39192 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI PROGRAM INDONESIA PINTAR DI SDN 14 TELUK PANDAN DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI DESA SUKAJAYA LEMPASING.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program
Indonesia Pintar (PIP) di SDN 14 Teluk Pandan, Kabupaten
Pesawaran, dalam rangka mendukung pendidikan inklusif bagi siswa
dari keluarga kurang mampu. Penelitian menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif dengan teori implementasi kebijakan George C.
Edward III, yang terdiri dari empat indikator: komunikasi, sumber
daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Data dikumpulkan melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian menunjukkan
bahwa implementasi PIP di SDN 14 Teluk Pandan di Desa Sukajaya
Lempasing belum optimal yang ditandai dengan empat permasalahan
utama. Pertama, dari aspek komunikasi: komunikasi masih bersifat
informal melalui WhatsApp dan telepon, serta kurangnya pemahaman
wali murid terhadap mekanisme dan tujuan program. Kedua, dari
aspek sumber daya: keterbatasan pelatihan teknis yang berkelanjutan
bagi pelaksana, belum adanya pendataan siswa berkebutuhan khusus
(ABK), dan ketergantungan pada inisiatif individu seperti operator
sekolah. Ketiga, dari aspek disposisi: sikap pasif pelaksana dalam
mengidentifikasi dan mengajukan siswa dari kelompok rentan,
lemahnya inisiatif proaktif untuk menjangkau calon penerima yang
memenuhi kriteria, serta belum terinternalisasinya nilai-nilai inklusif
dalam praktik pelaksanaan. Keempat, dari aspek struktur birokrasi:
keterlambatan pencairan dana yang seringkali terjadi setelah siswa
lulus, prosedur birokrasi yang panjang dan tidak efisien, serta
lemahnya mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban
program.Dibutuhkan perbaikan menyeluruh dalam koordinasi lintas
pihak, peningkatan kapasitas SDM, penyusunan SOP formal, serta
2
pendekatan yang lebih sistematis agar program berjalan efektif dan
mendukung prinsip pendidikan inklusif secara merata.
Kata Kunci: Program Indonesia Pintar, Implementasi Kebijakan,
Pendidikan Inklusif, Sekolah Dasar.
ABSTRACT
This study aims to analyze the implementation of the Smart Indonesia
Program (PIP) at SDN 14 Teluk Pandan, Pesawaran District, in
supporting inclusive education for students from low-income families. A
descriptive qualitative method was used, based on George C. Edward
III's policy implementation theory, which includes four indicators:
communication, resources, disposition, and bureaucratic structure.
Data were collected through observation, interviews, and
documentation. The results show that PIP implementation is not yet
optimal, marked by four main problems. First, in terms of
communication: lack of written Standard Operating Procedures (SOPs)
as official guidelines, informal communication through WhatsApp and
phone calls, and limited understanding among parents regarding
program mechanisms and objectives. Second, in terms of resources:
limited continuous technical training for implementers, absence of data
on students with special needs, and dependence on individual initiatives
such as school operators. Third, in terms of disposition: passive
attitude of implementers in identifying and proposing students from
vulnerable groups, weak proactive initiatives to reach eligible
beneficiaries, and lack of internalization of inclusive values in
implementation practices. Fourth, in terms of bureaucratic structure:
delayed fund disbursement that often occurs after students graduate,
lengthy and inefficient bureaucratic procedures, and weak supervision
and accountability mechanisms. Comprehensive improvements in interagency coordination, human resource capacity building, formal SOP
development, and more systematic approaches are needed to ensure
effective program execution and equitable support for inclusive
education principles.
3
Keywords: Smart Indonesia Program, Policy Implementation, Inclusive
Education, Elementary Schools
PENENTUAN HARGA JAGUNG DALAM KETERIKATAN MODAL PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI SYARIAH
ABSTRAK
Praktik jual beli hasil pertanian dengan sistem tanpa modal
masih banyak terjadi di Desa Tekad, Kecamatan Pulau Panggung,
Kabupaten Tanggamus. Dalam sistem ini, petani menerima modal
berupa bibit atau kebutuhan produksi dari Tengkulak, namun
sebaliknya mereka wajib menjual hasil panen kembali kepada pemberi
modal dengan harga yang telah ditentukan sepihak. Kondisi ini
menimbulkan ketimpangan karena harga yang diterima petani lebih
rendah dari harga pasar, sehingga merugikan mereka secara ekonomi
dan menimbulkan pertanyaan tentang keadilan dalam transaksi
tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
mekanisme penentuan harga jual beli jagung dalam kondisi modal dan
menilai apakah praktik tersebut sesuai dengan prinsip hukum ekonomi
syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga jagung ditetapkan
sepihak oleh Tengkulak, rata-rata sebesar Rp4.000,00/kg sementara
harga pasar mencapai Rp4.800,00/kg. Meskipun sebagian petani
menerima kondisi tersebut karena merasa terbantu oleh modal awal,
praktik ini pada hakikatnya mengurangi hak keuntungan petani. Dari
sudut pandang hukum ekonomi syariah, penetapan harga seperti ini
belum mencerminkan prinsip keadilan dan kerelaan yang seharusnya
menjadi dasar dalam muamalah. Oleh karena itu, sistem ini perlu
diperbaiki agar lebih adil dan sesuai dengan nilai-nilai syariah. ABSTRACT
The practice of agricultural trade under a capital-binding
system is still widely found in Tekad Village, Pulau Panggung District,
Tanggamus Regency. In this system, farmers receive capital in the
form of seeds or production supplies from middlemen; however, in
return, they are obliged to sell their harvests back to the lenders at
prices unilaterally determined. This situation creates an imbalance, as
the prices received by farmers are lower than the market value,
causing economic disadvantages and raising questions of fairness in
such transactions. This study aims to examine the pricing mechanism
in the sale and purchase of corn within the capital-binding system and
to assess whether the practice aligns with the principles of Islamic
economic law. The findings reveal that corn prices are set solely by
the middlemen, averaging IDR 4.000 per kilogram, while the market
price reaches IDR 4.800 per kilogram. Although some farmers accept
these conditions because they feel helped by the initial capital, the
practice essentially reduces their rightful profit. From the perspective
of Islamic economic law, such unilateral price determination does not
reflect the principles of justice and mutual consent that should
underpin transactions in muamalah. Therefore, this system needs
improvement to ensure greater fairness and compliance with Sharia
values
PERAN GURU DALAM MENANAMKAN NILAI MODERASI BERAGAMA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 02 KETAPANG LAMPUNG UTARA
ABSTRAK
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter
peserta didik, termasuk dalam menanamkan nilai-nilai moderasi
beragama yang sangat dibutuhkan di tengah keberagaman masyarakat.
Moderasi beragama mendorong sikap adil, seimbang, dan menghargai
perbedaan, sehingga relevan untuk ditanamkan sejak dini melalui
pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Berdasarkan kondisi
SDN 02 Ketapang yang memiliki siswa dengan latar belakang agama
yang beragam, penelitian ini merumuskan masalah: bagaimana peran
guru PAI dalam menanamkan nilai moderasi beragama pada sikap
toleransi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas V di SDN
02 Ketapang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
peran guru dalam menanamkan nilai moderasi beragama serta
implikasinya terhadap pembentukan sikap toleransi siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara,
dan dokumentasi dengan subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah,
guru PAI, serta siswa kelas V SDN 02 Ketapang. Teknik triangulasi
digunakan untuk menguji keabsahan data, sedangkan analisis data
dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi
reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan penting
dalam menanamkan nilai moderasi beragama melalui fungsi sebagai
pendidik, pembimbing, teladan, penilai, dan motivator. Nilai moderasi
beragama yang ditanamkan guru tercermin dalam sikap toleransi siswa,
seperti saling menghormati, membantu tanpa membeda-bedakan, serta
hidup rukun di lingkungan sekolah. Guru menggunakan metode
pembelajaran interaktif, keteladanan, pembiasaan, serta evaluasi sikap
untuk menumbuhkan nilai-nilai tersebut, meskipun masih terdapat
tantangan berupa perbedaan latar belakang keluarga dan pengaruh
lingkungan luar sekolah. Dengan pendekatan persuasif dan dukungan
sekolah, peran guru PAI terbukti efektif dalam menumbuhkan sikap
toleransi siswa sebagai wujud penerapan nilai moderasi beragama.
ii
Kata Kunci: Peran Guru, Pendidikan Agama Islam, Moderasi
Beragama, Toleransi,
iii
ABSTRACT
Education plays a strategic role in shaping students’ character,
including instilling the values of religious moderation which are
essential in the midst of social and religious diversity. Religious
moderation encourages fairness, balance, and respect for differences,
making it relevant to be implemented from an early age through Islamic
Religious Education (IRE) learning. Considering the diverse religious
backgrounds of students at SDN 02 Ketapang, this study formulated the
research question: how do Islamic Religious Education teachers play
their role in instilling the values of religious moderation in shaping
students’ tolerance attitudes in grade V at SDN 02 Ketapang. The aim
of this study is to describe the role of teachers in instilling the values of
religious moderation and its implications for the development of
students’ tolerance.
This research employed a qualitative descriptive approach. Data
were collected through observation, interviews, and documentation
with research subjects consisting of the principal, Islamic Religious
Education teachers, and fifth-grade students of SDN 02 Ketapang.
Triangulation techniques were applied to ensure data validity, while
data analysis was conducted using the interactive model of Miles and
Huberman, including data reduction, data display, and conclusion
drawing.
The findings show that Islamic Religious Education teachers play
a vital role in instilling the values of religious moderation through their
functions as educators, mentors, role models, evaluators, and
motivators. The values of religious moderation instilled by teachers are
reflected in students’ tolerance attitudes, such as respecting differences,
helping without discrimination, and maintaining harmony in school life.
Teachers applied interactive learning methods, role modeling,
habituation, and attitude assessments to strengthen these values,
although challenges such as family background differences and external
environmental influences still exist. Through persuasive approaches
and support from the school, the role of Islamic Religious Education
teachers has proven effective in fostering students’ tolerance as a
manifestation of religious moderation.
iv
Keywords: Teacher’s Role, Islamic Religious Education, Religious
Moderation, Tolerance, SDN 02 Ketapan
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN WEE (WONDERING, EXPLORING, EXPLAINING) DENGAN STRATEGI QSH (QUESTION STUDENT HAVE) TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN BERPIKIR KRITIS
ABSTRAK
Model pembelajaran WEE (Wondering, Exploring, Explaining)
merupakan model pembelajaran kooperatif yang menekankan
keterlibatan aktif peserta didik melalui tahapan membangkitkan rasa
ingin tahu (wondering), mencari informasi (exploring), dan
memaparkan hasilnya (explaining). Strategi QSH (Question Student
Have) adalah strategi pembelajaran yang mendorong peserta didik
menuliskan pertanyaan yang muncul selama pembelajaran untuk
memicu diskusi, rasa ingin tahu, serta keterampilan berpikir kritis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran WEE dengan strategi QSH terhadap: (1) peningkatan
kemampuan pemahaman konsep peserta didik, (2) peningkatan
kemampuan berpikir kritis peserta didik, dan (3) interaksi antara
keduanya.
Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan
jenis penelitian eksperimen semu (quasi experimental design).
Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP
Negeri 14 Pesawaran tahun ajaran 2024/2025 yang berjumlah 191
peserta didik. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik
cluster random sampling, dengan tiga kelas terpilih sebagai kelas
eksperimen 1 (model WEE dengan strategi QSH), kelas eksperimen
2 (model WEE), dan kelas kontrol (discovery learning). Instrumen
penelitian berupa tes kemampuan pemahaman konsep dan tes
berpikir kritis. Analisis data menggunakan uji Manova (Multivariate
Analysis of Variance) pada taraf signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
signifikan model pembelajaran WEE dengan strategi QSH terhadap
kemampuan pemahaman konsep matematis dan berpikir kritis peserta
didik. Berdasarkan perhitungan, model pembelajaran WEE dengan
strategi QSH lebih efektif dibandingkan model WEE saja maupun
pembelajaran konvensional. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran WEE dengan strategi QSH
mampu meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir
kritis matematis peserta didik.
Kata Kunci: Model Pembelajaran WEE, Strategi QSH, Kemampuan
Pemahaman Konsep, Berpikir Kritis.
iii
ABSTRACT
The WEE (Wondering, Exploring, Explaining) learning model is
a cooperative learning model that emphasizes students’ active
involvement through the stages of generating curiosity (wondering),
seeking information (exploring), and presenting results (explaining).
The QSH (Question Student Have) strategy is a learning strategy that
encourages students to write down questions that arise during the
learning process to stimulate discussion, curiosity, and critical
thinking skills. This study aims to investigate the effect of the WEE
learning model with the QSH strategy on: (1) improving students’
conceptual understanding, (2) enhancing students’ critical thinking
skills, and (3) the interaction between both variables.
This research employed a quantitative approach with a quasi
experimental design. The population consisted of all seventh-grade
students at SMP Negeri 14 Pesawaran in the 2024/2025 academic
year, totaling 191 students. The sample was determined using the
cluster random sampling technique, with three classes selected as
experimental class 1 (WEE with QSH strategy), experimental class 2
(WEE only), and the control class (discovery learning). The research
instruments consisted of a conceptual understanding test and a
critical thinking test. Data analysis was carried out using Manova
(Multivariate Analysis of Variance) at a 5% significance level.
The results show that there is a significant effect of the WEE
learning model with the QSH strategy on students’ mathematical
conceptual understanding and critical thinking skills. Based on the
analysis, the WEE learning model combined with the QSH strategy is
more effective than the WEE model alone or conventional learning.
Thus, it can be concluded that applying the WEE learning model with
the QSH strategy can improve students’ mathematical conceptual
understanding and critical thinking skills.
Keywords: WEE Learning Model, QSH Strategy, Conceptual
Understanding Ability, Critical Thinking
ANALISIS SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU TERHADAP PENAMAAN HEWAN DALAM SURAH AL-QUR’AN
ABSTRAK
Penamaan hewan dalam Al-Qur‟an merupakan fenomena linguistik yang kaya
makna yang telah menarik perhatian para sarjana Qur'anik selama berabad-abad, analisis
sistematis
tentang
signifikansi
semantik penamaan hewan diperlukannya
temuan-temuan baru untuk menambah khazanah keilmuan dalam literatur akademis.
Penelitian ini mengaplikasikan Teori Semantik Toshihiko Izutsu terhadap penamaan
hewan dalam surah Al-Qur‟an melalui lensa metodologi semantiknya. Dengan
menerapkan analisis medan semantik menjabarkan antara makna dasar dan makna
relasional, dan pengambilan kesimpulan dalam bentuk Weltanschauung, penelitian ini
mengungkapkan bagaimana penamaan hewan berfungsi sebagai instrumen yang
dirancang dengan cermat untuk menyampaikan pesan-pesan teologis. Metodologi
semantik Izutsu sangat kompatibel (cocok) di konstruksikan untuk tema ini, karena
memiliki konsep metodologi yang terorganisir dan terstruktur. Beberapa hewan dalam
peneletian ini antara lain, Sapi (Al-Baqarah) 2:67-71, Lebah (Al-Nahl) 16:68-69, Semut
(Al-Naml) 27:18-19, Laba-laba (Al-Ankabut) 29:41, dan Gajah (Al-Fil) 105:1-5.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Model
penelitian yang menggali data dari lingkungan alamiah dan bersifat analitik, deskriptif
serta induktif, penelitian ini berjenis penelitian kepustakaan. Adapun dalam
pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode konten analisis.
Berdasarkan hasil dari penelitian ini antara lain, Al-Baqarah (Sapi), Surah
Al-Baqarah ini karena pemilihan sapi dengan tujuan untuk merendahkan penghormatan
Bani Israil. Makna relasional: kritik terhadap kompleksitas berlebihan dengan menunda
perintah Allah, bahkan menuhankan sapi dan kaum jahiliyah menjadikan sapi sebagai
simbol status sosial dan tolak ukur kekayaan. Makna simbolis dan teologis: nilai spiritual
yang dalam yaitu prinsip inti keimanan kepada Allah, pembelajaran bagi umat Nabi
Muhammad. Weltanschauung: kesatuan tauhid sebagai prinsip tertinggi, nilai spiritual di
atas material. Surah ini mengajarkan agar umat Islam tidak terjebak dalam
materialisme dan kompleksitas berlebihan, melainkan fokus pada esensi keimanan
kepada Allah sebagai fondasi kehidupan. Al-Nahl (Lebah), Surah Al-Nahl karena
isinya mengandung khasiat madu yang dapat menjadi obat untuk manusia. Makna
relasional: simbol keteraturan ciptaan, syukur atas ni'mat Allah. Makna simbolis dan
teologis: wahyu Allah tidak untuk manusia melalui para Nabi saja, madu sebagai simbol
kebaikan dan obat. Weltanschauung: alam sebagai teks wahyu, lebah sebagai makhluk
penerimanya. Surah ini mengajarkan bahwa wahyu dan petunjuk Allah mencakup
seluruh alam semesta, bukan hanya manusia. Lebah menjadi teladan tentang bagaimana
makhluk menjalankan perannya sesuai fitrah, menghasilkan manfaat bagi kehidupan,
vi
dan menunjukkan keteraturan ilahi dalam ciptaan. Al-Naml (Semut), Surah Al-Naml ini
berkisar untuk mengumpamakan semut yang memiliki pinsip-prinsip sosial. Makna
relasional: melambangkan kepedulian sosial, kemampuan bertindak bijaksana. Makna
simbolis dan teologis: Tauhid dan kekuasaan Allah, menegaskan bahwa Allah adalah
Tuhan seluruh alam, Islam mengajarkan keadilan tidak hanya untuk manusia,
Weltanschauung: kebijaksanaan Allah tertanam bahkan pada makhluk kecil. Surah ini
mengajarkan bahwa kebijaksanaan, kepedulian sosial, dan keadilan adalah nilai-nilai
universal yang tertanam dalam ciptaan Allah. Semut menjadi bukti bahwa bahkan
makhluk terkecil pun memiliki kecerdasan dan kesadaran moral yang mencerminkan
kebesaran Sang Pencipta. Al-Ankabut (Laba-laba), Surat al-Ankabut yaitu tentang
cobaan terhadap orang yang beriman seperti laba-laba dan lemahnya keimanan seperti
sarang laba-laba. Makna relasional: simbol kerapuhan struktur tanpa dasar iman, seperti
jaring laba-laba yang rapuh. Makna simbolis dan teologis: ketergantungan kepada Allah
bersifat Absolut, manusia makhluk yang membutuhkan perlindungan. Weltanschauung:
iman sebagai dasar sejati kehidupan. Surah ini mengajarkan bahwa segala bentuk
perlindungan, kekuatan, atau sandaran hidup di luar Allah adalah rapuh dan tidak dapat
diandalkan. Hanya iman yang kuat kepada Allah yang menjadi fondasi kokoh bagi
kehidupan manusia, sementara sandaran kepada selain Allah bagaikan jaring laba-laba
yang mudah hancur. Al-Fil (Gajah), munasabah (korelasi) surah Al-Fil dengan Surah
Sebelumnya (Al-Humazah): Setelah di Al-Humazah disebutkan bahwa harta tidak
bisa menyelamatkan dari azab Allah, di Al-Fil Allah memberikan bukti nyata
bahwa kekuatan dan harta (seperti pasukan gajah) tidak ada artinya di
hadapan-Nya, makna relasional: keterbatasan kekuatan material di hadapan kuasa
Allah, Makna simbolis dan teologis: perlindungan allah terhadap Agamanya, kekuatan
sejati hanya milik Allah, Weltanschauung: kekuasaan Allah absolut, kekuatan material
tidak menjamin kesuksesan. Surah ini mengajarkan bahwa superioritas militer dan
kekuatan fisik tidak ada artinya di hadapan kekuasaan Allah. Pasukan bergajah yang
kuat dapat dikalahkan oleh burung-burung kecil pembawa batu, membuktikan bahwa
kesuksesan sejati bergantung pada ridha Allah, bukan pada kekuatan material atau
keunggulan duniawi.
Kata Kunci : Semantik Qur'anik, Penamaan Hewan, Toshihiko Izutsu.
vii
ABSTRACT
The naming of animals in the Qur'an is a linguistic phenomenon rich in meaning
that has attracted the attention of Qur'anic scholars for centuries, systematic analysis of
the semantic significance of animal naming requires new findings to add to the scientific
treasure in the academic literature. This study applies Toshihiko Izutsu's Semantic
Theory to the naming of animals in the Qur'an through the lens of its semantic
methodology. By applying semantic field analysis to explain between basic meaning and
relational meaning, and to inferences in the form of Weltanschauung, this study reveals
how animal naming functions as a carefully designed instrument to convey theological
messages. Izutsu's semantic methodology is very compatible in the construction of this
theme, as it has an organized and structured methodological concept. Some of the
animals in this study include the Cow (Al-Baqarah) 2:67-71, the Bee (Al-Nahl) 16:68-69,
the Ant (Al-Naml) 27:18-19, the Spider (Al-Ankabut) 29:41, and the Elephant (Al-Fil)
105:1-5.
The method used in this study is a qualitative method. A research model that digs
data from the natural environment and is analytical, descriptive and inductive, this
research is a type of literature research. As for the data collection in this study, the
content analysis method is used.
Based on the results of this study, among others, Al-Baqarah (Cow), Surah
Al-Baqarah is due to the selection of cows with the aim of degrading the respect of the
Children of Israel. Relational meaning: criticism of excessive complexity by delaying
Allah's commands, even fulfilling cows and ignorance make cows a symbol of social
status and a benchmark of wealth. Symbolic and theological meaning: deep spiritual
value is the core principle of faith in Allah, learning for the people of the Prophet
Muhammad. Weltanschauung: the unity of monotheism as the highest principle, spiritual
value above material. This surah teaches that Muslims should not get caught up in
materialism and excessive complexity, but rather focus on the essence of faith in Allah as
the foundation of life. Al-Nahl (Bees), Surah Al-Nahl because its contents contain the
properties of honey which can be used as medicine for humans. Relational meaning: a
symbol of the order of creation, gratitude for the favor of God. Symbolic and theological
meaning: God's revelation is not for man only through the Prophets, honey as a symbol
of goodness and medicine. Weltanschauung: nature as the text of revelation, the bee as
its receiving being. This surah teaches that God's revelation and guidance encompass the
entire universe, not just humans. Bees are an example of how creatures perform their
roles according to nature, produce benefits for life, and demonstrate divine order in
creation. Al-Naml (Ant), Surah Al-Naml revolves around comparing ants that have
viii
social principles. Relational meaning: symbolizes social concern, the ability to act wisely.
Symbolic and theological meaning: Tawheed and the power of Allah, affirming that
Allah is the Lord of all nature, Islam teaches justice not only for humans,
Weltanschauung: Allah's wisdom is embedded even in small beings. This surah teaches
that wisdom, social care, and justice is universal values embedded in God's creation.
Ants are proof that even the smallest creatures have intelligence and moral awareness
that reflect the greatness of the Creator. Al-Ankabut (Spider), Surah al-Ankabut is about
the trials of believers like spiders and the weakness of faith like spiders. Relational
meaning: a symbol of the fragility of a structure without a basis of faith, such as a fragile
spider web. Symbolic and theological meaning: dependence on God is Absolute, human
beings in need of protection. Weltanschauung: faith as the true basis of life. This surah
teaches that any form of protection, strength, or reliance on life outside of Allah is fragile
and unreliable. Only a strong faith in God is the solid foundation for human life, while
reliance on other than God is like a spider web that is easily destroyed. Al-Fil (Elephant),
reasonable (correlation) of Surah Al-Fil with the Previous Surah (Al-Humazah): After it
is stated in Al-Humazah that wealth cannot save from Allah's punishment, in Al-Fil
Allah gives clear evidence that strength and wealth (such as elephant troops) are
meaningless before Him, relational meaning: the limitation of material power in the
presence of Allah's power, Symbolic and theological meaning: Allah's protection of His
Religion, true power belongs only to God, Weltanschauung: the power of God is
absolute, material power does not guarantee success. This surah teaches that military
superiority and physical strength are meaningless in the eyes of Allah's power. A strong
armies can be defeated by little birds of prey, proving that true success depends on God's
pleasure, not on material power or worldly prominence.
Keywords: Qur'anic Semantics, Naming of Animals, Toshihiko Izzutsu .
ix
ط
خ
و
م
ل
ةلالدن يجنهلما ليوحخما بوعخيو ،نورلم ن برلما ءلٌوػ ٍابدها تبذج نىؼلمبا ةييغ ةيوغم ترُاظ ن برلما في ةيمسج
ل
ةلالدا ةيرظه ةسارلدا ٍذُ قبعث .ةييمدكا أ لا ثايبدألا في يموؼما نزكما لىإا ةفاضإلا تديدج ثافاضدكا ةيمسدم ةيملالدا
ل
يلالدا لللحا ليوتح قيبعث للاخ نم .ةيملالدا َخيجنهم ةسدػ للا
خ نم ن برلما في ةيمسج لىػ وسجوزيإا وكييه صوخم
فيك ةسارلدا ٍذُ فضكح ،لًلؼما نىؼلما كلص في ثلالادخ سالا لىػو ،قيلاؼما نىؼلماو سياسألا نىؼلما يرسفخم
،عوضولما اذُ ء
ايب في ادج ةلفاوذم ةيملالدا وسجوزيإا ةيجنهم .ةيثوُلاما لئاسرما لليم ةيايؼب ةممعم تادأك ةيمسج لمؼث
)لحيما( لةحيما ،
27
76:2
.
)ترالبما( ترلبما لمضج ةسارلدا ٍذُ في غؼب .لٌظٌمو لٌظٌم ايجنهم اموِفم لكختم ريح
5
7:567
)لفما( ،
76697
نوكيو ةيؼيبعما ةةئبما نم ثاتايب حرخخ سس
ةهاُإا
دهد رالب ألا رايذخا
)ثوبكيؼما( ثوبكيؼما ،
76
72671
)لنمه ا( لةنمه ا ،
:6
7:6:1
ث
يبح حذونم .ةيغوه ةليرظ هي ةسارلدا ٍذُ في ةمدخخ سلما ةليرعما
ت
م دلف ،ةسارلدا ٍذُ في ثاتايبما علد ةب سًمبا امأب .ثايبدألا جابحأب نم عوه وُ رحبما اذُ ،ايئارلخ ساو يفظو ايويوتح
.ىوخلمحا ليوتح ةليرظ مادخخ سا
ل
ىإا دوؼث ترلبما تروس ،ترلبما ،ىرخأب رومأب ينب نم ،ةسارلدا ٍذُ ئجاخه لىإا اداٌدسا
رالب ألا لؼيج لِلجاو ،رالب ألا ذيفيث تىحو ،الله رماوأب يرخأأخب طرفلما ديلؼخما دله 6قيلاؼما نىؼلما .ليئاسرإا نيب ماترحا
نايمإلام سياسألا أ بدبلما هي ةليمؼما ةيحورما ةيملم ا 6تيوُلاماو يزمرما نىؼلما .توثرون ارايؼمو ةيغتماجالا ةهكامون ازمر
ٍذُ لمؼث .تدالما قوف ةيحور ةيمكو ،أبدبم لىػأك ديحوخما تدحو
6قيلاؼما نىؼلما
.دمحم بييما بؼضم يموؼخما وُو ،للهبا
ل
ل
هبا نايمإلاا رُوج لىػ اوزكري نأب بيج لب ،طرفلما ديلؼخماو ةيدالما في وفرجيي نأب بيج لا ينموسلما نأب تروسما
أ
ءاودك امهادخخ سا نكيم تيما لسؼما طئاعخ لىػ يوخيح اُاوخمح ن
ل لنهها تروس ،)لحيما( لحيما .تايحون ساسأك
طلف شربون سئم الله حيو 6تيوُلاماو يزمرما نىؼلما .الله اضرم نايذمالا ،قولخا ماظيم زمر 6قيلاؼما نىؼلما .شربون
ٍذُ لمؼث .قوذم
نئكاك لةحيماو ،حيوما طيك ةؼيبعما
6قيلاؼما نىؼلما
.بعماو يرخون زمرك لسؼما ،ءايبه ألا للاخ نم
x
اُراودأل ثايئكاما ءادأب ةيفيك لىػ لاثم لحيما .شربما طلف سئمو ،َكل نوكما لمضس َئادُو الله حيو نأب تروسما
لنمه ا ةهرالم لوح رودث لنمه ا تروس ،)لنمه ا( لنمه ا .قولخا في ييِمإلاا ماظيما راِظإ او ،تايحون دئاوف حاخه إ او ،ةؼيبعون الفو
يزمرما نىؼلما .ةكمبح صرخما لىػ تردلما ،يغتماجالا متماُالا لىإا زمري 6قيلاؼما نىؼلما
.ةيغتماجا ئدابم له يلذا
ا
ل
ل
ه ةكمحو ،شربون طلف سئم لةادؼما لمؼي ملاسإلاا ،ةؼيبعما كل ةر الله نأب ادكؤم ،الله توكو ديحوخما 6تيوُلاماو
ترذجذم ةيلماػ يمك هي لةادؼماو ،ةيغتماجالا ة
ياػرماو ،ةكملحا نأب تروسما ٍذُ لمؼث .تيرغعما ثايئكاما في تىح ترذجذم
،ثوبكيؼما .قمالخا ةمظغ سكؼي قيلاخأب يغوو ءكاذ لكختم ثاكوولمخا رغظأب تىح نأب لىػ ليمد لنمه ا .الله قوخ في
ةصاضِم زمر 6قيلاؼما نىؼلما .بكايؼما لثم نايمإلاا فؼضو بكايؼما لثم ينٌمؤلما ةراتج لوح رودث ثوبكى ألا تروس
،قوعم الله لىػ دتماغالا 6تيوُلاماو يزمرما نىؼلما .ةضُ ثوبكيغ ةكب ص لثم ،نايمإا ساسأب لكيم
لكاصأب نم كلص يأب نأب تروسما ٍذُ لمؼث .تايحون يليلح ساسأك نايمإلاا
تايحون بوعما ساسألا وُ للهبا يولما نايمإلاا .قو
ل
ىػ خوضو
6قيلاؼما نىؼلما
ل
ا كليُ
.ةيالذا لىإا ةجابح ناسوإلااو
زوم يرغو شُ الله حراخ تايلحا لىػ دتماغالا وأب تولما وأب ةيالذا
تروس ينب )قفاوخما( لولؼلما طابثرالا ، .لةوِسب اُيرمدث نكيم ثوبكيغ ةكب ص َب ضس ٍيرغ لىػ دتماغالا نمائب ،ةيشربما
ب لدي الله فوفما في ،الله ةاذػ نم يدايث لا توثرما نأب تزلذا في ركذ نأب دؼب 6)تيزلذا( ةلباسما تروسماو
يزمرما نىؼلما ،الله توك روضح في ةيدالما تولما دييلث 6قيلاؼما نىؼلما ،له نىؼم لا )لةيفما شويج لثم( توثرماو تولما نأب
نمضث لا ةيدالما تولماو ،ةلوعم الله توك 6الله كمح يا ،الله لىإا طلف يتمًث ةيليللحا تولما ،َييلد الله ةيلٌح 6تيوُلاماو
ةيوك شويج ةيمزُ نكيم .الله توك رظه في لٌله نىؼم لا ةيدسلجا تولماو يركسؼما قوفخما نأب تروسما ٍ
ذُ لمؼث .خاجيما
ةهكالما وأب ةيدالما تولما لىػ سئمو ،الله اضر لىػ دتمؼي يليللحا خاجيما نأب تبثي امم ،تيرغظ ةحراج رويظ دي لىػ
.ةيويهلدا
.وسجوزيإا وكيه صوث ،ث
ا
تاويلحا ةيمسج ،ن برلما ثلالاد 6ةيحاذفلما ثلٌكلم
MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN DI SMA-IT INSAN MULIA BOARDING SCHOOL PRINGSEWU
ABSTRAK
Manajemen mutu pendidikan merupakan fondasi penting dalam
mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul dan berkelanjutan. Secara
filosofis,
peningkatan mutu menuntut adanya proses perbaikan
berkelanjutan yang dilaksanakan secara sistematis melalui perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. SMA IT IMBOS Pringsewu
memiliki keunikan dalam pengelolaan pendidikannya, yaitu
mengintegrasikan Standar Nasional Pendidikan dengan nilai-nilai
keislaman khas Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) melalui
penerapan siklus manajemen mutu PDCA (Plan, Do, Check, Act).
Keunikan ini menarik untuk dikaji guna memperoleh pemahaman
mendalam tentang praktik manajemen mutu pendidikan berbasis nilai
Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan siklus
manajemen mutu PDCA dalam pengelolaan pendidikan di SMA IT
IMBOS Pringsewu, yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi, dan tindak lanjut. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara
mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Informan penelitian
terdiri atas kepala sekolah, tim manajemen, dan guru yang terlibat dalam
pengelolaan mutu pendidikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perencanaan mutu
dilakukan secara komprehensif melalui identifikasi kebutuhan yang
melibatkan berbagai pemangku kepentingan serta berlandaskan Standar
Nasional Pendidikan yang diperkaya kekhasan JSIT. Tahap pelaksanaan
dilaksanakan secara sistematis melalui pengembangan profesional guru
dan pembinaan siswa dengan integrasi kurikulum nasional dan
kurikulum pesantren. Tahap evaluasi dilakukan secara holistik melalui
analisis hasil belajar, laporan pertanggungjawaban, dan umpan balik
stakeholder. Selanjutnya, tahap tindak lanjut diwujudkan melalui
implementasi rekomendasi evaluasi ke dalam program perbaikan yang
terukur dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, penerapan siklus PDCA
terbukti efektif dalam meningkatkan mutu pengelolaan pendidikan di
SMA IT IMBOS Pringsewu.
Kata kunci: manajemen mutu, PDCA, mutu pendidikan,
v
ABSTRACT
excellent
Educational quality management is an essential foundation in
realizing
and
sustainable
educational
institutions.
Philosophically, quality improvement requires a process of continuous
improvement
implemented
systematically
through
planning,
implementation, evaluation, and follow-up actions. SMA IT IMBOS
Pringsewu has a unique approach to educational management by
integrating the National Education Standards with Islamic values
characteristic of the Integrated Islamic School Network (JSIT) through
the application of the PDCA (Plan, Do, Check, Act) quality management
cycle. This uniqueness is worthy of study to gain an in-depth
understanding of educational quality management practices based on
Islamic values.
This study aims to describe the implementation of the PDCA
quality management cycle in educational management at SMA IT
IMBOS Pringsewu, which includes the stages of planning,
implementation, evaluation, and follow-up. The study employs a
qualitative approach, with data collected through in-depth interviews,
direct observation, and documentation. The research informants consist
of the principal, management team, and teachers involved in educational
quality management.
The results indicate that the quality planning stage is conducted
comprehensively through needs identification involving various
stakeholders and is based on the National Education Standards enriched
with JSIT characteristics. The implementation stage is carried out
systematically through teacher professional development and student
development by integrating the national curriculum with the pesantren
curriculum. The evaluation stage is conducted holistically through
analysis of learning outcomes, accountability reports, and stakeholder
feedback. Furthermore, the follow-up stage is realized through the
implementation of evaluation recommendations into measurable and
sustainable improvement programs. Overall, the application of the
PDCA cycle has proven effective in improving the quality of educational
management at SMA IT IMBOS Pringsewu.
Keywords: quality management, PDCA, educational quality
vi
صخلملا
،
ً
.
)
ةمادتسمو ةزيمتم ةيميلعت تاسسؤم قيقحتل مهم ساسأ يى ميلعتلا ةدوج ةرادإ
ايفسلف
ذيفنتلاو طيطختلا للاخ نم يجهنم لكشب ذفن ُ ت ةرمتسم ينستح ةيلمع دوجو ةدولجا ينستح بلطتي
ةعباتلداو مييقتلاو
SMA IT IMBOS Pringsewu
(
وويسغنيرب ةيملاسلإا سوبمإ ةيوناث
ةسردم
.
زيمتي
ةيملاسلإا سرادلدا ةكبشل ةزيملدا ةيملاسلإا ميقلا عم ميلعتلل ةينطولا يرياعلدا جمدب وميلعت ةرادإ في
ةلماكتلدا
(PDCA)
ةدولجا ةرادإ ةرود قيبطت للاخ نم
لمعلا ،ققحتلا ،ذيفنتلا ،طيطختلا
يمع مهف ىلع لوصلحا لجأ نم ةساردلل مامتىلال ةيرثم ةيصوصلخا هذى
ةدوج ةرادإ تاسراملد ق
.
(JSIT)
.
ةيملاسلإا ميقلا ىلع ةمئاقلا ميلعتلا
ةسردم في ميلعتلا ةرادإ في
(PDCA)
ةدولجا ةرادإ ةرود قيبطت فصو لىإ ةساردلا هذى فدته
طيطختلا لحارم لمشت تيلاو ، )
SMA IT IMBOS Pringsewu
(
وويسغنيرب ةيملاسلإا سوبمإ ةيوناث
.
للاخ نم تانايبلا عجم تاينقت عم ا ً يعون ا ً جنه ةساردلا هذى مدختست
قيثوتلاو ،ةرشابلدا ةظحلالداو ،ةقمعتلدا تلاباقلدا
ةعباتلداو مييقتلاو ذيفنتلاو
قيرفو ،سرادلدا يريدم نم ثحبلا بيوجتسم نوكتي
.
.
ميلعتلا ةدوج ةرادإ في ينكراشلدا ينملعلداو ،ةرادلإا
ديدتح للاخ نم لماش لكش
ب متت ةدوجلل طيطختلا ةلحرم نأ ثحبلا جئاتن ترهظأ
ت
يلا ميلعتلل ةينطولا يرياعلدا لىإ ا ً دانتسا كلذكو ةحلصلدا باحصأ فلتمخ لمشت تيلا تاجايتحلاا
تايصوصخ اىززعت
ي
نملعملل ينينهلدا ريوطت للاخ نم يجهنم لكشب ذيفنتلا ةلحرم ذفن ُ ت
ُ
JSIT
ت .ةينيدلا سرادلدا جهنمو نيطولا جهنلدا جمد عم بلاطلا ويجوتو
،ماع لكشب
.
نم لماش لكشب مييقتلا ةلحرم ذفن
قق ُتح ،كلذ دعب .ةحلصلدا باحصأ نم ةعجار ةيذغتو ،ةيلوؤسلدا ريراقتو ،ملعتلا جئاتن ليلتح للاخ
ةمادتسمو سايقلل ةلباق ينستح جمارب في مييقتلا تايصوت ذيفنت للاخ نم ةعباتلدا ةلحرم
ةيملاسلإا سوبمإ ةيوناث
ةسردم
.
ف
ي ميلعتلا ةرادإ
ةدوج ينستح في وتيلاعف
.
)
PDCA
ةرود قيبطت تبثأ
SMA IT IMBOS Pringsewu
،ميلعتلا ةدوج ،
PDCA
،ةدولجا ةرادإ :
:ةيسيئ
(
وويسغنيرب
رلا تاملكل
PEMAHAMAN BUDAYA TRISILAS DALAM KEBUDAYAAN SUNDA (STUDI TAFSIR NURUL-BAJAN).
Abstract
Studies linking local wisdom with Qur‟anic exegesis remain limited,
particularly within Sundanese culture. One relevant concept is the
Tri-silas values (silih asih, silih asah, silih asuh). This study examines
how these values are understood in Mhd. Romli‟s Tafsir Nurul-Bajan
and how Sundanese philosophy aligns with Islamic teachings. Using a
qualitative library-research approach and Koentjaraningrat‟s
acculturation theory, this research analyzes nine verses from Surah
Al-Baqarah to Ali Imran: ihsan for silih asih (Al-Baqarah 2:83, 112,
195), hikmah and yu‟allimu for silih asah (Al-Baqarah 2:129, 151,
269; Ali Imran 3:48, 79), and birrun and yunfiqu for silih asuh (AlBaqarah 2:177, 215). The findings show that Tri-silas aligns with
Islamic ethics of compassion, education, and social solidarity. The
social-ethical orientation (adab ijtima‟i) of Nurul-Bajan demonstrates
how Sundanese cultural values can serve as an effective contextual
medium for Qur‟anic da‟wah. The novelty of this research lies in its
systematic mapping between Sundanese philosophical values and
Qur‟anic ethical concepts, strengthening the discourse on Nusantara
Qur‟anic exegesis, which remains understudied. Nurul-Bajan
effectively presents an integration of local culture with Qur‟anic
messages in a contextual and accessible manner.
Keywords: Islamic ethics, Qur‟anic exegesis, Sundanese local
wisdom, Tafsir Nurul-Bajan, Tri-silas
Abstrak
Kajian yang menghubungkan kearifan lokal dengan tafsir Al-Qur‘an
masih terbatas, khususnya dalam budaya Sunda. Salah satu kearifan
yang relevan adalah Tri-silas (silih asih, silih asah, silih asuh).
Penelitian ini mengkaji pemahaman nilai-nilai tersebut dalam Tafsir
Nurul-Bajan karya Mhd. Romli serta keselarasan falsafah Sunda
dengan ajaran Islam. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi
pustaka dan teori akulturasi Koentjaraningrat, penelitian ini
menganalisis sembilan ayat dari surah Al-Baqarah hingga Ali Imran:
ihsan untuk silih asih (Al-Baqarah [2]:83, 112, 195), hikmah dan
yu‟allimu untuk silih asah (Al-Baqarah [2]:129, 151, 269; Ali Imran
[3]:48, 79), serta birrun dan yunfiqu untuk silih asuh (Al-Baqarah
[2]:177, 215). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tri-silas selaras
dengan etika Islam berupa kasih sayang, pendidikan, dan solidaritas
sosial. Corak adab ijtima‟i dalam Tafsir Nurul-Bajan menegaskan
bahwa integrasi budaya Sunda dalam tafsir dapat menjadi media
dakwah yang kontekstual dan mudah dipahami. Kebaruan penelitian
ini terletak pada pemetaan sistematis antara falsafah Sunda dan
konsep etika Qur‘ani dalam tafsir, sehingga memperkuat wacana tafsir
Nusantara yang belum banyak dikaji. Tafsir Nurul-Bajan terbukti
menyajikan integrasi budaya dan pesan Al-Qur‘an secara lebih
kontekstual.
Kata kunci: Etika Islam, Kearifan lokal sunda, Tafsir Al-Qur‘an,
Tafsir Nurul-Bajan;Tri-silas
ANALISIS PENGARUH EKSPOR DAN IMPOR SUMBER DAYA ALAM (SDA) ENERGI DAN INVESTASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM TAHUN 2014-2023
ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator utama
pembangunan yang mencerminkan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia sebagai negara dengan potensi besar sumber daya alam
energi masih menghadapi ketidakseimbangan antara produksi dan
konsumsi, sehingga menimbulkan ketergantungan impor, sementara
kontribusi ekspor dan investasi energi belum optimal. Penelitian ini
bertujuan menganalisis pengaruh ekspor, impor, dan investasi energi
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2014–2023 serta
meninjaunya dalam perspektif ekonomi Islam. Metode yang
digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan data time series yang
dianalisis menggunakan regresi linear berganda melalui perangkat
lunak EViews, disertai uji asumsi klasik, uji F, dan uji T. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekspor energi berpengaruh positif
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, impor tidak berpengaruh
signifikan, sedangkan investasi berpengaruh positif signifikan. Secara
simultan, ekspor, impor, dan investasi berpengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan ekspor dan investasi sebagai
faktor utama pendorong pertumbuhan. Dalam perspektif ekonomi
Islam, pengelolaan sumber daya energi harus dilakukan secara
amanah, efisien, dan berkeadilan sehingga pertumbuhan yang dicapai
tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga membawa keberkahan dan
kemaslahatan berkelanjutan sesuai dengan maqāṣid al-syarī„ah. ABSTRACT
Economic growth is a key indicator of development that
reflects the welfare of society. Indonesia, as a country with vast
natural energy resources, still faces an imbalance between production
and consumption, resulting in dependence on imports, while the
contribution of energy exports and investment has not been optimal.
This study aims to analyze the effect of energy exports, imports, and
investment on Indonesia's economic growth from 2014 to 2023 and
review it from an Islamic economic perspective. The method used is a
quantitative approach with time series data analyzed using multiple
linear regression through EViews software, accompanied by classical
assumption tests, F tests, and T tests. The results show that energy
exports have a significant positive effect on economic growth, imports
have no significant effect, while investment has a significant positive
effect. Simultaneously, exports, imports, and investment have a
significant effect on economic growth, with exports and investment as
the main drivers of growth. From an Islamic economic perspective,
energy resources must be managed in a trustworthy, efficient, and
equitable manner so that the growth achieved is not only high in terms
of numbers but also brings blessings and sustainable benefits in
accordance with maqāṣid al-syarī‘ah
IMPLEMENTASI PROGRAM SEKOLAH ADIWIYATA DI LINGKUNGAN SEKOLAH MIN 1 LAMPUNG BARAT
ABSTRAK
Kerusakan lingkungan menjadi salah satu tantangan terbesar
yang dihadapi umat manusia, ditandai dengan deforestasi, pencemaran
air dan udara, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya
emisi gas rumah kaca. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya
mengganggu keseimbangan ekosistem, tetapi juga memengaruhi
kesehatan, ekonomi, dan kualitas hidup manusia. Pendidikan
lingkungan hidup menjadi salah satu solusi strategis, khususnya melalui
Program Sekolah Adiwiyata yang digagas oleh Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
menganalisis
dan
mendeskripsikan implementasi program sekolah adiwiyata di MIN 1
Lampung Barat yaitu pelaksanaan, perencanaan, dan evaluasi program
adiwiyata di MIN 1 Lampung Barat dalam meraih penghargaan
adiwiyata. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan
deskriptif dengan subjek dan sumber data utama yaitu kepala sekolah,
sekretaris adiwiyata dan guru kelas V MIN 1 Lampung Barat.
Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Analisis data menggunakan teori Miles dan Hubermen yaitu dengan
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan menarik
kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber.
Hasil dalam penelitian ini 1). Perencanaan program adiwiyata
di MIN 1 Lampung Barat yaitu mencakup pembentukan tim adiwiyata,
Menyusun Identifikasi Potensi dan Masalah Lingkungan Hidup
(IPMLH), serta menyusun kajian dan rencana aksi lingkungan. 2).
Pelaksanaan program adiwiyata di MIN 1 Lampung Barat yaitu MIN 1
Lampung Barat telah berhasil menerapkan beberapa program seperti
mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup kedalam mata
pelajaran, program kegiatan enam pilar ramah lingkungan serta
program kader adiwiyata. 3). Evaluas program dilakukan secara berkala
melalui Evaluasi Diri Madrasah (EDM) di akhir tahun ajaran,
Kata Kunci : Implementasi, Lingkungan Sekolah, Program Adiwiyata
iii
ABSTRACT
Environmental degradation is one of the greatest challenges
facing humanity, characterized by deforestation, water and air
pollution, biodiversity loss, and increasing greenhouse gas emissions.
These impacts not only disrupt ecosystem balance but also affect human
health, the economy, and quality of life. Environmental education is a
strategic solution, particularly through the Adiwiyata School Program
initiated by the Ministry of Environment and Forestry.
This study aims to analyze and describe the implementation of
the Adiwiyata school program at MIN 1 West Lampung, including the
implementation, planning, and evaluation of the Adiwiyata program at
MIN 1 West Lampung, in order to achieve the Adiwiyata award. This
study used a qualitative approach with a descriptive approach. The
primary subjects and data sources were the principal, Adiwiyata
secretary, and fifth-grade teacher of MIN 1 West Lampung. Data were
collected through observation, interviews, and documentation. Data
analysis employed the Miles and Huberman theory, which includes data
collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions.
Data validity was tested using source triangulation.
The results of this study are as follows: 1). The Adiwiyata
program planning at MIN 1 West Lampung includes the formation of
an Adiwiyata team, the development of an Environmental Potential and
Problem Identification Plan (IPMLH), and the development of an
environmental assessment and action plan. 2). The Adiwiyata program
implementation at MIN 1 West Lampung has successfully implemented
several programs, including integrating environmental education into
subjects, implementing the six pillars of environmentally friendly
activities, and implementing the Adiwiyata cadre program. 3). Program
evaluation is conducted periodically through the Madrasah Self
Evaluation (EDM) at the end of the academic year.
Keywords: Adiwiyata Program, Implementation, School Environme
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN FLASHCARD BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE QUIZLET UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SPATIAL THINKING PESERTA DIDIK
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan
spatial thinking peserta didik. Data Pra-penelitian menunjukkan
rendahnya kemampuan spatial thinking pada peserta didik. Penelitian
ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran flashcard
berbasis artificial intelligence Quizlet yang layak, menarik, dan efektif
untuk meningkatkan kemampuan spatial thinking.
Metode penelitian yang digunakan adalah Research and
Development (R&D) dengan model Hannafin dan peck yang meliputi
terdiri dari tiga tahap utama tahap penilaian kebutuhan, tahap desain,
dan akhirnya tahap pengembangan dan implementasi, di setiap tahapan
terdapat revisi dan evaluasi. Instrumen dalam penelitian ini berupa
angket, pretest, dan posttest. Subjek penelitian ini meliputi skala kecil
melibatkan 15 peserta didik dan skala besar melibatkan 35 peserta didik
di SMPN 5 Metro. Analisis yang digunakan dengan skala likert dan uji
N-gain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran
flashcard berbasis artificial intelligence quizlet yang dikembangkan
dinyatakan layak dan valid berdasarkan validasi ahli media (skor rata
rata 3,57) dan ahli materi (skor rata-rata 3,32). Media pembelajaran ini
juga dinilai menarik oleh siswa, dengan skor rata-rata uji kemenarikan
mencapai 3,31. Efektivitas media pembelajaran dalam meningkatkan
kemampuan spatial thinking dibuktikan dengan hasil uji N-gain yang
menunjukkan nilai rata-rata 0,64 yang termasuk dalam kategori
"sedang". Dengan demikian, media pembelajaran flashcard berbasis
artificial intelligence Quizlet yang dikembangkan dinyatakan layak,
menarik dan efektif untuk meningkatkan kemampuan spatial thinking.
Kata Kunci : Media pembelajaran flashcard, Artificial intelligence
quizlet, Kemampuan spatial thinking.
iii
ABSTRACT
This research is motivated by the low spatial thinking ability of
students. Pre-research data shows that students have low spatial
thinking abilities. This study aims to develop an appropriate, engaging,
and effective artificial intelligence-based flashcard learning media
using Quizlet to enhance spatial thinking skills.
The research method used is Research and Development (R&D)
with the Hannafin and Peck model, which consists of three main stages:
the needs assessment stage, the design stage, and finally the
development and implementation stage, with revisions and evaluations
at each stage. The instruments in this study include questionnaires, pre
tests, and post-tests. The subjects of this research include a small scale
involving 15 students and a large scale involving 35 students at SMPN
5 Metro. The analysis used is a Likert scale and N-gain tests.
The research results show that the flashcard learning media
based on artificial intelligence Quizlet that has been developed is
deemed suitable and valid based on the validation from media experts
(average score 3.57) and material experts (average score 3.32). This
learning media is also considered appealing by students, with an
average attractiveness score reaching 3.31. The effectiveness of the
learning media in enhancing spatial thinking abilities is evidenced by
the N-gain test results, which show an average score of 0.64,
categorized as "medium". Thus, the flashcard learning media based on
artificial intelligence Quizlet that has been developed is deemed
suitable, appealing, and effective in improving spatial thinking abilities.
Keywords: Learning media flashcards, Artificial intelligence quizlet,
Spatial thinking abilit