau Kyai yang artinyakeberpihakan Ulama atau Kyai kepada salah satu jagoan politik sangat besar kemungkinan akan dipatuhi oleh kalangan NU. Terbukti dengan terpilihnya beberapa kepala pemerintah yang juga merupakan kalangan NU dan lainnya memiliki relasi yangcukup dekat dengan Ulama atau Kyai NU. Disamping itu, naiknya indeks partisipasi masyarakat Mojokerto dalam Pemilu diikuti juga oleh naiknya indeks pengetahuan tentang pelaksanaan Pemilu. Terhitung sebagai kalangan nahdliyin terbesar di Mojokerto, Ds. Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon dipilih dalam penelitian ini.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang (1) deskripsi identitas sosial anggota NU, (2) deskripsi RWA anggota NU, (3) deskripsi partisipasi poltik NU, (4) identitas sosial dapat memprediksi partisipasi anggota NU, (5) RWA dapatmemprediksi partisipasi anggota NU, (6) identitas sosial dan RWA dapat memprediksi partisipasi anggota NU. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dankorelasional-prediktif. Populasi dalam penelitian ini yaitu 1.217 orang anggota NU di Ds. Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Mojokerto dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 92 orang dengan teknik aksidental sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Uji hipotesi mengginakan analisis regresi linier berganda.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anggota NU Mojokerto (1) sebagian besar subjek memiliki identitas sosial yangsedang (2) sebagian besar subjek memiliki RWA yang sedang (3) sebagian besar subjek memiliki partisipasi politik yang rendah (4) identitas sosial merupakan prediktorpartisipasi politik anggota NU dengan signifikansi 0,000 dan nilai determinasi 0,380 (5) RWA merupakan prediktor partisipasi politik anggota NU dengan signifikansi 0,017 dan nilai determinasi 0,247 (6) identitas sosial dan RWA merupakan prediktor partisipasi politik anggota NU dengan signifikansi 0,000 dan nilai determinasi 0,410. Saran untuk penelitan ini adalah (1) NU diminta untuk semakin aware akan kepentingan-kepentingan kelompok lain yang mengatasnamakan NU dalam politik. (2) Tokoh-tokoh NU diharapkan mampu menjaga stabilitas anggota baik di bidang sosial, keagamaan, maupun politik dengan mengacu pada nilai-nilai ahlusunnah wal jamaah (3) Anggota NU diharapkan untuk terbuka baik secara pikiran maupun tindakan akan dunia politik terutama mendorong anggota NU lebih berpartisipasi dalam politik karena minimnya tingkat partisipasi langsung oleh anggota NU

    HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN KUALITAS PERSAHABATAN REMAJA AKHIR DI SMAN 2 PONOROGO

    No full text
    ABSTRACT   Saputra , Feri C. 2016. Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Kualitas Persahabatan Remaja Akhir di SMAN 2 Ponorogo. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A, (2) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si. Kata Kunci: Kecerdasan Emosi dan Kualitas Persahabatan Persahabatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan para remaja. Dalam menjalin persahabatan, remaja akan mulai mengenali siapa dirinya, dan belajar bagaimana bekerja sama dengan orang lain. Dalam persahabatan remaja, kuantitas dalam menjalin persahabatan bukan sebuah ukuran penting tetapi kualitas persahabatanlah yang menjadi patokan. Semakin baik atau semakin dalam kualitas persahabatan, maka akan semakin kuat juga hubungan di antara keduanya. Kecerdasan emosi juga akan menentukan seberapa bagus kualitas persahabatan akan terjalin. Karena secerdas apa orang tersebut dalam mengendalikan emosi akan sangat menetukan bagaimana suatu hubungan akan terjalin nantinya. Pada kenyataannya masih banyak para remaja yang sudah mencapai usia dimana perkembangan kecerdasan emosi dianggap cukup matang masih belum bisa menjalin kualitas persahabatan yang bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah benar Kecerdasan emosi mempengaruhi Kualitas persahabatan. Penelitian ini tergolong penelitian korelasional, yaitu suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variabel. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI SMAN 2 Ponorogo 350 siswa, sementara sampel yang diambil dengan metode purposive random sampling berjumlah 60 siswa dari populasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kuisoner. Data yang diperoleh kemudian diuji dengan uji prasyarat analisis dan uji hipotesis untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut: diperoleh Kecerdasan emosi sedang, sebesar 60%. Diperoleh Kualitas persahabatan sedang sebesar 40%. Pengujian hipotesis didapatkan signifikansi sebesar 0,635. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan kualitas persahabatan. Yang artinya semakin tingi kecerdasan emosi yang dimiliki, maka akan semakin baik pula kualitas persahabatan yang akan terjalin  Peneliti mengajukan saran kepada pihak SMAN 2 Ponorogo untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk membantu perkembangan kecerdasan emosi siswa supaya bisa bermanfaat untuk para siswa tersebut. Untuk siswa diharapkan dapat memanfaatkan informasi yang telah diperoleh untuk membantunya meraih masa depan yang sukses. Peneliti sejenis bisa menjadikan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk penelitian yang baru. ABSTRACT   Saputra , F. C. 2016. Correlation Between Emotional Intelligence and quality Friendship of late adolescence at SMAN 2 Ponorogo. Thesis Psychology, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology, Malang State University. Preceptor : (1) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A, (2) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si. Key Word: Emotional Intelligence and Quality of Friendship Friendship is very important in the lives of teenagers . In friendship , teens will start to recognize who he is, and learn how to cooperate with others. In adolescent friendship, quantity in a friendship is not an important measure, but the quality of friendship that becomes the standard. The better or more in the quality of friendship, the more powerful is also the relationship between the two. Emotional intelligence also will determine how good the quality of friendship will be established. Because how intelligently the person in control of emotions will greatly determine how a relationship will be established later. In reality there are many young people who have reached the age where the development of emotional intelligence is considered mature enough yet to establish the quality of a great friendship. The purpose of this study was to determine whether the correct emotional intelligence affects the quality of friendship. This research is classified Correlational research is a study to determine the relationship and the level of relationship between two or more variables without any attempt to influence these variables so that there is no manipulation of variables . The population in this study were all students of class XI student of SMAN 2 Ponorogo 350, while the samples are taken using purposive random sampling of 60 students from the population. The data collection is done by using the questionnaire . The data obtained were then tested with the test requirements analysis and hypothesis testing to determine the relationship between independent variables and the dependent variable. Analysis of the data in this study using product moment correlation analysis. The results of the research that has been done obtained the following data: Emotional intelligence was obtained , by 60 % . The quality of friendship was obtained by 40 % . Testing the hypothesis obtained a significance of 0.635 . Based on this research note that there is a significant relationship between emotional intelligence and the quality of friendship. Which means the steeper emotional intelligence possessed , it will be better the quality of friendship that will be interwoven. Researchers propose suggestions to SMAN 2 Ponorogo to create a more supportive environment to help the development of emotional intelligence of students that could be useful to the students . For students are expected to take advantage of the information that has been obtained to help achieve a successful future . Researchers kind can make the results of this study as a reference for new research

    HubunganLocus of Control denganOrientasiKewirausahaanpadaMahasiswa yang Berbisnis Online di Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya Malang

    No full text
    ABSTRACT Khoerunisa, Sarah. 2016. Hubungan Locus of Control dengan Orientasi Kewirausahaan pada Mahasiswa yang Berbisnis Online di Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang; Pembimbing (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Ike Dwi Astuti, S.Psi,M.PsiKata Kunci: locus of control, orientasi kewirausahaan, bisnis onlineIndonesia membutuhkan 4 juta wirausaha agar tidak menjadi negara yang konsumtif. Menjadi seorang wirausahawan harus dibiasakan sejak usia dini. Berbisnis bisa dimulai dengan bisnis kecil terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh banyak mahasiswa yaitu membuat bisnis online dengan memanfaatkan sosial media. Mahasiswa yang memiliki bisnis online diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan dibutuhkan orientasi kewirausahaan dan locus of control di dalam dirinya. Orientasi kewirausahaan merupakan orientasi seseorang terhadap kegiatan kewirausahaan dimana meliputi cara, praktek, dan pengambilan keputusan dalam kegiatan kewirausahaan. Locus of control adalah keyakinan seseorang terhadap keberhasilan atau kegagalan yang disebabkan kendali didalam dirinya (internal) atau kendali diluar dirinya (eksternal). Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui gambaran locus of control mahasiswa yang berbisnis online pada Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya, (2) untuk mengetahui gambaran orientasi kewirausahaan mahasiswa yang berbisnis online pada Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya, (3) untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan orientasi kewirausahaan mahasiswa yang berbisnis online pada Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya.Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional dengan sampel penelitian anggota UKM Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya Malang yang berjumlah 101 menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengambilan data yaitu dengan Skala Orientasi Kewirausahaan dan Skala Locus of Control. Uji validitas skala orientasi kewirausahaan diperoleh pernyataan 26 aitem valid tingkat reliabilitas 0,833 pada Alpha Cronbach. Validitas locus of control menggunakan korelasi Pearson Product Moment diperoleh 20 aitem valid dengan tingkat reliabilitas 0,818 pada Alpha Cronbach.Uji hipotesis menggunakan teknik analisis korelasi Pearson Product Moment. Nilai korelasi antara variabel locus of control dengan variabel orientasi kewirausahaan dengan nilai signifikansi 0,82 (sig

    EFEKTIVITAS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI CUSTOMER SERVICE ORIENTATION DENGAN MODEL ADDIE UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI CUSTOMER SERVICE ORIENTATION PADA KARYAWAN DI HOTEL KLUB BUNGA BUTIK RESORT

    No full text
    ABSTRAK   Putri, Novita Rizky Elyani. 2016. Efektivitas Pelatihan Berbasis Kompetensi Customer Service Orientation dengan Model ADDIE untuk Meningkatkan Kompetensi Customer Service Orientation. Skripsi. Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing : (1) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi. (2) Gamma Rahmita UH., S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci : Pelatihan Berbasis Kompetensi, Customer Service Orientation, Model ADDIE   Klub Bunga Butik Resort merupakan hotel yang memiliki visi untuk menciptakan industri yang berwawasan kepariwisataan dalam melayani seluruh kebutuhan pengunjungnya. Tidak meratanya kemampuan yang harus dimiliki oleh karyawan, adalah salah satu penyebab kurang maksimalnya pencapaian karyawan yang kompeten di bidangnya. Selain itu, karyawan juga kurang memiliki keterampilan yang memudahkan karyawan itu sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pengetahuan dan pemahaman mengenai tugas-tugas yang dikerjakannya seharusnya bukan menjadi persoalan yang berkepanjangan. Hasilnya, pekerjaan yang dilakukan karyawan tidak sesuai dengan job description yang seharusnya dilakukan. Tujuan khusus pada penelitian ini adalah menghasilkan karyawan yang berkompeten dalam bidang pekerjaannya melalui pelatihan berbasis kompetensi Customer Service Orientation dengan menggunakan model ADDIE untuk meningkatkan kompetensi Customer Service Orientation. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen, dengan pendekatan one-group pretest-posttest design. Subjek pada penelitian adalah karyawan di Klub Bunga Butik Resort Kota Wisata Batu. Penentuan subjek dilakukan dengan purposive sampling yaitu dengan mengambil subjek yang telah memiliki karakteristik yang sudah ditentukan. Jumlah sampel yang akan diambil untuk mengikuti pelatihan berbasis kompetensi customer service orientation adalah 30 karyawan laki-laki dan perempuan sesuai dengan karakteristik yang sudah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan berbasis kompetensi Customer Service Orientation efektif untuk meningkatkan kompetensi Customer Service Orientation karyawan. Dengan perhitungan uji hipotesis U-Mann Whitney dengan nilai signifikansi 0,025 yang berarti efektif karena kurang dari signifikansi 0,005. Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada seluruh pihak yang terkait di Hotel Klub Bunga Butik Resort dalam peningkatan kompetensi karyawan dapat melakukan evaluasi rutin untuk membantu menumbuhkan rasa tanggungjawab karyawan yang besar kepada pekerjaannya. Selain itu, dengan pengembangan sumber daya manusia dapat melakukan inovasi untuk terus memberikan motivasi kepada karyawan

    Hubungan antara kebutuhan Pemenuhan Kasih Sayang dengan Perilaku Agresi pada Remaja Keluarga TKW di Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung

    No full text
    ABSTRAK   Rohmahwati, Wara. 2016. Hubungan Antara Kebutuhan Pemenuhan Kasih Sayang Dengan Perilaku Agresi Pada Remaja Keluarga TKW Di Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulunggung. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci : kebutuhan pemenuhan kasih sayang, perilaku agresi, remajakeluarga TKW.   Kebutuhan pemenuhan kasih sayang adalah kebutuhan dasar manusia yang menyangkut suatu hubungan erat, penuh kasih, serta menumbuhkan sikap keinginan untuk dimiliki; diterima; dan dicintai,yang semata-mata untuk melibatkan perasaan untuk mendapatkan penghargaan, dipercaya, mendapat dukungan; mendapat perhatian, pujian, dan bimbingan arahan.Perilaku agresi adalah perilaku fisik maupun verbal yang ditujukan oleh individu yang dapat merugikan atau merusak dan melukai objek sasaran perilaku tersebut, dengan maksud menyakiti atau merugikan orang lain secara sengaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional, dengan jumlah subjek penelitian 54 remaja keluarga TKW di Kecamatan Rejotangan. Insrtumen penelitian adalah skala kebutuhan kasih sayang dan skala perilaku agresi. Skala kebutuhan kasih sayang diperoleh 43 aitem yang valid dengan reliabilitas sebesar 0,950. Skala perilaku agresi diperoleh 45 aitem yang valid dengan reliabilitas sebesar 0,962. Data penelitian diuji korelasinya dengan menggunakan teknik korelasi Pearson product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja keluarga TKW (1) sebanyak 54%  memiliki kebutuhan pemenuhan kasih sayang yang tinggi(2) sebanyak 52% memiliki perilaku agresi yang tinggi(3)tidak ada hubungan positif antara kebutuhan kasih sayang dengan perilaku agresi pada remaja keluarga TKW dengan nilai korelasi -0,719 dan signifikansi sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan semakin tinggi kebutuhan kasih sayang maka semakin rendah perilaku agresi pada remaja keluarga TKW.                                                                     ABSTRAC   Rohmahwati, Wara. 2016. CorelationBetween Need of Love and Belonging Fulfillment andAggressive Behavior in Adolescent TKW Family Member at RejotanganTulunggungDistrict. Skripsi, Majors Psychology, Faculty Education Of Psychology,  Universityof Malang. Counsellor: (I) Dra. Sri WeniUtami, M.Si, (II) Pravissi Shanti, S.Psi.,M.Psi.   Keyword :Need of Love aand Belonging Fulfillment, Aggressive Behavior, Adolescent TKW Family Member.   Need of love and belonging fulfillmentis requirement of human being base which concerning relation, loving, and also grow desire attitude to be owned; to be accepted; and dicintai,yang solely for entangle feeling to get appreciation, trusted, getting support; getting attention, praise, and instruction tuition. Aggressive behavioris behavior of and also physical of verbal addressed by individual able to harm or destroy and hurt behavioral target object, for the purpose of hurting or harming others intentionally. This research represent quantitative research with method of korelasional, with amount of research subjek 54 is adolescent TKW family member at  RejotanganTulunggung district. Insrtumen Research scale need of love and belonging fulfillment and aggressive behavior. Scale need of love and belonging fulfillment  obtained by 43 valid aitem with reliabilitas equal to 0,950. aggressivebehavior obtained by 45 valid aitem with reliabilitas equal to 0,962. Research data tested correlation with correlation technique of Pearson productmoment. Result of this research indicate that adolescent TKW family member ( 1) counted 54 % owning need of love and belonging fulfillment is high ( 2) counted 52% owning aggressive behavior is high ( 3) there no positive corelation between need of love and belonging fulfillment and aggressive behavior in adolescent tkw family member at rejotangantulunggung district with correlation value - 0,719 and signifikansi equal to 0.000. This matter show excelsior owning need of love and belonging fulfillment hence progressively lower aggressive behaviorin Adolescent TKW Family Member at RejotanganTulunggung District

    Pengaruh Kematangan Emosi terhadap Kepuasan Pernikahan pada Pria dan Wanita

    No full text
    ABSTRAK   Setyani, Deninta Tri. 2016. Pengaruh Kematangan Emosi terhadap Kepuasan Pernikahan pada Pria dan Wanita. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si.   Kata Kunci: kematangan emosi, kepuasan pernikahan.   Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh kematangan emosi terhadap kepuasan pernikahan. Jumlah penduduk usia dewasa awal yang sudah menikah di Desa Selodono Kec. Ringinrejo Kab. Kediri 1678 terdiri dari 864 pria dan 814 wanita. Sebanyak 100 orang digunakan sebagai sampel penelitian dengan teknik proposional sampling. Ada dua instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (a) Skala Kematangan Emosi dengan tingkat reliabilitas 0,872 dan (b) Skala Kepuasan Pernikahan dengan tingkat reliabilitas 0,923. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif regresi sederhana. Hasil analisis deskriptif dari 100 subjek yang diteliti menunjukkan bahwa 29 (57%) pria dan 26 (53%) wanita memiliki kematangan emosi tinggi, serta 28 (55%) pria dan 26 (53%) wanita memiliki kepuasan pernikahan tinggi. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan regresi sederhana diperoleh signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien regresi positif. Artinya bahwa ada pengaruh positif kematangan emosi terhadap kepuasan pernikahan. Berdasarkan hasil analisis diperoleh lima kesimpulan yaitu (1) kematangan emosi pria dalam kategori tinggi (2) kematangan emosi wanita dalam kategori tinggi (3) kepuasan pernikahan pria dalam kategori tinggi, (4) kepuasan pernikahan wanita dalam kategori tinggi (5) ada pengaruh positif kematangan emosi terhadap kepuasan pernikahan pada pria dan wanita. Artinya, semakin tinggi kematangan emosi  maka semakin tinggi pula kepuasan pernikahan, begitupun sebaliknya. Bagi pria dan wanita: diharapkan dapat lebih sering menghabiskan waktu bersama pasangan, berusaha tidak meledakkan emosinya secara berlebihan, berusaha memahami emosi diri dan tidak gegabah dalam merespon situasi yang dihadapi. Bagi peneliti selanjutnya: diharapkan untuk memperbanyak jumlah aitem, berusaha meminimalisir terjadinya ketaatan sosial (social desirability), memperluas lokasi penelitian dan menggunakan faktor lain.                                 ABSTRACT   Setyani, Deninta Tri. 2016. The Influence of Emotional Maturity to the Marital Satisfaction on Male and Female. Advisor: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si.   Keywords: emotional maturity, marital satisfaction   The purpose of this research was to identify the influence of emotional maturity to the marital satisfaction. The population of early adulthood married in the village of Selodono District Ringinrejo Kab. Kediri 1678 consists of 814 male and 864 female. As many as 100 people used as research samples with the technique of propotional sampling. There are two instruments used in this research are (a) the scale of the Emotional Maturity with a level of reliability 0.872 and (b) the scale of Marital Satisfaction with the level of reliability 0.923. The analysis used are descriptive analysis of simple regression. A descriptive analysis of the results of the 100 subjects examined show that 29 male (57%) and 26 female (53%) have the high emotional maturity, as well as 28 male (55%) and 26 female (53%) have  the high marital satisfaction. Hypothesis test results using simple regression obtained significance of positive regression coefficient with 0.000. It means that there is a positive influence emotional maturity to the marital satisfaction. Based on the results of the analysis of the obtained five conclusions, namely (1) the emotional maturity of the male in the high category (2) the emotional maturity of the female in the high category (3) the marital satisfaction of the male in the high category (4) the marital satisfaction of the female in the high category (5) there is a positive influence of emotional maturity to the marital satisfaction on male and female. That is, the higher the emotional maturity of the higher of marital satisfaction, as well as vice versa. For male and female: expected to be more often spending time with spouses, trying not to blow up his emotions in excess, trying to understand the emotions of oneself and not rashly in responding to the situation at hand. For the next researcher: expeted to multiply the number aitem, trying to minimize the occurance of observance of social (social desirability), expand the location of research and use other factors

    Nilai-Nilai Kerja Orang Suku Madura yang Sukses Bekerja Di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Febrian, Nanda Wahyu. 2016. Nilai-Nilai Kerja Orang Suku Madura yang Sukses Bekerja di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistyorini S. Psi., M. Psi., (II) Gamma Rahmita U., H., S. Psi., M. Psi.   Kata Kunci: Nilai-Nilai Kerja, Orang Suku Madura, Kota Malang   Orang suku Madura merupakan salah satu etnis di Indonesia yang dikenal dengan perilakunya yang pekerja keras dan ulet dalam bekerja. Perilaku kerja mereka yang demikian terbentuk karena salah satunya nilai budaya/kearifan lokal yang mewarnai kehidupan mereka sehari-hari. Maka dari itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika nilai-nilai budaya Madura yang membentuk perilaku mereka dan bagaimana peran budaya tersebut dalam kehidupan bekerja orang suku Madura. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif etnografi. Data paparan berupa paparan kebahasaan dalam pepatah-pepatah Madura yang banyak mempengaruhi kehidupan berperilaku mereka sehari-hari. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan verifikasi subjek dan triangulasi data. Kegiatan analisis dilakukan dengan beberapa tahapan meliputi: 1) analisis domain; 2) analisis taksonomi; 3) analisis komponensial; dan 4) analisi tematik. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, ditemukan nilai-nilai kerja orang suku Madura sebagai berikut. Pertama, bekerja sebagai seorang pedagang atau wirausahawan dianggap lebih terpandang dalam hal status sosial daripada pekerjaan lainnya seperti pekerjaan sebagai seorang guru. Kedua, dalam bekerja harus dilakukan dengan perasaan senang dimana seperti yang diajarkan oleh agama mereka yaitu Islam. Ketiga, orang suku Madura menganggap bahwa tidak ada yang namanya waktu luang, mereka lebih banyak menghabiskan waktu luangnya sehari-hari untuk bekerja, selain untuk beribadah dan beristirahat (tidur malam). Keempat, orang Madura dikenal mandiri, yaitu tidak menggantungkan pekerjaan pada orang lain, tetapi mereka tetap menjalin hubungan yang baik dengan siapapun dan berusaha tidak mencari masalah. Kelima, orang suku Madura selalu berusaha untuk mensejahterakan kedua orangtua dahulu kemudian keluarga (anak dan istri) dan berusaha mengembangkan karir mereka. Keenam, orang suku Madura selalu berusaha untuk mencari tambahan penghasilan dengan cara melakukan pekerjaan tambahan selain dari pekerjaan utama mereka, seperti membuka usaha bisnis yang lain dan sebagai tenaga lepas (freelance)

    Penerimaan Diri pada Penderita HIV

    No full text
    ABSTRAK \   Arvinia, Shinta Aisyah. 2016. Penerimaan Diri pada Penderita HIV.Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri WeniUtami, M. Si. (II) Diantini Ida Viatrie, S. Psi., M. Si.   Kata Kunci: Penerimaan diri, penderita HIV   Menurut Muchlis dan Stephanus (2015), ketika seseorang mendengar bahwa dia terinfeksi HIV merasa tidak adalagi harapan hidup dan merasa segala hal yang dicita-citakan dan telah diraih menjadi sia-sia. Ditemukan juga dampak dari rendahnya penerimaan diri seperti pasien yang berencana bunuh diri  hingga pasien yang mempunyai rencana untuk menularkan penyakitnya. Penelitian ini untuk mengetahui penerimaan diri penderita HIV dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Kehadiran Peneliti merupakan instrument untuk mengumpulkan data atau mengukur status variabel yang diteliti. Subjek berjumlah 3 orang dengan criteria telah didiagnosa secara klinis tertular HIV sejak September 2015, rutin melakukan ARV, dan laki-laki maupun perempuan berusia 25-49 tahun. Lokasi penelitian di VCT RSI UNISMA Malang. Metode pengumpulan data yang dilakukan peneliti menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan teknik validasi responden dan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah penerimaan diri penderita HIV menujukkan penerimaan diri yang baik dengan ditunjukkannya terpenuhinya sebagian besar indikator penerimaan diri yang dialami oleh subjek. Ketiga subjek UH, GA dan SS menunjukkan kemunculan indikator penerimaan diri yang berbeda. Subjek UH, GA dan SS mereka mampu menunjukkan adanya keyakinan akan mampu dalam menghadapi persoalan, menganggap bahwa dirinya layak untuk hidup di dalam masyaraka1t, tidak malu untuk memperhatikan dirinya sendiri, berani bertanggung jawab atas perilakunya. Subjek GA menganggap bahwa dirinya sama  seperti orang pada umumnya, GA mampu menyebutkan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, berbeda dengan subjek SS mampu menyebutkan kelebihannya secara fisik dan kelemahannya, sedangkan subjek UH hanya mampu menyebutkaan kekurangan yang dimilikinya saja. Ketiga subjek tidak menunjukkan bahwa mereka mampu menerima pujian dan celaan secara objektif, mereka tidak mampu menerima celaan tanpa melibatkan perasaan suka atau tidak suka. Subjek UH menunjukkan bahwa subjek merasa kesal dan menyalahkan dirinya sendiri dengan keadaan yang dihadapinya, sedangkan subjek GA dan SS dapat menerima keadaan yang ada dengan tidak menyalahkan dirinya sendiri.Subjek GA dan SS berada pada tahap toleransi sedangkan subjek UH berada pada tahap keingintahuan.

    Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Dusun Sumberglagah, Mojokerto

    No full text
    ABSTRAK   Kurniawati, Herwinda. 2016. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Dusun Sumberglagah Mojokerto. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A, (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Kata kunci: dukungan sosial, penyesuaian diri, OYPMK.   Kondisi lingkungan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri individu pada umumnya, dan OYPMK pada khususnya. Keadaan lingkungan yang baik, damai, tentram, aman, penuh penerimaan dan pengertian, serta mampu memberikan perlindungan kepada anggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ditemukan kesenjangan antara karakteristik individu dengan penyesuaian diri yang baik dengan  karakteristik OYPMK yang ada di Dusun Sumberglagah Mojokerto. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian mengenai dukungan sosial dan penyesuaian diri pada OYPMK di Dusun Sumberglagah Mojokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dukungan sosial, penyesuaian diri dan hubungan antara kedua variabel tersebut pada OYPMK di Dusun Sumberglagah Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala yang terdiri dari skala dukungan sosial berdasarkan teori Sarafino & Smith (2011) dan skala penyesuaian diri berdasarkan teori Atwater (1983) dan Schneiders (1964). Hasil penelitian yaitu sebagai berikut. Pertama, 63,8% OYPMK memiliki dukungan sosial yang tinggi. Kedua, 51% OYPMK memiliki penyesuaian diri yang baik. Ketiga, terdapat hubungan yang positif signifikan antara dukungan sosial dan penyesuaian diri OYPMK di Dusun Sumberglagah Mojokerto. Saran dalam penelitian yaitu sebagai berikut. Pertama, LSM maupun Puskesmas di sekitar Dusun Sumberglagah dapat memberikan perhatian, kepedulian, ataupun bantuan terhadap OYPMK di Dusun Sumberglagah sehingga OYPMK tersebut dapat menyesuaikan diri dengan baik. Kedua, warga Dusun Sumberglagah diharapkan menambah kegiatan-kegiatan yang turut melibatkan OYPMK di Dusun Sumberglagah agar OYPMK di Dusun Sumberglagah mampu menyesuaikan diri dengan lebih baik. Ketiga, Psikolog maupun Praktisi Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat memberikan psikoedukasi ataupun promosi kesehatan untuk OYPMK di Dusun Sumberglagah untuk meningkatkan dukungan sosial OYPMK di Dusun Sumberglagah. Keempat, peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini yaitu dengan melakukan penelitian eksperimen untuk mencari pengaruh kedua variabel tersebut atau dengan menambah variabel-variabel lain yang berkaitan

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇