Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Komposisi Jenis Media Serbuk Gergaji, Limbah Kapuk dan Tongkol Jagung pada Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Seiring waktu, ketersediaan serbuk gergaji kayu sengon ini semakin lama semakin terbatas, akibat persaingan dengan industri yang terus berkembang di daerah budidaya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan alternatif limbah pertanian yang lain. Limbah kapuk dan tongkol jagung merupakan limbah pertanian yang banyak mengandung lignoselulosa yang sangat melimpah ketersediaannya. Limbah kapuk mengandung selulosa 44,79% dan hemiselulosa 14,28% (Chang dan Miles, 2004), sedangkan limbah tongkol jagung juga mengandung selulosa 33,8%, hemiselulosa 16% dan lignin 9,1% (Ardiansyah, 2010). Penelitian dilaksanakan di CV. Damar Ayu, Pakisaji, Kab. Malang dan Griya Jamur Universitas Brawijaya Dusun Pucangsongo, Tumpang, Kab Malang pada bulan Januari 2019 hingga Mei 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) terdiri atas 15 macam perlakuan dengan 3 ulangan. Variabel pengamatan meliputi panjang miselium, lama miselium memenuhi baglog, saat muncul badan buah pertama, waktu panen pertama, rata-rata diameter tudung buah jamur jumlah badan buah per baglog, total berat segar badan buah, REB (rasio efisiensi biologis) dan frekuensi panen. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan limbah kapuk dan tongkol jagung dapat mensubtitusi penggunaan dari serbuk gergaji hingga 75%, penggunaan komposisi limbah kapuk dan tongkol jagung 25% – 75% menghasilkan pertumbuhan miselium yang lebih panjang dan lebih cepat. Media dengan komposisi 50% – 75% limbah kapuk dan tongkol jagung mampu menghasilkan hasil bobot segar yang sama dengan penggunaan 100% serbuk gergaji serta menghasilkan frekuensi panen yang lebih banyak
Uji Pertumbuhan dan Daya Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Tipe Iceberg pada Dataran Tinggi
Tanaman selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki prospek menjanjikan untuk dikembangkan. Namun dalam pemenuhan kebutuhannya masih dilakukan melalui impor, sehingga dibutuhkan upaya peningkatan produksi salah satunya melalui penggunaan varietas unggul. Sebagai upaya menciptakan varietas unggul baru perlu dilakukan uji daya hasil, meliputi uji daya hasil pendahuluan, lanjutan, dan uji multilokasi dengan menanam calon varietas uji yang dibandingkan dengan varietas pembanding. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2019 di Desa Gesingan, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang pada ketinggian 1.080 m dpl dengan suhu rata-rata harian 20-25°C. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan calon varietas uji berupa genotipe LT18001 dan LT18002 yang dibandingkan dengan 3 varietas pembanding meliputi varietas Brando, General, dan Georgia. Masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan sehingga menghasilkan 15 unit percobaan. Parameter pengamatan meliputi karakter kuantitatif komponen pertumbuhan yaitu panjang tanaman, lebar tajuk, panjang daun, jumlah daun, komponen hasil berupa umur panen, rata-rata berat segar tanaman, rata-rata berat krop, berat krop per plot, panjang krop, lebar krop, dan produktivitas, serta karakter kualitatif meliputi pengamatan sebelum semai yaitu warna benih, dan pengamatan saat panen yaitu bentuk krop, bentuk daun, warna daun, bentuk batang, warna batang, dan kerapatan krop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas uji LT18001 dan LT18002 menunjukkan daya hasil tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding. Oleh karena itu, varietas uji LT18001 dan LT18002 dapat diusulkan sebagai varietas unggul baru
Respon Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) Terhadap Pemberian Unsur Hara Nitrogen dan Pupuk Kandang Ayam di Dataran Rendah
Bit merah (Beta vulgaris L.) adalah tanaman umbi-umbian yang termasuk dalam famili Chenopodiaceae yang kaya akan gizi. Bit merah memiliki pigmen betalain yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu betasianin dan betasantin, yang diketahui memiliki efek anti radikal bebas dan aktivitas antioksidan yang tinggi. Bit merah yang dibudidayakan pada ketinggian tempat lebih rendah dapat mengalami cekaman suhu yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Upaya dalam mengatasi pengaruh negatif dari cekaman suhu dapat dilakukan dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari tingkat adaptasi tanaman bit merah dalam pertumbuhan, hasil umbi dan pigmen tanaman pada dataran rendah dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2019 di lahan Agro Techno Park Universitas Brawijaya Jatikerto. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial. Faktor pertama adalah pupuk kandang ayam dengan dua taraf, yaitu 0 dan 20 ton ha-1. Faktor kedua adalah pupuk nitrogen dengan empat taraf, yaitu 0, 100, 200 dan 300 kg N ha-1. Ulangan dilakukan sebanyak empat kali dan diuji lanjut menggunakan BNT 5%. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah tanaman dan bobot kering tanaman. Parameter hasil umbi meliput bobot basah umbi dan bobot kering umbi. Parameter pigmen tanaman meliputi kandungan klorofil daun dan betalain. Adaptasi tanaman bit merah di dataran rendah hanya dapat ditingkatkan dalam pertumbuhan pada jumlah daun, luas daun dan bobot kering tanaman dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang ayam
Pengaruh Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pupuk Anorganik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Pulut (Zea mays ceratina)
Peningkatan hasil tanaman jagung umumnya dilakukan dengan metode intensifikasi salah satu cara dengan pemberian pupuk anorganik. Penambahan pupuk anorganik secara berkala dalam jumlah besar menyebabkan penurunan kesuburan tanah. Pemberian pupuk organik merupakan salah satu cara meningkatkan kesuburan tanah. Salah satu bahan pupuk organik didapat dari limbah produksi kelapa sawit yang dikomposkan yaitu Tandan Kosong Kelapa Sawit. Pemberian kompos yang sifatnya slow release tidak mampu memenuhi kebutuhan jagung sehingga dikombinasikan dengan pupuk anorganik tunggal sehingga mampu memenuhi kebutuhan tanaman. Tujuan penelitian untuk memperoleh kombinasi kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit dan pupuk anorganik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pulut. Penelitian dilaksanakan Februari hingga April 2019 di ATP Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. dan 9 perlakuan terdiri dari Kompos TKKS 0 ton ha-1 + 1 bagian pupuk anorganik, Kompos TKKS 5 ton ha-1 + 1/3 pupuk anorganik (F1), Kompos TKKS 5 ton ha-1+ 2/3 pupuk anorganik, Kompos TKKS 10 ton ha-1 + 1/3 pupuk anorganik, Kompos TKKS 10 ton ha-1 + 2/3 pupuk anorganik, Kompos TKKS 15 ton ha-1+ 1/3 pupuk anorganik, Kompos TKKS 15 ton ha-1+ 2/3 pupuk anorganik, Kompos TKKS 20 ton ha-1+ 1/3 pupuk anorganik, Kompos TKKS 20 ton ha-1+ 2/3 pupuk anorganik. Hasil penelitian menunjukkan pemberian Kompos TKKS 20 ton ha-1+ 2/3 pupuk anorganik mampu memberikan hasil jagung pulut tertinggi (10,34 ton ha-1) yang tidak berbeda nyata dengan Kompos TKKS 0 ton ha-1 + pupuk anorganik 100% (9,19 ton ha-1) dan meningkatkan hasil 11,12%
Pemberian Dosis Pupuk Anorganik Npk dan Aplikasi Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)
Kacang tanah adalah tanaman pangan kacang-kacangan yang menempati urutan terpenting kedua setelah kedelai. Salah satu permasalahan dari budidaya kacang tanah ialah kesuburan lahan yang makin menurun, yang ditandai dengan kandungan bahan organik yang rendah, kandungan bahan organik tanah di Indonesia cukup rendah dengan rata-rata <2%, sementara bahan organik yang dibutuhkan berkisar 4-5%. Pupuk organik bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia, dan akan meningkatkan kesuburan lahan, tetapi penggunaan pupuk organik kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman sehingga diperlukan pupuk anorganik yang mempunyai kandungan unsur hara makro. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mempelajari pemberian dosis pupuk anorganik NPK dan aplikasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman kacang tanah, mendapatkan kombinasi dosis pupuk organik cair dan pupuk anorganik NPK yang tepat pada tanaman kacang tanah, pupuk anorganik NPK dapat dikurangi dengan penggunaan pupuk organik cair. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hungga Juni 2019 di Kebun Percobaan Jatimulyo Universitas Brawijaya Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang Jawa Timur. Penelitan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 10 perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga didapat 30 kombinasi perlakuan dengan total 2.100 tanaman. Perlakuan ini merupakan kombinasi dari pupuk organik cair dan pupuk anorganik. Analisis data yang digunakan adalah uji F taraf 5%. Apabila uji F 5% memberikan pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk organik cair dengan pupuk anorganik NPK pada perlakuan 200 kg ha-1 NPK + POC 100% (60 cc/30L air/100 m2) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang
Kajian Hubungan Curah Hujan Dengan Produktivitas Tanaman Pisang Mas Kirana (Musa Acumunata) di Kabupaten Lumajang
Pisang di Indonesia memiliki hasil produksi tertinggi dengan produksi sebesar 6.862.558 ton atau sekitar 34,65 persen dari total produksi buah di Indonesia, memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi buah nasional. Meningkatnya suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh meningkatnya gas emisi rumah kaca merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim. Dampak yang disebabkan oleh perubahan ikilm dapat mengubah segala aspek dari kebutuhan manusia terutama pangan atau dalam bidang pertanian, salah satu dampak negatif adalah dapat menurunan produksi tanaman khususnya tanaman pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara curah hujan dengan produktivitas tanaman pisang Mas Kirana di beberapa sentra produksi di Kabupaten Lumajang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2019 di sentra produksi pisang di Kecamatan Senduro, Kecamatan Pasrujambe dan Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan menerapkan metode observasi dan survei. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan petani. Data sekunder yang dibutuhkan adalah produktivitas Pisang Mas Kirana di Kabupaten Lumajang dari Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang dan data iklim diperoleh dari BMKG Karangploso. Data primer digunakan untuk mendeskripsikan keadaan umum daerah penelitian. Analisis korelasi digunakan dalam pengolahan data sekunder untuk mengetahui hubungan antara iklim (curah hujan, bulan basah, bulan kering dan har hujan) dengan produktivitas Pisang Mas Kirana. Berdasarkan hasil analisa menjelaskan bahwa produktivitas Pisang Mas Kirana di Kabupaten Lumajang tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan unsur iklim curah hujan, hari hujan, bulan basah dan bulan kerin
Pengaruh Waktu Pengendalian Gulma Pada Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Tipe Tegak
Faktor biotik dan abiotik ialah faktor pembatas yang menentukan produksi buncis. Faktor biotik tersebut ialah adanya gulma yang bersaing dengan tanaman buncis dalam memenuhi kebutuhan cahaya, suhu, kelembaban dan nutrisi sehingga dapat menurunkan pertumbuhan dan hasil tanaman budidaya. Cara yang digunakan untuk mengurangi faktor pembatas biotik dan abiotik ialah dengan melakukan pengendalian gulma dan penggunaan varietas unggul. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui waktu pengendalian gulma dan varietas terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak, serta mengetahui interaksi antara waktu pengendalian gulma dan varietas pada pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, 9 kombinasi perlakuan, dan 3 ulangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei – Juli 2019 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Jatimulyo UB, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Waktu pengendalian gulma dan varietas yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak serta terdapat interaksi antara waktu pengendalian gulma dan varietas pada pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak. Penggunaan varietas Balitsa-1 dan penyiangan gulma pada 7, 14, 21, 28, 35, 42 dan 49 HST memberikan hasil terbaik pada parameter bobot kering tanaman, jumlah polong / tanaman, bobot basah polong / tanaman, bobot kering polong / tanaman, jumlah polong / petak, bobot basah polong / petak dan bobot kering polong / petak. Terjadi pergeseran vegetasi yang menyebabkan terjadinya perbedaan beberapa jenis gulma pada sebelum olah tanah dan sesudah olah tanah
Pengaruh Pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Pupuk Kandang Sapi pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman yang mempunyai peranan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan jenis kacang-kacangan. Kacang tanah dapat dimanfaatkan dalam berbagai jenis olahan makanan. Produksi kacang tanah pada tahun 2014 yaitu 638.896 ton dengan lahan seluas 499.338 ha. Sedangkan pada tahun 2015 produksi menurun menjadi 605.449 ton dengan lahan seluas 454.349 ha. Dengan berkurangnya luas lahan yang di panen, maka perlu dilakukan suatu cara dalam peningkatan jumlah produksi kacang tanah. Salah satu sumber unsur hara dalam pertanian organik adalah bahan organik yang berasal dari pupuk kandang, pupuk hijau, limbah pertanian, pupuk hayati. Selain itu pengendalian hayati yang dapat digunakan untuk menurunkan serangan hama dan penyakit pada tanaman adalah Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk kandang sapi dan PGPR yang tepat tehadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 – Desember 2018. Penelitian ini dilaksanakan di UPT. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura yang terletak di Jl. Raya Randuagung, Kec. Singosari, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 16 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi interaksi pada parameter tinggi tanaman, luas daun dan bobot 100 biji
Pengaruh Jarak Tanam Dan Dosis Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)
Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) ialah tanaman pangan yang banyak diminati di kalangan masyarakat, hal ini dikarenakan rasanya yang manis dan juga mudah diolah sebagai campuran untuk membuat adonan makanan yang lain. Di Indonesia, hampir di setiap daerah masyarakat menanam tanaman jagung manis karena memiliki arti yang penting dalam pengembangan industri termasuk bahan baku pangan dan juga bahan baku industri. Berbagai upaya peningkatan produktivitas jagung manis dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas sumberdaya lahan berupa pemberian pupuk dengan memperhatikan cara pemupukan tepat jenis, tepat cara, tepat waktu, tepat tempat dan tepat dosis. Pengaturan jarak tanam juga perlu dilakukan karena berguna untuk memberikan hasil tanam yang optimal dengan cara memanfaatkan luas lahan yang memang terbatas. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2019-Juli 2019. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa hanya terjadi interaksi antara jarak tanam dengan dosis pupuk organik cair pada berat tongkol tanpa kelobot dan berat tongkol berkelobot
Pematahan Dormansi Benih Menggunakan KNO3 dan H2O Pada Beberapa Genotip Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)
Cabai rawit termasuk dalam tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi. Benih cabai rawit mengalami dormansi sekunder saat disimpan pada kurun waktu tertentu dengan ondisi yang tidak sesuai. Apabila benih tersebut mengalami dormansi maka perlu dilakukan pematahan dormansi pada benih. Pematahan dormansi yang dilakukan adalah metode kimiawi menggunakan larutan KNO3 dan H2O (air panas). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perlakuan larutan yang tepat pada benih cabai rawit, mengetahui genotip terbaik dari beberapa macam cabai rawit dan interaksi antara larutan dan genotip yang digunakan. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan Februari hingga bulan Mei 2019 di green house dan laboratorium Pemuliaan Tanaman, jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Pada penelitian ini, diuji 3 genotip (CRUB2, CRUB3, CRUB4) dan 1 varietas (Varietas Manteb) dengan menggunakan 1 kontrol, 3 perlakuan air panas dengan suhu awal 500C selama 30, 60 dan 90 menit, kemudian larutan KNO3 dengan konsentrasi 1%, 1,5% dan 3%. Perlakuan larutan menunjukkan perendaman menggunakan H2O dengan suhu awal 500CÂ dapat meningkatkan daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum dan index vigor benih. CRUB4 merupakan genotip yang mampu memberikan hasil terbaik serta terdapat interaksi antar perlakuan pada karakter keceptan tumbuh dan index vigor benih