Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Ekstrak Seresah Daun Mangga (Mangifera indica L. var. Arumanis) pada Gulma Bayam Duri (Amaranthus spinosus L.)
Dalam budidaya tanaman pertanian, banyak kendala yang membuat produktivitas tanaman tidak maksimal. Salah satunya adalah keberadaan organisme pengganggu tanaman yaitu gulma. Keberadaan gulma pada suatu lahan budidaya tebu dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kuantitas maupun kualitas produksi tanaman. Bayam duri (Amaranthus spinosus L.) adalah salah satu jenis gulma berdaun lebar yang paling sering ditemui pada areal perkebunan dan lahan tegalan. Salah satu cara untuk mencegah agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu dan mencegah kerugian akibat adanya gulma, maka perlu dilakukan pengendalian. Pengendalian ramah lingkungan yang dapat dilakukan dengan pemanfaatan alelopati ekstrak seresah daun mangga. Tujuan penelitian ini mempelajari pengaruh pemberian ekstrak seresah daun mangga pada bayam duri dan mendapatkan konsentrasi ekstrak seresah daun mangga yang dapat menghambat pertumbuhan bayam duri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2019 di Green House milik Ibu Dartaty, Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan yaitu M0= konsentrasi 0% b/v; M1= konsentrasi 20% b/v; M2= konsentrasi 40% b/v; M3= konsentrasi 60% b/v; M4 konsentrasi 80% b/v dan M5= konsentrasi 100% b/v. Hasil menunjukkan bahwa pemberian ekstrak seresah daun mangga dengan konsentrasi yang berbeda berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot segar, bobot kering dan tingkat keracunan gulma bayam duri. Tingkat keracunan yang terdapat pada bayam duri menunjukan angka 2 yang menunjukkan tingkat keracunan 6-10%. Konsentrasi ekstrak seresah daun mangga yang berpotensi sebagai penghambat pertumbuhan gulma bayam duri adalah konsentrasi ekstrak seresah daun mangga 80% b/v dan 100% b/v
Pengaruh Pemberian Naungan dan Pupuk Nitrogen terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Artemisia Vulgaris L.
Artemisia vulgaris L. merupakan tanaman yang mengandung senyawa artemisinin. Artemisinin merupakan senyawa yang seskuiterpen lakton yang sangat efektif untuk membunuh Plasmodium falciparum. Tanaman ini merupakan tanaman subtropis sehingga tidak sesuai apabila dibudidayakan di daerah tropis. Tanaman ini apabila ditanam di dataran rendah maka pertumbuhannya kurang baik, karena intensitas cahaya dan suhu yang terlalu tinggi. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan selama masa vegetatif yaitu dengan pemberian naungan dan pupuk N berupa pupuk urea. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan interaksi antara pemberian naungan dan dosis pupuk nitrogen pada pertumbuhan dan hasil tanaman Artemisia vulgaris L. dan mendapatkan kerapatan naungan dan atau dosis pupuk N yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman Artemisia vulgaris L. Penelitian dilaksanakan di Lahan Desa Dadaprejo Kecamatan Junrejo Kota Batu pada bulan September sampai Desember 2018 dengan menggunakan metode rancangan Petak Terbagi (Split Plot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan naungan dan pupuk N (urea) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Artemisia vulgaris L., perlakuan naungan tidak berpengaruh nyata pada semua pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman Artemisia vulgaris L., dan Pemberian pupuk Nitrogen 80 Kg ha-1 dapat meningkatkan hasil panjang tanaman, jumlah daun, bobot segar total, bobot segar daun, dan bobot kering daun dibandingkan dengan dosis pupuk urea 60 Kg ha-1 dan 100 Kg ha-1
Interaksi Genotip x Lingkungan pada Tiga Genotip Lobak (Raphanus sativus L.) di Tiga Lokasi
Lobak (Raphanus sativus L.) termasuk dalam famili Brassicaceae dan merupakan tanaman sayuran ber umbi yang belum banyak dikenal oleh masyarakat, khususnya di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya interaksi genotip dan lingkungan pada beberapa karakter ke tiga genotip lobak, mengetahui genotip lobak yang memiliki potensi hasil tinggi disemua lokasi serta mengetahui lokasi yang sesuai untuk tanaman lobak. Penelitian ini dilaksanakan pada tiga lokasi yang berbeda yaitu, Junggo Kota Batu, UB Forest Karangploso Kabupaten Malang dan Tutur Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan Genotip, diulang sebanyak 4 kali pada 3 lokasi yang berbeda Dari hasil penelitian yang dilakukan. Karakter tinggi tanaman, panjang daun dan panjang umbi di permukaan dipengaruhi oleh genotip dan lokasi. Genotip yang memiliki potensi hasil tinggi di semua lokasi adalah GL2 dan GL3. Lokasi Malang dan Pasuruan memiliki potensi hasil tinggi dan memiliki kondisi lingkungan yang sesuai untuk budidaya tanaman lobak
Perbedaan Komposisi Sumber Nutrisi pada Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Tepung jagung mengandung protein, karbohidrat dan lemak yang dibutuhkan jamur untuk menunjang pertumbuhannya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi jamur tiram putih. Penelitian bertujuan untuk mempelajari dan mendapatkan jenis dan komposisi tepung jagung terbaik sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan dan hasil jamur tiram putih. Penelitian ini dilaksanakan di CV Damarayu Organic Farm dan Griya Jamur Universitas Brawijaya, Malang pada bulan Januari hingga Mei 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri atas 2 faktor. Faktor I: Penambahan tepung jagung (BISI-2, Manis dan Srikandi Kuning-1) dan faktor II: (0, 50, 100 dan 150 gram) dengan jumlah perlakuan sebanyak 12 dan 4 kali ulangan. Variabel pengamatan meliputi lama miselium memenuhi baglog, saat muncul badan buah pertama, saat panen pertama, saat panen terakhir, diameter tudung buah jamur, Jumlah badan buah jamur per baglog, bobot segar badan buah jamur per baglog dan frekuensi panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung jagung Srikandi Kuning-1 15% menghasilkan bobot segar dan frekuensi panen jamur tiram putih lebih tinggi, namun tidak berbeda nyata dengan penambahan tepung jagung manis 15%. Tepung jagung manis 15% menghasilkan diameter tudung lebih lebar (8,07 cm) tidak berbeda nyata dengan pemberian tepung jagung Srikandi Kuning-1 15% (7,44 cm). Penambahan tepung jagung Srikandi Kuning-1 menghasilkan jumlah badan buah lebih tinggi (16,49 buah) dan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan penambahan tepung jagung manis (16,33 buah). Komposisi media dalam berbagai taraf tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah badan buah jamur tiram puti
Pengaruh Sistem Tanam dan Mulsa terhadap Intersepsi Radiasi Matahari pada Tanaman Jagung (Zea mays L. var. indurata) Varietas BISI 18
Jagung (Zea mays L. var. indurata) merupakan komoditas pangan terpenting kedua setelah padi, di Indonesia jagung digunakan sebagai makanan pokok di beberapa daerah. Jagung adalah komoditas multi fungsi, yakni untuk pangan (food), pakan (feed), bahan bakar (fuel) dan bahan baku industri (fiber). Seiring dengan perkembangan sektor peternakan dan industri pangan, maka kebutuhan jagung akan mengalami peningkatan. Intensitas radiasi matahari merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Jarak tanam yang kurang sesuai pada budidaya tanaman jagung menyebabkan intersepsi radiasi matahari tidak maksimal. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu pengaturan jarak tanam melalui sistem tanam untuk meningkatkan intersepsi radiasi matahari dan pemberian mulsa untuk memantulkan radiasi matahari yang lolos. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi antara sistem tanam dan jenis mulsa terhadap intersepsi radiasi matahari pada tanaman jagung. penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2019, di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya yang terletak di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali. Analisis data menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi sistem tanam dan mulsa berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, hasil dan intersepsi radiasi matahari. Kombinasi perlakuan double row + mulsa plastik hitam perak memliki produksi tertinggi, yakni 9,29 ton ha-1, intersepsi radiasi tertinggi sebesar 95,57% dan albedo tertinggi sebesar 47,82%
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Pemberian Air Kelapa Terhadap Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jenis jamur yang mudah dibudidayakan di daerah tropik dan subtropik serta mempunyai nilai ekonomi tinggi dan prospektif sebagai pendapatan petani. Dalam kurun waktu 10 tahun ini mulai dikonsumsi oleh masyarakat karena memiliki kandungan gizi tinggi. Upaya umtuk memperbaiki hasil panen, biasanya media jamur, yang disebut baglog dimodifikasi dengan menambahkan nutrisi pada bahan lain seperti serbuk kayu sengon, bekatul dan penambahan air kelapa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi media tanam dan penambahan air kelapa yang tepat pada budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Sedangkan hipotesis dalam penelitian ini bahwa pada komposisi media tanam serbuk kayu sengon (SKS) dan bekatul (70:20) dengan penambahan air kelapa 100 ml mampu meningkatkan hasil jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2020 di Griya Jamur Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang terletak di Desa Pucangsongo, Kec. Tumpang, Kab. Malang, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan percobaan non faktorial dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa pada perlakuan SKS 70% : bekatul 20% + 50 ml air kelapa (P4) mampu meningkatkan hasil terhadap panjang miselium, juga total bobot segar. Pada hasil juga didukung diameter tudung, diameter tangkai dan panjang tangkai serta jumlah tudung dan tangkai. Sedangkan pada perlakuan SKS 70% : bekatul 20% + 100 ml air kelapa (P6) mampu meningkatkan hasil terhadap jumlah tudung dan tangkai. Perlakuan komposisi media dan pemberian air kelapa tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah badan buah
Uji Daya Hasil Calon Varietas Hibrida Pumpkin (Cucurbita moschata) Tipe Butternut Umur Genjah di Dataran Tinggi
Labu kuning tipe butternut mempunyai prospek sebagai alternatif bahan pangan karena memiliki nilai karbohidrat maupun protein setara dengan beras. Saat ini baru ada 1 varietas yang tersedia di Indonesia yaitu Varietas Labumadu F1. Peran pemuliaan tanaman dalam penyediaan varietas baru yang memiliki daya hasil tinggi dan umur genjah sangat diperlukan. Beberapa genotip kandidat varietas hibrida telah dihasilkan oleh PT. BISI International Tbk. Penelitian ini dilakukan untuk menguji genotip-genotip tersebut sehingga siap untuk dilepas sebagai varietas. Dua puluh genotip dan 2 varietas pembanding ditanam di Pujon, Kab. Malang (1.050 mdpl) pada bulan Desember 2019 sampai dengan Maret 2020. Rancangan yang digunakan adalah RAK dengan genotip sebagai faktor perlakuan. Karakter yang diamati adalah karakter kuantitatif hasil dan komponen hasil serta bentuk buah. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat masing-masing 4 genotipe yang memiliki daya hasil yang setara dengan varietas pembanding, dan umur berbunga dan umur panen lebih pendek 7-10 hari dibandingkan varietas pembanding. Genotip terpilih memiliki bentuk mirip dengan varietas pembanding Labumadu F1. Genotip PK 01, PK 10, PK 18, & PK 15 dapat direkomendasikan untuk dilepas sebagai varietas dengan daya hasil tinggi dan genotip PK 12, PK 14, PK 15, & PK 16 direkomendasikan untuk calon varetas berumur pendek. Genotip PK 15 dapat dipilih untuk varetas yang berdaya hasil tinggi dan berumur pendek
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays L. var. saccharata)
Produksi jagung manis di Indonesia masih tergolong rendah serta belum bisa mencukupi kebutuhan pasar. Sehingga dapat dilakukan dengan upaya pemupukan. Dewasa ini penggunaan pupuk anorganik berlebihan dapat mengakibatkan produktivitas lahan menurun. Salah satu usaha memperbaiki kesuburan tanah adalah dengan pemberian bahan organik. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil serta untuk memperoleh dosis yang tepat. Penelitian dilaksanakan di Torongrejo, Junrejo, Batu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor pertama, pupuk organik yang terdiri dari 3 taraf yaitu: Tanpa pupuk organik (O1), Pupuk kandang ayam 10 ton ha-1 (O2), pupuk kandang ayam 10 ton ha-1+pupuk organik cair 40 ml/20 L/100 m2 (O3). Faktor kedua, dosis pupuk NPK (16-16-16) dengan 4 taraf yaitu: 100 kg ha-1 (A1), 150 kg ha-1 (A2), 200 kg ha-1 (A3), 250 kg ha-1 (A4). Diperoleh 12 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pemberian pupuk kandang ayam 10 ton ha-1 dan dosis pupuk NPK 250 kg ha-1 (O2A4), pupuk kandang ayam 10 ton ha-1+pupuk organik cair 40 ml/20 L/100 m2 dan dosis pupuk NPK 200 kg ha-1 (O3A3) dan pupuk kandang ayam 10 ton ha-1+pupuk organik cair 40 ml/20 L/100 m2 dan dosis pupuk NPK 250 kg ha-1 (O3A4) memberikan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol per hektar dan kadar gula lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain
Pengaruh Pemberian Wood Vinegar Batok Kelapa dan Indole-3-Butyric Acid (IBA) terhadap Pertumbuhan Pucuk TanamanTeh (Camellia sinensis (L.) Kuntze)
Produksi teh Indonesia pada tahun 2015 ialah 61.915 ton, atau sekitar 126.051 USD. Upaya untuk meningkatkan produktivitas teh dapat dengan menambahkan bahan organik seperti wood vinegar batok kelapa dan dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh seperti Indole-3-butyric acid (IBA). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi wood vinegar batok kelapa dan IBA yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan pucuk teh. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 2 faktor dan mendapat ulangan sebanyak 3 kali. Faktor pertama ialah wood vinegar batok kelapa sebagai main plot dengan 3 taraf 0 ml/l (M0), 10 ml/l (M1), 40 ml/l (M2). Faktor kedua ialah konsentrasi IBA sebagai sub plot dengan 3 taraf yaitu 0 ppm (A0), 200 ppm (A1), 400 ppm (A2). Berdasarkan hasil penelitian, belum didapatkan kombinasi konsentrasi wood vinegar batok kelapa dan IBA yang berpengaruh nyata untuk mempercepat pertumbuhan pucuk teh. Kombinasi wood vinegar batok kelapa 10 ml/l dengan IBA 400 ppm memiliki hasil interaksi terbaik pada rerata tinggi pucuk di 14 hsp – 70 hsp dan rerata jumlah pucuk pekoe, serta hasil interaksi yang lebih baik pada interval panen dan tinggi pucuk di 84 hsp dibandingkan dengan interaksi pada perlakuan yang lain
Pengaruh Pemberian Pupuk Urea dan Pupuk Kompos Organik Pada Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays saccharata L.)
Jagung manis (Zea mays saccharata L.) adalah salah satu sumber makanan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Produksi tanaman jagung manis di Indonesia masih tergolong rendah dengan rata rata 6-8 ton ha-1 . Produksi jagung manis pada tahun 2012 lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Produksi jagung manis pada tahun 2012 adalah 19.377.030 ton, sedangkan produksi jagung manis pada tahun 2013 adalah 18.506.287 ton (Badan Pusat Statistik, 2014). Menurut Dinariani (2014), salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem budidaya dalam meningkatkan produksi yaitu dengan perbaikan pemupukan. Pemupukan yang baik dapat dilakukan dengan mengkombinasikan pupuk anorganik dan pupuk organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk urea dan pupuk kompos pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2019 – Agustus 2019. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Jatimulyo, Malang, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas dua faktor dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk urea dan pupuk kompos terjadi pada beberapa kombinasi perlakuan, yaitu kombinasi pupuk urea 300 kg ha-1 dan pupuk kompos 20 ton ha-1 menghasilkan berat kering tanaman yang tertinggi. Kombinasi tersebut menghasilkan diameter tongkol tertinggi tetapi tidak berbeda dengan pemberian urea 300 kg ha-1 dan tanpa penambahan pupuk kompos. Kombinasi pupuk urea 300 kg ha-1 dan pupuk kompos 10 ton ha-1 menghasilkan luas daun tanaman yang tertinggi