ANALITIKA
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KOMITMEN KERJA KARYAWAN PDAM TIRTANADI PROVINSI SUMATERA UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan natara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dengan komitmen kerja pada karyawan PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel purposive random sampling subjek. Subjek penelitian ini sebanyak 99 orang karyawan PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket komitmen kerja, kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi. Analisis data menjelaskan dan memperkaya hasil data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dengan komitmen kerha tang ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi (R²) = 0,982 artinya komitmen kerja karyawan diperngaruhi oleh gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi sebesar 98,2%, 2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional dengan komitmen kerja yang ditunjukkan melalui nilai koefisien regresi sebesar 0,274 artinya semakin baik gaya kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi komitmen kerja karyawan, 3) terdapat hubungan yang positif yang signifikan antara budaya organisasi dengan komitmen kerja yang ditunjukkan melalui nilai koefisien regresi sebesar 0,850 artinya semakin baik budaya organisasi maka semakin tinggi komitmen kerja para karyawan
STUDI BUDAYA PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTANADI PROVINSI SUMATERA UTARA
Dari 335 PDAM yang ada di Indonesia, hanya 80 PDAM yang sehat. Diantara PDAM yang sehat itu termasuklah PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara dan secara berturut – turut pada tahun 2005, 2006 dan 2007 ditetapkan sebagai penyelenggara air minum terbaik di Indonesia untuk kategori Kota Metropolitan oleh Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia. PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara memiliki teknik operasional yang baik dalam memberikan pelayanan “Tiga Tas Air†(Kuantitas, Kualitas dan Kontinuitas Air) kepada masyarakat pelanggan dan telah menciptakan budaya perusahaan yang kuat. Budaya perushaan yang tercipta itu pada periode tahun 2002 – 2010 adalah sistem manajemen mutu (ISO 9001:2000), penilaian kinerja yang baik (Aspek Keuangan, Aspek Operasional, Aspek Administrasi) dan Integritas pimpinan, staf dan karyawan yang cukup tinggi. Budaya perusahaan seperti ini belum tercipta pada periode sebelumnya yaitu tahun 1994 – 2002. Pada tahun 2009 ini diperkirakan seluruh kantor cabang pemasaran di wilayah zona I (Medan dan sekitarnya) sebanyak 13 kantor cabang akan memperoleh ISO 9001:2000. Nilai – nilai budaya perusahaan yang tercipta pada periode tahun 2002 – 2010 itu diperoleh prestasi dan penghargaan yang cukup banyak, dan pelayanan “Tiga Tas Air†menjadi lebih baik. Di samping itu, budaya gaya kepemimpinan pada periode tahun 2002 – 2010 adalah demokratis, dimana pemimpin bersedia menerima saran – saran dari bawahan dan selalu memberi kesempatan bawahan untuk berkonsultasi. Di samping itu, terjadi pula perubahan bentuk organisasi yang berorientasi kepada pelanggan (konsumen) dimana kepentingan pelanggan menjadi perhatian utama perusahaan
KARAKTERISTIK DAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI “ÚNDERACHIEVEMENTâ€
Di Indonesia belum ada definisi yang baku tentang underacievement. Umumnya di sekolah memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa yang underacievement. Underacievement pada dasarnya memiliki arti sama dengan prestasi kurang, walau[un nuansa underacievement lebih berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang. Seseorang dalam melakukan kegiatan banyak berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki. Kemampuan yang tinggi, kecenderungan prestasi seseorang juga akan tinggi pula. Beberapa simtom seseorang yang tergolong berprestasi di bawah kemampuan sebagaimana diidentifikasikan para guru dan orang tua, meliputi: “tidak pernah menyelesaikan pekerjaannya, kurang memiliki inisiatif akademik, fobia pada pengetesan atau bekerja pada area-area yang sulit, tidak mampu berfungsi sebagai anggota kelompok, mengalami masalah-masalah sosial atau maladaptasi, melakukan tindakan-tindakan karena rasa bersalah atau melakukan tindakan menyalahkan, depresi dan merasa takut gagalâ€. Hasil dari suatu penelitian ditemukan bahwa faktor kebutuhan berprestasi, harga diri, lokus kendali, kebiasaan mengajar, dukungan orang tua memliliki hubungan yang signifikan dengan munculnya underacievement ini. Di samping itu, faktor budaya sekolah (school culture) juga memilki kontribusi yang cukup besar terhadap munculnya underacievement
KEKELIRUAN WICARA PADA ANAK USIA DINI DAN RESPON LINGKUNGAN
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang bentuk – bentuk kekeliruan wicara (speech error) atau kilir lidah (tongue slips) pada anak, waktu dan kondisi munculnya kekeliruan serta respon lingkungan terhadap kekeliruan wicara. Penelitian kuantitatif ini dilakukan pada keluarga yang memiliki seorang anak yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi verbal namun anak mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa anak mengalami kesulitan berkomunikasi verbal dalam bentuk kekeliruan wicara dan terutama muncul pada saat anak tertekan secara emosional. Belum pernah dilakukan diagnosa oleh ahlinya apakah berkaitan dengan neurologis. Kekeliruan wicara menjadi berkembang karena respon lingkungan (orang tua, pengasuh dan orang disekitarnya) berlebihan yang akhirnya membuat anak semakin tertekan
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP GAYA KEPEMIMPINAN DENGAN DISIPLIN KERJA PADA KARYAWAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III MEDAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan dengan disiplin kerja, dimana penelitian ini dilakukan pada karyawan yang bekerja di PT. Perkebunan Nusantara III Medan. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan positif antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan dengan disiplin kerja. Artinya semakin positif persepsi terhadap gaya kepemimpinan, maka akan semakin tinggi pula kedisiplinannya dalam bekerja dan sebaliknya semakin negatif persepsi terhadap gaya kepemimpinan, maka semakin rendah pula kedisiplinannya bekerja. Dalam upaya untuk membuktikan hipotesis diatas, amaka digunakan metode analisis data Analisis Korelasi Product Moment dari Pearson. Berdasarkan analisis data, maka diperoleh hasil sebagai berikut: 1) terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan dengan disiplin kerja, dimana rxy = 0,351; p ˂ 0,010. Artinya semakin positif persepsi terhadap gaya kepemimpinan, maka disiplin kerja akan semakin meningkat. Sebaliknya semakin negatif persepsi terhadap gaya kepemimpinan, maka disiplin kerja akan semakin menurun. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka hipotesis yang diajukan dinyatakan diterima. 2) Koefisien determinan (r²) dari hubungan antara variabel bebas X dengan variabel terikat Y adalah sebesar r² = 0,123. Ini menunjukkan bahwa disiplin kerja dipengaruhi oleh persepsi terhadap gaya kepemimpinan 12,3 %
PENGARUH LINGKUNGAN SOSIALISASI TERHADAP MUNCULNYA PERILAKU PROSOSIAL ANAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dominan yang mempengaruhi munculnya motivasi perilaku prososial anak di lingkungan panti asuhan; dan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan mengenai motivasi perilaku prososial antara anak yang diasuh di lingkungan panti asuhan dengan anak yang diasuh di lingkungan keluarga. Penelitian dilakukan di lingkungan panti asuhan “Bait Allah†jl. Binjai KM. 7,5 Medan dan keluarga di lingkungannya, dengan mengambil sampel masing – masing 30 orang. Data diperoleh dengan menggunakan skala motif proposional. Kemudian datra dianalisis secara deskriptif dan uji X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Faktor yang lebih dominan mempengaruhi munculnya perilaku prososial pada anak yang diasuh di lingkungan panti asuan adalah didorong oleh dorongan hati atau dengan hati yang tulus (86,67%), sedangkan pada anak yang diasuh di lingkungan keluarga lebih dominan dipengaruhi oleh faktor situasi suatu kejadian (53,33%) atau jika tidak ada orang lain yang bersedia untuk menolong atau jika waktu mengijinkan, atau jika cuaca mendukung, ataupun jika pada situasi kejadian ada ornag yang jelas memintabantuanng, 2) terdapat perbedaan yang signifikan megenai motivasi perilaku prososial antara anak yang diasuk di lingkungan panti asuhan dengan anak yang diasuh di lingkungan eluarg adengan X hitung = 23,34 dan X hipotetik 5,99 pada α 0,05. Dengan demikian disimpulkan bahwa lingkungan sosialisasi anak berpengaruh terhadap munculnya motivasi perilaku prososial anak
STRES KERJA KARYAWAN RESTORAN SIAP SAJI DAN RESTORAN PADANG
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran stres kerja yang dialami oleh karyawan yang bekerja di restoran siap saji dan restoran padang, tingkat stres, faktor pemyebab stres, dampak stres, serta penanganan stres yang dilakukan. Secara berkala setiap karyawan restoran siap saji dirotasi ke setiap bagian dan diharuskan menguasai setiap pekerjaan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Demikian pula, di restoran padang baik dengan osstem penggajian maupun dengan bagi hasi;, setiap pelayan memiliki kewajiban untuk melakukan tugas – tugas sesuai peraturan yang diberlakukan oleh restoran. Tuntutan serta kondisi kerja yang dialami oleh karyawan tersebut ternyata dapat menimbulkan apa yang disebut dengan stres kerja. Stres kerja merupakan gejala yang dirasakan secara fisiologis dan psikologis. Stres yang dialami oleh karyawan daat berakibat penurunan kualitas hidup, gangguan kesehatan, masalah hubungan interpersonal, hingga menurunnya produktivitas yang juga akan diraskaan dampaknya oleh organisasi. Penelitian ini dilakukan kepada 4 orang responden yang merupakan karyawan restoran siap saji dan restoran padang serta mengalami stres kerja. Digunakan pula informan yaitu supervisor, sahabat, istri, pacar dan manajer. Teknik pengumpulan data adalah dengan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat responden mengalami gejala stres baik fisik maupun psikologis yang masuk dalam tingkat stres II. Stres yang dialami disebabkan oleh situasi kerja yang tidak nayaman dan kurang kondusif, hubungan kerja dengan rekan maupun atasan yang kurang harmonis dan tidak saling mengerti, adanya konflik peran karena tugas terlalu banyak dan ada masalah keluarga, pengembangan karir yang tidak jelas aturannya serta sistem penggajian yang dirasa kurang menguntungkan. Dampak stres yang dialami adalah keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit punggung, gangguan tidur, gangguan psikologis seperti merasa tidak berdaya, pesimis, serta gejala prilaku seperti mudah marah, penurunan produktivitas seperti pekerjaan yang terbengkalai dan kecepatan kerja berkurang. Namun, ada seorang responden yang justru semakin produktif akibat stres yang dialami. Sedangkan penanganan stres yang dilakukan dengan mencari bantuan dan melakukan penyegaran
HUBUNGAN PERSEPSI TENTANG FASILITAS DAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PELANGGAN PADA RUMAH SAKIT SARAH MEDAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang hubungan persepsi tentang fasilitas dengan kepuasan pelanggan di Rumah Sakit Sarah Medan, hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan pelanggan dan hubungan persepsi tenang fasiltas dan kualitas pelayanan secara bersama – sama dengan kepuasan pelanggan di Rumah Sakit Sarah Medan. Populasi penelitian adalah pasien sebagai pelanggan Rumah Sakit Sarah Medan. Teknik pengambian sampel dengan cara purpsoive sampling. Besarnya sampel penelitian yang diambil dari populasi sebanyak 60 orang pasien yang mendapatkan pelayanan operasi. Data penelitian ini dianalisis dengan dua tahap yaitu uji persyaratan dan pengujian hipotesis. Selanjutnya seluruh data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis korelasional untuk melihat hubungan antar variabel dan menggunakan statistik analisis regresi yaitu regresi ganda. Berdasarkan hasil analisis dengan metode regresi berganda didapatkan main effect dan interaction effect. Untuk interaction effect  didapatkan hubungan signifikan positif antara persepsi terhadap fasilitas, kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan, dimana koefisien R = 0,640 ; dengan p = 0.00 berarti p ˂ 0.01. koefisien determinan (r²) dari hubungan antara prediktor persepsi tentang fasilitas, kualitas pelayanan dengan variabel terikat kepuasan pelanggan adalag sebesar r² = 0,410. Ini menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan dibentuk oleh persepsi terhadap fasilitas dan kualitas layanan sebesar 41,0%. Hasil main effect dari kedua predictor menunjukkan vagwa ada hubungan signifikan positif antara persepsi terhadap fasilitas dengan kepuasan pelanggan, dimana koefisien rxly = 0.553 dengan p = 0.00. hal ini berarti semakin positif persepsi terhadap fasilitas maka semakin tinggi kepuasan pelanggan dan ada hubungan signifikan positif antara kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan, dimana koefisien rx2y = 0.476 dengan p = 0.00. dengan demikian dapat dikatakan semakin tinggi kualitas layanan maka semakin tinggi kepuasan pelanggan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap fasilitas dan kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan. Hasil ini dibuktikan dengan koefisien korelasi rxy = 0,640 ; p ˂ 0,010. Artinya semakin positif persepsi terhadap fasilitas dan kualitas layanan, maka kepuasan pelanggan akan semakin meningkta. Dengan demikian hipotesis tang telah diajukan dalam penelitia ini, dinyatakn diterima. Demikian juga untuk main efek dari masing-masing variabel bebasnya, dimana ada hubungan yang signifikan positif antara persepsi tentang fasilitas dengan kepuasan pelanggan, dibuktikan dengan koefisien korelasi sebesar 0.553, dengan harga p = 0.000, hipotesis diterima berarti semakin positif persepsi terhadap fasilitas maka semakin meningkat kepuasan pelanggan. Untuk variabel kualitas layana juga terjadi gal yang sama, didapatkan harga koefisien korelasi sebesar 0.476 , dan harga p sebesar 0.000, maka dapat disimpulkan hipotesis diterima berarti semakin tinggi kualitas layaan, maka semakin meninggat kepuasan pelanggan