Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    HUBUNGAN KETERBUKAAN DIRI DAN KEBUTUHAN AFILIASI DENGAN INTENSITAS PENGGUNAAN SITUS JEJARING SOSIAL DI SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Ratnasari, Elyana Dwi. 2015. Hubungan antara Keterbukaan diri dan Kebutuhan Afiliasi dengan Intensitas Penggunaan Situs Jejaring Sosial pada Remaja di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Kata kunci: keterbukaan diri, kebutuhan afiliasi, intensitas penggunaan jejaring sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterbukaan diri, kebutuhan afiliasi dan intensitas penggunaan situs jejaring sosial pada remaja di SMA Laboratorium UM. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik proportional random sampling. Subjek penelitian berjumlah 127 orang dengan karakteristik siswa kelas X dan XI SMA Laboratorium UM dalam usia remaja yang memiliki akun jejaring sosial dan aktif menggunakan situs jejaring sosial. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala pengungkapan diri, skala kebutuhan afiliasi dan angket intensitas penggunaan situs jejaring sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak siswa (56,7%) yang memiliki keterbukaan diri rendah dan 43,3% siswa dalam kategori tinggi. Lebih banyak siswa yang (51,2%) memiliki kebutuhan afiliasi tinggi dan 48,8% siswa lainnya memiliki kebutuhan afiliasi rendah. Jumlah siswa yang memiliki intensitas penggunaan situs jejaring sosial tinggi sebesar 51,2% dan 48,8% siswa memiliki intensitas penggunaan situs jejaring sosial dalam kategori rendah. Terdapat hubungan yang positif signifikan antara keterbukaan diri dengan intensitas penggunaan situs jejaring sosial pada siswa SMA Laboratorium UM yang menghasilkan angka korelasi 0,215 dengan angka signifikansi 0,015 (p < 0,05). Tidak terdapat hubungan yang positif signifikan antara kebutuhan afiliasi dengan intensitas penggunaan situs jejaring sosial pada siswa SMA Laboratorium UM yang menghasilkan angka korelasi -0,073. Analisis korelasi antara variabel keterbukaan diri dan kebutuhan afiliasi dengan intensitas penggunaan situs jejaring sosial dianalisis menggunakan uji regresi ganda yang menghasilkan nilai R sebesar 0,239  yang artinya terdapat hubungan positif antara keterbukaan diri dan kebutuhan afiliasi dengan intensitas penggunaan situs jejaring sosial pada siswa SMA Laboratorium UM. Namun, hasil uji hipotesis pada penelitian hanya dapat dikenai pada kelompok sampel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dikemukakan adalah (1) Remaja dapat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang dapat meningkatkan kecakapan komunikasi interpersonalnya (keterbukaan diri) seperti ektrakulikuler Public Speaking (2)Guru Bimbingan Konseling dapat memberikan suatu pelatihan pengembangan diri yang dapat meningkatkan keterbukaan siswa atau kecakapan komunikasi interpersonalnya. (3) Peneliti selanjutnya disarankan agar menambah subjek dalam cakupan yang lebih luas dan lebih banyak agar keakuratan hasil penelitian jauh lebih baik dan maksimal dan perlu diperhatikan untuk pengukuran intensitas sebaiknya menggunakan pertanyaan yang lebih luas cakupannya. ABSTRAK   Ratnasari, Elyana Dwi. 2015. Correlation Between Self-disclosure and Need of Affiliation with Usage Intensity of Social Networking Sites at SMA Laboratorium UM. Thesis, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si., (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Key words: self-disclosure, need of affiliation, usage intensity of social networking sites This study aims to determine the correlation between self-disclosure, need  of affiliation and the usage intensity of social networking sites at adolescents in SMA Laboratorium UM. This study used a descriptive and correlational research design. The selection of research subjects using proportional random sampling technique. The number of subjects are 127 people with the characteristics of adolescent students at SMA Laboratorium UM who had social networking sites account and actively using the social networking sites account. Instrument used in this study are self-disclosure scale, need of affiliation scale, and usage intensity of social networking sites questionnaire. The results showed that the majority of students (56,7%) have low self-disclosure and 43,3% of students in the high category. Most of the students (51,2%) have high need of affiliation and 48,8% of other students have low need of affiliation. The number of students who have a high usage intensity of social networking site is 51,2% and the other students (48,8%) have low usage intensity of social networking site. There is a significant positive correlation between self-disclosure with usage intensity of social networking site at SMA Laboratorium UM’s students which generates a number of correlation 0,215 and with correlation number 0,015 (p < 0,05). There is no a significant positive correlation between need of affiliation and usage intensity of social networking site at SMA Laboratorium UM’s students which generates a number of correlation -0,073. Analysis of correlation between the variables, self-disclosure and the need of affiliation with usage intensity of social networking sites analyzed using multiple regression test which generates the R value of 0,239  means that there is a significant positive correlation between self-disclosure and the need of affiliation with usage intensity of social networking sites at student of SMA Laboratorium UM. But, the result on this research only can be subject to sample group of research. Based on the research results, suggestions are put forward (1) Students can  take an extracurricular activity that can be improved their interpersonal communication skill (self-disclosure) such as Public Speaking Class. (2) The counselor can facilitated a self-developmental training program at school that can improved student’s self-disclosure or their interpersonal communication skill. (3) The next researcher recommended to add the number of sample study  population so that the accuracy of the results are much better and maximal

    Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Resiliensi Remaja Panti Asuhan Al-Ikhlas Gondanglegi Kabupaten Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Zamrudiah, Vony. 2016. Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Resiliensi Remaja Panti Asuhan Al-Ikhlas Gondanglegi Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang; Pembimbing (I) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si (II) Ike Dwiastuti, S.Psi., M.Psi.   Kata Kunci: kepercayaan diri, resiliensi, dan remaja panti asuhan.   Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi dan berusaha bangkit dari keadaan yang sulit, situasi peristiwa traumatis, serta kondisi penuh tekanan sehingga menjadi individu yang mampu mengatasi permasalahan dengan baik. Kepercayaan diri adalah sikap yakin individu akan kemampuan diri sendiri dalam melakukan interaksi dengan orang lain, mampu berperilaku bertanggung jawab terhadap tindakannya dan tidak mudah terpengaruh orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) tingkat kepercayaan diri pada remaja panti asuhan, (2) tingkat resiliensi remaja panti asuhan, (3) adakah hubungan antara kepercayaan diri dengan resiliensi remaja panti asuhan Al-Ikhlas Gondanglegi Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional. Sampel sebanyak 31 responden diambil dengan teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan adalah skala kepercayaan diri mengacu teori Lauster (2004) sebanyak 18 aitem dengan reliabilitas 0,868 dan skala resiliensi mengacu teori Reivich (2003) sebanyak 27 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,888. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) tingkat kepercayaan diri remaja panti asuhan dalam kategori rendah, (2) tingkat resiliensi remaja panti asuhan dalam kategori rendah, (3) ada hubungan positif yang signifikan antara kepercayaan diri dengan resiliensi sebesar 0,812 dengan signifikansi 0,000 p< 0,05 hipotesis diterima. Saran yang dapat diberikan adalah :  (1) Remaja panti asuhan diharapkan berperan aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakulikuler untuk menumbuhkan rasa percaya diri serta mampu mengatasi kegagalan yang ada dan melakukan resiliensi, (2) Pengasuh panti asuhan dapat memberikan kesempatan bagi remaja di panti asuhan untuk melibatkan remaja dalam aktifitas di lingkungan sekitar panti asuhan sehingga kepercayaan diri dan resiliensi secara perlahan dapat berkembang pada diri remaja, (3) Psikolog perkembangan dapat memberikan seminar yang berhubungan dengan kepercayaan diri dan resiliensi untuk remaja di panti asuhan, (4) Peneliti Selanjutnya diharapkan lebih mencermati faktor-faktor lain seperti faktor resiko, dukungan keluarga, pola asuh, harga diri, bakat, efikasi diri dan faktor lingkungan yang mempengaruhi resiliensi pada remaja di panti asuhan

    Perbedaan Tingkat Penerimaan Diri Penderita Kanker pada Kelompok Usia Dewasa Awal dan Dewasa Tengah.

    No full text
    ABSRAK   Dewi, Fajar Laksmita. 2016. Perbedaan Tingkat Penerimaan Diri Kanker pada Kelompok Usia Dewasa Awal dan Dewasa Tengah. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si.   Kata kunci: penerimaan diri, penderita kanker, kelompok usia dewasa.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat penerimaan diri penderita kanker pada kelompok usia dewasa awal dan dewasa tengah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi penderita kanker untuk mengetahui tingkat penerimaan dirinya sehingga dapat mengikuti proses penyembuhan dengan lancar. Langkah langkah pembuatan instrumen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) menyusun blueprint (2) menyusun instrumen yang berisi indikator dan deskriptor dari variabel penerimaan diri (3) menyusun item – item instrumen dengan memperhatikan item favorabel dan tak-favorabel (4) menelaah kesesuaian pernyataan instrumen (5) memeriksa kata – kata yang digunakan dalam instrumen (6) ujicoba instrumen (7) melakukan skoring (8) menghitung nilai validitas dan reliabilitas instrumen (9) menyusun kembali skala penerimaan diri (10) pengambilan data dengan skala penelitian yang sudah terstandart. Skala penerimaan diri dibuat berdasarkan tahapan penerimaan diri oleh Elizabeth Kubler-Ross yang terdiri dari 75 item.Uji coba penelitian dilakukan pada 55 subjek penderita kanker rawat jalan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang menghasilkan 70 item valid dan 5 item tidak valid dengan uji validitas Pearson Product Momment. Jumlah item subvariabel disamakan untuk mengetahui kemampuan per indikator sehingga digunakan 65 item valid dengan hasil uji reliabilitas Alpha yaitu 0,956. Penelitian dilakukan pada 50 subjek penderita kanker di usia dewasa dengan hasil rata – rata berada pada kategori tingkat penerimaan diri rendah. Hasil penelitian kepada 15 subjek penderita kanker pada kelompok usia dewasa awal adalah rendah dan 35 pada kelompok usia dewasa tengah adalah tinggi. Uji normalitas menunjukkan signifikasi Kolmogorov Smirnov yaitu 0,07 sehingga data berdistribusi normal. Uji homogenitas menunjukkan signifikasi Levene’s Test for Equality of Variences yaitu 0,07 sehingga data homogen. Hasil hipotesis penelitian menggunakan Independet Sample T-Test menunjukkan t-hitung yaitu 0,389; dengan signifikasi 0,05 maka t-hitung > t-tabel sehingga Ho diterima dan Ha ditolak sehingga hipotesis ditolak maka tidak ada perbedaan penerimaan diri penderita kanker pada kelompok usia dewasa awal dan dewasa tengah. Tidak adanya perbedaan dapat dikarenakan oleh hasil rata-rata skor penerimaan diri dewasa awal (198,27) dan dewasa tengah (203,6) memiliki rentangan yang tidak jauh berbeda. Saran bagi penderita kanker agar melewati setiap tahapan penerimaan diri dan bagi peneliti selanjutnya agar mengambil kelompok usia yang jauh berbeda seperti remaja dan dewasa serta menyeimbangkan kedua sampel subjek penelitian

    Hubungan Adversity Quotient dengan Kemampuan Manajerial pada Pelaku Wirausaha Muda Kafe di Kota Malang

    No full text
    ABSTRACT Syarafina, Sabila Okta. 2016. Hubungan  Adversity Quotient  dengan  Kemampuan Manajerial pada Pelaku Wirausaha Muda Kafe di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi., (II) Gamma Rahmita U.H., S.Psi., M.PsiKata kunci: adversity quotient, kemampuan manajerial, pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang Banyaknya Kafe yang bermunculan di Kota Malang membuat persaingan bisnis kuliner menjadi semakin ketat, persaingan tersebut merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi pelaku wirausaha muda. Untuk menghadapi tantangan mengharuskan pelaku wirausaha memiliki adversity quotient. Ketika pelaku wirausaha muda memiliki adversity quotient yang tinggi maka pelaku wirausaha muda akan mengerahkan seluruh usahanya untuk bisa menghadapi permasalahan yang ada, Salah satu usaha yang mungkin dilakukan untuk menghadapi tantangan yaitu membangun usahanya dengan berbagai strategi, hal tersebut membutuhkan kemampuan manajerial. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran Adversity Quotient pada pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang, (2) mengetahui gambaran kemampuan manajerial pada pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang, dan (3) untuk mengetahui hubungan Adversity Quotient  dengan  kemampuan manajerial pada pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dan korelasional, serta menggunakan teknik purposive sampling. Dengan jumlah sample 36 pemilik kafe. Instrumen yang digunakan angket adversity quotient dan penilaian kinerja kemampuan manajerial. Dengan reliabilitas masing – masing 0,798 dan 0,903. Teknik pengkategorian pada penilitian ini berdasarkan skor T. Uji hipotesis menggunakan analisis product moment.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang  (1) sebagian besar pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang memiliki nilai adversity quotient yang tinggi, (2) sebagian besar subjek memiliki kemampuan manajerial yang tinggi, (3) terdapat hubungan positif antara adversity quotient dengan kemampuan manajerial pada pelaku wirausaha muda kafe di Kota Malang dengan nilai rxy = 0,353 dan nilai p = 0,035 < 0,05 Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini, yaitu (1) bagi pelaku wirausaha muda agar meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan, (2) bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi untuk mengembangkan penelitian adversity quotient dengan menambahkan atau menggunakan subjek yang berbeda, serta dapat membuat pelatihan yang mampu meningkatkan adversity quotient

    Hubungan Antara Beban Kerja Fisik dan Beban Kerja Mental Berbasis Ergonomi terhadap Tingkat Kejenuhan Kerja pada Karyawan PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Surabaya Gempol

    No full text
    ABSTRAK Rizqiansyah, Moch. Zulfiqar Afifuddin. 2016. Hubungan Antara Beban Kerja Fisik dan Beban Kerja Mental Berbasis Ergonomi terhadap Tingkat Kejenuhan Kerja pada Karyawan PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Surabaya Gempol. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed. (II) Ninik Setiyowati, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci : beban kerja fisik, beban kerja mental, ergonomi, kejenuhan kerja (burnout) Kejenuhan kerja (burnout) dapat diketahui oleh adanya kelelahan fisik, mental, dan emosional, serta rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri. Salah satu indikator penyebab timbulnya kejenuhan kerja (burnout) adalah beban kerja fisik maupun beban kerja mental. Beban kerja fisik maupun beban kerja mental sangat erat kaitannya dengan kajian ergonomi. Dari sudut pandang ergonomi, beban kerja fisik masuk dalam dimensi ergonomi fisik sedangkan beban kerja mental masuk dalam dimensi ergonomi kognitif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional dengan tujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel bebas yaitu Beban Kerja Fisik berbasis ergonomi (X1) dan Beban Kerja Mental berbasis ergonomi (X2) dengan variabel terikat yaitu Kejenuhan Kerja (Burnout) (Y). Populasi penelitian adalah 70 karyawan staf non operasional PT Jasa Marga (Persero) Tbk cabang Surabaya Gempol. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel karyawan staf non operasional PT Jasa Marga (Persero) Tbk cabang Surabaya Gempol sebanyak 30 orang. Pengumpulan data penelitian untuk variabel beban kerja fisik berbasis ergonomi menggunakan perhitungan cardiovasculair load (%CVL) dengan metode 10 denyut, sedangkan untuk variabel beban kerja mental berbasis ergonomi menggunakan kuesioner NASA TLX dan variabel kejenuhan kerja (burnout) menggunakan kuesioner Maslach Burnout Inventory-General Survey (MBI-GS). Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis statistik korelasional dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh koefisien korelasi tidak signifikan sehingga hipotesis penelitian ditolak, dengan uraian sebagai berikut: (1) signifikansi antara X1 dan Y sebesar 0,896; (2) signifikansi antara X2 dan Y sebesar -0,130; dan (3) signifikansi regresi antara X1, X2, dan Y sebesar 0,728. Kesimpulan hasil penelitian yaitu beban kerja fisik dan beban kerja tidak cukup kuat untuk memprediksi terjadinya kejenuhan kerja (burnout) pada karyawan sehingga dimungkinkan banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya kejenuhan kerja (burnout)

    Hubungan Dukungan Teman Sebaya dan Konformitas Kelompok dengan Perilaku Merokok pada Remaja di Kota Blitar

    No full text
    ABSTRACT Qoni’. Ikma Ni’ma. 2016.  Hubungan Dukungan Teman Sebaya dan Konformitas Kelompok dengan Perilaku Merokok pada Remaja di Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A (II) Diantini Ida Viatrie. S.Psi., M.SiKata kunci: dukungan teman sebaya, konformitas kelompok, perilaku merokok.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan (1) dukungan teman sebaya, (2) konformitas kelompok, (3) perilaku merokok, (4) mengetahui hubungan dukungan teman sebaya dengan perilaku merokok, (5) mengetahui hubungan konformitas kelompok dengan perilaku merokok (6) mengetahui hubungan dukungan teman sebaya dan konformitas kelompok dengan perilaku merokok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan korelasional. Subjek penelitian berjumlah 57 remaja pada usia 16-18 tahun yang merokok dan masih dalam masa pendidikan di Kota Blitar.  Pengambilan subjek menggunakan teknik  purposive incidental sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala dukungan teman sebaya, skala konformitas kelompok, dan skala perilaku merokok. Analisis data menggunakan teknik deskripsi untuk mengetahui gambaran dukungan teman sebaya, konformitas kelompok, dan perilaku merokok. Uji hipotesis menggunakan analisis korelasi product moment untuk mengetahui hubungan dukungan teman sebaya dengan perilaku merokok, dan hubungan konformitas kelompok dengan perilaku merokok. Untuk menganalisis hubungan dukungan teman sebaya dan konformitas kelompok dengan perilaku merokok pada remaja digunakan teknik analisis korelasi berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) remaja perokok memiliki dukungan teman sebaya yang tinggi, (2) remaja perokok memiliki konformitas kelompok yang tinggi, (3) perilaku merokok pada remaja di Kota Blitar termasuk kategori tinggi, (4) terdapat hubungan positif antara dukungan teman sebaya dan perilaku merokok,(5) terdapat hubungan positif antara konformitas kelompok dan perilaku merokok, (6) terdapat hubungan antara dukungan teman sebaya dan konformitas kelompok dengan perilaku merokok pada remaja di Kota Blitar. Saran yang dikemukakan (1) remaja di Kota Blitar diharapkan dapat dengan selektif dalam memilih kelompok pergaulan, (2) orangtua diharapkan mampu menjadi teman sekaligus pembimbing yang baik dalam membantu remaja menemukan jati diri, (3) pemerintah Kota Blitar diharapkan mampu membuat kegiatan positif yang mengikut sertakan remaja, (4) peneliti selanjutnya diharapkan agar memperbaiki instrumen, kualitas aitem, dan memperdalam mengenal subjek dengan informasi identitas subjek, mempertimbangkan variabel-variabel lain yang lebih mempengaruhi perilaku merokok pada remaja

    Hubungan Dukungan Suami dengan Kecemasan Menghadapi Menopause pada Istri di Dusun Umbuldawe Malang

    No full text
    ABSTRACT Habibah, Mufidah Arifatul. 2016. Hubungan Dukungan Suami denganKecemasan Menghadapi Menopause pada Istri di Dusun UmbuldaweMalang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi,Universitas Negeri Malang; Pembimbing (I) Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A,(II)Pravissi Shanti, S.Psi, M.Psi.Kata Kunci: dukungan suami, kecemasan menghadapi menopause,istriperimenopause.Istriberusia 40 hingga 55 tahun merupakan istri yang berada pada usiaperimenopause yaitu masa sebelum terjadinya menopause. Pada masa tersebuttimbul berbagai gejala yang tidak biasa yang dapat menimbulkan kecemasansehingga tidak semua istri siap untuk melewati masa tersebut meskipunmengetahui bahwa peristiwa tersebut adalah alamiah. Dukungan suami dapatmemiliki peran penting dalam membantu istri untuk melewati masa tersebutdengan baik. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui gambarandukungan suami pada istri yang menghadapi menopause di Dusun UmbuldaweMalang, (2) untuk mengetahui gambaran kecemasan menghadapi menopause padaistri di Dusun Umbuldawe Malang, (3) untuk mengetahui hubungan antaradukungan suami dengan kecemasan menghadapi menopause pada istri di DusunUmbuldawe Malang.Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional. Subjekpenelitian merupakan istri berusia 40-55 tahun berjumlah 63 orang. Tekniksampling yang digunakan yaitu incidental sampling. Instrumen penelitian yangdigunakan untuk pengambilan data yaitu dengan Skala Dukungan Suami danSkala Kecemasan Menghadapi Menopause.Validitas Skala Dukungan Suamidihitung menggunakan korelasi product moment dari Pearson sehingga diperoleh38 pernyataan valid dari 40 pernyataan yang diuji cobakan dengan tingkatreliabilitas 0,900 pada Alpha Cronbach. Uji validitas Skala KecemasanMenghadapi Menopause diperoleh pernyataan valid sebanyak 28 pernyataan dari36 pernyataan dengan tingkat reliabilitas 0,813 pada Alpha Cronbach.Uji hipotesis menggunakan teknik analisis korelasi Pearson ProductMoment dengan bantuan SPSS 20.0 for Windows. Nilai korelasi yang diperolehantara variabel dukungan suami dengan variabel kecemasan menghadapimenopause sebesar -0,278 dengan signifikansi 0,027 (sig

    Hubungan antara Self Objectification dengan Perilaku Narsistik pada Remaja

    No full text
    ABSTRAK   Astari, Rami. 2016. Hubungan Antara Self Objectification dengan  Perilaku Narsistik pada Remaja di SMAK Santa Maria  Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi,  Fakultas Psikologi,  Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni  Utami, M.Si., (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci : Self Objectification, Perilaku Narsistik, Remaja   Pada masa remaja sangat penting untuk mengembangkan self objectification, hal ini berkaitan dengan remaja yang sangat rentan terhadap perilaku narsistik. Perilaku narsistik ditandai dengan konsep diri yang tidak realistis. Self objectification merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk konsep diri. Dengan memiliki kemampuan self objectification yang baik, remaja akan memiliki konsep diri yang realistis yang akan menekan perkembangan perilaku narsistik pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self objectification dengan perilaku narsistik pada remaja di SMAK Santa Maria Malang. Data diperoleh dari pengisian skala Self Objectification dan skala Perilaku Narsistik oleh siswa – siswi berjumlah 92 yang tersebar di kelas X, XI dan XII  SMAK Santa Maria Malang. Hasil yang didapatkan, variabel self objectification dengan perilaku narsistik saling berkorelasi negatif sebesar - 0,492 dengan signifikansi p < 0,05. Kemampuan Self Objectification pada remaja di SMAK Santa Maria Malang berada di tingkat sedang. Demikian pula perilaku narsistik yang juga berada dalam tingkat sedang. Kesimpulan yang didapat adalah ada hubungan negatif yang cukup signifikan antara self objectification dan perilaku narsistik pada remaja di SMAK Santa Maria Malang. Artinya semakin tinggi kemampuan self objectification maka semakin rendah perilaku narsistik pada remaja, begitu pula sebaliknya semakin rendah kemampuan self objectification maka semakin tinggi perilaku narsistik pada remaja.                   ABSTRACT                    Astari, Rami. 2016. Correlation between Self Objectification and  Narcissistic Behavior on Adolescent at SMAK Santa Maria  Malang. Thesis, Departement of Psychology, Faculty of  Educational Psychology, State University of  Malang. Advisor: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si., (II)  Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Psi.   Keyword : Self Objectification, Narcissistic Behavior, Adolescent   Important things for adolescents to develop self-objectification because it relates to adolescents who are particularly vulnerable to narcissistic behavior. Narcissistic behavior is characterized by unrealistic self-concept. Self Objectification is one of important things in the formation of self concept on adolescents. When adolescents have  good ability on self objectification, they will have a realistic self concept and suppresses the development of narcissistic behavior. This is a correlation descriptive research. The purpose of this research is to find correlation between Self Objectification and Narcissistic Behavior on Adolescent. Research data were obtained from fulfilment of self objectification scale and narcissistic behavior scale by 92 student from X, XI, XII class at SMAK Santa Maria Malang . The result is, self objectification and narcissistic behavior are correlated at    - 0,492 with significancy degree 0,000. Self objectification and narcissistic behavior on adolescent at SMAK Santa Maria Malang is on moderate level. The conclusion from this reasearch is there’s a significant negative correlation between between Self Objectification and Narcissistic Behavior on Adolescent. It means if adolescents have high ability of self objectification it makes narcissistic behavior is low

    Hubungan Konsep Diri dan Persepsi terhadap Kelompok Persahabatan dengan Keputusan Pembelian Pakaian pada Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Lestari, Devid. 2016. Hubungan Konsep Diri dan Persepsi terhadap Kelompok Persahabatan dengan Keputusan Pembelian Pakaian pada Mahsiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Fattah Hidayat, S.Psi, M. Si (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi, M.PSi.   Kata Kunci: konsep diri, persepsi terhadap kelompok persahabatan, keputusan  pembelian pakaian   Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui konsep diri mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (2) Mengetahui persepsi terhadap kelompok persahabatan mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (3) Mengetahui keputusan pembelian pakaian pada mahasisi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (4) Hubungan konsep diri dengan keputusan pembelian pakaian di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (5) Hubungan persepsi terhadap kelompok persahabatan dengan keputusan pembelian pakaian di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (6) Hubungan konsep diri dan persepsi terhadap kelompok persahabatan dengan keputusan pembelian pakaian di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dan korelasional. Populasi penelitian ini sejumlah 2809 mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dan sampel yang diambil sejumlah 100 mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan teknik purpossive sampling. Instrumen penelitian ini berupa skala konsep diri, skala persepsi terhadap kelompok persahabatan, dan skala sikap terhadap keputusan pembelian. Analisis deskriptif dengan pengkategorian skor T. Uji hipotesis dengan korelasi product moment dan korelasi ganda dengan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitiannya menunjukkan mahasiswi Fakultas Ekonomi (1) sebagian besar konsep dirinya tinggi (2) sebagian besar persepsi terhadap kelompok persahabatannya rendah (3) sebagian besar keputusan pembeliannya rendah (4) ada hubungan antara konsep diri dan  keputusan pembelian dengan (rxy=0,26, p=0,009 < 0,05); (5) ada hubungan antara persepsi terhadap kelompok persahabatan dan  keputusan pembelian dengan (rxy=0,285, p=0,004 < 0,05); (6) ada hubungan antara konsep diri dan persepsi terhadap kelompok persahabatan dengan keputusan pembelian dengan R=0,419, p=0,000 < 0,005 dengan pengaruh sebesar R= 0,175. Saran yang diberikan dari penelitian ini adalah: (1) bagi mahasiswi, keluarga, dan masyarakat umum: diharap mahasiswi, masyarakat, dan orang tua dapat menjadi konsumen bijak dan melakukan pembelian sesuai kebutuhan (2) bagi peneliti selanjutnya: diharap dapat mengembangkan penelitian dengan variabel dari faktor kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologis

    Perbedaan Konformitas Terhadap Peran Gender Maskulin pada Mahasiswa Etnis Jawa dan Madura di Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Restiningtyas, Megah. 2016. Perbedaan Konformitas Terhadap Peran Gender Maskulin pada Mahasiswa Etnis Jawa dan Madura di Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi, Psikolog.   Kata Kunci: Konformitas Terhadap Peran Gender Maskulin, Etnis Jawa, Etnis Madura   Konformitas terhadap peran  gender  maskulin pada mahasiswa etnis Jawa dan  Madura di Universitas Negeri Malang yaitu perubahan perilaku atau keyakinan untuk menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku terhadap perannya sebagai seorang laki-laki berdasarkan latar belakang etnis Jawa dan  Madura yang memiliki perbedaan karakter utama dari masing-masing etnisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana deskripsi konformitas terhadap peran gender maskulin mahasiswa laki-laki etnis Jawa dan Madura di Universitas Negeri Malang dan untuk mengetahui apakah terdapa tperbedaan konformitas terhadap peran gender maskulin pada mahasiswa laki-laki etnis Jawa dan Madura di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskripsi dan komparasi dengan subjek penelitian 35 orang suku Jawa dan 35 orang suku Madura di Universitas Negeri Malang, instrumen penelitian menggunakan skala Conformity Masculine Norm Inventory 46 (CMNI-46) dengan metode likert menggunakan 72 aitem, kemudian dilakukan uji validitas dan terdapat 30 aitem valid, dan reliabilitas sebesar 0,893. Hasil analisis deskriptif dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa laki-laki suku Jawa dan suku Madura di Universitas Negeri Malang termasuk dalam kategori sedang, yaitu untuk mahasiswa suku Jawa sebesar 80% dan mahasiswa suku Madura sebesar 65,71%. Hasil analisis uji-t diperoleh koefisien t-hitung yaitu 3,850 dan koefisien probabilitasnya sebesar 0,000 pada taraf signifikansi 5%. Nilai p-value (0,000 < 0,05) maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada konformitas terhadap peran gender maskulin pada mahasiswa etnis Jawa dan Madura di Universitas Negeri Malang. Saran yang dikemukakan bagi Subjek penelitian sebaiknya melakukan pertimbangan dalam pergaulan (bias itu perkataan atau cara becanda) agar tidak menimbulkan konflik mengingat terdapat perbedaan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma maskulin pada mahasiswa suku Jawa dan mahasiswa suku Madura. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya menambah atau mengembangkan teori mengenai konformitas khususnya konformitas terhadap peran gender maskulin dan menggunakan teknik sampling yang bias digeneralisasikan. Bagi Psikolog Sosial dan Psikolog Perkembangan, untuk kasus yang berhubungan dengan penyesuaian diri dengan norma-norma maskulin sebaiknya dipertimbangkan dalam pemberian saran atau perlakuan karena terdapat perbedaan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma maskulin pada suku yang berbeda

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇