JOURNAL TEKNIK SIPIL DAN INFRASTRUKTUR
Not a member yet
82 research outputs found
Sort by
ANALISIS BAHAN BANGUNAN PADA DAERAH RAWAN GEMPA DAN TSUNAMI DI PESISIR PANTAI TELUK PALU
This article points out building materials used in public dwellings in Teluk Palu shore. Based on materials used, types of buildings in Teluk Palu sea shore are devided into three: buildings made from bricks, concrete blocks, and timbers. The bricks and concrete blocks used are according the quality standards. The timbers are also commonly used, those are the second class/good quality. However, the timbers are not treated properly (not being preserved before used). Principles of building methods is revealed here. Keywords: building materials, conditions of houses, principles of earthquake and and tsunami resistant house
KAJIAN KINERJA SHORT-CUT SUNGAI MADIUN DALAM PENURUNAN PROFIL MUKA AIR BANJIR
Sungai Madiun terletak di Provinsi Jawa Timur. Bagian hulu dimulai dari Kabupaten Ponorogo dan bagian hilir di Kabupaten Ngawi, bermuara di Sungai Bengawan Solo. Sungai Madiun memiliki panjang kurang lebih 72 km dengan konfigurasi alur berkelok-kelok, dimana memiliki luas DAS 2294 km2. Sebelum tahun 1990, di Sungai Madiun secara teratur terjadi banjir yang menyebabkan genangan di sekitar Kota Madiun. Oleh karena itu, dirasa sangat penting upaya pengendalian berupa pembangunan tanggul dan pelurusan alur (short-cut), dll. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkirakan pengaruh pelurusan alur terhadap penurunan muka air banjir dengan melakukan simulasi menggunakan Program HEC-RAS. Dengan melakukan beberapam kali simulasi pada beberapa kondisi, dapat diketahui kinerja pelurusan alur terhadap penurunan muka air banjir. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pelurusan alur Sungai Madiun dapat menurunkan muka air banjir dengan kisaran 12.91 % sampai 22.33 % untuk beberapa kala ulang banjir. Kata Kunci : aliran, pelurusan alur, penurunan muka ai
ANALISIS JARINGAN AIR BERSIH PDAM KOTA LUWUK
Sampai saat ini, PDAM Kota Luwuk belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih Kota Luwuk. Sebagaimana diketahui bahwa terdapat beberapa wilayah yang memiliki tekanan rendah bahkan negatif. Wilayah yang tidak terjangkau, pada dasarnya dapat dilayani dengan menempatkan reservoir pada suatu titik elevasi tertentu sehingga air dapat mengalir secara gravitasi. Hal ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan PDAM Kota Luwuk akibat faktor tersebut dan kurangnya perencanaan yang baik terhadap jaringan dsitribusi air bersih terbangun. Studi ini merupakan analisis teknik jaringan air bersih PDAM Kota Luwuk. Tekanan di setiap titik pada jaringan air bersih dengan pola operasi yang bervariasi dismulasikan menggunakan Perangkat Lunak WaterNet. Berdasarkan hasil simulasi, diperoleh pedoman operasi dan pemeliharaan yang efisien. Selanjutnya dapat ditetapkan dapat dioptomasi harga air yang sesuai terhadap biaya OP yang dikeluarkan oleh PDAM. Setelah dilakukan kalibrasi berdasarkan tekanan relatif, hasil simulasi menunjukkan kesesuaian dengan wilayah yang tidak terlayani akibat memiliki tekanan negatif pada jaringan terbangun. Berdasarkan simulasi tersebut juga dapat ditetapkan harga air yang dapat memberikan pendapatan rata-rata bulanan PDAM Kota Luwuk sebesar Rp 380.000.000,00, dimana terjadi pebingkatan dari kondisi sebelumnya sebesar Rp 250.000.000,00.Kata Kunci : jaringan air bersih, simulasi, harga ai
PEMODELAN ESTIMASI BIAYA KONTINGENSI BERBASIS RESIKO PADA PROYEK ENGINEERING-PROCUREMENT-CONSTRUCTION
EPC (Engineering-Procurement-Construction) Project is a project in which the process of design, procurement and construction are carried out by a construction company. The complexity of EPC project resulted in many uncertainties that must be addressed by the project implementers. To anticipate the risk of cost overruns due to the uncertainty, project implementers need to prepare the unexpected costs. Currently, implementation of contingency estimation is done by directly increasing project costs by 5% -10%; while in theory, the amount of the contingency cost is estimated using Montecarlo simulation techniques. This simulation techniques, despite widely used, still has the disadvantage. Risks are assumed by providing lower and upper limit values of the cost of the risks that might occur in the project activity. In fact, every activity has different risk and different weights of impact. The objective of this research is to create a contingency-based cost estimation model by considering the types of risk and its impact on project activity. Project Risks were obtained from preliminary surveys and literature studies. Probability weights were analyzed using probability-Impact matrix and pair-wise comparison. Contingency cost calculation was done using Montecarlo simulations. For the purpose of model validation, procurement & Gas Piping Distribution project in Greater Jakarta was used as case study. The results of case study simulation showed that the contingency cost is 4.57% of the project budget, with a deviation of 0.82%. The accuracy test of the model against the actual cost of the project showed 0.63% difference to the simulation results. Therefore the proposed model is proved has good accuracy. Keywords: risk analysis, contingency cost, Montecarlo Simulation, EPC Projec
PEMANFAATAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT HALUS PADA CAMPURAN BETON
Kebutuhan bahan bangunan makin meningkat seiring dengan meningkatnya laju pembangunan fisik. Akhir-akhir ini pelaksanaan pembangunan semakin membutuhkan biaya yang sangat tinggi akibat kenaikan harga dan berkurangnya bahan baku. Sehubungan dengan hal itu perlu diusahakan adanya bahan alternatif yang memiliki sifat-sifat yang serupa dengan material pembuat beton. Salah satu material yang memiliki sifat dan bentuk yang serupa dengan material pembuat beton adalah abu dasar (bottom ash), material ini serupa dengan agregat halus (pasir). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bottom ash terhadap kuat tekan beton. Penentuan komposisi campuran berdasarkan SK SNI T-15-1990-03. Penelitian ini memvariasikan bahan tambah abu dasar antara 10 %, 20 %, 30 % dan 40 % sebagai pengganti sebagian agregat halus.Hasil pengujian di laboratorium untuk hasil uji kuat tekan tertinggi untuk 28 hari kuat tekan yang tertinggi dihasilkan oleh variasi 30 % dengan nilai sebesar 20,756 MPa. Dalam penelitian ini, diperoleh berat isi rata-rata untuk variasi 0 %, 10 %, 20%, 30 % dan 40 % sebesar 2,405 gr/cm3, 2,381 gr/cm3, 2,365 gr/cm3, 2,375 gr/cm3, 2,362 gr/cm3, hal ini disebabkan karena abu dasar memiliki berat jenis yang lebih rendah dibandingkan berat jenis agregat halus. Nilai slump terbesar sebesar 100 mm untuk variasi 0 % dan 20 % sedangkan untuk variasi 10 %, 30 % dan 40 % sebesar 90 mm, ini berarti variasi dari abu dasar tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai slum
MANAJEMEN PENGGUNAAN MATERIAL PADA PEKERJAAN TANGGUL SUNGAI PONDO-POBOYA
Dalam pembangunan sebuah proyek konstruksi, penggunaan material merupakan bagian yang sangat penting pada pelaksanaannya, karena menunjang kelancaran seluruh aktifitas pelaksanaan pekerjaan. Apabila penggunaan material tidak dapat memenuhi kebutuhan proyek konstruksi, maka berpengaruh pada jadwal penyelesaian pekerjaan serta akan terjadi pembengkakan biaya total proyek. Untuk itu tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui manajemen dan alokasi penggunaan material pada tanggul Sungai Pondo–Poboya.Proses pengumpulan data yang dilakukan yaitu data primer melalui survey langsung di lapangan dan wawancara meliputi manajemen penggunaan material, terhadap tahap pelaksanaan pekerjaan pembangunan pada setiap item pekerjaan. Data sekunder diperoleh kontraktor pelaksana mengenai spesifikasi teknis pekerjaan, jadwal pekerjaan, daftar kuantitas dan harga, analisa harga satuan serta gambar detail pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen dan alokasi total penggunaan material pada Sungai Pondo–Poboya sesuai dengan kebutuhan persegmen pekerjaan Kemudian kontraktor melakukan stok material pada awal maret dan selanjutnya distok sesuai dengan kebutuhan persegmen selama bulan berjala
PERENCANAAN KONSTRUKSI TURAP SEBAGAI PENGGANTI DINDING PENAHAN (STUDI KASUS JALAN LINGKAR DONGGALA)
Jalan Lingkar Donggala menggunakan dinding penahan yang berbentuk silinder atau biasa disebut sumuran. Proses pemasangan atau pelaksanaan pondasi sumuran umumnya dalam kondisi kering, namun lokasi jalan lingkar berada di daerah pantai. Kondisi ini akan menghambat proses pelaksanaan atau pemasangan pondasi sumuran, karena adanya pengaruh air laut dan proses pasang surut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui desain turap yang akan digunakan meliputi dimensi turap, kedalamam pemancangan, dan jenis turap yang akan digunakan.Hasil perhitungan dari perencanaan konstruksi turap dengan dua kondisi permukaan air laut. Pada saat muka air normal didapatkan kedalaman pemancangan Daktual = 3,001 m dengan tipe turap PS-28. Kondisi pada saat air surut didapatkan kedalaman pemancangan Daktual = 3,393 m dengan tipe turap PS-28. Berdasarkan hasil perhitungan kedalaman pemancangan dari kedua kondisi tersebut, maka yang sebaiknya dilaksanakan adalah kedalaman pemancangan pada kondisi air surut yaitu Daktual = 3,393 m dan tipe turap adalah PS-2
PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL (STUDI KASUS JALAN LINGKAR DONGGALA)
Pembangunan jalan di atas tanah hasil reklamasi laut umumnya menghadapi masalah, diantaranya adalah tanah timbunan yang rawan mengalami penurunan akibat kondisi pasang-surut air laut. Tanpa adanya konstruksi penahan tanah, maka material timbunan akan mengalami penurunan karena terbawa oleh pasang-surut air laut sehingga lambat laun akan terjadi differential settlement (beda penurunan) yang menyebabkan perkerasan jalan akan lebih cepat rusak dari umur rencananya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menanggulangi masalah penurunan tanah timbunan akibat kondisi pasang-surut air laut menggunakan konstruksi dinding tanah bertulang dengan perkuatan geotekstil. Hasil analisis stabilitas dari hubungan variasi jarak vertikal (Sv) terhadap timbunan setempat didapatkan semakin kecil nilai Sv maka jumlah tulangan yang dibutuhkan menjadi lebih banyak, akan tetapi nilai faktor aman terhadap cabut tulangan dan putus tulangan menjadi lebih besar. Diperoleh bahwa semakin baik nilai sudut gesek dari tanah timbunan, maka semakin kecil nilai panjang geotekstil yang dibutuhkan serta semakin tinggi nilai stabilitas dalamnya. Hasil analisis diperoleh berdasarkan ketinggian tanah timbunan di lapangan sebesar 6 m, digunakan jarak spasi (Sv) antar tulangan yang sama sebesar 0,8 m, dan panjang geotekstil yaitu 13,5 m untuk timbunan setempat, 12 m untuk timbunan Sungai Palu dan 9 m untuk timbunan Sungai Palupi. Dengan faktor aman untuk stabilitas luar terdiri dari Fgs=1,5, Fgl=2,0 dan Fqu>2,0. Serta faktor aman untuk stabilitas dalam terdiri dari Fr>1,2 dan Fp>1,
NORMALISASI SUNGAI LARIANG BERDASARKAN ASPEK GUNA LAHAN
Normalisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kerusakan yang ada di Sungai Lariang. Penelitian ini dimulai dengan melakukan survey untuk menentukan lokasi yang akan di normalisasi dengan melihat tingkat kerusakannya. Besarnya debit banjir rancangan dihitung dengan Metode Haspers. Nilai tersebut akan menjadi dasar perencanaan pekerjaan Normalisasi Sungai Lariang. Dari lima lokasi yang di tentukan, dua lokasi di normalisasi dengan pembuatan tanggul, lokasi ketiga dengan pembuatan krib, sedangkan lokasi yang keempat dan ke lima dengan metoda renaturalisasi yaitu penanaman kembali tebing dengan tanaman yang tahan erosi. Kata Kunci : tanggul, krib, normalisasi, naturalisas
PERENCANAAN WAKTU SINYAL PADA PERSIMPANGAN JALAN TOMBOLOTUTU, JALAN HANG TUAH DAN JALAN SUPRAPTO DI KOTA PALU
Perkembangan volume lalu lintas di kota Palu dalam beberapa tahun terakhir ini cenderung mengalami peningkatan yang berarti. Meningkatnya volume lalu lintas sering tidak diiringi dengan peningkatan prasarana menyebabkan ketidakseimbangan antara supplydan demand akan berdampak pada kemacetan, kecelakan lalu lintas dan meningkatnya waktu tempuh kendaraan.Tujuan penelitian ini adalah untuk merencanakan waktu sinyal dengan sistem 2 fase berdasarkan pada kondisi arus lalu lintas pada jam puncak di simpang tersebut.Metode perhitungan sinyal digunakan pendekatan MKJI dan Webster. Dari hasil analisis perhitungan sinyal diperoleh waktu siklus pada jam puncak pagi, siang dan sore berturut turut adalah 62 detik, 60 detik dan 74 detik. Pada jam puncak pagi, diperolehwaktu hijau dan merah pada fase 1 adalah 30 detik dan 27 detik, sedangkan pada fase 2 adalah 22 detik dan 35 detik.Pada jam puncak siang, diperoleh waktu hijau dan merah pada fase 1 adalah 28 detik dan 27 detik, sedangkan pada pase 2 adalah 21 detik dan 34 detik.Pada jam puncak sore, diperoleh waktu hijau dan merah pada fase 1 adalah 33detik dan 36 detik, sedangkan fase 2 adalah 38 dan 31 deti