Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
    1828 research outputs found

    Pengaruh Umur Panen Buah Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan Embrio Dalam Kultur In Vitro

    Get PDF
    Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman penghasil minyak tertinggi. Kultur jaringan merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan sebagai alternatif dalam perbanyakan kelapa sawit. Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan embrio kelapa sawit dalam kultur jaringan salah satunya adalah umur embrio. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan umur panen buah terhadap pertumbuhan embrio secara in vitro dan untuk mengetahui umur panen yang paling sesuai dalam pertumbuhan embrio kelapa sawit secara in vitro. Penelitian ini menerapkan rancangan acak lengkap dengan 1 faktor. Perlakuan pada penelitian ini adalah umur panen buah. Terdapat 4 taraf yaitu 3, 4, 5 dan 6 bulan setelah polinasi. Data pengamatan yang diperoleh dari hasil pengamatan akan dianasis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan taraf 5% untuk mengetahui nyata atau tidaknya perlakuan terhadap hasil pengamatan. Apabila hasil analisis nyata maka akan dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian pengaruh umur panen buah kelapa sawit terhadap pertumbuhan embrio secara in vitro menampilkan adanya perbedaan nyata pada beberapa parameter pengamatan yaitu pada parameter waktu inisiasi tunas, persentase eksplan hidup, tinggi tunas,  jumlah daun dan jumlah klorofil. Berdasarkan hasil umur panen buah yang paling baik digunakan sebagai sumber eksplan merupakan buah yang dipanen pada waktu 3 bulan

    Pengaruh Dosis Pupuk P dan Konsentrasi Giberelin Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

    Get PDF
    Mentimun merupakan salah satu tanaman sayur yang dibudidayakan di Indonesia. Mentimun memiliki banyak manfaat dan kandungan gizi yang berguna untuk kesehatan manusia. Fosfor merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman karena tergolong dalam unsur hara esensial. Giberelin merupakan salah satu hormon tanaman atau fitohormon yang berperan penting dalam fisiologis tanaman, terutama pada pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui interaksi antar perlakuan. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September hingga November 2020 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Penelitian ini menggunakan faktor dosis pupuk fosfor yang terdiri dari 4 taraf, yaitu 30 kg P2O5 ha-1, 60 kg P2O5 ha-1, 90 kg P2O5 ha-1, dan 120 kg P2O5 ha-1 serta faktor konsentrasi giberelin yang terdiri dari 4 taraf, yaitu tanpa giberelin, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi pada pengamatan panjang tanaman, jumlah daun dan indeks klorofil pada umur 23 HST hingga 37 HST serta pada parameter jumlah bunga betina tanaman mentimun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk fosfor dengan dosis 120 kg P2O5 ha-1 dan giberelin konsentrasi 200 ppm mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun dibandingkan dengan perlakuan pupuk fosfor dosis 30 kg P2O5 ha-1 dan tanpa giberelin (P0G0)

    Kajian Tata Letak dan Pola Penggenangan pada Tanaman Padi Ungu (Oryza sativa L.) Kultivar Black Madras

    Get PDF
    Guna meningkatkan produksi padi sebagai makanan pokok di Indonesia, pemerintah melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan produksi padi. Salah satunya merupakan program intensifikasi dengan penemuan varietas baru guna menemukan vaeritas yang unggul. Salah satu kultivar padi yang masih jarang dibudidaya adalah padi ungu atau Black Madras. Perlakuan yang diterapkan dalam budidaya padi ungu ini antara lain penerapan pola penggenangan dan tata letak penanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggenangan serta tata letak penanaman yang sesuai guna memperoleh produksi maksimal pada tanaman padi ungu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2021 – Juni 2021 di lahan percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Tersarang (Nested) dengan 2 faktor yaitu pola penggenangan dan tata letak penanaman sebagai faktor tersarang. Pola penggenangan berselang 3 hari menghasilkan 3,56 t ha-1 sehingga meningkatkan produksi padi ungu 29,92% dari pada pola penggenangan berselang 7 hari. Tata letak jajar legowo 40 x 20 x 12,5 cm menghasilkan 3,58 t ha-1 sehingga meningkatkan hasil padi ungu sebesar 10,15 % dibandingkan dengan tata letak penanaman bujur sangkar 20 x 20 cm

    Eksplorasi dan Analisis Hubungan Kekerabatan Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lam.) di Kabupaten Probolinggo

    Get PDF
    Tanaman kelor memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan banyak masyarakat memanfaatkannya sebagai tanaman pangan serta obat-obatan. Meskipun tanaman kelor memiliki banyak manfaat, penelitian dalam pemuliaan tanaman kelor masih jarang ditemukan. Salah satu cara untuk mendapatkan sumber daya genetik adalah melalui kegiatan eksplorasi, yang dilanjutkan dengan analisis hubungan kekerabatan untuk menentukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan sumber daya genetik tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persebaran tanaman kelor di Kabupaten Probolinggo dan mengetahui hubungan kekerabatan tanaman kelor di Kabupaten Probolinggo berdasarkan persamaan dan perbedaan morfologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga bulan Oktober 2021. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Sumberasih, Kecamatan Wonomerto, dan Kecamatan Tongas. Pengamatan morfologi tanaman kelor secara kuantitatif dan kualitatif berdasarkan panduan deskriptor Santhoshkumar et al., (2013). Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat 74 sampel tanaman kelor yang tersebar di Kecamatan Sumberasih, Kecamatan Wonomerto, dan Kecamatan Tongas. Hasil analisis yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa tanaman kelor di Kabupaten Probolinggo menyebar secara acak. Hasil analisis komponen utama (PCA) menunjukkan bahwa pengelompokan tanaman kelor terbagi menjadi 7 komponen utama (PC). Komponen utama 1 (PC1) memberikan kontribusi keragaman tertinggi dengan karakter yang berkontribusi adalah jumlah anak daun majemuk, jumlah daun primer, jumlah daun sekunder, panjang daun primer, lebar daun primer, panjang daun majemuk, lebar daun majemuk, dan diameter biji. Pada analisis cluster didapatkan hasil tanaman kelor terbagi menjadi tiga kelompok besar dengan koefisien kesamaan 99% sehingga tergolong memiliki hubungan kekerabatan yang dekat

    Uji Ketahanan Galur Buncis (Phaseolus vulgaris L) Polong Kuning Tipe Tegak Terhadap Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum)

    Get PDF
    Galur buncis (Phaseolus vulgaris L.) polong kuning tipe tegak adalah tanaman semusim yang termasuk famili Fabaceae. Warna kuning pada buncis ini menandakan adanya kandungan beta karoten. Sedangkan penyakit layu fusarium adalah penyakit yang disebabkan oleh cendawan fusarium yang menyerang hampir seluruh tanaman termasuk tanaman buncis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat serangan penyakit layu fusarium pada fase pertumbuhan dan hasil, serta mendapatkan galur buncis polong kuning tipe tegak yang tahan terhadap serangan penyakit layu fusarium. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2021, lokasi lahan berada di Jl. Patimura Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu. Bahan yang digunakan adalah pupuk urea, pupuk kandang, pestisida, cendawan Fusarium oxysporum, benih galur buncis tipe tegak (SunGoku 1 dan SunGoku 2) dan benih varietas Gypsi-1. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan diulang sebanyak 6 kali. Apabila terdapat hasil berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa infeksi F.oxysporum memiliki pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, rerata umur mulai berbunga, jumlah polong, panjang polong dan bobot polong. Dari hasil skoring, galur SunGoku 1 dan SunGoku 2 diklasifikasikan sebagai tanaman yang memiliki ketahanan intermediat terhadap infeksi F.oxysporum

    Pengaruh Aplikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan Pupuk Nitrogen pada Pertumbuhan Tanaman Sukini (Cucurbita pepo L.)

    Get PDF
    Sukini (Cucurbita pepo L.) merupakan tanaman hortikultura semusim yang termasuk dalam golongan Cucurbitaceae dan banyak dikonsumsi karena memiliki kandungan nutrisi. Proses pertumbuhan tanaman sukini membutuhkan unsur hara seperti nitrogen. Tetapi ketersediaan unsur hara nitrogen sangat rendah, menyebabkan pemupukan secara anorganik terus dila-kukan. Aplikasi pupuk anorganik secara terus menerus dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah. Pemanfaatan PGPR dapat menjadi solusi untuk menyediakan unsur hara nitrogen bagi tanaman. PGPR dapat menambat nitrogen dari udara dengan cara simbiosis dan non simbiosis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman sukini terhadap aplikasi PGPR dan pemberian dosis pupuk nitrogen yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Rooftop rumah jalan Tlogo Indah, Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pada 15 Desember 2021 hingga 30 Maret 2022 dengan ketinggian tempat 440-667 mdpl dan suhu 18oC - 32oC. Penelitian merupakan percobaan factorial dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu pemberian PGPR dan tanpa pemberian PGPR dan faktor kedua yaitu perbedaan dosis pemberian pupuk nitrogen dengan lima taraf yaitu 50, 100, 150, 200 dan 250 kg ha-1. Hasil penelitian men-unjukkan bahwa penggunaan PGPR dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dibandigkan dengan perlakuan tanpa PGPR. Pemberian PGPR meningkatakan Panjang tanaman 5,86 %, bobot segar tanaman 12,27 % dan bobot kering 31,76 %. Peningkatan dosis pemupukan nitrogen meningkatkan panjang tanaman sebesar 13,43 %, jumlah daun sebesar 15,37 %, luas daun sebesar 16,94 %, bobot segar sebesar 48,73 % dan bobot kering sebesar 20,81 %.  Pemupukan 150 kg ha-1 merupakan pemupukan optimal pada tanaman sukini

    Pengaruh Penjarangan Buah dan Pemupukan Kalium terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Kualitas Buah Melon (Cucumis melo L.)

    Get PDF
    Melon merupakan tanaman hortikultura yang banyak diminati karena rasanya yang manis dan jmemiliki kandungan gizi yang baik. Produksi melon pertahun terus mengalami penurunan dari tahun 2014 sampai tahun 2017. Produsksi tersebut hanya memenuhi dari 40% kebutuhan di Indonesia. Penjarangan buah pada tanaman melon perlu dilakukan karena tanaman melon memiliki banyak buah. Jumlah buah yang banyak akan menyebabkan buah menjadi kecil. Dalam proses budidaya, melon memerlukan unsur hara dalam jumlah yang cukup banyak. Kalium merupakan unsur yang berperan penting dalam pertumbuhan melon. Kalium berperan dalam merangsang translokasi gula, pertumbuhan, perkembangan buah dan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penjarangan buah dan pemupukan kalium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2021 di Dusun Mandala, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan RAK dengan dua faktor. faktor pertama penjarangan buah dengan dua taraf dan faktor kedua pemupukan kalium dengan lima taraf dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi interaksi antara penjarangan buah dan pemberian dosis pupuk kalium pada pertumbuhan, hasil, dan kualitas buah melon. Perlakuan penjarangan dengan menyisakan 1 buah per tanaman menghasilkan bobot buah per buah dan diameter buah lebih tinggi, namun menghasilkan bobot buah per tanaman yang lebih rendah dibandingkan perlakuan penjarangan dengan menyisakan 2 buah per tanaman. Pemberian pupuk kalium pada tanaman melon dengan dosis 60kg K2O.ha-1 menghasilkan buah melon pada ruas batang ke 10 dengan  kadar gula paling tinggi

    Pengaruh Frekuensi Penyiangan Gulma dan Jenis Pupuk Terhadap Hasil Tanaman Buncis Tegak (Phaseolus vulgaris L)

    Get PDF
    Tanaman buncis berdasarkan data produksi tahun 2018-2020 diketahui mengalami kenaikan dan penurunan. Faktor eksternal yang mempengaruhi produksi berasal lingkungan seperti kesuburan tanah yang menurun sehingga kebutuhan tanaman tidak terpenuhi dan tumbuhnya gulma disekitar tanaman budidaya yang mengakibatkan penurunan produksi dikarenakan adanya persaingan unsur hara, air, dan penerimaan cahaya matahari serta ruang lingkup untuk tumbuh. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari jenis pupuk dan frekuensi penyiangan gulma yang baik untuk menghasilkan bobot kacang buncis paling optimal dan mempejalari jenis gulma yang mendominansi tanaman buncis tegak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2021 berlokasi lahan penelitian Jatimulyo, Kecamatan Lowakwaru, Kabupaten Malang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis pupuk ( P1 = Pupuk Anorganik, P2 = Pupuk Organik, P3 = Pupuk Organik + Anorganik) dan frekuensi penyiangan gulma ( G0 = Tanpa Penyiangan, G1 = Penyiangan 14, 28 HST, G2 = Penyiangan 14, 21, 28 HST) Berdasarkan kedua faktor yaitu jenis pupuk dan frekuensi penyiangan gulma maka diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 9 dengan 3 pengulangan maka hasil keseluruhan diperoleh 27 petak percobaan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pupuk organik dan anorganik dengan frekuensi penyiangan sebanyak 3x pada umur 14, 21 dan 28 HST memiliki berat kering tanaman dan bobot panen lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penggunaan pupuk organik dengan tanpa penyiangan. Pada pengamatan SDR sebelum tanam didominansi oleh jenis gulma yaitu Ageratum conyzoides (35,67%) dan Ludwigia octovalvis (23,63%) sedangkan setelah dilakukan penanaman dominansi digantikan oleh Eleusine indica dengan rata-rata SDR keseluruhan perlakuan menjadi 24,13%

    Keragaan Beberapa Galur Jagung Ketan (Zea mays L. var. ceratina Kulesh) Pada Selfing Kedua (S2)

    Get PDF
    Jagung ketan memiliki kandungan amilopektin yang lebih tinggi daripada jagung lainnya. Permintaan jagung ketan untuk industri pakan terus meningkat. Peningkatan produksi jagung ketan dapat menggunakan varietas unggul. Pembentukan varietas unggul memerlukan galur yang memiliki karakter unggul sebagai tetua. Dalam penentuan tetua unggul dilakukan proses penilaian penampilan melalui keragaan sebagai identitas galur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan karakter kualitatif dan kuantitatif, untuk menduga nilai heritabilitas arti luas dan koefisien keragaman genetik, dan untuk mendapatkan tetua potensial. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Areng-areng, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur pada September - Desember 2021. Bahan tanam yang digunakan berupa koleksi benih jagung ketan dari CV. Blue Akari yaitu galur S2 hasil persilangan (jagung ketan x jagung ungu manis). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu galur sejumlah 13 perlakuan, setiap perlakuan terdapat 39 satuan percobaan.  Variabel pengamatan tanaman yang diamati terbagi menjadi 2 yaitu, karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Analisis karakter kualitatif berdasarkan metode skoring masih terdapat keragaman. Analisis karakter kuantitatif berdasarkan Analisis ragam terdapat beberapa karakter kuantitatif yang berbeda nyata. Analisis KKG memiliki keragaman yang tergolong rendah berkisar antara 0,48 – 10,88%, sedangkan nilai KKF tergolong rendah hingga agak rendah berkisar antara 0,53 – 35,33%. Pendugaan heritabilitas tergolong rendah hingga tinggi berkisar antara 0,058 – 97,79%. Galur yang berpotensi untuk dijadikan tetua unggul yaitu JP-D3, JP-D7, JP-D8, JP-D10, JP-D11, dan JP-D13 karena memiliki keunggulan dan keseragaman pada karakter kualitatif dan karakter kuantitatif

    Respon Pertumbuhan dan Hasil Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) pada Berbagai Warna Sungkup dan Media Tanam

    Get PDF
    Bayam merah merupakan tanaman sayur yang mengandung banyak gizi dan antosianin. Namun, produksi bayam mengalami penurunan pada tahun 2020. upaya untuk meningkatkan produksi bayam diperlukan dengan merekayasa kualitas cahaya menggunaan sungkup berwarna dan media tanam. Tujuan dari penelitian untuk mempelajari pengaruh warna sungkup yang berbeda pada berbagai media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil bayam merah. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur pada bulan November hingga Desember 2021 menggunakan RPT yang terdiri dari warna sungkup (S0: tanpa sungkup; S1: sungkup warna bening; S2: sungkup warna biru; S3: sungkup warna merah) sebagai petak utama dan media tanam (M1: tanah; M2: cocopeat; M3: kompos) sebagai anak petak dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan sungkup merah dan media tanam kompos pada bayam merah menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman dan berat kering tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata dari perlakuan sungkup dan media tanam lainnya. Perlakuan tanpa sungkup menghasilkan luas daun spesifik yang lebih tinggi dan berbeda nyata dari perlakuan sungkup lainnya, sedangkan perlakuan sungkup menunjukkan jumlah daun yang lebih tinggi dan berbeda nyata dari perlakuan tanpa sungkup. Perlakuan media tanam tanah dan kompos menunjukkan hasil jumlah daun yang lebih tinggi dan berbeda nyata dari perlakuan media tanam cocopea

    1,753

    full texts

    1,828

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Produksi Tanaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇