Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
99 research outputs found
Sort by
Pengaruh kemandirian belajar (self regulated learning) terhadap hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah struktur aljabar
Berbagai faktor mempengaruhi hasil pencapaian suatu proses pembelajaran, baik secara internal maupun secara eksternal. Pentingnya mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran menjadi modal penting dalam menentukan langkah-langkah dan strategi yang diambil untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemandirian dalam belajar berarti siswa memiliki kesadaran sendiri untuk belajar, mampu menentukan sendiri langkah-langkah yang harus diambil dalam belajar, mampu memperoleh sumber belajar sendiri, dan melakukan kegiatan evaluasi diri serta refleksi atas kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh kemandirian belajar (self regulated learning) terhadap hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah struktur aljabar semester genap tahun akademik 2015/2016. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu angket dan tes. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier sederhana setelah sebelumnya dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas dan uji linearitas. Analisis data dilakukan dengan bantuan software SPSS 16.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil belajar mahasiswa
Profil berpikir reflektif siswa dalam menyelesaikan soal tipe-tipe perkalian ditinjau dari perbedaan kemampuan matematika dan gender
Reflective thinking is concerned with the ability to review, monitor, and monitor the solution process when troubleshooting. This qualitative research aims to describe the reflective thinking ability of junior high school student in solving the problem of scalar multiplication type, array multiplication and combinatorial multiplication based on different ability of math and gender. The subjects consisted of 3 male students and 3 female students of grade VII SMP who each had high, medium and low math skills. The result show taht male and female students with high math skills have reflective thinking skills for all type of questions. Student with math skills are capable of reflective thinking for scalar multiplication types and reflective enough in combinatorial multiplication types. Male students with low math skills tend to be less reflective on all types of questions and female students have reflective thinking skills on all types have reflective. It was also ound that male students tend to be able to use ilustrations, for example with pictures whereas female students tend to solve problems on a regular basis for example by writing known, questioned, and answered. These results are expected to help teachers and researchers to understand the level of reflective thinking of students on the type of multiplication in terms of differences in mathematical ability and gender.Berpikir reflektif berhubungan dengan kemampuan untuk mereview, memantau dan memonitor proses solusi pada saat melakukan pemecahan masalah. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir reflektif siswa SMP dalam menyelesaikan soal cerita tipe scalar multiplication, array multiplication dan combinatorial multiplication berdasarkan perbedaan kemampuan matematika dan gender. Subjek terdiri atas 3 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan kelas VII SMP yang masing-masing memiliki kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki dan perempuan berkemampuan matematika tinggi memiliki kemampuan berpikir reflektif untuk semua tipe soal. Siswa berkemampuan matematika sedang memiliki kemampuan berpikir reflektif untuk tipe scalar multiplication dan cukup reflektif pada tipe combinatorial multiplication. Siswa laki-laki berkemampuan matematika rendah cenderung kurang reflektif pada semua tipe soal dan siswa perempuan memiliki kemampuan berpikir reflektif pada semua tipe soal. Ditemukan juga bahwa siswa laki-laki cenderung mampu menggunakan ilustrasi, misalnya dengan gambar sedangkan siswa perempuan cenderung menyelesaikan soal secara teratur, misalnya dengan menuliskan diketahui, ditanya, dan dijawab. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dan peneliti lain untuk memahami tingkat berpikir reflektif siswa pada tipe perkalian ditinjau dari perbedaan kemampuan matematika dan gender
Peningkatan proses dan hasil belajar muatan matematika tema 8 subtema 1 melalui model Meaningful Instructional Design (MID) siswa kelas 2 SD Negeri Mangunsari 01 semester II tahun pelajaran 2017/2018
The classroom action research using Kemmis and Taggart model which through 2 cycles, every cycle passing through planning, action-observation, and reflection which aim to see improvement of process and learning outcomes on theme 8 mathematics content using Meaningful Instructional Design (MID). Improved processes are divided into teacher activities and student activities. The subjects of the study were 2nd grade students of SDN Mangunsari 01 with 30 students. The success criteria is ≥75 and 80% of the total studentsare classical, and the learning process is at least good. The research suggerts that: (1) MID learning model can improve the score of learning process. This is seen from the score of teacher activity and student activity cycle I, cycle II. The score of teacher activity in cycle I was 2.94 or 73.5% and 3.68 or 92% in cycle II. While the score of student activity on the first cycle of 2.59 or 64.7% and 3.48 or 87% in cycle II. (2) Improvement of the process impact on improving learning outcomes, seen from the learning completeness in the first cycle of 53.33% or 16 students and cycle II increased to 83% or 25 students. Thus the MID model to improve processes and learning outcomesof mathematics load on 2nd grade students of SDN Mangunsari 01.Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 siklus, tiap siklus melewati tahap perencanaan, tindakan-observasi, dan refleksi dengan tujuan untuk melihat peningkatan proses dan hasil belajar pada tema 8 muatan matematika dengan menggunakan model Meaningful Instructional Design (MID). Peningkatan proses dibagi menjadi aktivitas guru dan aktivitas siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas 2 SDN Mangunsari 01 sejumlah 30 siswa. Kriteria ketuntasan sebesar 75 dan secara klasikal sebanyak 80% dari jumlah siswa, serta proses belajar minimal kategori baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Model pembelajaran MID dapat meningkatkan skor rata-rata proses belajar. Hal ini dilihat dari skor rata-rata aktivitas guru dan siswa siklus I, siklus II. Skor rata-rata aktivitas guru pada siklus I sebesar 2,94 atau 73,5% dan 3,68 atau 92% pada siklus II. Sedangkan skor rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 2,59 atau 64,7% dan 3,48 atau 87% pada siklus II. (2) Peningkatan proses berdampak pada peningkatan hasil belajar, dilihat dari ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 53,33% atau 16 siswa dan siklus II meningkat menjadi 83% atau 25 siswa. Dengan demikian model MID bukan hanya dapat meningkatkan proses tetapi hasil belajar muatan matematika pada siswa kelas 2 SDN Mangunsari 01
Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah barisan dan deret aritmatika
this research is a qualitative descriptive which aims to analyze students thinking process in solving arithmetic sequence and series problems. Subject in this research were three grade XII students of SMA Negeri 1 Ambarawa on of academe year 2018/2019 is FHA as a high ability subject, AK as a medium ability subject, and WDR as a low ability subject. Data collecting methods are test, interview, and documentation. The result showed that in solving arithmetic sequence the first number problem all subjects used the conceptual thinking process while the second number arithmetic series problem the high subject used the conceptual thinking process and the medium and low subject used the process of using semiconceptual.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah barisan dan deret aritmatika. Subjek dalam penelitian ini 3 siswa kelas XII SMA Negeri 1 Ambarawa tahun pelajaran 2018/2019 yaitu FHA sebagai subjek kemampuan tinggi, AK sebagai subjek kemampuan sedang dan WDR sebagai subjek kemampuan rendah. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan soal nomor 1 materi barisan aritmatika semua subjek menggunakan proses berpikir konseptual sedangkan dalam menyelesaikan soal nomor 2 materi deret aritmatika subjek tinggi menggunakan proses berpikir konseptual dan subjek sedang dan rendah menggunakan proses berpikirsemikonseptual
Analisis kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga matematika di SMP Negeri 5 Langsa
The purpose of this study was to determine the ability of teachers to use teaching aids in SMP Negeri 5 Langsa. The source of the data in this study were mathematics teachers at SMP Negeri 5 Langsa and teaching aids. Data sources are explored using interview techniques and observation of teacher activities related to the use of teaching aids that are integrated in learning. This research is a descriptive study with a qualitative approach. Based on data analysis obtained information that the ability of teachers to use teaching aids is not optimal. Analysis of interviews and observations obtained information on teacher activities related to the use of mathematics teaching aids do not arrive at the concepts or mathematical formulas learned.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga di SMP Negeri 5 Langsa. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru matematika SMP Negeri 5 Langsa dan alat peraga. Sumber data digali dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi aktivitas guru terkait penggunaan alat peraga yang terintegrasi dalam pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan analisis data diperoleh informasi bahwa kemampuan guru menggunakan alat peraga belum optimal. Analisis wawancara dan observasi diperoleh informasi aktivitas guru yang terkait penggunaan alat peraga matematika tidak sampai pada konsep atau rumus matematika yang dipelajari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga di SMP Negeri 5 Langsa. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru matematika SMP Negeri 5 Langsa dan alat peraga. Sumber data digali dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi aktivitas guru terkait penggunaan alat peraga yang terintegrasi dalam pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan analisis data diperoleh informasi bahwa kemampuan guru menggunakan alat peraga belum optimal. Analisis wawancara dan observasi diperoleh informasi aktivitas guru yang terkait penggunaan alat peraga matematika tidak sampai pada konsep atau rumus matematika yang dipelajari. 
Kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa SMP dalam pembelajaran problem posing berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan
The purpose of this study was to determine students 'critical thinking skills and students' mathematical communication in problem posing learning based on South Kalimantan's local wisdom. This research method is pretest and posttest two group design. The sample in this study were 7A and 7B classes at Banjarbaru 1 Junior High School. Data collection was carried out using test instruments. Data analysis is done descriptively and inferential statistics. The results indicate (1) there is no effect of problem posing learning based on the local wisdom of South Kalimantan on students' critical thinking skills; (2) there is no effect of learning based on South Kalimantan's local wisdom on students' mathematical communication skills; (3) descriptively, problem posing learning based on South Kalimantan's local wisdom is better than conventional learning in critical thinking skills and students' mathematical communication.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran problem posing berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan. Metode penelitian ini adalah pretest and posttest two group design. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas 7A dan 7B di SMPN 1 Banjarbaru. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian mengindikasikan (1) tidak terdapat pengaruh pembelajaran problem posing berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa; (2) tidak terdapat pengaruh pembelajaran berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa; (3) secara deskriptif pembelajaran problem posing berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa.  
Penggunaan permainan puzzle pada materi bangun datar di kelas VII SMP Negeri 12 Yogyakarta
This study aims to describe how student activity in application of puzzle game media on the material wake flat in class VII SMP Negeri 12 Yogyakarta. In addition, this study also aims to determine the results of learning and student response with the application of these media. The method used in this research is descriptive research method. The study was conducted in SMP Negeri 12 Yogyakarta with 36 students. Data collection techniques used include tests, observations, and questionnaires. The results of this study indicate that the application of puzzle game media on the flat wake material can be said to work well, because it produces a positive influence for students. Students' learning outcomes with the puzzle game media provide an enhanced view of the completeness level. In addition, students' responses to learning mathematics by using puzzle games show very strong response qualifications, meaning students feel happy and enthusiastic in applying the game.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana aktivitas siswa dalam penerapan media permainan puzzle pada materi bangun datar di kelas VII SMP Negeri 12 Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini bertujuan juga untuk mengetahui hasil belajar serta respon siswa dengan penerapan media tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 12 Yogyakarta dengan jumlah siswa 36 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi tes, observasi, dan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan media permainan puzzle pada materi bangun datar dapat dikatakan berhasil dengan baik, karena menghasilkan pengaruh positif bagi siswa. Hasil belajar siswa dengan media permainan puzzle memberikan peningkatan dilihat dari tingkat ketuntasannya. Selain itu respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan permainan puzzle menunjukkan kualifikasi respon sangat kuat, artinya siswa merasa senang dan antusias dalam menerapkan permainan tersebut
Peranan komunikasi bahasa dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas V SDN Keraton 3 Martapura
Bahasa dan matematika merupakan ilmu yang berbeda dan masing-masing memiliki cakupan yang berdiri sendiri. Bahasa memiliki fungsi untuk menyatakan ide, pikiran, gagasan, atau perasaan seseorang kepada orang lain. Sedangkan matematika adalah ilmu pasti yang berdasarkan pada kegiatan penelusuran pola dan hubungan. Fungsi inilah yang digunakan oleh guru untuk memahamkan peserta didik dalam setiap pembelajaran, termasuk matematika. Dalam bilangan bulat terdapat dua jenis bilangan yaitu positif dan negatif yang dapat dioperasikan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Namun, dalam penelitian ini hanya menjelaskan mengenai penjumlahan dan pengurangan saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengaruh kemampuan komunikasi bahasa dalam pembelajaran matematika terhadap hasil belajar matematika peserta didik siswa kelas V SDN Keraton 3 Martapura. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan eksperimen dengan populasi peserta didik kelas V SDN Keraton 3 Martapura sebanyak 27 orang. Instrumen yang digunakan adalah instrumen kemampuan komunikasi bahasa dan instrumen prestasi belajar matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan kemampuan komunikasi bahasa dalam pembelajaran matematika terhadap prestasi belajar matematika. Alternatif pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah logika deduktif dan logika induktif. Logika induktif erat kaitannya dengan penarikan kesimpulan kasus individual khusus nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif adalah kegiatan berpikir sebaliknya dari penalaran induktif. Deduktif adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus
Mengembangkan self-efficacy matematika melalui pembelajaran pendekatan matematika realistik pada siswa kelas VII D SMP Negeri 27 Banjarmasin tahun pelajaran 2016-2017
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui self-efficacy siswa terhadap matematika sebelum dan sesudah pembelajaran melalui Pendekatan Matematika Realistik. (2) Mengetahui perkembangan self-efficacy siswa terhadap matematika sebelum dan sesudah pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik. Jenis penelitian ekperimen dengan desain penelitian one group pretest and posttes design, dengan populasi siswa kelas VII SMP Negeri 27 Banjarmasin tahun peajaran 2016/2017. sampel penelitian dipilih dengan teknik purpossive sampling, sebanyak 30 orang siswa di kelas VII D. Teknis analisis data yang digunakan teknik analisis deskriptif dan data analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan self-efficacy siswa terhadap matematika sebelum perlakuan dengan persentase kategori rendah 40%, kategori sedang 47%, dan 13% termasuk kategori tinggi. Sedangkan self-efficacy siswa terhadap matematika setelah pembelajaran melalui PMR, diperoleh persentase self-efficacy siswa terhadap matematika 3% yang termasuk kategori rendah, 73% untuk kategori sedang, dan 23% untuk kategori tinggi. Melalui uji Wilcoxon pada taraf signifikan 5% memperlihatkan nilai Sig. Sebesar 0,000 lebih kecil dari = 0,005. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perkembangan self-efficacy siswa terhadap matematika melalui Pendekatan Matematika Realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Sebagai implikasi dari hasil penelitian ini sebagai alternatif untuk mengembangkan self-efficacy siswa terhadap matematika hendaknya guru menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik
Berpikir pseudo mahasiswa PGSD pada operasi bilangan bulat
The lack of mastery of mathematical concepts is found in PGSD students, especially in integer matter. This is a serious problem because as a potential teacher, PGSD students must have a correct understanding of a concept. One reason for this lack of mastery of the concept is due to the fragile construction of knowledge. This knowledge construction error can be a pseudo bepikir, that is pseudo wrong and pseudo true. Pseudo is true when the student can answer a problem problem correctly, but the reasoning is wrong. On the contrary, pseudo is wrong when the student answers wrong, but the reasoning is correct. This pseudo-thinking is examined using qualitative research design. The subjects of this research are 24 students of PGSD STKIP PGRI Banjarmasin in the odd semester of academic year 2017/2018. The results showed that most of PGSD students who take the subjects of Mathematics Study of SD I had pseudo thinking on the matter of integer operation. Twenty-one students experienced true pseudo and one student experienced pseudo thinking wrong. These results indicate that PGSD students are able to perform integer operations, but are unable to construct the concept of integer operations well because the process is procedural.Kurangnya penguasaan konsep matematika di temukan pada mahasiswa PGSD.khususnya pada materi operasi bilangan bulat. Hal ini merupakan masalah serius karena sebagai calon guru, mahasiswa PGSD tentu harus memiliki pemahaman yang benar terhadap suatu konsep. Salah satu penyebab kurangnya penguasaan konsep ini adalah karena konstruksi pengetahuan yang rapuh. Kesalahan konstruksi pengetahuan ini bisa berupa bepikir pseudo, yaitu pseudo salah dan pseudo benar. Pseudo benar terjadi apabila mahasiswa dapat menjawab suat masalah masalah dengan benar, tetapi penalarannya salah. Sebaliknya, pseudo salah terjadi ketika mahasiswa menjawab salah, namun sebanarnya penalarannya benar. Berpikir pseudo ini dikaji dengan menggunakan desain penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini yaitu 24 mahasiswa PGSD STKIP PGRI Banjarmasin pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mahasiswa PGSD yang mengambil mata kuliah Kajian Matematika SD I mengalami berpikir pseudo pada materi operasi bilangan bulat. Dua puluh satu mahasiswa mengalami pseudo benar dan satu mahasiswa mengalami berpikir pseudo salah. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa PGSD mampu melakukan operasi bilangan bulat, namun tidak mampu mengkonstruksi konsep operasi bilangan bulat dengan baik karena proses yang dilakukan hanya bersifat prosedural