MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi
Not a member yet
    146 research outputs found

    Kontrol Sosial Keluarga dan Kekerasan Kolektif: Studi Kasus Keterlibatan Pemuda dalam Tawuran Warga di Johar Baru, Jakarta Pusat

    No full text
    Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa munculnya perilaku kekerasan pada seseorang disebabkan oleh dua hal yaitu keluarga (family effect) atau lingkungan ketetanggaan (neighborhood effect). Praktik-praktik dalam keluarga seperti kekerasan yang dilakukan orang tua menentukan kecenderungan anak untuk berprilaku agresif atau tidak. Pada sisi lain, dalam konteks lingkungan komunitas ketetanggaan dengan kondisi yang buruk (padat, kumuh, miskin) munculnya kekerasan secara langsung disebabkan oleh pengaruh buruk lingkungan tersebut. Hubunganantara lingkungan ketetanggaan yang buruk, peran keluarga dan proses terbentuknya perilaku kekerasanbelum banyak dijelaskan. Tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana peran keluarga danmekanisme kontrol keluarga dalam mendukung atau mengurangi perilaku kekerasan serta keterlibatan anak pada kekerasan kolektif (tawuran) di lingkungan sosial ketetanggaandengan kondisi yang buruk.Penelitian inidilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di sebuah komunitas miskin rawan  konflik di Jakarta. Peneliti mengambil data primer pada keluarga yang memiliki anak dalam kategori pemuda (16-30 tahun), belum menikah serta terlibat dalam kasus kekerasan. Peneliti juga menggunakan data pendukung dari hasil penelitian sebelumnya dan studi lain yang relevan. Many researches conclude that violence is caused by two reasons, both of which are family effect and neighborhood effect. In a family practice, violence is done by parents determines the tendency of aggressive behavior in children. In neighborhood environment with bad living conditions (populous, dirty, and poor health), violence isdirectly caused by adverse environmental effects. The relation between poor neighborhood context, role of family, and formation process of violent behavior is not explained well. This paper explains how role of family and family control mechanism can increase or reduce violent behavior and child's involvement against collective violence (brawl) in poor neighborhood condition. This research uses qualitative methods in a conflict society at Jakarta. Researcher takes primary data on family with offspring in youth category (16-30 years old), single, and involved in violence case. Researcher also uses the supporting data from earlier research and other relevant studies.&nbsp

    Pusat Komunitas dan Kontestasi Memori Kolektif: Studi Kasus Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kenanga di Cideng, Jakarta Pusat

    No full text
                                                                              AbstrakPusat komunitas adalah ruang publik bagi komunitas untuk melakukan aktivitas sosial, berinteraksi, rekreasi, dan menyalurkan hobinya yang dalam beberapa kasus dapat menanggulangi permasalahan sosial. Beberapa kajian membahas aspek fungsional pusat komunitas dari segi pelayanan sosial karena manfaat fungsionalnya, tetapi pembahasan mengenai pusat komunitas tidak dapat dilihat dari pelayanan sosial saja. Tulisan ini melihat pusat komunitas, melalui studi kasus RPTRA Kenanga, Cideng, Jakarta Pusat, memiliki aspek disfungsional yang menimbulkan eksklusivitas melalui kontestasi memori kolektif antara Pemerintah dan Masyarakat. Dengan menggunakan kerangka analisis yang mengacu pada konsep ruang publik dan memori kolektif, tulisan ini melihat perubahan sebelum adanya pusat komunitas yang berupa kepemilikan privat dan setelah adanya pusat komunitas yang membentuk memori kolektif baru berupa kepemilikan publik. Dari studi kasus di RPTRA Kenanga, tulisan ini menunjukkan bahwa pembentukan memori kolektif baru menyebabkan kontestasi memori kolektif antara negara (pemerintah provinsi DKI Jakarta)dan masyarakat (warga sekitar RPTRA Kenanga) yang kemudian menimbulkan eksklusivitas di ruang publik tersebut.                                                                          AbstractCommunity center is a public space for the community that has a function for social activities, such as recreation and interaction, which in particular cases may diminish social problems. This study want to examines community center as Public Space and its memory collective to see the relevance of the theory and its significance to urban policy. The method of this article is qualitative using case study of Children-Friendly Integrated Public Space-Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kenanga, Cideng, Central Jakarta. This article argues there has been a dysfunctional aspect that results in exclusiveness through collective memory contestation between the Government and Local Community. The study find that other than the changes from private property to public property, the establishment of RPTRA Kenanga creates new collective memory that has resulted in collective memory contestation between the government of DKI Jakarta and the local people, which led exclusivity in the public space.&nbsp

    Sosiologi yang “Tak Takut” dengan Kekerasan

    No full text

    Humanizing the Non-Human Animal: the Framing Analysis of Dogs' Rights Movement in Indonesia

    No full text
                                                                                                   AbstrakKonsumsi daging anjing merupakan sebuah kebiasaan umum dalam beberapa dekade terakhir dan telah menjadi simbol bagi beberapa kelompok masyarakat di seluruh dunia. Dogs Are Not Food (DANF) adalah sebuah gerakan sosial yang ditujukan untuk menghapuskan konsumsi daging anjing. Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa organisasi hak asasi satwa di Indonesia. Kampanye tersebut menjadi kontradiksi tersendiri: mengapa organisasi-organisasi tersebut melarang konsumsi daging anjing namun tetap mengonsumsi daging satwa lain? Bertolak dari konsep analisis framing, tulisan ini menggunakan observasi partisipatoris dan wawancara mendalam dengan informan-informan yang mengidentifikasi dirinya sebagai aktivis satwa dan/atau pendukung gerakan DANF. Berbeda dengan studi-studi sebelumnya yang cenderung mengkritik gerakan DANF, tulisan ini memberikan sebuah penjelasan sosiologis mengenai fungsi anjing dalam masyarakat dan menganalisis framing gerakan DANF. Tulisan ini berargumen bahwa framing yang digunakan oleh gerakan DANF bertujuan untuk “memanusiakan” satwa. Oleh karena itu, pelarangan konsumsi daging anjing menjadi tujuan gerakan DANF.                                                                                               AbstractThe consumption of dog meat has been a common practice in the past few decades and a symbol for certain groups all around the world. Dogs Are Not Food (DANF) is a new social movement aimed to ban dog meat consumption, initiated by several animal rights organizations in Indonesia. The campaign seems to be self-contradictory: why ban the consumption of dog meat while still allowing the consumption of meat from other animals? Drawing on framing analysis, this article uses participant observation and in-depth interview with some self-identified animal activists and/or supporters of DANF. In contrast to previous studies, which are too critical of DANF, this article gives a sociological explanation on the functions of dogs in society and analysis of DANF’s framing. I argue that the framing used by the movement attempts to humanize non-human animals. Banning consumption of dog meat, therefore, is the goal of the DANF campaign

    Mekanisme Religio-Politik Pesantren: Mobilisasi Jaringan Hamida dalam Politik Elektoral Tasikmalaya

    No full text
    Untuk menjadi pemenang pada kontestasi politik elektoral, para kandidat kepala daerah harus memiliki kekuatan politik yang kuat. Kekuatan politik ini dapat berasal dari berbagai mesin politik, diantaranya institusi pesantren yang memiliki jaringan sosial di masyarakat. Pertanyaan artikel ini yaitu mengapa pesantren dapat menjadi basis massa politik elektoral di suatu daerah dan bagaimana mekanisme keterlibatannya. Penulis memakai konsep religio-politik untuk melihat keterlibatan pesantren pada politik elektoral dan konsep jaringan sosial sebagai kerangka analisa mekanisme keterlibatannya. Objek penelitian artikel ini adalah kasus Pilkada tahun 2011 dan 2016 di Kabupaten Tasikmalaya karena penulis melihat adanya peran dari jaringan sosial institusi pesantren sebagai kekuatan politik. Penulis berargumentasi bahwa kemenangan Uu Ruzhanul Ulum – Ade Sugianto pada Pilkada tahun 2011 dan 2016 merupakan hasil dari kekuatan politik jaringan sosial pesantren bernama Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida). Kebaruan konsep artikel ini ialah kekuatan politik dapat berasal dari jaringan informal yang berintegrasi dengan jaringan formal. Teknik pengumpulan data penelitian ini bersifat kualitatif melalui snowball indepth-interview

    Jilbab sebagai Representasi Simbolik Mahasiswi Muslim di Universitas Indonesia

    No full text
    Jilbab or veil is a special cloth in Islam religion, particularly for women. The users are increased significantly in a recent decade in Indonesia. Not to mention also the issue about using of veil in higher education is important in which the discourse about religion is getting easier for being spread by Islamic activists. This article attempts to explain that the phenomenon of differentiation about variation of using veil that occur in campuses is because the differentiation of legitimation from the variation group in Islam itself; Tarbiyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), and Salafi. The main argument from this article is that jilbab or veil being used because the context of teology or a form of commitment to the religion which being manifestated in each of the groups. Jilbab is eventually not only being used because of the commitment in teology, but also because of the conformity that is done by a person, so that she can be accepted socially by each variation groups that has been mentioned. Research method that being used is qualitative research which tries to understand the meaning of the social reality that happened, and it is supported by photo study. Subjects of this case study are women students in the University of Indonesia who are using veil to campus. The study depicts the variation of using jilbab or veil in higher education as it becomes symbol from the variation in Islam (HTI, Salafi, and Tarbiyah) which also conduct collective identity. The implication is that there is social boundaries from one group to other groups which suffered contestation, yet there is no serious conflict between them as the individuals inside those groups are already being educated

    Kelompok Sebaya dan Perilaku Makan Menyimpang Remaja SMA di Jakarta

    No full text
                                                                             AbstrakTulisan ini membahas hubungan tekanan kelompok sebaya (peer group) terhadap gejala perilaku makan menyimpang pada remaja SMA di Jakarta. Banyak studi lain yang mengkaji hal serupa, namun kajian yang membahas permasalahan perilaku makan menyimpang secara sosiologis masih sangat minim. Ketika studi lain hanya memfokuskan pada jenis kelamin perempuan saja, dalam tulisan ini jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) digunakan sebagai variabel kontrol. Studi sebelumnya yang hanya berfokus pada perempuan memiliki kelemahan karena kelompok sebaya tidak hanya memengaruhi perilaku remaja perempuan, tetapi juga memengaruhi laki-laki. Oleh karena itu, penulis berargumen bahwa kelompok sebaya dapat memengaruhi munculnya gejala perilaku makan menyimpang pada remaja SMA di Jakarta, baik pada laki-laki maupun perempuan. Tulisan ini merupakan hasil studi yang menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel secara acak bertingkat (stratified random sampling) sebanyak 235 siswa salah satu SMA negeri di Jakarta. Tulisan ini mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara tekanan kelompok sebaya terhadap gejala perilaku makan menyimpang pada remaja SMA di Jakarta, di mana laki-laki lebih terpengaruh oleh pesan (message) dari kelompok sebayanya, sedangkan perempuan lebih kuat terpengaruh oleh interaksi dan likeability.                                                                      AbstractThis article discusses the correlation between peer group pressure and eating disorder behavior symptoms in Jakarta Senior High School students. Many of studies talk about it, but the discussion about eating disorder behavior on sociology was rarely found. In this article, gender was used as a control variable while many of studies only focused on the woman. The earlier studies that only focused on female have a lack of peer group influence analysis because it is biased. Therefore the author argues that peer group pressure influences the emergence of eating disorder behavior symptoms not only to female students but also to male students. This article was written based on a study which uses quantitative methods with stratified probability random sampling on 235 students from a state senior high school in Jakarta. This article shows that there is a correlation between peer group pressure on eating disorder behavior in Jakarta senior high school students where male students more influenced by the message from his peer group, while female students more influenced by interaction and likeability.    &nbsp

    Akumulasi Melalui Perampasan dan Kemiskinan di Flores

    No full text
    AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menjelaskan persoalan kemiskinan di Flores dari perspektif ekonomi politik. Melalui penelitian kualitatif dengan tinjauan kepustakaan, artikel ini berargumentasi bahwa kemiskinan di Flores disebabkan oleh akumulasi melalui perampasan yang berkaitan dengan tiga hal pokok, yakni sejarah penjajahan yang panjang, ketimpangan agraria, dan depolitisasi massa rakyat. Penjajahan yang panjang telah menyebabkan perubahan struktur pemerintahan dan agraria demi akumulasi melalui perampasan. Ketimpangan agraria mempermudah proses akumulasi melalui perampasan. Dengan hanya mengandalkan perlawanan spontan yang tak terorganisir, proses akumulasi melalui perampasan tak terbendung dan terus mengeskalasi hingga saatini.Abstract This article aims to explain the poverty in Flores by using a political economy perspective. Through qualitative research methodology by review of literatures, this article opines that poverty in the region is caused by the accumulation by dispossession through three main areas, namely the long colonial history, agrarian inequality, and the de-politicization of the masses. The long history of colonization has led to the change of the system of administration and the agrarian structure for the sake of the accumulation by dispossession. The agrarian inequalities facilitate the process of accumulation by dispossession. Just by relying on unorganized spontaneous resistances, the accumulation by dispossession is unstoppable and keeps escalating till today.&nbsp

    Political Islam and Religious Violence in Post-New Order Indonesia

    No full text
    This paper tries to understand why religious violence increasingly occurs in post-New Order Indonesia. There are two dominant views in understanding this. First, the security approach that perceives the violence as a result of the emergent of “radical” agent of political Islam in the more open political space. In this regard, the state is considered weak because the iron hand as used by the authoritarian regime in the past New Orderhas disappeared. Thus, the strong security instruments are needed as a solution, such as the law on anti-terrorism and the police force of anti-terrorism (Densus 88). Second, the cultural approach views violence as caused by the inability of society to build the religious tolerance. Society is considered weak. Religious expression in the political arena is believedas the source of the emergent of intolerant acts. To conquer this, intensive inter-religious dialogues are required. The author argues that those two approaches are not adequate. The historical fact shows that the emergence of political Islam today is the result of the oscillated relationship between Islam and the authoritarian state during the New Order period. In addition, the Indonesian historical experience also clearly illustrates that the presence of political Islam is nothing but a form of response to the critical social-politicaleconomic situation. Political Islam does not appear in a vacuum, but it emerges from the crisis where another populist response from the left is absent.Tulisan ini berupaya memahami mengapa kekerasan agama meningkat di Indonesia pasca Orde Baru. Selama ini, ada dua pandangan dominan dalam memahami persoalan di atas. Pertama, pendekatan keamanan yang memandang kekerasan agama sebagai hasil dari munculnya agen Islam politik yang radikal dalam arena politik yang semakin terbuka. Dalam konteks ini, negara dianggap lemah karena kehilangan tangan besinya seperti yang sebelumnya digunakan oleh rezim otoriter Orde Baru. Konsekuensinya, dibutuhkan negara yang kuat dengan membentuk instrumen-instrumen keamanan semacam undang-undang anti-terorisme dan satuan khusus kepolisian anti-teror. Kedua, pendekatan kultural yang melihat meningkatnya kekerasan disebabkan oleh ketidakmampuan masyarakat dalam membangun toleransi keagamaan. Dengan kata lain, masyarakat dianggap lemah. Solusinya, dibutuhkan dialog antar-agama yang intensif. Menurut penulis, dua pendekatan tersebut kurang memadai dalam memahami meningkatnya kekerasan agama pasca-Orde Baru. Fakta sejarah menunjukkan bahwa kemunculan kelompok-kelompok Islam politik merupakan hasil dari hubungan yang fluktuatif antara Islam dan negara sepanjang Orde Baru. Dan, kehadiran eksponen Islam politik juga merupakan bentuk respon terhadap situasi sosial-ekonomi-politik. Artinya, Islam politik tidak hadir dalam ruang kosong, melainkan muncul sebagai respon terhadap krisis di tengah absennya respon populis lain dari kelompok kiri

    0

    full texts

    146

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇