ANALITIKA
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai dalam Penerapan Sidalih di Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja pegawai dalam penerapan Sistem Data Pemilih (Sidalih) Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif deskriftip, data dalam penelitian ini didapatkan dengan melakukan wawancara kepada empat orang stakeholder internal Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya dalam menganalisa data wawancara yang telah didapatkan data wawancara tersebut diolah melalui NVivo 12 Plus. Hasil yang ditemukan dalam peneltian ini menunjukan disiplin kerja menjadi faktor utama dalam memberikan pengaruh terhadap kinerja pegawai dengan persentase 32,10%, faktor kedua faktor Kepemimpinan 22,40%, faktor ketiga faktor Pelatihan dan Pengembangan dengan persentase 22,20%, Sementara itu faktor Stres Kerja 14.00% dan Kompensasi 9.30% menjadi faktor selanjutnya yang memberikan pengaruh kepada kinerja pegawai dalam penerapan Sistem Data Pemilih di Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta. Kinerja egawai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terkhusus pegawai yang menangani Sidalih sudah dianggap sangat maksimal dengan menunjukkan totalitas kinerja yang sangat tinggi agar dapat mewujudkan data pemilih yang berkualitas.Â
Digital Intervention for Students with Learning Disabilities
The Systematic Literatur Review aims to reveal kinds of assistive technology that applied to students with a learning disability (LD) in several articles selected through the screening process in 2015-2020. The review was conducted on three online databases, they are ScienceDirect, Sage Journal dan Proquest. There were 7 articles reviewed from a total of 32 obtained from screening inclusion and exclusion criteria. Based on the analysis of several studies revealed that using digital intervention such as Smartpen, PC, and Smartphone which has had appropriate application, have supported and increased the performance of students with learning disabilities in the area of learning skills. The development of specific digital intervention on students with learning disabilities needs to be applied in future research
Perbedaan Locus of Control ditinjau dari Perspektif Agama pada Siswa SMA
Locus of control merupakan salah satu aspek psikologis yang ada pada diri manusia. Setiap individu memiliki perbedaan dalam locus of control. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah agama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan locus of control penganut Agama Islam, Katolik dan Protestan, serta mengungkapkan perbedaan locus of control dari ketiga penganut agama tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan komparatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yakni random sampling dengan jumlah total 546 orang. Instrumen yang digunakan adalah Rotter's Internal-External Locus of Control Scale. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan anova satu arah. Temuan penelitian ini meliputi: 1) locus of control penganut agama Islam, Protestan dan Katolik berada pada kategori internal locus of control; dan 2) tidak ditemukan adanya perbedaan locus of control antara tiga penganut agama tersebut. Peneliti memberi saran kepada seluruh penganut agama di Indonesia bahwa penting untuk memiliki internal locus of control. Internal locus of control yang dimaksud yakni meyakini bahwa diri memiliki kapasitas dan kontribusi untuk menentukan kehidupan namun dengan tidak melepaskan kewajiban berketuhanan.Â
Parenting Stress Sebagai Prediktor dalam Pembentukan Resiliensi Keluarga yang Dimoderasi oleh Identitas Budaya Jawa
AbstrakResiliensi keluarga sangat dibutuhkan agar keluarga sebagai sistem terkecil dalam masyarakat mampu mengatasi tantangan dalam kehidupannya. Dalam membentuk resiliensi di dalam keluarga melibatkan berbagai faktor. Penelitian ini ingin menguji parenting stress sebagai faktor risiko yang memengaruhi resiliensi keluarga dan identitas budaya Jawa sebagai faktor protektif yang dapat memengaruhi resiliensi keluarga. Selain itu, pada penelitian ini juga ingin menguji kontribusi identitas budaya Jawa terhadap resiliensi keluarga serta menguji parenting stress terhadap resiliensi keluarga yang dimoderasi identitas budaya Jawa. Partisipan pada penelitian ini adalah orang tua suku Jawa yang memiliki anak usia 2-18 tahun dan berjumlah 129 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Hasil pada penelitian ini adalah parenting stress memiliki hubungan negatif terhadap resiliensi keluarga (t (127) = -7.593, p<0.05), sedangkan identitas budaya memiliki hubungan yang positif terhadap resiliensi keluarga (t(127) = 9.415, p < 0.05). Sementara, hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara parenting stress dengan identitas budaya Jawa terhadap pembentukan resiliensi keluarga (b = 0.0250, t (127) = 1.4206, p>0.05).  Hal ini menunjukkan bahwa orang tua suku Jawa tidak cukup hanya mengandalkan identitas budaya saja untuk dapat menghadapi stres dalam pengasuhan, akan tetapi membutuhkan faktor lain untuk mendukung implemetasi identitas budaya tersebut di kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi pendorong terbentuknya keluarga yang resilien
Layanan Informasi Berbasis Focus Group Discussion (FGD) dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa
Guru pembimbing atau guru BK memiliki peran penting untuk melakukan upaya pembinaan terhadap siswa khususnya dalam meningkatkan kepercayaan diri. Guru pembimbing memberikan berbagai layanan dan model pembelajaran inovatif terhadap peserta didik. Khususnya layanan informasi berbasis focus group discussion sebagai sarana pemahaman bagi siswa yang mengalami masalah kepercayaan diri. Dari hasil observasi ditemukan bahwa siswa dalam suatu kelas yang terdiri dari 30 siswa hanya 10 siswa (25,00%) orang terlihat tinggi kepercayaan dirinya, yang memiliki tingkat kepercayaan sedang 13 siswa (21.66%) dan memilih rendah 7 siswa (5.80% ) siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII sebanyak 60 siswa, sedangkan sampelnya pada penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik sampel random, jadi sampelnya berjumlah 40 siswa. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri data pre test dan post test. Hasil penelitian menemukan bahwa layanan informasi berbasis FGD dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa
TREND LITERASI KESEHATAN MENTAL
Penelitian literasi kesehatan mental masih belum banyak dilakukan di Indonesia. Penelitian ini merupakan preliminary study yang bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan mental pada mahasiswa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif dan tidak menggeneralisasi suatu populasi wilayah tertentu. Sebanyak 501 mahasiswa dari berbagai provinsi terlibat dalam penelitian ini. Pengukuran mengadopsi alat ukur Mental Health Literacy dari Jung dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa (54,1%) memiliki tingkat literasi kesehatan mental yang tinggi. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat literasi kesehatan mental dihubungkan dengan tingkat pendidikan dan usia. Lebih lanjut dalam penelitian ini, tidak terdapat perbedaan literasi kesehatan mental antara laki-laki dan perempuan. Penyebaran informasi terkait kesehatan mental sangat diperlukan melalui berbagai media untuk meningkatkan literasi kesehatan mental pada berbagai kalangan
Pelatihan Kontrol Diri untuk Menurunkan Perilaku Agresif Siswa
Agresivitas merupakan salah satu permasalahan serius yang rentan terjadi pada usia remaja sebagaimana yang dialami oleh siswa kelas VIII F SMPN Z Surabaya. Kegagalan melakukan kontrol diri dapat menjadi salah satu penyebab perilaku agresif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat efektivitas pelatihan kontrol diri untuk: (1) meningkatkan pemahaman siswa mengenai kontrol diri dan agresivitas; dan (2) menurunkan perilaku agresif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Tipe eksperimen yang dilakukan adalah one group pretest-posttest design. Pemilihan subjek dilakukan dengan purposive sampling. Subjek yang terlibat yakni 33 orang siswa kelas VIII F SMPN Z Surabaya. Perilaku agresif diukur dengan skala agresivitas oleh Buss & Perry (1992) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa indonesia. Skala agresivitas diberikan sebelum dan sesudah pelatihan kepada masing-masing subjek. Subjek menjalani 10 sesi pelatihan yang dilaksanakan selama 2 hari. Data yang terkumpul dianalisis dengan paired sample t-test. Hasilnya menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan yang signifikan pada pemahaman subjek mengenai kontrol diri dan agresivitas sebelum dan sesudah penelitian, di mana rata-rata pemahaman subjek meningkat setelah pelatihan; (2) rata-rata perilaku agresif siswa menurun setelah pelatihan, namun angka penurunannya tidaklah signifikan. Secara keseluruhan, pelatihan kontrol diri efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa namun tidak efektif untuk menurunkan perilaku agresif. Â
Pengaruh Tipe Kepribadian dan Jenis Stimulus Flanker terhadap Performansi Fungsi Eksekutif dan Akurasi Memori Kerja
Tipe kepribadian extrovert dan introvert memiliki impact yang berbeda dalam pola pikir dan perilaku individu, namun apakah juga berbeda dalam kinerja fungsi eksekutif dan memori kerja. Penelitian ini mencoba mendalami hal tersebut dengan mengkombinasikan tiga variable bebas (kepribadian, jenis trial dan stimuli) dan dua variable tergantung (RT dan akurasi) dari variabel fungsi eksekutif dan memori. Analisis menggunakan ANOVA 3 jalur. Hasil menunjukkan bahwa 1) kepribadian extrovert lebih cepat waktu reaksinya dibanding dengan introvert. 2) Ada perbedaan yang signifikan antara waktu reaksi dalam jenis trial (p-value = 0.02). 3) Trial incongruent memiliki akurasi yang rendah dibandingkan dengan trial congruent (p-value = 0.003). 1) Extrovert cenderung menyukai tantangan dan keinginan untuk secepat mungkin menyelesaikan masalah. Fungsi eksekutif lebih cepat pada ekstrovet daripada introvert. 2) Performa fungsi eksekutif pada tipe trial kongruen lebih cepat dari inkongruen. Keraguan muncul dalam kelompok subjek introvert. 3) Akurasi working memory pada trial inkongruen lebih rendah dari kongruen. Akurasi pada tipe kongruen apapun jenisnya lebih mudah diingat dari pada inkongruen
Pengaruh Math Self-Efficacy dan Math Anxiety terhadap Performansi Matematika pada Siswa Kelas V SD
Hasil survei internasional menunjukkan bahwa performa Matematika siswa Indonesia, pada jenjang SD maupun SMP, tergolong rendah. Adapun upaya mengatasi hal tersebut sebaiknya dilakukan sejak jenjang SD, mempertimbangkan urgensi dari Matematika dalam kehidupan akademik maupun non-akademik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi performa Matematika siswa SD adalah math anxiety. Namun, peneliti berasumsi bahwa temuan tersebut tidak dapat digeneralisasikan pada siswa kelas IV-VI yang telah memasuki masa remaja. Pada masa tersebut, individu lebih mencemaskan kehidupan sosial daripada akademiknya. Dikatakan pula bahwa prestasi individu pada usia tersebut dipengaruhi oleh self-efficacy. Oleh karena itu, peneliti menguji antara math anxiety dan math self-efficacy, faktor mana yang lebih berpengaruh terhadap performa Matematika siswa kelas V SD, sehingga dapat menjadi dasar rancangan intervensi guna meningkatkan performa Matematika siswa. Partisipan terdiri dari 370 siswa/i kelas V di Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan diolah dengan pengujian multiple regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa math self-efficacy, daripada math anxiety, lebih berpengaruh terhadap performa Matematika siswa kelas V SD (R2= 0,360, F(2,367) = 103,052, p<0,00). Â Dengan demikian, intervensi untuk meningkatkan performa Matematika siswa kelas V SD akan lebih efektif jika berfokus pada math self-efficacy
Resiliensi Psikologis dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Hidup terkait Kesehatan pada Remaja di Panti Asuhan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resiliensi psikologis dan peranannya terhadap kualitas hidup terkait kesehatan pada remaja panti asuhan. Sampel dalam penelitian ini adalah 200 remaja panti asuhan yang dipilih dengan teknik convenience sampling dari 12 panti asuhan di Jakarta dan Bekasi. Penelitian yang dilakukan menggunakan adaptasi alat ukur resiliensi dan kualitas hidup terkait kesehatan. Hasil uji regresi menemukan bahwa resiliensi psikologis memiliki peran terhadap seluruh dimensi kualitas hidup terkait kesehatan. Resiliensi psikologis berperan sebesar 16,3% pada dimensi kesejahteraan fisik, 8,2% pada dimensi kesejahteraan psikologis, 8,1% pada dimensi hubungan orang tua dan otonomi, 5,0% pada dimensi dukungan sosial dan teman sebaya dan 5,5% pada dimensi lingkungan sekolah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk pembuatan program-program yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup terkait kesehatan pada remaja panti asuhan