Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Evaluasi Ketahanan Galur-Galur Terung (Solanum melongena L.) terhadap Virus Kuning (Tomato yellow leaf curl Kanchanaburi virus (TYLCV))
Terung (Solanum melongena L.) ialah salah satu tanaman inang bagi Begomovirus dan ditularkan oleh kutu kebul (Bemisia tabaci G.). Tanaman yang terinfeksi pertumbuhan bibit akan mempengaruhi pertumbuhan baik fase vegetatif maupun generatif. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi ketahanan galur-galur terung terhadap penyakit virus kuning (Tomato yellow leaf crul Kanchanaburi virus (TYLCV)). Penelitian dilaksanakan di Greenhouse PT BISI International Tbk Farm Karangploso yang berlokasi di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada bulan pada bulan Januari sampai Mei 2020. Bahan yang digunakan 7 galur terung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan tiga ulangan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat tiga galur termasuk kriteria tahan yaitu EP 01, EP 02 dan EP 07. Galur termasuk kelompok kriteria agak tahan yaitu EP 03 dan EP 04. Galur EP 05 termasuk kriteria agak rentan dan galur EP 06 termasuk kriteria rentan. Tanaman terung yang terinfeksi virus kuning menunjukkan terdapat pengaruh nyata pada semua parameter seperti intensitas penyakit, parameter pertumbuhan dan potensi hasil
Tingkat Kenyamanan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Hutan Kota Dan Taman Wilis Kota Batu
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu lahan terbuka yang diisi oleh vegetasi dan memiliki fungsi ekologi, sosial budaya dan estetika. Pertambahan penduduk yang terjadi di kota Batu akan berpengaruh terhadap ketersediaan RTH. RTH cenderung mengalami konversi atau alih fungsi lahan menjadi kawasan pemukiman dan perkantoran. Berdasarkan pada Pasal 29 Ayat 2 UU No 26 tahun 2007, dinyatakan bahwa wilayah kabupaten atau perkotaan harus membuat rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH sebesar minimal 30% dari luas wilayah, sedangkan menurut data dari Bapeda Kota Surabaya (2011) dalam Subarudi (2014) besar luasan RTH di kota Batu dan Malang seluas 2.971,46 ha atau hanya sebesar 27%. Ruang terbuka hijau secara langsung dapat mempengaruhi iklim mikro pada kawasan sekitar RTH itu berada. Keberadaan ruang terbuka hijau mampu memberikan kenyamanan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi tingkat kenyamanan RTH pada Taman Hutan Kota dan Taman Wilis Kota Batu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2020 di Kota Batu yang difokuskan di Taman Hutan Kota Batu dan Taman Wilis Kota Batu. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu CO2 meter, Thermohygrometer digital, Peta kedua taman dari citra Google Earth, aplikasi Statistical Product and Service Solution (SPSS), alat tulis dan kamera. Bahan yang dijadikan obyek penelitian adalah data suhu udara, konsentrasi CO2 dan vegetasi (jenis vegetasi dan struktur vegetasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Wilis Kota Batu yang memiliki kerapatan tajuk 91,37% dan jumlah vegetasi yang lebih banyak mempunyai tingkat kenyamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Taman Hutan Kota Batu yang memiliki kerapatan tajuk 74,95% dan jumlah vegetasi yang lebih sedikit
Pengaruh Jenis Pupuk Anorganik Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Unsur Hara Pada Dua Varietas Bawang Putih (Allium sativum L.)
Bawang putih adalah tanaman bawang terpenting kedua di dunia setelah bawang Bombay. Bedasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura pada tahun 2018, menunjukkan bahwa produksi bawang putih pada tahun 2017 adalah sebesar 19.510 ton, namun nilai produksi tersebut masih belum dapat memenuhi permintaan yang ada. Penyebab rendahnya produksi bawang putih adalah teknik budidaya yang kurang optimal, serangan penyakit dan kualitas bibit yang rendah. Produksi bawang putih dapat ditingkatkan dengan memenuhi kebutuhan unsur hara secara tepat waktu dan tepat jumlah, sehingga diperlukan informasi tentang serapan aktual setiap nutrisi yang dibutuhkan tanaman bawang putih. Penelitian dilaksanakan di green house PT BISI International Tbk, Pujon. Bahan yang digunakan dua varietas bawang putih. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama varietas yaitu, Lumbu Putih, dan Geol. Faktor kedua adalah jenis pupuk anorganik, Pupuk NPK, Pupuk Majemuk (KNO3, ZA, KP), Pupuk AB Mix. Parameter pertumbuhan meliputi panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar, bobot kering, bobot umbi, dan serapan unsur hara (Nitrogen & Fosfor). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Apabila hasil menunjukan pengaruh nyata maka di uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil. Hasil penelitian menunjukan, bahwa tidak ada interaksi antara varietas bawang putih dengan jenis pupuk anorganik. Serapan hara pada perlakuan varietas lumbu putih dapat memberikan hasil yang lebih unggul dibandingkan varietas geol. Penggunaan jenis pupuk AB mix meningkatkan serapan hara nitrogen dan fosfor serta menghasilkan pertumbuhan dan bobot umbi yang lebih baik
Produksi Dan Efisiensi Konversi Energi Matahari Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L.) Kultivar Mc. Russet Pada Berbagai Macam Mulsa
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu jenis umbi yang banyak digunakan sebagai makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Dalam proses budidaya kentang di dataran tinggi hingga saat ini masih terdapat kendala, yakni intensitas matahari yang rendah. Memodifikasi lingkungan dengan menggunakan mulsa dapat mengoptimalkan intensitas cahaya matahari yang diterima oleh kentang. Cahaya yang mengenai permukaan mulsa dapat diteruskan, diserap dan dipantulkan kembali. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2019 di Dusun Puncak Brakseng, Desa Sumber Brantas, Kota Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan. Variabel pengamatan dalam penelitian ini yaitu luas daun, Laju pertumbuhan tanaman, Berat kering tanaman, Jumlah daun pertanaman, kadar klorofil, berat segar umbi pertanaman, jumlah umbi pertanaman, Bobot umbi panen, produksi per ha-, pengamatan effisiensi konversi energi matahari dan pengamatan cahaya pantul. Data yang diperoleh dianalisis ragam dengan taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata, maka dilakukan uji beda nyata jujur dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang relatif sama pada parameter pengamatan luas daun, jumlah daun dan laju pertumbuhan tanaman, efisiensi konversi energi dan albedo dimana perlakuan mulsa plastik perak menghasilkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Perlakuan mulsa plastik perak meningkatkan bobot segar umbi panen hingga 70 % lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan 11,11 % lebih besar dibandingkan mulsa plastik hitam. Jadi secara keseluruhan mulsa plastik perak mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tertinggi dibandingkan semua perlakuan pada tanaman kentang
Pengaruh Waktu Aplikasi dan Sumber Bahan Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jahe Merah (Zingiber officinale Var. Rubrum Rhizoma)
Jahe merah merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis pada bagian rimpang. Permasalahan yang terjadi adalah kondisi tanah yang mengalami penurunan daya dukung lahan sebagai akibat tanah menjadi padat dan diikuti dengan pH masam. Pemberian bahan organik mampu memperbaiki kondisi tanah tersebut. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang waktu aplikasi dan sumber bahan organik yang tepat pada pertumbuhan dan hasil tanaman jahe merah. Penelititan dilaksanakan di Agro Techno Park kebun Jatikerto Universitas Brawijaya Malang, November 2018 hingga April 2019. Rancangan menggunakan Rancangan Petak Terbagi, sumber bahan organik sebagai petak utama yang meliputi pupuk kandang ayam, kompos azolla, dan kompos UB dan waktu aplikasi sebagai anak petak yang meliputi bersamaan tanam, 15 hari sebelum tanam dan 30 hari sebelum tanam. Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali dan diuji lanjut menggunakan BNJ 5%. Parameter komponen pertumbuhan meliputi bobot segar akar dan jumlah daun. Parameter komponen hasil meliputi jumlah anakan total, bobot segar total tanaman, dan bobot rimpang per hektar. Pemberian berbagai sumber bahan organik pada waktu aplikasi 30 hari sebelum tanam memberikan hasil terbaik
Pengaruh Lama Pengomposan pada Berbagai Suhu Sterilisasi Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Jamur tiram putih ialah komoditas pertanian yang belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen setiap hari. Salah satu faktor yang memengaruhi budidaya jamur tiram putih yaitu media tanam jamur tiram putih. Penelitian dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kompos Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur dan CV Damar Ayu, Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Mei 2019 dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial untuk melihat adanya pengaruh interaksi perlakuan. Perlakuan terdiri dari dua faktor, yaitu lama pengomposan dan suhu sterilisasi. Faktor lama pengomposan (P) terdiri dari: P0: Kontrol, P1: 2 hari , P2: 4 hari dan P3: 6 hari. Faktor suhu sterilisasi (S) terdiri dari S1: 100oC, S2: 110oC, S3: 120oC. Penelitian ini menggunakan 12 perlakuan yang diulang sebanyak 3 ulangan. Data pengamatan dianalisis menggunakan analisis data (uji F) dan dilanjutkan uji BNJ dengan taraf 5%. Hasil penelitian perlakuan lama pengomposan pada berbagai suhu sterilisasi menunjukkan adanya interaksi antar perlakuan lama pengomposan pada berbagai suhu sterilisasi. Perlakuan pengomposan kontrol, 2 dan 6 hari pada suhu sterilisasi 100oC, 110oC, dan 120oC menghasilkan bobot segar jamur tiram putih yang tidak berbeda nyata, sedangkan pada perlakuan pengomposan 4 hari dengan suhu sterilisasi 110oC menghasilkan bobot segar jamur tiram putih lebih tinggi dibandingkan dengan suhu sterilisasi 100oC namun tidak berbeda nyata dengan suhu sterilisasi 120oC
Pengaruh Pemberian Giberelin Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.)
Cabai besar (Capsicum annuum L.) ialah tanaman hortikultura yang cukup penting di Indonesia karena dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap dan pelengkap bumbu untuk membuat masakan khas Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan cabai besar telah meningkat, sementara produksi cabai besar di Jawa timur masih rendah dibandingkan dengan produksi cabai besar nasional. Produktivitas cabai besar di Jawa timur yang belum stabil kurang sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang setiap tahunnya terus meningkat. Salah satu upaya dalam meningkatkan produktifitas cabai besar ialah dengan pemberian giberelin. fungsi giberelin ialah mendorong perkembangan buah, memproduksi buah yang banyak sehingga mampu meningkatkan produktifitas dan kualitas buah yang baik dengan menghasilkan ukuran buah yang lebih besar sehingga dapat meningkatkan bobot buah dan mampu bersaing di pasar global. Tujuan penelitian ini ialah mendapatkan konsentrasi giberelin yang tepat dan sesuai sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil buah pada tanaman cabai besar (Capsicum annuum L). Penelitian ini dilaksanakan di Brumbung, Kepung, Kabupaten Kediri pada bulan Januari hingga Juli 2019 dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 taraf perlakuan yaitu 0 ppm (A0), 50 ppm (A1), 100 ppm (A2), 150 ppm (A3), 200 ppm (A4), 250 ppm (A5). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian giberelin dengan konsentrasi 0 ppm atau tanpa giberelin mampu menghasilkan jumlah buah panen dan jumlah bunga yang lebih banyak dan  bobot buah per buah yang lebih tinggi dibandingkan pemberian giberelin konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 pp
Manfaat Kompos Limbah Kulit Kopi dan Sekam Padi Terhadap Pertumbuhan Pembibitan Tanaman Kopi (Coffea canephora P.)
Tanaman kopi (Coffea canephora P) merupakan tanaman dengan beragam manfaat, menyebabkan tingkat konsumsi kopi semakin meningkat. Pembibitan merupakan tahapan awal yang dapat meningkatkan produksi dari tanaman kopi. Media tanam memegang peranan penting dalam pembibitan kopi. Penggunaan media tanam yang tepat akan memberikan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman. Untuk itu, diperlukan media tanam yang efektif untuk menunjang pertumbuhan bibit kopi yang optimal. Salah satu media tanam yang dapat dimanfaatkan untuk pembibitan kopi adalah limbah kulit kopi hasil sisa produksi tanaman kopi yang telah dikomposkan karena dinilai memiliki kandungan c-organik sebesar 43,3%, kadar nitrogen 2,98%, fosfor 0,18% dan kalium 2,26% yang dapat dimanfaatkan bagi bibit tanaman kopi. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juli 2019 di Desa Kasin Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yang terdiri dari 9 perlakuan komposisi media tanam dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kompos sekam padi dengan perlakuan 25% tanah + 75% (P7) kompos sekam padi mununjukkan pertumbuhan bibit tanaman kopi yang terbaik dan sama dengan perlakuan media tanam 100% (P0). Hal ini dibuktikan pada parameter pengamatan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, berat basah tajuk, berat kering tajuk, panjang akar, jumlah akar, volume akar, berat basah akar, dan berat kering akar yang paling tinggi dibandingkan semua perlakuan
Pengaturan Naungan dan Pemanfaatan Plastik Sebagai Reflektor untuk Meningkatkan Hasil Produksi pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)
Tanaman tomat merupakan komuditas yang memiliki banyak manfaat dan banyak diminati masyarakat. Tanaman tomat dapat tumbuh didataran rendah dengan ketinggian kurang dari 200 mdpl. Produksi tomat di Indonesia pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 4,17% yang disebabkan oleh penyakit busuk buah dan cuaca yang tidak sesuai dengan syarat tumbuh tanaman tomat. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pemberian naungan yang berguna untuk melindungi tanaman dari sinar matahari langsung. Pemberian naungan pada tanaman tomat mampu memodifikasi iklim mikro seperti intensitas cahaya matahari, suhu udara, kelembapan tanah, dan suhu tanah sehingga dengan adanya penggunaan naungan paranet mampu menghasilkan produksi lebih optimal. Penelitian bertujuan untuk menganalisa pengaruh penggunaan reflektor pada tanaman yang ternaung terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juni 2019, di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 12 kombinasi dan 3 ulangan. Kombinasi terdiri dari N0R0, N0R1, N0R2, N1R0, N1R1, N1R2, N2R0, N2R1, N2R2, N3R0, N3R1, N3R2. Pengamatan yang dilakukan yaitu aspek lingkungan, pertumbuhan, dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi N3R2 pada tanaman tomat memberikan pertumbuhan yang lebih baik, sedangkan kombinasi N1R1 memberikan hasil yang lebih baik pada tanaman tomat, seperti jumlah buah dan bobot buah
Pengaruh Pemulsaan dan Dosis Herbisida terhadap Pertumbuhan dan Produksi pada Tanaman Jagung Ungu (Zea Mays var. Ceratina Kulesh)
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu jenis tanaman serealia yang strategis dan bernilai ekonomi karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein kedua setelah beras. Produktivitas tanaman jagung sempat menurun pada tahun 2012 dan 2013, kemudian kembali meningkat pada tahun berikutnya. Jagung ungu (Zea mays var. Ceratina Kulesh) merupakan salah satu jenis varietas jagung yang masih belum popular di Indonesia. Jagung ungu mengandung kandungan antosianin yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia, sebagai antioksida dan penangkal radikal bebas. Upaya peningkatan produksi jagung diarahkan untuk mencapai swasembada jagung secara berkelanjutan, namun demikian masih terdapat sejumlah kendala dan masalah diantaranya belum teradopsinya pengendalian gulma yang baik di kalangan para petani. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian mulsa jerami           padi dan herbisida terhadap pengendalian gulma pada tanaman jagung ungu dan untuk menentukan ketebalan mulsa jerami padi dan dosis herbisida yang paling optimal pada tanaman jagung ungu. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018 hingga Maret 2019 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jatimulyo, Malang, Jawa Timur. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Pengamatan dilakukan secara destruktif yang dibagi menjadi dua variabel, yaitu variabel pengamatan pertumbuhan yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan bobot kering total tanaman, serta variabel pengamatan hasil panen yang hasil panen jagung ungu. Hasil penelitian menunjukkan pemberian mulsa jerami pada dan herbisida dapat mengendalikan gulma secara efektif sehingga meningkatkan produktivitas tanaman jagung ungu