39192 research outputs found
Sort by
FUNGSI KELOMPOK TANI MAJU BERSAMA DALAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETANI DI DESA PEKURUN BARAT KECAMATAN ABUNG TENGAH LAMPUNG UTARA
ABSTRAK
Kelompok tani merupakan suatu upaya kaum petani untuk
dapat lebih memiliki kekuatan agar dapat mengontrol dunia
pertanian yang mereka hadapi, dengan wujud suatu wadah
pemberdayaan bagi kaum petani dengan segala proses
pengembangan Sumberdaya manusia petani yang tertuang
didalamnya, diharapkan dapat menjadi suatu wadah yang berguna
bagi kaum petani guna untuk lebih mengoptimalkan potensi dasar
dalam dunia pertanian.
Penulis mengadakan penelitian mengenai fungsi kelompok
tani didesa Pekurun Barat, Kecamatan Abung Tengah Lampung
Utara, dengan rumusan masalah: Bagaimana fungsi kelompok tani
Maju Bersama dalam pemberdayaan komunitas petani didesa
Pekurun Barat, Kecamatan Abung Tengah Lampung Utara. Adapun
tujuan penelitian ini adalah Untuk mendeskripsikan Fungsi
kelompok tani Dalam Pemberdayaan komunitas petani didesa
Pekurun Barat, Kecamatan Abung Tengah Lampung Utara.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang
bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 5
orang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Setelah data terkumpul
dianalisis dengan metode induktif.
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, didapat
temuan sebagai berikut : Untuk mengembangkan potensi petani,
dilakukan dengan pembentukan kelompok tani. Adapun tahapan
yang dilalui antara lain, penyuluhan serta diskusi kelompok yang
menghasilkan sebuah motivasi, saling tukar pengetahuan, dan
mempererat silaturrahmi, pelatihan pengembangan keterampilan
kelompok dilakukan dengan adanya pelatihan penanganan dan
pemeliharaan pada bibit tanaman pertanian, pembuatan pupuk
organik, pelatihan penanggualangan hama pada tanaman. Dalam
pemberdayaan komunitas petani melalui fungsi kelompok tersebut
dapat dikatakan berhasil. Hasil dari pemberdayaan ini dilihat dari segi ekonomi yaitu ketika masa panen yang terbilang menjanjikan,
memiliki asset penghasilan yang cukup besar, Jika dilihat dari segi
pendidikan yaitu meningkatnya kapasitas sumberdaya petani dalam
bidang pertanian khususnya pertanian kopi, Serta apabila dilihat dari
segi sosial yaitu terciptanya kerjasama dan gotongroyong anggota
kelompok serta bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kata Kunci: Kelompok Tani,Pemberdayaan Komunitas. ABSTRACT
Farmer groups are an effort by farmers to have more power
in order to control the world of agriculture that they face, with the
form of a forum for empowerment for farmers with all the processes
of developing farmers' human resources contained in it, it is hoped
that it can become a useful forum for farmers. in order to further
optimize the basic potential in the world of agriculture.
The author conducted research on the function of farmer
groups in Pekurun Barat village, Abung Tengah District, North
Lampung, with the problem formulation: How does the Maju
Bersama farmer group function in empowering the farming
community in Pekurun Barat village, Abung Tengah District, North
Lampung. The aim of this research is to describe the function of
farmer groups in empowering farming communities in Pekurun
Barat village, Abung Tengah District, North Lampung. This
research is descriptive field research. Sampling was carried out
using purposive sampling technique, so that 5 people were obtained.
Data collection methods were carried out using observation,
interviews and documentation. After the data was collected it was
analyzed using the inductive method.
Based on research conducted by the author, the following
findings were obtained: To develop farmers' potential, this was done
by forming farmer groups. The stages undertaken include, among
others, counseling and group discussions which produce motivation,
mutual exchange of knowledge, and strengthen friendship, group
skills development training is carried out with training on handling
and care of seeds. agricultural plants, making organic fertilizer,
training on pest management in plants. In empowering the farming
community through group functions, it can be said to be successful.
The results of this empowerment are seen from an economic
perspective, namely when the harvest is quite promising, they have
quite large income assets, if seen from an educational perspective,
namely increasing the resource capacity of farmers in the
agricultural sector, especially coffee farming, and if seen from a social perspective, namely the creation of cooperation and mutual
cooperation with group members and benefit communities in need.
Keywords: Farmer Groups, Community Empowerment
PENGARUH DIGITAL LITERACY, TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DAN RELIGIUSITAS TERHADAP KEPUTUSAN PEMBAYARAN ZAKAT, INFAQ DAN SEDEKAH SECARA ONLINE (Studi Pada Generasi Muslim Milenial Masyarakat Bandar Lampung)
ABSTRAK
Teknologi memberikan dampak yang besar untuk
pertumbuhan ekonomi terkhusus dibidang financial technology
yang dapat mengembangkan transaksi-transaksi. Salah satu
transaksi yang sering ditemui adalah transaksi pembayaran zakat,
infaq dan sedekah secara online. Permasalahan yang dikaji dalam
penelitian ini adalah (1) Apakah Digital Literacy berpengaruh
terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online? (2) Apakah
Technology Acceptance Model (TAM) berpengaruh terhadap
keputusan pembayaran ZIS secara online? (3) Apakah Religiusitas
berpengaruh terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online? (4)
Apakah digital literacy, technology acceptance model (TAM), dan
religiusitas berpengaruh terhadap keputusan pembayaran ZIS secara
online?. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui
pengaruh Digital Literacy terhadap keputusan pembayaran ZIS
secara online. (2) Untuk mengetahui pengaruh Technologi
Acceptance Model (TAM) terhadap keputusan pembayaran ZIS
secara online. (3) Untuk mengetahui pengaruh Religiusitas terhadap
keputusan pembayaran ZIS secara online. (4) Untuk mengetahui
pengaruh digital literacy, technology acceptance model (TAM) dan
religiusitas terhadap keputusan pembayaran ZIS secara online.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier
berganda dengan menggunakan program IBM SPSS 26.
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh simpulan Digital
Literacy, Technology acceptance model (TAM) berpengaruh positif
dan signifikan. Sedangkan Religiusitas berpengaruh positif dan
tidak signifikan. Dalam Islam pemahaman akan teknologi dapat
diketahui sejauh mana manusia sering menggunkan layanan
teknologi, paham akan teknologi, dan mengerti akan dampak baik
dan buruknya akan perkembangan teknologi.
Kata Kunci : E-commerce Shopee, Digital Literacy, Technology
Acceptance Model (TAM), Religiusitas, Keputusan Pembayaran. ABSTRAK
Technology has a big impact on economic growth, especially in the field
of financial technology which can develop transactions. One of the
transactions that is often encountered is the transaction of paying zakat,
infaq and alms online. The problems studied in this study are (1) Does
Digital Literacy affect the decision to pay ZIS online? (2) Does the
Technology Acceptance Model (TAM) affect the decision to pay ZIS
online? (3) Does Religiosity affect the decision to pay ZIS online? (4)
Do digital literacy, technology acceptance model (TAM), and
religiosity affect the decision to pay ZIS online? This study aims to (1)
To determine the effect of Digital Literacy on the decision to pay ZIS
online. (2) To determine the effect of the Technology Acceptance Model
(TAM) on the decision to pay ZIS online. (3) To determine the effect of
Religiosity on the decision to pay ZIS online. (4) To determine the effect
of digital literacy, technology acceptance model (TAM) and religiosity
on the decision to pay ZIS online.
This study uses a quantitative approach method. The type of data used
in this study is primary data. The data analysis method used is multiple
linear regression analysis using the IBM SPSS 26 program.
Based on the results of data analysis, it was concluded that Digital
Literacy, Technology Acceptance Model (TAM) has a positive and
significant effect.While religiosity has a positive and insignificant
effect. In Islam, understanding of technology can be knownthe extent to
which humans often use technological services, understand technology,
and understand the good and bad impacts of technological
developments.
Keywords :Shopee E-commerce, Digital Literacy, Technology
Acceptance Model (TAM), Religiosity, Payment Decisio
PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT PADA MASYARAKAT DI DESA SUKARAJA KABUPATEN TANGGAMUS
ABSTRAK
Pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat merupakan
bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun di
berbagai daerah, termasuk Di Desa Sukaraja. Penelitian ini bertujuan
untuk mengindentifikasi jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh
masyarakat Di Desa Sukaraja, serta menggali cara pengolahan dan
pengguanaannya dalam pengobatan tradisional.
Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui
observasi lapangan, dan wawancara informan kunci (dukun) dan
informan non kunci (masyarakat), serta dokumentasi tumbuhan yang
ditemukan. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive
sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian dianalisis dengan
dideskripsikan.
Hasil penelitian diperoleh 25 jenis tumbuhan yang
dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sukaraja Kabupaten Tanggamus
sebagai obat tradisional. Status konservasi masing-masing tumbuhan
obat berdasarkan kategori IUCN (International Union for the
Concervation of Nature) diketahui masuk dalam kategori Near
Threatened (NT : Hampir Terancam) dan Least Concern (LC :
Berisiko Rendah).
Kata Kunci : Tumbuhan Obat, Pengobatan Tradisional, Kearifan
Lokal, Desa Sukaraja.
iii
ABSTRACT
Knowledge of medicinal plants is part of local wisdom
passed down through generations in various regions, including
Sukaraja Village. This study aims to identify the types of medicinal
plants utilized by the people of Sukaraja Village and explore their
processing and use in traditional medicine.
The method used was a qualitative approach through field
observations, interviews with key informants (shamans) and non-key
informants (community members), and documentation of the plants
found. The sampling techniques used were purposive sampling and
snowball sampling. The research results were analyzed and described.
The research found 25 plant species used by the people of
Sukaraja Village, Tanggamus Regency, as traditional medicine. The
conservation status of each medicinal plant, based on the IUCN
(International Union for the Conservation of Nature) categories, is
Near Threatened (NT) and Least Concern (LC).
Keywords : Medicinal Plants, Traditional Medicine, Local Wisdom,
Sukaraja Village
IMPLEMENTASI GREEN ECONOMY PADA SEKTOR PARIWISATA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI KOTA BANDAR LAMPUNG DI TINJAU EKONOMI ISLAM
ABSTRAK
Penelitian ini memiliki pengamatan mengenai implementasi
green economy dalam pengelolaan sektor pariwisata yang berada di
Kota Bandar Lampung,yaitu objek wisata Wiragarden,Lengkung
Langit,dan Bukit Sakura. Dimana dalam implementasinya
berpengaruh pada lingkuan sekitar, ekonomi, sosial dan budaya
masyarakat di lingkungan sekitar yang terpengaruh. Mengkaji
kemampuan dalam implementasi green economy upaya dalam
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan tujuan akhir
menunjang kondisi yang ramah lingkungan ,Menguak elemen-elemen
yang bisa terjalin kala melakukan ekonomi hijau dalam upaya
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan tujuan akhir
membuat sektor paiwisata yang mebuat praktik-praktiknya yang
ramah lingkungan serta meningaktan potensi pembangunan
berkelanjutan.Keterkaitan gagasan pelaknasaan ekonomi hijau dengan
gagasan fiqih lingkungan yang berdasarkan Al-Quran dan hadis.
Metode penelitian yang digunakan dalam melakukan
penelitian ini yaitu metode kulaitatif dengan pendekatan studi kasus
Hasil penelitian menunjukan bahwa sektor pariwisata di kota bandar
lampung yaitu pada objek pariwisata Wira garden, Lengkung Langit,
dan Bukit Sakura telah menerapkan beberapa prinsip green economy
dalam pengelolaan objek wisata yang mempengaruhi keberhasilan
dalam mewujudkan pembangunan bewawasan lingkungan dengan
faktor-faktor penunjang dan penghambat didalamnya. Dalam
prespektif ekonomi islam penerapannya pun telah sesuai dengan
orientasi pembangunan dalam islam.
Hasil Penelitian ini adalah Konsep green economy telah
dilakukan bedasarkan konsep green economy, semua pihak yang
terlibat telah mengupayakan agar konsep green economy
terlaksanakan dan mendapatkan hasil yang baik seperti ; 1) Low
Carbon: Kegiatan green economy harus memiliki emisi karbon yang
rendah, 2) Resource efficiency : Kegiatan green economy harus
menggunakan sumber daya secara efisien, 3) Social inclusiveness:
Kegiatan green economy harus inklusif secara sosial dan memberikan
akses yang lebih baik dan berkelanjutan ke layanan dasar, sumber
daya, dan penciptaan lapangan kerja. ABSTRACT
This research has an observation of the implementation of
green economy in the management of the tourism sector in Bandar
Lampung City, namely Wiragarden, Green Valley, and Bukit Sakura
tourist attractions. Where in its implementation it affects the
surrounding environment, economy, social and culture of the people
in the affected environment. Examining the ability to implement green
economy efforts in realizing sustainable development with the ultimate
goal of supporting environmentally friendly conditions, revealing
elements that can be intertwined when doing a green economy in an
effort to realize sustainable development with the ultimate goal of
making a tourism sector that makes its practices environmentally
friendly and increasing the potential for sustainable development.The
relationship between the idea of implementing a green economy and
the idea of environmental fiqh based on the Al-Quran and hadith.
The research method used in conducting this research is a
quantitative method with a case study approach. The results showed
that the tourism sector in the city of Bandar Lampung, namely in the
tourism objects of Wira garden, Green Valley, and Bukit Sakura, has
implemented several green economy principles in the management of
tourist attractions that affect the success in realizing environmentally
sound development with supporting and inhibiting factors in it. In the
perspective of Islamic economics, its application is also in accordance
with the orientation of development in Islam.
The result of this research is that the concept of green
economy has been carried out based on the concept of green economy,
all parties involved have strived for the concept of green economy to
be implemented and get good results such as; 1) Low Carbon: Green
economy activities must have low carbon emissions, 2) Resource
efficiency: Green economy activities must use resources efficiently, 3)
Social inclusiveness: Green economy activities must be socially
inclusive and provide better and sustainable access to basic services,
resources, and job creation
KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM LAYANAN INFORMASI PUBLIK DI BIRO ADMINISTRASI PIMPINAN PROVINSI LAMPUNG
ABSTRAK
Penelitian ini membahas komunikasi organisasi dalam
layanan informasi publik di Biro Administrasi Pimpinan (ADPIM)
Provinsi Lampung. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada
pentingnya komunikasi organisasi sebagai faktor strategis dalam
mendukung keterbukaan informasi publik, transparansi birokrasi, serta
efektivitas pelayanan kepada masyarakat. Permasalahan utama
penelitian ini adalah bagaimana proses komunikasi organisasi
berlangsung dalam pelaksanaan layanan informasi publik di Biro
ADPIM, serta faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitasnya.
Penelitian ini juga menyoroti peran komunikasi dalam membangun
citra pemerintah daerah yang responsif dan akuntabel.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif
dengan pendekatan studi lapangan field research. Data dikumpulkan
melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi
terhadap staf dan pejabat Biro ADPIM. Analisis data dilakukan
menggunakan teori Sensemaking dari Karl Weick dan teori Budaya
Organisasi dari Edgar Schein untuk memahami bagaimana anggota
organisasi menafsirkan situasi kerja, beradaptasi terhadap perubahan,
serta berkomunikasi secara efektif dalam konteks birokrasi
pemerintahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi
di Biro ADPIM bersifat multi-pola, mencakup komunikasi vertikal,
horizontal, formal, dan informal yang saling melengkapi. Pemanfaatan
teknologi digital seperti WhatsApp, email, aplikasi Lampung-In, dan
media sosial berperan penting dalam mempercepat arus informasi
serta meningkatkan transparansi layanan publik. Kendala utama yang
dihadapi meliputi padatnya agenda pimpinan, keterbatasan sumber
daya manusia, dan belum optimalnya standar prosedur komunikasi.
Kesimpulannya, komunikasi organisasi di Biro ADPIM berperan
penting sebagai mekanisme koordinatif dan interpretatif yang
mengintegrasikan nilai-nilai budaya birokrasi dengan kemampuan
adaptif, sehingga mampu mewujudkan pelayanan informasi publik
yang efektif, transparan, dan berorientasi pada masyarakat. ABSTRAK
This study discusses organizational communication in public
information services at the Bureau of Administrative Leadership
(ADPIM) of Lampung Province. The research is based on the
importance of organizational communication as a strategic factor in
supporting public information disclosure, bureaucratic transparency,
and service effectiveness. The main issue addressed in this study is
how organizational communication processes are implemented within
ADPIM’s public information services, along with the factors
influencing their effectiveness. This study also examines the role of
communication in building a responsive and accountable image of
local government.
The research employs a qualitative descriptive method with a
field research approach. Data were collected through in-depth
interviews, direct observation, and documentation involving ADPIM
officials and staff. The analysis applied Karl Weick’s Sensemaking
theory and Edgar Schein’s Organizational Culture theory to
understand how members interpret their organizational environment,
adapt to changes, and communicate effectively within the
bureaucratic context.
The results show that organizational communication within
ADPIM is multi-patterned, combining vertical, horizontal, formal, and
informal communication that complement one another. The use of
digital tools such as WhatsApp, email, the Lampung-In application,
and social media plays a vital role in accelerating information flow
and ensuring transparency in public services. The main obstacles
identified include limited human resources, tight leadership schedules,
and the absence of standardized communication procedures. In
conclusion, organizational communication in ADPIM functions as
both a coordinative and interpretive mechanism that integrates
bureaucratic cultural values with adaptive capabilities, enabling
effective, transparent, and citizen-oriented public information
services
AKTIVITAS SOSIAL KEAGAMAAN LEMBAGA BAITUL MAAL AMANAH (BMA) DI KECAMATAN SUKARAME KOTA BANDAR LAMPUNG.
ABSTRAK
Lembaga Baitul maal amanah (BMA) merupakan Lembaga
yang berfokus pada kegiatan sosial kepada masyarakat yang
membutuhkan, khususnya kepada masyarakat kurang mampu.
Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) memiliki 3 divisi kerja yaitu
unit pengumpul zakat (UPZ), SAR amanah dan rumah Qur‟an, yang
masing-masing divisi ini dikendalikan oleh BMA. Lembaga Baitul
Maal Amanah (BMA) hadir sebagai inisiatif lokal yang menghadirkan
program kegiatan sosial keagamaan. Permasalahan masyarakat yang
kurang mampu sering kali tidak memiliki akses ke sumber daya yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, kebutuhan
pokok, pendidikan, dan kesehatan. Masyarakat yang kurang mampu
mungkin tidak mengetahui sumber daya yang tersedia atau bagaimana
cara mengaksesnya. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu
Aktivitas Sosial Keagamaan Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) Di
Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung dan Dampak Aktivitas
Sosial Keagamaan Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) Di Kota
Bandar Lampung.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode kualitatif yang bersifat deskriptif yang menggambarkan
keadaan dan kejadian suatu objek secara objektif. Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan sosiologis yang bertujuan untuk
memahami secara mendalam aktivitas yang dilakukan oleh Lembaga
Baitul Maal Amanah (BMA) serta dampak yang ditimbulkan dari
aktivitas tersebut. Metode pengumpulan data menggunakan 3 metode,
yakni observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemilihan informan
menggunakan teknik purposive sampling untuk diwawancarai yaitu
peneliti memilih informan yang memiliki kriteria yang sesuai untuk
diwawancarai sesuai dengan tema yang berkaitan berjumlah 11 orang.
Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah
teori Tindakan Sosial Max Weber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aktivitas Sosial
Keagamaan Lembaga Baitul Maal Amanah (BMA) di Kota Bandar
Lampung berhasil menyalurkan berbagai bantuan untuk daerah yang
terjadi bencana alam, dakwah ke daerah-daerah pelosok, renovasi
iii
masjid dan musholla dan pemberian fasilitas ibadah yang layak, khitan
gratis untuk anak-anak, distribusi daging kurban, santunan untuk
kaum dhuafa, rumah Qur‟an, bantuan untuk anak yatim dan beasiswa
pendidikan. Melalui program BMA berupa membantu masyarakat
membutuhkan, membantu tempat ibadah, memberikan Khitan gratis,
beasiswa pendidikan untuk anak yatim piatu, membantu korban
bencana, memberikan dakwah ke daerah pelosok dan sebagainya.
Banyak masyarakat yang terbantu bukan hanya dari Kota Bandar
Lampung saja tetapi dari luar Kota Bandar Lampung bahkan luar
Provinsi Lampung. Dampak yang dihasilkan dari Aktivitas Sosial
Keagamaan BMA ini yaitu dampak terhadap masyarakat yang dimana
BMA sering kali memberi bantuan uang tunai, pendidikan, kesehatan
dengan adanya pemberian tersebut masyarakat penerima manfaat
dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Dampak bagi anggota
lembaga juga menjadi salah satu dampak yang dihasilkan dari
aktivitas BMA. Secara keseluruhan, aktivitas BMA di Bandar
Lampung memberikan dampak positif baik secara materil maupun
spiritual.
Kata Kunci : Aktivitas Sosial Keagamaan, Dampak, Lembaga
Baitul Maal Amanah (BMA)
iv
ABSTRACT
The Baitul Maal Amanah (BMA) is an institution that focuses
on social activities for communities in need, especially the
underprivileged. The Baitul Maal Amanah (BMA) has three working
divisions, namely the zakat collection unit (UPZ), SAR Amanah, and
Rumah Qur'an, each of which is controlled by BMA. The Baitul Maal
Amanah (BMA) Institution is a local initiative that provides religious
social programs. Underprivileged communities often lack access to
sufficient resources to meet their basic needs, such as food, daily
necessities, education, and health care. Underprivileged communities
may not be aware of the available resources or how to access them.
The research questions in this study are: The Religious Social
Activities of the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution in Sukarame
District, Bandar Lampung City, and The Benefits of Religious Social
Activities of the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution for the
Community of Sukarame District, Bandar Lampung City.
The research method used in this study is a descriptive
qualitative method that objectively describes the conditions and events
of an object. The approach used is a sociological approach that aims
to deeply understand the activities carried out by the Baitul Maal
Amanah (BMA) Institution and the benefits of these activities. Data
collection methods used three methods, namely observation,
interviews, and documentation. Informants were selected using
purposive sampling techniques for interviews, whereby the researcher
selected 11 informants who met the criteria for being interviewed in
accordance with the relevant theme. The theory used to analyze this
study was Max Weber's Social Action Theory.
The results of the study show that the Religious Social
Activities of the Baitul Maal Amanah (BMA) Institution in Bandar
Lampung City have successfully distributed various forms of
assistance to areas affected by natural disasters, spread Islam to
remote areas, renovated mosques and prayer rooms, provided
adequate worship facilities, offered free circumcision for children,
distributed sacrificial meat, provided assistance to the poor, built
Quran houses, assistance for orphans, and educational scholarships.
v
Through BMA programs, the institution helps people in need, supports
places of worship, provides free circumcision, educational
scholarships for orphans, assists disaster victims, spreads Islam to
remote areas, and so on. Many people have been helped, not only from
Bandar Lampung City but also from outside Bandar Lampung City
and even outside Lampung Province. The impact of BMA's religious
social activities is felt by the community, as BMA often provides cash
assistance, education, and healthcare. Through these provisions,
beneficiaries can meet their daily needs. The impact on institutional
members is also one of the outcomes of BMA's activities. Overall,
BMA's activities in Bandar Lampung have a positive impact, both
materially and spiritually.
Keywords: Social Religious Activities, Impact, Baitul Maal Amanah
Institution (BMA)
MAKNA SIMBOL SALIB DALAM AGAMA KATHOLIK DAN PROTESTAN (Studi Kasus di Gereja Katedral Kristus Raja Tanjung Karang dan Gereja Kristus Tritunggal Teluk Betung).
ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya perbedaan
pemahaman teologis mengenai makna dan otoritas penafsiran simbol
salib dalam tradisi Katolik dan Protestan. Salib, sebagai ikon utama
iman Kristen, tidak hanya dipahami sebagai tanda penderitaan dan
penebusan, tetapi juga sebagai fondasi teologi keselamatan yang
membentuk identitas dan praktik religius umat. Perbedaan penekanan
antara salib bercorpus dalam Katolik yang menonjolkan pengorbanan
Kristus, dan salib polos dalam Protestan yang menekankan
kemenangan dan kebangkitan, menjadi alasan perlunya kajian
komparatif yang lebih dalam agar makna teologis simbol ini dipahami
secara menyeluruh.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan
pendekatan studi pustaka dan wawancara mendalam kepada informan
dari kedua agama. Data diperoleh melalui literatur teologis, dokumen
gereja, kitab ajaran, serta observasi religius. Analisis dilakukan
melalui reduksi, kategorisasi, dan perbandingan data untuk
menemukan pola pemikiran, titik temu, serta perbedaan konseptual
terkait makna salib dalam Katolik dan Protestan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja Katolik memaknai
salib sebagai simbol sakramental yang menghadirkan pengorbanan
Kristus secara liturgis dan historis, sedangkan Protestan menempatkan
salib dalam otoritas firman dan pengalaman iman personal, dengan
penekanan pada keselamatan oleh anugerah. Dalam kehidupan
beragama, salib berperan sebagai penggerak spiritualitas, etika, dan
kesaksian hidup, menjadi sumber refleksi iman sekaligus identitas
religius umat. Perbedaan pemaknaan tersebut tidak meniadakan inti
iman yang sama, yaitu pengakuan terhadap karya keselamatan Kristus
bagi manusia.
Kata Kunci : Salib, Katholik, Protestan, Teologi Simbol, Perilaku
Beragama
ii
ABSTRACT
This study is motivated by the theological differences in
understanding the meaning and interpretive authority of the cross
symbol within Catholic and Protestant traditions. The cross, as the
central icon of Christian faith, is not only viewed as a sign of suffering
and redemption, but also as the foundation of soteriological theology
that shapes religious identity and practice. The difference between the
Catholic crucifix, which emphasizes the sacrificial suffering of Christ,
and the plain Protestant cross, which highlights victory and
resurrection, encourages the need for a comparative study to gain a
more comprehensive understanding of its theological meaning.
This research employs a qualitative-descriptive method through
literature study and in-depth interviews with informants from both
traditions. Data were obtained from theological literature, church
documents, doctrinal texts, and religious observation. The data
analysis was carried out through reduction, categorization, and
comparative interpretation to identify thought patterns, points of
convergence, and conceptual differences regarding the meaning of the
cross in Catholicism and Protestantism.
The results show that the Catholic Church interprets the cross as
a sacramental symbol that presents Christ’s sacrifice historically and
liturgically, while Protestantism places the cross within the authority
of Scripture and personal faith experience, emphasizing salvation
through grace. In religious life, the cross functions as a source of
spirituality, ethics, and Christian testimony, shaping moral awareness
and strengthening religious identity. These differences do not
eliminate the shared core belief, namely the acknowledgment of
Christ’s work of salvation for humanity.
Keywords : Cross, Catholic, Protestant, Symbolic Theology,
Religious Practice
LAYANAN AUDIO VISUAL DALAM MENINGKATKAN LITERASI MEDIA BAGI PEMUSTAKA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI LAMPUNG
ABSTRAK
Layanan audio visual di perpustakaan membuka peluang
untuk menjangkau berbagai kalangan pemustaka, termasuk mereka
yang memiliki keterbatasan dalam membaca teks. Media audio visual
yang bersifat multisensori memungkinkan informasi diserap dengan
mudah, layanan audio visual juga berperan dalam meningkatkan
literasi media bagi pemustaka. Di era digital, kemampuan literasi
media sangat penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen
informasi tetapi juga mampu menilai, memilah, dan mengkritisi
informasi yang diterima melalui berbagai media.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis layanan audio
visual dalam meningkatkan kemampuan literasi media bagi pemustaka
di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung. Literasi
media dipahami sebagai seperangkat keterampilan yang mencakup
kemampuan
mengakses,
memahami,
mengevaluasi,
dan
mengomunikasikan pesan media secara kritis. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif
menggunakan sumber data primer dan sekunder dengan teknik
pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan
teknik analisis data yang di gunakan reduksi data, penyajian data dan
penarikan kesimpulan, lalu di uji keabsahan data menggunakan
triangulasi sumber dan teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan audio visual
dalam kemampuan akses media yang sudah cukup baik, pemustaka
sudah terbiasa menggunakan perangkat digital seperti smartphone,
laptop, dan fasilitas Wi-Fi perpustakaan untuk mencari dan mengakses
informasi,
adapun
dalam
kemampuan
memahami dan
menginterpretasikan isi media, layanan audio visual membantu
pemustaka memahami informasi dengan lebih mudah. Untuk
kesadaran etika dalam konsumsi dan produkasi media, pemustaka
sudah memiliki kesadaran dasar seperti tidak menyebarkan informasi
hoaks, namun panduan khusus dari perpustakaan masih minim. Dalam
kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis pemustaka belum
terbiasa memverifikasi sumber informasi. Serta dalam kemampuan
memproduksi konten media memiliki keterbatasan keterampilan
teknis dan minimnya pelatihan rutin menyebabkan kreativitas tersebut
ii
belum berkembang optimal. Beberapa kendala yang ada pada layanan
audio visual yaitu, keterbatasan sarana prasarana, koleksi konten audio
visual, serta minimnya tenaga pengelola dengan kompetensi khusus
dalam pengembangan media audio visual.
Kata Kunci: Layanan audio visual, Literasi media, Perpustakaan
umum.
iii
ABSTRACT
Audio-visual services in libraries open up opportunities to
reach a wide range of library users, including those with reading
disabilities. Multisensory audio-visual media allow information to be
absorbed easily, and audio-visual services also play a role in
improving media literacy among library users. In the digital age,
media literacy skills are essential so that people are not only
consumers of information but also able to assess, sort, and critique
the information they receive through various media.
This study aims to analyze the role of audio-visual services in
improving media literacy skills for library users at the Lampung
Provincial Library and Archives Office. Media literacy is understood
as a set of skills that include the ability to access, understand,
evaluate, and communicate media messages critically. This study uses
a qualitative method with a descriptive approach using primary and
secondary data sources with data collection techniques of
observation, interviews, and documentation. The data analysis
techniques used are data reduction, data presentation, and conclusion
drawing, then tested for data validity using source and technique
triangulation.
The results of the study show that audio-visual services in
media access capabilities are already quite good. Library users are
accustomed to using digital devices such as smartphones, laptops, and
library Wi-Fi facilities to search for and access information. In terms
of the ability to understand and interpret media content, audio-visual
services help library users understand information more easily. In
terms of ethical awareness in media consumption and production,
library users already have a basic awareness, such as not spreading
hoaxes, but specific guidance from the library is still minimal. In
terms of the ability to critically evaluate information, library users are
not yet accustomed to verifying information sources. In terms of the
ability to produce media content, technical skills are limited and the
lack of regular training means that creativity has not developed
optimally. Some of the obstacles in audio-visual services are limited
infrastructure, audio-visual content collections, and a lack of
iv
management personnel with specific competencies in audio-visual
media development.
Keywords: Audio-visual services, Media literacy, Public library
BONEKA TANGAN SEBAGAI MEDIA DAKWAH (STUDI:KOMUNITAS KAMPUNG DONGENG LAMPUNG TENGAH).
Abstract: This study is situated
within the field of Islamic
communication (dakwah),
focusing on the use of hand
puppets as a medium for dakwah
by the Kampung Dongeng
community in Central Lampung.
The primary issue discussed in this
research is the effectiveness of
using hand puppets to convey
moral and religious messages,
particularly in the context of the
growing influence of foreign
cultures in daily life. The theory
underlying this research is Social
Learning Theory developed by
Albert Bandura. This theory
suggests that hand puppets can be
an innovative and effective
dakwah tool, enhancing audience
emotional engagement and
facilitating the understanding of
Islamic teachings. The puppets
serve as models that convey
values in a concrete and
engaging manner, enabling the
audience to learn effectively
through observation and
interaction. The objective of this
Received: 7-06-2025 Revised: 11-09-2025 Accepted: 24-10-2025
JDK: Jurnal Dakwah danKomunikasi
Vol 10. Nomor 2. 2025
Available online at https://journal.iaincurup.ac.id/index.php/jdk/index
2
article is to explore the
implementation, challenges, and
effectiveness of using hand
puppets in dakwah by the
Kampung Dongeng community in
Central Lampung, as well as to
provide strategic
recommendations to maximize the
impact of religious messages.
This research uses a qualitative
methodology, employing data
collection techniques such as
observation, in-depth interviews,
and documentation. The findings
reveal that hand puppets
successfully capture attention,
build emotional connections, and
deliver Islamic values in an
interactive and enjoyable
manner. Despite their great
potential, the study identifies
challenges, such as the need for
consistent community support,
managing performance duration,
and maintaining puppet voice
consistency. This research
contributes to the field of dakwah
by demonstrating the potential of
hand puppets as a creative,
interactive, and effective medium
for religious education, while
offering insights into overcoming
challenges in contemporary
dakwah practices.
Abstrak: Penelitian ini berada
dalam disiplin ilmu dakwah,
dengan fokus pada penggunaan
boneka tangan sebagai media
dakwah oleh Komunitas
Kampung Dongeng di Lampung
3
Tengah. Masalah utama yang
dibahas dalam penelitian ini
adalah efektivitas penggunaan
boneka tangan dalam
menyampaikan pesan moral dan
agama, terutama di tengah
pengaruh budaya luar yang
semakin kuat dalam kehidupan
sehari-hari. Teori yang
mendasari penelitian ini adalah
Teori Pembelajaran Sosial yang
dikembangkan oleh Albert
Bandura. Teori ini menunjukkan
bahwa boneka tangan dapat
menjadi alat dakwah yang
inovatif dan efektif, yang
mampu meningkatkan
keterlibatan emosional audiens
serta mempermudah
pemahaman ajaran Islam.
Boneka berperan sebagai model
yang menyampaikan nilai-nilai
secara konkret dan menarik,
sehingga audiens dapat belajar
melalui observasi dan interaksi
secara efektif. Tujuan artikel ini
adalah untuk mengeksplorasi
bagaimana implementasi,
tantangan, dan keefektifan
penggunaan boneka tangan
dalam dakwah oleh Komunitas
Kampung Dongeng Lampung
Tengah, serta memberikan
rekomendasi strategis untuk
memaksimalkan dampak pesan
agama. Penelitian ini
menggunakan metodologi
kualitatif dengan teknik
pengumpulan data melalui
observasi, wawancara
mendalam, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan
4
Keywords: Dakwah Media;
Hand Puppets; Dakwah
Innovation
bahwa boneka tangan berhasil
menarik perhatian, membangun
hubungan emosional, dan
menyampaikan nilai-nilai Islam
dengan cara yang interaktif dan
menyenangkan. Meskipun
memiliki potensi besar,
penelitian ini mengidentifikasi
tantangan seperti pentingnya
dukungan komunitas yang
konsisten, pengelolaan durasi
pertunjukan, dan menjaga
konsistensi suara boneka.
Penelitian ini memberikan
kontribusi terhadap disiplin
dakwah dengan menunjukkan
potensi boneka tangan sebagai
media dakwah yang kreatif,
interaktif, dan efektif untuk
pendidikan agama, serta
memberikan wawasan untuk
mengatasi tantangan dalam
praktik dakwah kontemporer
ANALISIS T NF Ż YYAH TERHADAP IMPLEMENTASI PASAL 20 AYAT 2 HURUF C PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 2 TAHUN 2021 TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK (Studi di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bandar Lampung)
ABSTRAK
Sejauh ini Dinas Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak
kota Bandar Lampung telah melakukan sosialisasi dalam rangka
pencegahan kekerasan terhadap anak, namun demikian masih banyak
anak-anak yang terlantar dan tindak kekerasan, baik dari lingkungan
keluarga, maupun lingkungan sosial. Kurangnya edukasi bagi orang tua,
sehingga menjadi sebab kurangnya edukasi orang terhadapanak.
Perkembangan teknologi dan penyalahgunaan teknologi telah
berpengaruh pada etika moral anak. Dampak dari kurangnya edukasi
terhadap anak-anak berakibat pada tumbuh kembang anak yang
cenderung hidup bebas dan tidak terkontrol banyak anak anak yang
menyalahgunakan media sosisal,bahkan sampai bermain game online dan
rela menjadi manusia silver dan pengamen dijalan untuk memenuhi
kebutuhannya tersebut Dengan demikian permasalahan ini perlu di teliti
secara komprenhensif.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu sebagai berikut: 1) Bagaimana
Implementasi pasal 20 ayat 2 Huruf C peraturan daerah provinsi lampung
nomor 2 tahun 2021 tentang pencegahan kekerasan terahadap perempuan
dan anak di kota banadar lapung? 2).Bagaimana Analisis Siyāsah
Tanfiżiyyah terhadap Implementasi pasal20 ayat2 Hururf C peraturan
daerah provinsi lampung nomor 2 tahun 2021 tentang pencegahan
kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bandar Lampung?
Hasil Penelitian ini adalah bahwa Pemerintah Kota Bandar Lampung
belum bisa memberikan pelayanan secara maksimal, karena masih
terbatasnya anggaran dan sarana prasarana. Pemerintah kota Bandar
Lampung baru bisa memberi pelayanan seperti, pengurusan Akte
Kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA) untuk sebagian anak Kota Bandar
Lampung dan masih diupayakan dengan cara Sosialisasi dan kerjasama
antar kabupaten. Dengan demikian pelaksanaan pencegahan kekerasan
terhadap anak belum sesuai dengan tuntutan siyasah tanfidziyah, hal ini
dikarenakan Sarana dan Prasarana dalam melaksanakan program-program
pencegahan kekerasan terhadap anak belum memadai. Orang tua dan
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak belum memiliki
Perspektif yang sama terkait pencegahan kekerasan terhadap anak.
dengan demikian masih banyak anak - anak yang mengalami kekerasan
fisik seperti luka- luka akibat pemukulan, bully, dan gangguan trauma
hingga ketakutan, yang dilakukan orangtua terhadap Anak. ABSTRACT
So far, the Women's Empowerment and Child Protection Service of
Bandar Lampung has conducted outreach in order to prevent violence
against children, however, there are still many children who are neglected
and violent acts, both from the family environment, as well as the social
environment. Lack of education for parents, so that it becomes the cause
of the lack of education of people towards children. The development of
technology and the misuse of technology has affected the moral ethics of
children. The impact of the lack of education for children results in the
growth and development of children who tend to live freely and
uncontrolled many children who misuse social media, even to the point of
playing online games and willing to become silver humans and buskers
on the street to meet their needs. Thus, this problem needs to be studied
comprehensively.
Based on the background of the problem above, the formulation of
the problem in this thesis is as follows: 1) How Implementation of Article
20 paragraph 2 of the Lampung provincial regional regulation number 2
of 2021 concerning the prevention of women and the protection of
children in Bandar Lampung? 2) How is the Siyāsah Tanfiżiyyah Analysis
of the Implementation of Article 20 paragraph 2 of the Lampung
provincial regional regulation number 2 of 2021 concerning the
prevention of women and the protection of children in Bandar Lampung
city?
The results of this study are that the Bandar Lampung City
Government has not been able to provide maximum services, due to
limited budget and infrastructure, the Bandar Lampung City Government
can only provide services suchas, processing Birth Certificates, Child
Identity Cards (KIA) forsome children in Bandar Lampung City and is
still being attempted through Socialization and cooperation between
districts Thus, the implementation of prevention of violence against
children has not been accordance with the demands of siyash tanfidzıyah
this is because the Facilitiesand Infrastructure in implementing programs
to prevent violence against children are not yet adequate. Parents and the
Women's Empowerment and Child Protection Service do not have the
same perspective regarding the prevention of violence against children
thus there are still many children who experience physical violence such
as wounds due to beatings, bullying, and trauma disorders to fear, which
are carried out by parents against childre