ANALITIKA
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Komitmen Organisasi Ditinjau dari Keterlibatan Kerja Karyawan PT. Boenk Cosmetic Manufacture
Salah satu faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi adalah keterlibatan kerja. Faktor ini akan menentukan bagaimana peran karyawan dalam perusahaan menentukan komitmen untuk organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan kerja dengan komitmen organisasi. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara keterlibatan kerja dengan komitmen organisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Boenk Cosmetic Manufacture. Teknik sampling yang dipakai dalam penelitian adalah total sampling atau sampling jenuh dengan jumlah subjek sebanyak 106 orang karyawan PT. Boenk Cosmetic Manufacture. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah skala komitmen organisasi, skala keterlibatan kerja. Data penelitian yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis Product Moment Pearson dengan menggunakan program SPSS 21 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keterlibatan kerja terhadap komitmen organisasi (r = 0,696; p < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima, yaitu ada hubungan antara keterlibatan kerja terhadap komitmen organisasi
Efektivitas Pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying†untuk Meningkatkan Keterampilan Pembinaan Bullying pada Guru Sekolah Dasar
Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying†untuk meningkatkan keterampilan melakukan pembinaan terhadap peristiwa bullying pada guru sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuasi dengan desain one gorup pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 11 orang guru sekolah dasar di salah satu sekolah dasar di Kota Surabaya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tes pengetahuan bullying (koefisien reliabilitas alpha cronbach 0.71) dan pedoman observasi keterampilan pembinaan pelaku dan korban bullying (reliabilitas interobserver 0.89). Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata skor keterampilan pembinaan bullying yang signifikan sebelum (M=6.82) dan sesudah (M=16.45) diberikan pelatihan. Nilai perbedaan dapat dilihat berdasarkan nilai z=-2.953 dengan taraf signifikansi 0.003 < 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying†efektif untuk meningkatkan keterampilan melakukan pembinaan terhadap peristiwa bullying pada guru sekolah dasar
Peran Keluarga dalam Upaya Pencegahan Perilaku Seks Pranikah Remaja di Palembang
Seks pranikah pada remaja merupakan suatu fenomena yang semakin marak terjadi. Keluarga khususnya orangtua ikut berperan dalam upaya mencegah hubungan seksual pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran fungsi keluarga dalam upaya mencegah perilaku Seks Pranikah Remaja di Kota Palembang. Penelitian ini merupakan studi kausal kompartif. Subyek yang digunakan adalah siswa/siswi dari SMA dan SMK swasta X yang ada di kota Palembang. Jumlah subyek yang digunakan adalah 144 orang, subyek dipilih dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pada penelitian ini, alat ukur yang digunakan ada dua yaitu fungsi keluarga dan perilaku seksual. Pada penelitian ini, peneliti melakukan uji regresi dengan menggunakan simple regression dan menunjukkan nilai F hitung sebesar 0,001 dengan nilai p sebesar 0,971 > 0,05, artinya tidak terdapat peranan fungsi keluarga terhadap perilaku seksual pranikah remaja. Dengan demikian dapat sarankan agar diteliti lebih lanjut mengenai faktor lain yang berperan terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja.Â
Psikoedukasi Parenting untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu dalam Mengoptimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan
Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan program pemerintah Indonesia yang dibuat dalam rangka mempercepat perbaikan gizi agar tumbuh kembang anak lebih optimal. Puskesmas J di Surabaya telah melaksanakan program ini melalui Posyandu Balita D. Namun, pelaksanaannya belum disertai dengan psikoedukasi sehingga ibu kurang mendapat infomasi lengkap terkait pentingnya program 1000 HPK (ASI Eksklusif, imunisasi, dan gizi) dalam kehidupan anak. Salah satu faktor yang dapat mengoptimalkan program tersebut adalah pengetahuan ibu tentang parenting. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ibu dalam mengoptimalkan periode 1000 HPK sesudah dilakukan psikoedukasi parenting di Posyandu Balita D. Responden penelitian berjumlah 23 ibu balita dipilih melalui teknik purposive sampling. Desain penelitian menggunakan one group pretest-posttest. Pengumpulan data menggunakan kuesioner disusun oleh peneliti berdasarkan materi psikoedukasi. Hasil analisis data dengan Paired Sample T-Test menunjukkan signifikansi sebesar 0.000 (p<0.05) yang berarti ada peningkatan pengetahuan ibu dalam mengoptimalkan 1000 HPK setelah dilakukan psikoedukasi parenting di Posyandu Balita D. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi bagi Puskesmas J agar menerapkan psikoedukasi parenting di seluruh Posyandu Balita dalam wilayah kerjanya guna mendukung 1000 HPK.Â
Model Konseling Kelompok dengan Teknik Realitas Mengenai Gaya Hidup Hedonisme pada Mahasiswa
Fenomena gaya hidup hedonisme semakin marak dengan adanya tempat hiburan malam, dapat dilihat dari banyaknya remaja yang sering nongkrong di café, dan bahkan clubbing pada malam hari serta mencari kesenangan hidup dengan main diluar rumah serta membeli barang-barang mahal untuk memenuhi kesenangan. Gaya hidup hedonisme sangat berkaitan dengan pergaulan dan pemahaman tentang jati diri remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencegah gaya hidup hedonisme mahasiswa bimbingan konseling melalui model konseling kelompok dengan teknik realita. Sampel penelitian ini adalah 10 orang mahasiswa yang ditentukan secara purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket gaya hidup hedonisme. Dari hasil perhitungan diperoleh t_hitung= 40,9 sedangkan harga t_tabel dengan d.b = N-1 =10- 1 = 9 pada taraf nyata = 0,05 diperoleh sebesar 2,262. Sehingga t_hitung > t_tabel atau (40,9 > 2,262). Berdasarkan hal tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis penelitian ini model konseling kelompok dengan teknik realitas terhadap gaya hidup hedonisme mahasiswa BK UMN Al Washliyah Tahun Ajaran 2018/2019 dapat diterima dan berdampak positif terhadap perubahan gaya hidup hedonisme mahasiswa bimbingan konseling
Perilaku Agresi ditinjau dari Fanatisme pada Satuan Mahasiswa dan Mahasiswa Ikatan Pemuda Karya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fanatisme dengan agresivitas. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara fanatisme dengan agresivitas, dengan asumsi semakin tinggi fanatisme, maka semakin tinggi agresivitas dan sebaliknya semakin rendah fanatisme maka semakin rendah agresivitas. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggota Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) IPK di Universitas X yang berjumlah 90 orang. Data diperoleh dari skala untuk mengukur agresivitas dan fanatisme. Perhitungan dilakukan dengan melakukan uji prasyarat analisis (uji asumsi) yang terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Analisis data menggunakan korelasi Product Moment melalui bantuan SPSS 17 for Windows. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0.371 dan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05). Ini menunjukkan ada hubungan positif antara fanatisme dengan Agresivitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumbangan yang diberikan variabel fanatisme terhadap agresivitas sebesar 13.7 persen, selebihnya 86.3 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis penelitian ada hubungan positif antara fanatisme dengan agresivitas dapat diterima
Status Sosioekonomi dan Lingkungan Keluarga Pada Perilaku Altruistik Remaja Perkotaan
Perilaku altruistik adalah bentuk perilaku prososial yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis status sosial ekonomi dengan dua indikator berupa status sosial ekonomi objektif dan status sosial ekonomi subjektif dengan dimensi kelas sosial terhadap lingkungan keluarga, dan perilaku altruistik remaja perkotaan. Responden dalam penelitian ini adalah 71 remaja di wilayah Jakarta. Pengumpulan data menggunakan tiga instrumen; untuk variabel status sosial-ekonomi dikonstruk berdasarkan dua indikator, yaitu objektif dan subjektif, untuk variabel lingkungan keluarga yang dimodifikasi dari Family Environtment Scale, dan variabel perilaku altruistik yang diukur dengan Altruistic Personality Scale. Hasil analisis Partial Least Square menyatakan bahwa lingkungan keluarga mempengaruhi perilaku altruistik remaja perkotaan. Status sosioekonomi objektif tidak mempengaruhi perilaku altruistik. Sebaliknya, status sosioekonomi subjektif ditemukan berpengaruh terhadap perilaku altruistik remaja perkotaan
Kontribusi Stres Eksternal dari Gangguan Sehari-hari dan Stres Internal terhadap Resiliensi Keluarga Masyarakat Matrilineal Minangkabau
Penelitian ini menguji kontribusi stres eksternal dari gangguan sehari-hari dan stres internal terhadap pembentukan resiliensi keluarga pada keluarga matrilineal Minangkabau. Responden penelitian terdiri dari 110 isteri yang berasal dari Minangkabau dan menetap serumah dengan orang tua (isteri) setelah menikah yang diperoleh menggunakan teknik convenience sampling. Walsh Family Resilience Questionnaire adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi keluarga dan Multidimensional Stres Questionnaire for Couple digunakan untuk mengukur tingkat stres eksternal dari gangguan sehari-hari dan stres internal yang dirasakan responden. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis regersi sederhana dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan stres eksternal dari gangguan sehari-hari (t(108)=-2,79; p<0,05) dan stres internal (t(108)=-3,13; p<0,05) berkontribusi dalam pembentukan resiliensi keluarga secara negatif signifikan. Kedua stres ini secara bersama-sama juga berkontribusi secara signifikan dalam pembentukan resiliensi keluarga dengan F=5,617; p<0,05. Sehingga dapat disimpulkan stres eksternal dari gangguan sehari-hari dan stres internal merupakan faktor risiko dalam pembentukan resiliensi keluarga pada keluarga matrilineal Minangkabau
Perbedaan Antara Kecerdasan dan Kesadaran Moral Siswa SMA Sederajat ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jenis Sekolah
Stigma yang ada di masyarakat beranggapan bahwa siswa kejuruan (SMK) lebih sering melakukan tindakan pelanggaran moral daripada siswa sekolah umum (SMA/MA). Umumnya pelanggaran moral terjadi karena tingkat kesadaran moral dan kecerdasan moral siswa rendah. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan melihat (1) apakah ada perbedaan kesadaran moral siswa laki-laki dan perempuan, (2) apakah ada perbedaan kesadaran moral siswa kejuruan (SMK) dan siswa sekolah umum (SMA/MA), (3) apakah ada perbedaan kecerdasan moral siswa laki-laki dan perempuan, (4) apakah ada perbedaan kecerdasan moral siswa kejuruan (SMK) dan siswa sekolah umum (SMA/MA). Populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas X SMA/MA/SMK yang ada di Kabupaten Labuhanbatu yang berjumlah 46 sekolah dengan jumlah siswa adalah ± 6.128 siswa. Sedangkan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Random Sampling dan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga diperoleh jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 346 siswa. Alat pengumpul data menggunakan angket dan analisis data menggunakan uji parametrik yaitu Uji Independent Sample t test. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari empat hipotesis yang diajukan ada dua hipotesis yang diterima yaitu (1) kesadaran moral perempuan lebih tinggi daripada kesadaran moral laki-laki dengan nilai signifikansi < 0.05, (2) Terdapat perbedaan kesadaran moral antara siswa yang berasal dari sekolah umum (SMA/MA) dan sekolah kejuruan (SMK). (3) Tidak terdapat perbedaan kecerdasan moral antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. (4) tidak terdapat perbedaan kecerdasan moral antara siswa yang berasal dari sekolah umum (SMA/MA) dan sekolah kejuruan (SMK)
Loyalitas Pelanggan Maskapai Penerbangan Ditinjau dari Kualitas Layanan dan Emotional Branding
Adanya peningkatan jumlah penumpang pesawat memicu persaingan antar maskapai penerbangan dalam menciptakan dan mempertahankan loyalitas pelanggan. Loyalitas pelanggan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah kualitas layanan dan emotional branding. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk: (1) mengetahui adanya hubungan antara kualitas layanan dan emotional branding dengan loyalitas pelanggan; (2) mengetahui adanya hubungan antara kualitas layanan dengan loyalitas pelanggan; dan (3) mengetahui adanya hubungan antara emotional branding dengan loyalitas pelanggan maskapai penerbangan. Sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 69 orang yang dipilih berdasarkan simple random sampling. Adapun instrumen penelitian yang digunakan adalah skala loyalitas pelanggan, skala kualitas layanan, dan skala emotional branding. Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan, diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas layanan dan emotional branding dengan loyalitas pelanggan maskapai penerbangan (p=0,000; p<0,05). Tingkat hubungan antara ketiga variabel tersebut tergolong sedang (r=0,537) dengan sumbangan efektif sebesar 28,8%. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan secara parsial antara kualitas layanan dengan loyalitas pelanggan maskapai penerbangan (p=0,111; p>0,05) dan emotional branding dengan loyalitas pelanggan maskapai penerbangan (p=0,172; p>0,05). Dengan demikian, perusahaan perlu menyediakan layanan yang berkualitas dan emotional branding secara bersama-sama agar penumpang mendapatkan kepuasan secara fisik dan psikis