Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
    99 research outputs found

    Upaya meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Amuntai tahun pelajaran 2013/2014 melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD serta untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran matematika dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas 2 siklus. Penelitian dilaksanakan di kelas XI IPA 1 SMAN 1 Amuntai tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri atas 28 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket, pengamatan, dan pencermatan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa lebih dari 85% siswa, aktivitasnya pada kriteria minimal tinggi, dan lebih dari 75% siswa memperoleh nilai tes ≥ KKM. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD 100% terlaksana. Respons atau tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat positif

    Pengaruh kecemasan terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 13 Banjarmasin

    Full text link
    Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah faktor internal, yaitu faktor psikologis. Salah satu faktor psikologis adalah kecemasan. Kecemasan merupakan suatu perasaan yang mengacu pada suasana hati yang tidak nyaman yang berupa perasaan panik, gugup, khawatir ditimbulkan oleh adanya permasalahan. Kecemasan yang dijadikan permasalahan dalam penelitian ini adalah kecemasan yang menyebabkan ketidakmampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan matematika. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Untuk melihat mampu atau tidaknya siswa dalam mengerjakan permasalahan matematika dilakukan dengan menggunakan tes. Populasi dalam penelitian ini  adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 13 Banjarmasin yang terdiri dari 231 orang yang tersebar dalam 7 kelas. Sampel penelitian ini sebanyak sebanyak 70 orang yang tersebar di 7 kelas yang diambil secara acak. Pengambilan sampel menggunakan rumus slovin. Pengaruh kecemasan dan hasil belajar matematika diuji dengan menggunakan uji chi kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang kuat antara kecemasan terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 13 Banjarmasin

    Number sense

    Full text link
    Pemahaman anak mengenai bilangan bertujuan untuk menambah dan mengembangkan keterampilan berhitung dengan bilangan sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek utamanya adalah menekankan pengembangan kepekaan terhadap bilangan atau dikenal dengan number sense. Number sense dapat diartikan sebagai berpikir fleksibel dan intuisi tentang bilangan. Untuk menilai sifat number sense yang dimiliki seorang individu, kita harus memeriksa fleksibilitas terhadap bilangan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Fleksibilitas ini dapat diamati ketika seseorang melakukan empat komponen number sense, yaitu menilai besaran bilangan, komputasi mental, estimasi, dan menilai kerasionalitasan atau kewajaran hasil perhitungan yang diperoleh.Pemahaman anak mengenai bilangan bertujuan untuk menambah dan mengembangkan keterampilan berhitung dengan bilangan sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek utamanya adalah menekankan pengembangan kepekaan terhadap bilangan atau dikenal dengan number sense. Number sense dapat diartikan sebagai berpikir fleksibel dan intuisi tentang bilangan. Untuk menilai sifat number sense yang dimiliki seorang individu, kita harus memeriksa fleksibilitas terhadap bilangan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Fleksibilitas ini dapat diamati ketika seseorang melakukan empat komponen number sense, yaitu menilai besaran bilangan, komputasi mental, estimasi, dan menilai kerasionalitasan atau kewajaran hasil perhitungan yang diperoleh

    Membentuk karakter peserta didik melalui model pembelajaran search, solve, create, and share

    Full text link
    Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan sains dan teknologi, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena itu, pembelajaran matematika harus dirancang dengan baik sedemikian sehingga dapat digunakan sebagai wahana dalam meningkatkan kemampuan akademis dan membentuk karakter positif peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengakomodasi ranah tersebut, yaitu model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS).Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan sains dan teknologi, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena itu, pembelajaran matematika harus dirancang dengan baik sedemikian sehingga dapat digunakan sebagai wahana dalam meningkatkan kemampuan akademis dan membentuk karakter positif peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengakomodasi ranah tersebut, yaitu model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS)

    Pendidikan karakter siswa dalam pembelajaran matematika

    Full text link
    Indonesia sudah banyak memiliki orang-orang yang hebat di bidang pengetahuan matematika, sains, dan teknologi. Hal itu nampak pada orang-orang Indonesia yang berkiprah di negara-negara maju, prestasi dan penghargaan pelajar dan mahasiswa Indonesia diberbagai olimpiade atau kontes di bidang sains, teknologi, dan matematika. Namun demikian, akhir-akhir ini juga dijumpai orang-orang (tak terkecuali di kalangan akademisi) yang menampakkan karakter atau perbuatan yang kurang terpuji. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana pendidikan karakter dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika, terutama di sekolah. Untuk mengembangkan pendidikan karakter pada pembelajaran matematika dapat dilakukan melalui pengembangan isi (content) pelajaran matematika, pemilihan pendekatan, metode, atau strategi pembelajaran yang akan digunakan, serta melalui proses pembelajaran matematika

    Penerapan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Index Card Match (ICM) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMA YLPI Pekanbaru

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Index Card Match (ICM) terhadap peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMA YLPI Pekanbaru yang berjumlah 30 orang siswa dengan 8 orang siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2011 sampai dengan 17 Maret 2011. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik pengamatan dan tes. Lembar pengamatan akan dianalisis secara deskriptif naratif, sedangkan tes hasil belajar akan dianalisis dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mencapai KKM 65 pada skor dasar sebanyak 15 siswa, siklus I sebanyak 22 siswa, dan siklus II sebanyak 25 siswa atau dalam bentuk persentase 50%, 73.33% dan 83.33%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi Index Card Match (ICM) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMA YLPI Pekanbaru

    Metode kalibrasi dan desain tes berdasarkan teori respon butir (IRT)

    Full text link
    Ketika akan menyusun perangkat soal untuk suatu tes, pengembang dapat menggunakan butir soal yang telah dikalibrasi ditambah dengan butir-butir soal baru. Pada keadaan ini, permasalahan yang muncul adalah bagaimana menempatkan parameter butir yang baru atau parameter butir pada tes sebelumnya, apakah perlu untuk ditempatkan pada skala butir-butir yang telah dikalibrasi atau pada skala yang baru. Cara untuk menempatkan parameter estimasi dari dua kelompok yang terpisah kedalam skala yang sama, dapat dilakukan dengan menghitung parameter estimasi untuk setiap kelompok dan kemudian mengubah skala dengan menggunakan common-items. Hal ini dapat dilakukan melalui proses kalibrasi. Butir-butir yang telah dikalibrasi ditempatkan sebagai butir bersama atau common-items pada perangkat soal yang baru. Ada tiga cara kalibrasi yaitu kalibrasi terpisah (separate calibration), kalibrasi serentak (concurrent calibration), dan kalibrasi tetap (fixed calibration)

    Perilaku metakognisi siswa dalam pemecahan masalah matematika

    Full text link
    Proses Kognisi dan metakognisi  keduanya merupakan aktivitas yang berlangsung  secara otomatis dan internal di dalam otak manusia. Proses  internal tersebut hanya dapat diketahui oleh diri sendiri,  orang lain dapat mengetahuinya jika proses internal tersebut  direpresentasikan secara eksternal. Proses internal dalam bahasa keseharian kita kenal dengan proses kognisi dan proses metakognisi. Proses kognisi dan metakognisi seringkali dianggap suatu hal yang sama, padahal yang menjadi objek sasaran dalam  proses  keduanya memiliki perbedaan. Perbedaan keduanya terletak pada konten (isi) dan fungsinya. Untuk mengamati atau mengetahui apakah seorang siswa telah  melakukan proses kognisi atau proses metakognisi  dalam pembelajaran dapat dilakukan   antara lain dengan menggunakan pendekatan “ask think and tell why”,  Dengan pendekatan ini kita akan mendapatkan informasi tentang perilaku   yang  akan, sedang dan telah dilakukan siswa selama pemecahan masalah matematika. Dengan  mengenal perilaku  metakognisi  siswa maka  diharapkan kemampuan proses kognisi  siswa untuk memecahkan masalah  dalam matematika dapat  menjadi lebih baik

    Kriteria berpikir geometris siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam menyelesaikan masalah geometri

    Full text link
    Objek-objek yang dibahas dalam materi geometri memang tidak asing lagi bagi siswa sehingga diharapkan mereka tidak mendapat kesulitan dalam belajar geometri di sekolah. Kenyataannya, siswa SMP di Cyprus dan Malaysia mengalami kesulitan, antara lain mengenai materi: sudut yang terbentuk dari garis yang memotong garis sejajar,  visualisasi, penalaran formal, mengkonstruksi bangun geometris,  istilah geometri. Berdasarkan kenyataan tersebut, terlihat ada masalah dalam pembelajaran geometri di SMP sehingga diperlukan cara-cara untuk mengatasinya.  Pembahasan ini dibatasi untuk menentukan kriteria berpikir geometris siswa SMP. Diharapkan dengan mengetahui kriteria berpikir geometris siswa maka dapat diruntut kelemahan geometri sehingga akhirnya dapat membantu mereka untuk meningkatkan kemampuan geometrisnya. Adapun kriteria-kriteria berpikir geometris siswa SMP dalam menyelesaikan masalah geometri adalah mengillustrasikan objek geometri berdasarkan deskripsi verbal atau sebaliknya, menjelaskan objek geometri berdasarkan deskripsi verbal atau sebaliknya, menggambarkan objek geometri berdasarkan sifat-sifatnya dengan menggunakan alat yang sesuai, mengidentifikasi konse-konsep geometri, menentukan dan menjelaskan hubungan antar konsep geometri, menjelaskan alasan-alasan yang diperlukan untuk menarik kesimpulan

    97

    full texts

    99

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇