Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Raden Intan Repository
Not a member yet
    39192 research outputs found

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPAS DI MIN 11 BANDAR LAMPUNG

    No full text
    ABSTRAK Kemampuan peserta didik dalam memahami materi pelajaran sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas V MIN 11 Bandar Lampung, hasil belajar peserta didik menunjukkan adanya variasi yang signifikan, yang menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan menarik. Salah satu model pembelajaran yang diyakini dapat meningkatkan pemahaman dan daya ingat peserta didik adalah mind mapping. Dengan pendekatan visual yang terstruktur, model ini diyakini mampu membantu peserta didik dalam mengorganisasi informasi serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis sejauh mana penerapan model pembelajaran mind mapping dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPAS. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu metode penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengatasi permasalahan yang muncul selama proses belajar-mengajar. PTK bersifat siklus, yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, sehingga memungkinkan guru untuk terus memperbaiki strategi pengajarannya berdasarkan hasil yang diperoleh. Dengan pendekatan ini, guru dapat secara langsung mengidentifikasi kendala yang dihadapi siswa serta mencoba solusi yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran secara sistematis dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan untuk menjawab rumusan masalah pada penelitian ini “Apakah Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping dapat Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik Kelas V A Pada Mata Pelajaran IPAS di MIN 11 Bandar Lampung?. Dengan jumlah subjek peserta didik sebanyak 39 peserta didik, peneliti dapat mengemukakan beberapa kesimpulan yaitu Aktivitas guru dalam penerapan Model Mind Mapping pada pembelajaran IPAS pada tiap siklus mengalami ii peningkatan, nilai rata-rata yang di dapatkan pada siklus II memperoleh persentase 79%. Hasil belajar peserta didik melalui Penerapan Model Mind Mapping Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas V A Pada Mata Pelajaran IPAS Di MIN 11 Bandar Lampung yang di lihat dari nilai post-test pada setiap siklusnya mengalami peningkatan. Kriteria ketuntasan maksimal (KKTP) yang ditentukan sekolah adalah 75. Pada siklus II hasil belajar memperoleh skor 79% tuntas dan sudah memenuhi KKTP. Maka dapat disimpulkan Penerapan Model Mind Mapping Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas V A Pada Mata Pelajaran IPAS Di MIN 11 Bandar Lampung Kata Kunci : Model Pembelajaran Mind Mapping, Hasil Belajar, IPAS, MIN 11 Bandar Lampung iii ABSTRACT Students’ ability to understand learning material is greatly influenced by the teaching methods applied by educators. In the Science and Social Studies (IPAS) subject for fifth-grade students at MIN 11 Bandar Lampung, student learning outcomes show significant variation, indicating the need for more effective and engaging instructional approaches. One instructional model believed to enhance students’ comprehension and memory retention is mind mapping. Through its structured visual approach, this model is expected to help students organize information and develop critical and analytical thinking skills. Therefore, this research was conducted to analyze the extent to which the application of the mind mapping model can positively impact students’ learning outcomes in the IPAS subject. This study uses Classroom Action Research (CAR), a method conducted by teachers within the classroom to improve the quality of learning and address challenges encountered during the teaching and learning process. CAR follows a cyclical process that includes planning, action, observation, and reflection, allowing teachers to continuously refine their teaching strategies based on outcomes obtained. Through this approach, teachers can directly identify students’ learning obstacles and implement systematic and sustainable solutions to improve learning effectiveness. Based on the research conducted to answer the problem statement, “Can the Application of the Mind Mapping Learning Model Improve the Learning Outcomes of Class V A Students in the IPAS Subject at MIN 11 Bandar Lampung?”, with 39 student participants, several conclusions can be drawn. Teacher activity in implementing the mind mapping model in IPAS learning increased in each cycle, with an average score in the second cycle reaching 79%. Student learning outcomes showed improvement through the implementation of the mind mapping model, as indicated by post-test scores in each cycle. The school's minimum completeness criteria (KKTP) is set at 75. In the second cycle, student learning outcomes achieved a completeness score of 79%, meeting the KKTP requirement. It can therefore be concluded iv that the application of the mind mapping learning model can improve the learning outcomes of Class V A students in the IPAS subject at MIN 11 Bandar Lampung. Keywords: Mind Mapping Learning Model, Learning Outcomes, IPAS, MIN 11 Bandar Lampun

    PERAN MODAL SOSIAL KEAGAMAAN DALAM PENGEMBANGAN RUMAH MAKAN SAMBEL ALU DI SULTAN AGUNG WAY HALIM KOTA BANDAR LA

    No full text
    ABSTRAK Usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun dalam praktiknya, banyak UKM menghadapi keterbatasan akses modal dan jejaring, sehingga membutuhkan dukungan modal sosial untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha. Modal sosial ini mencakup : Jaringan sosial keagaman (hubungan timbal balik, solidaritas serta kerjasama), Norma dan nilai (Do’a bersama, amanah, disiplin), serta Trust (kepercayaan sosial). Rumah Makan Sambel Alu menjadi salah satu contoh UKM yang sukses menarik perhatian masyarakat Bandar Lampung. Keunikan produk, pelayanan yang ramah, serta inovasi rasa menjadikan konsumen merasa nyaman. Selain fokus pada kualitas produk, pemilik Rumah Makan Sambel Alu juga menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada karyawan, seperti pengajian rutin setiap Jumat, hafalan Al-Qur’an hingga juz 30, serta belajar tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Di samping itu, Rumah Makan Sambel Alu juga menonjolkan nilai sosial melalui berbagai kegiatan, antara lain memberikan pelatihan kepada karyawan, melakukan kunjungan ke panti asuhan di Bandar Lampung, berbagi nasi kotak selama bulan Ramadhan, mendistribusikan bantuan ke Panti Asuhan Mahmudah Kemiling, hingga membagikan 1000 paket sembako dan nasi kotak untuk masyarakat yang membutuhkan bekerja sama dengan lembaga amal. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti memaparkan rumusan masalah, yang pertama, Bagaimana bentuk modal sosial keagamaan Rumah Makan Sambel Alu ? yang kedua Bagaimana peran modal sosial keagamaan dalam pengembangan Rumah Makan Sambel Alu ? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk modal sosial keagamaan Rumah Makan Sambel Alu, dan untuk mengetahui bagaimana peran modal sosial keagamaan dalam pengembangan Rumah Makan Sambel Alu. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data pada penelitian ini yakni dengan cara reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan kunci yang berjumlah satu orang, Informan utama yang berjumlah dua orang, dan Informan tambahan yang berjumlah lima orang. ABSTRACT Small and medium enterprises (SMEs) play a crucial role in supporting economic growth in Indonesia. However, in practice, many SMEs face limited access to capital and networks, requiring social capital support to maintain and grow their businesses. This social capital includes: Religious social networks (reciprocal relationships, solidarity, and cooperation), Norms and values (joint prayer, trust, discipline), and Trust (social trust). Sambel Alu Restaurant is an example of an SME that has successfully captured the attention of the Bandar Lampung community. Its unique products, friendly service, and innovative flavors make consumers feel comfortable. In addition to focusing on product quality, the owner of Sambel Alu Restaurant also instills religious values in employees, such as regular Friday recitations, memorizing the Qur'an up to Juz 30, and learning tahsin to improve their recitation of the Qur'an. In addition, Rumah Makan Sambel Alu also emphasizes social values through various activities, including providing training to employees, visiting orphanages in Bandar Lampung, sharing boxed meals during the month of Ramadan, distributing aid to the Mahmudah Kemiling Orphanage, and distributing 1,000 basic food packages and boxed meals to people in need in collaboration with charities. This study seeks to answer two main research questions: first, what forms of religious social capital are evident at Sambel Alu Restaurant? Second, what role does religious social capital play in the development of the restaurant? The research aims to identify the specific expressions of religious social capital and analyze its impact on the growth and sustainability of the business. Employing a qualitative field research approach, this study utilizes both primary and secondary data sources. Data were collected through observations, indepth interviews, and document analysis. The informants included one key informant, two main informants, and five additional informants, providing comprehensive insights into the restaurant’s social and religious practices. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and data verification, ensuring the reliability and validity of the findings. The results reveal that the forms of religious social capital at\ud Sambel Alu Restaurant encompass various community-oriented and employee-focused activities. These include distributing groceries and meal boxes, donations to orphanages and disaster victims, free scholarships at SMK Taruna, free daycare services for employees’ children, the establishment of Sambel Alu Institute for human resourcev empowerment, regular Friday religious gatherings, Qur’an memorization programs, tahsin lessons, and providing free umrah pilgrimage trips for employees who have memorized Juz 30 of the Qur’an. Religious social capital plays a multifaceted role in the development of Sambel Alu Restaurant. It strengthens interpersonal relationships among employees, fosters a trusting relationship with customers, encourages engagement in social and charitable activities, cultivates a positive and supportive workplace culture, and expands the business’s network and social reach. These roles collectively contribute to the sustainability and competitive advantage of the restaurant, highlighting the critical importance of integrating religious social capital into SME development strategies

    PERSEPSI TOKOH AGAMA TERHADAP PERKAWINAN DI BAWAH UMUR DITINJAU DARI HUKUM KELUARGA ISLAM (Studi Kasus Di Kampung Sukabumi Kecamatan Buay Bahuga Kabupaten Way Kanan)

    No full text
    ABSTRAK Perkawinan di bawah umur menurut agama Islam adalah perkawinan yang dilakukan orang yang belum baligh atau belum dapat mensturasi pertama bagi seorang wanita. perkawinan di bawah umur adalah perkawinan yang dilangsungkan oleh anak usia 19 (sembilan belas) tahun untuk laki-laki dan wanita. Karenanya perkawinan tersebut telah melanggar ketentuan Undang-Undang, dan oleh karena itu perkawinan tersebut hanya dilakukan berdasarkan aturan agama atau adat istiadat serta perkawinannya tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi yang beragama Islam. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam pasal 7 ayat 1 menetapkan batas umur perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Namun, di Kampung Sukabumi, Kecamatan. Buay Bahuga, Kabupaten. Way Kanan terdapat kasus perkawinan di bawah umur. Tokoh Agama setempat beranggapan menikah di bawah umur diperbolehkan karena sudah mendapatkan izin dari orang tua, sebab pernikahan adalah perkara sunah yang sangat ditekankan juga termasuk sunah para Rasul, pernikahan ini tidak diragukan kewajibannya terhadap siapa yang takut jatuh ke jurang zina. Rumusan masalah dalam penelitian ini Bagaimana Persepsi Tokoh Agama Terhadap Perkawinan di Bawah Umur Di Kampung Sukabumi, Kecamatan. Buay Bahuga, Kabupaten.Way Kanan dan Bagaimana Tinjauan Hukum Keluarga Islam mengenai Persepsi Tokoh Agama Terhadap Perkawinan di Bawah Umur Di Kampung Sukabumi, Kecamatan. Buay Bahuga, Kabupaten.Way Kanan. Jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian lapangan (field research), penelitian ini bersifat deskriptif, yakni penulis berusaha menyajikan fakta-fakta yang objektif sesuai dengan kondisi dan situasi yang sebenarnya terjadi pada saat penelitian dilakukan dengan sumber data primer dan data skunder Dokumentasi. Menurut persepsi Tokoh Agama terhadap perkawinan di bawah umur di Kampung Sukabumi, ialah di perbolehkan, sebab perkawinan tidak mengenal minimal umur seseorang untuk melangsungkan pernikahan. Sedangkan batasan yang di tekankan untuk usia melakukan perkawinan adalah baligh. Perkawinan ini tidak diragukan kewajibannya terhadap siapa yang takut jatuh ke jurang zina, oleh karenanya perkawinan di bawah umur dalam persepsi tokoh agama di kampung sukabumi tidak menjadi masalah selama seseorang merasa mampu dan bertanggung jawab dan hukum keluarga Islam persepsi tokoh agama, sebaiknya mengenai ketentuan perkawinan dibawah umur harus berpedoman pada Undang-Undang Perkawinan UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai batas minimal perkawinan yakni usia minimal laki-laki dan wanita menjadi 19 tahun. ABSTRACT Underage marriage according to Islam is a marriage performed by a person who has not reached puberty or has not yet reached the first menstruation for a woman. Underage marriage is a marriage performed by a child aged 19 (nineteen) years for men and women. Therefore, the marriage has violated the provisions of the Law, and therefore the marriage is only carried out based on religious rules or customs and the marriage is not registered at the Office of Religious Affairs (KUA) for those who are Muslim. Law Number 16 of 2019 concerning Amendments to Law Number 1 of 1974 concerning Marriage in Article 7 paragraph 1 sets the minimum age for marriage at 19 years for men and women. However, in Sukabumi Village, Buay Bahuga District, Way Kanan Regency there is a case of underage marriage. Local religious leaders believe that underage marriage is permissible provided parental permission is obtained. This is because marriage is a highly emphasized Sunnah (religious practice) and is a tradition of the Prophets. This marriage is undoubtedly obligatory for anyone who fears falling into adultery. The research problem in this study is: What are the perceptions of religious leaders regarding underage marriage in Sukabumi Village, Buay Bahuga District, Way Kanan Regency, and how does Islamic family law examine their perceptions of underage marriage in Sukabumi Village, Buay Bahuga District, Way Kanan Regency? This qualitative research method utilizes field research. This study is descriptive in nature, meaning the author attempts to present objective facts based on the actual conditions and situations at the time of the research, using primary data sources and secondary documentation. According to religious leaders, underage marriage in Sukabumi Village is permissible because there is no minimum age for marriage. The emphasized age limit for marriage is puberty. This marriage is undoubtedly an obligation for those who are afraid of falling into the abyss of adultery, therefore underage marriage in the perception of religious leaders in Sukabumi village is not a problem as long as someone feels capable and responsible and Islamic family law in the perception of religious leaders, it is better that the provisions on underage marriage should be guided by the Marriage Law Law Number 16 of 2019 concerning Amendments to Law Number 1 of 1974 concerning Marriage regarding the minimum limit for marriage, namely the minimum age for men and women to be 19 years

    PERAN PENDAMPING KELUARGA HARAPAN (PKH) DALAM PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DI KECAMATAN GUNUNG LABUHAN WAY KANAN

    No full text
    Abstrak Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara, terutama di negara-negara berkembang dan tertinggal. Masalah kemiskinan bersifat multidimensional yang disebabkan oleh banyak faktor yang tidak hanya menjadi domain bidang ekonomi saja, tetapi juga politik, sosial, budaya dan sistem sosial lainnya. Peran pendamping Peran Pendamping Keluarga Harapan (PKH) ini untuk memberantas kemiskinan atau mengurangi rantai kemiskinan. Adapun peran pendamping dalam konteks penelitian ini adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang menjadi penghubung masyarakat dengan berbagai lembaga terkait dan diperlukan bagi pengembangan pendamping dalam Program Keluarga Harapan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Peran Pendamping Keluarga Harapan (PKH) Dalam Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Kecamatan Gunung Labuhan Way Kanan. Penelian ini bersifat deskritif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah ada 40 populasi. Peneliti menentukan kriteria bagi narasumber dalam penelitian ini, sebagai berikut, Ketua Kecamatan, Sekertaris Kecamatan, Pendamping PKH oleh Rio, Heri, Irwan, Leni, Sukarsih, julaiha, Weni,Yeni, 6 Keluarga Penerima Manfaat Kecamatan gunung Labuhan Way Kanan. Penelitian ini bersifat kualitatif dan penelitiann ini menggunakan teknik purposive sampling, dengan menggunakan metode sumber data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data lama penelitian ini menggunakan interview, observasi, dokumentasi. Kemudian rumusan masalah dalam penelitian ini Bagaimana Peran Pendamping Keluarga Harapan (PKH) Dalam Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Kecamatan Gunung Labuhan Way Kanan. Hasil ini menujukan bahwa Peran Keluarga Harapan (PKH) Dalam Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Kecamatan Gunung Labuhan Way Kanan Pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) sedang menjalankan tugasnya, khususnya dalam menjalankan fungsi sebagai fasilitator, yang mencakup edukasi, fasilitasi, dan motivasi, Peran pendamping PKH dalam fungsi edukasi sangat penting dalam menciptakan perubahan mindset dan perilaku keluarga miskin. Edukasi yang diberikan melalui kegiatan seperti P2K2, sosialisasi iii pendidikan, dan penyuluhan hukum membentuk keluarga yang lebih sadar, sehat, dan memiliki semangat untuk berubah. Edukasi ini menjadi pondasi awal menuju kemandirian dan kesejahteraan social. fasilitasi dari Pendamping PKH berperan penting dalam menghubungkan keluarga miskin dengan kesempatan dan sumber daya yang sebelumnya sulit diakses. Motivator, pendamping PKH membangkitkan semangat dan kesadaran Keluarga Penerima Manfaat (KPM) agar memiliki mentalitas mandiri, percaya diri, dan mau bekerja keras keluar dari ketergantungan. Kata Kunci : Peran Pendamping, Keluarga Harapan, Kesejahteraan Sosial iv Abstract Poverty is a problem faced by all countries, especially in developing and underdeveloped countries. The problem of poverty is multidimensional, caused by many factors that are not only the domain of the economic field, but also political, social, cultural and other social systems. The role of a companion in the context of this research is an activity carried out by someone who becomes a community liaison with various related institutions and is necessary for the development of companions in the Family Hope Programme. This study aims to describe the role of Family Hope Programme (PKH) Facilitators in the Development of Social Welfare in Gunung Labuhan Way Kanan District. This research is qualitative descriptive. The subjects in this study totalled 40 populations. Researchers determine the criteria for sources in this study, as follows, the Head of the Subdistrict, the Secretary of the Subdistrict, PKH Facilitators by Rio, Heri, Irwan, Leni, Sukarsih, julaiha, Weni, Yeni, 6 Beneficiary Families of Mount Labuhan Way Kanan Subdistrict. This research is qualitative and this research uses purposive sampling techniques, using primary and secondary data source methods, old data collection techniques this research uses interviews, observation, documentation. Then the formulation of the problem in this study How is the Role of Family Hope Facilitators (PKH) in the Development of Social Welfare in Gunung Labuhan Way Kanan District. These results indicate that the Role of Family Hope (PKH) in Social Welfare Development in Gunung Labuhan Way Kanan District PKH (Family Hope Program) assistants are carrying out their duties, especially in carrying out their functions as facilitators, which include education, facilitation, and motivation. The role of PKH assistants in the education function is very important in creating changes in the mindset and behaviour of poor families. Education provided through activities such as P2K2, education socialisation, and legal counselling forms families who are more aware, healthy, and have the spirit to change. The facilitation of PKH Facilitators plays an important role in connecting poor families with opportunities and resources that were previously difficult to access. Motivators, PKH Facilitators raise the v enthusiasm and awareness of Beneficiary Families (KPM) so that they have an independent mentality, are confident, and want to work hard to get out of dependence. Keywords: The Role of Facilitators, Family Hope, Social Welfar

    PENERAPAN PROGRAM LITERASI DALAM AKSESIBILITAS INFORMASI BAGI SISWA DI SMA NEGERI 1 PASIR SAKTI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

    No full text
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan program literasi sekolah dan kontribusinya terhadap aksesibilitas informasi siswa di SMA Negeri 1 Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur, dengan fokus pada program Literasi Jumat Pagi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya budaya literasi di sekolah serta keterbatasan akses informasi yang dialami siswa akibat koleksi bacaan yang terbatas, kurang relevan dengan kebutuhan, serta pelaksanaan literasi yang belum konsisten sesuai pedoman Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Program Literasi Jumat Pagi dipilih karena menjadi kegiatan utama literasi, namun pelaksanaannya hanya sekali dalam seminggu dengan sistem rotasi kelas, sehingga belum sepenuhnya membentuk kebiasaan membaca. Penelitian ini menggunakan teori literasi sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tiga indikator yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran serta teori aksesibilitas informasi dari Beverly K. Kahn yang diperluas oleh Cullen dan Van Dijk dengan lima indikator, yaitu kemudahan akses, ketersediaan informasi, ketepatan informasi, kecepatan akses, dan ketersediaan fasilitas pendukung. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian meliputi koordinator literasi, pustakawan, guru, dan siswa. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program literasi di SMA Negeri 1 Pasir Sakti meliputi kegiatan Tadarus Al-Qur’an, One Person One Juz, Mading, Literasi Budaya, serta Literasi Jumat Pagi. Program Literasi Jumat Pagi terbukti berkontribusi dalam membiasakan siswa membaca, mengembangkan keterampilan literasi, dan membentuk budaya literasi sekolah. Namun, aksesibilitas informasi masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan jumlah dan variasi koleksi bacaan, kurangnya relevansi dengan kurikulum, serta layanan informasi yang masih manual. Meskipun demikian, peran guru, pustakawan, serta fasilitas seperti pojok baca dan perpustakaan tetap mendukung ketercapaian tujuan literasi. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa Literasi Jumat Pagi berperan positif terhadap penguatan budaya literasi dan aksesibilitas informasi siswa, meskipun masih diperlukan peningkatan koleksi bacaan, pemanfaatan teknologi, serta konsistensi pelaksanaan agar tujuan literasi dapat tercapai secara optimal. Kata Kunci: Aksesibilitas Informasi, Budaya Literasi Koleksi Perpustakaan, Program Literasi Sekolah ii ABSTRACT The purpose of this study is to describe the implementation of the school literacy program and its contribution to student information accessibility at SMA Negeri 1 Pasir Sakti, East Lampung Regency, with a focus on the Friday Morning Literacy program. This research is motivated by the low literacy culture in schools and the limited access to information experienced by students due to a limited collection of reading materials, which are often irrelevant to their needs, as well as inconsistent implementation of literacy programs in accordance with the guidelines of the School Literacy Movement (GLS). The Friday Morning Literacy Program was chosen because it is the main literacy activity, but its implementation is only once a week with a class rotation system, so it has not yet fully established a reading habit. This study uses the school literacy theory from the Ministry of Education and Culture with three indicators, namely habit formation, development, and learning, as well as the information accessibility theory from Beverly K. Kahn, expanded by Cullen and Van Dijk with five indicators, namely ease of access, availability of information, accuracy of information, speed of access, and availability of supporting facilities. The research method used was qualitative with a descriptive approach. The research subjects included literacy coordinators, librarians, teachers, and students. Data was collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed using Miles and Huberman's interactive model through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results indicate that the literacy program at SMA Negeri 1 Pasir Sakti includes activities such as Quran recitation, One Person One Juz, bulletin boards, cultural literacy, and Friday Morning Literacy. The Friday Morning Literacy Program has proven to contribute to fostering students' reading habits, developing literacy skills, and shaping the school's literacy culture. However, information accessibility still faces challenges, particularly the limited quantity and variety of reading materials, lack of relevance to the curriculum, and manual information services. Despite this, the roles of teachers, librarians, and facilities such as reading corners and libraries continue to support the achievement of literacy goals. Thus, this study concludes that the Friday Morning Literacy Program has a positive impact on strengthening literacy culture and information accessibility for students, although improvements are still needed in terms of reading material collections, technology utilization, and consistency in implementation to achieve literacy goals optimally. Keywords: Information Accessibility, Library Collections, Literacy Culture, School Literacy Progra

    ANALISIS PENGARUH ENVIRONMENTAL, SOCIAL AND GOVERNANCE (ESG) REPORTING TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN EFISIENSI INVESTASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI

    No full text
    ABSTRAK Environmental, Social, and Governance (ESG) reporting merupakan praktik pengungkapan perusahaan mengenai aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang mencerminkan komitmen keberlanjutan. Praktik ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi nilai perusahaan, khususnya pada sektor pertambangan yang memiliki risiko lingkungan dan sosial tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ESG reporting terhadap nilai perusahaan dengan efisiensi investasi sebagai variabel moderasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ESG reporting terhadap nilai perusahaan dengan efisiensi investasi sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Data panel diperoleh dari 15 perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2023 dengan total 45 observasi. Analisis dilakukan menggunakan regresi data panel dengan pendekatan Random Effect Model (REM) dan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESG reporting berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan Tobin’s Q, dengan nilai probabilitas di bawah 0,05. Sementara itu, efisiensi investasi tidak terbukti sebagai variabel moderasi yang memperkuat maupun melemahkan pengaruh ESG terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa tingginya pengungkapan ESG belum diterjemahkan menjadi peningkatan nilai pasar jika investasi tidak dialokasikan secara strategis untuk mendukung keberlanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas ESG reporting dalam meningkatkan nilai perusahaan memerlukan sinergi dengan pengelolaan investasi yang berbasis keberlanjutan dan transparansi. ABSTRACT Environmental, Social, and Governance (ESG) reporting is a company practice of disclosing information related to environmental, social, and governance aspects—reflecting a commitment to sustainability. This practice extends beyond corporate social responsibility and holds the potential to impact firm value, particularly in the mining sector which faces high environmental and social risks. This study aims to examine the effect of ESG reporting on firm value, with investment efficiency as a moderating variable. This study aims to examine the effect of ESG reporting on firm value with investment efficiency as a moderating variable in mining sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange. Panel data were obtained from 15 mining companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2021–2023, totaling 45 observations. Analysis was conducted using panel data regression with the Random Effects Model (REM) and Moderated Regression Analysis (MRA). The results indicate that ESG reporting has a significant negative impact on firm value, as measured by Tobin’s Q, with a probability value below 0.05. Meanwhile, investment efficiency does not function as a moderating variable that strengthens or weakens the effect of ESG on firm value. This suggests that a high level of ESG disclosure has not yet translated into an increase in market value if investments are not strategically allocated to support sustainability. The study concludes that the effectiveness of ESG reporting in enhancing firm value requires synergy with sustainability-oriented and transparent investment management

    IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN SEKOLAH DI KELAS V MI NURUL IMAN SEKINCAU LAMPUNG BARAT

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter peduli lingkungan di Kelas V MI Nurul Iman Sekincau Lampung barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru kelas, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter peduli lingkungan dilaksanakan melalui tiga strategi utama, yaitu: (1) Pembiasaan, berupa kegiatan piket pagi, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, dan kegiatan Jumat Bersih; (2) Keteladanan, yaitu guru memberi contoh perilaku peduli lingkungan dalam kegiatan sehari-hari seperti merawat tanaman dan menghemat energi; serta (3) Budaya sekolah, berupa adanya program penghijauan, pemanfaatan barang bekas, penyediaan sarana kebersihan, dan kegiatan menanam bersama. Meskipun demikian, pelaksanaan pendidikan karakter peduli lingkungan masih memiliki hambatan, seperti kurangnya kesadaran sebagian siswa, minimnya keterlibatan orang tua, serta kurang optimalnya sarana pendukung. Dengan demikian, pendidikan karakter peduli lingkungan di MI Nurul Iman Sekincau Lampung barat telah terlaksana dengan cukup baik, namun memerlukan penguatan berkelanjutan agar nilai-nilai peduli lingkungan benar-benar terinternalisasi dalam diri peserta didik. Kata kunci: Pendidikan Karakter, Peduli Lingkungan, MI Nurul Iman Sekincau Lampung barat iii ABSTRACT This study aims to describe the implementation of environmental care character education in the fifth-grade students of MI Nurul Iman Sekincau Lampung barat. This research employed a qualitative descriptive approach. The subjects of this study included the principal, classroom teacher, and students. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the study indicate that the implementation of environmental care character education is carried out through three main strategies: (1) Habituation, such as daily cleaning duties, disposing of waste properly, maintaining classroom cleanliness, and Friday Clean-Up activities; (2) Role Modeling, where teachers demonstrate environmentally friendly behavior such as watering plants and conserving energy; and (3) School Culture, including greening programs, recycling practices, availability of cleaning facilities, and planting activities. However, several obstacles still exist, including students’ limited awareness, lack of parental involvement, and insufficient environmental facilities. Thus, environmental care character education at MI Nurul Iman Sekincau Lampung barat has been implemented quite well, although continuous reinforcement is needed to ensure that environmental awareness values become internalized in students’ daily lives. Keywords: Character Education, Environmental Care, MI Nurul Iman Sekincau Lampung bara

    THE INFLUENCE OF DIGITAL COMIC TOWARDS STUDENTS NARRATIVE WRITING AT THE SECOND SEMESTER OF THE TENTH GRADE OF SMAN 10 BANDAR LAMPUNG IN THE ACADEMIC YEAR 2024/2025

    No full text
    ABSTRACT In the digital era there are a lot of translation platforms that can beused for free. However, it makes students depend on that platform. The objective of this study is to find out whether there is a significant influence of using Digital comics as media on students‟ Writing ability at tenth grade of SMA 10 Bandar Lampung in academic year of 2024/2025. The research approach used in this study was quantitative method by using a quasi-experimental design. The population of this research was the students‟ tenth grade of SMA 10 Bandar Lampung in academic year of 2024/2025 with totals 66 students. The total samplein this research was 66 students. In collecting the data, the researcher gave treatment in experimental class and no treatment to control class and pre test also post test in both of class. After giving the test, the researcher analyzed the data by using SPSS Statistics 25. The result of the study is the data had not normal distribution but homogeneous, then the hypothetical test used the Mann-Whitney U showed the Sig.(Pvalue) = 0.044. It was lower than α = 0.05 and it means that H0 was rejected and Ha was accepted. It can be concluded that there is a significant influence of Digital comics on students‟ Writing ability at tenth grade of SMA 10 Bandar Lampung in academic year of 2024/2025. Keywords: Media, Writing, Web Comic

    BIMBINGAN KELOMPOK MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL SEBAGAI LAYANAN PREVENTIF PENGGUNAAN NARKOBA PADA SISWA DI MTsN 2 BANDAR LAMPUNG

    No full text
    ABSTRAK Layanan preventif di sekolah merupakan bentuk upaya pencegahan dini terhadap perilaku beresiko pada remaja, khususnya penyalahgunaan narkoba. Masa remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap pengaruh negatif lingkungan, pergaulan dan media sosial yang dapat menjerumuskan pada perilaku menyimpang. Siswa MTsN 2 Bandar Lampung memiliki pemahaman yang rendah seperti kurang mengetahui dampak bahaya penggunaan narkoba dan pencegahan penggunaan narkoba. Rendahnya pemahaman bahaya penggunaan narkoba disebabkan oleh kurangnya informasi dan edukasi yang cukup oleh para siswa. Mengikuti bimbingan kelompok melalui media audio visual ini siswa mendapatkan informasi terkait materi tentang bahaya penggunaan narkoba sebagai pencegahan penggunaan narkoba tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan proses pelaksanaan Bimbingan Kelompok Melalui Media Audio Visual Sebagai Layanan Preventif Penggunaan Narkoba Pada Siswa di MTsN 2 Bandar Lampung. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Sumber data penelitian ini berjumlah 8 orang, yang terdiri 7 siswa dan 1 guru BK. Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen grafis berupa tabel dan catatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa pelaksanaan Bimbingan Kelompok Melalui Media Audio Visual Sebagai Layanan Preventif Penggunaan Narkoba Pada Siswa di MTsN 2 Bandar Lampung dengan beberapa tahap yaitu tahap pertama yaitu tahap pembentukan yang mana guru BK mempersiapkan alat serta sarana dan prasarana, penjadwalan bimbingan kelompok, pembentukan kelompok, menentukan tujuan bersama, perkenalan dan membentuk hubungan yang lebih dekat dengan anggota kelompok. Tahap kedua yaitu tahap peralihan yang mana guru BK menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya dan memastikan anggota kelompok iii sudah siap mengikuti bimbingan kelompok dengan baik serta membangun suasana bimbingan kelompok tidak bersifat rahasia. Tahap ketiga yaitu tahap inti kegiatan, pada tahap ini guru BK akan melaksanakan bimbingan kelompok melalui media audio visual berupa video. Dalam pemberian materi berupa video, materi yang diberikan yaitu tentang pengertian narkoba, jenis-jenis narkoba, dampak bahaya penggunaan narkoba dan pencegahan penggunaan narkoba. Tahap keempat adalah tahap pengakhiran dengan melakukan penutupan bimbingan kelompok berupa evaluasi dan tindak lanjut. Kata kunci: Bimbingan Kelompok, Media Audio Visual, Layanan Preventif iv ABSTRACK Preventive services in schools are a form of early prevention efforts against risky behavior in adolescents, especially drug abuse. Adolescence is a transitional phase that is vulnerable to negative influences from the environment, social circles, and social media that can lead to deviant behavior. Students of MTsN 2 Bandar Lampung have low understanding, such as not knowing the dangerous impacts of drug use and how to prevent drug use. The low understanding of the dangers of drug use is caused by the lack of adequate information and education by students. By participating in group guidance through audio-visual media, students receive information related to the material about the dangers of drug use as a prevention of drug use. The purpose of this study is to determine and explain the process of implementing Group Guidance Through Audio-Visual Media as a Preventive Service for Drug Use at MTsN 2 Bandar Lampung. This research is qualitative and descriptive in nature. 8 data sources were used, 7 students and 1 guidance counselor. Secondary data sources were obtained from graphical documents in the form of tables and notes. The data collection techniques used were interviews, observation, and documentation. Data analysis techniques included data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study stated that the implementation of Group Guidance Through Audio Visual Media as a Preventive Service for Drug Use in Students at MTsN 2 Bandar Lampung with several stages, namely the first stage is the formation stage where the BK teacher prepares tools and facilities and infrastructure, schedules group guidance, forms groups, determines common goals, introduces and forms closer relationships with group members. The second stage is the transition stage where the BK teacher explains the activities to be undertaken in the next stage and ensures that group members are ready to follow group guidance well and builds an atmosphere of group guidance that is not confidential. The third stage is the core stage of the activity, at this stage the BK teacher will carry out group guidance through audio visual media in the form of videos. Inproviding material in the form of videos, the material provided is about the definition of drugs, types of drugs, the dangerous impacts of drug use and prevention of drug use. The fourth stage is the closing stage by closing group guidance in the form of evaluation and follow up. Keywords: Group Guidance, Audio Visual Media, Preventive Services

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PJBL) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA PESERTA DIDIK KELAS IV DI SD NEGERI KEMBANG GADING

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap hasil belajar IPA peserta didik kelas IV di SD Negeri Kembang Gading. Latar belakang penelitian ini berangkat dari rendahnya hasil belajar IPA yang disebabkan oleh kurangnya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, serta dominannya metode ceramah yang membuat peserta didik pasif. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dipilih karena dapat melibatkan peserta didik secara aktif dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek yang relevan dengan kehidupan nyata sehingga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman konsep serta hasil belajar mereka. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experimental design), dengan bentuk Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IV SD Negeri Kembang Gading tahun pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 56 siswa. Sampel penelitian terdiri atas kelas IV A sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dan kelas IV B sebagai kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar IPA dalam bentuk pilihan ganda sebanyak 25 butir soal reliabilitasnya. yang Analisis data telah diuji validitas dan dilakukan menggunakan uji-t (Independent Sample t-Test) dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA peserta didik yang diajar dengan model Project Based Learning (PjBL) dan yang diajar dengan model konvensional. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji-t yang menunjukkan nilai t_hitung > t_tabel (4,75 > 2,00) dan nilai signifikansi (Sig. 0,000 < 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPA peserta didik kelas IV di SD Negeri Kembang Gading. Model PjBL mampu meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis, serta keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Kata Kunci : Project Based Learning (PjBL), hasil belajar, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ii ABSTRACT This study aims to determine the effect of the Project-Based Learning (PjBL) model on the science learning outcomes of fourth grade students at Kembang Gading Public Elementary School. The background of this study stems from the low science learning outcomes caused by a lack of student involvement in the learning process and the dominance of the lecture method, which makes students passive. The Project-Based Learning (PjBL) model was chosen because it can actively engage students in designing, implementing, and evaluating projects relevant to real life, thus improving their conceptual understanding and learning outcomes. This study used a quantitative method with a quasi-experimental design, using a Nonequivalent Control Group Design. The population in this study was all fourth-grade students at Kembang Gading Public Elementary School in the 2024/2025 academic year, totaling 56 students. The study sample consisted of class IV A as the experimental class, which was given treatment using the Project-Based Learning (PjBL) model, and class IV B as the control class, which used a conventional learning model. Data collection used a 25-item multiple choice science learning outcome test, which had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using an Independent Sample t-test with a significance level of 0.05. The results showed a significant difference between the science learning outcomes of students taught using the Project-Based Learning (PjBL) model and those taught using the conventional model. This is evidenced by the t-test results, which showed a calculated t value > t table (4.75 > 2.00) and a significance value (Sig. 0.000 < 0.05). Thus, it can be concluded that the implementation of the Project-Based Learning (PjBL) model has a positive and significant effect on the science learning outcomes of fourth-grade students at Kembang Gading Public Elementary School. The PjBL model is able to improve conceptual understanding, critical thinking skills, and student engagement in the learning process. Keywords : Project-Based Learning (PjBL), learning outcomes, Natural Sciences (IPA

    29,220

    full texts

    39,192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Raden Intan Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇