SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM

SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    2357 research outputs found

    Klasifikasi Benih Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.) Berdasarkan Fitur Warna dan Tekstur Menggunakan Algoritma K-Nearest Neighbor (KNN)

    No full text
    RINGKASANFajariani, Erna. 2019. Klasifikasi Benih Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.) Berdasarkan Fitur Warna dan Tekstur Menggunakan Algoritma K-Nearest Neighbor (KNN), Skripsi Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Muladi, S.T. M.T., (II) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom.Kata Kunci: Kacang Tanah, Benih, Pengolahan Citra,  Fitur, K -Nearest Neighbor (KNN).Kacang tanah (Arachis Hypogaea L.) termasuk salah satu kelompok tanaman jenis polong yang ditanam di Indonesia sebagai komoditas pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Setiap tahun kebutuhan kacang tanah semakin meningkat. Tetapi karena adanya beberapa faktor kacang tanah mengalami penurunan produksi. Penurunan tersebut salah satunya dikarenakan penggunaan mutu benih yang rendah. Benih yang baik akan menghasilkan produksi tinggi dan sebaliknya benih buruk akan menghasilkan produksi rendah. Sehingga untuk mengatasi permasalahan penurunan produksi perlu adanya pemilihan benih yang bermutu baik. Pemilihan benih ini dapat dilihat berdasarkan mutu fisik biji kacang tanah. Pengujian fisik biji dapat dilakukan dengan pengolahan citra yang diimplementasikan pada sistem informasi berbasis dekstop. Warna dan tekstur merupakan fitur yang dapat diproses citranya untuk mengklasifikasikan biji kacang tanah. Warna merupakan fitur yang dimiliki setiap citra dengan nilai yang berbeda. Gray Level Co-occurance Matrix (GLCM) adalah metode untuk ekstraksi tekstur berupa suatu matrik yang menggambarkan frekuensi munculnya pasangan dua piksel dengan  intensitas jarak d dan arah sudut tertentu dalam suatu citra. Penelitian ini menggunakan fitur warna (RGB) dan fitur tekstur yang terdiri dari kontras, homogenitas, energi dengan menggunakan metode GLCM. Fitur-fitur tersebut diproses dengan algoritma K-Neareset Neighbor (KNN) untuk klasifikasi kelayakan benih kacang tanah. Sistem akan melakukan ekstraksi fitur-fitur dari citra yang dimasukkan, sehingga akan diperoleh hasil klasifikasi benih. Klasifikasi yang dilakukan akan dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas benih baik, benih keriput dan benih rusak. Pengujian pertama dilakukan pada data latih menggunakan metode holdout validation dengan 5 pemodelan pembagian data latih. Pengujian kedua dilakukan pada klasifikasi sistem terhadap nilai k 1, 3, 5, 7 dan 9 dengan menghitung akurasi klasifikasi benar pada klasifikasi oleh sistem dengan klasifikasi manual. Hasil yang diperoleh penelitian ini yaitu pada pengujian data latih semakin banyak jumlah data latih akan menghasilkan akurasi yang tinggi, dikarenakan sistem akan melakukan pembelajaran lebih banyak. Akurasi tertinggi pada pemodelan pembagian 90% data latih dan 10% data uji. Pada pengujian klasifikasi sistem akurasi tertinggi 83% dengan nilai k=5, sedangkan yang terendah akurasinya 67% dengan nilai k=1. Sehingga dari penelitian penerapan pengolahan citra dengan algoritma KNN ini mampu melakukan klasifikasi benih kacang tanah dengan baik

    Hubunganantara Locus Of Control Internal danPemahamanTerhadapKarirdenganKemandirianMenentukanKarirpadaSiswa SMKNegeriKelas XJurusanTeknikElektronikaIndustri se- KabupatenPasuruan.

    No full text
    ABSTRAK Firdaus, Diky Setiawan. 2017. Hubungan antara Locus Of Control Internal dan Pemahaman Terhadap Karir dengan Kemandirian Menentukan Karir pada Siswa SMK Negeri Kelas X Jurusan Teknik Elektronika Industri se- Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Elektro. FakultasTeknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing(I) Dr.Setiadi C.P, M. Pd., MT, (II) YuniRahmawati, S.T., M.T. Kata kunci :Locus Of Control Internal, Pemahaman Karir, Kemandirian Menentukan Karir. Siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ketika mencari pekerjaan belum sesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki karena kurangnya pemahaman karier yang di dapatkan di sekolah serta belum terbentuknya keyakinan dalam diri siswa untuk meraih kesuksesan di bidang dan bakat yang di miliki keyakinan ini di sebut locus of control internal. Tujuan penelitian ini untuk: (1) Mengetahui seberapa tinggi locus of control internal , (2) Mengetahui seberapa tinggi tingkat pemahaman terhadap karier, (3) Mengetahui seberapa tinggi tingkat kemandirian dalam menentukan karier, (4) Mengetahui signifikansi hubungan antara (X1) dengan (Y) pada jurusan TEI, (5) Mengetahui signifikansi hubungan antara (X2) dengan (Y) pada jurusan TEI, dan (6) Mengetahui signifikansi hubungan secara simultan antara (X1) dan (X2) dengan (Y) pada jurusan TEI di SMK se- Kabupaten Pasuruan. Penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional menggunakan jenis Ex Post Facto. Responden penelitian siswa SMKkelas X Jurusan TEI di Kabupaten Pasuruan. Pengumpulan data masing-masing variabel menggunakan kuesioner. Nilai reliabilitas kuesioner variabel X1 sebesar 0,716, variabel X2 sebesar 0,722, dan varibel Y sebesar 0,710. Untuk mengungkap hubungan X1 dengan Y dan hubungan X2 dengan Y menggunakan analisis korelasi parsial. Sedangkan untuk mengungkap hubungan X1 dan X2 secara simultan dengan Y menggunakan analisis regresi linear ganda. Hasil penelitian: (1) Y dikategorikan mandiri sebesar 56,69%; (2) X1 dikategorikan tinggi sebesar 76,38%; (3) X2 dikategorikan paham sebesar 88,19%; (4) ada hubungan positif dan signifikan antara X1 dengan Y; (5) ada hubungan positif dan signifikan antara X2 dengan Y; (6) ada hubungan positif dan signifikan antara X1 dan X2 secara simultan dengan Y. Sumbangan relatif  X1 sebesar 36,34% dan sumbangan relatif X2 sebesar 63,34%. Sedangkan sumbangan efektif X1 sebesar 10,17% dan sumbangan efektif X2 sebesar 17,82%. Kesimpulan penelitian adalah: (1) ada hubungan positif dan signifikan antara X1 dengan Y; (2) ada hubungan positif dan signifikan antara X2 dengan Y; (3) ada hubungan positif dan signifikan antara X1 dan X2 secara simultan dengan Y

    Hubungan Self Actualization dan Adaptability Capability Terhadap Kemandirian dalam Memutuskan Kerja Siswa Kelas XII Kompetensi Keahlian TKJ SMK Negeri di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAKIrfina Unaiyahroya, Ismi. 2018. Hubungan Self Actualization dan Adaptability Capability Terhadap Kemandirian dalam Memutuskan Kerja Siswa Kelas XII Kompetensi Keahlian TKJ SMK Negeri di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Wahyu Sakti., G.I., M.Kom., Pembimbing (II) Triyanna Widiyaningtyas., S.T., M.T.Kata kunci: Self Actualization, Adaptability Capability, Kemandirian dalam memutuskan kerja.Kemandirian merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap individu. Individu dikatakan mandiri apabila ia dapat melakukan aktivitas dan kegiatan secara mandiri tanpa perlu bergantung pada orang lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian salah satunya adalah kemampuan individu dalam mengenali potensi diri atau biasa disebut aktualisasi diri. Selain itu, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah adaptability capability (kemampuan adaptasi) terhadap dunia kerja merupakan suatu kemampuan yang dimiliki siswa SMK dalam melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan keadaan lingkungan yang ada pada dunia kerja. Oleh karena itu, perlu adanya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana kedua faktor tersebut dapat merubah siswa menjadi lebih mandiri dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui hubungan self actualization terhadap kemandirian dalam memutuskan kerja. (2) Mengetahui hubungan adaptability capability terhadap kemandirian dalam memutuskan kerja. (3) Mengetahui hubungan self actualization dan adaptability capability secara simultan terhadap kemandirian dalam memutuskan kerja siswa kelas XII Kompetensi Keahlian TKJ SMK Negeri di Kota Malang.Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional yang bersifat expost facto. Populasi dalam penelitian ini merupakan siswa kelas XII Kompetensi Keahlian TKJ SMKN 3, SMKN 4, dan SMKN 10 di Kota Malang yang berjumlah 310 orang. Sedangkan sampel penelitian berjumlah 150 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang digunakan secara acak berdasarkan strata atau tingkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) 54% siswa SMK memiliki tingkat self actualization yang tinggi dan ada hubungan yang signifikan antara self actualization dengan kemandirian dalam memutuskan kerja sebesar 4,1%. (2) sekitar 52% siswa yang diteliti memiliki adaptability capability yang tergolong sangat tinggi dan ada hubungan antara adaptability capability dengan kemandirian dalam memutuskan kerja sebesar 17,5%. (3) terdapat hubungan yang positif dan signifikan secara simultan antara self actualization dan adaptability capability terhadap kemandirian dalam memutuskan kerja sebesar 21,6%.Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan  yang positif dan signifikan pada setiap variabel untuk mempengaruhi kemandirian siswa dalam memutuskan kerja setelah lulus sekolah sehingga siswa mampu memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki. ABSTRACTIrfina Unaiyahroya, Ismi. 2018. Relationship between Self Actualization and Ability to Adapt to Independence in Deciding the Work of Class XII Students in TKJ Vocational Competency in State Vocational Schools in Malang City. Thesis, Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Malang State University. Advisor (I) Drs. Wahyu Sakti., G.I., M.Kom., Advisor (II) Triyanna Widiyaningtyas., S.T., M.T.Keywords: Self Actualization, Adaptation Ability, Independence in deciding work.Independence is an attitude that must be owned by each individual. Individuals who are approved independently can carry out independent activities and activities without needing to others. There are several factors that influence independence. One of them is the ability of individuals in their potential or commonly called self-actualization. In addition, an equally important factor is the ability of adaptation (adaptability) to the world of work is the ability possessed by vocational students in an effort to improve themselves against the environmental changes that exist in the world of work. Therefore, there is a need for research to study how these two factors can change students to be more independent in making decisions for themselves. The purpose of this study are: (1) Knowing the relationship of self-actualization to independence in deciding work. (2) Knowing the relationship of adaptive ability to independence in deciding work. (3) Knowing the relationship of self-actualization and adaptation ability simultaneously to independence in deciding the work of class XII TKJ Expertise Competencies in State Vocational Schools in Malang City.The research method used was quantitative with an expost facto descriptive correlational research design. The population in this study is class XII TKJ Expertise Competency of SMK 3, SMK 4, and Vocational High School 10 in Malang City, amounting to 310 people. While the study sample amounted to 150 people. The sampling technique uses the stratified random sampling technique, which is a sampling technique that is used randomly based on strata or levels.The results showed that, (1) 54% of vocational students had high levels of actualization and there was a significant relationship between actualization and independence in deciding work at 4.1%. (2) around 52% of students studied have very high adaptability capability and there is a relationship between adaptability capability and independence in deciding work at 17.5%. (3) there is a positive and significant relationship simultaneously between self actualization and adaptability capability to independence in deciding work at 21.6%. The conclusion of this study is that there is a positive and significant relationship on each variable to influence the independence of students in deciding work after graduating so that students are able to choose jobs that are in accordance with their interests and potential

    Sistem IoT Deteksi Dini Bencana Banjir Dengan Pemutus Aliran Listrik Otomatis Berbasis Arduino dan ESP8266

    No full text
    RINGKASAN Sandy, Dimas Kurniawan. 2019. Sistem IoT Deteksi Dini Bencana Banjir Dengan Pemutus Aliran Listrik Otomatis Berbasis Arduino dan ESP8266. Skripsi. Program Studi S1 Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Eng. Mokh. Sholihul Hadi, S.T., M.Eng., (2) Dyah Lestari, S.T.,M.Eng. Kata kunci: Arduino, IoT, ESP8266, nRF24L01, Banjir, Deteksi Banjir. Indonesia merupakan negara dengan curah hujan yang tinggi, musim penghujan dapat berlangsung selama empat bulan dalam kurun waktu satu tahun. Dengan meningkatnya pembangunan di wilayah perkotaan, menyebabkan semakin sedikitnya daerah penyerapan air. Serta kebiasaan masyarakat membuang sampah pada aliran air, juga merupakan faktor pendukung penyebab terjadinya banjir. Selain dapat menimbulkan kerugian harta benda, banjir juga dapat menimbulkan korban jiwa. Dibutuhkan sebuah sistem monitoring dan peringatan agar menghindari terjadinya korban jiwa dan meminimalisir kerugian materil yang terjadi akibat banjir. Identifikasi masalah akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan menggabungkan alat deteksi dini bencana banjir dengan mikrokontroller Arduino. Tujuan penelitian ini adalah merancang alat yang dapat mendeteksi dini bencana banjir dengan tampilan mobile application berbasis Android. Deteksi dini bencana banjir ini tersusun atas tiga bagian transmitter dan satu bagian receiver dengan menggunakan komunikasi wireless nRF24L01 dengan tiga level ketinggian air aman, siaga dan bahaya. Pada setiap bagian transmitter dipasang sensor ultrasonik yang digunakan untuk mengukur ketinggian air, dengan menggunakan tiga sensor ultrasonik maka pengukuran ketinggian air dapat dilakukan pada tiga tempat yang berbeda yaitu RT1, RT2 dan RT3 dengan cakupan wilayah yang luas. Pada bagian receiver tedapat relay yang berfungsi sebagai pemutus aliran listrik secara otomatis saat level air dalam kondisi bahaya dan ESP8266 yang digunakan untuk mengirim data ketinggian air ke cloud server Thingspeak serta menggirimkan status level ketinggian air pada twitter yang sekaligus digunakan untuk monitoring pada mobile application berbasis Android. Sistem monitoring ketinggian air ini dibuat agar dapat mudah diakses oleh masyarakat kapan saja dan dimana saja. Sistem peringatan juga dibuat agar dapat menyampaikan peringatan dengan cepat dan memiliki wilayah cakupan yang luas. Dengan menggunakan sistem ini ketinggian air dapat dipantau secara real time melalui cloud server, dan mendapatkan peringatan akan terjadinya banjir melalui status level ketinggian air pada twitter. Sehingga sistem ini dapat membantu terhindar ataupun dapat menekan kerugian yang ditimbulkan dari banjir yang terjadi. Hasil perancangan dan data yang diperoleh adalah sebuah sistem alat deteksi dini bencana banjir yang dapat dimonitoring melalui smartphone dengan bentuk grafik dan angka sekaligus mengirimkan status ketinggian air pada twitter. Dari pengujian keseluruhan yang diperoleh saat percobaan pengukuran ketinggian air serta mengirimkan data pada jarak tertentu dengan melakukan 10 kali percobaan menghasilkan nilai yang sama saat pengiriman data ketinggian air dari transmitter ke receiver dan pengiriman data dengan jarak maksimal 160-170 meter

    Pengembangan Bahan Ajar Programmed Learning Mata Pelajaran Pemrograman Dasar Bermuatan Evaluasi Berbasis Tantangan untuk Meningkatkan Logical Thinking Skill pada Siswa Kelas X Rekayasa Perangkat Lunak di SMK Negeri 1 Kepanjen Kabupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK Iriyani, Hartanti, 2019. Pengembangan Bahan Ajar Programmed Learning Mata Pelajaran Pemrograman Dasar Bermuatan Evaluasi Berbasis Tantangan untuk Meningkatkan Logical Thinking Skill pada Siswa Kelas X Rekayasa Perangkat Lunak di SMK Negeri 1 Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Wahyu Sakti G.I, M.Kom., (2) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M.Kom. Kata Kunci: Logical Thinking Skill, Bahan Ajar Programmed Learning, Evaluasi Berbasis Tantangan, Pemrograman Dasar Berdasarkan hasil wawancara, pada kelas X Rekayasa Perangkat Lunak 1 di SMK Negeri 1 Kepanjen sebanyak 25% mendapatkan nilai di bawah KKM pada mata pelajaran Pemrograman Dasar. Namun, 75% siswa yang memperoleh nilai di atas KKM belum tentu bisa dan paham dengan materi Pemrograman Dasar. Hasil belajar siswa tersebut dipengaruhi oleh bahan ajar, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, dan logical thinking skill siswa terhadap pemrograman yang rendah, sehingga siswa susah memahami materi Pemrograman Dasar yang disampaikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan dan mengembangkan bahan ajar dengan metode programmed learning bermuatan evaluasi berbasis tantangan pada mata pelajaran Pemrograman Dasar, mengetahui kelayakan bahan ajar, serta meningkatkan logical thinking skill siswa terhadap pemrograman. Model pengembangan yang digunakan dalam mengembangkan bahan ajar ini adalah model pengembangan ADDIE. Terdapat 5 tahapan pada model ADDIE yaitu: (1) Analysis; (2) Design; (3) Development; (4) Implementation; (5) Evaluation. Teknik pengumpulan data mengunakan angket, soal pretest, dan soal post test. Validasi dan kelayakan produk dilakukan dengan menggunakan angket oleh ahli media, ahli materi, pengguna bahan ajar yang terdiri dari uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba kelompok besar. Peningkatan logical thinking skill dilakukan menggunakan soal pretest dan angket respon siswa sebelum menggunakan bahan ajar, serta soal post test dan angket respon siswa setelah menggunakan bahan ajar yang diuji dengan uji T. Hasil validasi oleh ahli media memperoleh persentase sebesar 87,5%, ahli materi memperoleh persentase sebesar 86%, uji coba perorangan memperoleh persentase sebesar 85,20%, uji coba kelompok kecil memperoleh persentase sebesar 86,01%, dan uji coba kelompok besar memperoleh persentase sebesar 88,13% yang dapat dinyatakan sangat layak. Pengukuran logical thinking skill berdasarkan nilai pretest mendapatkan nilai rata-rata sebesar 66,8 dan hasil respon siswa sebelum menggunakan bahan ajar memperoleh persentase sebesar 62,33%, sedangkan berdasarkan nilai post test mendapatkan nilai rata-rata sebesar 80,93 dan hasil respon siswa setelah menggunakan bahan ajar memperoleh persentase sebesar 81,56%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar programmed learning mata pelajaran Pemrograman Dasar bermuatan evaluasi berbasis tantangan dapat meningkatkan logical thinking skill siswa terhadap pemrograman

    Sistem Sortir Buah Apel Manalagi Berbasis Image Processing Berdasarkan Warna dan Ukuran Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan

    No full text
    ABSTRAKPrasetyo, Dedy Tri. 2019. Sistem Sortir Buah Apel Manalagi Berbasis Image Processing Berdasarkan Warna dan Ukuran Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan . Skripsi Prodi S1 Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muladi, S. T., M. T. (II) Dyah Lestari, S. T., M. Eng.Kata Kunci : Buah Apel, Konveyor, Image Processing, Jaringan Syaraf TiruanPerkembangan teknologi saat ini yang pesat dan kemajuan sistem otomasi industri yang semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari manusia, terutama dalam dunia industri yang mengutamakan sistem kontrol otomatis yang dapat dikendalikan maupun dimonitoring baik jarak dekat maupun jarak jauh. Dengan perkembangan teknologi ini dapat membantu efisiensi proses produksi pada industri dan juga dapat menekan biaya produksi. Sistem otomasi industri banyak diaplikasikan pada industri karena pemakaiannya yang efektif dan praktis. Salah satu alatnya berupa konveyor, konveyor sangat banyak digunakan pada industri karena praktis digunakan sebagai penyortir sebuah benda pada industri. Umumnya , sortir buah di Indonesia khususnya bagi para petani masih dilakukan secara manual, dan standart mutu yang digunakan tidak sama sehingga akan membedakan tingkat kualitas standarisasi buah yang berbeda-beda. Satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomis buah terutama untuk pasar ekspor, maka perlu penanganan pascapanen yang baik dalam tahap penyortiran sehingga antara buah dengan kualitas besar, sedang, kecil dan busuk dapat terpilah dengan baik.Sistem sortir buah apel berbasis image processing merupakan alat bantu untuk mempermudah proses penyortiran (pengelompokan) buah apel yang berkerja secara otomatis. Dalam proses perencanaan pembuatan alat ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu : (1) Proses perancangan dan perencanaan alat, (2) Pembuatan alat, (3) Hasil pengujian alat. Alat penyortir dikembangkan menggunakan mikrokontroler Arduino Uno Atmega328P sebagai pemroses sebuah input/output, konveyor berfungsi sebagai penyortir buah apel, kamera berfungsi sebagai pendeteksi ukuran buah apel tergolong besar, sedang, kecil dan busuk berdasarkan diameter pixel buah. Motor servo metal gear digunakan untuk menggerakkan palang pintu yang digunakan sebagai pemisah buah apel yang telah disortir berdasarkan diameter buah. Dari hasil pengujian, sistem sortir yang dikembangkan dapat mengklasifikasi buah apel layak konsumsi dan tidak layak konsumsi. Dari 20 buah sampel uji hanya terdapat 2 buah yang tidak sesuai dengan target. Sehingga akurasi sistem sortir yang dikembangkan dengan jaringan syaraf tiruan diperoleh sebesar 90%. Dapat disimpulkan bahwa sistem sortir dengan menggunakan image processing berdasarkan jaringan syaraf tiruan memiliki akurasi yang sangat baik

    Perbedaan Keaktifan Dan Hasil Belajar Dasar Desain Grafis Melalui Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Dibandingkan Dengan Penerapan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) Berbantuan Modul Digital Pada Kelas X Multim

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS , (2) mendeskripsikan hasil beajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD, (3) mendeskripsikan keaktifan belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS, (4) mendeskripsikan keaktifan belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD, (5) mengetahui signifikansi perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS dan STAD, (6) mengetahui signifikansi perbedaan keaktifan belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran TSTS dan STAD. Metode penelitin inimenggunakan Quasi Experiment dengan pretest danposttest. Kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kelas A yang menerapkan model TSTS dan Kelas B yang menerapkan model STAD. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi keaktifan, lembar observasi keterampilan, dan soal pretest dan posttest yang berupa multiple choice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar ranah pengetahuan dengan nilai signifikansi Sig. (2-tailed) = 0,416 dan keterampilan Sig. (2-tailed) = 0,530 karena model pembelajaran TSTS dan STAD sama-sama dapat meningkatkan hasil belajar. Namun terdapat perbedaan yang signifikan pada keaktifan belajar siswa dengan nilai signifikansi Sig. (2-tailed) = 0,000.Secara keseluruhan pada aspek hasil belajar ranah pengetahuan, keterampilan dan keaktifan belajar siswa bahwa Kelas A yang menerapkan model TSTS memiliki rata-rata nilai lebih tinggi daripada Kelas B yang menerapkan model STAD karena model pembelajaran TSTS memiliki tahapan pembelajaran yang lebih aktif

    PERBEDAAN HASIL BELAJAR DASAR DAN PENGUKURAN LISTRIK KARENA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E BERBANTUAN VIDEO TUTORIAL DIBANDINGKAN LEARNING CYCLE 5E BERBANTUAN SIMULASI

    No full text
    ABSTRAKChuriyah, Indah. 2019. PerbedaanHasilBelajarDasardanPengukuranListrikkarenaPengaruhPenerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E Berbantuan Video Tutorial Dibandingkan Learning Cycle 5E BerbantuanSimulasipadaSiswaKelas X TeknikPembangkitTenagaListrikSMK PGRI 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T., pembimbing (II) Drs. SlametWibawanto, M.T.Kata Kunci:Learning cycle 5e, video tutorial, simulasi, HasilBelajarDasardanPengukuranListrikPerkembangan IPTEK saat ini telah berkembang begitu pesat, salah satunya dalam bidang pendidikan. Perkembangan tersebut mempengaruhi kemajuan teknologi pendidikan yang ditandai dengan perkembangan media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Penggunaan media sangat penting dilakukan untuk memvisuali­sasikan carakerjaadan proses darisebuahalatukur, salahsatunyaadalahpengukuranteganganaruslistrikbolak-balikmenggunakanosiloscop.PenelitianinibertujuanuntukmengetahuiperbedaanhasilbelajarDasardanPengukuranListrikaspekpengetahuandanketerampilankarenapengaruhpenerapan model Learning Cycle 5e berbantuan video tutorial dibandingkan Learning Cycle 5e berbantuansimulasi.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan rancangan quasi eksperimental (eksperimen semu) dengan jenisnon-equivalent group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X PBD sebagai kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran learning cycle 5e berbantuan video tutorial dan siswa kelas X PBB sebagai kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran learning cycle 5e berbantuanSimulasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Terdapat perbedaan hasil belajar DasardanPengukuranListrikaspekpengetahuankarenapengaruhpenerapan model pembelajaran Learning Cycle 5e berbantuanvideo tutorial padakelaskontroldibandingkan Learning Cycle 5e berbantuansimulasipadakelaseksperimen. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen 2 yaitu sebesar 84.8, lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen 1 yaitu sebesar 79.09. 3) Terdapat perbedaan hasil belajar aspek keterampilan, kelas eksperimen 2 memiliki rata-rata nilai keterampilan sebesar 87.48, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nilai keterampilan siswa kelas ekperimen 1, yakni sebesar 82.02.Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa: (1) hasil belajar aspek pengetahuan pada kelas eksperimen 2 lebih tinggi daripada hasil belajar kelas eksperimen 1; (2) hasil belajar aspek keterampilan pada kelas ekperimen 2 lebih tinggi daripada kelas eksperimen 1; (3) terdapat perbedaan signifikan pada hasil belajar aspek pengetahuan kelas ekperimen 2 karena perlakuan model Learning Cycle 5e berbantuan video tutorial dibandingkan kelas eksperimen 1 karena perlakuan Learning Cycle 5e berbantuan simulasi; dan (4)terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar aspek keterampilan pada kelas eksperimen 2 karena perlakuan model Learning Cycle 5e berbantuan video tutorial dibandingkan kelas eksperimen 1 karena perlakuan Learning Cycle5e berbantuan simulasi

    Pengembangan Modul Cetak Dengan Mengintegrasikan Metode Drill and Practice Untuk Suplemen Pembelajaran Materi Sistem Komputer Pada Siswa Kelas X Program Keahlian RPL SMK Turen

    No full text
     ABSTRAK Ardent, Adysta Abitama. 2019. Pengembangan Modul Cetak Dengan Mengintegrasikan Metode Drill and Practice Untuk Suplemen Pembelajaran Materi Sistem Komputer Pada Siswa Kelas X Program Keahlian RPL SMK Turen. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T., (II) Dr. Ir. H. Syaad Patmantara, M. Pd. Kata kunci: Modul cetak, Sistem Komputer, Drill and Practice, SMK. Saat ini pada program keahlian RPL di SMK ada beberapa mata pelajaran produktif salah satunya adalah Sistem Komputer (SK). SK merupakan mata pelajaran yang mengenalkan siswa mulai dari pengenalan logika dalam suatu komputer serta arsitektur dan cara kerja komputer. Mata pelajaran ini adalah salah satu mata pelajaran produktif dasar yang harus dikuasi siswa SMK jurusan RPL kelas X sebelum melanjutkan ke mata pelajaran produktif yang mana tingkat kesulitannya lebih tinggi. Namun, hasil wawancara dengan siswa X RPL SMK Turen mengatakan bahwa mereka kesulitan dalam mengingat materi Sistem Komputer dibandingkan dengan mata pelajaran produktif lainnya karena kurangnya bahan untuk belajar baik mandiri atau berkelompok. Karena kesulitan dalam proses belajar maka hal tersebut akan secara langsung berpengaruh kepada nilai hasil belajar siswa. Hal ini telah dibuktikan dengan hasil ulangan siswa X RPL SMK Turen yang mana sebanyak 80% tidak mencapai KKM dalam mata pelajaran Sistem Komputer. Pada pengembangan modul cetak Sistem Komputer ini, peneliti menggunakan model pengembangan Dick and Carey (2001). Prosedur penelitian pengembangan ini terbagi mejadi 4 tahap, yaitu (1) tahap analisis kebutuhan; (2) tahap pengembangan; (3) tahap uji formatif; dan (4) tahap uji sumatif. Subjek ujicoba bahan ajar adalah siswa SMK Kelas X Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak di SMK Turen. Hasil penelitian yang telah dilakukan kepada ahli dan uji coba siswa. Dari ahli media didapatkan nilai rata-rata 87,33% , sedangkan untuk ahli materi didapatkan nilai rata-rata 90,95%. Uji coba skala kecil diambil dari 7 siswa yang diambil secara acak, didapatka nilai rata-rata 91,98%, kemudian dalam uji coba skala besar atau pemakaian dari 27 siswa didapatkan nilai rata-rata 92,04%. Secara keseluruhan bahan ajar ini dikatakan valid dan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran kelas X RPL Semester Ganjil di SMK Turen. Kesimpulan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) produk berupda modul cetak Sistem Komputer untuk kelas X Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) pada semester ganjil; (2) modul cetak yang dikembangkan telah memiliki karakteristik Self Instruction; (3) modul cetak memiliki karakteristik Stand Alone yang tidak tergantung dari bahan ajar/ media lain, dan memenuhi kaidah User Friendly; dan (4) Telah dilakukan uji kelayakan pada ahli media, ahli materi, skala kecil dan skala besar, serta didapatan keseluruhan bahan ajar ini dikatakan valid dan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran kelas X RPL Semester Ganjil di SMK Turen.

    PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATA PELAJARAN PIRANTI SENSOR AKTUATOR DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DAN PROBING PROMPTING PADA SISWA KELAS XI TEKNIK OTOMASI INDUSTRI SMK NEGERI 1 SINGOSARI

    No full text
    ABSTRAK Maulidya, Balqish Syafira. 2019.  Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Mata Pelajaran Piranti Sensor Aktuator dengan Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing dan Probing Prompting pada Siswa Kelas XI Teknik Otomasi Industri SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi. S1 Pendidikan Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Yuni Rahmawati, S.T., M.T. (2) Ilham Ari Elbaith Zaeni, S.T., M.T., Ph.D. Kata Kunci : Kemampuan pemecahan masalah, model pembelajaran, model pembelajaran Problem Posing, model pembelajaran Probing Prompting, Piranti Sensor Aktuator Kemampuan memecahkan masalah bagi siswa merupakan indikator yang sangat penting dalam pembelajaran ranah kognitif. Terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi hal tersebut, termasuk beberapa diantaranya adalah jenis model pembelajaran dan pendekatan yang dilakukan oleh guru. Model pembelajaran dapat dikatakan tepat apabila mampu memberikan pengaruh terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Melalui model pembelajaran Problem Posing dan Probing Prompting, siswa dituntut untuk menarik kesimpulan sendiri dari alternatif solusi yang telah dibuat berdasarkan pengetahuan awal dan situasi baru yang diberikan oleh guru. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen kuantitatif dengan tipe quasi experiment dan non equivalent group design menggunakan pretest posttest. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI TOI 1 yang berjumlah 35 orang sebagai kelompok eksperimen 1 yang diberi perlakuan model Problem Posing dan XI TOI 2 yang berjumlah 34 orang sebagai kelompok eksperimen 2 dengan perlakuan model Probing Prompting. Hasil uji t menunjukkan bahwa signifikansi nilai posttest antara kedua kelas sebesar 0.001 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0.05 yang artinya terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada siswa yang diberi perlakuan dengan model Problem Posing dibandingkan model Probing Prompting. Hasil ini ditunjukkan dari beberapa aspek penilaian yaitu tes kemampuan pemecahan masalah dan lembar observasi dengan pertimbangan; (1) terdapat perbedaan nilai rata-rata posttest pada kedua kelas; (2) data terdistribusi normal dan homogen; dan (3) signifikansi uji linearitas menunjukkan bahwa data hasil tes dan penilaian lembar observasi bersifat linear. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat kemampuan pemecahan masalah pada siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran Problem Posing dibandingkan siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran Probing Prompting memiliki perbedaan dengan signifikansi sebesar 0.001. Sedangkan, saran yang dianjurkan dalam penelitian selanjutnya adalah kedua model pembelajaran tersebut dapat digunakan sebagai model alternatif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa.   ABSTRACT Maulidya, Balqish Syafira. 2019. The Difference of Problem Solving Ability in Sensor and Actuator Subjects through the Implementations of Problem Posing compared to Probing Prompting Learning Models for XI Grades Students of Industrial Automatic Engineering at 1 Public Vocational High School Singosari. Thesis. S1 Electrical Engineering Education. Electrical Engineering Department. Faculty of Engineering. State University of Malang. Supervisors (1) Dr. Yuni Rahmawati, S.T., M.T. (2) Ilham Ari Elbaith Zaeni, S.T., M.T., Ph.D. Keyword: Problem-solving ability, learning models, Problem Posing, Probing Prompting, Sensor and Actuator Problem-solving ability for students is one of an important indicator at cognitive aspects of learning. There are multiple factors bassically can affects this thing, including some types of learning models and approaches made by teachers. Learning models can be described as an precise thing when it’d give any influences for learning activity. Through the Problem Posing and Probing Prompting learning models, students are required to create their own settlement from the alternatives data that have been made based on their initial knowledge and the new situation given by the teacher. The research framework is using quantitative experimental research with quasi experiments-type and pretests-posttest design. Research subjects belong to XI TOI 1 Class with an amount of 35 students as first experiment group subject with Problem Posing learning models and XI TOI 2 which amounted to 34 students as second experiment group subject with Probing Prompting learning models. The result of t-test showed that the significance of the posttest value between the two classes is 0.001 where the value is less than 0.05 which means that there is a difference in problem-solving ability for students who are given treatment with Problem Posing learning models compared to Probing Prompting models. These results are shown from several aspects of assessment comprise with a problem-solving ability’s test and some observation sheets based on several following consideration; (1) there is a difference in the average grades of posttest in both classes; (2) the output provides a normal and homogeneous distributed data; and (3) the significance of linearity test indicates that the posttest data and the assessment of observation sheet are linear. The conclusion of this study is that the level of problem-solving ability in students who are given the treatment of Problem Posing learning model compared to students who are given Probing Prompting learning models have differences with significance value of 0.001. Meanwhile, the main suggestions for the subsequent studies are that these two learning models can be used as alternative models to enhance student problem-solving ability

    0

    full texts

    2,357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇