Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Analisis Keragaman Morfologi dan Filogenetik Ciplukan (Physalis sp.)
Ciplukan (Physalis sp.) tumbuh dan menyebar di wilayah Indonesia dengan nama lokal yang bervariasi dan dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni 2020 di Seed and Nursery Industry Agro Techno Park Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bahan yang digunakan adalah 57 genotipe ciplukan koleksi Universitas Brawijaya yang terdiri dari spesies P. angulata, P. peruviana dan P. pubescens, media semai, plastik ukuran 25x20x10 cm, talang, pupuk kandang, pupuk anorganik, pestisida dan tali rafia. Penelitian dilakukan dengan metode survei terhadap karakter pada setiap genotipe. Penelitian dilakukan observasi pada 37 karakter kualitatif dan pengukuran pada 17 karakter kuantitatif. Pengamatan dilakukan berdasarkan deskriptor Manual Gráfico para la Descripción Varietal De Tomate de Cascara (Physalis ixocarpa Brot. ex Horm), keragaman dengan pendekatan koefisien korelasi Pearson, sedangkan analisis filogenetik menggunakan analisis klaster dan index similarity Gower. Keragaman total yang diperoleh adalah sebesar 82,165% berdasarkan 13 komponen utama dan 22 karakter yang berpengaruh terhadap keragaman, hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa Physalis sp. terbagi menjadi 3 kelompok yang menunjukkan spesies berbeda, yaitu P. peruviana, P. angulata dan P. pubescens. Jarak genetik seluruh genotip menyebar antara 0,42 hingga 0,05 atau indeks similaritas sebesar 58% hingga 95%.. Jarak genetik terdekat ditunjukkan oleh genotip PAN-77211-02 dan PAN-78111-03, yaitu 0,05 atau 95%. Sementara untuk genotip yang memiliki jarak genetik terjauh adalah pada genotip PPB-68154-04-U, yaitu 0,28 atau 72%
Pengaruh Aplikasi Pupuk Kalium pada Tanaman Kencur yang ditanam di Berbagai Tingkat Naungan
Kencur (Kaempferia galangal L) merupakan tanaman obat yang cocok dibudidayakan diberbagai daerah tropis di Indonesia. Kencur memiliki kegunaan yang sudah dikenal masyarakat sebagai salah satu bumbu masak, ataupun sebagai pengobatan. Pemberian naungan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman dan untuk penggunaan pupuk kalium berfungsi untuk memacu translokasi asimilat dari sumber (daun) ke bagian organ penyimpanan (sink), selain terlibat dalam proses membuka dan menutupnya stomata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara pengaplikasian dosis pupuk kalium dengan berbagai tingkat naungan tanaman kencur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2020 hingga Mei 2021 yang bertempat di ATP Jatikerto, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Rancangan uang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) dengan tiga ulangan pada setiap perlakuan sesuai denah penelitian. Petak utama (main plot) merupakan dua tingkat naungan yaitu naungan 25% (N25) dan naungan 50% (N50). Anak petak (sub plot) berupa empat dosis pupuk kalium yaitu 0 kg ha-1 K2O, 120 kg ha-1 K2O, 180 kg ha-1 K2O dan 240 kg ha-1 K2O. berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa kencur dapat beradaptasi dengan adanya naungan 25% dan naungan 50%, secara umum pada fase pertumbuhan tanaman, naungan memberikan respon terhadap jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sedangkan selama pengamatan pertumbuhan dosis pupuk tidak memberikan respon terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu berdasarkan hasil panen tanaman kencur produktivitas tanaman kencur pada naungan 25% dan naungan 50% memiliki nilai tertinggi pada pemberian dosis pupuk 120 kg ha-1
Perbedaan Waktu Forcing dan Konsentrasi Ethephon Terhadap Pembungaan Tanaman Nanas (Ananas comosus L) cv. Queen
Nanas (Ananas comosus L.) merupakan salah satu buah tropika yang berpotensi menjadi komoditas ekspor. Produksi nanas di Jawa Timur dari tahun 2009 sampai 2014 meningkat dari 44.275 ton hingga 186.949 ton namun menurun dari tahun 2015 sampai 2017 sebesar 171.303 ton hingga 126.963 ton. Salah satu masalah yang dihadapi dalam budidaya nanas adalah membutuhkan waktu yang lama dalam pembungaan dan keseragaman pembungaan. Salah satu upaya perangsangan bunga terhadap tanaman nanas agar dapat berbunga serempak yaitu dengan cara Forcing. Forcing adalah teknik perangsangan pembungaan untuk mempercepat dan menyeragamkan pembungaan. Forcing secara efektif dapat dilakukan pada malam hari. Hipotesis dari penelitian ini adalah pengaplikasian Forcing di waktu malam hari dengan konsentrasi ethephon sebanyak 2000 ppm/liter. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Mei 2020, Di Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Â Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Tersarang (Nested Design) dengan menggunakan 2 faktor dan diulang sebanyak 4 kali. Faktor pertama yaitu waktu Forcing dengan 2 taraf sebagai berikut Pagi Hari, Malam Hari. Pada faktor kedua yaitu konsentrasi etephon dengan empat taraf sebagai berikut 500 ppm , 1000 ppm , 1500 ppm, 2000 ppm. Pada pengamatan presentase tanaman berbunga perlakuan waktu Forcing malam hari dengan konsentrasi ethephon 2000 ppm menunjukkan hasil yang lebih baik daripada perlakuan lainnya yaitu 50,00 %. presentase pembungaan menunjukkan hasil 100 % ,variabel pengamatan jumlah daun dan berat kering tidak menunjukkan pengaruh nyata
Potensi Hasil dan Ketahanan terhadap Penyakit Hawar Daun (Northern Leaf Blight) 113 Galur Jagung (Zea mays L.) Hibrida
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas sumber karbohidrat yang memiliki peran sangat penting baik tingkat nasional maupun dunia. Serangan penyakit Hawar Daun Jagung (Northern Leaf Blight) (Exserohilum turcicum (Pass.) Leonard et Sugss) adalah permasalahan penting pada produksi jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi hasil, nilai keparahan penyakit dan kriteria ketahanan hawar daun Northern Leaf Blight (NLB) pada 113 galur jagung hibrida, serta mendapatkan hibrida berpotensi hasil tinggi dan memiliki ketahan setara pembanding terbaik. Penelitian dilaksanakan pada Maret 2019-Oktober 2020 di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dengan ketinggian 1.150 m dpl. Penelitian ini menggunakan rancangan augmented design, terdiri dari 145 entri/perlakuan (113 galur yang diuji, 13 varietas pembanding, dan 19 entri pelengkap) tanpa ulangan, dan 4 varietas sebagai kontrol (diagonal check) diulang sebanyak 5 kali. Varietas pembanding meliputi Bisi-18, NK-7328, NK-88, P11, P21-Dahsyat, P25, P27-Gajah, P29-Harimau, P32-Singa, P33-Beruang, P35-Banteng, P36-Bekisar dan P38-Rusa. Analisis ragam dengan uji F dan uji lanjut dengan uji LSI (Least Significant Increase) pada taraf α : 5% dari variabel hasil panen dan keparahan penyakit. Terdapat tujuh hibrida yang memiliki potensi hasil nyata lebih tinggi dari seluruh pembanding menurut uji LSI antara lain: Pioneer-055, 057, 058, 064, 070, 089, dan 098. empat puluh satu hibrida tergolong tahan terhadap penyakit hawar daun dengan keparahan penyakit setara pembanding terbaik. Pioneer-057, 058, 064, dan 070 memiliki hasil panen unggul dibanding seluruh pembanding serta memiliki nilai keparahan penyakit setara dengan varietas pembanding terbaik dengan kriteria tahan sehingga direkomendasikan sebagai hibrida harapan dan dilanjutkan tahap pengujian selanjutnya
Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Kotoran Sapi Diperkaya Unsur N, Ca dan Fe Terhadap Hasil dan Kandungan Klorofil Tanaman Selada (Lactuca Sativa L.)
Tanaman selada merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat di Indonesia. Selada hijau memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Usaha tani tanaman selada banyak mengalami permasalahan yaitu lahan pertanian yang semakin sempit dan minimnya ketersediaan unsur organik didalam tanah. Sistem rakit apung yaitu budidaya sayuran yang diapungkan diatas larutan nutrisi. Pada sistem hidroponik, pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung pada pemberian nutrisi. AB Mix merupakan larutan nutrisi hidroponik yang didalamnya terkandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan oleh tanaman. Kandungan nitrogen (N) kotoran sapi yaitu 1,33 ppm, Â fosfat (P) : 0,28 ppm, kalium (K): 0,21 ppm, kalsium (Ca): 0,22 ppm dan besi (Fe): 0,05 ppm. Namun, unsur hara yang terkandung didalam kotoran sapi belum dapat menggantikan AB Mix karena kebutuhan akan unsur hara tanaman selada yaitu Nitrogen (N) : 160 ppm, Kalsium (Ca) : 175 ppm dan besi (Fe) : 5 ppm. Sehingga perlu penambahan untuk memaksimalkan proses pertumbuhan dan hasil serta kandungan klorofil selada hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Pupuk Organik Cair kotoran sapi diperkaya unsur N, Ca dan Fe pada konsentrasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan RAK dengan 10 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Penelitian dilaksanakan di Greenhouse Lahan Jatimulyo, Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang pada bulan April sampai dengan mei 2020. Hasil penelitian bahwa penggunaan perlakuan AB Mix menunjukkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan pupuk organik cair yang diperkaya unsur hara N, Ca dan Fe
Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Kelinci dan Dosis Pupuk Kompos Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan tanaman legum yang cukup penting di Indonesia dan posisinya menduduki tempat ketiga setalah kedelai dan kacang tanah. Pemilihan dari kacang hijau ini berdasarkan keunggulannya dari beberapa tanaman kacang yang lain yaitu mampu hidup dan berbuah di daerah kering, selain itu pada musim kemarau kacang hijau mampu hidup dengan baik dan kacang hijau juga tahan terhadap hama dan penyakit. Upaya peningkatan produktivitas kacang hijau dapat dilakukan dengan efisiensi pemupukan yaitu dengan cara pemupukan pupuk organik cair (POC) dan pupuk kompos. Pemilihan dari kedua pupuk ini karena pupuk organik dan kompos sebagai media tanam yang dicampurkan dengan tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah, membantu memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kualitas hasil panen. Pupuk organik cair yang digunakan adalah pupuk organik cair urin kelinci. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Jatimulyo. Bahan yang digunakan adalah benih kacang hijau, tanah, pupuk urin kelinci, pupuk kompos. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor yang masin-masing faktor terdiri dari 3 perlakuan. Faktor pertama adalah Konsentrasi POC urin kelinci 0 ml L-1, 15 ml L-1, 30 ml L-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk kompos 0 ton ha-1, 5 ton ha-1, 10 ton ha-1. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Apabila hasil menunjukkan pengaruh yang nyata maka di uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan ada nya interaksi pada variabel pengamatan luas daun, laju pertumbuhan relatif pada umur 35-42, panjang akar pada umur 28, 35, 42, dan bobot polong
Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Permintaan bawang merah (Allium ascalonicum L.) yang meningkat harus diimbangi dengan peningkatan produksi. Salah satu faktor untuk meningkatkan produksi bawang merah ialah melalui pengaplikasian PGPR dan pupuk kandang sapi. PGPR juga berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Tiga peran PGPR bagi tanaman yaitu biofertilizer, biostimulan dan bioprotectant. Dalam menjalankan perannya PGPR perlu dibantu dengan adanya penambahan bahan organik. Pengaplikasian bahan organik ke tanah dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, salah satunya yaitu pupuk kandang sapi. Bahan organik yang ada di dalam tanah dijadikan sebagai nutrisi bagi bakteri, sehingga dapat mengoptimalkan kinerja bakteri bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi dan pengaruh pemberian PGPR dan dosis pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Agustus 2019 di Kebun Percobaan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan faktor pertama ialah pemberian PGPR (tanpa PGPR, PGPR 30 ml l-1 dan PGPR 60 ml l-1) dan faktor kedua ialah dosis pupuk kandang sapi (tanpa pupuk kandang sapi, pupuk kandang sapi 30 ton ha-1 dan pupuk kandang sapi 60 ton ha-1). Hasil Penelitian menunjukkan terjadi interaksi pada parameter panjang tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar umbi, diameter umbi dan produksi
Potensi Hasil Dan Deskripsi Enam Genotip Bayam (Amaranthus tricolor L.) Hasil Seleksi Galur Dan Seleksi Massa
Sayuran merupakan salah satu bahan makanan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia. Salah satu komoditas sayuran yang sering dikonsumsi oleh masyarakat yaitu bayam. Terdapat penurunan hasil produksi dari bayam di tingkat nasional. Pemuliaan tanaman bayam diperlukan untuk mendapatkan varietas bayam baru yang memiliki hasil produksi tinggi. Seleksi yang telah dilakukan dalam proses pemuliaan tanaman telah menghasilkan beberapa genotip yang sesuai dengan tujuan pemuliaan. Sebelum suatu genotip terpilih dari seleksi galur dan seleksi massa didaftarkan menjadi varietas, harus diketahui potensi hasil dan karakter penciri dari setiap genotip. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dari genotip pada kedua metode seleksi mana yang memiliki potensi hasil lebih tinggi, dan untuk mengetahui karakter penciri dari masing-masing genotip yang dapat diketahui melalui deskripsi. Penelitian dilakukan di Desa Sukopuro Kecamatan Jabung Kabupaten Malang dari bulan Januari 2021-April 2021. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok yang memiliki 6 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa hasil seleksi galur memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dibandingkan hasil seleksi massa. Selain itu setiap genotip memiliki karakter penciri yang menjadi pembeda antara satu dengan lainnya yang dapat dilihat dari sifat kualitatifnya
Potensi Produksi 8 Aksesi Tanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) pada Lahan Percobaan Jatikerto
Tanaman kecipir merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis, dikenal masyarakat karena buah mudanya sering dimanfaatkan sebagai sayur. Keistimewaan kecipir dibanding sayuran lainnya adalah seluruh bagian tanaman dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Potensi hasil kecipir diperlukan untuk mendukung pengembangan kecipir untuk masa depan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mempelajari potensi hasil 8 aksesi kecipir yang diambil dari beberapa daerah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 hingga bulan Desember 2018. Lokasi Penelitian bertempat di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Baris Tunggal, yakni seluruh aksesi kecipir ditanam bersamaan dalam satu lokasi tanpa ulangan dan ditanam dalam baris tunggal. Analisis Data menggunakan uji F pada taraf 5% menggunakan tabel analisis ragam (ANOVA) untuk mengetahui ada tidaknya interaksi maupun pengaruh nyata dari perlakuan. Jika terdapat interaksi atau pengaruh nyata maka diuji lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 aksesi kecipir yang ditanam memiliki potensi hasil yang beragam, dimana potensi hasil tertinggi ditunjukkan oleh aksesi Malang (KC1), sedangkan potensi hasil terendah ditunjukkan oleh aksesi Sidoarjo (KC7). Sementara itu, aksesi Malang (KC1) merupakan aksesi terbaik yang dapat dikembangkan pada lahan percobaan Jatikerto
Keseragaman Delapan Galur Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Generasi S5
Jagung manis banyak dikembangkan di Indonesia. Bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan ketersediaan jagung manis. Peningkatan produksi jagung manis didukung dengan ketersediaan varietas unggul berupa varietas hibrida. Varietas hibrida didapatkan dari persilangan tetua berupa galur inbrida. Galur inbrida yang dijadikan sebagai tetua adalah galur yang memiliki tingkat homozigositas yang tinggi yang dapat diperoleh melalui proses selfing. Suatu cara yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk menilai keseragaman tanaman adalah dengan mengetahui keragaman. Galur jagung manis yang digunakan merupakan generasi S5 sehingga diharapkan memiliki tingkat keseragaman dalam galur yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keseragaman pada masing-masing galur jagung manis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga November 2018 di Desa Areng-areng, Kelurahan Dadaprejo Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Bahan yang digunakan yaitu benih delapan galur jagung manis. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan dan diuji lanjut menggunakan uji BNJ pada taraf 5% . Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai KKG dan KKF yang diperoleh tergolong rendah sampai sedang. Nilai KK digunakan untuk mengetahui keseragaman dalam galur. Nilai KK pada delapan galur jagung manis memiliki nilai yang rendah sampai sedang. Sehingga masing-masing galur jagung manis generasi S5 memiliki tingkat keseragaman dalam galur yang tingg