Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Karakterisasi Sifat Kuantitatif Pada Dua Populasi Tanaman Melon (Cucumis melo L.) Generasi F2
Melon (Cucumis melo L.) merupakan komoditas holtikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada umumnya, konsumen menyukai buah melon yang manis dan berbobot. Melon yang manis dan berbobot dapat direncanakan dari kegiatan karakterisasi. Karakterisasi merupakan kegiatan mendeskripsikan sifat tanaman dan menghasilkan informasi penting untuk dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan membandingkan karakter kuantitatif dari dua populasi tanaman melon. Metode penelitian ini adalah dengan menanam 2 populasi tanaman melon generasi F2 hasil persilangan Melindo (ME) x Madesta (MD) dan Melindo (ME) x Glamour (GL). Setiap populasi memiliki 25 tanaman dengan 2 ulangan. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Jatimulyo Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Pengamatan dilakukan pada 11 karakter kuantitatif dan mengacu pada The International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI) Descriptors for Melon (Cucumis melo L.) tahun 2003. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik parametrik menggunakan Independent Sample T-test taraf 5%, One-Way ANOVA Test taraf 5% dan Kolmogorov-Smirnov (K-S Test) taraf 5%. Hasil identifikasi didapatkan dua populasi tanaman melon menunjukkan perbedaan penampilan fenotip pada setiap populasi. Dari hasil analisis didapatkan (1) nilai kemiripan rerata pada karakter kuantitatif antarpopulasi terdapat pada karakter diameter batang, umur berbunga cabang hermaprodit pada cabang ke-8, diameter buah, tebal daging buah, dan tebal kulit buah, (2) nilai kemiripan rerata pada karakter kuantitatif antarpopulasi tidak terdapat pada karakter panjang daun, lebar daun, bobot buah, dan kadar, dan (3) nilai kemiripan rerata pada karakter kuantitatif antarpopulasi tidak dapat diketahui terdapat pada karakter umur panen dan panjang buah dikarenakan karakter umur panen tidak terdistribusi normal dan karakter panjang buah tidak homogen
Pengaruh Waktu Tanam dan Model Tanam dalam Pola Tanam Tumpangsari Tomat dan Kacang Tanah (Arachis hypogeae L.) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)
Dibutuhkan metode yang dapat memaksimalkan luas lahan dengan efektif, yaitu pola tanam tumpangsari. Perlakuan waktu tanam diharapkan dapat meminimalkan terjadinya kompetisi. Model tanam bertujuan untuk memanfaatkan faktor lingkungan dengan maksimal. Tujuan penelitian adalah menemukan kombinasi yang tepat antara waktu tanam dan model tanam, mengetahui kelayakan budidaya tumpangsari. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus hingga November 2019 di lahan UB kampus 2, Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) jika didapat hasil berbeda nyata dilakukan uji lanjutan dengan metode Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%. Penelitian terdiri dari 6 perlakuan yaitu P1: Kacang tanah sebagai tanaman pinggir, ditanam bersamaan dengan tanam tomat. P2: Kacang tanah sebagai tanaman pinggir, ditanam 2 minggu sebelum tanam tomat. P3: Kacang tanah sebagai tanaman pinggir, ditanam 2 minggu sesudah tanam tomat. P4: Kacang tanah di antara tanaman tomat, ditanam bersamaan dengan tanam tomat. P5: Kacang tanah di antara tanaman tomat, ditanam 2 minggu sebelum tanam tomat. P6: Kacang tanah di antara tanaman tomat, ditanam 2 minggu sesudah tanam tomat. dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan waktu tanam dan model tanam pada pola tanam meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen dengan parameter panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, berat kering, bobot buah per tanaman, bobot buah per petak. Perhitungan NKL mendapat hasil sebesar 2,03 dan R/C rasio mendapat hasil sebesar 1,2 menunjukkan bahwa pengaturan waktu tanam dan model tanam pada pola tanam tumpangsari layak dibudidayakan
Pengaruh Pemberian Inokulan Rhizobium dan Dosis Pupuk N Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max L.)
Kedelai merupakan tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Permintaan kedelai yang selalu meningkat setiap tahun berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Pada dasarnya produksi kedelai dalam negeri tidak mampu mencukupi permintaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri. Sehingga perlu adanya pendekatan teknologi atau inovasi terbaru pada teknik budidaya tanaman kedelai agar produksi diperoleh maksimal. Tujuan percobaan untuk mengetahui pengaruh pemberian inokulan Rhizobium sp. dan dosis pupuk N terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max L.). penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri atas dua faktor dan diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama yaitu dosis Rhizobium dengan 2 taraf dan faktor kedua yaitu dosis pupuk N yang terdiri dari 4 taraf. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada bulan Oktober 2020 hingga Januari 2021. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi dan pengaruh nyata antara perlakuan inokulan Rhizobium dan berbagai dosis pupuk N terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering total tanaman, jumlah bintil akar, jumlah polong, bobot segar polong tanaman dan bobot kering biji pertanaman. Dosis dengan perlakuan pupuk N 50% + Rhizobium 30g/kg benih menunjukan respon hasil yang baik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai sehingga penambahan pupuk Nitrogen 50% dan Rhizobium 30g/kg benih menghasilkan berat kering biji sebesar 5,18 ton/ha dan juga hal tersebut mampu meningkatkan hasil berat kering biji sebesar 69,63% dibandingkan perlakuan kontrol (Nitrogen 0% + Rhizobium 0g/kg benih)
Pengaruh Jarak Tanam Dan Varietas Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)
Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) menjadi salah satu tanaman serealia yang memiliki kandungan gizi dan serat kasar. Tanaman jagung manis sudah menjadi salah satu bahan pangan pokok untuk masyarakat Indonesia karena tanaman jagung manis dapat tumbuh maksimal di dataran tinggi ataupun dataran rendah, Tanaman jagung manis membutuhkan budidaya pertanian yang tepat sehingga dapat mendukung pertumbuhan dari tanaman jagung manis dan hasil panen maksimal. Untuk mempertahankan hasil panen jagung manis maka perlu jarak tanam optimum dan varietas yang sesuai perlu diketahui agar hasil panen tetap stabil. Tujuan percobaan ini yaitu untuk menentukan jarak tanam yang sesuai pada setiap varietas tanaman jagung manis. Percobaan dillaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Jatikerto Kromengan, Malang pada bulan Februari – April 2020 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 kali ulangan.. Faktor pertama yaitu varietas terdiri dari 2 taraf yaitu varietas hibrida (Talenta) dan varietas lokal. Faktor kedua yaitu jarak tanam terdiri dari 3 taraf yaitu jarak tanam 40 cm x 25 cm . 60 cm x 25 cm, dan 80 cm x 25 cm perlakuan. Hasil percobaan menunjukan bahwa  Perlakuan jarak tanam 80 cm x 25 dengan varietas hibrida menunjukkan bahwa pertumbuhan paling baik dibanding varietas lokal, tetapi untuk hasil panen paling tinggi terdapat pada perlakuan jarak tanam 40 cm x 25 cm dengan varietas hibrida (Talenta
Pengaruh Perbedaan Dosis dan Sumber Nitrogen pada Pertumbuhan dan Hasil Buncis (Phaseolus vulgaris L.)
Permintaan terhadap buncis yang terus meningkat menuntut adanya upaya perbaikan teknologi dalam budidaya yang lebih efisien dan efektif supaya mendapat hasil yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan pemberian dan dosis pupuk nitrogen pada pertumbuhan dan hasil tanaman buncis. Hipotesis dari penelitian ini adalah pemberian nitrogen yang berasal dari urea dengan dosis 100 kg N ha-1 dapat memberikan hasil yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis.. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pengaplikasian pupuk anorganik Urea dan ZA yang terdiri dari 10 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Â Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk urea dengan dosis 100 kg N ha-1 memberikan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang serta jumlah bunga jika dibandingkan perlakuan pupuk ZA. Hasil panen menunjukkan bahwa perbandingan pemberian pupuk urea dengan dosis 100 kg N ha-1 memberikan hasil generatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk ZA dengan dosis 100 kg N ha-1. hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan penambahan unsur hara nitrogen berupa pupuk urea meningkatkan hasil tanaman buncis dibandingkan dengan perlakuan menggunakan pupuk ZA
Respon Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pengaturan Jarak Tanam Dan Pemberian Pupuk Kandang Ayam
Bawang merah (Allium acalonicum L.) yang berasal dari Asia Tengah merupakan salah komoditas hortikultura paling penting di Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, kebutuhan konsumsi bawang merah di Indonesia setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Namun hal ini tidak di iringi dengan hasil panen yang panen pada setiap musimnya. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh dan interaksi dari pengaturan jarak tanam dan pemberian dosis pupuk kandang ayam. Penlitian ini dilaksanakan pada Juli-September 2019 di lahan percobaan Jatimulyo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 3 kali ulangan yang menginteraksikan dua faktor yaitu yang pertama pengaturan jarak tanam terdiri dari 3 taraf yaitu , P0 : 10 t/hˉ¹, P1 : 15 t/hˉ¹, P2 : 20 t/hˉ¹. Faktor kedua adalah pengaturan jarak tanam yang terdiri dari 3 taraf yairtu, J1 : 10 x 15 cm, J2 : 15 x 15 cm, J3 : 15 x 20 cm. Data hasil pengamatan dianlisis dengan mengguna kan analisis ragam (Uji F). Apabila terdapat pengaruh di antara perlakuan maka dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji BNJ dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan interaksi kedua perlakuan terdapat pada beberapa parameter yaitu pada pengamatan jumlah daun, Panjang tanaman, luas daun dan jumlah umbi tanaman bawang merah
Perbandingan Pemberian Larutan Nutrisi Gula Pasir, Air Cucian Beras dan Air Kelapa Tua pada Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur pangan yang saat ini cukup populer dan banyak digemari masyarakat karena rasanya yang lezat dan juga penuh kandungan nutrisi, tinggi protein, dan rendah lemak. Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi jamur berpengaruh positif terhadap permintaan pasokan yang meningkat. Semakin meningkat dalam mengkonsumsi jamur tiram putih, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan produksi dari jamur tiram putih. Peningkatan hasil produksi jamur tiram ialah dengan memberikan senyawa organik tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan jenis dan komposisi larutan gula pasir, air cucian beras dan air kelapa yang terbaik pada pertumbuhan dan hasil jamur tiram putih. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai dengan bulan Januari 2019 di Desa Junggo, Kecamatan Bumiaji, Kabupaten Batu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri 8 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Parameter pengamatan adalah pertumbuhan dan hasil. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terhadap perlakuan pemberian larutan nutrisi pada parameter pertumbuhan dan hasil. Penggunaan larutan nutrisi campuran gula pasir dan air kelapa tua (L5) dengan perbandingan komposisi 1:1 atau masing-masing 20 ml/baglog memberikan hasil terbaik pada parameter percepatan panjang miselium jamur tiram putih, pertumbuhan miselium memenuhi baglog, umur muncul pinhead, umur saat panen jamur tiram putih, bobot segar, jumlah tudung jamur tiram putih, dan potensi panen jamur tiram putih
Pengaruh Berbagai Jenis dan Ukuran Mulsa Organik Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium Cepa var. Aggregatum) Varietas Bauji
Bawang merah (Allium Cepa var. Aggregatum) merupakan kelompok rempah yang tidak bisa digantikan oleh komoditas lain. Dalam lima tahun terakhir luas lahan bawang merah terus mengalami peningkatan, walaupun luas lahan terus meningkat namun produktifitas terus menurun tiap tahun.           Bawang merah sangat rentan terhadap iklim sehingga perlu dilakukan penanganan khusus agar bawang merah dapat berproduksi secara maksimal dengan iklim yang ada. Kelembaban tanah dan suhu tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan umbi bawang merah. Salah satu cara untuk mempertahankan suhu dan kelembaban adalah dengan menggunakan mulsa. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang pada bulan Juli 2018 sampai dengan Agustus 2018. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan menempatkan jenis mulsa pada petak utama yang terdiri dari: Mendong, Jerami, Rumput Gajah. Sedangkan panjang mulsa ditempatkan sebagai anak petak, terdiri dari tiga ukuran yaitu: 50 cm, 25 cm, 5 cm. Masing – masing kombinasi diulang 3 kali sehingga diperoleh 27 petak kombinasi perlakuan. Pengamatan yang dilakukan terbagi menjadi 3 aspek yaitu (1) aspek lingkungan mikro tanaman, meliputi suhu tanah, dan kelembaban tanah (2) aspek pertumbuhan dari hasil tanaman serta (3) panen. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jenis dan ukuran mulsa tidak menunjukkan adanya interaksi, akan tetapi perlakuan jenis mulsa mendong dibandingkan dengan mulsa jerami dan rumput gajah dapat meningkatkan suhu minimum sebesar 5,5% dan 3,2%, menurunkan suhu maksimum sebesar 3,3% dan 2,5%, meningkatan jumlah anakan produtif sebesar 14% dan 8,3%, serta meningkatkan bobot kering sebesar 25% dan 18,8%
Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk Urea dan ZA pada Tanaman Pakcoy (Brassica Rapa L.)
Salah satu unsur hara yang sangat berperan pada pertumbuhan pakcoy (Brassica rapa L.) adalah nitrogen yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif, sehingga daun tanaman akan lebih lebar, berwarna lebih hijau dan lebih berkualitas (Darryl, 2004). Perbedaan jenis pupuk N yang digunakan dapat mempengaruhi ketersediaan dan serapan N dari suatu tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi jenis pupuk nitrogen yaitu Urea dan ZA pada pertumbuhan dan hasil tanaman Pakcoy. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, di Desa Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Penelitian yang dilakukan menggunakan perbandingan dosis Urea dan ZA berdasarkan dosis rekomendasi N 100 kg ha-1. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang digunakan: P1: 100% Urea; P2: 100% ZA; P3: 80% Urea + 20% ZA; P4: 20% Urea + 80% ZA; P5: 60% Urea + 40% ZA; P6: 40% Urea + 60% ZA. Parameter pengamatan yang dilakukan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar total tanaman, bobot segar konsumsi total tanaman, luas daun dan persentase bobot konsumsi tanaman. Perlakuan Urea 100% memberikan hasil bobot segar konsumsi yang lebih tinggi 66% dibandingkan dengan perlakuan ZA 100% dan kombinasi Urea 20% + ZA 80% serta lebih tinggi 56% di bandingkan dengan perlakuan kombinasi Urea 80% + ZA 20% dan Urea 40% + ZA 60%. Hal ini dikarenakan besarnya bobot segar total tanaman dan bobot segar total konsumsi tanaman biasanya ditunjang oleh ketersediaan unsur hara yang optimal
Konsentrasi Nutrisi dan Media Tanam pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.) Sistem Hidroponik Substrat
Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu produk hortikultura dari jenis sayuran yang cukup dikenal serta memiliki banyak manfaat dan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan persediaan cabai merah belum dapat terpenuhi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya dalam meningkatkan produksi tanaman cabai merah menggunakan metode hidroponik pada lahan pekarangan yang tidak digunakan dengan mempertimbangkan penggunaan media tanam dan konsentrasi nutrisi untuk memperoleh produksi tanaman cabai merah yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi nutrisi dan media tanam pada pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah yang ditanam dengan sistem hidroponik substrat. Penelitian dilaksanakan dalam rumah plastik di Desa Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada bulan November 2020 - April 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT). Petak utama ialah konsentrasi nutrisi dengan K1 = 1000 ppm; K2 = 1500 ppm; K3 = 2000 ppm. Anak petak ialah media tanam dengan M1 = Arang Sekam; M2 = Pasir; M3 = Arang Sekam + Pasir (1:1). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukan pemberian konsentrasi nutrisi 2000 ppm dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai merah yang lebih tinggi. Media tanam Arang Sekam + Pasir (1:1) meningkatkan tinggi tanaman cabai merah sebesar 11,81% dibandingkan media tanam Pasir. Penggunaan konsentrasi 2000 ppm dengan media tanam Pasir mampu menghasilkan jumlah bunga, jumlah buah dan bobot buah yang lebih tinggi