Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pupuk Organik Cair dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Marigold (Tagetes erecta L.): Indonesia
Marigold (Tagetes erecta L.) merupakan salah satu komoditas tanaman hias bunga potong untuk upacara keagamaan yang memiliki nilai jual yang tinggi serta sebagai tanaman perangkap hama. Budidaya marigold yang secara intensif dengan input pupuk anorganik dan ketergantungan petani akan itu menyebabkan kesuburan tanah menurun. Salah satu solusi yang digunakan yaitu dengan aplikasi pupuk organik cair dan PGPR. Dalam aplikasinya dibutuhkan dosis dan cara aplikasi pupuk organik cair dan PGPR yang tepat agar hasil tanaman yang didapat lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan taraf tertentu POC yang memerlukan taraf tertentu PGPR agar pertumbuhan dan hasil marigold menjadi optimal. Penelitian dilaksanakan pada lahan pekarangan di Perum. Griya Permata Alam FD-11, Desa Ngijo, Kec. Karangploso, Kab. Malang pada ketinggian 515 mdpl dan suhu rata-rata 23-25°C. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari April 2021-Juli 2021. Penelitian menggunakan desain rancangan petak terbagi dengan 3 taraf petak utama yaitu L0 (kontrol), L1 (Konsentrasi POC 5 ml/l), dan L2 (Konsentrasi POC 10 ml/l) serta 3 taraf anak petak yakni P0 (kontrol), P1 (Konsentrasi PGPR 10 ml/tanaman), dan P2 (Konsentrasi PGPR 20 ml/tanaman) yang diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi nyata antara perlakuan POC dan PGPR dengan luas daun dimana setiap penambahan konsentrasi POC 10 ml/l membutuhkan dosis PGPR 20 ml untuk mendapatkan luas daun marigold terluas. Kedua perlakuan tidak menunjukkan pengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah bunga, diameter bunga, warna bunga, bobot segar tanaman, dan vase life bunga marigold sehingga aplikasi POC dan PGPR tidak direkomendasikan untuk tanaman marigold
Potensi Produksi dan Kualitas Benih 5 Genotipe Kacang Bambara (Vigna subtterranea L. Verdc) dengan Sistem Budidaya Organik dan Anorganik
Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdcourt) merupakah salah satu tanaman legum yang masih belum banyak dibudidayakan di Indonesia. Kacang bambara memiliki keragaman yang tinggi dan belum diketahui karakterisitiknya. Mutu benih akan berpengaruh terhadap potensi produksi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi produksi dan kualitas benih pada 5 genotipe kacang bambara pada dua sistem budidaya. Penelitian dilaksanakan di Desa Sukorejo, Kabupaten Malang. Kegiatan penelitian dimulai dari bulan Desember 2021 hingga Mei 2022. Genotipe kacang bambara yang digunakan yaitu LLB, SS 3.4.2, PWbg 5.2.1, JLB 1 dan GSG 1.5. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Split Plot dengan tiga ulangan. Hasil pengamatan didapatkan bahwa interaksi antara genotipe dan sistem budidaya nyata terhadap jumlah daun, bobot polong basah, jumlah polong tunggal, jumlah polong ganda, bobot 100 butir. Pengaruh sistem budidaya tidak menunjukkan beda nyata pada semua variabel pengamatan. Pengaruh genotipe nyata terhadap tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, bobot kering polong, jumlah polong total, panjang polong, lebar polong dan diameter polong. Pada genotipe yang sama, pengaruh sistem budidaya tidak menunjukkan adanya beda nyata terhadap produksi benih. Genotipe LLB dan SS 3.4.2 mempunyai potensi produksi benih tinggi. Pada karakter kualitatif, keragaman yang paling tinggi adalah warna dasar biji kacang bambara.
Kata kunci : Anorganik, Genotipe, Kacang Bambara, Organik, Produksi Beni
Evaluasi Penampilan F1 Tanaman Melon (Cucumis melo L.) pada Beberapa Karakter Morfologi
Melon (Cucumis melo L.) banyak disukai oleh masyarakat Indonesia yang menyebabkan permintaan buah melon dari tahun ke tahun semakin meningkat. Ketersediaan benih melon hingga saat ini menjadi salah satu kendala dalam produksi melon, dikarenakan hampir semua benih melon yang ditanam oleh petani melon merupakan benih impor yang relatif mahal sehingga perlu dilakukan produksi melon dalam negeri. Salah satu cara yang dapat mengatasi permasalahan tersebut ialah dengan menyilangkan dua tanaman yang mempunyai karakter unggul sehingga menghasilkan varietas hibrida yang telah mengalami proses pengujian dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengevaluasi beberapa karakter morfologi penampilan F1 hasil persilangan varietas Melindo x Glamour, serta kecenderungan kemiripan karakter morfologi terhadap tetuanya. Penelitian dilaksanakan di Greenhouse lahan percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada bulan Maret - Juni 2020. Variabel pengamatan dalam penelitian ini ialah karakter kuantitatif dan kualitatif. Karakter kuantitatif meliputi diameter batang, panjang daun, lebar daun, dan umur mulai berbunga, sedangkan pada pengamatan karakter kualitatif meliputi bentuk daun, warna daun, dan warna bunga. Data yang diperoleh dari pengamatan penampilan F1 dan tetua dianalisis menggunakan rumus simpangan baku dan koefisien keragaman, sedangkan pada pengamatan kualitatif data dianalisis berdasarkan deskriptor dari IPGRI (2003) dan pantone colour chart. Analisis uji Independent Sample T Test juga dilakukan untuk menemukan tingkat kecenderungan kemiripan karakter morfologi F1 dengan tetua. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa keseluruhan karakter kualitatif pada semua populasi tidak ada perbedaan kecuali pada karakter warna daun, yang mana varietas Melindo memiliki warna juniper sedangkan F1 ME x GL dan varietas Glamour memiliki warna daun dill. Selain itu, terdapat kecenderungan kemiripan karakter morfologi antara F1 ME x GL dengan varietas Melindo
Pendugaan Heritabilitas dan Aksi Gen Komponen Hasil Biji Tanaman Kenaf (Hibiscus Cannabinus L.)
Kenaf (Hibsicus cannabinus L.) merupakan tanaman penghasil serat yang mulanya digunakan sebagai bahan baku pembuat karung goni. Saat ini telah di kembangkan produk lain tanaman kenaf yaitu biji kenaf yang minyaknya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri misalnya kosmetik dan produk keseharian lainnya. Adanya potensi biji kenaf menandakan diperlukannya produksi biji kenaf secara masal. Penelitian ini menduga parameter genetik berupa heritabilitas dan aksi gen komponen hasil biji pada tanaman kenaf. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2020 yang bertempat di Balittas Malang. Bahan yang digunakan pada penelitian ini ialah benih kenaf generasi F2, F1, BC1.1, BC1.2 dan 2 tetua tanaman kenaf, air, polybag, dan Urea. Komponen hasil biji yang diamati antara lain umur berbunga, jumlah buah per tanaman, jumlah biji per buah, dan berat 1000 biji kenaf (g), jumlah buah per ruas, jumlah ruas yang terdapat buah, serta panjang batang buah pertama hingga terakhir (cm). Analisis data menggunakan joint scaling test. Hasil menunjukkan nilai heritabilitas arti sempit tertinggi terdapat pada karakter umur berbunga sebesar 33%. Pada karakter lain menunjukkan nilai negatif dan dinyatakan nol atau tidak dipengaruhi oleh gen aditif. Perhitungan joint scaling test 3 parameter menunjukkan model tersebut tidak layak sehingga dilakukan analisis menggunakan model 6 parameter. Hasil joint scaling test 6 parameter menunjukkan gen aditif berpengaruh positif pada karakter umur berbunga. Seluruh karakter dipengaruhi oleh 3 interaksi gen antar lokus epistasis jenis duplikat yang menyebabkan kecilnya nilai karakter yang diamati kecuali pada karakter umur berbunga tidak dipengaruhi interaksi gen aditif-dominan
Korelasi Antara Karakter Fisik Biji Dengan Hasil Dan Kadar Minyak Bunga Matahari(Helianthus annuus L)
Bunga matahari (Helianthus annuus L.) adalah salah satu komoditas penting dibidang pertanian. Bagian bunga matahari yang banyak dimanfaatkan untuk industri adalah biji yang mengandung banyak nutrisi dan kadar minyak. Biji bunga matahari memiliki 2 potensi biji yaitu oil seed dan non oil seed. Potensi biji bunga matahari dapat diketahui melalui karakter fisik biji bunga matahari yang berkorelasi dengan kadar minyak dan hasil biji bunga matahari. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara karakteristik fisik biji terhadap hasil dan kadar minyak biji bunga matahari dan juga berguna untuk memermudah seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk memelajari karakter biji sebagai deteksi hasil dan kadar minyak bunga matahari dan memelajari korelasi karakter biji dengan hasil dan kadar minyak bunga matahari. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Universitas Brawijaya yang terletak di Desa Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang pada bulan Januari 2018 hingga April 2019. Penelitian ini menggunakan metode pengacakan rancangan acak kelompok (RAK) 20 genotipe bunga matahari dengan 2 ulangan dan juga menggunakan metode pengamatan single plant. Karakteristik yang diamati adalah karakter kualitatif dan kuantitatif biji bunga matahari dalam Panduan Pelaksana Uji bunga matahari.. Data untuk karakter kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisa korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga matahari memiliki 12 karakter biji yang digunakan untuk deteksi awal hasil dan kadar minyak dan juga terdaat karakter yang berkorelasi terhadap hasil dan kadar minyak
Keragaman Karakter Agronomi dan Morfologi Terung F1 (Solanum melongena L.) Double Cross
Terung (Solanum melongena L.) merupakan sayuran buah.Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan upaya pengembangan varietas unggul. Pengembangan varietas unggul dilakukan dari tahapan seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dan morfologi pada karakter komponen hasil persilangan 36 genotipe terung.Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 36 genotipeterung sebagai perlakuan diulang tiga kali. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu pada bulan Juni - September 2019. Karakter pada tanaman terung ada yang mempunyai keragaman luas dan ada yang mempunyai keragaman sempit. Nilai heritabilitas pada sebagian karakter termasuk rendah hanya karakter diameter batang yang tinggi
Uji Daya Hasil Dan Penyusunan Deskripsi Tujuh Galur Harapan Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdcourt) di Lahan Kering
Kacang bambara (Vigna subterranea) merupakan salah satu jenis kacang – kacangan yang kurang terkenal namun memiliki sejumlah nutrisi yang baik bagi kesehatan. Saat ini, produksi kacang bambara masih tergolong rendah. Upaya peningkatan produksi kacang bambara dapat dilakukan melalui program pemuliaan tanaman yaitu uji daya hasil. selain itu, diperlukan penyusunan deskripsi sebagai informasi karakter pada setiap galur. Penelitian dilksanakan pada Februari hingga Agustus 2020 di Agrotechnopark Universitas Brawijaya Desa Jatikerto, Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan tujuh galur kacang bambara yang diulang tiga kali. Analisis data karakter kuantitatif menggunakan ANOVA dengan uji lanjut DMRT dan karakter kualitatif berpedoman pada Descriptor for Bambara groundnut (Vigna subterranea) dari IPGRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap galur menunjukkan potensi hasil yang tinggi dengan rata – rata hasil panen tiga tertinggi dimiliki oleh galur yang termasuk tahan terhadap kekeringan yaitu PWBG 6 sebanyak 2.65 ton ha-1, BBL 1.1 sebanyak 2.52 ton ha-1 dan TVSU 8.6 sebanyak 2.38 ton ha-1 , sedangkan galur yang tidak tahan terhadap kekeringan CCC 1.6 memiliki daya hasil terendah dibandingkan yang lainnya. Hasil deskripsi berdasarkan morfologi tanaman didapatkan bahwa karakter kuantitatif pada umur berbunga, umur masak, jumlah polong per tanaman, ukuran polong, jumlah biji per tanaman, ukuran biji, berat biji per tanaman dan berat 100 butir biji menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada setiap galur. Karakter kualitatif berupa tipe pertumbuhan, bentuk daun, bentuk polong, warna polong, dan tekstur polong memiliki hasil yang bervariasi
Kodifikasi dan Deskripsi Tahapan Pertumbuhan Fenologi Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Menurut Skala BBCH
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman merambat tahunan dari famili fabaceae yang diketahui memiliki banyak manfaat dan memiliki potensi besar untuk kalangan industri. Namun mengetahui manfaat serta potensi dari tanaman tersebut, informasi terkait siklus hidup atau fenologi bunga telang masih terbatas. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari tahap pertumbuhan fenologi tanaman bunga telang dan diharapkan dapat menjadi informasi dasar dalam perakitan varietas bagi pemulia tanaman dan praktik manajemen budidaya bunga telang. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan acuan dari skala BBCH (Biologische Bundesanstalt, Bundessortenamt and CHemical industry). Analisis data yang digunakan adalah statistika deskriptif yang diperoleh dari data observasi yang disajikan secara naratif deskriptif dan menggunakan skala BBCH dengan 3 digit nomor serta dokumentasi pada setiap fase yang diamati. Tahap pertumbuhan fenologi pada tanaman bunga telang meliputi seluruh siklus pertumbuhan, dimulai dari tahap perkecambahan hingga pematangan buah dan biji. Tahap pertumbuhan tanaman bunga telang dapat dideskripsikan menggunakan skala BBCH menjadi 8 dari 10 tahap pertumbuhan utama, yaitu tahap perkecambahan (tahap 0), penampakan daun (tahap 1), pemanjangan batang (tahap 3), munculnya perbungaan (tahap 5), berbunga (tahap 6), perkembangan buah dan biji (tahap 7), pematangan buah dan biji (tahap 8), dan penuaan (tahap 9). Masing-masing dari 8 tahap pertumbuhan utama dibagi menjadi beberapa tahap pertumbuhan sekunder yang dapat mendeskripsikan atau menggambarkan peristiwa yang lebih rinci dalam perkembangan fenologi tanaman bunga telan
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi PGPR Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal True Shallot Seed
Peningkatan produktivitas bawang merah dapat dilakukan melalui penggunaan TSS (True Shallot Seed). Budidaya menggunakan umbi maupun TSS membutuhkan komposisi media tanam yang berbeda. Kemampuan tanaman dalam memanfaatkan nutrisi pada media tanam salah satunya dapat ditingkatkan melalui pemberian PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media tanam dan konsentrasi PGPR yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman ba wang merah asal TSS. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni 2020 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Malang, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak 3 kali. Penelitian menggunakan 2 faktor yaitu komposisi media tanam: tanah + arang sekam (1:1), tanah + kompos (1:1), dan tanah + arang sekam + kompos (1:1:1), dan konsentrasi PGPR: 0 mL L-1, 5 ml L-1, 10 ml L-1, dan 15 ml L-1. Variabel pengamatan meliputi panjang tanaman, jumlah daun, indeks klorofil, bobot segar umbi, dan jumlah umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanam tanah + kompos (1:1) dan tanah + arang sekam + kompos (1:1:1)Â pada berbagai konsentrasi PGPR (5 ml L-1, 10 ml L-1, dan 15 ml L-1) Â memberikan hasil yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan media tanam tanah + arang sekam (1:1) dengan berbagai konsentrasi PGPR pada pengamatan panjang tanaman, jumlah daun, bobot segar umbi, dan jumlah umbi
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi PGPR Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal True Shallot Seed
Peningkatan produktivitas bawang merah dapat dilakukan melalui penggunaan TSS (True Shallot Seed). Budidaya menggunakan umbi maupun TSS membutuhkan komposisi media tanam yang berbeda. Kemampuan tanaman dalam memanfaatkan nutrisi pada media tanam salah satunya dapat ditingkatkan melalui pemberian PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media tanam dan konsentrasi PGPR yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman ba wang merah asal TSS. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni 2020 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Malang, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak 3 kali. Penelitian menggunakan 2 faktor yaitu komposisi media tanam: tanah + arang sekam (1:1), tanah + kompos (1:1), dan tanah + arang sekam + kompos (1:1:1), dan konsentrasi PGPR: 0 mL L-1, 5 ml L-1, 10 ml L-1, dan 15 ml L-1. Variabel pengamatan meliputi panjang tanaman, jumlah daun, indeks klorofil, bobot segar umbi, dan jumlah umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanam tanah + kompos (1:1) dan tanah + arang sekam + kompos (1:1:1)Â pada berbagai konsentrasi PGPR (5 ml L-1, 10 ml L-1, dan 15 ml L-1) Â memberikan hasil yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan media tanam tanah + arang sekam (1:1) dengan berbagai konsentrasi PGPR pada pengamatan panjang tanaman, jumlah daun, bobot segar umbi, dan jumlah umbi