Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Hubungan antara Religiusitas dan Regulasi Emosi pada Mahasiswi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda

    No full text
    RINGKASAN Anjani, Ike Darmayanti. 2018. Hubungan antara Religiusitas dan Regulasi Emosi pada Mahasiswi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si., (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi   Kata kunci: religiusitas, regulasi  emosi, mahasiswi pesantren Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dan regulasi emosi pada mahasiswi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda. Mahasiswi dituntut memiliki peran dan harapan yang besar dimasyarakat, mahasiswi diharapkan bisa membagi waktu, banyaknya pekerjaan mulai dari kegiatan berorganisasi, tugas kuliah. Banyaknya tuntutan tersebut bisa saja menyebabkan stres, permasalahan emosi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional, melibatkan 40 responden yang dipilih menggunakan menggunakan teknik Nonprobability Sampling, dengan jenis pengambilan sampel sampling purposive. Sampel penelitian merupakan mahasiswa yang juga berperan sebagai santriwati di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda. Cara penghitungan yang digunakan ialah model perhitungan skala Likert Pengumpulan data menggunakan instrumen regulasi emosi, dengan reliabilitas 0,792, dan instrumen religiusitas dengan reliabilitas sebesar 0,885. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 mahasiswai di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Kota Malang memiliki tingkat regulasi emosi tinggi dan 21 mahasiswi dengan regulasi emosi rendah, sebanyak 23 mahasiswi memiliki religiusitas tinggi dan 17 dengan religiusitas rendah. Hasil korelasi regulasi emosi dan religiusitas menunjukkan nilai data rxy sebesar 0,604 dengan p-value = 0,000 < 0,05 artinya ada hubungan positif yang sangat signifikas antara religiusitas  dan regulasi emosi pada mahasiswi pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda. Saran yang diberikan untuk mahasiswi yang menjadi santriwati di pondok pesantren adalah meningkatkan kembali religiusitas yang ada pada diri individu. Dengan semakin meningkatkan religiusitas maka individu akan semakin baik dan mudah dalam regulasi emosi

    Hubungan Antara Psychological Capital Dan Work Engagement Pada Karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang

    No full text
    RINGKASANSari, Luluk Kumala. 2019. Hubungan Antara Psychological Capital Dan Work Engagement Pada Karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang.Pembimbing:Dr. Imanuel Hitipeuw, MA. Kata kunci: psychological capital, work engagement, karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota MalangWork engagement merupakan keadaan positif dimana karyawan memiliki motivasi dan komitmen yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya sehingga karyawan tersebut dapat memberikan energi fisik maupun psikis secara penuh dalam melakukan pekerjaannya. Faktor yang mempengaruhi work engagement adalah aspek psikologis, salah satunya adalah psychological capital. Psychological capital merupakan suatu potensi yang dimiliki oleh sesorang ketika bekerja.Penelitian ini bertujuan untuk(1) Untuk mengetahui gambaran psychological capital pada karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang(2) Untuk mengetahui gambaran work engagement pada karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang(3) Untuk mengetahui hubungan antara psychological capital dan work engagement pada karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang(4) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh psychological capital terhadap work engagement karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota MalangPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 karyawan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala psychological capital dan skala work engagement.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa(1) sebagian besar memiliki psychological capital kategori tinggi ( 84%),(2) sebagian besar memiliki work engagement kategori sedang (50%),(3) terdapat hubungan positif, kuat dan signifikan antara psychological capital dan work engagement pada karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang, dengan signifikansi 0,000 (r = 0,658). Sehingga, penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi psychological capital, maka semakin tinggi work engagement,(4) Pengaruh psychological capital terhadap work engagement sebesar 43,3%.Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini yakni(1) bagi karyawan dapat lebih meningkatkan work engagement, dan (2) bagi peneliti selanjutnya dapat menggunalan penelitian ini sebagai referensi untuk mengembangkan penelitian psychological capital dan work engagement pada karakteristik subjek penelitian yang sama ataupun berbeda, serta mengembangkan variabel agar semakin beragam

    PENGARUH SPIRITUAL INTELLIGENCE TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOUR PADA WIRAUSAHAWAN MUSLIM DI KOTA MALANG

    No full text
    Perilaku ekstra organisasi atau organizational Citizenship behaviour adalah perilaku individu yang bebas, sukarela, dan tidak terikat dengan tugas formal dan tanggungjawab organisasi atau perusahaan,  Hal ini berkaitan dengan spiritual intelligence yang dibutuhkan wirausahawan dalam menghadapi dan memecahkan masalah dalam berbagai situasi kerja yang bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas tim kerja, menghemat sumber daya yang dimiliki manajemen atau organisasi yang dapat mendukung tercapainya tujuan dari usaha.  Peneitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, (1) Bagaimana Spiritual intelligence wirausahawan muda muslim di kota Malang, (2) Bagaimana organizational citizenship behaviour wirausahawan muda muslim di kota Malang serta (3) Mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh spiritual intelligence dengan organizational citizenship behaviour pada wirausahawan muda muslim di kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan uji regresi linear sederhana. Sampel penelitian ini adalah wirausahawan muda muslim yang ada di kota Malang. Sampel dipilih dengan cara purposive sampling dan diperoleh 31 wirausahawan yang menjadi sampel penelitian. Hasil Penelitian menunjukan bahwa (1) Tingkat Spiritual intelligence wirausahawan muda muslim di kota Malang mayoritas berada pada kategori tinggi  (2) Tingkat organizational citizenship behaviour wirausahawan muda muslim di kota Malang berada pada kategori tinggi (3) Spiritual intelligence berpengaruh positif terhadap organizational citizenship behaviour pada wirausahawan muda muslim di kota Malang. Sehingga semakin baik atau tinggi spiritual intelligence maka semakin tinggi pula organizational citizenship behaviour yaitu dengan signifikansi Multiple R kategori sedang pada 0,522 atau p value sebesar 0,03 (

    Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Dinas Pendidikan Kabupaten Malangg

    No full text
    RINGKASANSaraswati, Karina Dyah Ari. 2019. Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi, M.Psi.Kata kunci : komitmen organisasi, organizational citizenship behaviorKomitmen organisasi adalah suatu tindakan yang didasari oleh perasaan kepercayaan terhadap organisasi, keterlibatan individu dalam organisasi, dan loyalitas seorang individu terhadap organisasinya. Organizational Citizenship Behavior adalah tindakan yang dilakukan oleh anggota organisasi terhadap organisasinya yang melebihi tuntutan peran atau tugas pokoknya sebagai anggota organisasi dan tidak berkaitan dengan penghargaan formal yang diberikan oleh organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komitmen organisasi terhadap organizational citizenship behavior pada Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dan korelasional sebab akibat. Pengambilan subyek dalam penelitian ini menggunakan total sampling. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 58 pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dengan kriteria : (1)&nbsp;Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pendidikan Kabupaten Malang; (2)&nbsp;pegawai non-PNS Dinas Pendidikan Kabupaten Malang; dan (3) memiliki masa kerja minimal 3 bulan. Penelitian ini menggunakan dua instrumen, yaitu skala KO (Komitmen Organisasi) dengan 25 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,908 dan skala OCB (Organizational Citizenship Behavior) dengan 37 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,904. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda.Dalam penelitian ini diperoleh hasil : (1)&nbsp;pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Malang memiliki komitmen afektif yang tinggi, komitmen berkelanjutan yang rendah, komitmen normatif yang rendah, dan OCB yang tinggi; (2)&nbsp;komitmen afektif dan komitmen berkelanjutan tidak berpengaruh terhadap OCB, sedangkan komitmen normatif berpengaruh terhadap OCB; dan (3)&nbsp;ada pengaruh komitmen afektif, berkelanjutan, dan normatif terhadap OCB sebesar 46%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi : (1)&nbsp;pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Malang untuk meningkatkan sikap komitmen berkelanjutan dan normatif; (2)&nbsp;Dinas Pendidikan Kabupaten Malang untuk meningkatkan komitmen normatif dan berkelanjutan, serta altruism; dan (3) peneliti selanjutnya untuk mengurangi jumlah aitem, memperluas indikator, memperhatikan waktu pengisian instrumen, dan menambah jumlah subyek.SUMMARYSaraswati, Karina Dyah Ari. 2019. Effect of Organizational Commitment with Organizational Citizenship Behavior in Malang District Education Office. Undergraduate Thesis, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology, State University of Malang. Supervisor : Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi, M.Psi.Keyword&nbsp;: organizational commitment, organizational citizenship behaviorAn organizational commitment is an action based on a feeling of trust in the organization, individual involvement in the organization, and an individual's loyalty to its organization. Organizational Citizenship Behavior is an action undertaken by a member of an organisation against its organization that exceeds the demands of its role or duties as a member of the organization and is not related to the formal award given by Organization. This research aims to determine the effect of the organizational commitment to Organizational Citizenship Behavior in the Malang District Education Office.This type of research is a descriptive and correlational quantitative causation. The subject-taking in this study used a total sampling. In this research samples amounted to 58 employees of the Malang District Education Office with the criteria: (1)&nbsp;Civil servant (PNS) Malang District Education Office; (2)&nbsp;Non-CIVIL servants officers in Malang District Education Office; and (3) has a minimum employment period of 3 months. This research uses two instruments, namely the KO scale (organizational commitment) with 25 valid items with reliability of 0.908 and OCB scale (Organizational Citizenship Behavior) with 37 aitem valid with reliability of 0.904. The analyses used in this study were descriptive analysis and multiple linear regression analyses.In this study obtained results: (1) Employees of the Malang District Education Office has a high affective commitment, low sustained commitment, low normative commitment, and high OCB; (2) Affective commitment and ongoing commitment have no effect on OCB, while normative commitments affect OCB; and (3) there is an influence of affective, sustained, and normative commitments to OCB by 46%.Based on the results of this study, it is recommended for: (1)&nbsp;Employees of the Malang District Education Office to improve the attitude of sustainable and normative commitments; (2)&nbsp;Malang District Education Office to increase normative and sustainable commitments, as well as altruism; and (3) subsequent researchers to reduce the number of aitems, broaden indicators, pay attention to instrument replenishment time, and increase the number of subjects

    Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Self Esteem pada Siswa SMP Pelaku Bullying di Kota Malang

    No full text
     RINGKASANWahyuni, Nur. 2019. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Self Esteem pada Siswa SMP Pelaku Bullying di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang; Pembimbing (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: Kecerdasan Emosional, Self Esteem dan Pelaku BullyingTujuan dari penelitian yaitu (1) mengetahui gambaran kecerdasan emosional pada siswa SMP pelaku bullying di Kota Malang, (2) mengetahui gambaran self esteem pada siswa SMP pelaku bullying di Kota Malang, dan (3) mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan self esteem pada siswa SMP pelaku bullying di Kota Malang.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Subyek penelitian sebanyak 42 pelaku bullying. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan 2 instrumen yaitu skala kecerdasan emosional dan self esteem yang dibuat peneliti berdasarkan teori aspek aspek kecerdasan emosional menurut Goleman (dalam Mar’at 2015) dan aspek-aspek self esteem menurut Coopersmith (dalam Suhron, 2016). Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan uji hipotesis menggunakan teknik korelasi Product Moment dan analisis regresi sederhana dengan bantuan SPSS versi 21 for windows.Hasil penelitian menunjukkan kecerdasan emosional pada siswa SMP pelaku bullying di Kota Malang (1) sebagian besar berada pada klasifikasi rendah. Self esteem pada siswa SMP pelaku bullying di Kota Malang (2) sebagian besar berada pada klasifikasi tinggi. (3) terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dan self esteem pada siswa SMP pelaku bullying di Kota Malang.Saran-saran yang diberikan peneliti bagi sekolah yaitu, pihak sekolah diharapkan lebih memperdalam lagi kasus bullying, pihak sekolah juga diharapkan memperdalam alasan-alasan seperti hanya bercanda dari pelaku bullying karena alasan tersebut banyak digunakan sebagai alibi pelaku bullying. Pihak sekolah juga diharapkan membuat program-program untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan mengarahkan self esteem kearah yang lebih positif. Salah satu program yang dapat digunakan adalah konseling kelompok. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan lebih mampu menggali faktor-faktor lain yang memiliki kaitan dengan perilaku bullying atau lebih tepatnya self esteem pada pelaku bullying. Peneliti selanjutnya juga diharapkan melakukan metode penelitian eksperimen dengaan judul ini agar memberikan dampak secara langsung kepada pelaku bullying.   

    Pengaruh Perilaku Merokok Terhadap Prestasi Belajar Dengan Agresi Sebagai Variabel Mediator Pada Mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

    No full text
    RINGKASANBimantoro, Demanda. 2019. “Pengaruh Perilaku Merokok Terhadap Prestasi Belajar Dengan Agresi Sebagai Variabel Mediator Pada Mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si. Kata kunci: Perilaku merokok, agresi, prestasi belajar.Prestasi belajar adalah skor yang diperoleh dari suatu aktivitas belajar yang dilakukan berdasarkan pengukuran dan penilaian terhadap hasil kegiatan belajar dalam bidang akademik dari sejumlah mata pelajaran disekolah atau perkuliahan dalam kurun waktu tertentu. Salah satu faktor internal dari sisi psikologis yang mempengaruhi prestasi belajar adalah agresi. Agresi adalah suatu bentuk tingkah laku yang cenderung mengarah kepada kekerasan seperti menyakiti diri sendiri ataupun menyakiti orang lain baik secara fisik maupun verbal. Sedangkan faktor internal lain dari prestasi belajar adalah kesehatan jasmani yang bersumber dari perilaku merokok. Perilaku merokok adalah suatu aktivitas atau tindakan menghisap tembakau kemudian dibakar dan dihembuskan, perilaku merokok dapat menimbulkan dampak kesehatan buruk baik bagi perokok itu sendiri maupun orang-orang disekitarnya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku merokok dan agresi terhadap prestasi belajar mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang.enelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan analisis jalur. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 60 mahasiswa perokok dari angkatan 2013 hingga 2017 di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang dengan teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah, skala agresi yang terdiri dari 22 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,705, dan skala perilaku merokok terdiri dari 25 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,712.Hasil penelitian adalah (1) Tingkat prestasi belajar mahasiswa perokok Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang dalam kategori rendah. (2) Tingkat agresi mahasiswa perokok Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang dalam kategori tinggi. (3) Tingkat perilaku merokok mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang dalam kategori tinggi. (4) Perilaku merokok memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar dengan nilai R 0,293. (5) Agresi memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar dengan nilai R 0,330. (6) Perilaku merokok dan agresi secara bersama - sama memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar dengan nilai R sebesar 0,438. (7) Perilaku merokok berpengaruh secara tidak langsung terhadap prestasi belajar dengan mediator variabel agresi. Saran bagi instansi terkait untuk merumuskan pengurangan perilaku merokok mahasiswa, Kemudian bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menambah aitem dalam perumusan skala penelitian agar memiliki tingkat reliabilitas dan validitas tinggi sehingga dapat digunakan dalam semua lini penelitian terkait. disarankan untuk memperluas populasi penelitian dalam berbagai macam lingkup mahasiswa

    HUBUNGAN GAYA HIDUP HEDONIS DAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA

    No full text
    RINGKASANSaputra, Ekky Jorgian Indra. 2019. Hubungan Gaya Hidup Hedonis dan Stres Akademik pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang.Pembimbing:Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci: gaya hidup hedonis, stres akademik, mahasiswa FEBStres merupakan keadaan yang dapat membuat seorang individu mengalami perasaan tegang, cemas dan tertekan. Proses perkuliahan dalam perguruan tinggi adalah salah satu pengalaman yang dapat mendatangkan stres dan tekanan, sehingga muncul yang dinamakan stres akademik. Stres akademik merupakan sebuah situasi dimana tubuh melakukan respon terhadap tuntutan-tuntutan ataupun tekanan-tekanan dalam bidang akademik, yang biasanya dapat mempengaruhi kognitif, emosi maupun perilaku seorang mahasiswa, salah satunya diakibatkan oleh gaya hidup hedonis. Gaya hidup hedonis adalah sebuah pola hidup yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan nilai yang dianut pada sebuah kelompok, dimana nilai-nilai tersebut akan mempengaruhi kepribadian, metode pemecahan masalah, opini tentang diri dan cara seseorang dalam memandang dunia, yang semuanya berkaitan dengan kesenangan hidup.Penelitian ini bertujuan untuk:(1) mengetahui gambaran gaya hidup hedonis pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya,(2) untuk mengetahui gambaran stres akademik pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya,(3) untuk mengetahui hubungan gaya hidup hedonis dan stres akademik pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.Penelitian ini merupakan penelitian korelasional, yakni penelitian yang mengkaji hubungan antar variabel dimana penelitian ini bertujuan untuk meneliti populasi dari objek penelitian pada waktu yang bersamaan. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya angkatan 2015. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 103 mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah skala gaya hidup hedonis dan stres akademik yang disusun oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis dan stres akademik mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya sebagai berikut:(1) sebagian besar mahasiswa memiliki gaya hidup hedonis tinggi (58%),(2) sebagian besar mahasiswa juga memiliki stres akademik tinggi (63%),(3) hubungan antara gaya hidup hedonis dan stres akademik pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya adalah positif dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (rxy = 0,674). Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi gaya hidup hedonis yang dimiliki, maka semakin tinggi pula stres akademik yang dialami oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, disarankan agar responden dapat menentukan batasan waktu untuk pemenuhan tuntutan gaya hidup hedonisnya dengan memberikan jadwal khusus, seperti seminggu sekali atau dua kali, dan tidak melalaikan pengerjaan tugas-tugas akademik agar semuanya dapat berjalan beriringan

    Hubungan antara Persepsi Polwan pada Kepemimpinan Kapolres dan Work Life Balance di Polres Pasuruan

    No full text
    RINGKASANPutra, Kusuma Ega P. 2019. Hubungan antara Persepsi Polisi Wanita pada Kepemimpinan Kapolres dan Work Life Balance di Polres Pasuruan. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang,Pembimbing:Dr. Imanuel Hitipeuw, MA. Kata Kunci: persepsi pada kepemimpinan, work life balance, polisi wanita Polres Pasuruan.Setiap wanita yang bekerja dan berkarir mengharapkan terciptanya work life balance dengan terpenuhinya aspek keseimbangan waktu (time balance), keseimbangan keterlibatan (involvement balance), dan keseimbangan kepuasan (satisfaction balance) dalam kehidupan kerjanya. Terciptanya work life balance salah satunya dapat dipengaruhi oleh persepsi anggotanya pada kepemimpinan pemimpin organisasi.Penelitian ini bertujuan untuk( 1 ) mengetahui gambaran persepsi polwan pada kepemimpinan kapolres;( 2 ) mengetahui gambaran work life balance polwan;( 3 ) mengetahui apakah ada hubungan antara persepsi polwan pada kepemimpinan kapolres dan work life balance di Polres Pasuruan.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional yang pengambilan sampelnya menggunakan cara nonprobability sampling yakni sampling jenuh. Penelitian ini menggunakan 2 instrumen yang dikembangkan oleh peneliti. Skala pertama yakni skala persepsi pada kepemimpinan dengan reabilitas Alpha Cronbach 0,883 dan skala work life balance dengan reabilitas Alpha Cronbach 0, 892 . Uji hipotesis menggunakan analisis Pearson Product Moment.Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa(1) sebagian besar polisi wanita di Polres Pasuruan memiliki persepsi yang positif pada kepemimpinan kapolres (74%);(2) sebagian besar polisi wanita di Polres Pasuruan memiliki work life balance yang tinggi (76%); dan(3) ada hubungan yang kuat antara persepsi pada kepemimpinan dan work life balance dengan signifikansi ( 0.000 < 0,005 ) dan korelasi positif dengan nilai rxy = 0, 839 pada polwan Polres Pasuruan.Terdapat beberapa saran yang ingin peneliti sampaikan yakni,(1) Bagi Polres Pasuruan atau kapolres dapat menjadi acuan dalam melihat persepsi para anggotanya terutama para polisi wanita terhadap kebijakan-kebijakan yang berlaku;(2) polwan dapat mengkomunikasikan segala hal yang dalam pekerjaannya dengan pimpinan atau kapolres dan keluarga agar komunikasi berjalan dengan baik, positif serta mencegah terjadinya konflik dalam kedua perannya; (3) peneliti dapat menyempurnakan keterbatasan-keterbatasan yang terdapat pada penelitian ini seperti mengembangkan variabel yang ada atau menggunakan variabel lain dan indikator yang sudah ada

    HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN KESEIMBANGAN HIDUP-KERJA PADA IBU YANG BEKERJA DI BANK BRI CABANG KEDIRI

    No full text
    RINGKASAN Azizah, Azmi Afifah. 2019. Hubungan antara Kecerdasan Emosi dengan Keseimbangan Hidup-Kerja pada Ibu yang Bekerja di Bank BRI Cabang Kediri. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Diyah Sulistiyorini, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: Kecerdasan emosi, keseimbangan hidup-kerja, ibu yang bekerjaMeningkatnya jumlah pekerja wanita, akan dikuti dengan terciptanya tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi para wanita pekerja yang juga berperan sebagai ibu rumah tangga. Pekerja wanita yang memiliki anak, berkewajiban untuk mengasuh anak dan mengurus keperluan rumah tangga, sehingga memiliki kompleksitas peran dibandingkan pekerja wanita yang tidak memiliki anak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara kecerdasan emosi dan keseimbangan hidup-kerja pada ibu yang  bekerja di Bank BRI Cabang Kediri.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional. Populasi penelitian sebanyak 63 orang ibu yang bekerja di Bank BRI Cabang Kediri dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang ibu yang bekerja. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala kecerdasan emosi dan skala keseimbangan hidup-kerja dengan reliabilitas 0,925 dan 0,939. Analisis data secara deskriptif menggunakan teknik presentase dan analisis korelasi menggunakan teknik product moment.       Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara kecerdasan emosi dan keseimbangan hidup-kerja pada ibu yang bekerja di Bank BRI Cabang Kediri sebesar r=0,565 dengan p=0,00

    LONELINESS DI KALANGAN BIARAWATI

    No full text
    LONELINESS DI KALANGAN BIARAWATICaecilia Binanda Rucitra HerestusiwiImanuel HitipeuwIndah Yasminum SuhantiFakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri MalangEmail : [email protected] AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna loneliness di kalangan biarawati. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kepada tiga biarawati berkaul kekal di Biara Karmelites Batu. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis tematik. Keabsahan data dilakukan dengan cek partisipan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipan 1 dan 3 terkadang mengalami kesepian, dan partisipan 2 tidak mengalami kesepian. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa loneliness tidak lepas dari kehidupan membiara. Makna loneliness bagi partisipan 1 adalah menyadari kehadiran Tuhan dan menghayati hidup panggilan di dalam biara dengan lebih banyak berdoa. Loneliness menurut partisipan 2 bermakna sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, semakin banyak berdoa, dan melakukan refleksi. Makna loneliness bagi partisipan 3 adalah pemberian diri pada Tuhan dan menghayati panggilan dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.Kata kunci: Loneliness, biarawati, kaul kekal. AbstractThis research aims to know the meaning of loneliness among the nuns. This research was qualitative research with approach of phenomenology. The collection of data using interviews and observations to three nuns who had final vows in Carmelites Batu. Data analysis techniques using the thematic analysis techniques. The validity of the data is done with member check. The results of this study indicate that participants 1 and 3 sometimes experiencing loneliness, and participant 2 not experiencing loneliness. Based on this study it can be concluded that loneliness, was not separated from the monastic life. The meaning of loneliness for participant 1 is to realize the presence of God and to live the life in monastery by praying more. Loneliness for participant 2 means as a surrender to God, more prayer, and reflection. Loneliness for participant 3 means giving self and embracing the call by being closer to God.Keywords : Loneliness, the nuns, final vows.Manusia adalah makhluk sosial yang termotivasi untuk melepaskan diri dari kesepian dengan cara berinteraksi dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, manusia bisa mengalami kesepian. Hal ini dikarenakan kebutuhan cinta, kepemilikan, keterikatan dan keintiman yang tidak terpenuhi, keterasingan dari diri sendiri, pindah ke wilayah geografis lain, baik ke kota atau negara lain, penyakit kronis, pengangguran, perceraian, dan keterasingan emosional. Kesepian adalah kerinduan yang sangat menyakitkan, kebutuhan untuk terhubung dengan yang lain dan untuk diterima dan dihargai (Rokach, 2004).Demi tercapainya menjadi seorang suster dalam ajaran agama Katolik maupun bikkhuni dalam ajaran Buddha maka aturan dan tugas yang diberikan kepada seorang biarawati harus dijalani. Peraturan yang mengikat seorang biarawati Katolik adalah 3 (tiga) kaul atau janji suci, yaitu kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan. Keterikatan biarawati dengan tiga kaul tersebut membuat biarawati memiliki gaya hidup yang unik (Keene, 2006). Selibat adalah kaul yang melekat dengan hidup religius. Cara hidup selibat atau kaul kemurnian dibaktikan terlebih dahulu daripada kaul ketaatan dan kemiskinan. Selibat merupakan kaul yang harus dihidupi secara absolut. Hidup selibat dijalani secara totalitas dan bersifat seumur hidup. Hal ini dikarenakan selibat merupakan ekspresi simbolis kehidupan religius, yaitu pemberian diri tak bersyarat pada Tuhan dengan meniadakan komitmen hidup yang lain seperti pernikahan (Sudiarja, 2003).Kaul selibat ditandai dengan kekosongan dan kesendirian manusia sebagai individu. Kaul tersebut menjelaskan bahwa individu tidak berkeinginan mengisi diri dengan berbagai hal yang dapat memberikan rasa aman. Kaul selibat menandakan bahwa manusia menghadapi kesunyian dan merasa kesepian. Makna kesepian dan kesunyian akan sangat terasa ketika mereka memulai suatu karya yang baru atau berada di lingkungan yang baru, di mana mereka harus menghadapi suatu keadaan meninggalkan relasi atau hubungan dengan sesama yang sudah lama terjalin. Hal ini merupakan suatu keadaan kritis bagi para biarawan-biarawati, karena terdapat kemungkinan untuk mengalami kesulitan menemukan seseorang yang mampu bersahabat dengan dirinya di lingkungan yang baru (Kleden, 2002).Bila individu gagal membangun hubungan intim yang memadai, hal ini berakibat pada munculnya perasaan terasing atau kesepian. Artinya, ketika seseorang tidak mampu mengomunikasikan atau berbagi perasaan dengan orang lain, maka seseorang akan cenderung merasa ditinggalkan. Perkembangan dalam masa awal dewasa ini ditandai dengan adanya upaya yang kuat untuk mengembangkan hubungan intim yang nyata dan berarti secara fisik maupun psikologis. Ketiadaan hubungan semacam ini bisa membuahkan rasa putus asa, kesunyian, dan semacam rasa terkucil yang kadang-kadang berlangsung selama hidup individu (Salkind, 2015).Biara Karmelites Batu dapat dikatakan unik karena tidak bersentuhan dengan dunia luar. Para biarawati di Biara Karmelites memiliki panggilan untuk menjalani hidup kontemplatif dalam klausura yang hening dan sunyi tanpa melakukan pelayanan aktif di luar biara. Klausura sendiri berarti pemisahan diri dari keramaian. Orang lain tidak dapat memasuki area klausura karena sifatnya yang tertutup. Pengunjung dengan tujuan tertentu dapat menemui biarawati, namun sifatnya terbatas. Pertemuan diadakan dalam sebuah ruangan yang dibatasi dengan teralis besi. Selain itu, pemisahan diri dari keramaian membuat biarawati tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan di luar biara. Jika mendapatkan izin, biarawati yang sakit dapat keluar dari biara untuk mendapatkan pengobatan. Biarawati di Biara Karmelites yang meninggal juga akan dimakamkan di area klausura biara.Kesepian dapat berpotensi menjadi kekuatan, pengenalan diri, kreativitas, dan pengetahuan diri bagi seseorang. Namun, konsekuensi dari kesepian ketika merasa ditolak, ditekan, dan diabaikan dapat berbahaya bagi kehidupan. Kesepian dapat mendorong seseorang melakukan aktivitas yang merusak. Rasa kesepian dapat merusak perasaan cinta dan keintiman hubungan. Kesepian mencegah seseorang untuk mengalami kesendirian yang kreatif. Kesepian yang tidak dihadapi dan ditangani dengan cara yang benar dapat menciptakan orang-orang yang keras dan tidak peka terhadap orang lain. Kesepian terkait dengan kesehatan dan bahkan kualitas hidup seseorang yang buruk. Kesepian dapat menjadi sangat berbahaya dan berpotensi merusak jika tidak dipahami, diterima, dan diatasi dapat menjadi kekuatan destruktif dalam diri seseorang (Rokach, 2004).Seseorang yang memilih untuk hidup sebagai biarawati harus menjalani hidup selibat, tinggal jauh dari keluarga, dan mengalami perpindahan. Biarawati khususnya di Biara Karmelites Batu yang hidup kontemplatif dalam klausura terbatas dalam interaksi sosial sehingga mampu memunculkan rasa kesepian. Oleh karena itu, Penulis merasa tertarik untuk mengetahui loneliness di kalangan biarawati di Biara Karmelites Batu. METODEPenelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian dipilih sesuai dengan tema penelitian, yaitu biara kontemplatif dan memiliki sedikit kontak sosial dengan dunia luar seperti biara Karmelites. Terdapat dua biara Karmelites di Indonesia, yaitu di Batu dan Palangka Raya. Wilayah yang dijadikan objek atau sasaran penelitian adalah biara Karmelites pertama di Indonesia, yaitu Biara Karmelites Batu yang terletak tepat di depan Gereja Katolik Gembala Baik Batu, Jalan Ridwan nomor 7, Batu. Partisipan dalam penelitian ini merupakan tiga biarawati berkaul kekal yang ditunjuk oleh kepala biara.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur. Peneliti juga menggunakan alat bantu rekam untuk memudahkan proses pengolahan data. Peneliti juga melakukan observasi dengan mengamati partisipan saat wawancara berlangsung dan mencatat perilaku yang muncul pada partisipan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis tematik atau analisis makna berdasarkan tema-tema yang menonjol dan berhubungan dengan kategori dalam tujuan penelitian (Hanurawan, 2016). Peneliti melakukan koding dengan cara pengkodean awal (initial coding) yang sesuai untuk semua penelitian kualitatif dan transkrip wawancara (Saldana, 2013). Peneliti mengubah rekaman audio wawancara ke dalam bentuk verbatim. Selanjutnya, peneliti melakukan koding dan kategorisasi data yang sesuai dengan tema-tema dari tujuan penelitian. Peneliti memaparkan data dan temuan penelitian, melakukan pembahasan terhadap data yang kemudian dikaitkan dengan teori. Penelitian ini menggunakan validasi responden, yaitu cek ulang data dengan menunjukkan verbatim serta hasil analisis peneliti terhadap partisipan. HASILHasil penelitian yang menunjukkan bahwa partisipan 1 dan 3 mengalami loneliness dapat dilihat pada gambar berikut.Partisipan 1 mengalami loneliness karena pernah mendapatkan penolakan dan merasa salah dimengerti dari sesama biarawati. Sikapnya yang tegas membuatnya ditakuti oleh biarawati lainnya. Akibatnya, partisipan 1 menahan diri untuk tidak bersikap terlalu keras pada sesamanya. Loneliness juga muncul karena partisipan 1 tidak memiliki sosok sahabat di dalam biara. Partisipan 1 merasa dirinya adalah pribadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada orang lain. Alhasil, partisipan 1 tidak membuka diri terhadap orang lain. Selain adanya separasi, partisipan 1 juga membatasi hubungannya dengan orang lain di luar biara yang mengunjunginya. Ia juga merasa memiliki hubungan yang kaku dengan laki-laki bahkan sebelum menjadi biarawati.Partisipan 1 pernah merasa bosan dengan rutinitas di dalam biara. Ia merasa bahwa hidup doanya menjadi kering. Ia juga pernah merasa gelisah di ketika harus berpisah dengan keluarga karena sebelumnya tidak pernah tinggal jauh dari keluarga. Partisipan 1 yang aktif bekerja pernah merasa gelisah ketika menjadi biarawati pendoa. Ia merasa hidupnya kurang bermakna karena berpikir bahwa hidupnya menganggur saja dan doanya tidak menghasilkan apa-apa. Makna loneliness yang muncul pada partisipan 1 adalah ketika menjalani rutinitas di dalam biara yang terkadang menimbulkan rasa jenuh, hidup doanya menjadi kurang.Loneliness muncul pada partisipan 3 yang juga pernah merasakan penolakan dari sesama biarawati karena kekurangan yang dimilikinya. Partisipan 3 yang berasal dari keluarga berdominan laki-laki juga kerap merasa salah dimengerti di dalam biara. Hal ini dikarenakan ia tidak terbiasa hidup bersama banyak perempuan sehingga membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Selain itu, separasi di dalam biara membuatnya tidak membangun relasi yang spesial dengan biarawati lain. Ketika mengalami kesulitan, ia memilih untuk mencurahkannya lewat doa.Partisipan 3 juga pernah merasa gelisah. Ia mengalami pergulatan di dalam dirinya sebelum dan sesudah menjadi biarawati. Orang lain menganggap bahwa ia telah memiliki segalanya seperti pasangan, keluarga, dan pekerjaan. Ia harus melepaskan semua ketika menjadi biarawati agar mampu melayani orang lain sesuai panggilannya. Meski telah menjadi biarawati, ia terkadang masih merasakan pergulatan ini. Makna loneliness pada partisipan 3 adalah ia selalu berjuang dalam pergulatannya. Sebelum hidup menjadi biarawati, ia memiliki hidup yang sangat berbeda dengan hidup membiara. Ia memiliki banyak teman dan senang bepergian. Ketika hidup membiara, ia mengalami pergulatan yang harus dihadapinya, yaitu apakah mampu untuk tetap setia.Ketika mengalami kesulitan, partisipan 2 mampu menyampaikannya pada pembimbing. Partisipan 2 pernah merasakan penolakan ketika dirinya belum mampu bernyanyi dengan baik di dalam biara. Hal ini mendorongnya untuk belajar dan menguasai pekerjaan di dalam biara. Ia juga berpikir bahwa sebelum menjadi biarawati ia telah melalui berbagai rintangan. Oleh karena itu, ia merasa mampu menghadapi segala kesulitan di dalam biara. Partisipan 2 tidak mengalami loneliness karena keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi biarawati. Ia juga memiliki tujuan untuk hidup doa, bukan mencari kebahagiaan dari orang lain di dalam biara. Hal ini menyebabkan partisipan 2 tidak merasakan loneliness. Ia merasa nyaman dengan keadaan di dalam biara meski muncul berbagai kesulitan. PEMBAHASANKesepian muncul ketika seseorang merasa berbeda, tidak dimengerti, tidak dibutuhkan, tidak memiliki teman dekat, dan selalu sendiri. Seseorang cenderung merasa tidak nyaman pada situasi sosial sehingga menghindar dari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus yang berakibat pada kesepian (Brehm dkk, 2002). Rasa bosan dapat muncul ketika seseorang tidak menikmati keadaan. Seseorang juga dapat mengalami perasaan gelisah berupa resah, tidak nyaman, selalu merasa khawatir, tidak senang, galau, dan cemas (Bruno, 2000). Agama memiliki makna penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi untuk menghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin di saat sulit, dan memicu semangat serta harapan atas doa yang dipanjatkan (Lubis, 2002).Partisipan 1 menganggap bahwa kesepian adalah perasaan yang wajar dan harus diterima. Partisipan 1 kerap salah dimengerti dan mendapatkan penolakan karena memiliki sikap tegas. Ia kemudian menahan diri agar tidak bersikap terlalu keras pada biarawati lainnya. Namun, ketika menghadapi kesulitan ia tidak mampu berbagi pada biarawati lain karena telah merasa mandiri sehingga tidak membutuhkan orang lain. Partisipan 1 yang tertutup tidak membangun hubungan sosial, melainkan menghadapi kesepian dengan kegiatan lain yaitu membaca buku di perpustakaan biara, membuat karya seni, dan berdoa silih. Menurutnya, tanpa doa silih maka hidupnya akan jadi kurang bermakna di dalam biara. Makna loneliness bagi partisipan 1 adalah menyadari kehadiran Tuhan dan menghayati hidup panggilan di dalam biara dengan lebih banyak berdoa.Partisipan 3 tidak membangun relasi yang spesial di dalam biara, tapi dengan aktif menyesuaikan diri dengan lingkungan biara yang beranggotakan perempuan. Padahal, sebelumnya ia terbiasa hidup dalam keluarga berdominan laki-laki. Ketika mengalami perasaan gelisah dan pergulatan, ia tidak bisa berbagi dengan biarawati lain. Ia merasa bahwa lebih baik menghadapinya dengan berdoa. Ia hanya berharap agar mampu untuk tetap setia melayani Tuhan. Selain itu ia akan berjalan-jalan ke kebun belakang biara ketika merasa bosan. Makna loneliness bagi partisipan 3 adalah pemberian diri pada Tuhan dan menghayati panggilan dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.Hidup membiara bagi partisipan 2 pasti tidak lepas dari kesulitan. Hal ini membuatnya tetap teguh meski melalui berbagai rintangan. Partisipan 2 kembali ingat bahwa sebelum hidup membiara ia juga mampu menghadapi berbagai kesulitan dengan baik. Partisipan 2 menghadapi kesulitan dengan tetap membuka diri terhadap biarawati lain. Ia mengungkapkan perasaannya ketika salah dimengerti. Ia juga memiliki kedekatan dengan pembimbing. Selain itu, ia juga sepenuhnya menyadari bahwa kebahagiaan bukan dicari dari orang lain, melainkan berasal dari dirinya sendiri. Hal ini membuat partisipan 2 merasa nyaman dengan hidup melayani Tuhan di dalam biara dan tidak mengalami loneliness. Loneliness menurut partisipan 2 bermakna sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, semakin banyak berdoa, dan melakukan refleksi.Penelitian ini menunjukkan bahwa loneliness dapat menjadi bagian dari hidup membiara. Loneliness bagi biarawati adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Penyerahan diri yang dimaksud adalah menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup panggilan, lebih banyak berdoa, dan melakukan refleksi. SIMPULANBerdasarkan hasil penelitian Loneliness di Kalangan Biarawati terhadap tiga partisipan maka didapatkan kesimpulan bahwa partisipan 1 dan 3 mengalami loneliness. Partisipan 1 dan 3 tidak terbuka terhadap biarawati lain ketika mengalami kesulitan. Partisipan 1 yang memiliki sikap tegas harus menahan diri sehingga tidak salah dimengerti oleh biarawati lain. Sedangkan partisipan 3 masih merasa gelisah karena pergulatan di dalam batinnya meski sudah berkaul kekal. Partisipan 2 tidak mengalami loneliness karena memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi biarawati. Selain itu, partisipan 2 menghadapi kesulitan dengan tetap membuka diri terhadap biarawati lain. Sebelum masuk biara, ia juga sepenuhnya menyadari bahwa kebahagiaannya bukan dari orang lain, melainkan dirinya sendiri. Ia merasa mampu menghadapi segala kesulitan dan merasa nyaman menjadi biarawati. Hal ini membuat partisipan 2 merasa nyaman dengan hidup melayani Tuhan di dalam biara.Makna loneliness bagi partisipan 1 adalah menyadari kehadiran Tuhan dan menghayati hidup panggilan di dalam biara dengan lebih banyak berdoa. Loneliness menurut partisipan 2 bermakna sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, semakin banyak berdoa, dan melakukan refleksi. Makna loneliness bagi partisipan 3 adalah pemberian diri pada Tuhan dan menghayati panggilan dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.Mengetahui bahwa kehidupan membiara pasti akan dilalui dengan berbagai tantangan dan kesulitan, calon biarawati lebih baik memiliki motivasi yang kuat. Calon biarawati sebaiknya memutuskan secara matang sebelum benar-benar memasuki biara dan berkaul kekal. Penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menambahkan kriteria partisipan yaitu biarawati dengan kriteria belum berkaul kekal sehingga mengetahui lebih dalam loneliness di awal hidup membiara. DAFTAR RUJUKANBrehm, S.S.; Miller, R.S.; Perlman, D.; Campbell, S. 2002. Intimate Relationships, 3th edition. New York: McGraw-Hill.Bruno, F. J. 2000. Conquer Loneliness: Menaklukkan Kesepian. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.Hanurawan, F. 2016. Metode Penelitian Kualitatif: Untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.Keene, M. 2006. Agama-agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.Kleden, P. B. 2002. Aku Yang Solider, Aku Dalam Hidup Berkaul. Maumere: Ledalero.Lubis. 2002. Iman dan Ilusi: Psikiatri Fakultas Kedokteran. Jakarta: Universitas Indonesia.Rokach, A. 2004. Loneliness Then and Now: Reflections on Social and Emotional Alienation in Everyday Life. Current Psychology Developmental, Learning, Personality, Social. 23 (1): 24-40.Saldana, Johnny. 2013. The Coding Manual for Qualitative Researchers. Bodmin: MPG Books Group.Salkind, N.J. 2015. Teori-teori Perkembangan Manusia. Bandung: Nusa Media. Sudiarja, A. 2003. Berenang di Arus Zaman: Tantangan Hidup Religius di Indonesia Kini. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇