SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UMNot a member yet
2357 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Quantum Teaching and Learning pada Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik untuk Kelas X Semester 2 di SMK Program Keahlian Teknik Ketenagalistrikan
ABSTRAK Khoiriyah, Zumrotul. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Quantum Teaching and Learning pada Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik untuk Kelas X Semester 2 di SMK Program Keahlian Teknik Ketenagalistrikan. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Slamet Wibawanto, M.T, (II) Dr. Eng. Anik Nur Handayani, S.T., M.T. Kata Kunci: modul, pekerjaan dasar elektromekanik, quantum teaching and learning.Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang belum lama diaplikasikan di sekolah. Salah satu kunci sukses yang menentukan keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yaitu fasilitas dan sumber belajar yang memadai. Mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik merupakan mata pelajaran dasar bagi program keahlian Teknik Ketenagalistrikan. Hasil wawancara guru pengampu mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik di SMK Negeri 6 Malang bahwa sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran berasal dari buku BSE untuk semester 1, jobsheet, handout, internet, lingkungan sekitar, video dan lain-lain. Secara umum, bahan ajar tersebut belum sesuai struktur silabus di semester 2. Sedangkan hasil observasi ke siswa kelas X di SMK N 6 Malang dari 56 siswa menunjukkan bahwa 86,38% membutuhkan modul mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan pada beberapa toko buku di kota Malang menunjukkan belum tersedia bahan ajar mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik. Kendala lain dalam pembelajaran yang diuraikan oleh guru pengampu mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik di SMK N 6 Malang yaitu motivasi belajar siswa untuk memahami materi sangat rendah. Sehingga dibutuhkan modul ajar yang dapat memudahkan siswa untuk belajar secara mandiri maupun terbimbing. Modul siswa dirancang untuk model pembelajaran quantum teaching and learning.Tahapan model pembelajaran quantum teaching and learning yang diadopsi dalam modul ajar terdiri dari: (a) tumbuhkan; (b) alami; (c) namai; (d) demonstrasikan; (e) ulangi; (f) rayakan.Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model pengembangan Sadiman. Modul ajar ini telah diuji coba melalui uji coba satu lawan satu oleh ahli (menguasai dasar instalasi tenaga listrik, berpengalaman mengajar serta menilai kualitas media) dan guru pengampu mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik SMK N 6 Malang. Uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan ke siswa kelas XI di SMK N 6 Malang. Hasil uji coba satu lawan satu untuk modul siswa dari ahli 1, ahli 2 dan ahli 3 diperoleh rata-rata dengan persentase 95,15% yang berarti sangat valid. Hasil validasi modul guru diperoleh rata-rata dengan persentase 99% yang berarti sangat valid. Uji coba kelompok kecil didapatkan 86,90% yang berarti sangat valid. Uji coba lapangan didapatkan 89,09% yang berarti sangat valid. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan 28,75 dan diatas KKM. Sehingga modul ajar yang dikembangkan ini layak dan efektif digunakan dalam kegiatan pembelajaran.ABSTRACTKhoiriyah, Zumrotul. 2017. Development of Electromechanical Basic Work Teaching Materials Based on Quantum Teaching and Learning for Electrification Program of Vocational High School on X Grade. Thesis, Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Slamet Wibawanto, M.T, (II) Dr. Eng. Anik Nur Handayani, S.T., M.T. Keywords: module, electromechanical basic work, quantum teaching and learningCurriculum 2013 is a curriculum has recently applied in school. One of the keys to determine the successful of implementation of curriculum 2013 is adequate facilities and learning resource. Electromechanical Basic Work is the basic subject for the Electrification program. The interview result that gain from the teacher in SMK Negeri 6 Malang is the learning resources are used BSE books for first semester, jobsheet, handout, internet, environment, video and the others. On the other hand the syllabus for the second semester isn’t based on syllabus structure. The observation result of tenth grade in SMK N 6 Malang from 56 students showed that 86,38% is need the module of Electromechanical Basic Work. Also, it is difficult to find the handbook that related with subject at the store book. Another obstacle in the learning described by the teacher of Electromechanical Basic Work in SMK N 6 Malang is the motivation students to learn and to understand the material is very low. So it take a teaching module that can facilitate students to learn independently or guided. The module is designed for the quantum teaching and learning model.The stages of learning for quantum teaching and learning model adopted in module consist of: (a) growing; (b) natural; (c) name; (d) demonstrate; (e) repeat; (f) celebrate. In this research Sadiman model is choose to develop the module. This module has been tested through on one-on-one test validated by an expert (mastering the basic electrical installation, teaching experience and assessing the quality of the media) and the teacher of Electromechanical Basic Work in SMK Negeri 6 Malang. Small group trial and field trial to students eleven grade at SMK Negeri 6 Malang. One-on-one test results for student modules result from expert 1, expert 2 and expert 3 were obtained on average with percentage 95.15% which means very valid. The teacher module validation results were obtained on average with percentage 99% which means very valid. The small group trial was found to be 86.90% which means very valid. The field trial was found to be 89.09% which means it is very valid. The effectiveness result of test show that average of learning outcomes has increased 28.75 and above KKM. So that the developed teaching module is suitable and effective for use in learning activities
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VISUALISASI 3 DIMENSI PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI STANDAR KOMPETENSI MEMAHAMI FUNGSI SEL SEBAGAI UNIT TERKECIL KEHIDUPAN UNTUK SISWA KELAS XI SMA IPA
ABSTRAK Biologi merupakan salah satu pelajaran inti bagi siswa SMA kelas XI jurusan IPA. Pembelajaran biologi mendapatkan kendala yaitu peserta didik yang kurang mampu memahami materi dengan baik. Dari wawancara yang dilakukan dengan tim pengajar biologi SMA Negeri 8 Malang, didapatkan fakta bahwa selain kesulitan akibat siswa yang cenderung menghafal, sumber belajar yang digunakan masih terbatas pada buku ajar dan presentasi menggunakan power point serta penggunaan media lain yang berupa alat peraga 3 dimensi atau alat peraga fisik masih terbatas dan hanya dapat dilakukan di dalam kelas. Maka dari itu adanya penelitian ini untuk mengembangkan suatu media pembelajaran yang dapat memvisualisasikan materi pembelajaran ke dalam bentuk 3D.Media pembelajaran visualisasi 3D ini dikembangkan dengan metode penelitian dan pengembangan Sugiyono sebagai suplemen pembelajaran biologi kelas XI standar kompetensi memahami fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan. Proses pembuatan media pembelajaran ini menggunakan Adobe Flash untuk membangun aplikasi dan Blender untuk melakukan modelling. Untuk memperindah tampilan bagi pengguna maka digunakan software sebagai alat bantu seperti Corel Draw. Setelah produk dikembangkan, dilakukan uji validasi media dan materi, lalu revisi desain dan materi. Berikutnya produk diuji kepada pengguna dalam skala kecil dan skala besar. Produk media pembelajaran biologi kompetensi dasar mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan dengan menggunakan visualisasi 3 dimensi telah dikembangkan sesuai dengan model pengembangan Sugiono dan berdasarkan data hasil validasi dari ahli media, ahli materi, dan uji coba ke siswa sebagai pengguna dalam kelompok kecil dan besar, maka media pembelajaran biologi standar kompetensi memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan kompetensi dasar mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan dengan menggunakan visualisasi 3 dimensi dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai suplemen pendukung pembelajaran
Pengembangan Bahan Ajar E-Learning pada Matakuliah Workshop Instalasi Tenaga Listrik Prodi S1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Workshop instalasi tenaga listrik merupakan salah satu matakuliah yang ada di prodi S1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Berdasarkan observasi pada perkuliahan workshop instalasi tenaga listrik di prodi S1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang, ditemukan permasalahan yaitu masih ada mahasiswa yang kesulitan mengerjakan tugas praktikum, belum tersedianya bahan ajar di e-learning UM, fasilitas wifi di lingkungan Jurusan Teknik Elektro kurang dimanfaatkan secara optimal dalam perkuliahan. Sedangkan jurusan teknik elektro memiliki potensi adanya laboratorium yang didukung trainer dan peralatan praktikum yang memadai, tersedia e-learning UM serta akses wifi yang sudah baik. Berdasarkan masalah dan potensi tersebut maka dibuatlah pengembangan bahan ajar E-Learning untuk matakuliah Workshop Instalasi Tenaga Listrik di prodi S1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang.Bahan Ajar E-Learning merupakan bahan ajar yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah merancang, membuat, dan menguji kelayakan bahan ajar E-Learning pada matakuliah Workshop Instalasi Tenaga Listrik Prodi S1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang.Pengembangan ini menggunakan model Sugiyono yang terdiri dari: (1) identifikasi potensi dan masalah; (2) pengumpulan data; (3) desain produk; (4) validasi desain; (5) perbaikan desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produk akhir atau produksi massal. Ahli materi melibatkan Drs. Hari Putranto selaku Dosen pengampu matakuliah Workshop Instalasi Tenaga Listrik sedangkan ahli media melibatkan Drs. Suwasono, M.T. yang ahli di bidang media pembelajaran. Uji coba kelompok kecil melibatkan Mahasiswa S1 PTE’2013 yang berjumlah 10 orang sedangkan uji coba kelompok besar melibatkan Mahasiswa S1 PTE’2013 yang berjumlah 30 orang. Hasil uji kelayakan produk menyatakan bahwa hasil validasi ahli media diperoleh persentase 90.385 %, hasil validasi ahli materi diperoleh persentase 86.111 %, hasil uji coba kelompok kecil diperoleh persentase 85.288 %, dan hasil uji coba kelompok besar diperoleh persentase 87,788 %. Dari hasil validasi dan uji coba produk dengan persentase rata-rata di atas 85%, maka bahan ajar dinyatakan sangat valid dan layak digunakan
Pengembangan Bahan Ajar Mata Pelajaran Jaringan Dasar untuk SMK Kelas X Semester II Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan Berdasarkan Kurikulum 2013
ABSTRAK Sistem pendidikan nasional telah menggunakan Kurikulum 2013 sebagai pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pergantian kurikulum tersebut mengakibatkan terdapat mata pelajaran baru di SMK pada Program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yaitu Jaringan Dasar. Namun hingga saat ini masih belum tersedia bahan ajar yang sesuai dengan Kurikulum 2013 untuk SMK TKJ khususnya pada mata pelajaran Jaringan Dasar Kelas X di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Proses pembelajaran pada mata pelajaran Jaringan Dasar dilakukan dengan menggunakan slide presentasi dan papan tulis oleh guru dan siswa mencatat pada buku catatan. Sehingga proses pembelajaran menjadi kurang efektif karena materi yang disampaikan tidak dapat diterima secara maksimal oleh siswa. Dari uraian tersebut, dilakukanlah penelitian pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar pada mata pelajaran Jaringan Dasar yang memenuhi kriteria kompetensi yang terdapat di silabus SMK kelas X semester II TKJ, dan menguji tingkat kelayakan bahan ajar mata pelajaran Jaringan Dasar untuk SMK kelas X semester II yang telah dikembangkan.Model penelitian dan pengembangan yang digunakan mengacu pada model pengembangan rancangan pembelajaran Dick & Carey. Tahapan-tahapan penelitian dan pengembangan yang dilakukan yaitu (1) analisis kebutuhan, (2) analisis pembelajaran, (3) analisis pebelajar dan konteks, (4) tujuan umum dan khusus, (5) mengembangkan instrumen, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran, (8) merancang dan melakukan evaluasi formatif, dan (9) melakukan revisi. Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku ajar terdiri dari empat bab sesuai dengan Kompetensi Dasar pada Kurikulum 2013. Bahan ajar yang dikembangkan menggunakan pendekatan ilmiah berdasarkan pembelajaran pada Kurikulum 2013. Bahan ajar berupa buku ajar mata pelajaran Jaringan Dasar untuk kelas X TKJ telah divalidasi dan diuji coba dengan persentase validitas dari ahli media 87,96% dan dari ahli materi 97,79%, siswa pada uji coba kelompok kecil dengan persentase 84,13%, dan siswa pada uji coba kelompok besar dengan persentase 86,75%. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa bahan ajar berupa buku ajar yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan sebagai bahan ajar
Pengembangan Trainer Instalasi Penerangan Listrik Berbasis Renewable Energy Tenaga Surya pada Mata Pelajaran Instalasi Penerangan Listrik Kelas XI Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik di SMKN 1 Kediri
ABSTRAK Gumelar, Damar Cahyo Andrian. 2017. Pengembangan Trainer Instalasi Penerangan Listrik Berbasis Renewable Energy Tenaga Surya pada Mata Pelajaran Instalasi Penerangan Listrik Kelas XI Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik di SMKN 1 Kediri. Pembimbing: (I) Dr. Eng. Siti Sendari, S. T., M.T. (II) Yuni Rahmawati, S. T., M. T. Kata Kunci: penelitian pengembangan, instalasi penerangan listrik, renewable energy tenaga surya.Instalasi penerangan listrik merupakan suatu perencanaan atau pemasangan pengawatan antar komponen, sebagai sumber penerangan atau perangkat elektronika lainnya. Dalam penerapannya, instalasi penerangan listrik masih banyak yang menggunakan sumber energi tenaga listrik dari PLN. Oleh sebab itu, penggunaan renewable energy tenaga surya merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan sumber energi listrik dari PLN yang menggunakan energi fosil sebagai bahan bakarnya. Tenaga surya merupakan sebuah peralatan semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe P dan N, yang mampu merubah energi sinar matahari menjadi energi listrik.Penelitian dan pengembangan ditujukan kepada siswa kelas XI Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik yang sedang menempuh matapelajaran instalasi penerangan listrik di semester 3. Pada skripsi ini mengunakan model pengembangan ADDIE dengan tahap: (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4) Implementation, dan (5) Evaluation. Hasil penelitian dan pengembangan ini di uji kelayakannya oleh ahli untuk dinyatakan valid, selanjutnya di implementasikan kepada subjek uji coba untuk diuji kelayakan berdasarkan penilaian oleh pengguna pembelajaran. Hasil pengembangan berupa: Trainer instalasi penerangan listrik berbasis renewable energy tenaga surya, dan jobsheet. Adapun hasil pengujian produk oleh ahli didapatkan 94% untuk validasi materi trainer , 94,16% untuk validasi media trainer, 90,1% untuk validasi materi jobsheet dan 92,8% untuk validasi media jobsheet. Hasil validasi dari ketiga validator untuk materi maupun media untuk trainer dan jobsheet dinyatakan sangat valid. Selanjutnya produk di implementasikan kepada subjek ujicoba dimana hasilnya dinyatakan sangat layak dengan keseluruhan persentase validitas sebesar sebesar 90,25% untuk validasi materi trainer, 91,05 % untuk validasi media trainer, 88,60% untuk validasi materi jobsheet dan 90,35% untuk validasi media jobsheet
Pengembangan Modul Cetak Jaringan Nirkabel Untuk SMK Kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan Berdasarkan Kurikulum 2013
ABSTRAK Vindriyanti, Arnista. 2017. Pengembangan Modul Cetak Jaringan Nirkabel Untuk SMK Kelas XII Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan Berdasarkan Kurikulum 2013. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Hary Suswanto, S.T., M.T., (II) Dr. Eng. Siti Sendari, S.T., M.T. Kata Kunci: Modul Cetak, Jaringan Nirkabel, Kurikulum 2013 Jaringan Nirkabel merupakan mata pelajaran baru pada Kurikulum 2013. Mata pelajaran ini diajarkan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) paket keahlian Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Jaringan nirkabel merupakan bidang disiplin yang berkaitan dengan komunikasi antar sistem (komputer) tanpa menggunakan kabel. Bidang ini erat hubungannya dengan bidang telekomunikasi, teknologi informasi, dan teknik komputer. Berdasarkan observasi di SMK Negeri 8 Malang masih ditemukan kesulitan bahan ajar untuk program keahlian TKJ. Salah satunya adalah mata pelajaran Jaringan Nirkabel. Disana masih belum ada buku pelajaran atau modul sebagai pegangan guru dan siswa untuk belajar Jaringan Nirkabel. Sehingga guru mata pelajaran mencari bahan materi di internet dan menjelaskannya kepada siswa di depan kelas. Siswa hanya fokus terhadap penjelasan guru di kelas dan tidak dapat mempelajari materi untuk pertemuan selanjutnya. Sehingga kompetensi yang dicapai tidak maksimal. Pengembangan modul dilakukan dengan menggunakan model penelitian dan pengembangan ADDIE. Tahap pengembangan ADDIE sebagai berikut: (1) Analysis atau menganalis, (2) Design atau perancangan, (3) Development atau pengembangan, (4) Implementation atau menerapkan dan (5) Evaluation atau evaluasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi. Subyek uji coba modul ini terdiri dari ahli media, ahli materi, dan responden atau siswa (uji coba skala kecil dan uji coba skala luas). Produk yang dihasilkan pada pengembangan ini berupa modul cetak. Modul ini terdiri dari dua versi yaitu modul pegangan guru dan modul pegangan siswa. Berdasarkan hasil iji coba, diperoleh persentase dari tiap-tiap subyek uji coba sebagai berikut: (1) ahli media, diperoleh persentase sebesar 93,20%; (2) ahli materi, diperoleh persentase rerata sebesar 94,90% dari dua ahli materi; (3) uji coba skala kecil, diperoleh persentase rerata sebesar 86,11%; dan (4) uji coba skala luas, diperoleh persentase rerata sebesar 86,98%. Pada uji coba lapangan diperoleh hasil rata-rata nilai pre test sebesar 57,69, dan rata-rata nilai post test sebesar 82,76. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan modul cetak Jaringan Nirkabel untuk SMK kelas XII program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan berdasarkan Kurikulum 2013 ini layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ANIMASI 2D PADA MATA PELAJARAN IPS SD KELAS V
Abstrak SDN Blimbing 3 Malang adalah salah satu sekolah yang berkembang dalam bidang teknologi dan informasi. Mata pelajaran IPS sebagai salah satu materi Mengenal peninggalan-peninggalan sejarah pada masa Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia yang diajarkan di sekolah kepada para siswa-siswi. Kenapa menggunakan mata pelajaran IPS sebagai objek penelitian, dari hasil observasi yang telah di lakukan di SDN Blimbing 3 Malang mendapatkan masalah nyata pada proses pembelajaran yang ketika melihat data hasil belajar atau nilai yang telah diperoleh oleh guru kelas V dari 32 murid ada lebih dari 20 siswa mendapatkan nilai kurang dari KKM yaitu sebesar 75. Materi yang akan jelaskan pada pengembangan media pembelajaran ini adalah Mengenal peninggalan-peninggalan sejarah pada masa Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Jumlah langkah – langkah pengembangan 5 (Lima) langkah, langkah – langkah tersebut antara lain : (1) Analisys (Analisis), (2) Design (Desain), (3) Development (Pengenbangan), (4)Implementation (Implementasi), (5) Evaluation(Evaluasi). Berdasarkan hasil validitas dan uji coba diperoleh persentase dari setiap subyek sebagai berikut: (1) validasi ahli media, diperoleh persentase sebesar 88,28% (2) validasi ahli materi, diperoleh persentase sebesar 85,83% (3) uji coba pada kelompok kecil diperoleh persentase 88,58% dan (4) uji coba kelompok besar diperoleh persentase sebesar 88,47%. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa produk sudah layak dan dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kata kunci : media pembelajaran, animasi 2D, IPS, peninggalan kerajaan Hindu-Buddha dan Islam. Abstracts: SDN Blimbing 3 Malang is one of the primary school which has good concern on technology and information. One of the offered lesson is Social Science in which students learn about the artefacts of Hinduism-Buddhism as well as Islam era in Indonesia in the past. The researcher decides to use Social Science as the main object of the research after finding out that 20 students out of 32 cannot reach the passing grade which has been set by the school. The material which is developed in this media includes the introduction of historical artefacts during Hinduism-Buddhism as well as Islamic era in Indonesia. The material within the media is completed with follow-up questions to test students’ understanding after learning. This Research and Development study used ADDIE model with five steps, namely (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4) Implementation, and (5) Evaluation. The study resulted at: (1) media validation reaches about 88.28% (2) material validation reaches 85.83% (3) small try out reaches 88.58% (4) big-group try out reaches 88.47%. Based on the results, it can be concluded that the 2D animation media is proper enough to be used during teaching-learning process. Keywords : learning media, 2D Animation, IPS , the artefacts of Hinduism-Buddhism as well as Isla
Perbedaan Hasil Belajar antara Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Think Pair Share (TPS) dan Model Problem Based Learning (PBL) Pada Mata Pelajaran Dasar Pemrograman Kelas X di SMK Negeri 2 Madiun
ABSTRAK Kebanyakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran hanya menggunakan model-model yang berpusat pada guru atau konvensional sehingga kurang mengaktifkan partisipasi siswa dalam proses pembelajarannya. Sebagian besar siswa khususnya pada mata pelajaran Dasar Pemrograman mendapat nilai UTS yang kurang memuaskan. Mata pelajaran Dasar Pemrograman merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan logika dan ketrampilan praktikum. Pemilihan model yang monoton dan kurang inovatif akan membuat siswa merasa kesulitan dalam proses belajar mengajar. Salah satu cara meningkatkan hasil belajar siswa adalah menerapkan model mengajar yang bervariasi. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) dan model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang berbasis pada pemecahan masalah. Pemecahan masalah berkaitan erat dengan mata pelajaran Dasar Pemrograman. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keduanya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan model Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) dan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Dasar Pemrograman. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimental Design. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas X Multimedia 1 dan 2 di SMK Negeri 2 Madiun tahun ajaran 2016/2017. Kelas X MM 1 sebagai kelas eksperimen (TPS) dan X MM 2 sebagai kelas kontrol (PBL). Variabel penelitian ini terdiri variabel bebas yaitu model pembelajaran TPS dan PBL, variabel terikat yaitu hasil belajar. Hasil penelitian diuji dengan uji-t menunjukkan nilai sig ttabel pada hasil belajar ranah kognitif. Sedangkan karena data hasil belajar ranah afektif dan psikomotor tidak terdistribusi dengan normal, maka digunakan uji Mann-Whitney dan diperoleh nilai sig < 0,05. Dari hasil hasil diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotor antara penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) dan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Hal ini semakin diperkuat dengan hasil belajar pada mata pelajaran dasar pemrograman yang diperoleh pada kelas kontrol yang menggunakan model PBL dengan jumlah sebanyak 30 siswa memiliki nilai rata-rata hasil belajar kognitif yaitu 77,83, afektif 91,83, dan psikomotor 85,16 dan kelas eksperimen yang menggunakan model TPS dengan jumlah sebanyak 28 siswa memiliki nilai rata-rata lebih tinggi yaitu kognitif 79,96, afektif 93,03, dan psikomotor 91,42. Berdasarkan data tersebut, kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) memiliki rata-rata nilai yang lebih baik bila dibandingkan dengan kelas kontrol yang diajar menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Berdasarkan perbedaan nilai rata-rata siswa, hasil uji hipotesis juga menunjukkan perbedaan yang signifikan. Berdasarkan hasil tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan hasil belajar ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang signifikan antara penerapan model Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) dan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Dasar Pemrograman kelas X di SMK Negeri 2 Madiun
Pengembangan Buku Ajar dengan Peta Konsep Mata Pelajaran Pemodelan Perangkat Lunak di Kelas XI Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak di SMKN 5 Malang
ABSTRAK Sanhafis, Faqud. 2017. Pengembangan Buku Ajar dengan Peta Konsep Mata Pelajaran Pemodelan Perangkat Lunak di Kelas XI Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak di SMKN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwasono, M.T. (II) Dr. Ir. H. Syaad Patmantara, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Buku Ajar, Pemodelan Perangkat Lunak. Pemerintah sudah menyiapkan sebuah lembaga dimana proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Salah satunya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sekolah ini dibangun untuk membentuk lulusan yang berkualitas dan siap kerja sesuai dengan bidangnya. Berdasarkan obeservasi yang telah dilaksanakan dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa di SMKN 5 Malang khususnya pada mata pelajaran Pemodelan Perangkat Lunak menyatakan bahwa bahan ajar yang tersedia saat ini tidak sesuai dengan standart kurikulum yang berlaku, pengajar seringnya mencari dan mengunduh materi di internet dan kemudian menyampaikan kepada peserta didik. Hal itu menyebabkan materi yang diberikan kurang runtut dan jelas, sehingga membuat peserta didik kurang tertarik dalam memahami materi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat bahan ajar berupa buku ajar cetak untuk mengatasi permasalaan yang terjadi agar nantinya diharapkan mampu meningkatkan kualitas belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian pengembangan (Research and Development) dengan desain dari Borg and Gall. Tahapan-tahapan penelitian dan pengembangan yang dilakukan yaitu: (1) Pengumpulan Informasi, (2) Perencanaan, (3) Pengembangan Produk Awal, (4) Validasi, (5) Revisi Produk, (6) Uji Coba Kelompok Kecil, (7) Revisi Produk, (8) Uji Coba Kelompok Besar, (9) Revisi Produk, (10) Produksi Produk. Materi produk yang dikembangkan disesuaikan dengan Kompetensi Dasar pada Kurikulum 2013. Pada tahapan uji coba utama, perolehan persentase sebesar 86,4% dari total 6 siswa sebagai responden. Pada tahapan uji coba operasional, diperoleh hasil persentase sebesar 87,7% dari total 34 siswa sebagai responden. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan untuk kegiatan pembelajara
Pengembangan Bahan Ajar Digital Sistem Komputer Berbasis Mobile Apps Untuk Kelas X Program Keahlian TKJ Di SMK
ABSTRAK Proses pembelajaran Sistem Komputer di kelas X program Keahlian TKJ di SMK belum menunjukkan adanya bahan ajar yang menunjang pemahaman siswa. Karena itu perlu adanya pengembangan bahan ajar yang disusun secara sistematis, materi mudah diakes dimana saja dan kapan saja (mobile), serta mudah dipahami siswa untuk belajar mandiri sesuai tuntutan kurikulum 2013. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar digital berbentuk aplikasi mobile. Maraknya penggunaan perangkat smartphone bagi kalangan siswa menjadi latar belakang dalam pengembahan bahan ajar digital berbasis aplikasi mobile. Tujuan dari pengembangan ini adalah menyediakan bahan ajar digital berbasis mobile apps dan menguji kelayakan bahan ajar digital pada mata pelajaran Sistem Komputer kelas X TKJ di SMK. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah model penelitian dan pengembangan ADDIE. Tahapan yang dilakukan meliputi (1) tahap analisa (analyze), (2) tahap desain (design), (3) tahap pengembangan (development), (4) tahap implementasi (implementation), dan (5) tahap evaluasi (evaluation). Hasil yang diperoleh dari pengembangan ini adalah (1) bahan ajar digital berupa aplikasi mobile pada mata pelajaran Sistem Komputer TKJ dengan format .apk, (2) mengujikelayakanbahan ajar digital. Hasilvalidasibahan ajar digital denganangketdiperolehpersentase 93,6% dari review ahli, 87,5% dari uji coba kelompok kecil, dan 89,79% dari uji coba lapangan. Dari hasil analisis data keseluruhan diperoleh nilai rata-rata sebesar 90,3%.Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar digital berbasis mobile apps pada mata pelajaran Sistem Komputer dinyatakan layak untuk digunakan di sekolah