Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Distres Psikologis sebagai Prediktor Perilaku Beresiko Kesehatan pada Remaja yang Mengalami Kekerasan di Bojonegoro

    No full text
    ABSTRAK   Anjani, Dini Ajeng. 2017. Distres Psikologi sebagai Prediktor Perilaku Beresiko Kesehatan pada remaja yang mengalami kekerasan di Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Pravissi Shanti, S.Psi, M.Psi   Kata Kunci: Perilaku beresiko kesehatan, Distress psikologi, Remaja yang mengalami kekerasan.   Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat Psychological Distress pada remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga yang tidak berfungsi, (2) mengetahui tingkat Health Risk Behavior pada remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga yang tidak berfungsi, (3) mengetahui Psychological Distress sebagai Prediktor Health Risk Behavior pada remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga yang tidak berfungsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan prediktif. Populasi dalam penelitian ini yaitu remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga yang tidak berfungsi di kabupaten Bojonegoro yang berjumlah 80 orang dan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini berupa skala Psychological Distress dan skala Health Risk Behavior. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan pengkategorian berdasarkan skor T. Untuk uji hipotesis menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga yang tidak berfungsi (1) memiliki tingkat Psychological Distress dalam kategori tinggi (2) memiliki tngkat Health Risk Behavior dalam kategori tinggi (3) Psychological Distress sebagai predictor Health Risk Behavior pada remaja yang mengalami kekerasan dalam keluarga yang tidak berfungsi dengan signifikansi 0,000 < 0,05 dan nilai rxy = 0,636 dengan koefisien determinasi 0,405. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah (1) bagi remaja yang mengalami kekerasan, untuk mengadakan diskusi dengan teman sebaya tentang bahaya perilaku kesehatan(2) bagi peneliti selanjutnya: mempertimbangkan untuk menggunakan populasi lain seperti remaja dengan orang tua yang bercerai dan variabel lainnya seperti self regulation dan pengaruh teman sebaya (3) bagi orang tua untuk menambah pengetahuan tentang parenting dengan mengikuti seminar parenting dan konseling keluarga (4) bagi guru untuk mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk wadah siswa berdiskusi mengenai bahaya perilaku beresiko kesehatan.                   ABSTRACT   Anjani, Dini Ajeng. 2017. Psychological Distress as a Predictor of Health Risk Behavior in Adolescent who Experience Violence in Bojonegoro. Thesis, Department of Psychology, Faculty of Psychology Education, State University of Malang. Counselor: (I) Dr. Hj. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Pravissi Shanti, S.Psi, M.Psi   Keywords: Health Risk Behavior, Psychological Distress, Adolescents who get Violence   The purpose of this research are (1) know the level of Psychological Distress, (2) know the level of Health Risk Behavior, (3) and know Psychological Distress as Predictors Health Risk Behavior, in adolescents who experienced family violences. This research uses a quantitative approach with descriptive and predictive research design. The population in this study are teenagers who experienced violence in the family in Bojonegoro, which amounted to 80 people and the number of samples in this study as many as 50 people. The sampling technique is purposive sampling. Instruments in this research are Psychological Distress Scale and Health Risk Behavior Scale. Analysis of this research is descriptive analysis with categorization based on T score. The hypothesis using simple linear regression analysis. The results of this study indicate that most teenagers who experienced family violence (1) have high levels of Psychological Distress (2) have high levels of Health Risk Behavior (3) Psychological Distress as a predictor of Health Risk Behavior in adolescents experienced family violence with a significance of 0.00

    PERAN SHADOW TEACHER DALAM LAYANAN KHUSUS KELAS INKLUSI DI SDN PERCOBAAN 1 KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK Iswandia, Dewi Anggraeni. 2017. Peran Shadow Teacher Dalam Layanan Khusus  Kelas Inklusi Pada SDN Percobaan 1 Di Kota Malang, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (1) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd, (2) Dr. H. A. Yusuf Sobri, S.Sos, M.Pd Kata Kunci: shadow teacher (ST), anak berkebutuhan khusus, kelas inklusiSDN Percobaan 1 Malang sudah menerapkan kelas inklusi sejak tahun 2004, yaitu saat sekolah ini ditunjuk Dinas Pendidikan sebagai piloting project di Kota Malang. Perkembangan kelas inklusi di SDNP 1 Malang pada saat ini masih berjalan dengan baik. Anak yang memiliki kekurangan atau biasanya disebut juga anak berkebutuhan khusus dijadikan satu dengan anak reguler, yang membedakan di sekolah ini anak berkebutuhan khusus memiliki ST ( Shadow Teacher) dengan tujuan guna untuk membimbing anak tersebut agar dapat memahami apa yang sudah dijelaskan oleh guru kelas.ST berperan penting dalam kegiatan proses belajar mengajar anak berkebutuhan khusus di kelas. Dengan adanya ST maka anak berkebutuhan khusus dapat dengan mudah dan memahami materi yang sudah dijelaskan oleh guru kelas, karena ST mengarahkan materi tersebut dengan mudah atau dengan cara-cara yang mudah dipahami oleh anak tersebut. Di sekolah ini setiap anak berkebutuhan khusus memiliki ST untuk membantu proses pembelajaran anak tersebut. Tidak semua orang bisa menjadi ST jika tidak memiliki kemampuan dasar membimbing anak berkebutuhan khusus dan mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh anak tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yaitu (1) perilaku peran ST dalam memberikan layanan khusus pada anak berkebutuhan khusus kelas inklusi, (2) strategi ST dalam memberikan layanan khusus pada anak berkebutuhan khusus kelas inklusi, dan (3) masalah dan solusi yang dihadapi ST dalam memberikan layanan khusus anak berkebutuhan khusus kelas inklusi di SDN Percobaan 1 Malang.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa dokumen-dokumen sekolah, dokumentasi kegiatan sekolah, hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti berupa catatan lapangan, dan catatan wawancara peneliti dengan narasumber atau informan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Keabsahan data dilakukan dengan kegiatan (1) pengecekan anggota, (2) triangulasi, (3) meningkatkan ketekunan, (4) kecukupan referensi.Hasil penelitian tentang peran ST dalam memberikan layanan khusus anak berkebutuhan khusus kelas inklusi bahwa (1) peran ST dalam memberikan layanan khusus anak berkebutuhan khusus adalah ST sebagai fasilitator antara anak berkebutuhan khusus dengan guru kelas dan teman di sekelilingnya, selain itu ST membantu dan mengarahkan anak tersebut ketika proses pembelajaran berlangsung, (2) strategi yang haru dilakukan ST adalah ketika anak berkebutuhan khusus tidak dapat mengerti materi yang sudah dijelaskan ST harus mengajari contohnya jika mata pelajaran matematika ST memperkecil bilangan agar anak dengan mudah memahami materi tersebut, dan (3) masalah dan solusi ketika menghadapi anak berkebutuhan khusus tentu tidaklah luput, masalah dari anak bisa terjadi semisal anak tidak bisa diam ketika proses pembelajaran berlangsung dan menganggu teman disekelilingnya, ST harus memberikan teguran pada anak berkebutuhan khusus bahwa pada saat proses belajar mengajar tidak boleh mengganggu temannya dan tidak boleh berkeliaran di kelas harus memperhatikan guru yang sedang menjelaskan, selain itu ada juga masalah dari orangtua anak tersebut yaitu terlalu sibuk dengan pekerjaannya anak tersebut tidak mendapatkan perhatian dari orangtua, ST berhak memberikan nasihat kepada orangtua bahwa anak perlu perhatian dari orangtua, sesibuk apapun harus meluangkan waktu sedikit untuk anaknya. Sebaiknya (1) setiap sekolah yang menerapkan kelas inklusi hendaknya juga menerapkan ST agar anak berkebutuhan tersebut dapat mengikuti kegiatan proses pembelajaran dikelas dan bisa memahami apa yang sudah dijelaskan oleh guru kelas, selain itu anak berkebutuhan khusus juga bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman disekelilingnya dibantu oleh ST tersebut, (2) setiap ST harus memiliki sifat sabar dan telaten dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus

    Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Harga Diri dengan Asertivitas pada Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

    No full text
    ABSTRAK   Ruliyana, Danies. 2017. Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Harga Diri dengan Asertivitas pada Siswa Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang; Pembimbing (1) Nur Eva, S.Psi., M.Psi, (2) Ike Dwiastuti, S.Psi.,Mpsi   Kata kunci : Asertivitas, Kecerdasan Emosi, Harga Diri   Pertumbuhan dan perkembangan remaja sangat unik dan beragam karakter khususnya saat remaja. Remaja mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya baru yang sering bertentangan dengan norma masyarakat, serta memiliki rasa keingin tahuan yang besar pada hal-hal baru yang mengakibatkan perilaku coba-coba tanpa didasari dengan informasi yang benar dan jelas. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui gambaran mengenai asertivitas pada siswa Sekolah Menengah Atas, (2) untuk mengetahui gambaran kecerdasan emosi pada siswa Sekolah Menengah Atas, (3) untuk mengetahui gambaran harga diri pada siswa Sekolah Menengah Atas, (4) untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosi dengan asertivitas pada siswa Sekolah Menengah Atas, (5) untuk mengetahui hubungan antara harga diri dengan asertivitas pada siswa Sekolah Menengah Atas, (6) untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosi dan harga diri dengan asertivitas pada siswa Sekolah Menengah Atas.   Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional. Subjek penelitian adalah 84 siswa kelas X SMA Nasional yang didapat secara cluster random sampling dengan berdasarkan kriteria berusia 15 sampai 17 tahun. Pengambilan data penelitian menggunakan skala asertivitas, skala kecerdaan emosi, dan skala harga diri. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan presentase, dan analisis ganda menggunakan korelasi ganda (Multiple Correlation) dengan bantuan software SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar siswa kelas X SMA Nasional, (1) memiliki asertivitas yang rendah, (2) memiliki kecerdasan emosi yang rendah, (3) memiliki harga diri yang tinggi, (4) ada hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosi dengan asertivitas dengan nilai r  = 0,365 dan p = 0,001< 0,050, (5)ada hubungan positif antara harga diri dengan asertivitas dengan nilai r = 0,379 dan p = 0,000 < 0,050, (6)ada hubungan positif antara kecerdasan emosi dan harga diri dengan asertivitas r = 0,427 dan p = 0,000 < 0,050. Saran yang diberikan adalah  (1) Kepala Sekolah diharapkan bisa bekerjasama untuk meningkatkan perilaku asertif dengan memberikan pelatihan berupa Pelatihan Resiliensi. (2) Guru BK diharapkan bisa bekerja sama untuk meningkatkan perilaku asertif pada anak dengan memberikan Asertif Training

    Dukungan Sosial Sebagai Prediktor Kesejahteraan Psikologis Pada Orang Tua Anak Tunarungu

    No full text
      ABSTRAK     Ninaim, Kisti. 2017. Dukungan Sosial Sebagai Prediktor Kesejahteraan Psikologis pada Orang tua Anak Tunarungu. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Nur Eva, S.Psi.,M.Psi., (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Kata Kunci : Dukungan Sosial, Kesejahteraan Psikologis, Orang tua Anak Tunarungu.               Beberapa orang tua memiliki anak yang terlahir dalam keadaan tunarungu. Saat membesarkan anak yang tunarungu, orang tua perlu mendapatkan bantuan dari orang lain sebagai sumber kekuatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran kesejahteraan psikologis dan dukungan sosial yang dimiliki oleh orang tua anak tunarungu serta mencari tahu apakah dukungan sosial secara signifikan dapat memprediksi kesejahteraan psikologis pada orang tua anak tunarungu. Kesejahteraan Psikologis adalah suatu keadaan dimana seorang individu mampu untuk menerima segala kelebihan dan juga kekurangan yang dimiliki dan memilki kesadaran untuk mengembangkan diri berdasarkan potensi  yang dimiliki. Kesejahteraan Psikologis seseorang salah satunya dipengaruhi oleh faktor dukungan sosial yang diterima. Dukungan Sosial merupakan sebuah dukungan yang diberikan oleh lingkungan sekitar yang bertujuan mensejahterakan penerimanya.             Penelitian ini melibatkan 56 responden yang dipilih menggunakan metode random dan merupakan orang tua dari anak tunarungu. Pengumpulan data menggunakan instrumen dukungan sosial dengan reliabilitas sebesar 0,882 dan instrumen kesejahteraan psikologis dengan nilai reliabilitas sebesar 0,944. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 55,36 % orang tua anak tunarungu memiliki kesejahteraan psikologis tinggi dan 44,64 sisanya, memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah, 53,57% orang tua mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dan 46,43% mendapatkan dukungan sosial yang rendah. Hasil regresi menunjukkan nilai R sebesar 0.361 dan R square sebesar 0,130. Hal tersebut menunjukkan bahwa dukungan sosial memberi kontribusi kepada kesejahteraan psikologis orang tua anak tunarungu sebesar 13% dan 87% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain diluar dukungan sosial.             Saran dari penelitian ini adalah untuk orang tua yang memiliki anak tunarungu hendaknya mampu untuk menyadari bahwa  mereka telah mendapatkan dukungan dari lingkungan sosialnya sehingga tidak perlu merasa membesarkan anaknya seorang diri. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah meneliti faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang seperti usia, status sosial ekonomi, religiusitas, dan juga kepribadian. Memilih subjek penelitian lain yaitu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus selain tunarungu, dan juga melakukan penelitian dengan metode kualitiatif.         ABSTRACT     Ninaim, Kisti. 2017. Social Support as a Predictor of Psychological Well-Being In the Parents of  Children with Hearing Impairment. Thesis, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology, State University of Malang. Supervisor (I)Nur Eva, S.Psi., M.Psi., (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Keywords: Social Support, Psychological Well-Being, Parents of  Children with Hearing Impairment   Some parents have a children who was born in a deafness status. When raising a child with a deafness, some parents need to get help from others as a source of strength. The purpose of this study was to describe the psychological well-being and social support in the parents of children with hearing impairment and to find out whether social support could significantly predict the psychological well-being in the parents of children with hearing impairment . Psychological wellbeing is a situation where an individual is able to accept all the advantages and disadvantages of themselves and also have the awareness to develop themselves based on their potential. Psychological well-being , one of them are influenced by a social support factor. Social Support is a support who was given by the surrounding environment that aims to prosper the recipient. This study involved 56 respondents who were selected by  random method and they are Parents of Children with Hearing Impairment . The data was collecting by social support instruments with reliability value 0.882 and psychological well-being  instruments with a reliability value 0.944. The results showed that 55.36% of parents of children with hearing impairment had high psychological well-being and the remaining 44.64, had low psychological well-being, 53,57% of parents got high social support and 46,43% got low social support. Regression results showed R value is 0.361 and R squares value is  0.130. This result show that social support contributes to the psychological well-being of a deaf child’s parents by 13% and 87% are influenced by other factors beyond social support. Advice from this study are for parents who have children with hearing impairment should be able to realize that they have a social support from their social environment so there is no need to feel raising their children alone. The next researcher's adviced to examine other factors that affect a person's psychological wellbeing such as age, socioeconomic status, religiosity, and personality. Selecting other research subjects that parents who was having children with special needs other than deaf, and also do research with qualitative methods.        

    Hubungan Hardiness dan Subjective well-being pada Prajurit TNI AL

    No full text
    ABSTRAK Hastuti, Pipit Nindi. 2017. Hubungan Antara Hardiness dengan Subjective Well-being Pada Prajurit TNI AL. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: Hardiness, Subjective Well-beingHardiness merupakan kemampuan individu dalam menghadapi keadaan keadaan sulit disekitarnya dengan memiliki kontrol diri untuk meraih tujuan tertentu. Subjective Well-being merupakan suatu evaluasi hidup berupa aspek afektif dan kognitif berdasarkan keyakinan dan kebahagiaan serta emosi menyenangkan maupun emosi tidak menyenangkan Hardiness dapat mempengaruhi munculnya subjective well-being. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) hardiness pada prajurit TNI AL, (2) subjective well-being pada prajurit TNI AL, (3) hubungan antara hardiness dengan subjective well-being pada prajurit TNI AL.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan korelasional. Populasi dalam penelitian ini yaitu prajurit TNI AL dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 73 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala hardiness dari Kobasa sedangkan pada skala subjective well-being dari Ed Diener. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan pengkategorian berdasarkan skor T dan untuk uji hipotesis menggunakan teknik analisis corelation product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar prajurit TNI AL (1) memiliki hardiness yang tinggi sebesar 53.42% dari jumlah sampel (2) memiliki subjective well-being yang tinggi sebesar 52,05% dari jumlah sampel (3) terdapat hubungan yang dari jumlah sampel hardiness dengan subjective well-being pada prajurit TNI AL dengan nilai signifikansi 0,020 < 0,05 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,273 yang artinya jika tinggi hardiness maka subjective well-being yang dialami oleh prajurit  AL juga tinggi pula. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah (1) untuk prajurit TNI AL: diharapkan mampu memiliki hardiness dan subjective well-being yang positif, (2) untuk Psikolog: dapat memberikan pelatihan secara psikologis untuk peningkatan hardiness dan subjective well-being pada prajurit TNI AL (3) bagi keluarga dan masyarakat: diharapkan dapat memberikan dukungan sosial yang baik pada prajurit TNI AL (4) bagi peneliti selanjutnya: dapat mempertimbangkan keberagaman data demografis subjek dan menggunakan variasi variabel yang lebih beragam

    PENGARUH MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP SELF REGULATED LEARNING REMAJA PONDOK PESANTREN SURYA BUANA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Pratiwi, Noventia Sekar. 2017. Pengaruh Motivasi Berprestasi terhadap Self Regulated Learning Remaja Pondok Pesantren Surya Buana Malang . Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si, (II) Ike Dwiastuti, S.Psi., M.Psi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi terhadap self regulated learning remaja Pondok Pesantren Surya Buana Malang. 65 santri dengan kategori remaja dalam Pondok Pesantren Surya Buana Malang sebanyak 39 putra dan 26 putri. Santri digunakan sebagai sampel penelitian dengan teknik sampling jenuh. Ada dua instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (a) Skala Motivasi Berprestasi dengan skor validitas terendah 0,258 dan skor validitas tertingginya 0,670 sedangkan tingkat reliabilitas 0,892 dan (b) Skala Self Regulated Learning dengan skor validitas terendah 0,256 dan skor validitas tertinggi 0,729 sedangkan tingkat reliabilitas 0,878. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif regresi sederhana. Hasil analisis deskriptif dari 65 subjek yang diteliti menunjukkan bahwa 36 (55,38%) memiliki motivasi berprestasi rendah, serta 33 (50,76%) memiliki self regulated learning rendah. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan regresi sederhana diperoleh signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien regresi positif  (p< 0,05). Artinya bahwa ada pengaruh positif motivasi berprestasi terhadap self regulated learning. Berdasarkan hasil analisis diperoleh tiga kesimpulan yaitu (1) motivasi berprestasi remaja pondok pesantren Surya Buana Malang dalam kategori rendah, (2) self regulated learning remaja pondok pesantren Surya Buana Malang dalam kategori rendah, (3) ada pengaruh motivasi berprestasi terhadap self regulated learning remaja pondok pesantren Surya Buana Malang Artinya, semakin tinggi motivasi berprestasi  maka semakin tinggi pula self regulated learning, begitupun sebaliknya. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan (a) bagi santri pondok pesantren: menuliskan target jangka panjang santri, antar santri saling memberikan semangat, membentuk kelompok belajar bersama santri lain. (b) bagi peneliti selanjutnya: diharapkan untuk melihat variabel lain yang memungkinkan mempengaruhi motivasi berprestasi maupun self regulated learning.   Kata Kunci: motivasi berprestasi, self regulated learning, remaja pondok pesantren

    Konflik Peran Ganda dan Manajemen Konflik Pada Mahasiswi S1 yang Telah Menikah

    No full text
    Memutuskan untuk menikah pada saat masih kuliah akan menyebabkan seorang perempuan memunyai dua peran, yaitu sebagai mahasiswi dan istri. Hurlock (2004) yang mengatakan bahwa mencoba menguasai dua atau lebih keterampilan serempak biasanya menyebabkan kedua-duanya kurang maksimal. Perbedaan karakteristik tugas mahasiswi dan istri memungkinkan perempuan mengalami konflik peran ganda. Konflik perang anda dapat menyebabkan seseorang menghabiskan waktu yang lebih untuk peran yang dirasa penting dan kekurangan waktu untuk peran lainnya (Greenhaus&Beutell, 1985).Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konflik peran ganda yang dialami oleh mahasiswi S1 yang telah menikah serta peneyelesaiannya.   Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini adalah empat orang perempuan yang sudah menikah dan masih melanjutkan studi S1 di kota Malang. Teknik  pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis tematik, sedangkan pengecekan keabsahan temuan menggunakan metode triangulasi sumber.   Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konflik peran ganda dialami oleh mahasiswi S1 yang telah menikah dalam bentuk konflik peran berdasarkan waktu, konflik peran ganda berdasakan tekanan, dan konflik peran ganda berdasarkan perilaku. Terjadinya konflik peran ganda disebabkan oleh peran tambahan, kepribadian, dukungan suami dan orang tua, tuntutan dari lingkungan, serta tuntutan tugas-tugas dalam perkuliahan. Manajemen konflik peran ganda yang dilakukan oleh partisipan dalam penelitian ini melalui coping religius dengan cara beribadah, mengubah sikap terhadap peran ganda, penyesuaian waktu terhadap tugas-tugas peran ganda, serta mengandalkan keringanan yang diberikan dari tempat perkuliahan.   Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melanjutkan penelitian mengenai konflik peran ganda ditinjau dari perspektif psikologi positif untuk mengetahui dampak positif dari konflik peran tersebut. Sedangkan bagi orang tua, suami, maupun teman, disarankan untuk memberikan dukungan sosial terhadap perempuan yang menjalankan peran ganda sebagai istri sekaligus mahasiswa untuk mengurangi dampak negatif dari konflik peran gand

    Perbedaan Konsep Diri Remaja Perempuan Yang Melakukan Pernikahan Dini Yang Bercerai Dan Yang Tidak Bercerai

    No full text
    ABSTRAK   Prilia, Ayu Rozzaqia. 2017. Perbedaan Konsep Diri Remaja Perempuan Yang Melakukan Pernikahan Dini Yang Bercerai Dan Yang Tidak Bercerai. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Nur Eva, S.Psi., M.Psi, (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: konsep diri, pernikahan dini, remaja perempuan bercerai.   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan konsep diri remaja perempuan yang melakukan pernikahan dini ditinjau dari status pernikahannya, yaitu bercerai dan tidak bercerai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif format deskriptif studi kasus. Sampel penelitian sebanyak 57 orang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan adalah skala konsep diri untuk remaja perempuan dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,847. Validitas skala konsep diri mendapatkan skor terendah 0,271 dan skor tertinggi 0,551. Data status pernikahan subjek didapatkan dari hasil wawancara ketika pengisian skala. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif. Hasil analisis deskriptif dari 57 subjek yang diteliti menunjukkan bahwa 31 remaja perempuan (54%) memiliki konsep diri tinggi dan 26 remaja perempuan (46%) memiliki konsep diri rendah. Hasil uji hipotesis menggunakan analisis komparatif independent sample t-test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,032, artinya status pernikahan yang bercerai dan tidak bercerai dapat membedakan konsep diri. Berdasarkan hasil analisis diperoleh kesimpulan terdapat perbedaan konsep diri remaja perempuan yang melakukan pernikahan dini yang bercerai dan yang tidak bercerai. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan pengembangan skala yang lebih baik lagi pada skala konsep diri. Remaja perempuan diharapkan dapat mempertimbangkan kembali keputusan menikah di usia remaja

    Hubungan Antara Regulasi Emosi dengan Motivasi Mengajar Pada Guru Sekolah Luar Biasa di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK Erianti, Ersa Septi. 2017. Hubungan Antara Regulasi Emosi dengan Motivasi Mengajar Pada Guru Sekolah Luar Biasa di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Nur Eva, S.Psi., M.Psi (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi Kata Kunci: regulasi emosi, motivasi mengajar, guru sekolah luar biasa. Motivasi memiliki peran penting dalam setiap usaha yang dilakukan manusia. Bagi seorang guru, motivasi mengajar merupakan dorongan yang mengarahkan mereka untuk mengajar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi mengajar, salah satunya adalah regulasi emosi. Hal ini disebabkan karena emosi merupakan perasaan yang kuat dan meluap-luap, sehingga membutuhkan penyaluran yakni dengan cara mengungkapkannya. Pekerjaan sebagai guru sekolah luar biasa memiliki tantangannya tersendiri, karena mengajar anak berkebutuhan khusus tentunya membutuhkan regulasi emosi yang baik. Diharapkan dengan regulasi emosi yang baik, motivasinya dalam mengajar pun tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan motivasi mengajar pada guru sekolah luar biasa di kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan korelasional. Guru sekolah luar biasa yang terlibat sebanyak 70 orang. Populasi penelitian sebanyak 138 dengan jumlah sampel 30 atau 22% dari jumlah populasi. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Instrumen penelitian berupa skala likert regulasi emosi dengan nilai koefisien validitas bergerak dari 0,321 sampai dengan 0,673 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,902 kemudian skala likert motivasi mengajar dengan nilai koefisien validitas bergerak dari 0,310 sampai dengan 0,763 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,935. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru sekolah luar biasa di kota Malang memiliki regulasi emosi yang tinggi yakni 53% dan juga motivasi mengajar yang tinggi yakni 51%. Terdapat hubungan positif antara regulasi emosi dengan motivasi mengajar, angka kolerasi sebesar r = 0,450, signifikansi 0,000 dan p < 0,05. Sedangkan sumbangan efektif regulasi emosi pada motivasi mengajar sebesar 20,3%, artinya terdapat 79,7% variabel lain yang dapat mempengaruhi motivasi mengajar selain regulasi emosi. Saran berdasarkan hasil penelitian ini, bagi guru sekolah luar biasa yang memiliki regulasi emosi rendah agar mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan atau pengaturan emosi diri. Kepala sekolah disarankan untuk mengadakan pertemuan secara rutin minimal satu bulan sekali, untuk mengeratkan hubungan antar sesama guru maupun dengan atasan, sekaligus membahas hambatan mengajar yang mungkin dihadapi ketika berada di kelas. Saran untuk peneliti selanjutnya, agar menggunakan variabel lain yang berhubungan dan dapat mempengaruhi motivasi mengajar selain regulasi emosi

    Hubungan antara Persepsi Dukungan Organisasi dan Komitmen Organisasi Guru Bersertifikasi di SMAN 9 Malang

    No full text
    Kualifikasi guru yang rendah dan mutu pendidikan yang perlu ditingkatkan adalah permasalahan pendidikan yang berkelanjutan. Guru merupakan ujung tombak dalam kegiatan pembelajaran, selain itu guru juga memiliki peranan yang signifikan dalam terciptanya suasana pembelajaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara persepsi dukungan organisasi dengan komitmen organisasi guru bersertifikasi di SMAN 9 Malang.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Tehnik sampling yang digunakan adalah tehnik populasi. Pengumpulan data menggunakan skala persepsi dukungan organisasi dan skala komitmen organisasi.Pada uji validitas dan uji reliabilitas, diperoleh data bahwa skala komitmen organisasi memiliki 35 aitem valid dengan nilai reliabilitas sebesar 0,896 sedangkan skala persepsi dukungan organisasi memiliki 34 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,927.Simpulan hasil penelitian yang diperoleh:(1) Sebagian besar guru bersertifikasi di SMAN 9 Malang memiliki komitmen organisasi yang tinggi yaitu 51% atau 21 guru dari total 41 guru bersertifikasi.(2) Sebagian besar guru bersertifikasi di SMAN 9 Malang memiliki persepsi dukungan organisasi yang positif yaitu 54% atau 22 guru dari total 41 guru bersertifikasi.(3) Hipotesis diterima dengan signifikansi 0,000 < signifikansi 0,05yang berarti bahwa Ada hubungan antara Persepsi Dukungan Organisasi dengan Komitmen Organisasi Guru Bersertifikasi di SMAN 9 Malang dan korelasi p =0,837menunjukkan korelasi positif yang menunjukkan semakin positif persepsi dukungan organisasi maka komitmen organisasi semakin tinggi serta sebaliknya, semakin negatif persepsi dukungan organisasi maka komitmen organisasi semakin rendah. Saran yang diberikan berupa: (1) Kepada guru, agar menjaga keprofesionalitasan guru dan terus berinovasi dalam pembuatan karya ilmiah, (2) Kepada sekolah, tetap memberikan dukungan dan perhatian terhadap bersertifikasi (3) Kepada pemerintah, menyempurnakan sistem pelaksanaan sertifikasi yang dilakukan secara nasional dan meningkatkan penghargaan atas prestasi yang ditinjau secara berkala. (4) Kepada peneliti selanjutnya, agar dapat memperluas kajian teori dan memperbanyak jumlah subjek

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇