Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Hubungan Kecerdasan Interpersonal dan Kecerdasan Spiritual dengan Kenakalan Remaja pada Siswa di SMP Nasional Malang

    No full text
    ABSTRAK Zuliana, Feni. 2017. Hubungan Kecerdasan Interpersonal dan Kecerdasan Spiritual dengan Kenakalan Remaja pada Siswa di SMP Nasional Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si., (II) Ike Dwiastuti, M.Psi. Kata kunci : kenakalan remaja, kecerdasan interpersonal, kecerdasan spiritual. Kenakalan remaja merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada generasi muda dewasa ini. Banyak pakar merumuskan penyebab dan faktor penyebab perilaku kenakalan remaja dan mencari penanganan permasalahan ini. Salah satu faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja  adalah faktor eksternal yakni pengaruh sosialisasi dan faktor internal rendahnya kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh para remaja, sehingga remaja tidak mampu mengontrol dirinya terhadap perilaku kenakalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan interpersonal dan kecerdasan spiritual dengan kenakalan remaja pada siswa SMP Nasional Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan skala kecerdasan interpersonal, skala kecerdasan spiritual dan skala kenakalan remaja pada subjek penelitian. Dalam penelitian ini subjek 101 siswa, Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan uji hipotesis dengan korelasi Pearson product moment dan korelasi ganda. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi product moment antara kecerdasan interpersonal dengan kenakalan remaja adalah rxy>rtabel yaitu sebesar 0.693 > 0.291 dengan signifikansi 0.000, maka ada korelasi negatif yang signifikan antara kecerdasan interpersonal dengan kenakalan remaja. Koefisien korelasi product moment antara kecerdasan spiritual dengan kenakalan remaja adalah rxy>rtabel yaitu sebesar 0.501 > 0.291 dengan signifikansi 0.000, maka ada korelasi negatif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan kenakalan remaja.Hasil analisis korelasi ganda besarnya hubungan antara kecerdasan interpersonal dan kecerdasan spiritual (secarasimultan) dengan kenakalan remaja yang dihitung dengan koefisien korelasia dalah 0.696 dengan taraf signifikansi 0.000, yang berarti bahwa ada hubungan negatif dan signifikan antara kecerdasan interpersonal dan kecerdasan spiritual dengan kenakalan remaja. Diharapkan para siswa dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan spiritual yang dimiliki agar dapat berkembang dengan baik di masyarakat  serta mengikuti kegiatan keagamaan.Bagi sekolah SMP Nasional Malang untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan spiritual dengan menyusun program, strategi dan kegiatan pembelajaran.Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenakalan remaja baik faktor internal seperti konsep diri dan faktor eksternal yang meliputi lingkungan sekolah dan keluarga.   ABSTRACT Zuliana, Feni. 2017. The CorrelationBetween Interpersonal Intelligence and Spiritual Intelligence with Student’s Juvenile Deliquency at SMP Nasional Malang 2017. Thesis, Department of Psychology, Faculty of Psychology Education, State University of Malang. Counselor: (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si., (II) Ike Dwiastuti, M.Psi   Keywords: juvenile delinquency, interpersonal intelligence, spiritual intelligence.                  Juvenile delinquency is one of the most common problems in today's young generation. Many experts formulate the causes and factors that cause juvenile delinquency and seek to address these issues. One of the factors that influence juvenile delinquency is external factor that is the influence of socialization and internal factors of low intelligence of spiritual intelligence possessed by teenagers, so that adolescent can not control herself to do delinquent behavior. This study aims to determine the relationship between interpersonal intelligence and spiritual intelligence with juvenile delinquency in students of SMP Nasional Malang. This research use descriptive correlation. Data collection use interpersonal intelligence scale, spiritual intelligence scale and juvenile delinquency scale. This research participated by 101 students of SMP Nasional Malang, analytical techniques use descriptive analysis and hypothesis with product moment correlation of Pearson and multiple correlation. The results showed (1) The coefficient correlation product moment between interpersonal intelligence  with juvenile delinquency is rxy> rtabel of 0.693 > 0.291 significance with p=0.000, then there is a significant negative correlation between interpersonal intelligence with juvenile delinquency. (2) The coefficient correlation product moment between spiritual intelligence with juvenile delinquency is rxy> rtabel of 0.501 > 0.291 significance with p=0.000, then there is a significant negative correlation between spiritual intelligence with juvenile delinquency and (3) From the results of an analysis of correlation relationship between the magnitude of the double intelligence of interpersonal and spiritual intelligence (simultaneously) and juvenile delinquency are calculated with a coefficient of correlation significance levels with 0.696 is p=0.000. This indicates a high influence.It is expected that students can develop the interpersonal intelligence and spiritual intelligence possessed in order to develop well in society and follow religious activities. For the junior high school of Malang to develop interpersonal intelligence and spiritual intelligence by arranging programs, strategies and learning activities. For further research is expected to examine about other factors that influence juvenile delinquency both internal factors such as self-concept and external factors that include school and family environment

    Perbedaan Perilaku Asertif dan Harga Diri Ditinjau Dari Jenis Kelamin Di Polres Batu

    No full text
    ABSTRAK   Dewanty, Indira Restra. 2017. Perbedaan Perilaku Asertif dan Harga Diri Ditinjau Dari Jenis Kelamin di Polres Batu. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Nur Eva, S.Psi.,M.Psi. (2) Farah Farida Tantiani, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: Perilaku asertif, Harga diri, Jenis Kelamin, personil Kepolisian Resort Batu   Perilaku asertif mengandung suatu tingkah laku yang penuh ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi. Inti dari perilaku asertif adalah kejujuran, yaitu cara hidup atau bentuk komunikasi yang berlandaskan kepada kejujuran dari hati yang paling dalam sebagai bentuk penghargaan pada orang lain. harga diri sebagai evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai dirinya sendiri, dimana evaluasi diri tersebut merupakan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya serta perlakuan orang lain terhadap dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku asertif dan harga diri ditinjau dari jenis kelamin di Polres Batu.           Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan komparatif. Subjek penelitian ini adalah personil Kepolisian Resort Batu yang berjumlah 64 orang. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala perilaku asertif dan skala harga diri. Penyebaran dilakukan melalui pengumpulan bersama disuatu ruangan rapat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposif incidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personil laki-laki mean sebanyak 121.59 memiliki perilaku asertif tinggi sedangkan mean perempuan 117.93 memiliki perilaku asertif yang rendah. Sedangkan untuk harga diri menunjukkan bahwa personil laki-laki dengan mean sebanyak 84.40 memiliki hara diri tinggi sedangkan mean perempuan 84.25 memiliki harga diri yang rendah. Hasil uji Independent Sample t-test memperlihatkan siginifikansi 0,000 (p < 0,05), dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perilaku asertif dan harga diri ditinjau dari jenis kelamin. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dikemukakan adalah (1) Bagi instansi agar dapat meninjau hal apa saja yang dapat meningkatkan akan perilaku asertif dan harga diri bagi personil keseluruhan. (2) Bagi personil sebaikanya mengetahui juga apa saja yang dapat meningkatkan perliku asertif dan harga diri agar dapat menyetarakan dengan personil perempuan. (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melanjutkan atau melakukan peneliti kembali mengenai perilaku asertif dan harga diri ditinjau dari gender, dapat melakukan tindak lanjut dengan menambahkan populasi penelitian dan mengontrol variabel yang akan dipengaruhi seperti dari segi sosial, pola asuh, dan ekonomi.                     ABSTRACK   Dewanty, Indira Restra. 2017. Differences Between Assertive Behavior and Self Esteem Reviewed From Gender in Polres Batu. Thesis, Department Of Psychology, Faculty Of Psychology, State University Of Malang. Supervisor: (1) Nur Eva, S.Psi., M.Psi. (2) Farah Farida Tantiani, S.Psi., M.Psi.   Keyword: Assertive Behavior, Self-Esteem, Police Personility Resort Batu   Assertive behavior containing a certain desired behavior full of firmness arising as a result of the freedom of emotion .The core of assertive behavior is honesty , namely way of life or form of communication based on to honesty from the heart of the most in form of recognition as in others . Self-esteem as evaluation made by an individual about himself , where evaluation the self is the result of interaction between an individual on the environment as well as treatment others against her. This study attempts to know a difference between assertive behavior and self-esteem reviewed from gender in Polres Batu. This research used a quantitative approach to the research descriptive and comparative. The subject of study this is police personnel resorts rock were 64 people. Instrument used in research is scale assertive behavior and scale of self-esteem. The spread of done through collection with latest in a meeting room. The sample collection done to technique purposif incidental sampling . The research results show that personnel men mean as many as 121.59 having assertive behavior high while mean women 117.93 having assertive behavior low. While for self-esteem shows that personnel men with the mean as many as 84.40 having hara self high while mean women 84.25 having low selfesteem. The results of the independent sample t-test show siginifikansi 0,000 (p < 0.05 ) can be concluded that there is a difference between assertive behavior and self-esteem reviewed from gender in Polres Batu. Based on the research done, the suggestions presented are (1) For agencies to review what are the can increase will behavior assertive and esteem for personnel a whole. (2) For personnel know also that alone can increase behavior assertive and esteem in order to equalizes with personnel women. (3) For researchers next who wish to continue or do researchers back regarding the assertive and esteem in terms of gender, be able to follow up by adding population research and control for variables will be influenced as from social aspect, foster pattern, and economic

    Hubungan Antara Kebermaknaan Hidup dengan Kesehatan Mental pada Orang Dengan HIV/AIDS di Malang

    No full text
    ABSTRAK Firdausi, Nur Diana. 2017. Hubungan Antara Kebermaknaan Hidup Dengan Kesehatan Mental pada Orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) di Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si. Kata Kunci: Kesehatan Mental, Kebermaknaan Hidup, ODHA             Kesehatan mental adalah salah satu permasalahan yang penting dalam kehidupan karena dapat mempengaruhi kualitas hidup ODHA. ODHA yang memiliki kesehatan mental baik akan memiliki pemikiran, perasaan dan tingkah laku yang positif dalam menjalani hidup. Kebermaknaan hidup adalah kondisi yang menunjukkan sejauhmana individu telah menghayati keberadaan hidupnya baik dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebermaknaan hidup dengan kesehatan mental. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian berjumlah 36 orang dengan memiliki karakteristik sebagai berikut, yaitu telah terdiagnosa sebagai penderita HIV/AIDS, merupakan pasien dewasa (berusia 25 - 49 tahun), lama terdiagnosa HIV/ AIDS > 1 tahun, dan merupakan pasien rawat jalan di RSI Unisma. Instrumen yang digunakan berupa skala kebermaknaan hidup (adaptasi dari LAP-R Test) dan kesehatan mental. Skala kebermaknaan hidup diperoleh 42 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,945. Skala kesehatan mental diperoleh 66 aitem valid dengan reliabilitas sebesar 0,959. Analisis deskriptif dengan pengakategorian berdasarkan skor T, sedangkan data penelitian menggunakan teknik korelasiProduct Momentdari Person. Hasil penelitian ini menunjukkan ODHA (1) sebanyak 58% memiliki hidup yang tak bermakna dan (2) sebanyak 56% memiliki kesehatan mental yang rendah (3) terdapat hubungan positif antara keebermaknaan hidup dengan kesehatan mental dengan nilai korelasi 0,516 dan nilai signifikansi sebesar 0,001. Hal ini menunjukkan semakin tidak memiliki makna hidup maka semakin rendah kesehatan mental pada ODHA. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) sebaiknya ODHA aktif mengikuti kegiatan LSM yang telah disarankan oleh rumah sakit dan juga memanfaatkan fasilitas konseling berkelanjutan dirumah sakit untuk berkonsultasi mengenai keadaan dan masalah yang dihadapi agar ODHA dapat menemukan makna hidupnya sehingga ODHA terhindar dari masalah kesehatan mental. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan memperhatikan faktor-faktor lain dalam diri ODHA yaitu kepribadian, kondisi fisik, perkembangan dan kematangan, sikap menghadapi problema hidup yang berkaitan dengan kebermaknaan hidup. Dengan begitu diharapkan hasil penelitian akan lebih kaya dan mencapai hasil yang maksimal dan representatif.   ABSTRACT   Firdausi, Nur Diana. 2017. Relationship Between Meaningfulness of Life and Mental Health for PLWHA (People Live With HIV/AIDS) in Malang. Undergraduated Thesis, Faculty of Educational Psychology, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Psi. Keyword: Mental Health, Meaningfulness of Life, PLWHA             Mental health is one of the important issues in life because it can affect the quality of life of people living with HIV/ AIDS. PLWHA who have good mental health will have feelings, thoughts and behaviors that are positive in life. The meaningfulness of life is a condition that indicates how far the individual has lived his or her existence in either a pleasant or unpleasant state. This research aims to determine the relationship between meaningfulness of life with mental health.             This research is a quantitative research with correlational method. The subjects were 36 people with the following characteristics such as, who were diagnosed as HIV/AIDS patients, were adult patients (aged 25 - 49 years), long diagnosed HIV/AIDS >  1 year, and were patients at RSI Unisma. Instruments that used is meaningfulness of life scale (adaptation of LAP-R Test) and mental health. Meaningfulness of life scale obtained 42 valid items with reliability of 0.945. The mental health scale obtained 66 valid items with reliability of 0.959. Descriptive analysis with categorization based on T score, while research data using Person Product Moment correlation technique.             The results of this reseacrh indicate that PLWHA (1) many as 58% have a meaninglessness of life and (2) as many as 56% have low mental health (3) there is a positive relationship between mental health and meaningfullness life with the score of correlation 0,516 and significance value of 0.001. This matter show increasingly has meaninglessness life that will be getting lower of mental health of PLWHA.             Based on the results of this research, it is suggested that (1) PLWHA should actively participate in NGO activities that have been suggested by the hospital and also use the facility of continuous counseling in the hospital to consult about the condition and problems where that PLWHA can find the meaningfullness  life so that PLWHA is protected from mental health problem . (2) For further research it is recommend to regarding to other factors on ODHA like personality, physical condition, development and maturity, and attitude to face the problem of life which relates to the meaningfulness of life. So hopefully the results of the research will be richer and achieve maximum results and representative.

    MENTAL HEALTH LITERACY PADA KELUARGA DENGAN ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI GANGGUAN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT TK. II DR. SOEPRAOENMALANG

    No full text
      ABSTRAK   Putri, Rhada Kristianasyah. 2017. Mental Health Literacy pada keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan skizofrenia di rumah sakit Tk. II dr. Soepraoen Malang.  Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Tutut Chusniyah, S.Psi, M.Si, (2) Indah Y. Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci : Mental Health Literacy, keluarga skizofrenia   Mental Health Literacy pada keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan skizofrenia di rumah sakit Tk. II dr. Soepraoen Malang.  Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menggambarkan mengenai mental health literacy pada keluarga dengan anggota keluarga terkena skizofrenia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, model penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Dalam melakukan penelitian, alat pengumpul data  yang sudahadapada metode kualitatif adalah wawancara semi terstruktur. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan menggunakan teknik member check. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Tk. II Dr. SoepraoenMalang dengan partisipan sebanyak 8 orang.  Hasil penelitian menunjukkan Mental Health Literacy pada keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan skizofrenia di rumah sakit Tk. II dr. Soepraoen memiliki pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan mental yang akan dapat membantu seseorang untuk mengenali, mengelola, atau melakukan tindakan pencegahan yang baik. Penelitian ini diharapkan mampu untuk memberikan masukan kepada parakeluarga dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan skizofrenia, agar keluarga tidak hanya pengetahuan mengenai kesehatan mental, tetapi pemberian dukungan keluarga tetap diupayakan semaksimal mungkin. Keluarga hendaknya selalu memberikan sikap yang hangat, penuh perhatian, jauh dari tindakan memusuhi dan tidak melarang pasien melakukan aktivitas sehingga dapat meningkatkan keberfungsian sosialnya guna mendukung kesembuhan pasien. BagiPerawat / Petugas Kesehatan di Rumah Sakit TK. II dr. Soepraoen diharapkan dapat mengembangkan lagi program–program atau mengadakan kegiatan-kegiatan yang tujuannya sosialisasi kepada keluarga pasien untuk mengembangkan pengetahuan dan memperoleh informasi yang banyak mengenai penanganan dan perawatan pada pasien Skizofrenia. Untuk peneliti lain yang ingin meneliti hal ini disarankan untuk memperhatikan latar belakang dari partisipan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah latar belakang dari partisipan mempengaruhi mental health literacy pada partisipan.                     ABSTRACT   Putri, R K. 2017. Mental Health Literacy in families which family members have schizophrenia disorder at Tk. II dr. Soepraoen Malang. Thesis, Faculty of Psychology Education, State University of Malang. Advisors (1) Dr. Tutut Chusniyah, S.Psi, M.Si, (2) Indah Y. Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci : Mental Health Literacy, schizophrenia in family   Mental Health Literacy in families which family members have schizophrenia disorder at Tk. II dr. Soepraoen Malang. This study is aimed at describing mental health literacy in families which family members are affected by schizophrenia. This research employed qualitative research approach, this research model applied a type of descriptive qualitative research. In conducting the study, the instrument used in the data collection is semi-structured interviews. Data analysis technique used in this study is thematic analysis technique. While to check the validity of the findings, this study utilized triangulation source, member check techniques and argumentative validation. The study was conducted at Tk. II Dr. Soepraoen Malang followed by 8 participants. The results showed Mental Health Literacy in families which the family members have schizophrenia disorder at Tk hospital. II dr. Soepraoen has more knowledge and beliefs about mental disorders that will help a person to recognize, manage, and take good precautions. This study is expected to provide information to the family which family members suffers schizophrenia disorder, so that the family members do not only know about the mental health, but also support them as much as possible. The family should improve its function in order to support recovery of the patient. For nurses and health officers at Tk.II dr. Soepraoen Hospital is expected to further develop programs or conduct activities that aim at socializing knowledge about schizophrenia to family members of the patient. For the future researchers who want to conduct similar topic is suggested to pay more attention to the background of the participants. It is aimed to find out whether the background of the participants affected the mental health literacy of the participants.

    Komunikasi dan Tahap Perkembangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Malang dalam Penangggulangan Bencana Daerah

    No full text
    Abstrak Adanya bencana alam yang mengancam keselamatan manusia mengharuskan BPBD Kabupaten Malang harus bekerja keras memberikan penanganan, salah satunya meningkatkan komunikasi dan kesepakatan pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komunikasi horisontal dan tahap perkembangan yang dilakukan BPBD Kabupaten Malang. Prosedur yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, mengumpulkan data menggunakan teknik wawancara dan diuji keabsahannya menggunakan teknik triangulasi perspektif. Hasil penelitian yaitu komunikasi horisontal dilakukan semua partisipan dengan bertukar informasi tugas, saling mendukung, dan menjalin hubungan, kesepakatan yang terbentuk melalui tahapan perkembangan kelompok yaitu tahap forming antar anggota sudah saling menjalin pertemanan, pada tahap storming tidak menimbulkan perselisihan, tahap norming berupa keterbukaan komunikasi, tahap performing menimbulkan suasana nyaman dan saling menguntungkan.

    PENERIMAAN DIRI DAN DUKUNGAN SOSIALSEBAGAI PREDIKTOR KUALITAS HIDUP PADA IBU DARIANAK DOWN SYNDROME DI SUKABUMI

    No full text
    ABSTRAK   Nurhayati, Risa. 2017. Penerimaan Diri dan Dukungan Sosial sebagai Prediktor Kualitas Hidup pada Ibu dari Anak Down Syndromedi Sukabumi. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si. Kata kunci: penerimaan diri, dukungan sosial, kualitas hidup, ibu anak down syndrome             Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kualitas hidup ibu dari anak down syndrome, (2) penerimaan diri ibu dari anak down syndrome, (3) dukungan sosial ibu dari anak down syndrome, (4) penerimaan diri sebagai prediktor kualitas hidup pada ibu dari anak down syndrome, (5) dukungan sosial sebagai prediktor kualitas hidup pada ibu dari anak down syndrome, (6) penerimaan diri dan dukungan sosial sebagai prediktor kualitas hidup pada ibu dari anak down syndrome.             Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan prediktif. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki anak down syndrome di Sukabumi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 94 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini berupa skala kualitas hidup milik WHO, skala penerimaan diri milik Berger’s, serta skala dukungan sosial milik Cutrona dan Russell. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan pengkategorian berdasarkan skor T. Dan untuk uji hipotesis menggunakan teknik analisis regresi linear ganda.             Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu dari anak down syndrome (1) memiliki kualitas hidup yang tinggi (2) memiliki penerimaan diri yang tinggi (3) memiliki dukungan sosial yang tinggi (4) penerimaan diri sebagai prediktor kualitas hidup pada ibu dari anak down syndrome dengan nilai signifikansip = 0,004 < 0,05 dan nilai R2 = 0,128(5) dukungan sosial sebagai prediktor kualitas hidup pada ibu dari anak down syndrome dengan nilai signifikansip = 0,000 < 0,05 dan nilai R2 = 0,244 (6) penerimaan diri dan dukungan sosial sebagai prediktor kualitas hidup pada ibu dari anak down syndrome dengan nilai signifikansip = 0,000 < 0,05 dan nilai R2 = 0,256.             Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah (1) bagi masyarakat: diharapkan masyarakat memberikan dukungan sosial yang baik pada ibu yang memiliki anak down syndrome (2) bagi ibu dari anak down syndrome: diharapkan mengikuti paguyuban agar memiliki penerimaan diri yang lebih baik (3) bagi peneliti selanjutnya: agar mempertimbangkan keberagaman subjek dan menggunakan analisis faktor

    HUBUNGAN ANTARA EMPLOYEE ENGAGEMENT DENGAN KOMITMEN ORGANISASI KARYAWAN COMMUNITY AMBASSADOR SAMPOERNA MILD 16 DI PT. SUNRISE KEMILAU INDONESIA

    No full text
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengetahui (1) Gambaran employee engagement karyawan community ambassador (2) Gambaran komitmen organisasi karyawan community ambassador (3) Hubungan employee engagement dan komitmen organisasi karyawan community ambassador PT. Sunrise Kemilau Indonesia.Metode yang digunakan adalah deskriptif korelasional kuantitatif dengan menggunakan teknik total populasi. Responden dalam penelitian ini adalah 40 orang karyawan community ambassador PT. Sunrise Kemilau Indonesia. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala employee engagement dan skala komitmen organisasi dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,429 dan 0,954.Hasil analisis deskriptif menunjukan bahwa karyawan community ambassador PT. Sunrise Kemilau Indonesia memiliki employee engagement yang sedang (57,5%) dan memiliki komitmen organisasi yang sedang pula (60%). Peneliti melakukan uji asumsi yaitu melakukan uji normalitas dengan formula Kolmogorov-Smirnov dan melakukan uji linieritas. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh menyatakan bahwa pada skala employee engagement memiliki sig = 0,200 dan skala komitmen organisasi memiliki sig yang sama pula = 0,200 sehingga kedua data variabel tersebut dikatakan berdistribusi normal serta kedua variabel tersebut dikatakan linier dengan nilai sig = 0,436. Setelah uji asumsi sudah terpenuhi maka peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji korelasi Product Moment dan diperoleh Rxy = 0,875, dengan sign = 0,000. Hal tersebut berarti ada hubungan positif yang cukup kuat antara employee engagement dan komitmen organisasi karyawan community ambassador PT. Sunrise Kemilau Indonesia.Berdasarkan hasil penelitian saran yang diberikan kepada karyawan diharapkan karyawan agar dapat meningkatkan employee engagement pada perusahaan, dengan cara mempercayai atasannya, mempercayai teman sekitarnya dan mempunyai komunikasi yang baik terhadap seluruh elemen di dalam perusahaan. Saran yang diberikan kepada perusahaan untuk dapat memperhatikan employee engagement karyawan sehingga akan menimbulkan komitmen organisasi yang tinggi terhadap perusahaan dengan cara memberikan pelatihan kepada jajaran manajemen. Saran yang diberikan kepada peneliti selanjutnya diharapkan mencari populasi dan sampel yang lebih banyak lagi karena penelitian ini memiliki populasi dan sampel yang sedikit, dan peneliti bisa menambah variabel lain yang mempengaruhi komitmen organisasi seperti pengalaman individu dalam organisasi, karakter pekerjaan dan karakter organisasi.  Kata Kunci: employee engagement, komitmen organisasi, karyawan community ambassador PT. Sunrise Kemilau Indonesia

    Pengaruh Permainan Tradisional Bentengan terhadap Kecerdasan Emosional Anak Masa Praremaja

    No full text
    Masa praremaja berada pada usia sekolah dimana sekolah menjadi pusat memperoleh pengalaman yang berguna untuk meningkatkan aspek perkembangan mulai dari perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial anak. Beberapa kasus anak terjadi di Indonesia yang diduga disebabkan oleh kecerdasan emosional yang rendah sehingga perlu adanya upaya untuk melakukan pengendalian emosional pada anak. Upaya ini diharapkan akan berdampak terhadap adaptasi anak-anak di sekolah. Upaya peningkatan kecerdasan emosional pada anak masa praremaja adalah dengan diberikan permainan tradisional Bentengan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Permainan Tradisional Bentengan terhadap Kecerdasan Emosional Anak Masa Praremaja. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan model one-group pretest-posttest design. Jumlah subjek yang digunakan adalah 10 subjek berumur 10-11 tahun yang sedang menempuh pendidikan kelas IV dan V di SDN Lawang 06. Instrumen yang digunakan berupa angket kecerdasan emosional sejumlah 38 aitem. Selain itu juga digunakan panduan permainan tradisinal Bentengan untuk guru dalam menerapkan permainan tradisional Bentengan. Hasil penelitian dengan analisis data uji beda Wilcoxon Sign Rank Test adalah terdapat perbedaan sebelum dengan sesudah pemberian treatment. Berdasarkan perbedaan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh permainan tradisional Bentengan terhadap kecerdasan emosional anak masa pra remaja. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya penelitian dilakukan dengan suasana yang alami seperti bermain pada umumnya sehingga manfaat bermain juga akan lebih terlihat. Selain itu, peraturan dalam permainan dan pemahaman subjek pada permainan perlu diperjelas kepada subjek. Bagi orangtua, hendaknya menggunakan panduan bermain permainan tradisional Bentengan yang dibuat oleh peneliti untuk diterapkan pada anak di lingkungan rumah

    Kepuasan Hidup sebagai Prediktor Partisipasi Politik Narapidana Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Banjarmasin.

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini dilatar belakangi oleh pertanyaan mengapa seorang narapidana yang kebebasannya diambil sebagai hukuman atas perilakunya yang tidak dapat ditolerir dapat memiliki partisipasi politik yang tinggi pada pemilihan umum presiden 2014 yang lalu yakni 90% warga lembaga pemasyaraktan mengikuti pemilihan umum. Berbagai macam pembinaan yang dilakukan di dalam lembaga pemasyaraktan dan perasaan bahwa mereka disadarkan akan perilakunya yang salah dan mendapat berbagai keahlian baru, teman baru, dan keyakinan akan masa depan membuat narapidana tidak merasa menyesal masuk lembaga pemasyaraktan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang kepuasan hidup narapidana, partisipasi politik narapidana, dan kepuasan hidup sebagai prediktor partisipasi politik narapidana. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dan prediktif. Populasi pada penelitian ini sebanyak 1929 orang narapidana lembaga pemasyaraktan kelas II A Banjarmasin dan sampel yang digunakan sebanyak 103 orang narapidana dengan teknik insidental sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala kepuasan hidup dan partisipasi politik. Uji hipotesisi yang digunakan adalah regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa narapidana lembaga pemasyaraktan kelas IIA Banjarmasin memiliki kepuasan hidup dan partisipasi politik cenderung tinggi karena rata rata yang dimiliki lebih besar daripada rata rata yang diharapkan, Kepuasan hidup sebagai prediktor memiliki nilai signifikansi 0.002 dan nilai determinasi 0.299 . Saran untuk penelitian ini antara lain (1) Lembaga pemasyarakatan lebih memperhatikan kondisi kepuasan hidup dengan beberapa kegiatan seperti kegiatan keagamaan, konseling berkelompok, dan pemberian kata kata motivasi sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi politik warga binaan. (2) Warga binaan terutama narapidana berusaha memiliki kepuasan hidup dengan bersedia mengikuti kegiatan tersebut. (3) Peneliti selanjutnya lebih memperhatikan variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi kepuasan hidup maupun partisipasi politik seperti kepercayaan dan kepuasan demokrasi

    Hubungan antara Persepsi Pada Merek dan Kelompok Referensi dengan Pengambilan Keputusan Pembelian Produk Kosmetik Mustika Ratu pada Mahasiswa Program Studi Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang.

    No full text
    ABSTRAK Ditengah kenaikan penjualan kosmetik, terdapat produk kosmetik yang mengalami penurunan dalam pembeliannya, yaitu produk kosmetik Mustika Ratu. Penurunan yang terjadi akan berdampak pada operasional perusahaan. Hal tersebut dapat terjadi karena rendahnya persepsi pada merek, kelompok referensi dan pengambilan keputusan pembelian produk kosmetik Mustika Ratu.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dan korelasional.Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi product moment dan analisis korelasi ganda.  Menggunakan teknik random sampling sederhana melalui pengundian. Sampel yang digunakan sebanyak 76 orang dengan populasi mahasiswa Program Studi Seni Tari dan Musik UM. Instrumen yang digunakan adalah skala persepsi pada merek, skala kelompok referensi, dan skala pengambilan keputusan pembelian.Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa Program Studi Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (1) sebagian besar memiliki persepsi pada merek rendah; (2) sebagian besar berada pada kelompok referensi rendah; (3) sebagian besar pengambilan keputusan pembeliannya rendah; (4) ada hubungan antara persepsi pada merek dengan pengambilan keputusan pembelian; (5) ada hubungan antara kelompok referensi dengan pengambilan keputusan pembelian; (6) ada hubungan positif antara persepsi pada merek dan kelompok referensi dengan pengambilan keputusan pembelian. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) produsen Mustika Ratu meningkatkan pengambilan keputusan pembelian produk melalui peningkatan persepsi pada kekuatan merek dengan menggunakan masukan pemasaran melalui kelompok (2) dapat menjadi tambahan informasi bagi konsumen dalam melakukan pembelian dengan mempertimbangkan pada atribut produk dan masukan sosiobudaya melalui kelompok referensi (3) peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji ulang faktor lain, seperti motivasi, gaya hidup, kepribadian konsumen, dan kelas sosial

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇