ANALITIKA
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Efektivitas Pelatihan Regulasi Emosi untuk Menurunkan Perilaku Bullying pada Siswa SMP
Undang-Undang No. 20 Thn. 2003 Bab V pasal 12 ayat 2 menjelaskan setiap peserta didik diwajibkan menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan. Sebanyak 83% pelajar Surabaya mengetahui adanya perilaku bullying. Regulasi emosi merupakan suatu kemampuan untuk tenang dan fokus dalam mengevaluasi reaksi emosional. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Desain penelitian yang dilakukan adalah one group pretest-posttest design. Subjek dipilih dengan cara purposive sampling. Subjek yang terlibat yakni 28 orang siswa kelas IX B SMPN ABC Surabaya. Subjek menjalani 7 sesi ditambah prasesi pelatihan yang dilaksanakan selama 2 hari. Data yang terkumpul dianalisis dengan paired sample t-test dan effect size. Hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi efektif dan memberikan efek yang besar untuk menurunkan perilaku bullying pada siswa kelas IX B SMP ABC Surabaya
Pengaruh Beban Kerja Berlebih terhadap Konflik Kerja Keluarga dan Tuntutan Keluarga sebagai Variabel Moderator
Pekerjaan dan keluarga merupakan dua aspek yang memiliki peran penting didalam kehidupan individu, namun sering ditemukan konflik diantara kedua aspek tersebut, sehingga diperlukan keseimbangan dalam melakukan kedua peran tersebut dalam waktu yang bersamaan. Ketika keseimbangan itu tercapai akan membuat tingkat terjadinya konflik kerja keluarga berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh beban kerja berlebih terhadap konflik kerja keluarga, serta untuk menguji apakah tuntutan keluarga dapat memoderasi pengaruh beban kerja berlebih terhadap konflik kerja keluarga. Penelitian ini dilakukan pada 136 orang karyawan di Kota Surabaya, menggunakan metode kuantitatif., teknik pengumpulan data menggunakan survey. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Moderated Regression Analysis, yang digunakan untuk melihat ada atau tidaknya efek moderasi yang dihasilkan oleh variabel tuntutan keluarga. Dalam penelitian ini tuntutan keluarga ditemukan dapat memoderasi pengaruh beban kerja berlebih terhadap work-family conflict
Perilaku Cyberbullying Remaja di Media Sosial
Cyberbullying adalah tindakan negatif yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu dengan cara mengirimkan pesan teks, foto, gambar meme, dan video ke akun media sosial seseorang dengan tujuan untuk menyindir, menghina, melecehkan, mendiskriminasi bahkan mempersekusi individu. Berdasarkan hasil data statistik, sebagian besar pelaku cyberbullying didominasi adalah remaja. Urgensi penelitian ini adalah cyberbullying merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia dan telah menjadi gejala umum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data seperti pengamatan atau observasi, studi dokumentasi, serta pengumpulan informasi audio visual. Analisis data dilakukan dengan teknik penarikan kesimpulan melalui kategorisasi, sintesis, penafsiran dan evaluasi yang menghasilkan makna deskriptif. Ringkasan hasil penelitian menunjukkan bahwa motif para remaja melakukan tindakan cyberbullying adalah: ketidaksukaan terhadap person atau pribadi seseorang, bermaksud menyindir dengan kalimat-kalimat negatif yang kurang etis dan kasar, bertujuan untuk menghibur agar para user atau pengguna internet dapat tertawa, perasaan dengki dan hasud yang menimpa diri remaja, dan merasa bahwa dirinya lebih baik dan berkualitas dibanding orang lain sehingga beranggapan bahwa tindakan cyberbullying adalah hal yang wajar. Penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi pengembangan ilmu psikologi dan konseling, khususnya pada pengembangan kognitif remaja serta pencegahan dan treatment yang harus dilakukan
Pengaruh Stres Kerja terhadap Cyberloafing dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Moderator pada Karyawan di Surabaya
Menghabiskan waktu kerja menggunakan internet yang tidak ada kaitanya dengan pekerjaan merupakan perhatian utama bagi perusahaan. Penggunaan internet yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saat jam kerja berlangsung disebut dengan cyberloafing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kepuasan kerja dapat memoderasi pengaruh stres kerja terhadap cyberloafing pada karyawan di Surabaya. Penelitian ini bertipe penelitian kuantitatif dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 174 responden yang tersebar di Surabaya. Alat pengumpulan data berupa general work stress scale, job satisfaction survey, dan skala cyberloafing. Analisis data dilakukan dengan teknik Moderated Regression Analysis. Hasil penelitian menunjukan bahwa stres kerja berpengaruh langsung terhadap cyberloafing. Sedangkan kepuasan kerja tidak memoderasi pengaruh stres kerja terhadap cyberloafing
Teknik Cognitive Behavioral Therapy untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Mahasiswa
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada mahasiswa dengan menggunakan teknik cognitive behavioral therapy. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pretest-posttest control group desaign dengan tindak lanjut. Responden dalam penelitian ini adah 12 (duabelas) mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari skala Achievemnt Motivation Inventory (AMI) Schuler. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji beda nonparametrik Mann-Whitney Test untuk membandingkan skor antara kelompok yang diberikan teknik cognitive behavioral therapy dan kelompok yang tidak diberikan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan skor motivasi berprestasi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen setelah diberikan teknik cognitive behavioral therapy. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik cognitive behavioral therapy efektif untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada mahasiswa.Â
Menguji Konsistensi Korelasi Work Engagement dengan Intensi Turnover: Studi Meta-Analisis
Intensi turnover dipengaruhi oleh berbagai faktor. Banyak penelitian yang mengungkap dan menguji anteseden munculnya intensi turnover. Chang, et al. (2013) mereview lebih dari 20 studi tentang intensi turnover dan menemukan variabel keterlibatan kerja merupakan variabel yang paling sering diteliti dalam kaitannya dengan intensi turnover.Penelitian ini menguji korelasi antara Work Engagement dan intensi turnover yang diperoleh dari berbagai penelitian pada 2013-2017 menggunakan metode meta-analisis. Sampel yang digunakan terdiri dari 14 jurnal penelitian yang diambil dari database online. Analisis dilakukan dengan menggunakan dua artefak, koreksi pengambilan sampel kesalahan dan pengukuran kesalahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara Work Engagement dan intensi turnover pada artefak 1 adalah -0,25 dan pada artefak ke-2 adalah -0,27. Hasil ini membawa implikasi pada tataran praktek bahwa keterlibatan kerja adalah variabel yang sangat menentukan intensi turnover
Self-Compassion, Grit dan Adiksi Internet pada Generasi Z
Pemakaian internet tidak lagi menjadi suatu komoditas yang langka. Sebaliknya, yang tidak menggunakan internet akan jauh tertinggal dan tidak akan mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Disisi lain, penggunaan internet secara berlebihan akan menimbulkan masalah yang lebih besar seperti kecanduan. Generasi yang paling terdampak perkembangan teknologi informasi yang pesat adalah generasi Z. Generasi Z lahir tahun 1995-2009 sehingga masuk ke dalam kategori remaja awal sampai dengan akhir di tahun 2020. Adiksi terhadap internet dapat memberikan dampak negatif berupa masalah psikologis maupun sosial pada diri remaja. Contoh masalah tersebut antara lain rasa kesepian, depresi hingga penurunan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh self-compassion dan grit terhadap adiksi internet pada generasi Z. Metode penelitian kuantitatif dengan skala jenis likert akan digunakan. Subjek penelitian melibatkan 318 individu yang termasuk dalam usia generasi Z dengan teknik purposive sampling. Hasil akhir menunjukan bahwa self-compassion dan grit berpengaruh secara signifikan (p<0.01) terhadap adiksi internet generasi Z sebesar 20.8%. Secara terpisah, grit berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 17% sedangkan self-compassion berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 18%. Penjelasan mengenai dinamika hubungan diantara ketiga variabel dijelaskan dalam pembahasan
Minat Kerja, Profesionalisme Konsel dan Kepuasan Kerja Konselor di LPT Grahita Indonesia di Banten
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ataupun korelasi antara minat kerja terhadap kepuasan kerja konselor serta untuk mengetahui hubungan profesionalisme terhadap kepuasan kerja konselor di LPT Grahita Indonesia di Banten. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah konselor LPT Grahita Indonesia di Banten yang berjumlah 50 orang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi pearson. Hasil dalam penelitian ini menyatakan bahwa variabel minat kerja memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja konselor di LPT Grahita Indonesia di Banten, begitu pula dengan variabel profesionalisme yang juga memiliki korelasi terhadap kepuasan kerja konselor di LPT Grahita Indonesia di Banten. Bila minat kerja semakin tinggi maka kepuasan kerja konselor juga semakin tinggi. Begitu juga dengan variabel profesionalisme, dimana semakin tinggi profesionalisme maka akan semakin tinggi pula kepuasan kerja konselor. Berdasarkan perbandingan mean empirik dan mean hipotetik, diketahui bahwa minat kerja dan profesionalisme konselor berada dalam kategori sedang sehingga kepuasan kerja konselor pun berada di kategori sedang
Kontribusi Identitas Budaya Jawa yang Dimediasi oleh Cognitive Reappraisal dalam Membentuk Resiliensi Keluarga pada Keluarga Suku Jawa
Penelitian ini mencoba menggali faktor protektif resiliensi keluarga dari hal yang paling dekat dengan kehidupan individu, yaitu budaya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah identitas budaya Jawa berkontribusi pada internalisasi cognitive reappraisal dalam membentuk resiliensi keluarga pada keluarga suku Jawa. Responden penelitian terdiri dari 317 orang tua, bersuku Jawa, laki-laki (35%) dan perempuan (65%), berusia 25-63 tahun (M= 44, SD=7.1) yang diperoleh melalui tehnik convenience sampling. Pengambilan data dilakukan dengan metode survey menggunakan tiga alat ukur, yaitu Walsh Family Resilience Questionare (α= 0.917), Dimensi cognitive reappraisal dari Emotion regulation Questionnaire (α= 0.793), dan Alat Ukur Identitas Budaya Jawa (α=0.818). Analisis regresi dan uji mediasi dilakukan dengan bantuan PROCESS di SPSS. Hasil penelitian melaporkan bahwa identitas budaya Jawa berkontribusi membentuk cognitive reappraisal (R2= 0.050; β= 0.229; p<0.001). Cognitive reapraissal juga dilaporkan berkontribusi membentuk resiliensi keluarga (R2= 0.076; β=0.281; p<0.001), namun perannya sebagai mediator tidak terkonfirmasi karena efek kontribusinya tidak cukup besar dibandingkan jika identitas budaya Jawa berkontribusi langsung pada resiliensi keluarga (coeff jalur a*b= 0.0569; p<0.001; coeff jalur c’= 0.9369; p<0.001)
Coping Stress ditinjau dari Character Strength pada Klien di Loka Rehabilitasi BNN Deli Serdang
Pasien yang berada di rehabilitasi narkoba sering merasa tertekan secara mental. Pemikiran yang seperti itu merujuk pada keadaan di mana para pecandu narkoba melakukan self-blame, karena itu penting bagi para pasien untuk mengatasi tekanan tersebut atau yang di namakan coping stress. Untuk merealisasi hal tersebut, diperlukan sikap positif yang terefleksikan dalam pikiran, perasaan dan tingkah laku pasein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara character strength dengan coping stress. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien di Loka Rehabilitasi BNN Deli Serdang, sebanyak 151 orang. Data diperoleh dari skala untuk mengukur character strength dan coping stress. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan korelasi product moment melalui bantuan SPSS 17 for windows. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi sebesar r = 0,781 dan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05). Ini menunjukkan ada hubungan positif antara character strength dengan coping stress. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumbangan yang diberikan variabel character strength terhadap coping stress sebesar 61,1 persen, selebihnya 38,9 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu ada hubungan positif antara character strength dengan coping stress