SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM

SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    2357 research outputs found

    Uji Beda Hasil Belajar Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Dibanding Model Pembelajaran Mind Mapping Pada Pemahaman Konsep Instalasi Tenaga Listrik Untuk Siswa Kelas XI TITL SMKN 2 Probolinggo

    No full text
    ABSTRAKSyahrial, Muhammad Fahrul. 2019. Uji Beda Hasil Belajar Model Pembelajaran Contextual Teaching and  Learning Dibanding Model Pembelajaran Mind Mapping Pada Pemahaman Konsep Instalasi Tenaga Listrik Untuk Siswa Kelas XI TITL SMKN 2 Probolinggo. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hakkun Elmunsyah, S.T., M.T. (II) Drs. Hari Putranto, M.Pd.Kata Kunci :Pemahaman Konsep, Contextual Teaching Learning, Mind Mapping, Hasil BelajarBerdasarkan observasi di Jurusan TITLkelas XI SMKN 2 Probolinggo diperoleh hasil belajar ranah kognitif siswa yang kurang maksimal pada matapelajaran ITL. Dalam hasil praktikum cukup baik, namun pemahaman teori dasar masih terlampau kurang. Untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada pelajaran instalasi tenaga listrik diperlukan model pembelajaran yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi pemahaman konsep siswa pada matapelajaran ITL menggunakan model pembelajaran CTL, (2) deskripsi pemahaman konsep siswa pada matapelajaran ITL menggunakan model pembelajaran Mind Mapping, (3) perbedaan pemahaman konsep antara penerapan model pembelajaran CTL dan Mind Mapping pada matapelajaran ITL.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen semu (Quasi Experiment Design). Bentuk desain eksperimen semu yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonequivalent control group design dengan teknik post-test only. Sampel yang digunakanadalahsiswakelas XI TITL SMKN 2 Probolinggosejumlah 63 siswa. Teknik analisis menggunakan Independent Sample T-Test. Penelitian ini menggunakan instrumen perlakuan dan instrumen penilaian. Instrumen perlakuan terdiri dari silabus, RPP, dan bahan ajar. Sedangkan instrumen pengukuran terdiri dari soal posttest pilihan ganda.Hasil belajar kognitif siswa diukur melalui soal posttest sejumlah 30 soal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu rata-rata hasil belajar siswa kelas TITL2 yang diberi perlakuan model CTL masuk pada kategori sangat tinggi yaitu 87,25. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa kelas TITL5 yang diberi perlakuan model Mind Mapping masuk pada kategori tinggi yaitu 82,98.Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan pemahaman konsep yang signifikan antara penerapan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) dan Mind Mapping pada mata pelajaran Instalasi Tenaga Listrik dengan nilai sig.(2tailed) sebesar 0,009

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS TUTORIAL TERPEROGRAM BERMUATAN PROBLEM BASE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBANGKIT LISTRIK MIKRO HIDRO SISWA KELAS X dI SMK PGRI 3 MALANG M

    No full text
    ABSTRAKWahyu Bagus Wijaya . 2019  Pengembangan Media Pembelajaran Tutorial Terprogram  Bermuatan  Problem Base Learning ( PBL ) Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Pada Siswa Kalas X Jurusan  Pembangkit di SMK PGRI 3 Malang . Skripsi S1 Pendidikan Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas   Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yuni Rahmawati,S,T.,M.T.(II) Drs. Hari Putranto, M.Pd.Kata Kunci: Pengembangan  Media  Pembelajaran Tutorial Terprogram ,Model Pembelajaran PBL ,Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro , Penggerak Mula .Pembangkitan listrik mikrohidro adalah pembangkitan listrik dihasilkan oleh generator listrik DC atau AC. Mikrohidro berasal dari kata micro yang berarti kecil dan hydro artinya air, arti keseluruhan  adalah pembangkitan listrik daya kecil yang digerakkan oleh tenaga air. Tenaga air besaral dari aliran sungai kecil atau danau yang dibendung dan kemudian dari ketinggian tertentu dan memiliki debit yang sesuai akan menggerakkan turbin yang dihubungkan dengan generator listrik.Berdasarkan hasil observasi di SMK PGRI 3 Malang , melalui guru pengampu mata pelajaran Teknik Mekanik Pembangkit dan kurikulum  diketahui bahwa ada 3 tiga  program keahlian yang sama-sama berkaitan  dan perlu di berikan wawasan  baru tentang  Renewable Energy PLTMH  , yaitu adalah Teknik Listrik Pembangkit (PJB Class) ,Teknik Istrumen Pembangkit (PJB Class)  dan Teknik Mekanik  Pembangkit (PJB Class) . Pembelajaran tentang Penggerak Mula secara manual dan tidak di implementasikan secara langsung dengan Animasi tutorial atau media penunjang lainnya yang bertujuan mempermudah siswa untuk memahami pelajaran yang disampaikan akan kurang efektif di ilmu baru seperti Pembangkit Listrik Tenaga Listrik (PLTMH) ini

    Hubungan Self-Regulated Learning dan Communication Skills Terhadap Kesiapan Mental Berkarir di Dunia Industri Siswa Kelas XI Program Keahlian Multimedia SMK di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAKHardiansyah, Dyah Cintyarini. 2019. Hubungan Self-Regulated Learning dan Communication Skills Terhadap Kesiapan Mental Berkarir di Dunia Industri Siswa Kelas XI Program Keahlian Multimedia SMK di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom.(II) Harits Ar Rodyid, S.T., M.T., Ph.D.Kata Kunci: self-regulated learning, communication skills, kesiapan mental berkarir, dunia industriSekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah lembaga pendidikan formal tingkat menengah dengan kekhususan mempersiapkan lulusannya untuk siap bekerja. Namun dalam realitanya banyak siswa yang kurang siap untuk terjun ke dunia industri dikarenakan kurang berani dan kurang yakin dalam memiliki kemampuan yang telah diajarkan oleh guru. Kesiapan mental siswa merupakan salah satu dorongan bahwa siswa tersebut berani untuk menghadapi permasalahan maupun berani untuk menghadapi berbagai macam orang. Untuk meningkatkan kesiapan mental siswa tersebut, dapat diihat dari beberapa faktor, yang cukup berpengaruh adalah kemampuan Self-Regulated Learning  atau mengatur diri sendiri, dan bagaimana cara berkomunikasi kepada orang lain (Communciation Skills) . Self-Regulated Learning merupakan kemampuan siswa dalam mengatur atau memanajemen diri sendiri untuk mencapai sebuah tujuan, dengan memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri, akan mempermudah siswa untuk menyelesaikan sebuah tugas. Communication Skills merupakan kemampuan komunikasi siswa kepada orang lain. Dalam dunia industri, tentu akan sering bekerja bersama tim atau kelompok, dengan kemampuan komunikasi, akan membantu siswa yang memilih untuk terjun di dunia industri tidak akan canggung atau takut untuk menghadapi orang lain saat mengungkapkan pendapatnya. Kemampuan komunikasi juga akan membuat siswa mengetahui cara bersikap sesuai situasi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kemampuan dari Self-Regulated Learning siswa kelas XI program keahlian Multimedia SMK di Kota Malang, (2) Mengetahui kemampuan dari Communication Skills siswa kelas XI program keahlian Multimedia SMK di Kota Malang, (3) Mengetahui hubungan Self-Regulated Learning terhadap kesiapan mental siswa kelas XI program keahlian Multimedia SMK di Kota Malang, (4) Mengetahui hubungan Communication Skills terhadap kesiapan mental siswa kelas XI program keahlian Multimedia SMK di Kota Malang, (5) Mengetahui hubungan Self-Regulated Learning dan Communication Skills pada kesiapan mental siswa kelas XI program keahlian Multimedia berkarir di dunia industri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMK kelas XI di Kota Malangdengan jumlah populasi sebanyak 196 siswa. Didapatkan jumlah populasi sebanyak 123 siswa dengan menggunakan teknik propotional random sampling. Untuk mengukur variabel X1, variabel X2 dan Y menggunakan instrumen penelitian berupa angket tertutup, dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi parsial dan regresi ganda. Analisis data  pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian yaitu: (1) Kemampuan siswa kelas XI SMK program keahlian Multimedia terhadap Self-Regulated Learning termasuk dalam kategori cenderung tinggi, (2) Communication Skills siswa kelas XI program keahlian Multimedia cenderung tinggi, (3) Ada hubungan positif dan signifikan antara Self-Regulated Learning dengan kesiapan mental siswa terjun ke dunia industri, (4) Ada hubungan positif dan signifikan antara Communication Skills dengan kesiapan mental siswa terjun ke dunia industri,  (5) Ada hubungan positif dan signifikan antara Self-Regulated Learning dan Communication Skills terhadap kesiapan mental siswa terjun ke dunia industri

    Hubungan Kajian Praktik Lapangan (KPL) dan Lingkungan Sosial Terhadap Minat Menjadi Guru bagi Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAKSaputra, Abdi Kholis. 2019. Hubungan Kajian Praktik Lapangan (KPL) dan Lingkungan Sosial Terhadap Minat Menjadi Guru bagi Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. (2) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T., M.Pd.Kata Kunci: kajian praktik lapangan, lingkungan sosial, minat menjadi guru.Minat menjadi guru adalah rasa ketertarikan terhadap profesi guru. Keinginan yang besar untuk berprofesi sebagai guru dan ingin melakukan tindakan atau upaya untuk menjadi guru mencakup kegiatan menambah pengetahuan yang berkaitan dengan keguruan dan meningkatkan keterampilan menjadi guru. Bagi seorang calon guru, haruslah memiliki minat untuk menjadi seorang guru. Jika seseorang telah memiliki minat sebagai seorang guru, maka orang tersebut akan mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pendidik yang profesional. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat menjadi guru adalah kajian praktik lapangan dan lingkungan sosial mahasiswa. Pengaruh dari KPL dan lingkungan sosial dapat berpengaruh positif maupun negatif terhadap minat menjadi guru, bergantung dari bagaimana proses yang dijalani mahasiswa pada saat KPL dan seberapa berpengaruhnya lingkungan sosial mahasiswa dalam menumbuhkan minat tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tingkat kajian praktik lapangan mahasiswa; (2) mendeskripsikan tingkat lingkungan sosial mahasiswa; (3) mendeskripsikan tingkat keminatan menjadi guru mahasiswa; (4) mengungkap signifikansi hubungan kajian praktik lapangan dan minat menjadi guru; (5) mengungkap signifikansi hubungan lingkungan sosial dan minat menjadi guru; (6) mengungkap signifikansi hubungan secara simultan kajian praktik lapangan dan lingkungan sosial terhadap minat menjadi guru.Metode penelitian ini menggunakan metode Ex Post Facto. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian menggunakan pendekatan deskriptif korelasional untuk mengetahui hubungan dari tiga variabel, yang terdiri dari dua variabel bebas yaitu KPL (X1), lingkungan sosial (X2) dan satu variabel terikat yaitu minat menjadi guru (Y). Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa S1 PTI Angkatan 2015 yang sudah melaksanakan KPL berjumlah 105 mahasiswa. Untuk mengukur kajian praktik lapangan, lingkungan sosial dan minat menjadi guru menggunakan angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi parsial dan regresi ganda.Hasil dari penelitian yaitu: (1) kajian praktik lapangan berada dalam katagori tinggi yaitu 61%; (2) lingkungan sosial berada dalam kategori tinggi yaitu 60%; (3) minat menjadi guru berada dalam kategori tinggi yaitu 64%; (4) ada hubungan positif dan signifikan antara KPL dengan minat menjadi guru; (5) ada hubungan positif dan signifikan antara lingkungan sosial dengan minat menjadi guru; dan (6)ada hubungan positif dan signifikan secara simultan antara KPL dan lingkungan sosial dengan minat menjadi guru. Selain itu, dapat diketahui bahwa sumbangan yang diberikan variabel KPL terhadap minat menjadi guru sebesar 9%, dan variabel lingkungan sosial sebesar 27%, serta sisanya sebesar 67% dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.&nbsp

    Inkubator Jamur Tiram Otomatis Berbasis Fuzzy Logic Control dan Monitoring IOT (Internet Of Things)

    No full text
    ABSTRAKKusuma, As’adul Umam Purnama Yuda. 2019. Inkubator Jamur Tiram Otomatis Berbasis Fuzzy Logic Control dan Monitoring IOT (Internet Of Things). Skripsi. Program Studi S1 Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Eng Mokh. Sholihul Hadi, S.T., M.Eng., (2) Dyah Lestari, S. T., M.Eng.Kata Kunci: Inkubator Jamur Tiram, NodeMCU ESP8266, Relative Humidity, logika fuzzy, DHT11, LDR, Lampu Led, dan online Inkubator jamur tiram merupakan suatu sistem yang digunakan untuk mengendalikan dan memantau perkembangan jamur pada masa pertumbuhan. Proses pertumbuhan jamur tiram tergantung pada faktor fisik seperti suhu dan kelembapan. Jamur tiram dapat tumbuh secara optimal pada suhu dibawah 29°C dan kelembapan udara antara 80-90% Relative Humidity (RH). Sedangkan untuk cahaya yang dibutuhkan dalam perkembangan tidak boleh lebih dari 300 lux. Untuk mengendalikan suhu dan kelembapan dalam penelitian ini bertujuan agar menghasilkan alat yang dapat bekerja secara otomatis dengan kontrol logika fuzzy. Sedangkan untuk cahaya sendiri menggunakan sensor LDR yang akan berfungsi mengaktifkan lampu led jika cahaya lebih dari 300 lux. Aktuator yang digunakan berupa pompa air dan kipas sedangkan sensor yang digunakan adalah sensor DHT11 yang berfungsi untuk mengukur suhu dan kelembapan. Pada sistem ini mengimplementasikan pemonitoringan dan pengontrolan suhu dan kelembaban untuk tempat inkubator jamur tiram agar dapat meningkatkan persentase panen jamur tiram. Pemonitoringan suhu dan kelembaban melalui nodeMCU yang terhubung ke server secara online, server tersebut dapat diakses melaluli aplikasi android yang telah dibuat. Sedangkan untuk penyiraman menggunakan RTC yang dapat berfungsi untuk mengatur waktu penyiraman.Hasil perancangan sistem yang diperoleh yaitu sebuah alat inkubator jamur tiram pada masa pertumbuhan dengan mempertahankan suhu dan kelembaban sesuai dengan setpoint yaitu suhu 26°C dan kelembaban 80%. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan selama 10 hari dengan baglog jamur sebanyak 5 buah, dengan menghasilkan 1 dari baglog jamur tiram dapat dipanen sebelum waktunya. Sehingga tingkat keberhasilan alat yaitu 90% dengan 1 baglog jamur yang lebih lama memakan waktu tumbuh dari semestinya

    Pengembangan Trainer Simulator Sistem Transmisi Tiga Fasa Untuk Matakuliah Transmisi Dan Distribusi Pada Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang

    No full text
    AbstractThis development research aims to produce learning media consisting of worksheets, manual books and three-phase transmission system trainers. It is expected to provide an understanding of the transmission system. This study uses the ADDIE development research model, consisting of: (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4) Implementation, (5) Evaluation. Products developed were validated by expert 1 and expert 2, then implemented in learning in the end 20 test subjects. The test subjects in the study were S1 Electrical Engineering students who had courses of Transmission and Distribution (NTRO6324). The results of the validation obtained the percentage of expert 1 by 83% and expert 2 by 89%. The results of small product trials obtained a percentage by 92%. The results of field product trials obtained a percentage by 93%. Proving the validation results for the product being developed are very competent.Keyword: Learning media, trainer, transmission systemAbstrakPenelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berupa jobsheet, buku panduan dan trainer sistem transmisi tiga fasa. Sehingga diharapkan mampu memberikan pemahaman konsep mengenai sistem transmisi. Penelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan ADDIE, terdiri dari: (1) Analisis, (2) Desain, (3) Pengembangan, (4) Implementasi, (5) Evaluasi. Produk yang dikembangkan divalidasi oleh ahli 1 dan ahli 2, kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran pada sejumlah 20 subjek uji coba. Subjek uji coba pada penelitian adalah mahasiswa S1 Teknik Elektro yang telah menempuh mata kuliah Transmisi dan Distribusi (NTRO6324). Hasil validasi didapatkan persentase ahli 1 sebesar 83% dan ahli 2 sebesar 89%. Hasil uji coba produk kelompok kecil didapatkan persentase sebesar 92%. Hasil uji coba produk lapangan didapatkan persentase sebesar 93%. Sehingga hasil validasi untuk produk yang dikembangkan dinyatakan sangat layak.Kata kunci: Media pembelajaran, trainer, sistem transmisi

    Pengembangan Trainer Simulator Sistem Transmisi Tiga Fasa Untuk Matakuliah Transmisi Dan Distribusi Pada Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang

    No full text
    Kata Kunci: Media pembelajaran, trainer, Sistem transmisi.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dibutuhkan pada saat ini, pendidikanmampu membuat manusia mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapisetiap perubahan yang terjadi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologimenuntut proses pembelajaran yang harus menyesuaikan dengan kemajuan danperkembangan teknologi yang berkembang. Terutama pada proses pembelajaran di lembagapendidikan. Hal tersebut semakin mendorong upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasilhasil teknologi dalam proses belajar mengajar. Dalam upaya pembaharuan pemanfaatan hasilhasil teknologi pada proses pembelajaran dibutuhkannya banyak inovasi-inovasi baru yangdikembangkan di lembaga pendidikan. Perguruan Tinggi merupakan lembaga pendidikanyang membutuhkan inovasi-inovasi baru untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dibidang masing-masing yang memiliki kualitas daya saing yang tinggi dalam bidang teknologikejuruan, keteknikan dan khususnya di bidang pendidikan kejuruan. Salah satu contoh dariinovasi media ini adalah dengan berbagai macam trainer yang digunakan dalam mediapembelajaran.Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaranberupa jobsheet, buku panduan dan trainer sistem transmisi tiga fasa. Sehingga diharapkanmampu memberikan pemahaman konsep mengenai sistem transmisi. Penelitian inimenggunakan model penelitian pengembangan ADDIE, terdiri dari: (1) Analisis, (2) Desain,(3) Pengembangan, (4) Implementasi, (5) Evaluasi. Produk yang dikembangkan divalidasioleh ahli 1 dan ahli 2, kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran pada sejumlah 10subjek uji coba dan 20 subjek uji coba. Subjek uji coba pada penelitian adalah mahasiswa S1Teknik Elektro yang telah menempuh mata kuliah Transmisi dan Distribusi (NTRO6324).Hasil validasi didapatkan persentase ahli 1 sebesar 83% dan ahli 2 sebesar 89%. Hasiluji coba produk kelompok kecil didapatkan persentase sebesar 92%. Hasil uji coba produklapangan didapatkan persentase sebesar 93%. Sehingga hasil validasi untuk produk yangdikembangkan dinyatakan sangat layak.Kesimpulan: (1) Perencanaan trainer menghasilkan desain Trainer Sistem TransmisiTiga Fasa dengan ukuran sesungguhnya. Perencanaan jobsheet menghasilkan format susunanjobsheet, cover dan jumlah praktikum yang mendukung penggunaan Trainer SistemTransmisi Tiga Fasa. Perencanaan buku panduan menghasilkan format susunan bukupanduan dan cover. (2) Pembuatan Trainer Sistem Transmisi Tiga Fasa menghasilkan produkmedia pembelajaran alat peraga berupa Trainer Sistem Transmisi Tiga Fasa dengan ukuranpanjang 220 cm dan tinggi 125 cm. Pembuatan jobsheet dosen dan mahasiswa menghasilkanhardcopy jobsheet yang dicetak dengan ukuran kertas A4. Buku panduan menghasilkanhardcopy buku panduan yang dicetak dengan ukuran kertas A4 guna menunjang penggunaanTrainer Sistem Transmisi Tiga Fasa. (3) Uji kelayakan Trainer Sistem Transmisi Tiga Fasamemperoleh nilai persentase sebesar 92% dengan keterangan sangat valid dan dapatlangsung digunakan tanpa perlu revisi. Uji kelayakan jobsheet Trainer Sistem Transmisi TigaFasa memperoleh nilai persentase sebesar 92% keterangan sangat valid dan dapat langsungdigunakan tanpa perlu revisi. Uji kelayakan buku panduan Trainer Sistem Transmisi TigaFasa memperoleh nilai persentase sebesar 92% keterangan sangat valid dan dapat langsungdigunakan tanpa perlu revisi

    Perbedaan Hasil Belajar Dasar Desain Grafis dengan Penerapan Accelerated Learning dibandingkan Active Learning Berbantuan Video Tutorial Pada Kelas X Program Keahlian TKJ SMK Islam 1 Blitar

    No full text
    Hasil belajar pada mata pelajaran Dasar Desain Grafis yang tergolong rendah memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran yang digunakan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMK Islam 1 Blitar, proses pembelajaran pada mata pelajaran Dasar Desain Grafis masih menggunakan model konvensional sehingga siswa cenderung bosan dalam mengikuti pembelajaran dan menyebabkan hasil belajar yang diperoleh siswa menjadi rendah. Permasalahan tersebut melatar belakangi penelitian ini dengan membandingkan penerapan model pembelajaran Accelerated Learning (X1) dan Active Learning (X2) berbantuan video tutorial terhadap hasil belajar (Y). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk: (1) mengetahui Ykognitif dasar desain grafis dengan model X1, (2) mengetahui Y kognitif dasar desain grafis dengan model X2, (3) mengetahui Y psikomotor dasar desain grafis dengan model X1, (4) mengetahui Ypsikomotor dasar desain grafis dengan model X2, (5) mengetahui perbedaan Ykognitif dasar desain grafis dengan model X1dibandingkan X2 berbantuan video tutorial,(6) mengetahui perbedaan Ypsikomotor dasar desain grafis dengan model X1dibandingkan X2 berbantuan video tutorial.Rancangan pada penelitian ini menggunakan Quasi Experiment serta desain penelitian Pretest-Posttest. Penelitian dilakukan pada siswa kelas X TKJ SMK Islam 1 Blitar sejumlah 47 siswa. Sampel adalah 40 siswa kelas X TKJ 2 sebagai kelas eksperimen A dengan penerapan X1 dan 37 siswa kelas X TKJ 3 sebagai kelas eskperimen B dengan penerapan X2. Instrumen pengukuran berupa tes pengetahuan (posttest) dan lembar pengamatan. Pengujian hipotesis menggunakan teknik Independent Sample t-Test, berbantuan SPSS 25 for Windows.Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan Y setelah diberi perlakuan model X1berbantuan video tutorial maupun X2berbantuan video tutorial dengan nilai Y ranah kognitif sebesar 0.20 dan nilai Y ranah psikomotor sebesar 0.13

    PENGEMBANGAN TRAINER ROBOT WALL FOLLOWER INTERFACE BLUETOOTHUNTUK MEMAHAMKAN KONSEP PEMROGAMAN ARDUINO PADA MATA PELAJARAN PENGENDALI SISTEM ROBOTIK BIDANG KEAHLIAN JURUSAN TEKNIK ELEKTRONIKA INDUSTRI DI SMK NEGERI 1 KEPANJEN

    No full text
    Kata Kunci: media pembelajaran, trainer, Wall Follower, interface Bluetooth,konsep ArduinoHasil observasi dan pendekatan di SMK Negeri 1 Kepanjen dalam program keahlian Teknik Elektronika Industri (TEI), ditemukan beberapa permasalahan terkait media pembelajaran. Salah satunya kurang permasalahan adalah aplikasi pembelajaran tentang mikrokontroler terutama tentang Arduino dan belum ada inovasi tentang mikrokontroler dalam bentuk robot pada mata pelajaran Pengendali Sistem Robotik. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti melakukan penelitian pengembangan untuk membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar tersebut yaitu Trainer Robot Wall Follower interface bluetooth. Tujuan pengembangan ini adalah mengembangkan, menguji kelayakan, dan menguji efektifitas media ajar berupa trainer robot Wall Follower interface Bluetooth.Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Sugiyono yang terdiri dari 10 tahapan yaitu: (1) Potensi dan Masalah; (2) Pengumpulan data; (3) Desain produk; (4) Validasi desain; (5) Ujicoba Pemakaian; (6) Revisi produk; (7) Ujicoba Produk; (8) Revisi Desain; (9) Revisi Produk; dan (10) Produksi akhir. Produk yang telah dikembangkan divalidasi oleh 3 ahli dan telah diuji coba produk pada 27 siswa kelas XII TEI 1, dan uji coba pemakaian pada 25 siswa kelas XII TEI 3.Hasil uji validasi dari ketiga ahli mendapatkan persentase sebesar 90,17% oleh ahli 1, 88,39% oleh ahli 2, dan 94,64% oleh ahli 3. Hasil uji coba produk sebesar 93,66%. Produk yang dibuat telah diimplementasikan dalam kegiatan belajar siswa dan mendapatkan nilai rata-rata sebesar 84, masing-masing untuk kedua aspek pengetahuan mendapatkan 86 sedangkan untuk aspek keterampilan mendapatkan 83. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Trainer dan Jobsheet Wall Follower interface Bluetooth dapat digunakan sebagai salah satu media untuk memahamkan konsep pemrograman Arduino pada siswa

    INTERAKSI KEAKTIFAN BELAJAR DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING DAN PROBLEM SOLVING BERBANTUAN SIMULASI TERHADAP HASIL BELAJAR DASAR DAN PENGUKURAN LISTRIK PADA SISWA KELAS X TEKNIK PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DI SMK PGRI 3 MALANG

    No full text
    ABSTRAKNashiroh, Hafizhah. 2019. “Interaksi Keaktifan Belajar dengan Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving dan Problem Solving Berbantuan Simulasi Terhadap Hasil Belajar Dasar dan Pengukuran Listrik pada Kelas X Teknik Pembangkit Tenaga Listrik di SMK PGRI 3 Malang”. Skripsi, Progam Studi Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elekro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T., (2) Drs. Slamet Wibawanto, M.T.Kata kunci : hasil belajar Dasar dan Pengukuran Listrik, keaktifan belajar siswa, model pembelajaran Creative Problem Solving, model pembelajaran Problem Solving, simulasiAktivitas siswa dalam belajar di kelas dapat mempengaruhi hasil belajar. Setiap siswa memiliki tingkat keaktifan belajar yang berbeda.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi hasil belajar Dasar dan Pengukuran Listrik yang dipengaruhi oleh interaksi keaktifan dan penerapan model pembelajaran; (2) menguji signifikansi interaksi keaktifan siswa dan model pembelajaran terhadap hasil belajar; (3) menguji signifikansi antar kelas keaktifan siswa dan penerapan variasi model pembelajaran terhadap hasil belajar;dan (4) mengetahui perbedaan hasil belajar yang paling signifikan antar pasangan kelas.Desain penelitian yang digunakan adalah true experimental denganrancangan factorial 2 x 2. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua kelas dari siswa kelas X program keahlian Teknik Pembangkit Tenaga Listrik di SMK PGRI 3 Malang. Kedua kelas tersebut akan dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan tingkat keaktifan belajar dengan penerapan model pembelajaran berbantuan simulasi. Pengelompokan dilakukan secara acak berdasarkan tingkat keaktifan belajar dengan cara observasi pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan indikator-indikator yang sudah ditentukan. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji ANOVA dua jalur untuk mengetahui adanya interaksi dan perbedaan hasil belajar Dasar dan Pengukuran Listrik berdasarkan tingkat keaktifan belajar dengan penerapan variasi model pembelajaran berbantuan simulasi.Uji hipotesis selanjutnya adalah uji Post-Hoc Comparasion digunakan untuk mengetahui kelompok hasil belajar yang paling berbeda.Hasil penelitian ini yaitu: (1) rata-rata hasil belajar pengetahuan PS1 sebesar 86,6, PS2 sebesar 84,73, CPS1 sebesar 86,06, CPS2 sebesar 75,81 dan rata-rata hasil belajar keterampilan PS1 sebesar 92,46, PS2 sebesar 91,06, CPS1 sebesar 91,46, CPS2 sebesar 82,56;(2) terdapat interaksi keaktifan belajar dan model pembelajaran berbantuan simulasi terhadap hasil belajar; (3) terdapat perbedaan yang signifikan antar kelas keaktifan dan penerapan variasi model pembelajaran berbantuan simulasiterhadap hasil belajar; dan (4) perbedaan paling signifikan hasil belajar pengetahuan terdapat pada kelompok PS1 dengan CPS2, sedangkan untuk hasil belajar keterampilan pada kelompok PS1 dengan CPS2, PS2 dengan CPS2, dan CPS1 dengan CPS2.Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: (1) rata-rata hasil belajar pengetahuan PS1 masuk dalam kategori tinggi, PS2 masuk dalam kategori tinggi, CPS1 masuk dalam kategori tinggi, CPS2 masuk dalam kategori rendah dan rata-rata hasil belajar keterampilan PS1 masuk dalam kategori sangat tinggi, PS2 masuk dalam kategori tinggi, CPS1 masuk dalam kategori tinggi, CPS2 masuk dalam kategori sangat rendah; (2) terdapat interaksi keaktifan belajar dan model pembelajaran berbantuan simulasi terhadap hasil belajar; (3) terdapat perbedaan yang signifikan antar kelas keaktifan dan penerapan variasi model pembelajaran berbantuan simulasiterhadap hasil belajar; dan (4) perbedaan paling signifikan hasil belajar pengetahuan terdapat pada kelompok PS1 dengan CPS2, sedangkan untuk hasil belajar keterampilan pada kelompok PS1 dengan CPS2, PS2 dengan CPS2, dan CPS1 dengan CPS2

    0

    full texts

    2,357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇