JOURNAL TEKNIK SIPIL DAN INFRASTRUKTUR
Not a member yet
82 research outputs found
Sort by
PERBAIKAN SIFAT GEOTEKNIS TANAH DASAR UNTUK JALAN DENGAN ABU BATUBARA
Abu batubara merupakan limbah padat yang tidak mudah larut dan tidak mudah menguap. Apabila jumlahnya banyak dan tidak ditangani dengan baik, maka abu batubara tersebut dapat mengotori lingkungan. Abu batubara berbentuk partikel halus amorf dan bersifat pozzolan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan stabilisasi pada tanah lempung yang memiliki plastisitas dan kembang susut yang tinggi serta daya dukung yang rendah bila kadar airnya tinggi. Abu batubara digunakan sebagai bahan aditif pada tanah lempung dengan persentase 0%, 10%, 20%, 25%, 30% dan 40% terhadap berat kering tanah lempung. Pengujian pada penelitian ini meliputi pengujian sifat-sifat fisik dan sifat-sifat mekanis. Pengujian campuran tanah lempung dengan abu batubara meliputi batas-batas Atterberg, pemadatan, CBR tanpa rendaman dan CBR rendaman. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan abu batubara pada tanah lempung dapat meningkatkan daya dukungnya dan menurunkan nilai indeks plastisitas tanah dari 24,81 menjadi 7,93 pada 40% abu batubara. Persentase abu batubara yang paling maksimal dalam penelitian ini adalah 25%. Pada pengujian pemadatan, nilai berat isi kering maksimum meningkat dari 1,700 gr/cm3 menjadi 1,963 gr/cm3 dan kadar air optimum menurun dari 15,032% menjadi 9,753. Pada pengujian CBR, nilai CBR tanpa rendaman dari 6,91% menjadi 20,56% dan nilai CBR rendaman dari 3,46% menjadi 12,12%. Kadar abu batubara diatas 25% cenderung mengalami penurunan tetapi penurunan yang terjadi tidak begitu besar dan masih memenuhi syarat sebagai lapisan tanah dasar untuk perkerasan jala
EVALUASI DAN TINDAKAN PENGURANGAN KERUSAKAN BANGUNAN BERDASARKAN PETA ZONASI GEMPA TAHUN 2010
Di Indonesia ada empat periode berlakunya peraturan tentang bagunan gedung yaitu : GBV & PBI-55, (2) PBI-71, (3) PPTGIUG-83 & SNI Tata Cara Perencanaan Bangunan Gedung Beton Bertulang tahun (4) SNI Perencanaan Bangunan Beton Bertulang 2002 & SNI Bangunan Beton Bertulang Tahan Gempa tahun 2002, keempatnya mempunyai beban rencana gempa dan pendetailan tulangan yang berbeda-beda. Seiring dengan perubahan peta zonasi gempa yaitu peta zona gempa tahun 2010, yang mana Kota Palu berada pada daerah gempa dengan intensitas sangat tinggi sehingga diperlukan upaya evaluasi dan pengurangan kerentanan akibat gempa sehingga kerugian material dan korban jiwa dapat dikurangi. Langkah penting yang dibutuhkan adalah melakukan evaluasi terhadap bangunan yang telah berdiri dan melakukan perkuatan dan perbaikan untuk gedung yang setelah dilakukan evaluasi ternyata memiliki kapasitas beban gempa lebih kecil dari kapasitas beban sesuai peraturan terbaru. Telah banyak bangunan yang gagal dan hancur akibat gempa, dan telah banyak pula metode yang dikembangkan untuk mengurangi kerusakan akibat gempa tersebut. Sehingga sangat dibutuhkan pengembangan metode perkuatan dan perbaikan struktur bangunan untuk mengantisipasi kerusakan bangunan pada saat terlanda gempa. Titik-titik lemah bangunan yang merupakan titik-titik kegagalan bangunan akibat beban gempa, antara lain : join fondasi-kolom, join balok-kolom, dinding pasangan dan system struktur atap. Elemen-elemen tersebut sangat membutuhkan perkuatan sebelum terjadi gempa serta pendetailan penulangan yang akurat. Perkuatan dan perbaikan elemen struktur bangunan yang telah dikembangkan antara lain : perbaikan kerusakan dinding pasangan dengan metode plesteran yang diperkuat kawat, melapisi elemen strutur bangunan dengan lapisan betob baru, penambahan tulangan dan lapisan beton dengan metode shotcrete pada elemen balok, kolom dan pelatdan perbaikan retak dengan bahan epoxy recin pada elemen pela
MODEL PERUBAHAN GARIS PANTAI RERANG (KABUPATEN DONGGALA) MENGGUNAKAN GENESIS
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses erosi-sedimentasi, dan perubahan garis pantai serta morfologi Pantai Rerang, Kab. Donggala. Model perubahan garis pantai didasarkan pada persamaan kotinuitas sediment. Pantai dibagi menjadi sejumlah sel (ruas). Pada setiap sel ditinjau angkutan sediment yang masuk dan keluar. Sesuai dengan hokum kekekalan massa, jumlah laju aliran massa netto didalam sel adalah sama denga laju perubahan massa di dalam tiap satuan waktu. Perubahan garis pantai tersebut dapat diprediksi dengan membuat model matematik yang didasarkan pada imbangan sediment pantai pada daerah pantai yang ditinjau. Prinsip tersebut digunakan dalam meyusun model matematik perubahan garis pantai dan dikembangkan menjadi sebuah perangkat lunak yang dikenal dengan nama GENESIS. Program GENESIS menerapkan “one-line simulation”, dimana batas antar laut dan darat di pantai digambarkan sebagai suatu bidang yang tegak. Perangkat lunak ini diaplikasikan untuk memodelkan perubahan garis Pantai Rerang Kabupaten Donggal
Evaluasi Struktur Bangunan Administrasi RSUD UNDATA
Setiap bangunan gedung sudah selayaknya dilakukan suatu evaluasi menyangkut keandalan strukturnya, sehingga tingkat keamanan pemakainya dapat dijamin. Terlebih Undang-undang tentang bangunan gedung mensyaratkan demikian. Untuk itu perlu dilakukan tindakan evaluasi struktur terhadap setiap bangunan, khususnya bangunan public seperti Rumah Sakit Undata yang diharapkan tetap berdiri setelah terjadi gempa. Evaluasi yang dilakukan menyangkut kekuatan struktur bangunan termasuk struktur bangunan bawah yaitu fondasi dan balok sloof, struktur bangunan atas yaitu kolom, balok, pelat lantai, sambungan elemen struktur dan rangka kap. Struktur pelengkap seperti tangga, sunscreen dan dinding juga diperiksa. Hasil pemeriksaan dengan 3(tiga) metode yaitu : Metode Ditjen PU menghasilkan persentase kekuatan struktur 99,09% termasuk kategori ANDAL. Pemeriksaan dengan Metode Komisi Teknik Amerika menghasilkan 73% jawaban YA dan 17% jawaban TIDAK untuk kategori syarat-syarat teknis struktur bangunan. Metode dari Takim Adriono dan Gedion Kusuma menghasilkan criteria struktur secara umum memenuhi kapasitas penampang kecuali pada tulangan geser initi join, syarat tulangan tekan balok dan penjangkaran tulangan balok pada sambungan balok-kolom lua
KONDISI SEISMISITAS DAN DAMPAKNYA UNTUK KOTA PALU
Bencana gempa disamping merupakan fenomena alam siklus yang merusak dan merugikan juga merupakan laboratorium alam yang bermanfaat yaitu untuk mempelajari karakteristik gempa dalam upaya mitigasi bencana. Para ahli teknik sipil terutama di Indonesia mempunyai keterkaitan yang mendasar terhadap bencana gempa, terutama karena hampir 70% wilayah Indonesia berada pada daerah rawan bencana gempa dengan intensitas dan frekuensi yang terus meningkat sehingga semua bangunan rekayasa sipil akan mengalami pembebanan dinamik dan siklik pada saat terjadi gempa. Kota Palu dan sekitarnya dalam kurun waktu satu abad (1905-2005) berdasarkan catatan telah terlanda gempa dengan magnitude > 4,5 SR lebih dari 10 (sepuluh) kejadian, berdasarkan kondisi topografi, geologi dan seismologi wilayah Kota Palu sangat potensial mengalami kerusakan akibat gempa termasuk bencana sekunder (tsunami, liquifaksi dan longsoran tebing) seperti pernah terjadi pada tanggal 20 Mei 1938 yaitu gempa dengan magnitudo 7,6 SR yang getarannya terasa di seluruh pulau Sulawesi. Mempelajari, menganalisa dan mengestimasi semua faktor pendukung dan potensi bencana yang sedemikian besarnya, maka tidak ada pilihan lain untuk segera melakukan segala upaya untuk memberdayakan semua komponen masyarakat, termasuk kalangan akademisi untuk memberikan pemikiran, rekomendasi dan tindak nyata agar sebelum, pada saat dan setelah terjadi bencana gempa lebih siap secara psikis dan fisik untuk mengurangi dampak bencana tersebu
Eqivalent Intergranular Void Ratio Analysis Of Sand-Silt Mixtures
In the recent last decade studies indicated that the void ratio only might not be good to characterize the sand with fines state variable and fine grains in fact were contributed to the intergrain contact. Contribution of fine content defined in the intergranular (es) and interfine (ef) void ratio studied by Thevanayagam (1998). Moreover, Thevanayagam (2000) introduced equivalent intergranular void ratio (es)eq and equivalent interfine void ratio (ef)eq, as contact index which include the contribution of fine contents as an active intergrain contact (b). In this article, the void ratio given in the 6 sand-silt mixture from past researches recalculated to intergranular void ratio and equivalent intergranular void ratio for FC < FCth using estimated b value obtained from the line equation from chart given by Thevanayagam (2010). The new chart replotted and compared to the one given in those articles. The results shows that for most sand-silt mixture using es and (es)eq rather than e as the indices to characterize the contribution of fine grains in a soil mix for FC< FCth indicated good results that shows in plotted data points of soil mixtures that located close to a single line compare to the one using void ratio (e) only. The line equation proposed by Thevanayagam (2010) can be used to estimate the b value to obtain the equivalent intergranular void rati
ANALISIS PENYIMPANGAN PERKIRAAN DEBIT MENGGUNAKAN MODEL MOCK DAN NRECA
Keterbatasan data hidrometri yang digunakan untuk analisis hidrologi berkaitan dengan pengembangan sumber daya air, mengharuskan perkiraan debit di sungai harus dilakukan berdasarkan data hujan menggunakan model hidrologi. Namun harus disadari bahwa kinerja model yang ada umumnya terbatas. Hampir semua model hidrologi tidak dapat sepenuhnya menirukan perilaku DAS khususnya dalam mengalihragamkan hujan menjadi debit. Keterbatasan ini berkaitan dengan kompleksitasnya masukan dan sistem DAS yang tidak sepenuhnya terwakili di dalam model. Oleh karena itu, model-model hidrologi tersebut harus dioptimasi sebelum digunakan dalam analisis. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kinerja model dengan mensimulasi penyimpangan dan parameter model oiptimal menggunakan Model Mock dan NRECA yang diaplikasikan di pada DAS kecil dalam hal ini DAS Bangga di Sulawesi Tengah. Hasil simulasi menggunakan parameter sembarang menunjukkan bahwa penyimpangan rata-rata dari kedua model (Mock dan NRECA) berturut-turut adalah 70.25 % and 85.93 %. Simulasi menggunakan parameter optimal, dapat menurunkan penyimpangan rata-rata menjadi 15.88 % and 23.97 % untuk kedua model. Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa parameter optimal dari kedua model memiliki kesalahan volume sebesar 0.00056 and 0.000724 dan koefisen korelasi 0.875 and 0.824
ANALISIS PERUBAHAN HIDROLOGI LERENG AKIBAT HUJAN TERHADAP KESTABILAN LERENG
Infiltrasi air hujan ke dalam lereng akan berpengaruh terhadap kondisi hidrologi lereng misalnya perubahan muka air tanah, tingkat kejenuhan, tekanan air pori. Perubahan dari aspek tersebut akan berpengaruh terhadap sifat tanah penutup lereng, misalnya nilai berat isi tanah, kohesi, sudut gesek dan kuat geser tanah. Perubahan muka air tanah akan meningkatkan tingkat kejenuhan tanah serta meningkatkan nilai tekanan air pori positif. Nilai tekanan air pori pada kondisi tanah dalam kondisi kering atau basah disebut dengan nilai tekanan air pori negatife atau nilai suction. Nilai suction ini akan cenderung menurun dan pada akhirnya menjadi sama dengan nol atau lebih besar dari 0 (tekanan air pori positif) apabila terjadi perubahan kadar air dalam tanah dari kondisi tidak jenuh menuju jenuh. Pada kondisi inilah yang akan berpengaruh terhadap tingkat kestabilan lereng tersebut karena nilai kohesi dan sudut gesek menurun yang berakibat penurunan kekuatan geser tanah. Perubahan hidrologi dan kestabilan lereng dipengaruhi oleh intesitas hujan, kuat geser tanah, kondisi muka air tanah dan tingkat permeabilitas tanah penutup leren
Evaluasi Kerentanan Bangunan Gedung Terhadap Gempa Bumi Dengan Rapid Visual Screening (RVS) Berdasarkan FEMA 154
Gempa Aceh tanggal 26 Desember 2004 telah mengubah paradigma dalam penanganan bencana di Indonesia, khususnya akibat aktivitas seismik dan bencana ikutannya seperti tsunami, tanah longsor, banjir bandang dan likuifaksi, dan mendorong Kementerian Pekerjaan Umum untuk melakukan revisi terhadap Peta Gempa 2002 dan berinisiatif menginisiasi penyusunannya dengan menghimpun para ahli di bidang gempa bumi. Hasil studi dari tim ahli tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk Peta Zonasi Gempa 2010 dan telah menempatkan posisi kota Palu khususnya dan wilayah Sulawesi Tengah umumnya ke dalam wilayah yang berpotensi terlanda gempa dengan magnitude maksimum 7,9 SR (skala Richter). Ini berarti, seluruh komponen masyarakat di wilayah Sulawesi Tengah wajib bersiap diri dalam menghadapi bencana yang datangnya sulit untuk diprediksi dengan melakukan usaha mitigasi bencana yang salah satunya adalah dengan melakukan evaluasi secara cepat (Rapid Visual Screening) terhadap seluruh bangunan yang ada untuk menilai kerentanannya terhadap gempa bum
IDENTIFIKASI SUMBER BENCANA ALAM DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA DI SULAWESI TENGAH
Pengurangan resiko bencana alam merupakan salah satu program pemerintah dan pemerintah daerah yang sedang giatnya dilakukan. Hal ini juga menjadi kerja kalangan internasional karena beberapa kejadian bencana dengan skala massif telah menimbulkan begitu banyak korban harta benda dan jiwa. Wilayah Sulawesi Tengah merupakan salah daerah yang sangat rawan dilanda bencana alam, beberapa kejadian bencana alam yang terjadi dalam satu beberapa decade terakhir adalan banjir dan banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi dan gunung meletus. Mempelajari fenomena bencana tersebut maka tidak ada pilihan lain yaitu segera bersiap siaga baik secara kelembagaan, masyarakat bahkan individual, karena bencana akan terjadi dan akan menimpa siapa saja yang berada di daerah yang rawan bencana. Identifikasi yang telah dilakukan menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut : daerah Sulawesi Tengah merupakan daerah yang sangat rawan bencana, bencana yang paling sering terjadi adalah banjir dan tanah longsor, gempa bumi dan tsunami. Upaya yang perlu dilakukan baik mitigasi pasif berupa pendidikan sadar bencana, penyuluhan tentang bencana alam serta karakteristiknya. Demikian juga diperlukan mitigasi aktif berupa membangun tanda peringatan bencana, membangun infrastruktur yang ramah dan tahan bencana serta memelihara, memperbaiki dan memperkuat infrastruktur yang berada di daerah yang rawan bencan