Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
99 research outputs found
Sort by
Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa pada mata kuliah kalkulus diferensial
This research aims to describe problem solving abillity of mathematics education departement students STKIP PGRI Banjarmasin in the academic year 2017/2018 on differential calculus. The populations of research were 21 of differential calculus students in the academic year 2017/2018. This research was a Total sampling Population Research. The research method was a descriptive method. Data Collection Technique was a test. The research instrument was a problem solving abillity test on maximum-minimum problem topic. Data was analyzed by using averages and percentages. The study found that problem solving abillity of students on differential calculus is in the middle level.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah mahasiswa program studi pendidikan matematika STKIP PGRI Banjarmasin pada mata kuliah kalkulus diferensial tahun akademik 2017/2018. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa program studi pendidikan matematika yang mengambil mata kuliah Kalkulus Diferensial pada semester ganjil tahun akademik 2017/2018 yang berjumlah 21orang. Peneltian ini merupakan Penelitian Sampel Total. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Instrumen Penelitian yang digunakan adalah Tes Kemampuan Pemecahan Masalah pada mata kuliah kalkulus diferensial pada materi masalah maksimum-minimum. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan rata-rata dan persentase. Hasil Penelitian menunjukkan Kemampuan Pemecahan Masalah Mahasiswa pada mata kuliah kalkulus diferensial berada pada kualifikasi Cukup
Pembelajaran inkuiri terbimbing dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa SMP
Mathematics learning in schools today is still limited as a process of delivering knowledge about mathematics. On the other hand, the assumption that mathematics is a difficult subject causes students to be lazy to learn mathematics and the low involvement of students in the learning process To give more opportunities for students to actively learn now developing models of learning. One of the guided Inquiry learning models that can make students active in solving problems. The purpose of this research is to know the students' mathematical reasoning ability in rectangular material in class VIIC SMP Negeri 2 Kandangan 2016/2017 lesson year with Guided Inquiry learning model. This study was conducted using classroom action research (PTK) in 2 cycles with 6 meetings. The subjects of this study were students of class VIIC SMP Negeri 2 Kandangan with the number of students 25 people consisting of 15 men and 10 women, and objects in this study the ability of mathematical reasoning, data collection techniques used tests. Technique of data analysis in this research use mean value and percentage.Research result in quadrilateral study by using Guided Inquiry model on class VIIC student of SMP Negeri 2 Kandangan show student's mathematical reasoning ability increase from qualification enough in cycle I become qualification well once in cycle II.Pembelajaran matematika di sekolah saat ini masih sebatas sebagai proses penyampaian pengetahuan tetang matematika. Di lain sisi, anggapan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit mengakibatkan siswa menjadi malas belajar matematika dan rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran Untuk lebih memberikan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa agar aktif belajar sekarang ini berkembang model-model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran Inkuiri Terbimbing yang dapat membuat siswa aktif dalam memecahkan masalah. Tujuan penilitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penalaran matematis siswa pada materi segi empat di kelas VIIC SMP Negeri 2 Kandangan tahun pelajaran 2016/2017 dengan model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam 2 siklus dengan 6 kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIC SMP Negeri 2 Kandangan dengan jumlah siswa 25 orang yang terdiri 15 orang laki-laki dan 10 orang perempuan, dan objek dalam penelitian ini kemampuan penalaran matematis, teknik pengumpulan data yang digunakan tes. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan nilai rata-rata dan persentase.Hasil penelitian pada pembelajaran segiempat dengan menggunakan model Inkuiri Terbimbing pada siswa kelas VIIC SMP Negeri 2 Kandangan menunjukkan kemampuan penalaran matematis siswa meningkat dari kualifikasi cukup di siklus I menjadi kualifikasi baik sekali pada siklus II
Pemberian scaffolding untuk menyelesaikan soal cerita materi perbandingan senilai dan berbalik nilai
This qualitative research aims to describe the results of scaffolding in helping students solve the problem of comparative matter of worth and the ratio of reversed values. The main instrument in this study is the researchers themselves, assisted test sheets and interview guides. Subject consisted of 3 students of class VIII SMP N 1 Tengaran with Low-ability math. Subjects, have studying comparative material worth and turning value and making the most mistakes in solving the problem of comparative matter worth of value and turning value. Data of students mistake are grouped by Newman’s error analysis. The results of this grouping became the basis of the scaffolding. The design of scaffolding is 3 levels of Anghileri namely environmental provisions, explaining, reviewing and restructuring and developing conceptual thinking. The results showed that the most mistakes made by the subject is a transformation error. Error reading and error understanding problem solved with reviewing. Transformation errors and skill errors are handled by explaining and restructuring. Error writing answers and mistakes carelessly corrected by reviewing. Proven provision of such scaffolding can help students to correct errors in solving the problem of comparative matter worth of value and turning value.Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pemberian scaffolding dalam membantu siswa menyelesaikan soal cerita materi perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dibantu lembar tes dan pedoman wawancara. Subjek terdiri dari 3 siswa kelas VIII SMP N 1 Tengaran berkemampuan matematika rendah, pernah belajar materi perbandingan senilai dan berbalik nilai dan melakukan kesalahan terbanyak dalam menyelesaikan soal cerita materi perbandingan senilai dan berbalik nilai. Data kesalahan siswa dikelompokkan berdasarkan kriteria Newman. Hasil pengelompokkan ini menjadi dasar pemberian scaffolding. Desain pemberianan scaffolding adalah 3 level Anghileri yaitu environmental provisions, explaining, reviewing dan restructuring dan developing conceptual thinking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan terbanyak yang dilakukan subjek adalah kesalahan transformasi. Kesalahan membaca dan kesalahan memahami masalah diatasi dengan reviewing. Kesalahan transformasi dan kesalahan keterampilan ditangani dengan explaining dan restructuring. Kesalahan penulisan jawaban dan kesalahan kecerobohan diperbaiki dengan reviewing. Pemberian-pemberian scaffolding tersebut dapat membantu siswa memperbaiki kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita materi perbandingan senilai dan berbalik nilai
Penerapan model pembelajaran direct instruction dipadukan dengan snowball drilling untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SDN Jejangkit Muara 2
The purpose of this study was to see how teacher activity increases, student activity and student mathematics learning outcomes in the application of direct instruction learning models combined with snowball drilling. This research is used Classroom Action Research (PTK) and collaborative aproach. The results of data analysis showed an increase teacher activity in learning activities, teacher activity in the first cycle of the first meeting got a score of 24, while the second meeting got a score of 29. and in the second cycle the first meeting got a score of 32 while in the second meeting got a score of 36. Percentage of activity Classical students in the first cycle of the first meeting reached 52% while in the second meeting 62%, and in the second cycle the first meeting reached 76% while at the second meeting reached 89%. Learning outcomes based on the first cycle test I classically reached 65% and then increased in the second cycle reached 90%.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar matematika siswa dalam penerapan model pembelajaran direct instruction dipadukan dengan snowball drilling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), bersifat kolaborasi. Hasil analisis data menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas guru pada siklus I pertemuan pertama memperoleh skor 24, sedangkan pada pertemuan kedua memperoleh skor 29. dan pada siklus II pertemuan pertama memperoleh skor 32 sedangkan pada pertemuan kedua memperoleh skor 36. Persentase aktivitas siswa secara klasikal pada siklus I pertemuan pertama mencapai 52% sedangkan pada pertemuan keduanya 62%, dan pada siklus II pertemuan pertama mencapai 76% sedangkan pada pertemuan keduanya mencapai 89%. Hasil belajar berdasarkan tes akhir siklus I secara klasikal mencapai 65% kemudian meningkat pada siklus II mencapai 90%
Kecenderungan tingkat keterampilan berpikir siswa SMA menurut taksonomi bloom dan kaitannya dengan gender
This study aims to get an overview of the level of thinking of high school students in terms of Bloom's revised taxonomy and see its relation to gender. The type of research conducted is Quantitative Descriptive with the Ex Post Facto approach, which is research conducted to examine events that have occurred which then traces back to find out the factors that can lead to these events. The event referred to in this study is HOTS students, while the factors that can lead to these events are gender. The results showed that there was no relationship between the level of students' thinking skills and their gender.penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai tingkat keterampilan berpikir siswa SMA ditinjau dari taksonomi Bloom versi revisi dan melihat kaitannya dengan jenis kelamin. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Deskriptif Kuantitatif dengan pendekatan Ex Post Facto, yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi yang kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Peristiwa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah HOTS siswa, sedangkan faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut adalah gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat keterampilan berpikir siswa dengan jenis kelaminny
Keefektifan strategi konflik kognitif ditinjau dari kemampuan berpikir kritis
The purpose of this study was to describe the effectiveness of cognitive conflict strategy learning in terms of critical thinking skills. This study was a experimental research whose population consisted of all 10thgraders in State Senior High School 2 of Merauke which includes six classes. Out of the six classes, one groups of students was randomly selected to class X MIPA 1. The data collecting techniques were a test whereas the instrument used to the collect the data consisted of critical thinking skills test. To see the effectiveness of cognitive conflict strategy learning using univariate tests. The univariate test used is one sample t test. The results of the study, using significance level 5%, showed that the cognitive conflict strategy learning is effective in terms of critical thinking skills and the level of critical thinking ability is in the medium category.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keefektifan pembelajaran strategi konflik kognitif dalam pembelajaran yang ditinjau dari kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang populasinya mencakup seluruh siswa kelas X MIPA SMA Negeri 2 Merauke yang terdiri dari enam kelas. Dari enam kelas tersebut, kelas X MIPA 1 dipilih secara acak sebagai sampel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik tes dengan instrumen untuk mengumpulkan data meliputi soal tes kemampuan berpikir kritis. Untuk melihat keefektifan dari strategi konflik kognitif dalam pembelajaran menggunakan uji univariat. Uji univariat yang digunakan adalah uji t satu sampel. Hasil penelitian pada taraf 5% menunjukkan bahwa pembelajaran dengan strategi konflik kognitif efektif ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan tingkat kemampuan berpikir kritis berada pada kategori sedang
Kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal UAS kalkulus multivariabel tahun akademik 2016-2017
Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di era yang akan datang. Hal ini dapat diraih dengan senantiasa melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Evaluasi dilakukan dengan mengenali kesalahan apa yang terjadi dan dialami oleh mahasiswa dalam menyelesaikan soal, khususnya soal UAS untuk mata kuliah Kalkulus Multivariabel. Kesalahan ini dibagi menjadi empat indikator, yaitu kesalahan konsep, kesalahan strategi, kesalahan prosedur, dan kesalahan dalam menentukan hasil akhir. Kesalahan mahasiswa diidentifikasi dengan memilih dua subjek penelitian yang didasarkan pada hasil UAS Kalkulus Multivariabel, yaitu terdiri atas subjek peringkat atas dan bawah. Teknik triangulasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi waktu, yaitu pemberian soal yang setara kepada calon subjek pada saat yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek peringkat atas mengalami kesalahan dalam hal strategi, menentukan hasil akhir, dan kesalahan konsep, sedangkan subjek peringkat bawah mengalami kesalahan dalam hal konsep, prosedur, dan strategi
Pengembangan modul berbasis riset pada mata kuliah kalkulus untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa
This study aims 1) Develop research-based modules on calculus courses, 2) Know the effectiveness of research-based modules in the calculus course, and 3) Know the improvement of student creativity after using research-based modules on the calculus course. This type of research is research and development (research and development). Subjects in this study are students of mathematics education program of Calculus Differential course 2018. Data collection methods used questionnaires, interviews, tests and observation sheets. Data analysis used data collection, data presentation and data reduction. The research of this research-based module on the calculus course was developed through the following stages: a) Preliminary Analysis, b) developing research-based modules, c) Validation of media and material experts, d) Revision of research-based modules, e) Implementation of research-based modules, Data collection and g) Data Analysis. This module was included in the effective category based on the assessment of the validator and student questionnaire. After used this module there is an increased in student creativity especially at the stage of originality. The development of this module was said to be effective because the results of expert validation scores and student questionnaire dissemination obtained a score of 3.67 in either category. To increase the creativity of students after using the research-based module can be seen from the results of student scores. The score before used the module was 73.47 and the score after used the module was 82.36Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengembangkan modul berbasis riset pada mata kuliah kalkulus, 2) Mengetahui efektivitas modul berbasis riset pada mata kuliah kalkulus, dan 3) Mengetahui peningkatan kreativitas mahasiswa setelah menggunakan modul berbasis riset pada mata kuliah kalkulus. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang memprogram mata kuliah Kalkulus Diferensial pada tahun 2018. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, tes dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, penyajian data dan reduksi data. Penelitian pengembangan modul berbasis riset pada mata kuliah kalkulus ini dikembangkan melalui tahap: a) Analisis Pendahuluan, b) menyusun modul berbasis riset, c) Validasi pada ahli media dan materi, d) Revisi modul berbasis riset, e) Penerapan modul berbasis riset, f) Pengumpulan data dan g) Analisis Data. Modul ini termasuk dalam kategori efektif berdasarkan penilaian dari validator dan angket mahasiswa. Setelah menggunakan modul ini terdapat peningkatan kreativitas mahasiswa terutama pada tahap originality. Pengembangan modul ini dikatakan efektif karena hasil skor validasi ahli dan penyebaran angket mahasiswa diperoleh skor 3,67 dalam kategori baik. Untuk peningkatan kreativitas mahasiswa setelah menggunakan modul berbasis riset dapat dilihat dari Hasil skor mahasiswa. Skor sebelum menggunakan modul adalah 73,47 dan skor sesudah menggunakan modul adalah 82,3
Pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT) dengan metode discovery ditinjau dari kemampuan spasial siswa kelas X SMA Darul Hijrah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode discovery pada pembelajaran matematika ditinjau dari kemampuan spasial siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 3 3. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Darul Hijrah Tahun Ajaran 2016/2017. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 95 orang dengan rincian 31 orang untuk kelas eksperimen 1 dan 32 orang untuk kelas eksperimen 2 dan 32 orang untuk kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes hasil belajar matematika dan tes kemampuan spasial siswa. Uji prasyarat meliputi uji normalitas dengan menggunakan metode uji Lilliefors dan uji homogenitas menggunakan metode Bartlett. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji ANOVA dua jalan dengan sel tak sama. Berdasarkan uji hipotesis, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Hasil belajar siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran TGT dengan metode discovery lebih baik dari hasil belajar siswa yang diberi model pembelajaran TGT dan model pembelajaran langsung. Selain itu, hasil belajar siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran TGT sama baiknya dengan hasil belajar siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran langsung. (2) Hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan spasial tinggi lebih baik dari hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan spasial sedang dan rendah. Selain itu, hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan spasial sedang lebih baik dari hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan spasial rendah
Keterampilan dasar geometri siswa kelas V dalam menyelesaikan soal bangun datar berdasarkan kemampuan matematika di MI Al Istiqomah Banjarmasin
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan dasar geometri siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah di kelas V SD dalam menyelesaikan soal bangun datar segiempat. Subjek penelitian ini terdiri dari tiga orang siswa SD yaitu siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi, siswa yang memiliki kemampuan matematika sedang dan siswa yang memiliki kemampuan matematika rendah. Kegiatan penelitian dimulai dengan memberikan tes kemampuan matematika. Nilai tes dijadikan sebagai acuan kemampuan siswa. Siswa dikelompokkan dalam tiga kemampuan berdasarkan pada Standar Ketuntasan Minimal (SKM) untuk mata pelajaran matematika yaitu: 80 ≤ x ≤ 100 (Kemampuan tinggi), 60 ≤ x < 80 (Kemampuan sedang) dan 0 ≤ x < 60 (Kemampuan rendah) Selain itu akan dipilih siswa yang komunikatif. Kemudian dilanjutkan dengan tugas pemecahan dan wawancara. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi waktu yang berbeda. Kemudian, data yang valid dianalisis untuk menarik kesimpulan. Sehingga hasil dari penelitian ini adalah profil keterampilan dasar geometri siswa dalam menyelesaikan soal bangun datar segiempat berdasarkan kemampuan matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah memenuhi indikator keterampilan dasar geometri yaitu keterampilan visual, verbal, menggambar, logika dan terapan