Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
    1828 research outputs found

    Perbedaan Waktu Pemindahan F0 (biakan murni) dan Komposisi Media pada Pertumbuhan dan Ketebalan Miselium Bibit Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)

    Get PDF
    Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur saprofit yang memiliki ketergantungan dalam memperoleh makanannya, yaitu dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan organik. Bibit jamur tiram yang baik yang berasal dari kultur jaringan murni dan tidak terkontaminasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui interaksi antara waktu pemindahan F0 pada berbagai komposisi media yang tepat dalam proses pertumbuhan dan ketebalan miselium bibit jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari - Mei 2019 di Laboratorium Jamur Tiram Putih Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Peneltian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri atas 2 faktor. Faktor I: Waktu pemindahan F0 (14, 21, 28, 35, dan 42 hsi) dan faktor II: Komposisi media (kontroll, sorgum, gabah, dan jagung) dengan jumlah perlakuan sebanyak 20 dengan 3 kali ulangan. Variabel pengamatan mencakup panjang miselium, kecepatan pertumbuhan miselium, ketebalan miselium, dan persentase kontaminasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa perbedaan waktu pemindahan F0 dan komposisi media memberikan pengaruh nyata terhadap panjang miselium semua umur pengamatan. Perlakuan komposisi media sorgum dengan waktu pemindahan biakan murni 14 hsi (P1) menghasilkan panjang miselium yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan komposisi media yang lainnya. Parameter kecepatan pertumbuhan memiliki kecepatan yang bervariasi, pada media sorgum menunjukkan pertumbuhan miselium yang lebih cepat pada  umur 20 hsi. Begitu pula dengan parameter pengamatan ketebalan miselium bahwa media sorgum memiliki miselium yang lebih tebal pada umur 15 dan 35 hsi

    Pengaruh Berat Umbi Siung Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Bawang Putih (Allium sativum L.)

    Get PDF
    Bawang putih adalah sayuran rempah yang dikonsumsi sebagai bumbu masakan. Berdasarkan Badan Pusat Statistika (2018) produksi bawang putih 19,51 ribu ton hasil ini tidak dapat memenuhi permintaan yang ada. Salah satu penyebab rendah nya produksi adalah penggunaan berat bahan tanam yang kurang optimal di kalangan petani. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka perlu diketahui berat umbi siung yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil bawang putih. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. Bahan yang digunakan 3 varietas bawang putih. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama varietas yaitu Lumbu Kuning, Lumbu Hijau, dan Lumbu Putih. Faktor kedua adalah berat umbi siung yang terdiri dari 3 taraf yaitu B1: 0,5 gram, B2: 1,5 gram, dan B3: 2,5 gram. Parameter pertumbuhan meliputi indeks luas daun dan laju pertumbuhan tanaman. Parameter panen meliputi bobot umbi pertanaman, diameter umbi pertanaman, jumlah siung, dan hasil panen. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Apabila hasil menunjukkan pengaruh yang nyata maka di uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan ada nya interaksi pada variabel pengamatan indeks luas daun, jumlah siung dan hasil panen. Perbedaan bahan tanam umbi siung memberikan respon berbeda terhadap pertumbuhan vegetatif dan hasil bawang putih. Lumbu Kuning dan Lumbu Putih dengan umbi siung 1,5 gram memberikan hasil yang optimal dan untuk Lumbu Hijau menggunakan umbi siung 2,5 gram menunjukkan hasil yang optimal

    Pengaruh Metode Ekstraksi Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)

    Get PDF
    Cabai rawit termasuk dalam tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Nilai produktivitas cabai rawit mencapai 6,69 ton ha-1 sedangkan nilai potensi produksi cabai rawit mencapai 10-20 ton ha-1. Rendahnya nilai produksi cabai rawit dipengaruhi oleh rendahnya mutu benih yang meliputi mutu fisik, fisiologis dan genetik. Peningkatan mutu benih dapat dilakukan dengan penanganan pascapanen yang tepat yang mencakup proses ekstraksi benih dan penggunaan genotipe berkualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perlakuan metode ekstraksi, genotipe dan interaksinya terhadap viabilitas dan vigor benih cabai rawit. Penelitian dilakukan pada Februari hingga Mei 2019 di Greenhouse dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Pada penelitian ini, diuji 3 genotipe (CRUB2, CRUB3, CRUB4) dan 1 varietas (Varietas Manteb) dengan menggunakan 2 metode ekstraksi (Ekstraksi Kering dan Ekstraksi Basah) pada 2 waktu pengamatan (benih umur 2 bulan dan 4 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstraksi basah dapat meningkatkan viabilitas pada variabel potensial tumbuh maksimum dan vigor pada variabel kecepatan dan keserempakan tumbuh saat benih umur 4 bulan. CRUB4 menunjukkan respon terbaik pada viabilitas benih variabel potensial tumbuh maksimum dan CRUB2 menunjukkan nilai tertinggi pada viabilitas benih variabel laju perkecambahan saat benih umur 4 bulan sedangkan Manteb menunjukkan keserempakan tumbuh terendah pada vigor benih saat umur 2 bulan serta terdapat interaksi antar perlakuan pada variabel daya berkecambah

    Intersepsi Radiasi Matahari pada Berbagai Macam Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) Varietas Granola

    Get PDF
    Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) adalah salah satu komoditas pertanian yang berpotensi sebagai pengganti bahan pangan pokok dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Produksi tanaman kentang setiap tahunnya masih belum terpenuhi karena produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan permintaan pasar. Salah satu kendala budidaya kentang di dataran tinggi adalah intensitas cahaya matahari yang rendah. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memodifikasi lingkungan yang ada, yaitu dengan menggunakan mulsa. Kegunaan mulsa adalah untuk memodifikasi lingkungan iklim mikro di mana hal tersebut dapat meningkatkan intersepsi cahaya dan mampu menstabilkan suhu serta kelembaban. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Juni 2019 di desa Junggo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan yang diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik perak dan mulsa plastik hitam perak mampu memberikan pertumbuhan yang lebih baik terhadap luas daun, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, bobot segar umbi per tanaman, bobot segar umbi panen dan nilai intersepsi cahaya dibandingkan tanpa menggunakan mulsa. Perlakuan mulsa plastik perak mempunyai bobot segar umbi panen tertinggi sebesar 40,51 ton ha-1 atau 42,04% lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol

    Pengaruh Dosis Pupuk Cair Urin Kelinci Pada Pertumbuhan Dan Hasil Dua Varietas Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

    Get PDF
    Mentimun (Cucumis sativa L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki kandungan nilai gizi baik dan bermanfaat bagi tubuh, sehingga tingkat konsumsi cukup tinggi di Indonesia. Peningkatan jumlah konsumsi pada buah mentimun menyebabkan buah ini memiliki potensi untuk di kembangkan. Untuk mencukupi kebutuhan permintaan pasar pada tanaman mentimun perlu adanya upaya dalam teknologi budidaya.  Upaya yang digunakan untuk meningkatkan hasil tanaman mentimun yaitu dengan pengaplikasian pupuk cair urin kelinci dan menggunakan varietas mentimun yang memiliki potensi unggul. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk cair urin kelinci dan varietas tanaman yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. percobaan dilaksanakan di Jl. Raya Karangan, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada bulan Januari sampai Maret 2020. Rancagan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Fakorial dengan 8 kombinasi dan diulang sebanyak 4 kali. Faktor pertama yaitu varietas terdiri dari dua taraf yaitu, Harmony Plus (V1) dan varietas Putih Roket (V2). Faktor kedua adalah dosis pupuk cair urin kelinci terdiri dari 4 taraf yaitu, tanpa pupuk urin kelinci (P0), dosis pupuk cair 20ml/tanaman (P1), dosis pupuk cair 30ml/tanaman (P2) dan dosis pupuk cair 40ml/tanaman (P3). Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat interaksi pada luas daun, bobot kering total tanaman, jumlah buah dan bobot buah. Perlakuan 40 ml/tanaman memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap komponen hasil pada varietas Putih Roket. Pada komponen laju pertumbuhan tanaman menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada dosis pupuk cair urin kelinci 20ml/tanaman pada varietas Harmony Plus. Berdasarkan hasil disimpulkan bahwa dosis optimum pupuk cair urin kelinci 40 ml/tanaman pada komponen hasil pada varietas Putih Roket dan 20 ml/tanaman pada laju pertumbuhan tanaman

    Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) di Dataran Rendah terhadap Komposisi dan Macam Media Tanam

    Get PDF
    Jumlah ekspor bit merah dari Australia ke Indonesia mencapai 36.59% dari jumlah total. Jumlah ekspor yang tinggi, meningkatkan upaya budidaya bit merah guna mengurangi jumlah ekspor. Salah satu yang dapat dilakukan adalah budidaya bit merah di dataran rendah, karena terbatasnya lahan di dataran tinggi. Penggunaan media tanam dengan bahan organik dan komposisi yang tepat dapat dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi faktor pembatas utama yaitu suhu tinggi di dataran rendah. Tujuan penelitian adalah mendapatkan komposisi dan macam media tanam yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bit merah di dataran rendah. Penelitian dilakukan bulan Februari hingga April 2019 di Agro Techno Park kebun Jatikerto Universitas Brawijaya Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 13 perlakuan yaitu PO: Kontrol (tanah), P1; tanah: pupuk kandang ayam 1:1, P2; tanah : pupuk kandang ayam 2:1, P3; tanah: pupuk kandang ayam 1:2, P4: pupuk kandang kambing 1:1, P5; tanah : pupuk kadang kambing 2:1, P6; tanah : pupuk kandang kambing 1:2, P7; tanah : pupuk kandang sapi 1:1, P8; tanah : pupuk kadang sapi  2:1, P9; tanah : pupuk kandang sapi 1:2, P10; tanah : pupuk kompos 1:1, P11; tanah : pupuk kompos 2:1, P12; tanah: pupuk kompos1:2 dengan 3 kali ulangan dan diuji lanjut menggunakan BNJ taraf 5%. Parameter pengamatan terdiri dari panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot umbi, diameter umbi, dan panjang umbi. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan tanah dengan pupuk kandang kambing 1:2 memberikan hasil terbaik pada parameter luas daun, bobot segar total tanaman, bobot kering total tanaman, dan bobot umbi pertanaman

    Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Aplikasi Paclobutrazol pada Penampilan Tanaman Gerbera (Gerbera jamesonii) Pot

    Get PDF
    Tanaman gerbera (Gerbera jamesonii) banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki warna bunga yang cukup beragam. Penampilan tanaman gerbera pot dianggap kurang ideal karena tangkai bunga yang terlalu panjang, yaitu mencapai 65 cm. Salah satu cara untuk memperoleh tanaman gerbera yang ideal dengan mengaplikasikan paclobutrazol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi konsentrasi dan waktu aplikasi paclobutrazol yang tepat agar dapat menghasilkan tanaman gerbera pot yang ideal dengan panjang tangkai bunga 1-1.5 kali tinggi pot tanpa mengurangi kualitas tanaman gerbera. Penelitian dilaksanakan pada Januari-Juli 2019 di Desa Tutur, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan pada ketinggian 900 m dpl dengan suhu harian rata-rata 24°C. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 10 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali. Kombinasi perlakuan terdiri dari konsentrasi paclobutrazol (10, 15 dan 20 ppm) dan waktu aplikasi (8, 10 dan 12 mst) serta tanpa paclobutrazol sebagai kontrol. Variabel yang diamati meliputi pertambahan panjang tanaman, pertambahan jumlah daun, indeks klorofil, Specific Leaf Area (SLA), luas daun, lebar tajuk, diameter bunga, diameter tangkai bunga, panjang tangkai bunga, perbandingan tinggi tanaman dan tinggi pot serta perbandingan lebar tajuk dan diameter pot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi antara konsentrasi dan waktu aplikasi paclobutrazol dapat menurunkan panjang tangkai bunga, meningkatkan indeks klorofil daun, meningkatkan ketebalan daun, menurunkan luas daun, menurunkan lebar tajuk tanaman, menghasilkan tanaman gerbera pot yang proporsional. Konsentrasi paclobutrazol 15 ppm yang diaplikasikan saat 8 mst dan 10 mst dapat menghasilkan bunga gerbera dengan panjang tangkai ideal, tanpa mengurangi kualitas tanaman gerbera pot

    Pengaruh Waktu Aplikasi dan Komposisi Nutrisi Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Anggrek Dendrobium (Dendrobium sp.)

    Get PDF
    Anggrek membutuhkan unsur hara NPK dalam jumlah yang sesuai pada fase vegetatif. Pemupukan anggrek umumnya dilakukan dengan cara disemprotkan ke daun sehingga unsur hara dapat diserap olah stomata. Anggrek dendrobium tergolong tanaman CAM yang membuka stomata saat malam hari sehingga aplikasi pupuk akan lebih optimal diaplikasikan saat malam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu aplikasi dan konsentrasi pupuk daun terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman anggrek dendrobium. Penelitian dilaksanakan di kebun Handoyo Budi Orchid, Karangploso, Malang pada bulan Januari-Mei 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 8 kombinasi perlakuan dengan 4 ulangan, sehingga terdapat 32 satuan kombinasi perlakuan dengan total 192 tanaman. Perlakuan yang digunakan merupakan kombinasi dari waktu aplikasi dan konsentrasi pupuk daun antara lain kontrol, pemupukan pagi + NPK 32-10-10 2 g L-1, pagi + NPK 20-20-20 1 g L-1, pagi + NPK 20-20-20 2 g L-1, malam + 32-10-10 1 g L-1, malam + NPK 32-10-10 2 g L-1, pagi + NPK 20-20-20 1 g L-1, pagi + NPK 20-20-20 2 g L-1. Analisis data yang digunakan adalah uji F taraf 5%. Apabila uji F 5% memberikan pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu aplikasi, komposisi dan konsentrasi nutrisi mampu meningkatkan kualitas tanaman anggrek pada parameter panjang tanaman, luas daun, bobot segar dan analisa NPK

    Pengaruh Pupuk Kandang dan Nitrogen Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max [L.] Merr.)

    Get PDF
    Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan utama sebagai  penghasil protein nabati bagi penduduk Indonesia. Berdasarkan data BPS (2015) produksi kedelai di Indonesia mencapai 963.183 ton. Namun jumlah produksi ini belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemberian pupuk organik yang berupa pupuk kandang dapat memperbaiki agregasi dalam tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur dan akar mampu menyerap hara lebih baik. Nitrogen berperan penting dalam proses fotosintesis sehingga memiliki peran penting bagi metabolisme dan respirasi tanaman. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari pembentukan polong, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai dengan pemberian pupuk kandang dan untuk mempelajari peranan nitrogen pada pengaruh pupuk kandang terhadap pembentukan polong, pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2019 hingga Mei 2019. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial. Faktor pertama adalah  pupuk kandang ayam dengan empat taraf, yaitu 0, 10, 20 dan 30 ton ha-1. Faktor kedua adalah pupuk nitrogen dengan dua taraf, yaitu 0 kg N ha-1 dan 150 kg N ha-1. Ulangan dilakukan sebanyak 5 kali dan diuji lanjut menggunakan BNT 5% dan DMRT 5%. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat kering tanaman, umur berbunga dan umur berpolong. Parameter fotosintesis meliputi kadar klorofil daun dan kandungan nitrogen tanaman. Parameter hasil meliputi jumlah polong, berat polong, jumlah biji dan berat biji. Pemberian pupuk kandang ayam 30 ton ha-1 dengan pemupukan nitrogen merupakan hasil terbaik dalam pertumbuhan tanaman dan pemberian pupuk kandang ayam 10 ton ha-1 dengan pemupukan nitrogen memberikan hasil terbaik pada komponen hasil

    Aplikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Pengaruhnya pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

    Get PDF
    Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Hasil produksi bawang merah tahun 2015 sebesar 1.229.184 ton dan meningkat menjadi 1.446.860 ton tahun 2016, akan tetapi tingkat konsumsi masyarakat Indonesia lebih tinggi dibandingkan produksi bawang merah. Tujuan penelitian yaitu untuk mempelajari aplikasi PGPR terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan pada April-Juni 2019 di Jalan Puncak Joyo Agung, Lowokwaru, Malang. Alat yang digunakan yaitu cangkul, pisau, timbangan analitik, jangka sorong, gelas ukur, kamera, dan alat tulis. Bahan yang digunakan yaitu benih bawang merah varietas Tajuk, PGPR, pupuk kompos, pupuk kandang ayam, pupuk NPK. Penelitian ini disusun dengan Rancangan Acak Kelompok sederhana dengan 9 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali yaitu; P0: tanpa aplikasi PGPR; P1: perendaman 30 menit dengan dosis 0 ml; P2: perendaman 60 menit dengan dosis 0 ml; P3: perendaman 0 menit dengan dosis 20 ml; P4: perendaman 30 menit dengan dosis 20 ml; P5: perendaman 60 menit dengan dosis 20 ml; P6: perendaman 0 menit dengan dosis 30 ml; P7: perendaman 30 menit dengan dosis 30 ml; P8: perendaman 60 menit dengan dosis 30 ml. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F). Apabila terdapat pengaruh di antara perlakuan maka dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian perlakuan P7 mendapatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah yang tertinggi dan mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar, bobot kering, jumlah umbi, dan diameter umbi

    1,753

    full texts

    1,828

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Produksi Tanaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇