Edulib
Not a member yet
141 research outputs found
Sort by
Kerjasama Antara Guru dengan Pustakawan dalam Layanan Perpustakaan Sekolah Dasar Hikmah Teladan
Abstrak. Perpustakaan merupakan bagian integral dilingkungan sekolah, oleh karena itu perlu adanya kerjasama dalam memaksimalkan potensi layanan perpustakaan sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan jawaban dari rumusan kerjasama antara guru dengan pustakawan dalam layanan perpustakaan sekolah di Perpustakaan SD Hikmah Teladan. Selain dari itu untuk mengetahui bentuk kerjasama dalam layanan perpustakaan sekolah dan untuk mengetahui kriteria layanan perpustakaan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel yaitu teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik pengolahan data dilakukan dengan cara reduksi data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat kerjasama antara guru dengan pustakawan dalam layanan perpustakaan sekolah. kerjasama penting untuk dilakukan guna mengoptimalkan potensi layanan perpustakaan sekolah. kerjasama yang dilakukan yaitu dalam bentuk pelaksanaan program kegiatan perpustakaan, pembinaan minat baca, promosi perpustakaan dan pembinaan koleksi. Perpustakaan SD Hikmah Teladan sebagai perpustakaan sekolah perlu melakukan kerjasama dengan berbagai pihak secara terus menerus dalam layanan perpustakaan sekolah.Kata kunci: kerjasama guru dengan pustakawan, layanan perpustakaan, pustakawan sekolahAbstract. The library is an integral part of the school environment, therefore the need for cooperation in maximizing the potential of school library services. This research is done to find the answer from the formula of cooperation between teachers and librarians in the school library services in elementary school libraries Hikmah Teladan. Aside from that to determine the form of cooperation in the school library services and to determine the criteria for school library services, theoretically and practically expected results of this study can be useful for SD Hikmah Teladan Library. The technique used for sampling is non-random sampling technique. Data collected by interview, observation and documentation. Data processing techniques carried out by way of data reduction, data analysis and conclusion. The results showed that there is cooperation between teachers and librarians in the school library service. Cooperation is important to do in order to optimize the potential of school library services. cooperation carried out in the form of implementation of the program of activities of the library, development of reading, and library promotion and development of the collection. Exemplary SD Hikmah Teladan Library as school libraries need to work with various parties continuously in the school library service. Keywords: Cooperation Between Teachers With Librarian,library services, school librarian
DESAIN INSTRUKSIONAL BIMBINGAN MINAT BACA BERBASIS HYPNOSIS BAGI CALON PUSTAKAWAN TENAGA AHLI (CPTA)
Instructional design of hypnosis-based reading interest guidance is the development of guidance material of reading interest that previously has been created by Perpustakaan Nasional Indonesia (National Library of Indonesia) for the training of Calon Pustakawan Tenaga Ahli (CPTA) or Expert Librarian Candidate. The development of learning design that combines theory and practice is absolutely needed. Moreover, the result of class survey signifies that only 10% of CPTA training participants are interested in reading. This instructional design employs MINERVA model since it aims to result instructional system directing to the formation of CPTA employability skill. The skill in bibliotherapy for CPTA in a college to guide reading interest is required, especially to boost the motivation and learning capacity of civitas academica, specifically librarian who experience stress symptom due to final project. The skill in bibliotherapy requires provision in effective reading capacity and efficient reading comprehension. Through the learning of hypnosis-based reading interest guidance, firstly CPTA participants can reflect the level of reading awareness, secondly be the support of bibliotherapy program in college library, and thirdly boost mental awareness. Librarian is not only limited to administrative service, but also it has role as vanguard in mental literacy service through bibliotherapy
Sajian Informasi Pelatihan Usaha Dalam Membentuk Sikap Peserta pada Program Melati
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sajian informasi pelatihan usaha dengan sikap peserta pada Program Melati. Dinas Koperasi dan UMKN Kota Bandung melalukan berbagai upaya untuk mecapai target yang sudah ditentukan oleh pemerintah disamping mencari solusi untuk mengurangi ketergantungan pengusaha kecil terhadap rentenir sebagai sumber modal usaha, salah satunya adalah melakukan pelatihan – pelatihan terhadap calon – calon pengusaha yang berada di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis penelitian korelasional. Teori yang digunakan adalah Teori Integrasi Informasi dari Martin Fishbein. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan menggunakan rumus rank spearman. Sampel dari penelitian ini 95 orang dari 126 peserta kegiatan yang terambil dengan cara teknik sampling acak sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukan hubungan yang cukup berarti antara pelatihan usaha Dinas KUMKM dengan sikap peserta terhadap Program Melati. Valensi dan bobot informasi Pelatihan Usaha Dinas KUMKM Kota Bandung memiliki hubungan yang cukup berarti dengan sikap peserta terhadap Program Melati. Dinas KUMKM Kota Bandung seharusnya lebih memperhatikan penentuan alur informasi yang menyentuh keyakinan peserta terhadap kredit melati, dengan cara dapat mengikutsertakan pihak Bank yang menjadi rekanan pemerintah sebagai narasumber pelatihan.Kata Kunci: Informasi, Integrasi Informasi, Pelatihan Usaha, Sikap.Abstract.This study aims to determine the relationship between the grain business training information with the attitude of the participants of the Programme Budget. This study uses a quantitative type of correlational research. The theory used is the Information Integration Theory of Martin Fishbein. The analysis technique used is descriptive analysis and inferential analysis using Spearman rank formula. Samples from this study 95 of the 126 participants in the drawn by means of simple random sampling technique. The results of this study showed a significant relationship between the Office business training participants KUMKM attitude towards Program Budget. Valance and weight information KUMKM Business Training Department Bandung has a significant relationship with the attitude of the participants of the Programme Budget. KUMKM Office of Bandung should pay more attention to the determination of the flow of information that touches the confidence of participants to credit jasmine, by the way can engage the Bank who are the partners of the government as a training resource.Keywords: Information, Information Integration, Business Training, Attitud
Penilaian Pengguna terhadap Kualitas Layanan (Libqual) di Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri Surabaya
Abstrak. Pelayanan yang dilakukan oleh perpustakaan secara langsung ataupun tidak akan menimbulkan citra perpustakaan baik citra positif maupun negatif. Citra tersebut menimbulkan persepsi pengguna dan akhirnya membuat penilaian pengguna terhadap perpustakaan. Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui mengenai tingkat persepsi pengguna atas kualitas layanan perpustakaan perguruan tinggi negeri yang meliputi dimensi affect of service, information control, library as place. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang sifatnya deskriptif dan teknik pengumpulan data kuisioner dengan teknik sampling nonrandom sampling dengan kriteria purposive sampling di Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Airlangga (UNAIR) dan Perpustakaan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Teknik pengolahan data yakni dengan membuat nilai rata-rata di setiap indikator kualitas layanan. Konsep kualitas layanan yang digunakan adalah LibQual+™ yang terdiri dari affect of service, information control, dan library as place. Hasilnya bahwa nilai rata-rata penilaian pengguna pada kinerja ketiga perpustakaan di atas adalah baik. Untuk perpustakaan UNESA dan ITS, urutan penilaian dari yang terbaik oleh pengguna adalah library as place, information control dan affect of service. Urutan penilaian pengguna atas dimensi yang terbaik pada perpustakaan Unair secara berturut-turut adalah library as place, affect of service, dan information control. Kata kunci: libqual, persepsi pengguna, perpustakaan perguruan tinggi Abstract. Services carried out by the library directly and will cause the image library of both positive and negative images. These images create the perception of users and ultimately make an assessment of the library users. In this study the authors wanted to know about the level of user perception on the quality of library services such as affect of service, information control, and library as place. This study uses a quantitative approach that are descriptive and questionnaire data collection techniques with nonrandom sampling with purposive sampling criteria in the library of Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair) and the library of the State University of Surabaya (UNESA). Data processing techniques to make the average value in every indicator of service quality. The concept of service quality used is LibQual + ™ consisting of affect of service, information control, and library as place. The result is that the average value assessment on the performance of the three library users above is good. For UNESA and ITS libraries, order an assessment of the best by the user is a library as place, information control and affect of service. In Unair library, user ratings on the dimensions of the order of the best in a row is a library as place, affect of service, and information control. Keywords: libqual, user perception, university librarie
Pendidikan Literasi Media Sebagai Upaya Peningkatan Peran Perempuan Perdesaan Dalam Pembangunan
Abstrak. Proses pembangunan perdesaan membutuhkan peran seluruh kelompok masyarakat, termasuk peran kaum perempuan perdesaan. Upaya peningkatan peran perempuan perdesaan dalam pembangunan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui pendidikan literasi media yang akan menghasilkan kelompok perempuan yang mampu menjadi agen-agen perubahan di perdesaan dengan keterampilan mereka dalam memantau dan mengkritisi konten media khususnya tayangan televisi. Selama ini perempuan perdesaan cenderung tidak berdaya menghadapi kepungan media elektronik televisi. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah ketidakmelekan kaum perempuan perdesaan terhadap hak mereka mengkritisi dan memantau tayangan televisi. Di luar permasalahan tersebut, kaum perempuan perdesaan memiliki potensi besar dalam memperbaiki kualitas tayangan televisi karena mereka adalah yang penonton terbanyak tayangan televisi. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pendidikan literasi media sebagai upaya peningkatan peran perempuan perdesaan dalam pembanguan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) serta teknik analisis data deskriptif dengan informan penelitian adalah kaum perempuan perdesaan di Kabupaten Majalengka, fasilitator literasi media, anggota Komisi Penyiaran Indonesia, dan para pejabat terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan literasi media memiliki peran signifikan dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi yang bermanfaat bagi kaum perempuan perdesaan, dan memberikan kesadaran akan hak mereka mengkritisi dan memantau tayangan televisi. Penelitian ini merekomendasikan untuk merancang suatu model pendidikan literasi media bagi kaum perempuan perdesaan yang dapat diimplementasikan di daerah lain di Indonesia. Kata Kunci : Literasi Media, Perempuan Perdesaan, Peningkatan Peran, Tayangan Televisi, Kabupaten Majalengka. Abstract. The process of rural development requires the role of all groups in a society, including the role of rural women. Efforts to increase the role of rural women in development can be conducted through various ways, one of which is through media literacy education that will produce a group of women who will be able to become agents of change in rural areas with their skills in monitoring and critiquing the content of media especially television. All this time, rural women tend to be helpless in facing the siege of television electronic media. One of the factors underlying it is their illiteracy of their rights to criticize and monitor television broadcasts. On the other hand, rural women have great potential in improving the quality of television broadcasts because they form the most television viewers. This research aims to find out how media literacy education can increase the role of rural women in development. This research used qualitative method and the respondents consisted of a group of rural women from Majalengka regency, media literacy facilitators, members of Indonesia Broadcasting Commission (KPI) and the relevant government officials. The data was collected through interview and focus group discussion (FGD) and analyzed descriptively. The results found that media literacy education had significant role in addressing the needs of useful information for rural women and made them aware of their rights to criticize and monitor television broadcast. This research also recommends a model of media literacy education for rural women that can be implemented in other rural areas in Indonesia. Keywords: media literacy, rural women, increased role, television broadcas
PERILAKU PENCARIAN INFORMASI WANITA YANG TINGGAL DI DAERAH KUMUH DI KAMPUNG PONCOL, JAKARTA SELATAN, INDONESIA
Abstract. This research identifies the information seeking behavior of women who reside in the slum area of Kampung Poncol, Jakarta, Indonesia in the fulfillment of the triple role; those are reproductive, productive, and social. A qualitative approach with phenomenology method is used in this research while the data are collected by non-participant observation and in-depth interview with six participants. The results of this research show that the steps of information seeking behavior of those women are the initiation, selection, formulation, collection, and presentation; while the exploration step does not appear at all. Based on the role of reproduction needed by the informants in relation to their role as housewives, the information needed by the women are about the price of basic commodities, family healthcare and well-being, children education, as well as information about the flood. On the productive role, the information needed are vary among the informants depends on their occupations. While for the social role, the information needed by the informants are related to personal health, fashion, entertainment, and politics. The primary source of information is informal source those are relatives and neighbors
PEMANFAATAN INTERNET PADA PERPUSTAKAAN DAERAH
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan teknologi internet yang telah merambah ke segala segi kehidupan dari bidang ekonomi, bisnis, hiburan, budaya dan pendidikan, sampai dengan layanan perpustakaan. Khusus pemanfaatan internet di Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemustaka yang menggunakan media internet pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang yang berjumlah 40 orang. Teknik sampling digunakan untuk menjaring data dari responden. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke lokasi yang menjadi situs penelitian. Teknik langsung ini didukung oleh penyebaran angket kepada sejumlah responden penelitian yang juga menggunakan teknik wawancara dan observasi. Dalam menganalisis data digunakan tabel untuk mencari nilai rerata dari mean untuk setiap jenis data tersebut untuk memperoleh simpulan. Hasil penelitian menujukkan bahwa: pertama, pemustaka yang memanfaatkan internet pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang sering menggunakan cara searching dalam mencari informasi yang dibutuhkan. kedua, pemustaka yang memanfaatkan internet pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang dominan memanfaatkan fasilitas web. ketiga, pemustaka yang memanfaatkan internet jarang melakukan download informasi yang berada di internet pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang. Hasil penelitian menujukkan perlunya upaya berkelanjutan dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang untuk memperbaiki tingkat kekerapan kunjungan dan pemanfaatan internet secara maksimal
SERTIFIKASI DAN LISENSI TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH/ MADRASAH
Abstrak Sertifikasi dan lisensi tenaga perpustakaan sekolah/ madrasah (TP-SM) merupakan dokumen yang menandakan pengakuan bahwa seseorang memiliki kewenangan untuk melaksanakan tugas sebagai tenaga pengelola perpustakaan di lembaga pendidikan (sekolah dan madrasah) secara profesional. Sertifikasi dan lisensi hanya diberikan kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan kualifikasi dan penguasaan tentang standar kompetensi tenaga perpustakaan sekolah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008. Penguasaan tentang standar kompetensi tersebut merupakan dasar dan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga perpustakaan dan pendidikan profesi pustakawan untuk menerbitkan sertifikasi kompetensi dan pemberian lisensi tenaga perpustakaan dan pustakawan. Proporsi yang sangat rendah tentang keberadaan pustakawan dan/atau tenaga pengelola perpustakaan tentulah menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, baik bagi pemerintah (Direktorat terkait di Kemdiknas dan Kemenag), Perpusnas, perguruan tinggi pengelola program studi perpustakaan, dan asosiasi profesi. Hal ini terkait dengan kepemilikan perpustakaan dan tenaga pengelola perpustakaan di sekolah/ madrasah yang harus dapat terpenuhi selambat-lambatnya pada Juni 2013 atau 5 (lima) tahun setelah peraturan tentang hal tersebut ditetapkan.Permasalahannya adalah (1) Apakah semua tenaga perpustakaan sekolah yang ada saat ini sudah profesional?; (2) Kualifikasi dan kompetensi apa yang dibutuhkan agar mereka dapat menjadi profesional?; (3) Apa bukti yang menunjukkan bahwa mereka memiliki kewenangan sebagai tenaga perpustakaan yang profesional?; (4) Pendidikan atau pelatihan yang bagaimana yang dibutuhkan agar dapat mempersiapkan dan mengembangkan seseorang menjadi tenaga perpustakaan yang profesional? (5) Bagaimana kesiapan Perguruan Tinggi untuk mempersiapkan Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah ini? Jawabannya tentu perlu dikaji secara teoritik dan empirik. Sebagai bahan diskusi pertanyaan (1) dan (2) akan dijawab dengan paparan pada bagian B, pertanyaan (3) dan (4) akan dijawab melalui paparan pada bagian C, sedangkan pertanyaan ke (5) akan dijawab melalui paparan bagian D, dengan ilustrasi memaparkan Program Studi Perpustakaan dan Informasi, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia. Sertifikasi dan lisensi tenaga perpustakaan akan menghasilkan tenaga yang profesional apabila melibatkan berbagai unsur sebagai berikut, yaitu: perguruan tinggi penyelenggara disiplin ilmu perpustakaan, lembaga yang mengelola perpustakaan (Perpusnas), lembaga yang mengelola tenaga perpustakaan (Kemdiknas) dan asosiasi profesi perpustakaan. Kata Kunci: Pustakawan, Tenaga Pengelola Perpustakaan, Sertifikasi, Lisensi, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Pendidikan Pustakawan Abstract Certification and license of school librarian/ Madrasah librarian (Tenaga Pustakawan-Sekolah/Madrasah - TPSM) refers to a document admitting that an individual has a right to execute a task assuming the responsibility to manage a library at an educational institution (school or Madrasah) professionally. The certification and the license are issued to individuals who have met some qualification as required so as to describe a mastery in a standardized competencies owned by school librarians as enacted by Permendiknas No.25/2008 (an Act of the Ministry of Education and Culture). The mastery of the aforementioned competencies serves as basics and principles in operationally running education and training for librarians and professional librarian education prior to the issuances of competency certification and license for assistant librarians and librarians. Less than adequate proportion of the existence of librarians remains a big task to be done by all parties including the Government (directorates, Kemendikbud (Ministry of Education and Culture), and Ministry of Religion), Perpusnas (National Library of Indonesia), universities running the programs of library schools, and profession associations. It brings with it some concerns with services libraries and their librarians have to provide. According to the Permendiknas, by June 2013 (five years after the issuance of the Act) schools and Madrasah have to equipped themselves with libraries managed by librarians. Problems arise once concerns on providing library services have to be working: (1) Are all school/Madrasah librarians on duty professional in category?, (2) What qualifications and competencies should the librarians have to be professional?, (3) What could be the proof that the librarians have every right to work as professionals?, (4) What kind of education and training do the librarians need to undergo to have a good command of managing library collections professionally?, (5) How prepared are higher education institutions in training librarians to have adequate competencies in managing libraries? Answers to the queries need to be explored both theoretically and empirically through a study. To initiate a discussion, questions (1) and (2) will be entertained through explanation in Part B; questions (3) and (4) will be entertained through explanation in Part C while questions (5) will be entertained through explanation in Part D with an illustration of Library and Information Studies-Department of Curriculum and Educational Technology-Faculty of Education-UPI (Universitas Pendidikan Indonesia-Indonesia University of Education). Certification and license for school librarians will work the excellent way to produce professionals in librarianship if the elements involved in the program are promising enough in terms of qualifications. Those to be involved include universities running the programs of library studies, institutions with the power of managing libraries nationwide including Perpusnas, institutions which concern in establishing libraries (Kemendikbud), and profession associations in librarianship.Key words: librarian, library managers, certification, license, school/Madrasah libraries, training for librarians
HUBUNGAN KEPEMIMPINAN KEPALA BAPUSIPDA TERHADAP BRAND JUDGMENT PEMUSTAKA
Abstrak. Masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah brand judgement pemustaka di Bapusipda Provinsi Jawa Barat. Inti kajiannya difokuskan pada salah satu faktor yang memiliki hubungan dengan brand judgement pemustaka yaitu kepemimpinan Kepala Bapusipda. Berdasarkan hal tersebut, pokok masalah diungkap dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan kepemimpinan Kepala Bapusipda dengan brand judgement pemustaka. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan disproportionate stratified random sampling. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif korelational dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis data diketahui kepemimpinan Kepala Bapusipda memiliki hubungan kuat dengan brand judgement pemustaka dengan korelasi. Hasil pengujian hubungan kepemimpinan Kepala Bapusipda dengan brand judgement pemustaka menunjukkan indikator kebijakan/keputusan memiliki korelasi dengan derajat hubungan pada kategori sedang, indikator komunikasi memiliki korelasi dengan derajat hubungan pada kategori sedang, indikator motivasi memiliki korelasi dengan derajat hubungan pada kategori kuat, dan penyeleksian sumber daya manusia oleh Kepala Bapusipda memiliki korelasi dengan derajat hubungan pada kategori kuat
Bahasa Inggris Calon Pustakawan Multitasking: Kiat-Kiat Menumbuhkan Minat Berbahasa Inggris Melalui Pendekatan Ramah Suasana
Abstract. Ideas expressed by LIS (Library and Information Science) students in the form of writing are incomprehensible to some extent. The work of LIS students of UPI, the librarians to-be, needs to be examined. These students are learners categorized as SNED (Students of Non English Department) gaining experience through learning English in the EFL (English as a Foreign Language) environments worth investigating. Lack of skill to bridge a gap between their native language (Indonesian) and target language (English) creates a room for inadequacy especially to native speakers. Paragraphs written by these students as ELLs (English Language Learners) are not easily understood due to the constraints dealing with linguistic and cultural barriers. A very small number of studentshave been willing to write their answers in English language when it comes to options of answering in English or answering in Indonesian language in the mid-termexamination.This phenomenon gives a picture of competency in expresing ideas in English which is still far from being sufficient. Approach using a qualitative method of research with interview and observation as instruments to collect data from informants results in facts that they lack of confidence leading to an impact factor of low quality of writing. Hence, facilitators should take necessary steps to help with warm and friendly conduct toward betterments in working out English instead of Indonesian English. Librarians as professionals in practice should have a good command of English and exercise it in their daily routines. Their “at-homeness” proves to be very low making it possible for a native speaker to misinterpret the original ideas of the ELLs. Culture as a factor influences and builds a sense, attitude, and response of the ELLs in interacting with a native speaker of the target language. It is found out that efforts with friendliness and pleasing approach bythe facilitators to make the ELLs feel comfortable plays an important part toward betterments.Key words: friendly atmosphere, paragraph writing, linguistic consraints, culture, SNED.Abstrak. Gagasan yang disampaikan dalam bentuk tertulis menggunakan Bahasa Inggris oleh Mahasiswa Program Studi Perpustakaan FIP-UPI, yang adalah calon Pustakawan, memerlukan penelitian. Para Mahasiswa ini adalah pembelajar yang berkategori SNED (Students of Non-English Department) yang belajar Bahasa Inggris dengan lingkungan EFL (English as a Foreign Language) yang menarik untuk diteliti. Kekurangmampuan menjembatani kesenjangan antara Bahasa Ibu mereka (Bahasa Indonesia) dengan Bahasa Penerima (Bahasa Inggris) menghambat keberterimaan oleh khususnya Penutur Asli (native speaker). Paragraf karya tulis SNED sebagai Pembelajar Bahasa Inggris (ELLs –English Language Learners) sering sulit dimengerti karena kendala linguistik dan kultur. Sedikit sekali Mahasiswa yang mau menulis didalam Bahasa Inggris pada UTS (UjianTengah Semester). Kenyataan ini menggambarkan betapa kemampuan Mahasiswamenyusun kalimat masih jauh dari memadai. Pendekatan menggunakan metode kualitatif dengan intrumen wawancara bersama informan menghasilkan simpulan bahwa lack of confidence onthe students' part merupakan impact factor. Teramati bahwa Bahasa Inggris yang digunakan masih merupakan Bahasa Inggris “Indonesia”. Pada prakteknya, status Pustakawan Multitasking menuntut profesional Pustakawan untuk dapat berbahasa Inggris didalam rutinitas kesehariannya. Dalam hal ini, “at-homeness” mereka masih rendah sehingga seorang native speaker yang mencoba memahami bahasa tulisan karya Pustakawan melakukan penafsiran yang keliru. Selain itu, pengetahuan ELLs mengenai kultur sasaran (Bahasa Inggris) memainkan peran sangat penting didalam berkomunikasi.Didalam menyampaikan gagasan mereka, para pembelajar ini mengalami kesulitan karena terkendala oleh kultur bahasa sasaran. Kultur ini mempengaruhi dan membentuk perasaan, sikap, dan respon ELLs didalam berinteraksi dengan penutur asli bahasa sasaran. Ditemukan bahwa upaya yang ramah dan menyenangkan dari pengajar selaku fasilitator untuk memperbaiki Bahasa Inggris para calon Pustakawan ini merupakan suatu keniscayaan.Kata kunci: ramah suasana, penulisan paragraf, kendala linguistik, kultur, SNED,