Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Raden Intan Repository
Not a member yet
    39192 research outputs found

    FUNGSI KELOMPOK TANI MAJU BERSAMA DALAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETANI DI DESA PEKURUN BARAT KECAMATAN ABUNG TENGAH LAMPUNG UTARA

    No full text
    ABSTRAK Kelompok tani merupakan suatu upaya kaum petani untuk dapat lebih memiliki kekuatan agar dapat mengontrol dunia pertanian yang mereka hadapi, dengan wujud suatu wadah pemberdayaan bagi kaum petani dengan segala proses pengembangan Sumberdaya manusia petani yang tertuang didalamnya, diharapkan dapat menjadi suatu wadah yang berguna bagi kaum petani guna untuk lebih mengoptimalkan potensi dasar dalam dunia pertanian. Penulis mengadakan penelitian mengenai fungsi kelompok tani didesa Pekurun Barat, Kecamatan Abung Tengah Lampung Utara, dengan rumusan masalah: Bagaimana fungsi kelompok tani Maju Bersama dalam pemberdayaan komunitas petani didesa Pekurun Barat, Kecamatan Abung Tengah Lampung Utara. Adapun tujuan penelitian ini adalah Untuk mendeskripsikan Fungsi kelompok tani Dalam Pemberdayaan komunitas petani didesa Pekurun Barat, Kecamatan Abung Tengah Lampung Utara. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 5 orang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan metode induktif. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, didapat temuan sebagai berikut : Untuk mengembangkan potensi petani, dilakukan dengan pembentukan kelompok tani. Adapun tahapan yang dilalui antara lain, penyuluhan serta diskusi kelompok yang menghasilkan sebuah motivasi, saling tukar pengetahuan, dan mempererat silaturrahmi, pelatihan pengembangan keterampilan kelompok dilakukan dengan adanya pelatihan penanganan dan pemeliharaan pada bibit tanaman pertanian, pembuatan pupuk organik, pelatihan penanggualangan hama pada tanaman. Dalam pemberdayaan komunitas petani melalui fungsi kelompok tersebut dapat dikatakan berhasil. Hasil dari pemberdayaan ini dilihat dari segi ekonomi yaitu ketika masa panen yang terbilang menjanjikan, memiliki asset penghasilan yang cukup besar, Jika dilihat dari segi pendidikan yaitu meningkatnya kapasitas sumberdaya petani dalam bidang pertanian khususnya pertanian kopi, Serta apabila dilihat dari segi sosial yaitu terciptanya kerjasama dan gotongroyong anggota kelompok serta bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Kata Kunci: Kelompok Tani,Pemberdayaan Komunitas. ABSTRACT Farmer groups are an effort by farmers to have more power in order to control the world of agriculture that they face, with the form of a forum for empowerment for farmers with all the processes of developing farmers' human resources contained in it, it is hoped that it can become a useful forum for farmers. in order to further optimize the basic potential in the world of agriculture. The author conducted research on the function of farmer groups in Pekurun Barat village, Abung Tengah District, North Lampung, with the problem formulation: How does the Maju Bersama farmer group function in empowering the farming community in Pekurun Barat village, Abung Tengah District, North Lampung. The aim of this research is to describe the function of farmer groups in empowering farming communities in Pekurun Barat village, Abung Tengah District, North Lampung. This research is descriptive field research. Sampling was carried out using purposive sampling technique, so that 5 people were obtained. Data collection methods were carried out using observation, interviews and documentation. After the data was collected it was analyzed using the inductive method. Based on research conducted by the author, the following findings were obtained: To develop farmers' potential, this was done by forming farmer groups. The stages undertaken include, among others, counseling and group discussions which produce motivation, mutual exchange of knowledge, and strengthen friendship, group skills development training is carried out with training on handling and care of seeds. agricultural plants, making organic fertilizer, training on pest management in plants. In empowering the farming community through group functions, it can be said to be successful. The results of this empowerment are seen from an economic perspective, namely when the harvest is quite promising, they have quite large income assets, if seen from an educational perspective, namely increasing the resource capacity of farmers in the agricultural sector, especially coffee farming, and if seen from a social perspective, namely the creation of cooperation and mutual cooperation with group members and benefit communities in need. Keywords: Farmer Groups, Community Empowerment

    PENGARUH DIGITAL LITERACY, TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DAN RELIGIUSITAS TERHADAP KEPUTUSAN PEMBAYARAN ZAKAT, INFAQ DAN SEDEKAH SECARA ONLINE (Studi Pada Generasi Muslim Milenial Masyarakat Bandar Lampung)

    No full text
    ABSTRAK Teknologi memberikan dampak yang besar untuk pertumbuhan ekonomi terkhusus dibidang financial technology yang dapat mengembangkan transaksi-transaksi. Salah satu transaksi yang sering ditemui adalah transaksi pembayaran zakat, infaq dan sedekah secara online. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Apakah Digital Literacy berpengaruh terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online? (2) Apakah Technology Acceptance Model (TAM) berpengaruh terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online? (3) Apakah Religiusitas berpengaruh terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online? (4) Apakah digital literacy, technology acceptance model (TAM), dan religiusitas berpengaruh terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online?. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui pengaruh Digital Literacy terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online. (2) Untuk mengetahui pengaruh Technologi Acceptance Model (TAM) terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online. (3) Untuk mengetahui pengaruh Religiusitas terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online. (4) Untuk mengetahui pengaruh digital literacy, technology acceptance model (TAM) dan religiusitas terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program IBM SPSS 26. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh simpulan Digital Literacy, Technology acceptance model (TAM) berpengaruh positif dan signifikan. Sedangkan Religiusitas berpengaruh positif dan tidak signifikan. Dalam Islam pemahaman akan teknologi dapat diketahui sejauh mana manusia sering menggunkan layanan teknologi, paham akan teknologi, dan mengerti akan dampak baik dan buruknya akan perkembangan teknologi. Kata Kunci : E-commerce Shopee, Digital Literacy, Technology Acceptance Model (TAM), Religiusitas, Keputusan Pembayaran. ABSTRAK Technology has a big impact on economic growth, especially in the field of financial technology which can develop transactions. One of the transactions that is often encountered is the transaction of paying zakat, infaq and alms online. The problems studied in this study are (1) Does Digital Literacy affect the decision to pay ZIS online? (2) Does the Technology Acceptance Model (TAM) affect the decision to pay ZIS online? (3) Does Religiosity affect the decision to pay ZIS online? (4) Do digital literacy, technology acceptance model (TAM), and religiosity affect the decision to pay ZIS online? This study aims to (1) To determine the effect of Digital Literacy on the decision to pay ZIS online. (2) To determine the effect of the Technology Acceptance Model (TAM) on the decision to pay ZIS online. (3) To determine the effect of Religiosity on the decision to pay ZIS online. (4) To determine the effect of digital literacy, technology acceptance model (TAM) and religiosity on the decision to pay ZIS online. This study uses a quantitative approach method. The type of data used in this study is primary data. The data analysis method used is multiple linear regression analysis using the IBM SPSS 26 program. Based on the results of data analysis, it was concluded that Digital Literacy, Technology Acceptance Model (TAM) has a positive and significant effect.While religiosity has a positive and insignificant effect. In Islam, understanding of technology can be knownthe extent to which humans often use technological services, understand technology, and understand the good and bad impacts of technological developments. Keywords :Shopee E-commerce, Digital Literacy, Technology Acceptance Model (TAM), Religiosity, Payment Decisio

    PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT PADA MASYARAKAT DI DESA SUKARAJA KABUPATEN TANGGAMUS

    No full text
    ABSTRAK Pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat merupakan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah, termasuk Di Desa Sukaraja. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Di Desa Sukaraja, serta menggali cara pengolahan dan pengguanaannya dalam pengobatan tradisional. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan, dan wawancara informan kunci (dukun) dan informan non kunci (masyarakat), serta dokumentasi tumbuhan yang ditemukan. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian dianalisis dengan dideskripsikan. Hasil penelitian diperoleh 25 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sukaraja Kabupaten Tanggamus sebagai obat tradisional. Status konservasi masing-masing tumbuhan obat berdasarkan kategori IUCN (International Union for the Concervation of Nature) diketahui masuk dalam kategori Near Threatened (NT : Hampir Terancam) dan Least Concern (LC : Berisiko Rendah). Kata Kunci : Tumbuhan Obat, Pengobatan Tradisional, Kearifan Lokal, Desa Sukaraja. iii ABSTRACT Knowledge of medicinal plants is part of local wisdom passed down through generations in various regions, including Sukaraja Village. This study aims to identify the types of medicinal plants utilized by the people of Sukaraja Village and explore their processing and use in traditional medicine. The method used was a qualitative approach through field observations, interviews with key informants (shamans) and non-key informants (community members), and documentation of the plants found. The sampling techniques used were purposive sampling and snowball sampling. The research results were analyzed and described. The research found 25 plant species used by the people of Sukaraja Village, Tanggamus Regency, as traditional medicine. The conservation status of each medicinal plant, based on the IUCN (International Union for the Conservation of Nature) categories, is Near Threatened (NT) and Least Concern (LC). Keywords : Medicinal Plants, Traditional Medicine, Local Wisdom, Sukaraja Village

    IMPLEMENTASI GREEN ECONOMY PADA SEKTOR PARIWISATA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI KOTA BANDAR LAMPUNG DI TINJAU EKONOMI ISLAM

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini memiliki pengamatan mengenai implementasi green economy dalam pengelolaan sektor pariwisata yang berada di Kota Bandar Lampung,yaitu objek wisata Wiragarden,Lengkung Langit,dan Bukit Sakura. Dimana dalam implementasinya berpengaruh pada lingkuan sekitar, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat di lingkungan sekitar yang terpengaruh. Mengkaji kemampuan dalam implementasi green economy upaya dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan tujuan akhir menunjang kondisi yang ramah lingkungan ,Menguak elemen-elemen yang bisa terjalin kala melakukan ekonomi hijau dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan tujuan akhir membuat sektor paiwisata yang mebuat praktik-praktiknya yang ramah lingkungan serta meningaktan potensi pembangunan berkelanjutan.Keterkaitan gagasan pelaknasaan ekonomi hijau dengan gagasan fiqih lingkungan yang berdasarkan Al-Quran dan hadis. Metode penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini yaitu metode kulaitatif dengan pendekatan studi kasus Hasil penelitian menunjukan bahwa sektor pariwisata di kota bandar lampung yaitu pada objek pariwisata Wira garden, Lengkung Langit, dan Bukit Sakura telah menerapkan beberapa prinsip green economy dalam pengelolaan objek wisata yang mempengaruhi keberhasilan dalam mewujudkan pembangunan bewawasan lingkungan dengan faktor-faktor penunjang dan penghambat didalamnya. Dalam prespektif ekonomi islam penerapannya pun telah sesuai dengan orientasi pembangunan dalam islam. Hasil Penelitian ini adalah Konsep green economy telah dilakukan bedasarkan konsep green economy, semua pihak yang terlibat telah mengupayakan agar konsep green economy terlaksanakan dan mendapatkan hasil yang baik seperti ; 1) Low Carbon: Kegiatan green economy harus memiliki emisi karbon yang rendah, 2) Resource efficiency : Kegiatan green economy harus menggunakan sumber daya secara efisien, 3) Social inclusiveness: Kegiatan green economy harus inklusif secara sosial dan memberikan akses yang lebih baik dan berkelanjutan ke layanan dasar, sumber daya, dan penciptaan lapangan kerja. ABSTRACT This research has an observation of the implementation of green economy in the management of the tourism sector in Bandar Lampung City, namely Wiragarden, Green Valley, and Bukit Sakura tourist attractions. Where in its implementation it affects the surrounding environment, economy, social and culture of the people in the affected environment. Examining the ability to implement green economy efforts in realizing sustainable development with the ultimate goal of supporting environmentally friendly conditions, revealing elements that can be intertwined when doing a green economy in an effort to realize sustainable development with the ultimate goal of making a tourism sector that makes its practices environmentally friendly and increasing the potential for sustainable development.The relationship between the idea of implementing a green economy and the idea of environmental fiqh based on the Al-Quran and hadith. The research method used in conducting this research is a quantitative method with a case study approach. The results showed that the tourism sector in the city of Bandar Lampung, namely in the tourism objects of Wira garden, Green Valley, and Bukit Sakura, has implemented several green economy principles in the management of tourist attractions that affect the success in realizing environmentally sound development with supporting and inhibiting factors in it. In the perspective of Islamic economics, its application is also in accordance with the orientation of development in Islam. The result of this research is that the concept of green economy has been carried out based on the concept of green economy, all parties involved have strived for the concept of green economy to be implemented and get good results such as; 1) Low Carbon: Green economy activities must have low carbon emissions, 2) Resource efficiency: Green economy activities must use resources efficiently, 3) Social inclusiveness: Green economy activities must be socially inclusive and provide better and sustainable access to basic services, resources, and job creation

    KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM LAYANAN INFORMASI PUBLIK DI BIRO ADMINISTRASI PIMPINAN PROVINSI LAMPUNG

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini membahas komunikasi organisasi dalam layanan informasi publik di Biro Administrasi Pimpinan (ADPIM) Provinsi Lampung. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya komunikasi organisasi sebagai faktor strategis dalam mendukung keterbukaan informasi publik, transparansi birokrasi, serta efektivitas pelayanan kepada masyarakat. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana proses komunikasi organisasi berlangsung dalam pelaksanaan layanan informasi publik di Biro ADPIM, serta faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitasnya. Penelitian ini juga menyoroti peran komunikasi dalam membangun citra pemerintah daerah yang responsif dan akuntabel. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi lapangan field research. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi terhadap staf dan pejabat Biro ADPIM. Analisis data dilakukan menggunakan teori Sensemaking dari Karl Weick dan teori Budaya Organisasi dari Edgar Schein untuk memahami bagaimana anggota organisasi menafsirkan situasi kerja, beradaptasi terhadap perubahan, serta berkomunikasi secara efektif dalam konteks birokrasi pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi di Biro ADPIM bersifat multi-pola, mencakup komunikasi vertikal, horizontal, formal, dan informal yang saling melengkapi. Pemanfaatan teknologi digital seperti WhatsApp, email, aplikasi Lampung-In, dan media sosial berperan penting dalam mempercepat arus informasi serta meningkatkan transparansi layanan publik. Kendala utama yang dihadapi meliputi padatnya agenda pimpinan, keterbatasan sumber daya manusia, dan belum optimalnya standar prosedur komunikasi. Kesimpulannya, komunikasi organisasi di Biro ADPIM berperan penting sebagai mekanisme koordinatif dan interpretatif yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya birokrasi dengan kemampuan adaptif, sehingga mampu mewujudkan pelayanan informasi publik yang efektif, transparan, dan berorientasi pada masyarakat. ABSTRAK This study discusses organizational communication in public information services at the Bureau of Administrative Leadership (ADPIM) of Lampung Province. The research is based on the importance of organizational communication as a strategic factor in supporting public information disclosure, bureaucratic transparency, and service effectiveness. The main issue addressed in this study is how organizational communication processes are implemented within ADPIM’s public information services, along with the factors influencing their effectiveness. This study also examines the role of communication in building a responsive and accountable image of local government. The research employs a qualitative descriptive method with a field research approach. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation involving ADPIM officials and staff. The analysis applied Karl Weick’s Sensemaking theory and Edgar Schein’s Organizational Culture theory to understand how members interpret their organizational environment, adapt to changes, and communicate effectively within the bureaucratic context. The results show that organizational communication within ADPIM is multi-patterned, combining vertical, horizontal, formal, and informal communication that complement one another. The use of digital tools such as WhatsApp, email, the Lampung-In application, and social media plays a vital role in accelerating information flow and ensuring transparency in public services. The main obstacles identified include limited human resources, tight leadership schedules, and the absence of standardized communication procedures. In conclusion, organizational communication in ADPIM functions as both a coordinative and interpretive mechanism that integrates bureaucratic cultural values with adaptive capabilities, enabling effective, transparent, and citizen-oriented public information services

    AKTIVITAS SOSIAL KEAGAMAAN LEMBAGA BAITUL MAAL AMANAH (BMA) DI KECAMATAN SUKARAME KOTA BANDAR LAMPUNG.

    No full text
    ABSTRAK Lembaga Baitul maal amanah (BMA) merupakan Lembaga yang berfokus pada kegiatan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya kepada masyarakat kurang mampu. Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) memiliki 3 divisi kerja yaitu unit pengumpul zakat (UPZ), SAR amanah dan rumah Qur‟an, yang masing-masing divisi ini dikendalikan oleh BMA. Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) hadir sebagai inisiatif lokal yang menghadirkan program kegiatan sosial keagamaan. Permasalahan masyarakat yang kurang mampu sering kali tidak memiliki akses ke sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan. Masyarakat yang kurang mampu mungkin tidak mengetahui sumber daya yang tersedia atau bagaimana cara mengaksesnya. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu Aktivitas Sosial Keagamaan Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) Di Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung dan Dampak Aktivitas Sosial Keagamaan Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) Di Kota Bandar Lampung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif yang menggambarkan keadaan dan kejadian suatu objek secara objektif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis yang bertujuan untuk memahami secara mendalam aktivitas yang dilakukan oleh Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) serta dampak yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut. Metode pengumpulan data menggunakan 3 metode, yakni observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling untuk diwawancarai yaitu peneliti memilih informan yang memiliki kriteria yang sesuai untuk diwawancarai sesuai dengan tema yang berkaitan berjumlah 11 orang. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah teori Tindakan Sosial Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aktivitas Sosial Keagamaan Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) di Kota Bandar Lampung berhasil menyalurkan berbagai bantuan untuk daerah yang terjadi bencana alam, dakwah ke daerah-daerah pelosok, renovasi iii masjid dan musholla dan pemberian fasilitas ibadah yang layak, khitan gratis untuk anak-anak, distribusi daging kurban, santunan untuk kaum dhuafa, rumah Qur‟an, bantuan untuk anak yatim dan beasiswa pendidikan. Melalui program BMA berupa membantu masyarakat membutuhkan, membantu tempat ibadah, memberikan Khitan gratis, beasiswa pendidikan untuk anak yatim piatu, membantu korban bencana, memberikan dakwah ke daerah pelosok dan sebagainya. Banyak masyarakat yang terbantu bukan hanya dari Kota Bandar Lampung saja tetapi dari luar Kota Bandar Lampung bahkan luar Provinsi Lampung. Dampak yang dihasilkan dari Aktivitas Sosial Keagamaan BMA ini yaitu dampak terhadap masyarakat yang dimana BMA sering kali memberi bantuan uang tunai, pendidikan, kesehatan dengan adanya pemberian tersebut masyarakat penerima manfaat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Dampak bagi anggota lembaga juga menjadi salah satu dampak yang dihasilkan dari aktivitas BMA. Secara keseluruhan, aktivitas BMA di Bandar Lampung memberikan dampak positif baik secara materil maupun spiritual. Kata Kunci : Aktivitas Sosial Keagamaan, Dampak, Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) iv ABSTRACT The Baitul Maal Amanah (BMA) is an institution that focuses on social activities for communities in need, especially the underprivileged. The Baitul Maal Amanah (BMA) has three working divisions, namely the zakat collection unit (UPZ), SAR Amanah, and Rumah Qur'an, each of which is controlled by BMA. The Baitul Maal Amanah (BMA) Institution is a local initiative that provides religious social programs. Underprivileged communities often lack access to sufficient resources to meet their basic needs, such as food, daily necessities, education, and health care. Underprivileged communities may not be aware of the available resources or how to access them. The research questions in this study are: The Religious Social Activities of the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution in Sukarame District, Bandar Lampung City, and The Benefits of Religious Social Activities of the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution for the Community of Sukarame District, Bandar Lampung City. The research method used in this study is a descriptive qualitative method that objectively describes the conditions and events of an object. The approach used is a sociological approach that aims to deeply understand the activities carried out by the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution and the benefits of these activities. Data collection methods used three methods, namely observation, interviews, and documentation. Informants were selected using purposive sampling techniques for interviews, whereby the researcher selected 11 informants who met the criteria for being interviewed in accordance with the relevant theme. The theory used to analyze this study was Max Weber's Social Action Theory. The results of the study show that the Religious Social Activities of the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution in Bandar Lampung City have successfully distributed various forms of assistance to areas affected by natural disasters, spread Islam to remote areas, renovated mosques and prayer rooms, provided adequate worship facilities, offered free circumcision for children, distributed sacrificial meat, provided assistance to the poor, built Quran houses, assistance for orphans, and educational scholarships. v Through BMA programs, the institution helps people in need, supports places of worship, provides free circumcision, educational scholarships for orphans, assists disaster victims, spreads Islam to remote areas, and so on. Many people have been helped, not only from Bandar Lampung City but also from outside Bandar Lampung City and even outside Lampung Province. The impact of BMA's religious social activities is felt by the community, as BMA often provides cash assistance, education, and healthcare. Through these provisions, beneficiaries can meet their daily needs. The impact on institutional members is also one of the outcomes of BMA's activities. Overall, BMA's activities in Bandar Lampung have a positive impact, both materially and spiritually. Keywords: Social Religious Activities, Impact, Baitul Maal Amanah Institution (BMA)

    MAKNA SIMBOL SALIB DALAM AGAMA KATHOLIK DAN PROTESTAN (Studi Kasus di Gereja Katedral Kristus Raja Tanjung Karang dan Gereja Kristus Tritunggal Teluk Betung).

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya perbedaan pemahaman teologis mengenai makna dan otoritas penafsiran simbol salib dalam tradisi Katolik dan Protestan. Salib, sebagai ikon utama iman Kristen, tidak hanya dipahami sebagai tanda penderitaan dan penebusan, tetapi juga sebagai fondasi teologi keselamatan yang membentuk identitas dan praktik religius umat. Perbedaan penekanan antara salib bercorpus dalam Katolik yang menonjolkan pengorbanan Kristus, dan salib polos dalam Protestan yang menekankan kemenangan dan kebangkitan, menjadi alasan perlunya kajian komparatif yang lebih dalam agar makna teologis simbol ini dipahami secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan wawancara mendalam kepada informan dari kedua agama. Data diperoleh melalui literatur teologis, dokumen gereja, kitab ajaran, serta observasi religius. Analisis dilakukan melalui reduksi, kategorisasi, dan perbandingan data untuk menemukan pola pemikiran, titik temu, serta perbedaan konseptual terkait makna salib dalam Katolik dan Protestan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja Katolik memaknai salib sebagai simbol sakramental yang menghadirkan pengorbanan Kristus secara liturgis dan historis, sedangkan Protestan menempatkan salib dalam otoritas firman dan pengalaman iman personal, dengan penekanan pada keselamatan oleh anugerah. Dalam kehidupan beragama, salib berperan sebagai penggerak spiritualitas, etika, dan kesaksian hidup, menjadi sumber refleksi iman sekaligus identitas religius umat. Perbedaan pemaknaan tersebut tidak meniadakan inti iman yang sama, yaitu pengakuan terhadap karya keselamatan Kristus bagi manusia. Kata Kunci : Salib, Katholik, Protestan, Teologi Simbol, Perilaku Beragama ii ABSTRACT This study is motivated by the theological differences in understanding the meaning and interpretive authority of the cross symbol within Catholic and Protestant traditions. The cross, as the central icon of Christian faith, is not only viewed as a sign of suffering and redemption, but also as the foundation of soteriological theology that shapes religious identity and practice. The difference between the Catholic crucifix, which emphasizes the sacrificial suffering of Christ, and the plain Protestant cross, which highlights victory and resurrection, encourages the need for a comparative study to gain a more comprehensive understanding of its theological meaning. This research employs a qualitative-descriptive method through literature study and in-depth interviews with informants from both traditions. Data were obtained from theological literature, church documents, doctrinal texts, and religious observation. The data analysis was carried out through reduction, categorization, and comparative interpretation to identify thought patterns, points of convergence, and conceptual differences regarding the meaning of the cross in Catholicism and Protestantism. The results show that the Catholic Church interprets the cross as a sacramental symbol that presents Christ’s sacrifice historically and liturgically, while Protestantism places the cross within the authority of Scripture and personal faith experience, emphasizing salvation through grace. In religious life, the cross functions as a source of spirituality, ethics, and Christian testimony, shaping moral awareness and strengthening religious identity. These differences do not eliminate the shared core belief, namely the acknowledgment of Christ’s work of salvation for humanity. Keywords : Cross, Catholic, Protestant, Symbolic Theology, Religious Practice

    LAYANAN AUDIO VISUAL DALAM MENINGKATKAN LITERASI MEDIA BAGI PEMUSTAKA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI LAMPUNG

    No full text
    ABSTRAK Layanan audio visual di perpustakaan membuka peluang untuk menjangkau berbagai kalangan pemustaka, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam membaca teks. Media audio visual yang bersifat multisensori memungkinkan informasi diserap dengan mudah, layanan audio visual juga berperan dalam meningkatkan literasi media bagi pemustaka. Di era digital, kemampuan literasi media sangat penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi tetapi juga mampu menilai, memilah, dan mengkritisi informasi yang diterima melalui berbagai media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis layanan audio visual dalam meningkatkan kemampuan literasi media bagi pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung. Literasi media dipahami sebagai seperangkat keterampilan yang mencakup kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, dan mengomunikasikan pesan media secara kritis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan teknik analisis data yang di gunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, lalu di uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan audio visual dalam kemampuan akses media yang sudah cukup baik, pemustaka sudah terbiasa menggunakan perangkat digital seperti smartphone, laptop, dan fasilitas Wi-Fi perpustakaan untuk mencari dan mengakses informasi, adapun dalam kemampuan memahami dan menginterpretasikan isi media, layanan audio visual membantu pemustaka memahami informasi dengan lebih mudah. Untuk kesadaran etika dalam konsumsi dan produkasi media, pemustaka sudah memiliki kesadaran dasar seperti tidak menyebarkan informasi hoaks, namun panduan khusus dari perpustakaan masih minim. Dalam kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis pemustaka belum terbiasa memverifikasi sumber informasi. Serta dalam kemampuan memproduksi konten media memiliki keterbatasan keterampilan teknis dan minimnya pelatihan rutin menyebabkan kreativitas tersebut ii belum berkembang optimal. Beberapa kendala yang ada pada layanan audio visual yaitu, keterbatasan sarana prasarana, koleksi konten audio visual, serta minimnya tenaga pengelola dengan kompetensi khusus dalam pengembangan media audio visual. Kata Kunci: Layanan audio visual, Literasi media, Perpustakaan umum. iii ABSTRACT Audio-visual services in libraries open up opportunities to reach a wide range of library users, including those with reading disabilities. Multisensory audio-visual media allow information to be absorbed easily, and audio-visual services also play a role in improving media literacy among library users. In the digital age, media literacy skills are essential so that people are not only consumers of information but also able to assess, sort, and critique the information they receive through various media. This study aims to analyze the role of audio-visual services in improving media literacy skills for library users at the Lampung Provincial Library and Archives Office. Media literacy is understood as a set of skills that include the ability to access, understand, evaluate, and communicate media messages critically. This study uses a qualitative method with a descriptive approach using primary and secondary data sources with data collection techniques of observation, interviews, and documentation. The data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and conclusion drawing, then tested for data validity using source and technique triangulation. The results of the study show that audio-visual services in media access capabilities are already quite good. Library users are accustomed to using digital devices such as smartphones, laptops, and library Wi-Fi facilities to search for and access information. In terms of the ability to understand and interpret media content, audio-visual services help library users understand information more easily. In terms of ethical awareness in media consumption and production, library users already have a basic awareness, such as not spreading hoaxes, but specific guidance from the library is still minimal. In terms of the ability to critically evaluate information, library users are not yet accustomed to verifying information sources. In terms of the ability to produce media content, technical skills are limited and the lack of regular training means that creativity has not developed optimally. Some of the obstacles in audio-visual services are limited infrastructure, audio-visual content collections, and a lack of iv management personnel with specific competencies in audio-visual media development. Keywords: Audio-visual services, Media literacy, Public library

    BONEKA TANGAN SEBAGAI MEDIA DAKWAH (STUDI:KOMUNITAS KAMPUNG DONGENG LAMPUNG TENGAH).

    No full text
    Abstract: This study is situated within the field of Islamic communication (dakwah), focusing on the use of hand puppets as a medium for dakwah by the Kampung Dongeng community in Central Lampung. The primary issue discussed in this research is the effectiveness of using hand puppets to convey moral and religious messages, particularly in the context of the growing influence of foreign cultures in daily life. The theory underlying this research is Social Learning Theory developed by Albert Bandura. This theory suggests that hand puppets can be an innovative and effective dakwah tool, enhancing audience emotional engagement and facilitating the understanding of Islamic teachings. The puppets serve as models that convey values in a concrete and engaging manner, enabling the audience to learn effectively through observation and interaction. The objective of this Received: 7-06-2025 Revised: 11-09-2025 Accepted: 24-10-2025 JDK: Jurnal Dakwah danKomunikasi Vol 10. Nomor 2. 2025 Available online at https://journal.iaincurup.ac.id/index.php/jdk/index 2 article is to explore the implementation, challenges, and effectiveness of using hand puppets in dakwah by the Kampung Dongeng community in Central Lampung, as well as to provide strategic recommendations to maximize the impact of religious messages. This research uses a qualitative methodology, employing data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that hand puppets successfully capture attention, build emotional connections, and deliver Islamic values in an interactive and enjoyable manner. Despite their great potential, the study identifies challenges, such as the need for consistent community support, managing performance duration, and maintaining puppet voice consistency. This research contributes to the field of dakwah by demonstrating the potential of hand puppets as a creative, interactive, and effective medium for religious education, while offering insights into overcoming challenges in contemporary dakwah practices. Abstrak: Penelitian ini berada dalam disiplin ilmu dakwah, dengan fokus pada penggunaan boneka tangan sebagai media dakwah oleh Komunitas Kampung Dongeng di Lampung 3 Tengah. Masalah utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah efektivitas penggunaan boneka tangan dalam menyampaikan pesan moral dan agama, terutama di tengah pengaruh budaya luar yang semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari. Teori yang mendasari penelitian ini adalah Teori Pembelajaran Sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori ini menunjukkan bahwa boneka tangan dapat menjadi alat dakwah yang inovatif dan efektif, yang mampu meningkatkan keterlibatan emosional audiens serta mempermudah pemahaman ajaran Islam. Boneka berperan sebagai model yang menyampaikan nilai-nilai secara konkret dan menarik, sehingga audiens dapat belajar melalui observasi dan interaksi secara efektif. Tujuan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana implementasi, tantangan, dan keefektifan penggunaan boneka tangan dalam dakwah oleh Komunitas Kampung Dongeng Lampung Tengah, serta memberikan rekomendasi strategis untuk memaksimalkan dampak pesan agama. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan 4 Keywords: Dakwah Media; Hand Puppets; Dakwah Innovation bahwa boneka tangan berhasil menarik perhatian, membangun hubungan emosional, dan menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang interaktif dan menyenangkan. Meskipun memiliki potensi besar, penelitian ini mengidentifikasi tantangan seperti pentingnya dukungan komunitas yang konsisten, pengelolaan durasi pertunjukan, dan menjaga konsistensi suara boneka. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap disiplin dakwah dengan menunjukkan potensi boneka tangan sebagai media dakwah yang kreatif, interaktif, dan efektif untuk pendidikan agama, serta memberikan wawasan untuk mengatasi tantangan dalam praktik dakwah kontemporer

    ANALISIS T NF Ż YYAH TERHADAP IMPLEMENTASI PASAL 20 AYAT 2 HURUF C PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 2 TAHUN 2021 TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK (Studi di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bandar Lampung)

    No full text
    ABSTRAK Sejauh ini Dinas Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kota Bandar Lampung telah melakukan sosialisasi dalam rangka pencegahan kekerasan terhadap anak, namun demikian masih banyak anak-anak yang terlantar dan tindak kekerasan, baik dari lingkungan keluarga, maupun lingkungan sosial. Kurangnya edukasi bagi orang tua, sehingga menjadi sebab kurangnya edukasi orang terhadapanak. Perkembangan teknologi dan penyalahgunaan teknologi telah berpengaruh pada etika moral anak. Dampak dari kurangnya edukasi terhadap anak-anak berakibat pada tumbuh kembang anak yang cenderung hidup bebas dan tidak terkontrol banyak anak anak yang menyalahgunakan media sosisal,bahkan sampai bermain game online dan rela menjadi manusia silver dan pengamen dijalan untuk memenuhi kebutuhannya tersebut Dengan demikian permasalahan ini perlu di teliti secara komprenhensif. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu sebagai berikut: 1) Bagaimana Implementasi pasal 20 ayat 2 Huruf C peraturan daerah provinsi lampung nomor 2 tahun 2021 tentang pencegahan kekerasan terahadap perempuan dan anak di kota banadar lapung? 2).Bagaimana Analisis Siyāsah Tanfiżiyyah terhadap Implementasi pasal20 ayat2 Hururf C peraturan daerah provinsi lampung nomor 2 tahun 2021 tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bandar Lampung? Hasil Penelitian ini adalah bahwa Pemerintah Kota Bandar Lampung belum bisa memberikan pelayanan secara maksimal, karena masih terbatasnya anggaran dan sarana prasarana. Pemerintah kota Bandar Lampung baru bisa memberi pelayanan seperti, pengurusan Akte Kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA) untuk sebagian anak Kota Bandar Lampung dan masih diupayakan dengan cara Sosialisasi dan kerjasama antar kabupaten. Dengan demikian pelaksanaan pencegahan kekerasan terhadap anak belum sesuai dengan tuntutan siyasah tanfidziyah, hal ini dikarenakan Sarana dan Prasarana dalam melaksanakan program-program pencegahan kekerasan terhadap anak belum memadai. Orang tua dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak belum memiliki Perspektif yang sama terkait pencegahan kekerasan terhadap anak. dengan demikian masih banyak anak - anak yang mengalami kekerasan fisik seperti luka- luka akibat pemukulan, bully, dan gangguan trauma hingga ketakutan, yang dilakukan orangtua terhadap Anak. ABSTRACT So far, the Women's Empowerment and Child Protection Service of Bandar Lampung has conducted outreach in order to prevent violence against children, however, there are still many children who are neglected and violent acts, both from the family environment, as well as the social environment. Lack of education for parents, so that it becomes the cause of the lack of education of people towards children. The development of technology and the misuse of technology has affected the moral ethics of children. The impact of the lack of education for children results in the growth and development of children who tend to live freely and uncontrolled many children who misuse social media, even to the point of playing online games and willing to become silver humans and buskers on the street to meet their needs. Thus, this problem needs to be studied comprehensively. Based on the background of the problem above, the formulation of the problem in this thesis is as follows: 1) How Implementation of Article 20 paragraph 2 of the Lampung provincial regional regulation number 2 of 2021 concerning the prevention of women and the protection of children in Bandar Lampung? 2) How is the Siyāsah Tanfiżiyyah Analysis of the Implementation of Article 20 paragraph 2 of the Lampung provincial regional regulation number 2 of 2021 concerning the prevention of women and the protection of children in Bandar Lampung city? The results of this study are that the Bandar Lampung City Government has not been able to provide maximum services, due to limited budget and infrastructure, the Bandar Lampung City Government can only provide services suchas, processing Birth Certificates, Child Identity Cards (KIA) forsome children in Bandar Lampung City and is still being attempted through Socialization and cooperation between districts Thus, the implementation of prevention of violence against children has not been accordance with the demands of siyash tanfidzıyah this is because the Facilitiesand Infrastructure in implementing programs to prevent violence against children are not yet adequate. Parents and the Women's Empowerment and Child Protection Service do not have the same perspective regarding the prevention of violence against children thus there are still many children who experience physical violence such as wounds due to beatings, bullying, and trauma disorders to fear, which are carried out by parents against childre

    29,220

    full texts

    39,192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Raden Intan Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇