SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UMNot a member yet
2357 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Instalasi MotorListrik Berbasis Proyek untuk Kelas XI Semester II Program Keahlian Teknik Ketenagalistrikan di Tingkat SMK
RINGKASANHakim, Sultonil. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Instalasi Motor Listrik Berbasis Proyek untuk Kelas XI Semester II Program Keahlian Teknik Ketenagalistrikan di Tingkat SMK. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T, M.Pd. (II) Drs. Slamet Wibawanto, M.T.Kata Kunci: Pengembangan, Bahan Ajar Cetak, Instalasi Motor Listrik, Project Based Learning.Pengembangan bahan ajar dalam proses pembelajaran sangatlah penting untuk mencapai tujuan pembelajaran suatu mata pelajaran di sekolah. Mata pelajaran Instalasi Motor Listrik di SMK merupakan mata pelajaran yang ada di program keahlian Teknik Ketenagalistrikan yang harus ditempuh siswa kelas XI dan XII. Dalam silabus kurikulum 2013 materi yang ada berbeda dengan Kurikulum KTSP, oleh sebab itu diperlukannya pengembangan dan penyempurnaan bahan ajar guru dan siswa yang sesuai dengan kurikulum yang diterapkan. Bahan ajar mempunyai peran yang penting dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, pengembangan bahan ajar dalam penelitian ini bertujuan untuk membantu siswa menuntaskan kompetensi dasar dan menyelesaikan materi yang harus dikuasai selama satu semester. Bahan ajar juga sebagai pendukung dalam pembelajaran baik berupa praktikum maupun teori yang dikembangkan, sedangkan bagi guru bahan ajar dapat membantu untuk mempermudah dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Motode pembelajaran yang dikembangkan dalam bahan ajar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa SMK yaitu menggunakan model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning yang memiliki tahap pembelajaran: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, dan (3) evaluasi.Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan ini menggunakan model pengembangan Dick and Carrey. Adapun tahap-tahap pengembangan bahan ajar tersebut adalah: (1) menentukan tujuan umum pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan analisis KI dan KD, (2) malakukan analisis pembelajaran,(3) mengidentifikasi tingkah laku awal dan karakteristik peserta didik, (4) merumuskan tujuan khusus, (5) mengembangkan instrumen penilaian, (6) mengembangkan strategi pembelajaran (7) mengembangkan dan memilih bahan ajar yakni buku guru dan buku siswa, (8) melakukan evaluasi formatif dengan uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan, (9) revisi, dan (10) melakukan evaluasi sumatif.Buku ajar ini telah divalidasi oleh dua orang ahli serta telah diuji cobakan kepada siswa kelas XI di SMK AL Huda Kota Kediri melalui uji kelayakan dan uji efektifitas. Kelayakan bahan ajar diketahui berdasarkan hasil angket. Hasil angket dari uji coba perorangan yaitu reviewer ahli 1 mendapatkan skor 88,89 % (sangat valid), dari reviewer ahli 2 mendapatkan skor 89,35 % (sangat valid), hasil angket pada uji coba kelompok kecil mendapatkan skor 87,50 % (sangat valid), dan hasil angket siswa pada uji coba lapangan mendapatkan skor 86,12 % (sangat valid). Berdasarkan skor tersebut, bahan ajar dinyatakan valid dan layak digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Keefektifan bahan ajar dapat diketahui berdasarkan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diambil dari proses pembelajaran yang dilakukan dengan buku ajar yang dikembangkan, nilai hasil belajar rata-rata yang didapat adalah 83,6. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai yang didapat siswa lebih tinggi dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) di SMK AL Huda Kota Kediri yaitu 75. Berdasarkan hasil tersebut, buku ajar dinyatakan efektif untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.SUMMARYHakim, Sultonil. 2019. Developing Project-Based Learning Materials for Electric Motor Installations Class for The Second Semester of Grade XI Students Majoring in Electricity Engineering Expertise Program in Vocational High Schools. Thesis, Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisor: (I) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T, M.Pd. (II) Drs. Slamet Wibawanto, M.T.Keywords: Development, Printed Textbooks, Electric Motor Installation, Project Based Learning (PBL).Developing learning materials in a teaching and learning process is considered as a very important thing to do in order to achieve the learning objectives of a subject in school . Electric Motor Installation is one of compulsory subjects that must be taken by any XI grade students who take Electrical Engineering as their expertise program in a vocational school. The application of the 2013 curriculum to replace the KTSP curriculum has made it essential for teachers to adapt, adopt, and make several changes in materials taught in the classroom. Teaching materials have important roles in students’ learning activities in schools. The development of teaching materials in this study aims to help students in completing basic competencies and materials that must be mastered in one semester as well as support the teaching and learning process; both in the form of practicum and theory. For teachers, the developed teaching materials can be utilized to help facilitating the learning process implementation. The learning method developed in the teaching materials was in accordance with the needs and characteristics of vocational high school students, namely by using project based learning that has a learning phase as follows: (1) planning,(2) implementation, and (3) evaluation.The textbook in this study was developed in accordance to Dick and Carrey’s development model. The stages of developing teaching materials are: (1) determining the general objectives of learning formulated based on the analysis of KI and KD, (2) conducting learning analysis, (3) identifying initial behavior and characteristics of students, (4) formulating specific objectives , (5) developing assessment instruments, (6) developing learning strategies (7) developing and selecting teaching materials namely teacher books and student books, (8) conducting formative evaluations with individual trials, small group trials, and field trials, (9) revisions, and (10) conducting summative evaluations.This textbook had been validated by two experts and tested on XI grade students of SMK AL Huda Kota Kediri through feasibility tests and summative tests. The feasibility of teaching materials was known based on the results of the questionnaire. The results of the questionnaire from individual trials showed positive validity results, with a score of 88.89% (very valid) from expert reviewer 1 and a score of 89.35% (very valid) from expert reviewer 2, the results of the small group trials’ questionnaire gained 87.50% (very valid), and the results of the questionnaire in the field trials got a score of 86.12% (very valid). Based on these scores, the teaching materials were considered valid and suitable to be used in school. The effectiveness of the teaching materials can be determined based on student learning outcomes. According to the scores earned by the students while using the developed textbook, it was found out that the students’ learning outcomes got the average value of 83.6, higher than KKM set in SMK AL Huda Kota Kediri which is 75. Therefore, the developed textbook is considered effective to be used in learning activities in school
Pengembangan Buku Ajar Manajemen Energi Bermuatan Critical Thinking Skills Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang
ABSTRAKAhmadi, Bagas Sadewa. 2019. Pengembangan Buku Ajar Manajemen Energi Bermuatan Critical Thinking Skills Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Skripsi. S1 Pendidikan Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Arif Nur Afandi, S.T., M. T., Ph.D., (II) Dr. Yuni Rahmawati, S.T., M.T.Kata Kunci: Buku ajar, Manajemen Energi, Critical Thinking Skills, Problem Based Learning.Proses pembelajaran di universitas mempunyai beberapa tujuan seperti peningkatan kemampuan pedagogik mahasiswa. Kemampuan ini mempengaruhi beberapa hal seperti kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu perlu dikembangkan buku ajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning yang selaras dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis, terutama untuk mata kuliah Manajemen Energi. Manajemen Energi merupakan salah satu program matakuliah yang ada pada jurusan Teknik Elektro yang didalamnya mempelajari tentang pengaturan segala aspek pengolahan energi. Tujuan dari pembuatan penelitian ini yaitu untuk mempermudah mahasiswa dalam memperoleh materi dalam proses pembelajaran.Tujuan dari penelitian ini adalah merancang, mengembangkan, dan menguji kelayakan buku ajar Manajemen Energi untuk S1 Teknik Elektro jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Metode yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model ADDIE dengan 5 tahapan yaitu: (1) Analysis (analisis), (2) Design (desain), (3) Development (pengembangan), (4) Implementation (implementase),dan (5) Evaluation (evaluasi).Hasil dari pengembangan buku ajar yang terdiri dari, teks, gambar, peta konsep, rangkuman, tes formatif, daftar pustaka, dan glosarium telah divalidasi oleh dosen Teknik Elektro Universitas Negeri Malang yang menguasai dibidang manajemen energi dan diujicobakan kepada mahasiswa S1 Teknik Elektro angkatan 2015. Validasi buku ajar menggunakan teknik penyebaran angket. Hasil penyebaran angket yang telah dilakukan pada buku ajar dinyatakan valid, sehingga layak digunakan sebagai sumber rujukan pembelajaran Manajemen Energi. Hal ini didukung melalui hasil persentase validasi oleh kedua validator sebesar 91% dan 76,28%, hasil validasi uji coba kelompok kecil sebesar 85,83%, dan hasil validasi uji coba kelompok besar yaitu 81,18%. Dari persentase tersebut dapat dikatakan bahwa produk buku ajar bisa digunakan atau layak jika digunakan sebagai reverensi belajar atau sebagai bahan ajar Manajemen Energi
Pengembangan Buku Ajar Pengendali Sistem Robotik Berbasis Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Sekolah Menengah Kejuruan Kelas XI Bidang Keahlian Teknik Elektronika Industri
Buku ajar merupakan salah satu sumber belajar, yakni segala sesuatu yang memudahkan peserta didik memperoleh sejumlah informasi pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan dalam proses belajar mengajar. Dalam mata pelajaran Pengendali Sistem Robotik kelas jurusan TEI kelas XI SMK Negeri 1 Kepanjen para siswa akan dibantu dalam proses belajarnya melalui buku ajar tersebut. Dari hasil observasi, terdapat beberapa permasalahan dalam pembelajaran, yaitu (1) Belum tersedianya buku ajar dalam mata pelajaran Pengendali Sistem Robotik kelas XI, (2) Bahan ajar yang digunakan belum sesuai dengan silabus yang ada, (3) Bahan ajar yang digunakan belum mengacu pada Kurikulum 13, sedangkan silabus yang ada saat ini mengacu kepada Kurikulum 13. Untuk itu menurut permasalahan yang ada di SMK Negeri 1 Kepanjen pada mata pelajaran Pengendali Sistem Robotik adalah dengan mengembangkan buku ajar guru serta siswa berdasarkan kurikulum 2013 dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Metode pengembangan yang akan digunakan dalam pengembangan buku ajar ini adalah metode pengembangan oleh Sadiman, dengan langkah-langkah (1) Identifikasi Kebutuhan, (2) Merumuskan Tujuan Pembelajaran, (3) Merumuskan Butir-Butir Materi, (4) Perumusan Alat Pengukur Keberhasilan, (5) Menyusun Naskah/Draft Media, (6) Melakukan Tes/Uji Coba dan Revisi. Hasil pengembangan tersebut berupa produk yang berbentuk buku ajar, dan dibagi menjadi dua yaitu buku ajar siswa dan juga buku ajar guru. Acuan yang digunakan di dalam buku ajar tersebut mengacu pada Kurikulum 2013 dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Pengembangan buku ajar tersebut divalidasi oleh ahli materi dan ahli media. Buku ajar tersebut juga sudah diuji cobakan di SMKN 1 Kepanjen melalui uji kelayakan. Hasil angket dari uji coba perorangan didapatkan hasil dari ahli materi mendapatkan skor 90.85% (sangat valid), hasil angket dari ahli media mendapatkan skor 92,53% (sangat valid), hasil angket dari uji coba kelompok kecil mendapatkan skor 92,71% (sangat valid), dan hasil angket dari uji coba lapangan mendapatkan skor 90,35% (sangat valid). Berdasarkan akumulasi skor tersebut dinyatakan buku ajar yang dikembangkan valid dan layak untuk pembelajaran di sekolah.
Analisis Estimasi Daya yang Tersambung dan Energi Listrik yang Terjual Dalam Jangka Panjang Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation
ABSTRAKAshidieqi, Roub Nizaar. 2019. Analisis Estimasi Daya yang Tersambung dan Energi Listrik yang Terjual Dalam Jangka Panjang Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang.Kata kunci: estimasi, daya tersambung, energi terjual, backpropagationTingkat kesejahteraan penduduk adalah faktor utama dalam konsumsi listrik sehari-hari. Konsumsi listrik ini dipengaruhi oleh jenis pelanggan, diantaranya rumah tangga, industri, bidang sosial, pemerintahan, dan bisnis sehingga daya yang yang dialirkan dan daya yang digunakan pun berbeda. Mengutip dari data PLN UPJ Srengat tentang daya yang tersambung pada tahun 2016 sebesar 67 MW sedangkan pada tahun 2017 sebesar 72 MW. Dalam pengoperasian sistem tenaga listrik, daya yang tersambung harus sama dengan jumlah energi yang terjual ke konsumen. Energi yang terjual dari PLN UPJ Srengat pada tahun 2016 sebesar 95.221.877 kWh sedangkan pada tahun 2017 sebesar 97.749.567 kWh. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan listrik masyarakat Srengat tiap tahunnya terus meningkat. Untuk dapat memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, diperlukan keseimbangan dari sisi produksi dan konsumsi listrik sehingga konsumsi listrik selalu sama dengan tingkat produksinya. Oleh karena itu, diperlukan peranan estimasi daya tersambung dan konsumsi energi listrik jangka panjang. Estimasi ini dilakukan untuk mengetahui tingkat target daya tersambung dan konsumsi energi secara akurat sehingga dapat meningkatkan keamanan dari manajemen energi, menghemat biaya operasional, kondisi aman dari sisi produksi dan konsumsi energi listrik serta digunakan sebagai acuan Rencana Operasi oleh pihak PLN.Model estimasi yang digunakan adalah model jaringan NARNET untuk menentukan nilai masa mendatang sebagai variabel masukan dalam proses estimasi menggunakan jaringan syaraf tiruan backpropagation. Arsitektur jaringan syaraf tiruan backpropagation dilatih hingga menemukan arsitektur terbaik yaitu jenis normalisasi yang digunakan adalah softmax scalling. Dengan data masukan 8 neuron, bobot dan bias awal menggunakan optimalisasi Nguyen Widrow 2 hidden layer dengan masing-masing 9 neuron. Pengaturan performa jaringan data keluaran ditentukan oleh peneliti dengan jumlah iterasi (epoch) maksimum 10.000 epoch dan target error yang ingin dicapai 0,00001. Pembagian data latih dan data uji dengan komposisi 70% data latih dan 30% data uji. Fungsi aktivasi yang digunakan jaringan masukan adalah kondisi default atau sigmoid biner, pada hidden layer pertama menggunakan sigmoid biner (logsig) dan pada hidden layer kedua menggunakan sigmoid bipolar (tansig). Fungsi pelatihan yang digunakan adalah fungsi pelatihan levenberg marqurdt (trainlm). Hasil perbandingan antara jaringan syaraf tiruan backpropagation dengan jaringan non-linear autoregressive neural network (NARNET) pada estimasi jangka panjang, diperoleh pengolahan yang optimal dengan menggunakan jaringan syaraf tiruan backpropagation. Hal ini dibuktikan dari nilai MAPE pada tahun 2017 pada backpropagation memiliki nilai 2,74% pada target pertama dan 0,99% pada target kedua dengan perbedaan nilai yang merata
PENGARUH SUHU DAN KECEPATAN ANGIN TERHADAP POTENSI ENERGI ANGIN SEBAGAI ALTERNATIF PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN
Kebutuhan masyarakat terhadap tenaga listrik semakin meningkat setiap tahunnya, bahan bakar fosil yang selama ini menjadi bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik, ketersediaannya di alam sangat terbatas. Mengembangkan dan menerapkan sumber energi terbarukan perlu segera digalakkan guna mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil yang selama ini menjadi bahan bakar untuk membangkitkan tenaga listrik. Sangat diharapkan sumber energi listrik yang ramah lingkungan dan mudah didapatkan di alam, agar sumber energi tersebut dapat menjadi alternatif pembangkit listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar potensi energi angin yang dipengaruhi oleh suhu dan kecepatan angin sebagai alternatif pembangkit listrik tenaga angin. Menentukan lokasi-lokasi yang berpotensi untuk dipasang PLTB, menentukan jumlah blade atau bilah kincir angin, dan jumlah titik pemasangan pada lokasi tertentu. Dalam penelitian ini metode yang digunakan bersifat kuantitatif dengan data sekunder. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa total potensi energi angin di area Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi pada bulan Agustus 2017─Juli 2018 adalah sebesar 85.162.810,36 Wh. Berdasarkan topologi area, besar nilai kecepatan angin, besar nilai potensi energi yang dihasilkan, dan koordinat, serta waktu, sebagian besar (91,8%) lokasi dapat dibangun tower PLTB dengan memanfaatkan suhu dan kecepatan angin 10 meter di atas permukaan tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif energi pembangkit listrik tenaga angin. Besar pengaruh suhu terhadap potensi energi angin yaitu 1,01% dan besar pengaruh kecepatan angin terhadap potensi energi angin yaitu 48,78% pada setiap penambahan atau pengurangan kondisi nilai kecepatan angin sebesar 1m/s dengan kondisi nilai suhu konstan. Jumlah blade yang dibutuhkan antara sejumlah 2 bilah turbin pada setiap tower PLTB. Jumlah titik tower yang memungkinkan dibangun yaitu sejumlah 110.185 titik tower PLTB. Dengan begitu, suhu dan kecepatan angin dapat dilihat pengaruhnya terhadap potensi energi angin sebagai alternatif energi di area Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi
PERBEDAAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI ITL KARENA PENERAPAN MODEL CBL DIPADU DENGAN STRATEGI METAKOGNITIF DIBANDINGKAN MODEL PBL DIPADU DENGAN STRATEGI METAKOGNITIF PADA SISWA KELAS XI TITL DI SMKN 1 SINGOSARI
RINGKSAN Kegiatan mengajar harus memiliki teknik, model, dan strategi pembelajaran agar pembelajaran lebih bermakna dan dapat mencapai tujuan yang akan dicapai. Hasil pembelajaran ITL tidak maksimal disebabkan oleh penerapan strategi atau model pembelajaran yang tidak sesuai. Sehingga perlu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia siswa SMK TITL, salah satunya kurangnya kemampuan berpikir tingkat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi Instalasi Tenaga Listrik karena penerapan model CBL yang dipadu dengan strategi metakognitif dan PBL yang dipadu dengan strategi metakognitif pada kelas XI TITL SMKN 1 Singosari. Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan pre-test post-test design. Variabel bebas pada penelitian ini adalah model pembelajaran CBL dipadu strategi metakognitif dan PBL yang dipadu dengan strategi metakognitif. Variabel terikat yang digunakan adalah Hasil HOTS subjek penelitian siswa SMKN 1 Singosari kelas XI TITL A 34 siswa dan TITL B sebanyak 35 siswa. Hasil uji-t menunjukkan bahwa hasil kemampuan berpikir tingkat tinggi ITLinstalasi motor listrik memperoleh nilai 0,026. Berdasarkan hasil tersebut diartikan terdapat signifikan perbedaan dari penerapan kedua model yang dipadu strategi
Perbedaan Kemandirian dan Hasil Belajar Pemrograman Dasar Karena Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Dibandingkan Probing Prompting (PP) Berbantuan Educational Game pada Siswa Kelas X MM SMK Negeri 2 Sukorejo Kab. Pasuruan
ABSTRAKIstikomah, Nur. 2019. Perbedaan Kemandirian dan Hasil Belajar Pemrograman Dasar Karena Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Dibandingkan Probing Prompting (PP) Berbantuan Educational Game pada Siswa Kelas X MM SMK Negeri 2 Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika. Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. H. Syaad Patmanthara, M.Pd., Pembimbing (II) Dila Umnia Soraya, S.Pd., M.Pd.Kata kunci: Creative Problem Solving, Probing Prompting, Educational Game, Kemandirian, Hasil BelajarGuru memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, guru juga dituntut untuk memiliki variasi model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat lebih menggali pengetahuan maupun keterampilan yang akan mempengaruhi kemandirian dan hasil belajarnya. Berdasarkan Observasi di SMKN 2 Sukorejo, hasil belajar pemrograman dasar 57% siswa memiliki nilai di bawah KKM. Hal ini disebabkan karena kemandirian belajar siswa yang masih rendah sehingga siswa kurang aktif selama pembelajaran bahkan banyak siswa yang tidak memahami apa yang sedang dipelajarinya. Model pembelajaran ceramah dengan media pembelajaran modul dirasa membosankan oleh siswa dan tidak mendorong minat siswa untuk belajar. Oleh karena itu, guru harus memilih model pembelajaran yang tepat dengan dipadukan media pembelajaran sebagai pendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian dan hasil belajar siswa karena pengaruh penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving dibandingkan dengan model pembelajaran Probing Prompting berbantuan Educational Game.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ekseperimen model quasi eksperimental yaitu pretest posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini yaitu kelas X MM 3 yang berjumlah 33 siswa sebagai kelas eksperimen 1 yang diberikan perlakuan model pembelajaran Creative Problem Solving berbantuan Educational Game dan siswa kelas X MM 1 yang berjumlah 34 siswa sebagai kelas eksperimen 2 yang diberikan perlakuan model pembelajaran Probing Prompting berbantuan Educational Game. Instrumen pengukur berupa tes dan angket kemandirian belajar. Untuk uji hipotesis menggunakan Independent Sample T-test pada taraf signifikansi 5%.Hasil penelitian dan uji-t kemandirian belajar, hasil belajar ranah kognitif dan ranah psikomotorik masing-masing menunjukan nilai signifikansinya yaitu 0,033, 0,017, dan 0,000 menunjukkan < 0,05 yang artinya terdapat perbedaan kemandirian belajar, hasil belajar ranah kognitif dan psikomotorik pada kelas ekperimen 1 dan kelas ekperimen 2. Hasil penelitian juga dapat dilihat pada beberapa aspek berikut: (1) nilai rata-rata kemandirian belajar dan hasil belajar kelas ekperimen 2 lebih tinggi dibandingkan kelas ekperimen 1; (2) n-gain score kelas ekperimen 2 memiliki peningkatan hasil belajar lebih tinggi dibandingkan kelas ekperimen 1; dan (3) ketuntasan pembelajaran kelas ekperimen 2 lebih tinggi dibandingkan kelas ekperimen1. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan kemandirian dan hasil belajar karena penerapan kedua model pembelajaran. Pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Probing Prompting Berbantuan Educational Game berpengaruh lebih dalam meningkatkan kemandirian dan hasil belajar pemrograman dasar siswa dibandingkan model pembelajaran Creative Problem Solving Berbantuan Educational Game.
HUBUNGAN ANTARA PENGALAMAN BERMAKNA DALAM KAJIAN PRAKTIK LAPANGAN (KPL) DAN PERSEPSI TERHADAP KARIR KEGURUAN DENGAN KEPERCAYAAN DIRI MENJADI GURU KEJURUANBAGI MAHASISWA S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAKBahesty, Muhammad Ja’far. 2019. Hubungan antara Pengalaman Bermakna dalam Kajian Praktik Lapangan (KPL) dan Presepsi terhadap Karir Keguruan dengan Kepercayaan Diri menjadi Guru Kejuruan bagi Mahasiswa PTE 2015 Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.Kata Kunci: Pengalaman Bermakna KPL, Persepsi Karir Keguruan, dan Kepercayaan Diri menjadi Guru Kejuruan.Program Studi S1 Pendidikan Teknik Elektro (PTE) mempunyai satu kompetensi lulusan yang dihasilkan yaitu, kompetensi keguruan yang memprioritaskan untuk mencetak tenaga pendidik. Namun pada kenyataanya masih ada beberapa mahasiswa PTE belum memiliki kepercayaan diri menjadi guru kejuruan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri menjadi guru kejuruan diantaranya yaitu, pengalaman bermakna dalam Kajian Praktik Lapangan (KPL) dan persepsi terhadap karir kegururan. Berkaitan dengan hal tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pengalaman bermakna dalam KPL(X1); (2) mendeskripsikan persepsi terhadap karir keguruan (X2); (3) mendeskripsikan kepercayaan diri menjadi guru kejuruan (Y); (4) mengungkap hubungan signifikansi antara X1 dan Y; (5) mengungkap hubungan signifikansi antara X2 dan Y; (6) mengungkap signifikansi hubungan secara simultan antara X1 dan X2, dengan Y; pada Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015 Universitas Negeri Malang.Penelitian ini merupakan jenis penelitian expose facto dengan rancangan deskriptif korelasional. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa S1 PTE angkatan 2015 sejumlah 68 responden. Penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas yaitu, (X1) dan (X2), serta satu variabel terikat yaitu (Y). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket atau kuisioner. Teknik analisis data menggunakan korelasi parsial dan regresi ganda. Hasil uji reliabilitas instrumen (X1), (X2), dan (Y) dalam kategori tinggi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pengalaman bermakna dalam Kajian Praktik Lapangan (KPL) mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015 dalam kategori sangat tinggi; (2) tingkat persepsi terhadap karir keguruan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015 dalam kategori sangat tinggi; (3) tingkat kepercayaan diri menjadi guru kejuruan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015 dalam kategori rendah; (4) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengalaman bermakna dalam Kajian Praktik Lapangan (KPL) dan kepercayaan diri menjadi guru kejuruan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015; (5) terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap karir keguruan dan kepercayaan diri menjadi guru kejuruan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015; (6) terdapat hubungan yang signifikan secara simultan antara pengalaman bermakna dalam Kajian Praktik Lapangan (KPL) dan persepsi terhadap karir keguruan dengan kepercayaan diri menjadi guru kejuruan bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2015
Evaluasi Gangguan Jaringan 20 kV Menggunakan Metode Failure Mode, Effects, And Criticality Analysis (FMECA) di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Surabaya Selatan
ABSTRAKMuhammad Fahrus Shobir Al Farih. 2019. Evaluasi Gangguan Jaringan 20 kV Menggunakan Metode Failure Mode, Effects, And Criticality Analysis (FMECA) di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Surabaya Selatan. Skripsi. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Kata Kunci: Gangguan Jaringan, FMECA, Risk Priority Number Penelitian ini menyajikan evaluasi gangguan jaringan 20 kV menggunakan mode kegagalan, efek dan metode analisis kritikalitas (FMECA) di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Surabaya Selatan. Kontribusi utama dari penelitian ini dengan membuat prioritas penanganan yang tepat akan mengurangi nilai RPN (Risk Priority Number) yang mempengaruhi peningkatan keandalan sistem distribusi. FMECA mencakup beberapa parameter, level kerusakan, dan peluang deteksi/perbaikan yang digunakan untuk menentukan RPN (Risk Priority Number), dengan melakukan simulasi dan memvalidasi dengan menerapkan metode FMECA pada jaringan 20 kV menggunakan program Matlab dan Android dalam hal metode prioritas dan evaluasi gangguan jaringan 20 kV karena mempertimbangkan penanganan prioritas yang akan mengurangi nilai RPN (Risk Priority Number) dari keandalan sistem. Berdasarkan hasil akhir untuk membantu dalam meminimalkan penggunaan peralatan pemeliharaan dan frekuensi gangguan untuk mendapatkan data dari sistem jaringan distribusi/peralatan yang digunakan sebagai bahan untuk perencanaan alternatif pemeliharaan dan perbaikan. Namun, penelitian lebih lanjut tentang kebijakan pemeliharaan prediktif yang diusulkan dapat dilakukan untuk memperluas penerapannya ke sistem industri listrik lainnya
Hubungan antara Keaktifan Kegiatan dalam Organisasi di Kampus dan Keterampilan Bekerjasama dengan Kompetensi Sosial Calon Guru pada Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro FT UM
Guru merupakan suatu profesi yang dituntut untuk memiliki standar kompetensi. Kompetensi sosial merupakan salah satu kompetensi utama dari keempat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Kompetensi sosial penting dimiliki mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro (PTE) dan S1 Pendidikan teknik Informatika (PTI) sebagai calon guru. Beberapa cara yang dapat mempengaruhi kompetensi sosial calon guru adalah keaktifan kegiatan dalam organisasi di kampus dan keterampilan bekerjasama.Penelitian ini bertujuan untuk:(1) mendeskripsikan keaktifan kegiatan dalam organisasi di kampus (X1), keterampilan bekerjasama (X2), dan kompetensi sosial calon guru (Y)(2) mengungkap signifikansi dan hubungan antara X1 dan Y(3) mengungkap signifikansi hubungan antara X2 dan Y(4) mengungkap signifikansi hubungan antara X1 dan X2 secara simultan dengan Y.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Sampel dari penelitian ini adalah mahasiswa S1 PTE dan S1 PTI FT UM yang mengikuti organisasi di kampus sejumlah 93 mahasiswa angkatan 2016. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling jenuh. Data yang diperoleh diuji dengan uji korelasi parsial dan uji hipotesis untuk mengungkapkan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat baik secara parsial maupun secara simultan. Untuk mengukur variabel X1, X2 dan Y menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Variabel X1, X2 dan Y memiliki tingkat reliabilitas secara berurutan adalah 0,859, 0,773 dan 0,818. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi parsial dan regresi ganda, analisis uji prasyarat, dan analisis sumbangan efektif-relatif menggunakan bantuan SPSS.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu(1) X1 dalam kategori cenderung tinggi, X2 dalam kategori cenderung rendah dan Y dalam kategori cukup (2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara X1 dan Y, X2 dan Y, X1 dan X2 secara simultan dengan Y. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi tingkat keaktifan kegiatan dalam organisasi di kampus dan tingkat keterampilan bekerjasama, maka kompetensi sosial akan semakin tinggi juga