39192 research outputs found
Sort by
ANALISIS HUKUM KELUARGA ISLAM TERHADAP NARASI PERSELINGKUHAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA FAKTOR KETURUNAN PADA PODCAST GRITTE AGATHA
ABSTRAK
Perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan
permasalahan serius yang bertentangan dengan tujuan perkawinan
dalam hukum keluarga Islam, yaitu mewujudkan keluarga yang
sakinah, mawaddah, dan rahmah. Seiring perkembangan media
digital, persoalan rumah tangga tersebut kerap disampaikan kepada
publik melalui podcast dalam bentuk narasi personal, salah satunya
pada podcast Gritte Agatha, yang banyak mengaitkan perselingkuhan
dan kekerasan dalam rumah tangga dengan faktor keturunan.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana analisis
hukum keluarga islam terhadap narasi perselingkuhan dan kekerasan
dalam rumah tangga sebagai faktor keturunan dalam podcast Gritte
Agatha, dan bagaimana pandangan penonton terhadap narasi
perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga sebagai faktor
keturunan pada Podcast Gritte Agatha ditinjau berdasarkan hukum
keluarga islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi
perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga sebagai faktor
keturunan dalam podcast Gritte Agatha serta pandangan penonton
terhadap narasi tersebut ditinjau dari perspektif hukum keluarga Islam.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research)
dengan metode kualitatif deskriptif. Sumber data primer berupa
rekaman dan transkrip podcast Gritte Agatha serta komentar
penonton, sedangkan sumber data sekunder berasal dari buku, jurnal,
dan literatur hukum keluarga Islam.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif
hukum keluarga Islam, faktor keturunan tidak dimaknai sebagai
pewarisan genetik atau biologis terhadap perilaku perselingkuhan dan
kekerasan dalam rumah tangga, melainkan sebagai proses
pembentukan karakter yang dipengaruhi oleh pola asuh, interaksi
keluarga, dan lingkungan sosial. Selain itu, pandangan penonton
menunjukkan bahwa mayoritas memaknai faktor keturunan sebagai
hasil pembelajaran sosial dalam keluarga, bukan sebagai pewarisan
biologis. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya
tanggung jawab individu, perlindungan anak, dan perbaikan
lingkungan keluarga sebagai upaya mewujudkan kemaslahatan dalam
kehidupan rumah tangga. ABSTRACT
Infidelity and domestic violence are serious problems that
contradict the objectives of marriage in Islamic family law, namely
the realization of a family that is sakinah, mawaddah, and rahmah.
Along with the development of digital media, domestic issues are
increasingly conveyed to the public through podcasts in the form of
personal narratives, one of which is the Gritte Agatha podcast, which
often associates infidelity and domestic violence with hereditary
factors.
The formulation of the problems in this research includes the
following how does Islamic family law analyze the narratives of
infidelity and domestic violence (KDRT) as hereditary factor in Gritte
Agatha’s podcast, and and how the audience views the narrative of
infidelity and domestic violence as hereditary factors on the Gritte
Agatha Podcast as reviewed based on Islamic family law. This study
aims to analyze narratives of infidelity and domestic violence as
hereditary factors in the Gritte Agatha podcast, as well as viewers’
perspectives on these narratives from the perspective of Islamic family
law. This research is a library research using a qualitative descriptive
method. Primary data consist of recordings and transcripts of the
Gritte Agatha podcast and viewers’ comments, while secondary data
are obtained from books, journals, and literature on Islamic family
law.
The results show that, from the perspective of Islamic family law,
hereditary factors are not understood as genetic or biological
inheritance of infidelity and domestic violence behavior, but rather as
a process of character formation influenced by parenting patterns,
family interactions, and the social environment. From the perspective
of maṣlaḥah mursalah, narratives of infidelity and domestic violence
may have educational value if understood as efforts to raise public
awareness; however, they may cause harm if interpreted as inherent
traits that cannot be changed. In addition, viewers’ perspectives
indicate that the majority interpret hereditary factors as the result of
social learning within the family rather than biological inheritance.
Therefore, this study emphasizes the importance of individual
responsibility, child protection, and the improvement of the family
environment as efforts to achieve public welfare in family lif
PRAKTIK UPAH MENGUPAH BERDASARKAN PENDAPATAN DALAM TINJAUAN HUKUM EKONOMI SYARIAH (Studi di Pecel Lele Bengkel Perut Mas Edy Bandar Lampung)
ABSTRAK
Upah merupakan hak penting bagi setiap pekerja yang harus
diberikan secara adil sesuai dengan kesepakatan. Dalam Islam, akad
upah (ijārah) menuntut adanya kejelasan terkait bentuk, sifat, dan
besaran upah agar tidak menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak.
Namun, dalam praktik di Pecel Lele Bengkel Perut Mas Edy Bandar
Lampung, sistem pengupahan dilakukan hanya melalui perjanjian
lisan tanpa penjelasan rinci. Hal ini menimbulkan ketidakjelasan,
seperti adanya pemotongan upah tanpa pemberitahuan, tidak
diberikannya bonus meskipun target penjualan tercapai, serta
perubahan nominal upah ketika penjualan sepi. Kondisi tersebut
menunjukkan belum terpenuhinya prinsip keadilan dalam akad ijārah,
sehingga tidak sesuai dengan ketentuan Hukum Ekonomi Syariah.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana
Praktik Upah Mengupah Berdasarkan Pendapatan di Pecel Lele
Bengkel Perut Mas Edy dan Bagaimana Tinjauan Hukum Ekonomi
Syariah terhadap Praktik Upah Mengupah Berdasarkan Pendapatan di
Pecel Lele Bengkel Perut Mas Edy Bandar Lampung Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui Praktik Upah Mengupah
Berdasarkan Pendapatan di Pecel Lele Bengkel Perut Mas Edy dan
untuk mengetahui Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah terhadap Praktik
Upah Mengupah Berdasarkan Pendapatan di Pecel Lele Bengkel Perut
Mas Edy Bandar Lampung. Penelitian ini adalah penelitian lapangan
(field risearch), yang bersifat deskriptif. Sumber data yang digunakan
ialah sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data melalui
wawancara. Menggunakan metode kualitatif. Setelah data terkumpul
maka peneliti melakukan analisis kualitatif dengan menggunakan
metode dengan cara berfikir deduktif.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, Di Pecel
Lele Bengkel Perut Mas Edy, sistem upah dilakukan secara lisan tanpa
perjanjian tertulis yang jelas. Hal ini menimbulkan ketidakjelasan,
seperti pemotongan upah tanpa pemberitahuan, tidak adanya bonus
meski target tercapai, dan perubahan upah dari Rp60.000–70.000
menjadi Rp50.000 saat penjualan sepi dan dalam Tinjauan Hukum
Ekonomi Syariah Praktik tersebut tidak sesuai dengan Hukum
Ekonomi Syariah karena syarat ijārah tentang kejelasan upah tidak
terpenuhi. Dalam Islam, upah harus dijelaskan bentuk, sifat, dan
ukurannya agar ada kesepakatan yang adil antara kedua belah pihak. ABSTRACT
Wages are an essential right for every worker that must be provided
fairly in accordance with the agreement. In Islam, the wage contract
(ijārah) requires clarity regarding the form, nature, and amount of
wages so that neither party is harmed. However, in practice at Pecel
Lele Bengkel Perut Mas Edy in Bandar Lampung, the wage system is
carried out only through verbal agreements without detailed
explanations. This creates ambiguity, such as wage deductions
without prior notice, the absence of bonuses despite achieving sales
targets, and changes in wage amounts when sales decline. Such
conditions indicate that the principle of justice in the ijārah contract
has not been fulfilled, thus making it inconsistent with the provisions
of Islamic Economic Law.
The research problems in this study are: (1) How is the
practice of wage payment based on income at Pecel Lele Bengkel
Perut Mas Edy, and (2) How is the perspective of Islamic Economic
Law on the practice of wage payment based on income at Pecel Lele
Bengkel Perut Mas Edy in Bandar Lampung. The objectives of this
study are: (1) To examine the practice of wage payment based on
income at Pecel Lele Bengkel Perut Mas Edy, and (2) To analyze it
from the perspective of Islamic Economic Law. This research is a field
study with a descriptive approach. The data sources used are both
primary and secondary data. Data were collected through interviews
and analyzed using a qualitative method. After the data were
collected, the researcher conducted qualitative analysis using a
deductive reasoning approach.
Based on the findings of this research, at Pecel Lele Bengkel
Perut Mas Edy, the wage system is carried out verbally without a
clear written agreement. This creates ambiguity, such as wage
deductions without prior notice, the absence of bonuses despite
meeting sales targets, and wage reductions from Rp60,000–70,000 to
Rp50,000 when sales are low. From the perspective of Islamic
Economic Law, such a practice is not in accordance with Sharia
principles, as the requirement of ijārah regarding wage clarity is not
fulfilled. In Islam, wages must be explicitly defined in terms of form,
nature, and amount to ensure a fair agreement between both parties
UPAYA TOKOH AGAMA DALAM PEMBINAAN KEAGAMAAN REMAJA DI KELURAHAN KANGKUNG KECAMATAN BUMI WARAS KOTA BANDAR LAMPUNG
ABSTRAK
Tokoh agama memberi peran penting dalam kehidupan social
masyarakat demikian upaya dalam masyarakat sangat menentukan
perubahan dinamika sangat besar dalam berproses nya remaja agar
tidak terjerumus kedalam kenakalan remaja sehingga melakukan
kegiatan pembinaan keagamaan pada remaja. Adapun tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya tokoh agama dalam
pembinaan keagamaan remaja dalam majelis taklim Al-Mubtadi’in
halnya di Kelurahan Kangkung Kecamatan Bumi Waras Kota Bandar
Lampung,
Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Jenis
penelitian merupakan penelitian field research yaitu penelitian
lapangan .Sifat penelitian deskriptif kualitati. Teknik Pengumpulan
Data dalam penelitian yaitu melalui ,wawancara, observasi dan
dokumentasi. Teknik analisis data yang di gunakan yaitu Mile &
Huberman melalui, reduksi data penyajian data serta penarikan
kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan upaya tokoh agama dalam
pembinaan keagamaan remaja di Kelurahan Kangkung Kecamatan
Bumi Waras Kota Bandar Lampung adalah dengan memberikan
dorongan untuk belajar mengenai agama, hal tersebut bertujuan untuk
menanamkan nilai-nilai agama islam dengan menjadikan remaja
memiliki etika dan akhlak yang baik serta dapat menjadi bekal mereka
dalam menjalani kehidupan dengan upaya pembinaan keagamaan
remaja di mulai dengan membiasakan yakni sholat berjamaah di
masjid, pengajian dan membaca Al Qur’an dan setelah setiap
pelaksanaan upaya tokoh agama melakukan pendekatan dengan
memberikan materi pembinaan keagamaan yakni keimanan (aqidah),
syariat dan aklakul karimah sehingga dapat membantu para remaja
untuk mengetahui, mengenal dan memahami keadaan dirinya
sehingga menerima segala kekurangan dan kelebihannya dan dapat
membantu remaja menyelesaikan permasalahan yang dihadapi
sehingga dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Kata kunci; Upaya Tokoh Agama, Pembinaan Keagamaan
ii
ABSTRACT
Religious leaders play a crucial role in social life. Therefore,
their efforts within the community significantly influence the dynamic
changes in adolescent development, preventing them from falling into
delinquency. This research focuses on religious guidance activities for
adolescents. The purpose of this study is to examine the efforts of
religious leaders in fostering religious education for adolescents
within the Al-Mubtadi'in Islamic study group (Majelis Taklim) in
Kangkung Village, Bumi Waras District, Bandar Lampung City.
This research method employed qualitative methods. This study
is field research. The research method is descriptive qualitative. Data
collection
techniques include interviews, observation, and
documentation. The data analysis technique used is Mile &
Huberman, through data reduction, data presentation, and conclusion
drawing.
The results of the study indicate that religious leaders' efforts in
fostering religious education for adolescents in Kangkung Village,
Bumi Waras District, Bandar Lampung City include encouraging
them to learn about religion. This aims to instill Islamic values by
fostering good ethics and morals in adolescents, equipping them for
life. Religious education for adolescents begins with the habit of
praying in congregation at the mosque, studying the Koran, and
reading the Quran. After each religious leader's efforts, they engage in
religious education by providing materials on faith (aqidah), sharia,
and noble character. This helps adolescents identify, understand, and
accept their strengths and weaknesses. They can also help adolescents
resolve problems and develop their potential.
Keywords: Religious Leaders' Efforts, Religious Educatio
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTERPERSONAL ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK HANDAYANI 2 DESA UJANMAS KECAMATAN SUNGAI ARE
ABSTRAK
Kecerdasan interpersonal merupakan aspek fundamental dalam perkembangan anak usia dini
karena berkaitan langsung dengan kemampuan berinteraksi, bekerja sama, serta membangun hubungan
sosial yang positif dengan lingkungan sekitar. Namun, pada praktik pembelajaran di taman kanak-kanak,
banyak anak cenderung belajar secara individual sehingga keterampilan sosial mereka kurang terlatih
secara optimal. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kemampuan anak dalam berkomunikasi, berbagi,
maupun bekerja sama dengan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang
mendorong anak untuk lebih aktif dalam interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana penerapan model pembelajaran kolaboratif dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal
anak usia 5–6 tahun di TK Handayani 2 Desa Ujanmas, Kecamatan Sungai Are.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian
terdiri atas guru dan anak usia 5–6 tahun di TK Handayani 2 Desa Ujanmas. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara dengan guru, observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran anak, serta
dokumentasi pendukung berupa catatan kegiatan dan foto aktivitas. Analisis data dilakukan melalui tiga
tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh gambaran
mendalam mengenai efektivitas penerapan pembelajaran kolaboratif dalam mengembangkan kecerdasan
interpersonal anak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kolaboratif efektif dalam
mengembangkan kecerdasan interpersonal anak usia dini. Hal ini tercermin dari meningkatnya kemampuan
anak dalam berkomunikasi secara efektif, berbagi peran, menunjukkan empati, menyelesaikan konflik
sederhana, serta bekerja sama dengan teman sebaya. Guru berperan penting sebagai fasilitator dengan
merancang berbagai aktivitas yang mendorong interaksi sosial anak serta memberikan bimbingan dalam
menghadapi permasalahan yang muncul selama proses pembelajaran. Dengan demikian, model
pembelajaran kolaboratif dapat menjadi strategi yang tepat untuk menumbuhkan kecerdasan interpersonal
anak dan membantu mereka beradaptasi serta berpartisipasi positif di lingkungan sosial yang lebih luas.
Kata kunci: Anak usia dini, Kecerdasan interpersonal, Pembelajaran kolaborasi
iii
ABSTRACT
Interpersonal intelligence is a fundamental aspect of early childhood development as it is directly
related to the ability to interact, cooperate, and build positive social relationships with the surrounding
environment. However, in kindergarten learning practices, many children tend to learn individually,
resulting in underdeveloped social skills. This condition affects their ability to communicate, share, and
cooperate with peers. Therefore, a learning model that encourages children to be more active in social
interactions is needed. This study aims to examine how the implementation of a collaborative learning
model can develop interpersonal intelligence in children aged 5–6 years at TK Handayani 2, Desa
Ujanmas, Sungai Are District.
This study employs a qualitative research method with a descriptive approach. The research
subjects included teachers and children aged 5–6 years at TK Handayani 2, Desa Ujanmas. Data were
collected through interviews with teachers, direct observation of children’s learning activities, and
supporting documentation such as activity notes and photos. Data analysis was conducted in three stages:
data reduction, data presentation, and drawing conclusions to gain an in-depth understanding of the
effectiveness of collaborative learning in developing children’s interpersonal intelligence.
The results of the study indicate that the implementation of a collaborative learning model is
effective in developing interpersonal intelligence in early childhood. This is reflected in the children’s
improved ability to communicate effectively, share roles, demonstrate empathy, resolve simple conflicts,
and cooperate with peers. Teachers play a crucial role as facilitators by designing activities that encourage
social interaction among children and providing guidance in addressing problems that arise during the
learning process. Therefore, the collaborative learning model can be considered an appropriate strategy
for fostering children’s interpersonal intelligence and helping them adapt and participate positively in
broader social environments.
Keywords: Collaborative learning, Early childhood, Interpersonal intelligenc
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SOMATIC, AUDITORY, VISUAL, INTELLECTUAL TERHADAP KEMAMPUAN METAKOGNITIF DAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISTEM EKSKRESI KELAS VIII DI MTsN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran Somatic, Auditory, Visual, Intellectual terhadap
kemampuan metakognitif dan kecerdasan emosional peserta didik kelas
VIII di MTsN 1 Bandar Lampung. Penelitian ini dilandasi oleh
rendahnya kemampuan metakognitif dan kecerdasan emosional peserta
didik yang diketahui melalui nilai pra-penelitian. Kondisi tersebut
dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang masih bersifat
konvensional yang kurang melibatkan partisipasi aktif peserta didik,
sehingga diperlukan inovasi kontekstual untuk meningkatkan
keterlibatan yang lebih aktif, bermakna, dan berkelanjutan.
Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment
dengan desain posttest-only control design. Sampel penelitian diperoleh
melalui teknik menggunakan teknik cluster random sampling,
melibatkan dua kelas, yaitu kelas VIII A sebagai kelas eksperimen yang
menerapkan model Somatic, Auditory, Visual, Intellectual, dan kelas
VIII B sebagai kelas kontrol dengan model Discovery Learning.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal essay
kemampuan metakognitif dan angket kecerdasan emosional. Teknik
analisis data yang digunakan yaitu Independent Sample T-Test.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh nilai Sig. (2
tailed) sebesar 0.000 < 0.05, yang menunjukkan bahwa penerapan
model pembelajaran Somatic, Auditory, Visual, Intellectual (SAVI)
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan
kemampuan metakognitif dan kecerdasan emosional peserta didik di
MTsN 1 Bandar Lampung. Dengan demikian, model pembelajaran
Somatic, Auditory, Visual, Intellectual efektik digunakan untuk
meningkatkan kemampuan metakognitif dan kecerdasan emosional.
Kata Kunci : Kecerdasan Emosional, Kemampuan Metakognitif
Model SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual)
iii
ABSTRACT
This research aims to determine the effect of the Somatic,
Auditory, Visual, Intellectual learning model on the metacognitive
ability and emotional intelligence of eighth-grade students at MTsN 1
Bandar Lampung. This study was driven by the low metacognitive
ability and emotional intelligence observed among students, as
indicated by pre-research scores. This condition was mainly influenced
by conventional learning processes that lacked active student
participation, thus necessitating a contextual innovation to enhance
more active, meaningful, and sustainable engagement.
The research method used was a quasi-experimental approach
with a posttest-only control design. The research sample was obtained
using cluster random sampling, involving two classes, namely class
VIII A as the experimental class, which implemented the Somatic,
Auditory, Visual, Intellectual learning model, and class VIII B as the
control class, which applied the Discovery Learning model. The
instruments used in this study consisted of essay questions to measure
metacognitive ability and a questionnaire to assess emotional
intelligence. The data analysis technique employed was the
Independent Sample T-Test.
Based on the hypothesis testing results, the Sig. (2-tailed) value
obtained was 0.000 < 0.05, indicating that the implementation of the
Somatic, Auditory, Visual, Intellectual learning model had a significant
effect on improving students’ metacognitive ability and emotional
intelligence at MTsN 1 Bandar Lampung. Therefore, the Somatic,
Auditory, Visual, Intellectual learning model is effective in enhancing
metacognitive ability and emotional intelligence.
Keywords : Emotional Intelligence, Metacognitive Ability, SAVI Model
(Somatic, Auditory, Visual, Intellectual
KONTEKSTUALISASI ETIKA DAKWAH RASULULLAH SAW PADA ERA DIGITAL (Studi Komparasi Tafsir Al-Maraghi dan Tafsir Al-Misbah).
Abstract
The development of da„wah in the digital sphere presents new
dynamics that are not only related to media transformation but
also closely linked to ethical issues in the delivery of religious
messages. Phenomena such as the commercialization of da„wah,
polarization of religious discourse, and the rise of popular
preachers on social media indicate a shift in da„wah practices
that may deviate from the ethical values of the Qur‟an. This
condition highlights the need for a study that places the ethics of
the Prophet Muhammad‟s da„wah as a normative framework in
responding to digital realities. This study aims to analyze and
compare the concept of da„wah ethics in Tafsir al-Misbah by M.
Quraish Shihab and Tafsir al-Maraghi by Ahmad Mustafa al-
Etika Dakwah Rasulullah SAW Dalam Tafsir Al-Qur’an (Kontekstualisasi
Pada Era Digital)
Mauriduna: Journal of Islamic Studies, Vol. 5, No. 1, 2025: 1-21 | 2
Maraghi, and to contextualize these ethical principles within
contemporary digital da„wah practices. The research employs a
qualitative method using a library research approach and
comparative analysis of Q.S. An-Nahl [16]:125, Q.S. Ali Imran
[3]:104, and Q.S. Fussilat [41]:33. The findings reveal that both
mufassirs emphasize wisdom (ḥikmah), good exhortation
(mau„izhah ḥasanah), and courteous dialogue (mujādalah billatī
hiya aḥsan) as the foundational principles of da„wah ethics
across time. The distinction lies in their emphasis on social
context and communicative approaches. This study concludes
that Qur‟anic da„wah ethics remain highly relevant in the
digital era as long as they are contextualized appropriately
without diminishing their essential values.
Keywords : Contextualization, Comparative Study,
Digitalization.
Abstrak
Perkembangan dakwah di ruang digital menghadirkan dinamika
baru yang tidak hanya berkaitan dengan media, tetapi juga
menyentuh aspek etika penyampaian pesan keagamaan.
Fenomena komersialisasi dakwah, polarisasi wacana
keagamaan, serta munculnya pendakwah populer di media sosial
menunjukkan adanya pergeseran praktik dakwah yang
berpotensi menjauh dari nilai-nilai etis Al-Qur‟an. Permasalahan
ini mendorong perlunya kajian yang menempatkan etika dakwah
Rasulullah SAW sebagai kerangka normatif dalam menghadapi
realitas digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan
membandingkan konsep etika dakwah dalam Tafsir Al-Misbah
karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al-Maraghi karya Ahmad
Mustafa Al-Maraghi, serta mengontekstualisasikannya dalam
praktik dakwah digital. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis
komparatif terhadap penafsiran Q.S. An-Nahl [16]:125, Q.S. Ali
Etika Dakwah Rasulullah SAW Dalam Tafsir Al-Qur’an (Kontekstualisasi
Pada Era Digital)
Mauriduna: Journal of Islamic Studies, Vol. 5, No. 1, 2025: 1-21 | 3
Imran [3]:104, dan Q.S. Fussilat [41]:33. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kedua mufasir menekankan prinsip
hikmah, nasihat yang baik, dan dialog santun sebagai fondasi
etika dakwah lintas zaman. Perbedaannya terletak pada
penekanan konteks sosial dan pendekatan komunikatif.
Penelitian ini menegaskan bahwa etika dakwah Qur‟ani tetap
relevan di era digital sepanjang dikontekstualisasikan secara
tepat tanpa menghilangkan substansi nilainya.
Kata Kunci: Kontekstualisasi, komparai tasfir, Digitalisasi
PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING BERBASIS MULTIREPRESENTASI TERHADAP PENGUASAAN KONSEP FISIKA
ABSTRAK
Penelitian
ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh
penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
berbasis multirepresentasi terhadap penguasaan konsep fisika Peserta
didik. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimen dengan
desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian adalah
Peserta didik kelas XI di salah satu SMA di Lampung, yang dipilih
melalui teknik purposive sampling. Kelas eksperimen menerima
perlakuan dengan model PjBL berbasis multirepresentasi, sedangkan
kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional.
Instrumen pengumpulan data berupa tes penguasaan konsep fisika
dalam bentuk pilihan ganda yang telah divalidasi.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t untuk
melihat perbedaan rata-rata N-gain antara kedua kelas. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
dalam peningkatan penguasaan konsep fisika antara Peserta didik
yang belajar dengan model PjBL berbasis multirepresentasi dan
Peserta didik yang belajar dengan metode konvensional. Rata-rata N
gain kelas eksperimen lebih tinggi secara signifikan dibandingkan
kelas kontrol. Disimpulkan bahwa model pembelajaran Project Based
Learning berbasis multirepresentasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap penguasaan konsep fisika Peserta didik.
Kata kunci: Project Based Learning, Multirepresentasi, Penguasaan
Konsep, Fisika
iii
ABSTRACT
This study aimed to determine the effect of implementing the
multirepresentation-based Project Based Learning (PjBL) model on
students' physics concept mastery. This research employed a quasi
experimental method with a pretest-posttest control group design. The
research sample consisted of eleventh-grade students at a high school
in Lampung, selected through purposive sampling. The experimental
group received treatment using the multirepresentation-based PjBL
model, while the control group used conventional learning methods.
The data collection instrument was a validated multiple-choice test on
physics concept mastery.
Data analysis was conducted using a t-test to examine the
difference in the average N-gain between the two groups. The results
indicated a significant difference in the improvement of physics
concept mastery between students taught with the multirepresentation
based PjBL model and those taught with conventional methods. The
average N-gain of the experimental group was significantly higher
than that of the control group. It is concluded that the
multirepresentation-based Project Based Learning model has a
positive and significant effect on students' physics concept mastery.
Keywords: Project Based Learning, Multirepresentation, Concept
Mastery, Physic
PEMBACAAN RUTINAN ASMĀ’UL HUSNĀ (Studi Living Qur’ān di Masjid al-Fajar Sukarame II Bandar Lampung),
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji praktik pembacaan rutinan Asmā‘ul
Husnā di Masjid Al-Fajar Sukarame II, Bandar Lampung, yang
dilaksanakan setiap pukul 8 malam setelah salat Isya. Berlandaskan
kajian Living Qur‘ān dan menggunakan teori Sosiologi Pengetahuan
Karl Mannheim, penelitian ini menganalisis pemaknaan, proses
transmisi, dan transformasi dari rutinitas tersebut.
Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan
penelitian lapangan (field research), berlokasi di Kelurahan Sukarame
II, Kecamatan Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung.
Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga metode utama:
observasi untuk mengamati langsung praktik yang berlangsung,
wawancara mendalam dengan para tokoh dan jamaah yang terlibat,
serta dokumentasi yang relevan. Fokus penelitian ini adalah
menelusuri pemaknaan, proses transmisi, dan transformasi dari
kegiatan rutinan tersebut. Data yang terkumpul kemudian dianalisis
menggunakan teknik deskriptif kualitatif untuk memahami fenomena
secara komprehensif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pembacaan Asmā‘ul
Ḥusnā di Masjid Al-Fajar Sukarame II memiliki makna sosial dan
spiritual yang mendalam. Berdasarkan teori Sosiologi Pengetahuan
Karl Mannheim, praktik ini secara objektif memperkuat solidaritas
sosial dan silaturahmi jamaah, secara ekspresif menjadi wujud
penghambaan serta pendekatan diri kepada Allah, dan secara
dokumenter telah membentuk identitas religius masyarakat setempat.
Secara historis, praktik ini ditransmisikan melalui KH. Amjad Al-
Ḥāfiẓ—pendiri Majelis Mujahadah Asmā‘ul Ḥusnā kepada KH.
Selamet Bunyamin di Sukarame II, yang kemudian ditransformasikan
menyesuaikan bentuknya agar lebih kontekstual: dari pembacaan
1.000 kali menjadi 33 kali. Meskipun jumlah bacaan berbeda,
keduanya berakar pada sumber yang sama, yakni al-Qur‘ān, hadis, dan
tradisi ulama, serta memiliki tujuan serupa taqarrub ilallāh dan
penguatan spiritual jamaah melalui dzikir yang penuh kesadaran,
kekhusyukan, dan keistiqamahan sebagai hasil dari proses transmisi
dan transformasi amalan keagamaan yang berkesinambungan.
Kata Kunci: Pembacaan Asmā’ul Husnā, Living Qur’ān
ii
iii
ABSTRACT
This study examines the practice of routine recitation of
Asmā’ul Husnā at the Al-Fajar Sukarame II Mosque, Bandar
Lampung, which is carried out every 8 pm after the Isha prayer.
Based on the Living Qur'an study and using Karl Mannheim's
Sociology of Knowledge theory, this study analyzes the meaning,
transmission process, and transformation of this routine.
This research method is qualitative with a field research
approach, located in Sukarame II Village, West Teluk Betung District,
Bandar Lampung City. Data collection was carried out using three
main methods: observation to directly observe the ongoing practice,
in-depth interviews with figures and congregations involved, and
relevant documentation. The focus of this study is to trace the
meaning, transmission process, and transformation of this routine
activity. The data collected was then analyzed using qualitative
descriptive techniques to understand the phenomenon
comprehensively.
The results of the study show that the recitation of Asmā’ul
Husnā has several meanings. Objectively, this activity is understood
as a means of solidarity between congregations and an effort to
strengthen ties among residents. Expressively, the congregation
interprets it as a form of devotion to Allah, an introduction to prayer
that strengthens faith and maintains manners, and a form of dhikr
worship that is essential for bringing Allah into everyday life.
Meanwhile, the documentary meaning reveals that this routine has
developed into a religious culture that is deeply rooted in the mosque
environment, forming a distinctive characteristic of the local
community's religious practices. The process of transmitting this
practice began with the initiation of Mr. Selamet Bunyamin, which
was based on the legalization of the Qur'an and Hadith and
discussions with Mrs. Suwarsih. This transmission was strengthened
by obtaining a formal diploma from K.H. Amjad al-Hafidzh, the
compiler of the book nazam Asmā'ul Husnā, which provided
legitimacy and encouraged the continuation of the activity. The
transformation of this practice reflects the evolution of the art of
da’wah since the time of the Prophet, with the nazam of Asmā’ul
Husnā used in the Al-Fajar Mosque as part of the expansion and
adaptation of this routine, showing how religious practices continue
to develop and adapt over time.
Keywords: Recitation of Asmā’ul Husnā, Living Qur’ān
PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK DISKUSI KELOMPOK DALAM PEMILIHAN KARIR PESERTA DIDIK SMA SWASTA TAMAN SISWA TELUK BETUNG UTARAPELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK DISKUSI KELOMPOK DALAM PEMILIHAN KARIR PESERTA DIDIK SMA SWASTA TAMAN SISWA TELUK BETUNG UTARA
ABSTRAK
Pemilihan karir merupakan salah satu tugas perkembangan
penting bagi peserta didik SMA yang memerlukan bimbingan dan
pendampingan secara sistematis. Berdasarkan hasil studi pendahuluan
di SMA Swasta Taman Siswa Teluk Betung Utara, ditemukan bahwa
sebagian peserta didik kelas XI masih mengalami kebingungan dalam
menentukan pilihan karir. Kondisi tersebut disebabkan oleh kurangnya
pemahaman terhadap potensi diri, minimnya informasi pendidikan
lanjutan dan dunia kerja, faktor ekonomi keluarga, serta rendahnya
dukungan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, diperlukan layanan
bimbingan yang mampu membantu peserta didik memahami diri dan
merencanakan karir secara matang, salah satunya melalui layanan
bimbingan kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan
layanan bimbingan kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok
dalam membantu pemilihan karir peserta didik di SMA Swasta Taman
Siswa Teluk Betung Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif dengan metode field research (penelitian
lapangan). Subjek penelitian terdiri atas satu guru bimbingan dan
konseling serta sepuluh peserta didik kelas XI yang mengalami
kesulitan dalam menentukan pilihan karir. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan layanan
bimbingan kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok dilaksanakan
melalui empat tahapan, yaitu tahap pembentukan, peralihan, kegiatan,
dan pengakhiran. Pada tahap kegiatan, Teknik Diskusi Kelompok
digunakan untuk mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam
bertukar pendapat, mengungkapkan pengalaman, serta membahas
berbagai alternatif pilihan karir. Guru bimbingan dan konseling
berperan sebagai fasilitator dengan menerapkan keterampilan dasar
konseling seperti attending, listening, dan focusing. Pelaksanaan
layanan ini memberikan dampak positif, yaitu meningkatnya
pemahaman peserta didik terhadap potensi diri, kejelasan tujuan karir,
motivasi, serta kesiapan dalam menentukan pilihan karir sesuai
dengan minat dan kemampuan.
ii
iii
Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan
Teknik Diskusi Kelompok terbukti efektif dalam membantu peserta
didik mengembangkan perencanaan dan pemilihan karirnya.
Penelitian ini merekomendasikan agar guru bimbingan dan konseling
mengoptimalkan penggunaan Teknik Diskusi Kelompok secara
berkelanjutan sebagai strategi layanan karir di sekolah.
Kata Kunci: Bimbingan Kelompok, Teknik Diskusi Kelompok,
Pemilihan Karir, Peserta Didik, SMA Swasta Taman Siswa Teluk
Betung Utara.
ABSTRACT
Career selection is one of the important developmental tasks
for senior high school students that requires systematic guidance and
assistance. Based on a preliminary study conducted at SMA Swasta
Taman Siswa Teluk Betung Utara, it was found that many eleventhgrade students still experienced difficulties in determining their career
choices. This condition was caused by limited self-understanding, lack
of information regarding further education and the world of work,
economic factors, and insufficient environmental support. Therefore,
appropriate guidance services are needed to help students understand
themselves and plan their careers effectively, one of which is group
guidance services using the Group Discussion Technique.
This study aimed to describe the implementation of group
guidance services using the Group Discussion Technique in assisting
students’ career selection at SMA Swasta Taman Siswa Teluk Betung
Utara. This research employed a descriptive qualitative approach
with a field research method. The research subjects consisted of one
guidance and counseling teacher and ten eleventh-grade students who
experienced difficulties in choosing a career. Data were collected
through observation, interviews, and documentation.
The results showed that the implementation of group guidance
services using the Group Discussion Technique was carried out
through four stages: formation, transition, activity, and termination.
During the activity stage, the Group Discussion Technique
encouraged students to actively participate in exchanging ideas,
sharing experiences, and discussing various career alternatives. The
guidance and counseling teacher acted as a facilitator by applying
basic counseling skills such as attending, listening, and focusing. The
implementation of this service had a positive impact on students,
including increased self-understanding, clearer career goals, higher
motivation, and improved readiness to determine career choices in
accordance with their interests and abilities.
Thus, group guidance services using the Group Discussion
Technique were proven to be effective in helping students develop
career planning and career selection. This study recommends that
guidance and counseling teachers optimize the use of the Group
iv
v
Discussion Technique on an ongoing basis as a career guidance
strategy in schools.
Keywords: Group Guidance, Group Discussion Technique, Career
Selection, Students, SMA Swasta Taman Siswa Teluk Betung Utara
PENGARUH DESENTRALISASI DAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Studi Pada PT Perkebunan Nusantara 1 Regional VII)
ABTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana
kinerja manajer dipengaruhi oleh desentralisasi dan sistem akuntansi
manajemen. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fakta bahwa
keduanya sangat penting untuk menerapkan struktur organisasi yang
terdesentralisasi dan sistem akuntansi manajemen yang tepat dalam
upaya untuk meningkatkan kinerja manajer dan pengambilan
keputusan dalam perusahaan.
Teori yang digunakan yaitu teori kontijensi dengan metode
kuantitatif melalui pengumpulan data berupa quisioner. Populasi
penelitian berjumlah 32 orang dengan Teknik sampling jenuh (sensus)
peneliti menggununakan sampel sebanyak 32 responden karena
populasi relative kecil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desentralisasi
berpengaruh Positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial,
desentralisasi memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih
cepat, tepat, dan sesuai dengan kondisi dilapangan. Sistem akuntansi
manajemen berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
manajerial. Penerapan sistem akuntansi manajemen membantu
manajer dalam merencanakan, mengendalikan, mengevaluasi, serta
membuat kuputusan dengan lebih efektif. Desentralisasi dan sistem
akuntansi manajemen secara simultan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja manajerial. Hasil menunjukkan nilai
koefisien determinasi (R2) sebesar 0,760 yang berarti 76% variasi
kinerja manajerial dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut.
Dalam perspektif islam, penerapan desentralisasi dan sistem akuntansi
manajemen sejalan dengan nilai-nilai musyawarah (ijma’a)
keadilam,transparansi, kejujuran. ABSTRACT
The purpose of this research is to examine how manager
performance is influenced by decentralization and management
accounting systems. The background of this research is based on the
fact that both are crucial for implementing a decentralized
organizational structure and an appropriate management accounting
system in an effort to enhance manager performance and decisionmaking within the company.
The theory used is contingency theory with a quantitative
method through data collection in the form of questionnaires. The
research population consists of 32 people with a saturated sampling
technique (census), and the researcher uses a sample of 32
respondents because the population is relatively small.
The research results indicate that decentralization has a
positive and significant effect on managerial performance;
decentralization allows for faster, more accurate decision-making that
is appropriate for on-the-ground conditions. Management accounting
systems also have a positive and significant impact on managerial
performance. The implementation of management accounting systems
assists managers in planning, controlling, evaluating, and making
decisions more effectively. Decentralization and management
accounting systems simultaneously have a positive and significant
effect on managerial performance. The results show a coefficient of
determination (R2) value of 0.760, which means that 76% of the
variation in managerial performance can be explained by these two
variables. From an Islamic perspective, the implementation of
decentralization and management accounting systems aligns with the
values of consultation (ijma’a), justice, transparency, and honesty