Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jarak Tanam dan Frekuensi Pemupukan SP36 Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)
Cahaya matahari dibutuhkan tanaman dalam proses fotosintesis. Jarak tanam yang tidak sesuai dapat mengurangi suplai cahaya matahari pada tanaman. Kekurangan unsur hara dapat menghambat pertumbuhan suatu tanaman. Frekuensi pemupukan SP36 yang tidak tepat menyebabkan unsur hara P tidak tersedia pada saat tanaman membutuhkan unsur hara. Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dengan perlakuan jarak tanam dan frekuensi pemupukan SP36. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2020 di lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jatimulyo, Lowokwaru-Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara jarak tanam dengan frekuensi pemupukan SP36 pada parameter pertumbuhan tanaman. Perlakuan jarak tanam memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, luas daun, berat kering tanaman, dan berat segar tongkol. Terjadi interaksi antara jarak tanam dengan frekuensi pemupukan SP36 pada parameter hasil yaitu kadar gula. Pengaruh interaksi jarak tanam 80 x 30 cm dengan frekuensi pemupukan SP36 satu kali memberikan hasil kadar gula tertingg
Kajian Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produktivitas Bawang Putih (Allium sativum L.) di Kabupaten Malang
Perubahan iklim merupakan salah satu permasalahan terpenting saat ini yang dapat terjadi karena disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Fenomena perubahan iklim yang tidak menentu dapat berdampak terhadap sektor pertanian salah satunya sektor Bawang Putih. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas Bawang Putih adalah perubahan iklim yang berpengaruh terhadap musim tanam Bawang Putih karena dapat berdampak pada pergeseran musim. Tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim terhadap perubahan musim tanam Bawang Putih di Kabupaten Malang, dan juga untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim terhadap produktivitas Bawang Putih di Kabupaten Malang.  Penelitian telah dilaksanakan di sentra produksi Bawang Putih di Kabupaten Malang, Yaitu di Kecamatan Pujon, Ngantang, dan Poncokusumo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2019. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah data hasil wawancara petani Bawang Putih, data unsur-unsur iklim (curah hujan, hari hujan, suhu dan lama penyinaran) serta data produksi, data luas lahan, dan data produktivitas Bawang Putih. Penelitian dilaksanakan menggunakan tiga metode, yaitu perrtama metode penentuan lokasi. pemilihan lokasi berdasarkan sentra produksi Bawang Putih yaitu Kecamatan Pujon 67 ha, Ngantang 112 ha, dan Poncokusomo 6 ha. Analisis iklim dilakukan dengan membandingkan perubahan rata – rata iklim selama 20 tahun antara periode pertama dan kedua. Analisis untuk mengetahui pengaruh antara variabel iklim dengan produksi Bawang Putih menggunakan uji regresi linear berganda dan korelasi kemudian dilanjutkan dengan analisis deskripsi. Dari hasil uji korelasi dan uji regresi linear berganda menunjukkan terjadi perubahan iklim di kabupaten malang dan tidak mempengaruhi produktivitas Bawang Putih secara signifika
Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Dosis Pupuk Kompos Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Peningkatan permintaan selada harus diimbangi dengan sistem budidaya yang tepat. Aplikasi bahan kimia yang tidak terbarukan dan pengolahan tanah secara intensif dilakukan secara terus-menerus dapat mengakibatkan degradasi lahan. Penambahan bahan organik dan pengolahan tanah yang sesuai dapat mengatasi permasalahan degradasi lahan dalam kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi yang terjadi antara pengaruh pengolahan tanah dan pemberian pupuk kompos pada pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2020 – Mei 2020. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil Penelitian menujukkan terjadi interaksi antara sistem olah tanah dengan pemberian pupuk kompos yang berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, laju pertumbuhan relatif, berat segar tanaman, berat konsumsi, dan indeks panen tanaman selada. Sistem olah tanah dan pemberian pupuk kompos memiliki hubungan subtitusi atau saling menggantikan satu sama lain. Pengolahan lahan optimum dengan dosis pupuk kompos 20 ton ha-1 menghasilkan rerata terbaik diantara setiap kombinasi perlakuan
Pengaruh Pengendalian Gulma pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max L.).
Penelitian ini ialah sebuah penelitian lapang yang bertujuan untuk mempelajari Pengaruh Pengendalian Gulma Pada Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode pengendalian dan dosis herbisida yang paling tepat untuk menekan pertumbuhan gulma serta memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang optimal. Percobaan ini dilakukan sejak bulan Januari 2020 hingga April 2020, di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 10 perlakuan diantaranya: (P0) Tanpa pengendalian gulma (kontrol) (P1) Penyiangan pada 15, 30 dan 45 hst, (P2) Herbisida pendimetalin 1,5 l ha-1 (P3) Herbisida pendimetalin 1,5 l ha-1 +Â penyiangan 30 dan 45 hst, (P4) Herbisida pendimetalin 2 l ha-1, (P5) Herbisida pendimetalin 2 l ha-1 + penyiangan 30 dan 45 hst, (P6) Herbisida pendimetalin 2,5 l ha-1,(P7) Herbisida pendimetalin 2,5 l ha-1 + penyiangan 30 dan 45 hst, (P8) Herbisida pendimethalin 3 l ha-1 dan (P9) Herbisida pendimetalin 3 l ha-1 + penyiangan 45 hst. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan P7 (herbisida pendimetalin = 2,5 l ha-1 + pengendalian gulma pada hari ke 30 dan 45) memberikan hasil data terbaik. Perlakuan P7, mampu menekan pertumbuhan gulma secara efektif, sehingga pertumbuhan dan hasil kedelai menjadi baik dan optimal. Perlakuan P7 tidak selalu memberikan hasil terbaik pada tiap parameter pertumbuhan dan hasil kedelai, namun secara keseluruhan perlakuan ini memiliki hasil yang paling baik. Perlakuan P7 memberikan hasil yang terbaik pada parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Perlakuan ini mampu menekan pertumbuhan gulma yang berperan sebagi kompetitor bagi tanaman kedali. Hal ini menjadikan tanaman tumbuh dapat tumbuh dengan baik akibat terpenuhinya kebutuhan hara dan kondisi lingkungan
Korelasi Antara Karakter Fisik Biji Dengan Hasil Dan Kadar Minyak Bunga Matahari(Helianthus annuus L)
Bunga matahari (Helianthus annuus L.) adalah salah satu komoditas penting dibidang pertanian. Bagian bunga matahari yang banyak dimanfaatkan untuk industri adalah biji yang mengandung banyak nutrisi dan kadar minyak. Biji bunga matahari memiliki 2 potensi biji yaitu oil seed dan non oil seed. Potensi biji bunga matahari dapat diketahui melalui karakter fisik biji bunga matahari yang berkorelasi dengan kadar minyak dan hasil biji bunga matahari. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara karakteristik fisik biji terhadap hasil dan kadar minyak biji bunga matahari dan juga berguna untuk memermudah seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk memelajari karakter biji sebagai deteksi hasil dan kadar minyak bunga matahari dan memelajari korelasi karakter biji dengan hasil dan kadar minyak bunga matahari. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Universitas Brawijaya yang terletak di Desa Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang pada bulan Januari 2018 hingga April 2019. Penelitian ini menggunakan metode pengacakan rancangan acak kelompok (RAK) 20 genotipe bunga matahari dengan 2 ulangan dan juga menggunakan metode pengamatan single plant. Karakteristik yang diamati adalah karakter kualitatif dan kuantitatif biji bunga matahari dalam Panduan Pelaksana Uji bunga matahari.. Data untuk karakter kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisa korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga matahari memiliki 12 karakter biji yang digunakan untuk deteksi awal hasil dan kadar minyak dan juga terdaat karakter yang berkorelasi terhadap hasil dan kadar minyak
Uji Daya Hasil Pendahuluan 8 Galur Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor L.)
Bayam merupakan salah satu jenis tanaman herba yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya pada jenis bayam cabut (Amaranthus tricolor L.). Bayam kaya akan kandungan vitamin diantaranya ialah vitamin A, B2, B6, B12, C, K, mangan, magnesium, zat besi, kalsium, kalium, dan fosfor. Selain kaya akan vitamin, rasanya yang manis, bertekstur lembut dan dapat memberikan sensasi dingin pada perut membuatnya disukai oleh sebagian besar masyarakat. Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman bayam dilakukan perakitan varietas unggul. Varietas unggul merupakan suatu hasil pemuliaan tanaman dimana memiliki satu atau lebih keunggulan salah satunya ialah berdaya hasil yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi hasil dan juga mendapatkan galur-galur harapan terbaik pada 6 galur harapan bayam cabut (Amaranthus tricolor L.). Penelitian ini telah dilaksanakan pada lahan penelitian di Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Karang Ploso, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan ialah 6 genotip bayam, yakni Gh1, Gh2, Gh3, Gm1, Gm2, Gm3 dan varietas pembanding Belang dan Maestro. Karakter yang diamati yaitu kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan galur Gh3 dan Gm2 memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dari galur lainnya. Kedua galur tersebut memiliki potensi yang sama dengan dua varietas pembanding, yaitu Maestro dan Belang. Selain itu, galur Gh3 dan Gm2 memiliki rasa yang tidak pahit dan beraroma daun bayam. Namun memiliki perbedaan tekstur, pada Gh3 memiliki tekstur yang lembut sedangkan pada Gm2 memiliki tekstur yang tidak lembut. Potensi hasil Galur Gh3 dan Gm2 dapat dikembangkan menjadi varietas unggul
Pengaruh Konsentrasi Nutrisi Hidroponik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Hidroponik merupakan salah satu teknologi alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan lahan pertanian yaitu bercocok tanaman pada media non-tanah (soil-less agriculture). Hidroponik memiliki banyak keunggulan diantaranya pemakaian pupuk lebih efisien, produksi tanaman lebih tinggi, kualitas tanaman lebih baik, beberapa tanaman dapat di budidayakan di luar musim dan dapat dilakukan di berbagai tempat pada lahan atau ruang yang terbatas. Budidaya secara hidroponik perlu diberikan larutan nutrisi yang cukup, air, dan oksigen pada perakaran tanaman agar proses pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik.  Pemberian konsentrasi nutrisi yang tepat pada tanaman dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi nutrisi yang paling efisien untuk pertumbuhan tanaman sawi yang sering di konsumsi oleh masyarakat, yatu varietas shinta dan varietas tosakan. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Desa Klanderan, Kecamatan Plosoklaten, Kediri pada Januari – Maret 2020. Rancangan yang digunakan berupa Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi nutrisi hidroponik 1050 ppm, 1150 ppm, dan 1250 ppm, sedangkan faktor kedua yaitu varietas sawi sinta dan tosakan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan konsentrasi nutrisi 1150 ppm dan varietas shinta merupakan konsentrasi nutrisi yang paling efisien dengan memberikan respon hasil yang optimal pada pertumbuhan tanaman sawi
Karakterisasi dan Penilaian Variabilitas Morfologi Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Asal Pulau Berbeda di Indonesia
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan salah satu tumbuhan liar yang termasuk dalam keluarga Fabaceae dengan nomor kromosom 2n=16, untuk merakit varietas bunga telang unggul langkah utama yang diperlukan adalah mengetahui keragaman karakter baik karakter pada morfologi maupun agronomi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2020 di Agrotechno Park Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kabupaten Malang menggunakan 41 genotipe bunga telang yang dikoleksi dari Pulau Jawa, Madura dan Ternate. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman karakter dan mengetahui jarak genetik aksesi bunga telang. Penelitian dilakukan berdasarkan observasi terhadap genotipe bunga telang menggunakan deskriptor. Keragaman karakter dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA), pengelompokan dan jarak genetik dihitung dengan analisis kluster berdasarkan metode aglomerasi unweighed pair-group method average (UPGMA) berdasarkan similaritas menggunakan ukuran koefisien korelasi gower. Keragaman karakter 41 genotipe bunga telang berdasarkan analisis komponen utama terbagi menjadi 2 komponen utama. Kontribusi masing-masing komponen utama satu dan dua adalah 31,651% dan 21,253% dan didapatkan keragaman total sebanyak 52,94%. Hasil analisis jarak genetik pada 41 genotipe bunga telang menunjukkan bahwa bunga telang terbagi menjadi 4 kelompok, genotipe yang memiliki jarak genetik terjauh berada pada kelompok ke 2 yakni genotipe 69281-03 dengan nilai jarak genetik sebesar 0,45 atau koefisien kemiripan 55%, sedangkan genotipe yang memiliki jarak genetik terdekat berada pada kelompok 4 yang terdiri dari genotipe 69281-02, 69281-04 dan 69281-05 dengan nilai jarak genetik sebesar 0,0375 atau dengan nilai koefisien kemiripan sebesar 96,25%
Fenologi dan Penampilan Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) di Dataran Rendah
Bit merah adalah tanaman umbi-umbian yang memiliki banyak manfaat dalam bidang pangan, kesehatan dan kosmetik. Tanaman bit merah adalah tanaman subtropis, sehingga umumnya budidaya bit merah di Indonesia dilakukan didataran tinggi. Keterbatasan luasan dataran tinggi sebagai tempat budidaya bit merah menjadikan permasalahan dalam upaya memenuhi permintaan tinggi pada bit merah. Pengembangan budidaya bit merah didataran rendah menjadi solusi dalam permasalahan ini. Mengetahui informasi terkait fenologi dan penampilan tanaman bit merah didataran rendah berguna untuk menunjang produktivitas bit merah didataran rendah. Informasi fenologi tanaman adalah dasar yang digunakan pemulia tanaman dalam melakukan perbaikan varietas. Informasi penampilan tanaman berguna untuk membantu memilih varietas dengan stabilitas baik yang digunakan dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenologi dan penampilan tanaman bit merah didataran rendah. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Agro Techno Park Universitas Brawijaya, pada bulan Januari-Maret 2020. Penelitian menggunakan varietas boro dan varietas vikima yang ditanam di rumah kaca sebanyak 225 tanaman setiap varietas. Pengamatan dilakukan pada keseluruhan individu tanaman di setiap. Pengamatan tediri dari pengamatan agroklimat, karakter kuantitatif dan karakter kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan fenologi pada setiap varietas bit merah berdasarkan pengamatan panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter umbi dan berat umbi. Pengamatan karakter kuantitatif dianalisis menggunakan uji-t yang menunjukkan perbedaan nyata pada karakter panjang tanaman, panjang umbi, diameter umbi dan berat umbi. Hasil pengamatan karakter kualitatif hanya menunjukkan adanya perbedaaan pada karakter warna daun
Pengaturan Jarak dan Waktu Tanam Buncis (Phaseolus vulgaris L.) pada Sistem Row-Relay Intercropping dengan Bayam Merah (Amaranthus amoena Voss.)
Produksi tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya ialah ketersediaan lahan. Namun, lahan pertanian banyak dialihfungsikan untuk kepentingan lain seperti perumahan, pertokoan dan industri. Intensifikasi lahan dengan cara tumpangsari merupakan alternative untuk mengatasi keterbatasan dan efisiensi lahan pertanian. Buncis ialah salah satu tanaman sayur yang biasa ditanam secara tumpangsari oleh petani sebagai tanaman utama. Hal penting yang harus diperhatikan dalam penerapan tumpangsari adalah pemilihan tanaman sela. Bayam merah merupakan jenis sayuran yang dapat digunakan sebagai tanaman sela karena karakter tanaman berbeda. Perlu diketahui juga bahwa sistem tumpangsari sangat sangat rentan terhadap kompetisi. Pengaturan kerapatan dengan menentukan jarak tanam dan perbedaan waktu tanam dimaksudkan untuk menghindari kompetisi. Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh waktu dan jarak tanam yang sesuai pada tumpangsari tanaman buncis dan bayam merah. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah benih buncis dan bayam merah, pupuk kandang dan anorganik. Kegiatan dilaksanakan pada Februari hingga April 2020 dilahan percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman bayam merah 15 hari setelah buncis pada jarak tanam berbeda mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan indeks luas daun buncis. Pada hasil tanaman buncis mampu meningkatkan jumlah polong yaitu 7.44 polong per tanaman, bobot polong per tanaman yaitu 61.61 g per tanaman, bobot polong per petak 369.67 g.m2 dan bobot polong per hektar yaitu 6.16 ton.ha-1. Pada hasil tanaman bayam merah, perlakuan penanaman bayam merah 15 hari sebelum buncis pada jarak tanam 60 x 40 cm yaitu 271.33 g. Semua model tumpangsari memiliki nilai NKL lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur dan yang memiliki nilai NKL tertinggi ialah penanaman bayam merah 15 hari setelah buncis dengan jarak tanam 60 x 40 cm yaitu 1.91