Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
    1828 research outputs found

    Respon Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) terhadap Pemberian Pupuk Nitrogen dan Fosfor pada Elevasi Suboptimal di Kota Batu

    Get PDF
    Tanaman bit merah (Beta vulgaris L.) merupakan tanaman tahunan dan termasuk tanaman sub-tropis yang dimanfaatkan dalam bidang perindustrian dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemupukan nitrogen dan fosfor terhadap cekaman suhu pada tanaman bit merah serta kandungan betasianin yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – September 2019 di Kampung Tani, Kelurahan Temas, Kota Batu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor dengan empat (4) ulangan. Faktor I merupakan konsentrasi nitrogen dengan empat (4) tingkat penyediaan unsur hara nitrogen: 0 kg N ha-1 (N0), 100 kg N ha-1 (N1), 200 kg N ha-1 (N2) dan 300 kg N ha-1 dan faktor II merupakan konsentrasi unsur hara fosfor dengan 2 taraf perlakuan : 0 kg P2O5 ha-1 (P0) dan 150 kg P2O5 ha-1 (P1). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk fosfor pada tanaman bit merah dapat meningkatkan adaptasi tanaman dalam pertumbuhan dan hasil pada elevasi suboptimal di Kota Batu. Pupuk nitrogen dan fosfor berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar total, berat kering total dan hasil umbi. Namun, pupuk nitrogen dan pupuk fosfor tidak meningkatkan adaptasi tanaman bit merah dalam pigmen daun dan umbi

    Peningkatan Daya Perkecambahan Benih Nanas (Ananas comosus L. Merr.)

    Get PDF
    Nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan komoditas penting untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Peningkatan produktivitas dan kualitas nanas terus dilakukan melalui pemuliaan tanaman. Namun kegagalan dalam proses pemuliaan secara hibridisasi sering terjadi dikarenakan adanya dormansi benih sehingga benih sulit berkecambah dan siklus untuk mendapatkan varietas baru menjadi terhambat. Penelitian ditujukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pematahan dormansi benih terhadap peningkatan perkecambahan benih nanas yang cepat dan seragam. Penelitian dilaksanakan Bulan Januari – Mei 2020 di Desa Pranggang, Plosoklaten. Penelitian menggunakan perlakuan P1 (priming PGPR 8 jam), P2 (Priming PGPR 8 jam kemudian dikeringkan 3 hari), P3 (Priming GA3 150 ppm 8 jam) P4 (Priming GA3 150 ppm 8 jam kemudian dikeringkan 3 hari) dan perlakuan pembanding P5 (Priming air suling 8 jam). setiap satuan percobaan terdiri dari 20 benih nanas. Variabel pengamatan meliputi: daya kecambah (%), laju perkecambahan (hari), Indeks Kecepatan Perkecambahan (IKP), tinggi tanaman (cm), jumlah daun dan diameter datang (mm). Analisis data secara statistik dengan uji normalitas dan uji independent sample T test serta korelasi. Penggunaan bahan priming dengan PGPR perendaman 8 jam tanpa pengeringan mampu meningkatkan dan mempercepat perkecambahan benih dengan daya berkecambah benih nanas yang baik ≥70%. Perlakuan bahan priming pada benih nanas tidak berpengaruh pada tinggi tanaman namun berpengaruh nyata pada diameter batang dan jumlah daun dengan perlakuan terbaik priming PGPR tanpa pengeringan. Terdapat hubungan atau korelasi yang erat antara daya berkecambah dengan tinggi tanaman benih nanas

    Pengaruh Ketebalan Mulsa Jerami Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus L. Moench)

    Get PDF
    Tanaman okra (Abelmoschus esculentus L. Moench) merupakan tanaman yang kaya akan manfaat dan multifungsi, Tanaman okra merupakan tanaman yang kaya akan manfaat karena memiliki kandungan lemak, protein, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Dilihat dari potensi tersebut maka Indonesia memiliki peluang besar menjadi pengekspor okra, untuk itu diperlukan upaya peningkatan hasil tanaman okra di Indonesia. Okra merupakan tanaman yang membutuhkan cukup banyak air. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir tingkat kehilangan air dapat dilakukan dengan upaya modifikasi kondisi lingkungan tumbuh dengan cara rekayasa lingkungan dengan cara aplikasi mulsa organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman okra secara maksimal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juli 2019 di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan pemberian mulsa jerami dengan berbagai ketebalan menunjukkan pengaruh terhadap komponen pertumbuhan seperti jumlah daun, dan luas daun. Pada komponen hasil memberikan pengaruh pada jumlah polong, bobot segar polong per tanaman, bobot segar polong per petak, dan bobot polong per ha. Tanaman okra yang diberi mulsa jerami dengan ketebalan 7,5 cm menghasilkan polong per hektar yang tertinggi, yaitu sebesar 10,24 ton ha-1

    Aplikasi Pupuk Urea dan Pupuk Kandang Ayam pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.)

    Get PDF
    Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.L) merupakan komoditas sayuran yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Produktivitas jagung manis di Indonesia sebesar 8,31 ton/ha dengan potensi mencapai 14-18 ton/ha. Pupuk urea merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan produksi jagung manis. Untuk menghindari dampak negatif digunakan pupuk kandang ayam. Selain produktivitas, perlu untuk meningkatkan kualitas jagung manis yaitu mencari umur panen yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk urea dan kandang ayam pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor, terdapat  12 perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan tersebut terdiri dari Faktor I yaitu pupuk kandang ayam (P), Faktor II yaitu pupuk urea (N). Penelitian dilakukan di lahan sawah pada bulan April-Juli 2019. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pupuk kandang ayam dan pupuk urea tidak terjadi interaksi pada pertumbuhan tanaman, namun pada hasil panen terjadi interaksi. Pada perlakuan pupuk kandang ayam 10 ton/ha dan pupuk urea 250 kg/ha memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan tanaman. Perlakuan pupuk kandang ayam 15 ton/ha dan pupuk urea 375 kg/ha meningkatkan diameter tongkol tanpa kelobot, panjang tongkol, bobot segar tongkol tanpa kelobot, bobot segar tongkol berkelobot. Pada kadar gula jagung manis umur 75 hst perlakuan pupuk kandang ayam 15 ton/ha memberikan hasil terbaik, namun pada umur 85 hst tidak berpengaruh nyata

    Penampilan Empat Genotip Tanaman Wortel (Daucus carota L.) pada Tiga Lokasi

    Get PDF
    Wortel (Daucus carota L.) merupakan jenis tanaman sayuran semusim yang tumbuh tegak dengan ketinggian antara 30 cm - 100 cm dan berumur pendek antara 70-120 hari tergantung pada varietasnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui penampilan pada empat genotip tanaman wortel yang ditanam pada tiga lokasi berbeda dan mengetahui interaksi genotip dengan lingkungan.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan empat genotip diulang sebanyak empat kali pada tiga lokasi. Ketiga lokasi penelitian antara lain di UB Forest Kabupaten Malang, Dusun Junggo Kota Batu, dan Nongkojajar Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilaksanakan pada 11 April 2019 sampai 6 Agustus 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampilan berbeda pada lokasi Junggo dan Nongkojajar, sedangkan pada lokasi UB Forest penampilan yang ditunjukkan sama. Terjadi interaksi genotip dengan lingkungan pada karakter tinggi tanaman, panjang daun, panjang umbi, dan diameter umbi

    Pengaruh Pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Dosis Pupuk Kandang Kambing terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays L. var. Saccharata)

    Get PDF
    Permintaan jagung manis (Zea Mays L. var. Saccharata) yang tinggi harus diimbangi dengan peningkatan produksi. Metode tepat untuk meningkatkan produksi jagung manis ialah dengan kombinasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan pupuk organik. PGPR yang diaplikasikan pada tanaman dapat berperan sebagai biofertilizer, biostimulan dan bioprotektan. Peran PGPR dapat dioptimalkan dengan penambahan pupuk organik. Bahan organik merupakan nutrisi yang dapat meningkatkan aktivitas PGPR. Sebaliknya, PGPR dapat mempercepat dekomposisi bahan organik, sehingga unsur hara tersedia untuk tanaman. Bahan organik yang digunakan dalam penelitian ini ialah pupuk kandang kambing. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian PGPR dan dosis pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni - September 2019 di kebun percobaan Agro Techno Park Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan faktor pertama ialah pemberian PGPR (tanpa PGPR dan PGPR 10 ml l-1) dan faktor kedua ialah dosis pupuk kandang kambing (tanpa pupuk kandang kambing, pupuk kandang kambing 5 t ha-1, pupuk kandang kambing 10 t ha-1, pupuk kandang kambing 15 t ha-1 dan pupuk kandang kambing 20 t ha-1). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara perlakuan aplikasi PGPR dengan dosis pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Aplikasi PGPR 10 ml l-1 memberikan hasil panen optimal dengan peningkatan mencapai 7,56% dibandingkan dengan perlakuan tanpa PGPR. Dosis pupuk kandang kambing 20 t ha-1 memberikan hasil panen optimal dengan peningkatan mencapai 52,6% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pupuk kandang kambing

    Respon Dua Tipe Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Terhadap Berbagai Dosis Pupuk Kandang Kambing

    Get PDF
    Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan komoditas hortikutura yang berpotensi dikembangkan karena berperan memenuhi kebutuhan konsumsi nasional dan sebagai komoditas ekspor. Produktivitas buncis nasional mengalami penurunan pada tahun 2014-2017, sehingga tingginya minat masyarakat tidak diikuti dengan produktivitas buncis. Penurunan produktivitas buncis dapat disebabkan kecenderungan penggunaan pupuk anorganik yang tidak baik untuk jangka panjang. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menambah bahan organik pada tanah berupa pupuk kandang kambing. Peningkatan produktivitas buncis juga dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan. Percobaan ini dilakukan pada Januari hingga Maret 2020 di lahan percobaan Jatimulyo, Malang. Percobaan dirancang dalam RAKF yang terdiri dari 2 faktor yang diulang 4 kali. Faktor pertama ialah tipe buncis yang terdiri dari 2 taraf dan faktor kedua ialah dosis pupuk kandang kambing yang terdiri dari 4 taraf. Hasil percobaan menunjukkan tipe tegak lebih respon dengan pupuk kandang kambing 10 t.ha-1 pada panjang polong, dan diameter polong. Tipe rambat lebih respon pada parameter luas daun, berat kering total, jumlah polong, dan bobot polong pada dengan dosis 10 t.ha-1, dan laju pertumbuhan relatif dengan dosis 20 t.ha-1

    Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi PGPR Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal True Shallot Seed

    Get PDF
    Peningkatan produktivitas bawang merah dapat dilakukan melalui penggunaan TSS (True Shallot Seed). Budidaya menggunakan umbi maupun TSS membutuhkan komposisi media tanam yang berbeda. Kemampuan tanaman dalam memanfaatkan nutrisi pada media tanam salah satunya dapat ditingkatkan melalui pemberian PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media tanam dan konsentrasi PGPR yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman ba wang merah asal TSS. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni 2020 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Malang, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak 3 kali. Penelitian menggunakan 2 faktor yaitu komposisi media tanam: tanah + arang sekam (1:1), tanah + kompos (1:1), dan tanah + arang sekam + kompos (1:1:1), dan konsentrasi PGPR: 0 mL L-1, 5 ml L-1, 10 ml L-1, dan 15 ml L-1. Variabel pengamatan meliputi panjang tanaman, jumlah daun, indeks klorofil, bobot segar umbi, dan jumlah umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanam tanah + kompos (1:1) dan tanah + arang sekam + kompos (1:1:1)  pada berbagai konsentrasi PGPR (5 ml L-1, 10 ml L-1, dan 15 ml L-1)  memberikan hasil yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan media tanam tanah + arang sekam (1:1) dengan berbagai konsentrasi PGPR pada pengamatan panjang tanaman, jumlah daun, bobot segar umbi, dan jumlah umb

    Pemanfaatan Limbah Rumput Laut sebagai Media Campuran terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)

    Get PDF
    Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur pangan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pertumbuhan dan hasil jamur tiram putih dipengaruhi oleh jenis substrat yang digunakan. Substrat yang sering digunakan adalah serbuk kayu sengon. Serbuk kayu sengon akan sukar diperoleh apabila digunakan secara terus menerus. Pemanfaatan limbah rumput laut menjadi  salah satu alternatif sebagai campuran media utama serbuk kayu sengon. Komposisi utama rumput laut adalah selulosa dan mineral (Basmal et al., 2003). Penelitian dilaksanakan di CV. Damarayu, Pakisaji, Kabupaten Malang dan Griya Jamur Universitas Brawijaya Dusun Pucangsongo, Tumpang, Kab Malang bulan Januari sampai Mei 2019. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 9 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Variabel pengamatan meliputi waktu miselium memenuhi baglog, waktu muncul badan buah (pinhead) pertama, jumlah pinhead, waktu panen pertama, diameter tudung, jumlah badan buah per baglog, total bobot segar badan buah per baglog dan frekuensi panen. Data pengamatan dilakukan menggunakan analisis ragam (ANOVA) atau Uji F hitung. Apabila perlakuan menunjukkan pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media utama yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada variabel pengamatan kecuali waktu muncul badan buah (pinhead) pertama, waktu panen pertama dan frekuensi panen. Perlakuan P3 tidak memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan dan produktivitas jamur tiram putih, tetapi perlakuan P3, P0, P1, P2 dan P4 menunjukkan hasil yang yang lebih baik pada variabel pengamatan jumlah pinhead, jumlah badan buah per baglog dan total bobot segar badan buah per baglog

    Pengaruh Tingkat Konsentrasi 2,4-Dichlorophenoxyaceticacid terhadap Induksi Kalus pada Tiga Varietas Tebu secara In-Vitro

    Get PDF
    Tebu ialah salah satu tanaman perkebunan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan dasar gula sebagai bahan pokok utama. Produksi tanaman tebu penting dilakukan dengan cara penyediaan bibit melalui kultur jaringan. Induksi kalus merupakan tahapan penting dalam perbanyakan melalui kultur jaringan guna memperoleh tanaman baru dengan jumlah yang besar. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi 2,4 Dichlorophenoxyaceticacid (2,4-D) yang tepat dalam keberhasilan menginduksi kalus tebu yang dilaksanakan pada Februari 2019-Mei 2019 di Laboratorium Kultur Jaringan Pusat Penelitian Sukosari PTPN XI, Lumajang, Jawa Timur. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor. Faktor 1 yaitu konsentrasi 2,4-D 0 ppm, 1 ppm, 3 ppm, 5 ppm, dan 7 ppm. Faktor 2 yaitu varietas tebu NXI 1-3, CYZ 71/95, dan Bululawang (BL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 2,4-D mampu menginduksi kalus pada varietas NXI 1-3, CYZ 71/95, dan Bululawang secara In-Vitro. Perbedaan konsentrasi 2,4-D 3 ppm dapat mempengaruhi hasil waktu muncul kalus, berat segar kalus, volume kalus, dan persentase keberhasilan pembentukan kalus serta menghasilkan tekstur kalus yang remah dan berwarna hijau keputihan dan hijau kekuningan pada tiga varietas tebu secara In-Vitro

    1,753

    full texts

    1,828

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Produksi Tanaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇