BERKALA SAINSTEK
Not a member yet
    254 research outputs found

    Prevalensi Buta Warna Siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Jember

    Get PDF
    Buta warna merupakan kelainan genetis yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna seperti warna merah, biru, dan hijau. Buta warna merah-hijau merupakan salah satu tipe buta warna yang paling sering terjadi. Kelainan ini disebabkan oleh alel resesif c (color blind) yang terangkai pada kromosom X. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi buta warna siswa SMA di Kota Jember. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI SMAN di Kota Jember yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, dan SMAN 5 dengan pengambilan sampel secara acak sebanyak 353 siswa. Tes buta warna pada siswa menggunakan buku Ishihara. Analisis data dilakukan untuk mengetahui prevalensi buta warna, frekuensi alel, dan untuk menguji hukum kesetimbangan genetik Hardy-Weinberg menggunakan uji Chi-Square pada taraf signifikasi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa prevalensi buta warna siswa SMA di Kota Jember adalah 3,68%, dengan frekuensi alel buta warna 0,09 dan alel normalnya adalah 0,91. Hasil pengujian kesetimbangan genetik Hardy-Weinberg menunjukkan nilai Chi-Square 1,74 pada derajat bebas = 3, dengan nilai probabilitas antara 0,80 dan 0,50 yang menujukkan tidak ada penyimpangan yang signifikan. Kesimpulannya adalah frekuensi genotip dan frekuensi alel buta warna pada siswa SMA di Kota Jember sesuai dengan hukum kesetimbangan genetik Hardy-Weinberg

    Akurasi Perhitungan Bakteri pada Daging Sapi Menggunakan Metode Hitung Cawan

    Get PDF
    Daging sapi merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan termasuk media yang baik bagi pertembuhan mikroorganisme seperti bakteri. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada daging sapi yaitu metode hitung cawan. Beberapa cara yang dapat dilakukan pada metode hitung cawan yaitu metode pour plate, spread plate, dan drop plate. Penggunaan cara hitung cawan yang berbeda seta larutan pengencer yang berbeda menyebabkan hasil perhitungan yang berbeda juga. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan cara preparasi sampel serta larutan pengencer yang digunakan terhadap hasil hitung cawan bakteri pada sampel daging sapi. Metode hitung cawan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pour plate, spread plate, dan drop plate dengan 3 jenis pelarut yaitu akuades steril, garam fisiologis 0,85% dan larutan Buffer Peptone Water (BPW) yang ditambahkan 1,25% Na Sitrat.Berdasarkan hasil penelitiandiketahui bahwa cara preparasi sampel daging sapi yang lebih efisien yaitu dengan cara dihaluskan ditunjukkan dengan hasil hitung cawan yaitu 106 CFU/gram dan hasil hitung tidak bervariasi dibandingkan daging sapi yang dipotong (105 CFU/gram) dengan hasil hitung yang bervariasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan cara preparasi sampel yang berbeda berpengaruh pada hasil perhitungan jumlah koloni disetiap metode hitung cawan. Larutan buffer peptone water dan garam fisiologis 0,85% merupakan larutan pengencer yang lebih baik dibandingkan dengan larutan akuades. Hal ini ditunjukkan dengan hasil hitung yang tidak bervariasi disetiap metode hitung cawan yang digunakan. Berdasarkan hasil hitung yang didapatkan, larutan buffer peptone water menghasilkan hasil perhitungan jumlah koloni terbesar

    Modifikasi Kitin Hasil Isolasi Autolisis Dari Limbah Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Dengan Anhidrida Maleat

    Get PDF
    Limbah udang banyak mengandung protein, mineral dan kitin sehingga dapat dijadikan sebagai sumber kitin. Kitin pada limbah udang dapat diisolasi secara kimiawi dan enzimatis. Isolasi secara kimiawi memberikan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan karena penggunaan bahan-bahan kimia untuk mengisolasi kitin tersebut akan menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu isolasi kitin dilakukan secara enzimatis autolisis untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dengan menggunakan enzim protease yang terdapat dalam limbah udang itu sendiri dengan cara di-blender dan diinkubasi selama 10 hari pada pH 2 menggunakan asam fosfat. Kitin hasil isolasi mengandung kadar N 6,6 % pada hari terakhir inkubasi. Kitin yang diperoleh diturunkan menjadi kitin maleat dengan memanaskan kitin dan anhidrida maleat pada fase padat pada suhu 120o C dalam waktu 3,5 jam. Modifikasi kitin menjadi kitin maleat digunakan untuk meningkatkan sifat hidrofilistas kitin. Karakterisasi FTIR dari kitin yang dimodifikasi dengan anhidrida maleat menunjukkan terbentuknya gugus fungsi baru yaitu ikatan ester yang ditunjukkan oleh vibrasi dari –C=O ester pada bilangan gelombang 1712 cm-1. Uji peningkatan hidrofilisitas dilakukan melaui uji daya serap air untuk mengetahui kemampuan kitin maleat dalam menyerap air. Kitin mempunyai daya serap air 0,97g/g sedangkan kitin maleat yaitu 2,78g/g. Gugus karboksilat (-COOH) yang terikat pada kitin maleat yang menyebabkan meningkatnya kemampuan daya serap air kitin maleat karena adanya gugus karboksilat (-COOH) yang bersifat hidrofilik

    Tingkat Pencemaran Udara di Desa Silo dan Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember dengan Menggunakan Lichen Sebagai Bioindikator

    Get PDF
    Polusi udara dapat menurunkan kualitas lingkungan yang berdampak pada masalah kesehatan. Sumber utama yang menyebabkan masalah tersebut adalah terganggunya gas atmosfer yang berasal dari kendaraan roda empat, kendaraan roda dua, dan gas buang industri. Salah satu upaya monitoring kualitas udara adalah dengan menggunakan lichen. Lichen seringkali dijadikan indikator kualitas udara, karena organisme ini mempunyai sifat akumulator dan sangat adaptif terhadap perubahan lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan tingkat pencemaran udara di Desa Silo dan Pace. Kecamatan Silo. Metode sampling yang digunakan adalah dengan mengambil sampel lichen menggunakan plot-plot yang diletakkan secara vertikal pada pohon di tiga stasiun berbeda pada waktu yang hampir bersamaan. Tiga stasiun tersebut berada di Desa Silo, Pace, dan perkebunan Pace. Data yang didapat berupa nama jenis, jumlah koloni dan luas penutupan lichen untuk menentukan nilai IAP (Index of Atmospheric Purify). Hasil dari perhitungan IAP menunjukkan bahwa tingkat pencemaran udara di Desa Silo lebih tinggi daripada di Desa Pace dan perkebunan Pace. Hal ini dikarenakan Desa Silo memiliki nilai IAP yang lebih rendah (10,58) dibandingkan dengan di dua stasiun lainnya (nilai IAP 30,84 dan 81,28). Tingginya pencemaran udara tersebut disebabkan oleh tingginya volume kendaraan bermotor yang melewati jalan di Desa Silo (2.530 smp/jam/lajur)

    Optimalisasi Adsorpsi Zat Warna Rhodamin B Pada Hemiselulosa Dalam Sistem Dinamis

    Get PDF
    Hemiselulosa digunakan sebagai adsorben alternatif untuk adsorpsi Rhodamin B. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kapasitas adsorpsi hemiselulosa terhadap rhodamin B dengan optimasi massa adsorben dan pH larutan. Kapasitas adsorpsi hemiselulosa ditentukan dengan sistem dinamis dengan kecepatan 0,08 mL/menit melalui kolom berdiameter internal 8 mm dan menggunakan persamaan Thomas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya zat warna Rhodamin B yang teradsorpsi pada adsorben hemiselulosa mengalami peningkatan dengan bertambahnya massa adsorben. Adsorben hemiselulosa dapat menyerap zat warna Rhodamin B paling baik pada massa adsorben 0,5 gram dan pH larutan 7,34, dengan kapasitas adsorben hemiselulosa sebesar 0,047 mg/g

    Rancang Bangun Indoor Positioning System berbasis Wireless Smartphone menggunakan Teknik Global Positioning System dengan Metode Absolut

    Get PDF
    Indoor Positioning System (IPS) merupakan teknologi informasi untuk menentukan posisi objek di dalam ruangan berbasis wireless smartphone. Perangkat yang digunakan dalam penelitian ini adalah empat unit smartphone, satu smartphone sebagai transmitter, dan tiga smartphone lainnya sebagai receiver. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan model dan tingkat akurasi dari IPS berbasis wireless smartphone menggunakan teknik Global Positioning System (GPS) dengan metode absolut. Penelitian ini dilakukan dengan membuat dua model IPS dan melakukan pengukuran intensitas sinyal Wi-Fi berdasarkan masing-masing model IPS yang telah dibuat untuk mendapatkan persamaan linier antara jarak dan intensitas sinyal Wi-Fi. Persamaan linier yang didapatkan dari model IPS digunakan untuk menentukan jarak antara receiver dan transmitter berdasarkan intensitas sinyal Wi-Fi yang terukur pada saat pengujian model, kemudian informasi jarak tersebut digunakan untuk menentukan posisi objek (transmitter). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model 1 IPS berbasis wireless smartphone mampu mengestimasi posisi dengan rata-rata tingkat kesalahan mencapai 4,46 m dan tingkat akurasinya mencapai 76,51%. Model 2 IPS mampu mengestimasi posisi dengan rata-rata tingkat kesalahan 9,68 m dengan tingkat akurasinya mencapai 49,03%. Berdsarakan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model 1 IPS memiliki tingkat akurasi yang lebih baik untuk mengestimasi posisi objek daripada model 2 IPS. Kata Kunci: Global positioning system (GPS), indoor positioning system (IPS), wireless smartphone

    Pola Sidik Jari Tangan dan Ciri Fisik Penderita Sindrom Down di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Jember

    Get PDF
    Sindrom down merupakan kelainan akibat penambahan jumlah kromosom tubuh nomor 21 sehingga mempengaruhi ciri fisik, pola dan jumlah sulur ujung jari tangan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ciri fisik, pola sidik jari dan jumlah sulur penderita sindrom down. Pengambilan sampel dilakukan di SLB Kota Jember, data ciri fisik didokumentasikan, dideskripsikan dan dianalisis dengan Uji Wilcoxon untuk mengetahui signifikansi perbedaan dengan orang normal. Pola dan jumlah sulur dilakukan perekaman dengan menempelkan ujung jari pada bantalan tinta selanjutnya ditempelkan pada kertas HVS. Selanjutnya ditentukan pola sidik jari dan dihitung jumlah sulurnya. Jumlah sulur selanjutnya diuji Independent Sampel T-Test untuk mengetahui perbedaan dengan orang normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri fisik siswa SLB Kota Jember mempunyai perbedaan yang signifikan dengan orang normal meliputi hidung pesek, mulut kecil dan cenderung membuka, jari tangan pendek. Ketiga parameter tersebut pada Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang normal. Karakter lain yaitu mata sipit dan membujur keatas serta terdapat lipatan mata (epikantus), ujung lidah yang melebar, telapak tangan siswa umumnya mempunyai garis simian, jari kelingking yang bengkok, serta pada jari kaki pertama dan kedua mempunyai jarak lebar. Pola sidik jari siswa adalah loop ulnar (84,17%) dengan jumlah sulur rata-rata 145,59 sulur, lebih banyak dari orang normal. Hasil uji Independent Sampel T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara siswa penderi sindrom down dengan orang norma

    Variasi Penambahan CTABr Sebagai Template Terhadap Pembentukan TiO2 Anatase Dari Senyawa Natrium Titanat dan Aplikasinya Sebagai Fotokatalis

    Get PDF
    TiO2 anatase mesopori (ukuran pori 2-50 nm) memiliki aktivitas fotokatalitik yang besar. Metode sintesis kimia padat dapat digunakan sebagai alternatif untuk memperoleh TiO2 anatase dari natrium titanat dengan menggunakan prekursor yang murah berupaTiO2 rutile komersial. Surfaktan CTABr (Cetyltrimethylammonium Bromide) mampu menghasilkan TiO2 anatase mesopori dengan kemampuannya sebagai template atau agen pembentuk pori. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi penambahan CTABr terhadap distribusi ukuran pori, volume total pori, luas permukaan TiO2 dan dan aktivitas fotokatalitik TiO2 hasil sintetis. Sintesis dilakukan menggunakan metode reaksi kimia padat dengan penambahan variasi perbandingan mol CTABr dan tanpa penambahan CTABr sebagai pembanding. Karakterisasi menggunakan XRD (X- Ray Powder Difraction), SEM (Scanning Electron Microscopy) dan Gas Sorption Analyer (GSA) untuk mengetahui struktur, morfologi dan sifat pori TiO2. TiO2 anatase mesopori hasil sintesis diaplikasikan sebagai fotokatalis dalam mendegradasi metilen biru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TiO2 anatase mesopori berhasil didapatkan dengan morfologi partikelnya berbentuk seperti balok, sisi tidak seragam serta ukuran partikel berkisar 200-500 nm. Variasi penambahan CTABr tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap distribusi ukuran pori, volume total pori, luas permukaan dan aktivitas fotokatalitik dari TiO2 anatase mesopori, dengan hasil distribusi pori mayoritas pada 2 nm dan aktivitas fotokatalitik sekitar 77

    Hidrolis Kulit Buah Kopi Oleh Kapang Pestalotiopsis sp. VM 9 Serta Pemanfaatan Hidrolisatnya Sebagai Medium Produksi Protein Sel Tunggal Saccharomyces cerevisiae

    Get PDF
    Hidrolisis limbah kulit buah kopi oleh enzim ekstraseluler Pestalotiopsis sp. VM 9 telah dilakukan. Hasil hidrolisis menunjukkan bahwa dalam hidrolisat mengandung gula reduksi 392,35μg/ml setelah masa inkubasi hari ke-6. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa hidrolisat dapat digunakan sebagai medium pertumbuhan Protein Sel Tunggal (PST) S. cerevisiae dengan tingkat pertumbuhan hingga mencapai kepadatan sel 8,5x10 6 sel/ml selama 72 jam kultivasi. Selama pertumbuhannya S. cerevisiae terbukti mengkonsumsi sumber karbon dari gula reduksi sebanyak 211,91 μg/ml

    Identifikasi Litologi Situs Klanceng Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas 1D

    Get PDF
    Situs Klanceng merupakan bagian dari 5 situs yang berada di Desa Kamal Kecamatan Arjasa Jember. Di wilayah Situs klanceng banyak terdapat peninggalan berupa batuan megalitikum yang terbuat dari batuan andesit. Selain yang sudah dilokalisir, banyak artefak berupa batuan andesit yang tersebar, baik nampak berupa singkapan maupun yang masih terpendan. Berdasarkan singkapan artefak, maka dilakukan penelitian identifikasi litologi Situs Klanceng menggunakan metode geolistrik resistivitas 1D konfigurasi Schlumberger. Penelitian ini dilakukan di 3 lintasan yang berbeda dengan panjang lintasan 50 m. Hasil penelitian pada lintasan 1 batuan andesit berada pada kedalaman (1,64- 17) m dengan nilai resistivitas sebesar (107,4-157,6) Ωm. Pada lintasan 2 batuan andesit berada pada kedalaman (0,75-4,41) m dengan nilai resistivitas (120-1539) Ωm. Pada lintasan 3, batuan andesit berada pada kedalaman (0,00- 1,04) m dengan nilai resistivitas (85,3-270) Ωm, dan pada kedalaman (4,71-7,67) m dengan nilai resistivitas 308 Ωm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada ketiga lintasan yang diteliti, terdapat batu andesit yang diduga merupakan bagian dari artefak peninggalan zaman megalitikum pada Situs Klanceng

    204

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    BERKALA SAINSTEK
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇