SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UMNot a member yet
2357 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENGARUH INTEGRASI PEMBANGKIT TENAGA SURYA DI GARDU INDUK PAKIS PADA SISTEM INTERKONEKSI 150 KV DI MALANG
RINGKASANPrasetiyo, Mochammad Andri.2019. Analisis Pengaruh Integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya digardu Induk Pakis Pada Sistem Interkoneksi 150 KV di Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)ArifNurAfandi, S.T.,M.T.,Ph,D. (II) IrhamFadlika, S.T.,M.T Kata Kunci :Energi Baru Terbarukan, Integrasi Pembangkit, PLTS.Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energy didaerah terutama energy baru terbarukan. Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik dilaksanakan sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam pemgembangan energy baru terbarukan (EBT) serta program 35.000 MW, pada prinsip pengembangan ini diupayakan secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost).Penelitian ini menggunakan software yang digunakan simulasi sistem tenaga listrik yang dapat bekerja dalam keadaan offline dan online untuk pengelolaan data real-time atau digunakan untuk mengendalikan sistem secara real-time. Dalam penelitian kali inimenggunakan topology jaringan 150 kV Malang Raya yang nantinya diinterkoneksikan menggunakan Pembangkit Tenaga Surya dan hasil akhirnya berupa perbandingan pada Parameter :Busbar, Beban dan Jaringan.Berdasarkan hasil yang didapatkan Pada Parameter beban daya aktif, daya reaktif dan arus yang diserap oleh beban terjadi perbaikan nilai pada beban Kebon Agung, Pakis dan Lawang. Dari keseluruhan beban dari ketiga parameter tersebut beban di Pakis mengalami kenaikan yang signifikan, pada daya aktif pada kondisi normal sebesar 21.164 MW menjadi 41.167 MW, daya reaktif pada kondisi normal sebesar 22.809 Mvar menjadi 38.81 Mvar, pada Arus yang diserap pada kondisi normal sebesar 674.3 Amp menjadi 687.3 Amp, untuk Parameter Busbar daya aktif terjadi pada Lawang, Pakis dan Sengkaling dengan kenaikan yang variatif nilainya,Untuk daya reaktif terjadi perbaikan pada beberapa titik beban yaitu : Busbar Wlingi, Busbar Kebon Agung, Busbar Pakis dan Busbar Sengkaling kenaikan tertinggi terjadi pada Busbar Pakis yang dalam kondisi normal sebesar 38.809 Mvar menjadi 67.61 Mvar pada saat penambahan pembangkit di Pakis,Arus yang menagalir pada busbar terjadi perbaikan nilai pada titik tertentu yaitu : Busbar Pakis, Busbar Senkaling, Busbar Kebon Agung dan Infinite Bus, kenaikan nilai arus mengalir yang signfikan terjadi pada busbar Pakis yang awalnya 181.2Amp menjadi 258.2 Amp pada saat penambahan pembangkit di Pakis aktif. Untuk Parameter Jaringan Perbaikan daya aktif terjadi pada Line :Pakis,Infinite Bus, Sengkaling dengan kenaikan yang variatif nilainya. Untuk Daya Reaktif terjadi perbaikan pada beberapa titik Line yaitu : Line Infinite Busbar, Line Lawang, Line Pakis, Line Kebon Agung dengan kenaikan tertinggi terjadi pada Line Pakis yang dalam kondisi normal sebesar 78.23 Mvar menjadi 92.23 Mvar pada saat penambahan pembangkit di Pakis, Kenaikan nilai arus yang dialirkan kebusbar paling signifikan terjadi pada Line Pakis dalam kondisi awal sebesar 57.3 Amp menjadi 73.6 Amp pada saat penambahan pembangkit di Pakis Aktif
Pengembangan Trainer Sistem Pneumatik dengan Kendali PLC untuk Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro dalam Matakuliah Workshop Otomasi Industri
ABSTRAKBerdasarkan data hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa Laboratorium Sistem Kendali terdapat banyak trainer PLC, namun sebagian hanya berbentuk media pembelajaran yang kurang aplikatif, seperti contohnya pada trainer lift dan crane yang hanya memiliki output berupa lampu saja, sehingga kurang menggambarkan cara kerja alat seperti aslinya, oleh karena itu dibutuhkan trainer PLC yang lebih aplikatif untuk menunjang pembelajaran praktikum agar memudahkan mahasiswa belajar tentang sistem kendali di bidang otomasi industri. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Merancang dan membuat trainer sistem pneumatik dengan kendali PLC; (2) Merancang dan membuat modul petunjuk penggunaan trainer; dan (3) Menguji kelayakan trainer sistem pneumatik dengan kendali PLC dan modul petunjuk penggunaan; dan (4) Menghasilkan trainer dan modul yang sudah teruji. Penelitian ini menggunakan model pengembangan yang Sugiyono yang memiliki 10 langkah sebagai berikut: (1) potensi dan masalah; (2) pengumpulan data; (3) desain produk; (4) validasi desain; (5) revisi desain;(6) uji coba produk; (7) revisi produk; (8) uji coba pemakaian; (9) revisi produk; dan (10) produksi massal Penelitian pengembangan yang dilakukan telah menghasilkan produk berupa trainer sistem pneumatik dengan kendali PLC sebagai media pembelajaran, Penelitian pengembangan yang dilakukan telah menghasilkan produk berupa modul petunjuk penggunaan sebagai bahan, Setelah dilakukan validasi dan uji coba, maka didapatkan hasil rata-rata yang menyatakan bahwa trainer dan modul sangat valid dan layak digunakan dalam pembelajaran praktikum pada matakuliah Workshop Otomasi Industri di Jurusan Teknik Elektro, dan Trainer dan modul telah teruji kelayakannya, hal ini dibuktikan dengan trainer dan modul yang sudah memenuhi semua aspek penilaian yang ada sehingga dapat dikatakan layak untuk digunakan dalam pembelajaran praktikum Kata Kunci: Trainer, Modul, Workshop Otomasi Industri ABSTRACTBased on data from observations and interviews, it is known that the Control System Laboratory has many PLC trainers, but some are only in the form of less applicable learning media, for example in elevator trainers and cranes which only have lights in the form of lights, so they do not reflect the workings of the original Therefore, more applicable PLC trainers are needed to support practical learning so that students can easily learn about control systems in the field of industrial automation. This research uses a development model that Sugiyono has 10 steps as follows: (1) potential and problems; (2) data collection; (3) product design; (4) design validation; (5) design revisions; (6) product testing; (7) product revisions; (8) trial use; (9) product revisions; and (10) mass production. The development research carried out has produced a product in the form of a pneumatic system trainer with PLC control as a learning media. The development research carried out has produced a product in the form of a user manual module as an ingredient. After validation and testing, the average results obtained indicate that the trainer and the module is very valid and feasible to use in practical learning at the Industrial Automation Workshop course in the Electrical Engineering Department, and the feasibility of the Trainer and module is proven by trainers and modules who have fulfilled all aspects of the assessment so that it is feasible to be used in learning practice Keywords: Trainer, Module, Development Mode
Analisis Kualitas dan Keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Bimbingan dan Fasilitasi TIK pada SMA Negeri di Kota Malang (Tahun 2018)
ABSTRAKZulaihah, Siti. 2019. Analisis Kualitas dan Keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Bimbingan dan Fasilitasi TIK pada SMA Negeri di Kota Malang (Tahun 2018). Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T. (II) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom.Kata kunci: Rencana Pelaksanaan Bimbingan dan Fasilitasi TIK, Faktor Pendukung, Faktor Penghambat Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan memiliki tantangan besar untuk mampu memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat pesat. Berdasarkan Permendikbud No. 45 Tahun 2015, guru TIK dan KKPI memiliki peran sebagai pembimbing TIK kepada peserta didik dan fasilitator TIK kepada sesama guru maupun tenaga kependidikan. Acuan yang digunakan untuk melaksanakan tugas tersebut yaitu dengan Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru TIK dan KKPI. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kualitas perencanaan bimbingan dan fasilitasi TIK; (2) mengetahui kualitas keterlaksanaan rencana pelaksanaan bimbingan dan fasilitasi TIK; serta (3) mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat keterlaksanaan rencana pelaksanaan bimbingan dan fasilitasi TIK pada SMA Negeri di Kota Malang.Metode penelitian yang diigunakan adalah metode penelitian non eksperimental dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah 10 SMA Negeri di Kota Malang dengan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampelnya. Lokasi penelitian atau pengambilan sampel adalah di SMAN 2 Malang dan SMAN 6 Malang. Jumlah responden diambil menggunakan penentuan jumlah sampel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael didapatkan sampel yaitu: (1) guru TIK sejumlah 4 orang; (2) siswa kelas X sejumlah 156 siswa; (3) guru sejumlah 30 orang; dan (4) tenaga kependidikan sejumlah 12 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, penyebaran angket, dan dokumentasi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tingkat kualitas perencanaan bimbingan TIK di SMAN 2 Malang yaitu sebesar 96,88%, di SMAN 6 Malang yaitu sebesar 83,33%. Tingkat kualitas perencanaan fasilitasi TIK pada SMA Negeri 2 Malang yaitu sebesar 100%, di SMAN 6 Malang sebesar 72%; (2) tingkat kualitas keterlaksanaan rencana pelaksanaan bimbingan TIK di SMAN 2 Malang yaitu sebesar 84,73%, di SMAN 6 Malang sebesar 88,13%. Tingkat kualitas keterlaksanaan rencana pelaksanaan fasilitasi TIK di SMAN 2 Malang yaitu sebesar 84,37%, dan di SMAN 6 Malang sebesar 77,34%; (3) Faktor pendukung layanan bimbingan dan fasilitasi TIK yaitu adanya dukungan dari pihak sekolah, tersedianya sarana dan prasarana pendukung, motivasi belajar peserta bimbingan dan fasilitasi yang tinggi, serta waktu yang digunakan cukup. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kualitas guru TIK dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan fasilitasi TIK belum maksimal, terdapat sekolah yang memberikan waktu pelaksanaan terlalu singkat, dan kurang adanya penanganan terhadap siswa dengan tingkat pemahaman materi yang rendah.Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu tingkat kualitas perencanaan dan keterlaksanaannya pada layanan bimbingan dan fasilitasi TIK pada SMA Negeri di Kota Malang tergolong tinggi. Tingginya kualitas perencanaan dan keterlaksanaannya pada layanan bimbingan dan fasilitasi TIK pada SMA Negeri di Kota Malang tersebut dipengaruhi oleh faktor pendukung yang lebih dominan dari pada faktor penghambat yang ada. ABSTRACTZulaihah, Siti. 2019. Quality and Implementation Analysis of ICT Guidance and Facilitation Plans on State of Senior High School in Malang– (2018). Thesis, Departement of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisor: (I) Dr. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T. (II) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom.Keywords: ICT Guidance and Facilitation Plans, Supporting Factors, Obstacles Factors School as education holder has big challenge to be able to give education service based on ICT development. Based on Permendikbud No. 45 Tahun 2015, ICT teachers have a role as ICT guides for students and ICT facilitators for teachers and education staffs. References that are used to do those jobs is Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru TIK dan KKPI. This research has some goals: (1) to know the quality of ICT guidance and facilitation plans; (2) to know the implementation quality of the ICT guidance plans; and (3) to know the supporting and obstacle factors of the implementation of the ICT guidance plans.The research method that used is a non-experimental research method with quantitative desciptive research. Population of this research were 10 State Senior High Schools in Malang with purposive sampling technique to taking the sample. The location of the research and taking sample are in State Senior High School 2 of Malang and State Senior High School 6 of Malang. The amount of respondent is taking by Isaac and Michael method. They are: (1) 4 ICT teachers; (2) 156 X grade students; (3) 30 teachers; and (4) 12 education staffs. Instruments that are used in this research are observation, intervioew, questionnaire, and documentation.The results of this research indicate that: (1) the quality level of ICT guidance plans at State Senior High School 2 of Malang is 96.88%, in State Senior High School 6 Malang that is equal to 83.33%. The quality level of ICT facilitation plans at State Senior High School 2 of Malang is 100%, at State Senior High School 6 of Malang is about 72%; (2) the quality level of implementation of the ICT guidance at State Senior High School 2 of Malang, which is 84.73%, at SMAN 6 Malang is about 88.13%. The quality level of implementation of the ICT facilitation in State Senior High School 2 of Malang is 84.37%, and in State Senior High School 6 of Malang is 77.34%; (3) Supporting factors for ICT guidance and facilitation, namely the support from the school, the availability of supporting facilities and infrastructure, motivation for guidance and facilitation of participants is high enough, and the schools giving the sufficient implementation time. Whereas the obstacle factor are the quality of ICT teachers in the preparation and implementation of ICT guidance and facilitation quite low, there are schools that giving implementation time too short, and there are no special handling of students with low levels of understanding about ICT guidance. The conclusions of this research is the quality level of ICT guidance and facilitation plans and implementation in State Senior High Schools in Malang is high. The hight quality of planning and implementation in ICT guidance and facilitation on State Senior High School in Malang is affected by supporting factor that is more dominant than the obstacle factor
Klasifikasi Penyakit Hawar Bakteri Pada Daun Tanaman Ubi Kayu Menggunakan Metode Naive Bayes
Ubi kayu merupakan salah satu bahan pangan sebagai pengganti beras yang peranannya cukup penting dalam menopang ketahanan pangan. Permintaan akan kebutuhan ubi kayu terus meningkat, tetapi tidak didukung akan hasil produksi yang mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya yaitu penyakit pada daun ubi kayu. Penyakit tersebut yaitu penyakit hawar bakteri yang ditandai dengan munculnya bercak berwarna abu-abu seperti bekas tersiram air panas. Pada tanaman ubi kayu yang rentan dan jika keadaan mempengaruhi, maka kerugian dapat mencapai 90%-95%. Penanganan penyakit hawar bakteri pada petani masih menggunakan perkiraan sehingga dibutuhkan alat bantu dalam menangani penyakit hawar bakteri yang sesuai dengan tingkat serangan penyakit dan penanganannya. Gliocladium virens dapat digunakan sebagai obat dalam menangani penyakit hawar bakteri pada daun ubi kayu.Berdasarkan permasalah tersebut, peneliti mengklasifikasikan penyakit hawar bakteri pada daun tanaman ubi kayu menggunakan metode naive bayes dengan menerapkan pengolahan citra pada smartphone. Klasifikasi penyakit hawar bakteri yang dilakukan dengan mengklasifikasi tingkat serangan penyakit dan merekomendasikan penanganannya. Terdapat 4 kategori yaitu ringan, agak parah, parah, dan sangat parah. Sebelum proses klasifikasi dilakukan proses preprocessing yaitu diantaranya: (1) Memperkecil Ukuran Citra; (2) Mengambil Nilai RGB; (3) Segmentasi Warna; dan (4) Ektraksi Fitur Warna untuk mengetahui persentase penyakit hawar bakteri pada daun ubi kayu. Nilai persentase penyakit tersebut yang akan digunakan untuk klasifikasi. Klasifikasi ini menggunakan data latih sebanyak 400 gambar dan data uji sebanyak 100 gambar dengan latar belakang warna putih. Pengujian aplikasi dilakukan dengan pengujian sistem melalui perhitungan dengan confusion matrix, pengujian ahli penyakit, dan pengujian oleh pengguna aplikasi. Hasil dari klasifikasi naive bayes memperoleh akurasi yang cukup tinggi yaitu 98%. Pengujian aplikasi dilakukan oleh ahli penyakit hawar bakteri memperoleh kesimpulan aplikasi dapat dengan mudah digunakan dalam menentukan besaran serangan penyakit hawar bakteri pada tanaman ubi kayu. Pengujian oleh pengguna aplikasi yaitu petani memperoleh hasil aplikasi dapat dengan mudah digunakan oleh petani dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan
Implementasi K-Medoids Clustering dalam Pendistribusian Guru SMA Sederajat di Indonesia
Pemerintah Indonesia masih mengalami permasalahan dalam pendistribusian guru. Guru yang ada di beberapa daerah sangatlah kekurangan, sedangkan di beberapa daerah atau kota lainya mengalami kelebihan guru. Sistem pendistribusian dengan menggunakan kebijakan terpusat tidak dapat digunakan karena pendistribusian guru yang sedang terjadi. Clustering dalam data mining dapat bermanfaat sekali dalam mencari pola untuk pendistribusian guru dan terdapat dalam dataset yang bermanfaat dalam proses analisis data yang ada. Dengan Clustering, pola yang terdapat dalam atribut pada dataset dapat dengan mudah dikenali. Tujuan dari penelitan ini untuk mengaplikasikan algoritma K-Medoids Clustering guna menganalisa pendistribusian guru SMA sederajat di Indonesia. Dalam penelitian terkait, solusi yang digunakan adalah dengan menggunakan algoritma K-Means Clustering dengan nilai K = 12 yang mana, akan di klasifikasikan kedalam 3 kelas, yaitu kurang, cukup, dan kelebihan. Dengan menggunakan algoritma tersebut dihasilkan nilai Sum of Squared Error (SSE) sebesar 87,15%. Namun, masih terdapat data yang diidentifikasikan sebagai outlier (data yang menyimpang) di dalam data yang digunakan. Dengan mengaplikasikan algoritma K-Medoids diharapakan dapat mengatasi data outlier tersebut. Penelitianinimenggunakan 4 tahap, yaitu: pemilihan dataset, preproccessing data, implementasidari K-Medoids, dan evaluasi serta membandingkan dengan algoritma K-Means Clustering. Penelitian ini menggunakan 4 buah skenario dengan k = 2, 4, 8, dan 16. Hasil evaluasi dengan SSE, pada skenario 1 dengan k = 2 dan skenario 2 dengan k = 4. Algoritma K-Medoids lebih unggul dibanding algoritma K-Means dengan nilai 62,89 untuk K-Medoids serta 64,43 untuk K-Means pada skenario 1 dan 361,82 untuk K-Medoids serta 659,51 untuk K-Means pada skenario 2. Sedangkan pada skenario 3 dengan k = 8 dan skenario 4 dengan k = 16. Algoritma K-Means lebih unggul dibanding algoritma K-Medoids dengan nilai 2790,92 untuk K-Medoids serta 1870,101 untuk K-Means pada skenario 3 dan 10539,71 untuk K-Medoids serta 8969,58 untuk K-Means pada skenario 4
ROBOT ACKERMANN STEERING PENJEJAK GARIS SEBAGAI TRAINER PEMBELAJARAN MATAKULIAH ROBOTIKA DI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK Dewantoro, Adhiatma. 2019. Robot Ackermann Steering Penjejak Garis Sebagai Trainer Pembelajaran Matakuliah Robotika di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Eng. Siti Sendari S.T., M.T. (II) I Made Wirawan, S.T., S.S.T., M.T. Kata Kunci : Robot Ackermann Steering, Trainer, Matakuliah Robotika Matakuliah Robotika I pada program studi S1 Pendidikan Teknik Elektro memiliki kompetensi dasar mengkategorikan robot, menyusun sistem pergerakan robot dan sistem steering robot, otomasi robot menggunakan sensor, merakit dan menguji robot line follower, wall follower, robot lengan, serta trajectory dan navigasi robot (Katalog FT-UM, 2014:221). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti, pembelajaran matakuliah robotika di jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang masih dilakukan hanya dengan penyampaian materi dan belum disertai dengan praktikum yang memadai sehingga pemahaman peserta didik khususnya pada kompetensi dasar sistem steering robot belum optimal. Hal ini dikarenakan belum adanya media pembelajaran berupa trainer robot ackermann steering penjejak garis di laboratorium robotika jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Solusi dari permasalahan di atas adalah mengembangkan media pembelajaran trainer robot ackermann steering penjejak garis yang dilengkapi dengan jobsheet dan buku petunjuk penggunaan trainer yang diharapkan dapat membantu dalam pembelajaran matakuliah robotika. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian pengembangan ini mengadopsi dari model penelitian dan pengembangan Sugiyono yang dalam penerapannya terdiri beberapa langkah, yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produk akhir. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah trainer robot ackermann steering penjejak garis disertai dengan jobsheet dan buku petunjuk penggunaan trainer. Pengembangan trainer, jobsheet dan buku petunjuk penggunaan trainer mengacu pada kriteria pemilihan media pembelajaran yang baik dan disusun berdasarkan beberapa aspek yaitu: (1) efektifitas, (2) kemudahan, (3) kesesuaian, (4) kelengkapan, (5) komunikatif dan (6) tampilan. Produk yang dihasilkan telah di ujikan kepada subjek uji coba yaitu ahli 1, ahli 2 dan mahasiswa. Pengujian produk oleh ahli 1 dan ahli 2 dilakukan untuk menilai seberapa valid produk. Pengujian produk oleh mahasiswa dilakukan pada saat tahap uji coba produk dan uji coba pemakaian yang bertujuan untuk menilai kelayakan produk yang dikembangkan. Persentase yang di dapatkan pada saat validasi dari ahli 1 sebesar 92,95% dan dari ahli 2 sebesar 89,74%. Persentase yang didapatkan pada saat uji coba produk sebesar 90,65% dan pada saat uji coba pemakaian sebesar 92,07%. Berdasarkan hasil analisis skor yang diperoleh tersebut maka media pembelajaran dapat dinyatakan sangat valid, layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran
Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 dalam Proses Pembelajaran Mata Pelajaran Paket Keahlian Teknik Elektronika Industri di SMK Negeri 2 Probolinggo Tahun Ajaran 2018/2019
ABSTRAKMufarrichah, Dwi Arini. 2019. Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 dalam Proses Pembelajaran Mata Pelajaran Paket Keahlian Teknik Elektronika Industri di SMK Negeri 2 Probolinggo Tahun Ajaran 2018/2019. S1 Pendidikan Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muladi, S.T., M.T., (II) Dr. Yuni Rahmawati, S.T., M.T. Kata Kunci: Evaluasi implementasi kurikulum, Kurikulum 2013 Revisi 2016, proses pembelajaran, guru SMK, siswa SMK Perubahan dan perkembangan kurikulum merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional untuk menghadapi perkembangan zaman. Kurikulum 2013 Revisi 2016 merupakan pembaharuan dan perbaikan dari Kurikulum 2013 yang tidak hanya difokuskan pada pembentukan kompetensi, tetapi juga kapabilitas peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 dalam proses pembelajaran paket keahlian Teknik Elektronika Industri (TEI) di SMK Negeri 2 Probolinggo yang meliputi aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa TEI di SMK Negeri 2 Probolinggo. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa lembar observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Uji validitas instrumen penelitian berdasarkan validitas isi dan validitas konstruk. Uji reliabilitas menggunakan teknik Alpha Cronbach’s. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 pada tahapan perencanaan pembelajaran berada dalam kategori sebagian besar terlaksana; (2) implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 pada tahapan pelaksanaan pembelajaran berada dalam kategori sebagian besar terlaksana; (3) implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 pada tahapan penilaian pembelajaran berada dalam kategori sebagian besar terlaksana;(4) Hambatan yang ditemui dalam implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016, yaitu ketersediaan buku ajar atau literatur berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2016 yang masih minim, pemahaman guru dalam penyusunan RPP dan penilaian pembelajaran yang masih bervariasi, jumlah peralatan kegiatan praktik yang masih terbatas, serta sikap percaya diri, keaktifan, dan motivasi belajar siswa yang masih kurang; (5) Secara keseluruhan implementasi Kurikulum 2013 Revisi 2016 dalam proses pembelajaran pada paket keahlian TEI masih belum sepenuhnya terlaksana hal ini dikarenakan dalam implementasinya guru belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan tuntutan karakteristik Kurikulum 2013 Revisi 2016, terutama terkait kegiatan penilaian otentik
Evaluasi Program Praktik Industri dengan Menggunakan Model Discrepancy Evaluation Model (DEM) pada Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 5 dan SMK PGRI 3 Kota Malang
Dalam UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 3 tentang Tujuan Pendidikan Nasional dan penjelasan pasal (15) menyatakan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Berdasarkan pasal diatas, maka tersusunlah Program Praktik Kerja Industri (Prakrin). Akan tetapi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan prakerin di SMK Kota Malang saat ini menurut pengamatan yang dilakukan oleh peneliti melalui observasi ke sekolah yaitu adanya kesenjangan antara tujuan dan hasil prakerin. Maka dibutuhkannya solusi untuk menjawab kendala yang dihadapi tersebut. Oleh karna itu evaluasi program pun hadir untuk memberikan solusi. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode discrepancy evaluation model (DEM). Jenis dan data analisis penelitian ini termasuk dalam penelitian campuran atau kuantitatif dan kualitatif. ada empat tahapan pada penelitian ini yakni desain, instalasi, proses dan hasil. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini ada 4 jenis yaitu kuisoner, wawancara, observasi dan analisis dokumen. Analisis data meliputi deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan: (1) tidak adanya kesenjangan pada tahap desain oleh SMK PGRI 3 dan SMKN 5 malang, (2) adanya kesenjangan terhadap implementasi program prakatik kerja industri karna ada berberapa aspek standar yang telah ditetapkan belum dapat dipenuhi. Kesenjangan yang timbul menjurus pada indikator tujuan prakerin, dukungan pelaksanaan prakerin, fungsi prakerin dan ketentuan prakerin sedangkan tidak adanya kesenjangan pada tahap implementasi oleh SMK PGRI 3Malang, (3) terdapatnya kesenjangan terhadap proses program praktik kerja industri oleh pihak SMK PGRI 3 Malang dalam indikator waktu pelaksanaan, sedangkan tidak adanya kesenjangan pada tahap proses oleh SMKN 5 Malang, (4) tidak adanya kesenjangan terhadap proses program praktik kerja industri karna semua aspek standar sudah terpenuhi atau sudah dijalankan oleh pihak SMKN 5 Malang dan SMK PGRI 3 Malang
Perbedaan Keaktifan Dan Hasil Belajar Dasar Desain Grafis Melalui Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Dibandingkan Dengan Penerapan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) Berbantuan Modul Digital Pada Kelas X Multim
ABSTRAKRamadhani, F. 2017. Perbedaan Keaktifan Dan Hasil Belajar Dasar Desain Grafis Melalui Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Dibandingkan Dengan Penerapan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) Berbantuan Modul Digital Pada Kelas X Multimedia di SMK Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Drs. Hari Putranto, M.Pd. (2) Dr. Yuni Rahmawati, S.T., M.T. Kata Kunci : Hasil Belajar, Keaktifan, Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD), Modul Digital. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS , (2) mendeskripsikan hasil beajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD, (3) mendeskripsikan keaktifan belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS, (4) mendeskripsikan keaktifan belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD, (5) mengetahui signifikansi perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS dan STAD, (6) mengetahui signifikansi perbedaan keaktifan belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS dan STAD. Metode penelitin inimenggunakan Quasi Experiment dengan pretest dan posttest. Kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kelas A yang menerapkan model TSTS dan Kelas B yang menerapkan model STAD. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi keaktifan, lembar observasi keterampilan, dan soal pretest dan posttest yang berupa multiple choice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar ranah pengetahuan dengan nilai signifikansi Sig. (2-tailed) = 0,416 dan keterampilan Sig. (2-tailed) = 0,530 karena model pembelajaran TSTS dan STAD sama-sama dapat meningkatkan hasil belajar. Namun terdapat perbedaan yang signifikan pada keaktifan belajar siswa dengan nilai signifikansi Sig. (2-tailed) = 0,000.Secara keseluruhan pada aspek hasil belajar ranah pengetahuan, keterampilan dan keaktifan belajar siswa bahwa Kelas A yang menerapkan model TSTS memiliki rata-rata nilai lebih tinggi daripada Kelas B yang menerapkan model STAD karena model pembelajaran TSTS memiliki tahapan pembelajaran yang lebih aktif
PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BRAINSTORMING DIPADU PROBLEM BASED LEARNING DAN PROBLEM SOLVING LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR PEMROGRAMAN DASAR KELAS X TKJ SMK NEGERI 2 PROBOLINGGO
Berdasarkan hasil obeservasi yang dilakukan pada kelas X TKJ SMKN 2 Probolinggo menunjukan kurangnya keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat, keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah kurang optimal, dan hasil belajar Pemrograman Dasar yang diperoleh 69% siswa dibawah KKM. Permasalahan tersebut melatarbelakangi penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar (Y) Pemrograman Dasar karena pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dipadu dengan Brainstorming (X1) dibandingkan Problem Solving Learning dipadu dengan Brainstorming (X2). Hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar pengetahuan (Y1) dan hasil belajar keterampilan (Y2). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan Y1 karena pengaruh penerapan X1; (2) mendeskripsikan Y2 karena pengaruh penerapan X1; (3) mendeskripsikan Y1 karena pengaruh X2; (4) mendeskripsikan Y2 karena pengaruh penerapan X2; (5) mengungkap signifikansi perbedaan Y1 karena pengaruh penerapan X1 dibandingkan X2; (6) mengungkap signifikansi perbedaan Y2 karena pengaruh penerapan X1 dibandingkan X2. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Eksperiment Research dengan Pretest Posttest Design. Subjek penelitian ini adalah kelas X TKJ 1 dan kelas X TKJ 3. Kelas X TKJ 1 berjumlah 34 siswa diberi perlakuan X1. Kelas X TKJ 3 berjumlah 32 siswa diberi perlakuan X2. Deskripsi Y1 karena pengaruh penerapan X1 pada kelas X TKJ 1 dikategorikan tinggi, deskripsi Y2 karena pengaruh penerapan X1 pada kelas X TKJ 1 dikategorikan tinggi, deskripsi Y1 karena pengaruh X2 pada kelas X TKJ 3 dikategorikan sedang, deskripsi Y2 karena pengaruh penerapan X2 pada kelas X TKJ 3 dikategorikan sedang. Hasil uji hipotesis menggunakan uji-t menunjukan terdapat perbedaan Y1 karena pengaruh penerapan X1 dibandingkan X2 dengan angka signifikansi sebesar 0,012, terdapat perbedaan Y2 karena pengaruh penerapan X1 dibandingkan X2 dengan angka signifikansi sebesar 0,000. Kesimpulan dari penelitian terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar Pemrograman Dasar karena pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dipadu dengan Brainstorming dibandingkan dengan Problem Solving Learning dipadu dengan Brainstorming