Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Unsur Iklim Terhadap Produktivitas Tanaman Jeruk Siam Pontianak (Citrus nobilis Var. Microcarpa)
Jeruk Siam (Citrus nobilis) ialah salah satu komoditas unggulan nasional. Jeruk siam digemari masyarakat Indonesia karena memiliki rasa manis dan kaya vitamin C. Kabupaten Sambas menjadi sentra utama produksi jeruk siam di Kalimantan Barat atau berkontribusi sekitar 75% dari produksi keseluruhan dengan varietas utamanya yaitu Jeruk Siam Pontianak (Citrus nobilis var. Microcarpa). Keberhasilan budidaya jeruk siam sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim suatu tempat. Unsur iklim berperan penting dalam hasil tanaman Jeruk Siam Pontianak, baik kualitas dan kuantitas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan dan pengaruh antara curah hujan, suhu udara, kelembapan udara, dan penyinaran matahari dengan produktivitas Jeruk Siam Pontianak di Kabupaten Sambas. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan Januari-Maret 2021 di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Lokasi wawancara dilakukan pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Tebas, Kecamatan Sebawi, dan Kecamatan Sambas. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan petani. Data sekunder berupa data unsur iklim yaitu curah hujan, suhu udara, kelembapan udara dan penyinaran matahari tahun 2004-2020 dari Stasiun Meteorologi Kelas III Paloh Sambas dan data produktivitas tanaman Jeruk Siam Pontianak tahun 2004-2020 dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas. Metode analisis yang digunakan ialah analisis korelasi dan regresi linier menggunakan software IBM SPSS Statistics 22. Hasil penelitian menunjukan bahwa curah hujan, suhu udara, dan penyinaran matahari tidak berpengaruh terhadap produktivitas dan kelembapan udara berpengaruh dominan terhadap produktivitas Jeruk Siam Pontianak di Kabupaten Sambas
Respon Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Akibat Dosis dan Waktu Aplikasi Pupuk KCl
Jagung manis merupakan salah satu komoditas pangan yang digemari banyak masyarakat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang berperan sebagai sumber pangan, bahan baku industri dan pakan serta memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Produksi jagung manis yang mengalami fluktuatif menjadi hal yang perlu diperhatikan khususnya dalam kuantitas dan kualitas jagung manis. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman jagung dengan mengoptimalkan pemupukan. Salah satu unsur hara yang dapat meningkatkan kualitas dan hasil tanaman jagung manis adalah kalium. Kalium memiliki peranan dalam pembentukan protein dan kandungan gula dalam tanaman. Sehingga penting dilakukan penelitian dosis dan waktu pemberian pupuk KCl yang diberikan pada fase pertumbuhan tanaman jagung manis. Penelitian dilakukan di Jalan Dusun Cinyosog, Desa Pasir Angin, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2021. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dan disusun dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) yang terdiri dari dua faktor yaitu dosis pupuk sebagai petak utama dan waktu aplikasi pupuk sebagai anak petak. Penelitian ini terdiri dari 12 perlakuan dengan melakukan pengulangan sebanyak 3 kali ulangan. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot segar tanaman, dan kadar kemanisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara dosis dan waktu aplikasi pupuk KCl pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis terhadap parameter tinggi tanaman; diameter batang; luas daun; bobot segar tanaman, dan kadar kemanisan dengan perlakuan terbaik yaitu dosis pupuk 150 kg ha-1 dengan waktu aplikasi 14; 35; dan 49 HST
Keberhasilan Persilangan Pada Beberapa Galur Kacang Bogor (Vigna subterranean (L.) Verdc.)
Kacang bogor merupakan salah satu tanaman yang Toleran terhadap kekeringan. Tanaman Kacang bogor berpotensi mengalami penurunan hasil karena terjadinya penurunan keragaman genetik yang disebabkan oleh morfologi dari bunga tanaman kacang bogor yang termasuk dalam jenis hermaphrodite. Keberhasilan persilangan kacang bogor dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berorientasi pada tanaman itu sendiri, sedangkan faktor eksternal berorientasi pada pengaruh lingkungan. Penentuan waktu persilangan berkaitan erat terhadap perubahan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan persilangan antar galur kacang bogor.Penelitian dilaksanakan di green house Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timu. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2021 hingga Juli 2021. Jumlah galur yang digunakan pada penelitian ini terdapat lima galur. Galur TVSU 8.6 digunakan sebagai jantan sedangkan galur BBL 1.1, SS 3.4.2, JLB dan TKB digunakan sebagai betina. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode single cross melalui persilangan buatan. Hasil pada penlitian didapatkan bahwa persentase keberhasilan tertinggi terdapat pada kombinasi TKB x TVSU (W3) dengan persentase sebesar 52,38%, sedangkan persentase keberhasilan persilangan terkecil terdapat pada kombinasi BBL 1.1 x TVSU (W2) dengan persentase sebesar 14,81%. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat persentase keberhasilan persilangan pada penelitian yang telah dilakukan. Adanya penggunaan empat taraf waktu berorientasi pada adanya perubahan kondisi lingkungan di dalam green house. Perubahan kondisi lingkungan berorientasi pada fluktuasinya suhu dan kelembapan didalam green house. Adanya fluktuasi suhu dan kelembapan didalam green house mempengaruhi receptivity stigma dan variabilitas polen
Korelasi Antara Komponen Hasil dan Hasil Pada Genotipe Jarak Kepyar (Ricinus communis L.) Tahan Penyakit Fusarium
Jarak kepyar (Ricinus communis L.) merupakan salah satu tanaman yang menghasilkan minyak nabati. Produksi jarak kepyar di Indonesia cenderung menurun. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya hasil tanaman jarak kepyar adalah dengan melakukan seleksi genotipe yang memiliki sifat tahan terhadap penyakit fusarium. Dalam menentukan seleksi yang baik diperlukan informasi keeratan hubungan masing-masing karakter. Keeratan hubungan antar komponen hasil dengan hasil yang akan dicapai dan kriteria seleksi pada tanaman dapat diketahui melalui analisis korelasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh keeratan hubungan antara karakter komponen hasil dan hasil pada genotipe jarak kepyar. Penelitian dilakukan di green house lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur dari bulan Januari 2021 hingga Juli 2021. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok terhadap 22 genotipe jarak kepyar tahan penyakit fusarium dengan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan karakter jumlah buah per tanaman, berat tandan per tanaman, jumlah tandan per tanaman, jumlah biji per tanaman, tebal biji, diameter kapsul, dan panjang kapsul berkorelasi positif terhadap karakter berat biji per tanaman. Selain itu jumlah buah per tanaman merupakan karakter dengan keeratan positif paling besar terhadap tanaman jarak kepyar tahan penyakit fusarium
Respon Tiga Varietas Tanaman Kedelai (Glycine max L.) Akibat Pemberian Berbagai Macam Biochar
Produksi kedelai (Glycine max L.) Â di Indonesia masih belum dapat memenuhi tingkat konsumsi, yang menyebabkan Indonesia semakin bergantung terhadap kegiatan impor. Rendahnya produktivitas kedelai dapat disebabkan oleh kurangnya kesuburan tanah yang mengakibatkan penurunan hasil dari kedelai Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh pemberian berbagai macam biochar terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas tanaman kedelai. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial yang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak tiga kali. Terdapat dua faktor sebagai perlakuan yaitu macam biochar (B1, B2, B3) dan macam varietas (V1, V2, V3). Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa terdapat interaksi antara jenis biochar dan varietas dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil pada tanaman kedelai terdapat pada jenis biochar berupa tongkol jagung dan varietas anjasmoro yang terlihat berbeda nyata dengan penggunaan biochar dan varietas lainnya pada beberapa indikator berupa pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, kemudian pada aspek panen diketahui terdapat perbedaan yang nyata pada indikator jumlah polong total per tanaman, jumlah polong isi per tanaman, bobot polong, bobot 100 biji dan hasil panen per hektar
The Effect of The Use of PGPR and NPK on The Vegetative and Generative Phases of The Marigold (Tagetes erecta L.): Pengaruh Penggunaan PGPR dan NPK Terhadap Fase Vegetatif dan Generatif Pada Tanaman Bunga Marigold (Tagetes erecta L.)
Marigold plants are garden plants that are widely used in several regions in Indonesia due to their good adaptability. Chemical fertilizers produce residues that can later affect the chemical properties of the soil. Efforts to reduce the use of chemical fertilizers are by using organic fertilizers. The aim of the research was to study the interaction between the use of PGPR and NPK on the vegetative to generative phases of Marigold plants. The research was carried out from February 14 to May 12, 2022 at the Greenhouse of Brawijaya University, Jatimulyo Village, Lowokwaru District, Malang Raya, East Java. This study used a factorial randomized block design (RAK) with Factor I, namely four levels of PGPR concentration, including P0 = 0 ml l-1, P1 = 5 ml l-1, P2 = 10 ml l-1 and P3 = 15 ml l- 1. Factor II is three levels of NPK fertilizer doses, namely N0 = 0 g plant-1, N1 = 1.5 g plant-1 and N2 = 3 g plant-1. The materials used were 216 seeds of INCA Marigold plant seeds, raffia rope, stakes, alvaboard, water, NPK Mutiara (16:16:16), PGPR, and mixed planting media (soil: cocopeat: husk charcoal (1:1:1)). The results showed that there was an interaction between the concentration of PGPR and the dose of NPK on Marigold plant growth (total plant dry weight, top dry weight, and root dry weight). The total dry weight of Marigold plants at concentrations of PGPR up to 15 ml l-1 and NPK 3 g plant-1 increased by 23 times when compared to plants that were not given PGPR and NPK fertilizers. The use of NPK 2.42 g plant1 increased the number of Marigold flowers 10 times when compared to plants that did not use NPK fertilizer
Respon Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Terhadap Pemberian Pupuk N dan K
Tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman kelompok kacang-kacangan yang menjadi sumber protein nabati, serat, vitamin dan mineral. Produksi tanaman kacang panjang dari tahun 2015 hingga 2019 mengalami penurunan. Pemberian pupuk nitrogen dan kalium serta pemilihan varietas dapat digunakan dalam meningkatkan produksi kacang panjang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan respon pemberian pupuk N dan K terhadap pertumbuhan dan hasil 2 varietas tanaman kacang panjang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2022 di Kamang Hilia, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu faktor pertama dosis pupuk N dan K serta faktor kedua yaitu varietas kacang panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap varietas kacang panjang tidak memberikan respon yang berbeda terhadap pemberian dosis pupuk N dan K. Pemberian pupuk N 50 kg ha-1 dan pupuk K 50 kg ha-1 pada 42 HST mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman yaitu luas daun sebesar 10,63% serta mampu meningkatkan hasil panen yaitu bobot polong per tanaman sebesar 19,77%. Dua varietas kacang panjang tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil
Pengaruh Inokulasi Rhizobium dan Pupuk Anorganik NPK Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril)
Kedelai merupakan sumber protein nabati bagi masyarakat. Produksi tanaman kedelai di Indonesia mengalami penurunan. Kebutuhan unsur N diperlukan dalam membantu penyerapan. Rhizobium sebagai bakteri penyedia hara bagi tanaman kedelai. Rhizobium dan tanaman kedelai saling menguntungkan karena tanaman kedelai memberikan respon berupa bintil akar dan memperoleh hara N yang disediakan oleh bakteri Rhizobium. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh interaksi penambahan rhizobium dan pemberian pupuk anorganik NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2021 sampai Januari 2022 di lahan petani yang berada di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial terdiri dari dua faktor yakni, Faktor pertama : Tanpa Rhizobium dan Rhizobium 10 g.kg-1. Faktor kedua Pupuk NPK : 100, 150, 200, 250, and 300 kg.ha-1. Dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian terdapat interaksi pada variabel, yaitu luas daun (35 dan 42 hst), jumlah bintil akar, bobot biji per tanaman dan bobot biji per hektar. Pada perlakuan tanpa rhizobium dengan pupuk NPK 250 kg.ha-1 lebih baik dibandingkan perlakuan NPK 100 dan 150 kg.ha-1. Pada perlakuan rhizobium 10 g.kg-1 dengan pupuk NPK 200, 250, dan 300 kg.ha-1 lebih baik dibandingkan pupuk NPK 100 dan 150 kg.ha-1. Inokulan rhizobium 10 g.kg-1 dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong per tanaman, dan bobot 100 biji dibandingkan tanpa rhizobium, sedangkan pada pemberian pupuk NPK 250 dan 300 kg.ha-1 dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah polong per tanaman, dan bobot 100 biji
Pengaruh Jarak Tanam dan Dosis Pemupukan NPK Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill.)
Kedelai merupakan komoditas pertanian penting di Indonesia, karena dapat digunakan sebagai pangan, pakan maupun bahan baku industri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mendapatkan pengaruh berbagai dosis pupuk NPK dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – September 2021 di Desa Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama yaitu jarak tanam yang terdiri dari 3 taraf, yaitu J1: 40 x 15 cm, J2: 40 x 25 cm, dan J3: 40 x 35 cm. Faktor kedua yaitu dosis pemupukan NPK yang terdiri atas 4 taraf, yaitu P1: 200 kg ha-1, P2: 250 kg ha-1, P3: 300 kg ha-1, dan P4: 350 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara jarak tanam dan pupuk NPK terhadap bobot 100 biji tanaman kedelai. Tidak terdapat pengaruh interaksi yang nyata dari pemberian jarak tanam dan dosis pupuk NPK terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang produktif, jumlah polong total, jumlah polong isi, jumlah polong hampa, bobot 100 biji kering, bobot biji per tanaman, hasil panen per petak, dan hasil panen per hektar. Pada jarak tanam 40 x 35 cm dan 40 x 25 cm memberikan pengaruh sama terhadap parameter jumlah polong hampa tanaman kedelai. Jarak tanam 40 x 35 cm memberikan hasil paling tinggi pada parameter bobot biji per tanaman, jumlah cabang produktif, jumlah polong total, jumlah polong isi per tanaman dan bobot biji per tanaman
Produktivitas Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) di Wall Planter Bag pada Berbagai Arah Penyinaran dan Interval Penyiraman
Pertanian perkotaan merupakan salah satu bukti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pertanian, disisi lain tanaman cabai rawit menjadi salah satu sayuran yang banyak dibutuhkan masyarakat dan mudah dibudidayakan diperkotaan, dengan demikian tanaman cabai rawit dapat dibudidayakan pada lahan yang sempit dengan cara menanamnya secara vertikultur. Pada budidaya vertikultur memiliki kendala yaitu tidak meratanya distribusi cahaya matahari dan air bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh intensitas radiasi matahari yang datang dari empat mata angin dan interval penyiraman terhadap produktivitas tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) secara vertikultur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus 2021 di Wonosari Go Green Malang, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan petak tersarang (Nested Design) dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu arah penyinaran dan faktor kedua yaitu interval penyiraman. Hasil Pengamatan panen menunjukkan perlakuan radiasi matahari yang datang dari arah barat dengan interval penyiraman 2 kali sehari memberikan hasil total buah cabai per tanaman dan total bobot buah tertinggi dibanding dengan interaksi perlakuan lain