Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jenis dan Tingkat Ketebalan Mulsa pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Stroberi (Fragaria vesca): The Effect of Type and Thickness of Mulch on The Growth and Yield of Strawberry (Fragaria vesca)
Strawberry development targets are limited to highlands, so crop development is directed to dry land. However, the complexity of the obstacles that must be faced is the low level of water availability for plants. Environmental engineering that leads to suppression of water loss needs to be done through the application of mulch. The purpose of this research was to study and determine the effect of the combination of types and thickness of mulch that is appropriate to increase the growth and yield of strawberry plants grown in dry land. This research was conducted in April - July 2021 at the Experimental Garden of Agrotechnopark Universitas Brawijaya in Jatikerto Village, Malang Regency. This study used a Randomized Block Design (RAK) consisting of: P1: No Mulch, P2: Straw Mulch 2 cm thick, P3: Straw Mulch 4 cm thick, P4: Straw Mulch 6 cm thick, P5: Husk Mulch 2 cm thick, P6: Husk Mulch with a thickness of 4 cm, and P7: Mulch with a thickness of 6 cm. Observational data were analyzed using ANOVA at 5% level and BNJ test at 5% level. The results showed that the combination of different types and thickness of mulch gave different effects on the growth and yield of strawberry plants. Rice straw mulch with a thickness of 4 and 6 cm produced fruit weights that were not significantly different, namely 0.48 tons/ha and 0.50 tons/ha. Ha; 92% and 100% higher than without mulch. 11.63% and 16.28% higher than rice straw with a thickness of 2 cm, 6 cm rice husk mulch produced a fruit weight of 0.45 ton/ha; 80% higher, 21.62% and 21.62% higher than without mulch, rice husk mulch with a thickness of 2 cm, and rice husk mulch with a thickness of 4 cm.
Keywords: Strawberry, Mulch, Mulch Thickness, dry land
Pengaruh Tekanan Aerator dan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) Hidroponik dengan Sistem Sumbu (Wick System)
Tanaman selada merupakan tanaman sayuran yang sangat populer di dunia, dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman selada untuk kesehatan memiliki manfaat yang cukup banyak dan memiliki berbagai kandungan gizi, seperti serat, vitamin A, vitamin C, dan mineral. Penanaman tanaman selada dapat dilakukan dengan metode hidroponik, salah satunya yaitu menggunakan sistem sumbu. Permasalahan yang timbul dari sistem hidroponik sumbu ini adalah larutan nutrisi yang tidak tersirkulasi atau larutan nutisi yang tidak mengalir. Masalah lainya yang terdapat pada budidaya tanaman selada yaitu terdapat pada kondisi lingkungan. Penanaman selada yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan tanaman akan menyebabkan hasil produksi yang tidak maksimal. Pengkayaan oksigen dengan menggunakan aerator dan penggunaan paranet sebagai naungan dapat berpeluang untuk mengatasi permasalahan diatas. Tujuan dilakukanya penelitian ini yaitu untuk mempelajari pengaruh interaksi antara aerator dan naungan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada secara hidroponik. bahan yang digunakan adalah rockwool, benih selada, dan Nutrisi A+B Mix. Metode yang digunakan yaitu RAK Faktorial dengan perlakuan tekanan aerator dan naungan. Penelitian dilaksanakan pada bulan juli hingga september 2022 di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi nyata antara perlakuan tekanan aerator dan naungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan naungan 50% memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan yaitu meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun, serta hasil panen yaitu meliputi bobot segar tanaman, bobot segar konsumsi, panjang akar, volume akar, dan luas permukaan akar yang lebih baik diantara pemberian naungan yang lain
Pengaruh Waktu Tanam dan Kerapatan Kemangi (Ocimum basilicum L.) pada Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) dalam Sistem Tumpangsari
Permintaan hasil panen jagung manis dan kemangi terus meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi dan bertambahnya pertumbuhan masyarakat, namun luasan lahan pertanian semakin menurun. Diperlukan teknik budidaya yang tepat yaitu tumpangsari jagung manis dan kemangi. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam tumpangsari adalah waktu tanam dan kerapatan tanaman untuk mengurangi kompetisi pemanfaatan faktor tumbuh tanaman. Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari dan mendapatkan waktu tanam dan kerapatan tanaman kemangi yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei-Agustus 2022 di Desa Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari jagung manis monokultur, jagung manis + kemangi (1 baris) 7 HSbT jagung manis, jagung manis + kemangi (2 baris) 7 HSbT jagung manis, jagung manis + kemangi (1 baris) ditanam bersamaan, jagung manis + kemangi (2 baris) ditanam bersamaan, jagung manis + kemangi (1 baris) 7 HST jagung manis, jagung manis + kemangi (2 baris) 7 HST jagung manis, jagung manis + kemangi (1 baris) 14 HST jagung manis, jagung + kemangi (2 baris) 14 HST jagung manis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kemangi yang ditanam pada berbagai waktu tanam dan kerapatan yang berbeda dalam sistem tumpangsari dengan jagung manis tidak menyebabkan penurunan pertumbuhan maupun hasil tanaman jagung manis. Seluruh perlakuan sistem tumpangsari tanaman jagung manis dengan kemangi mampu meningkatkan produktivitas lahan (LER > 1), menguntungkan secara ekonomi (R/C Ratio > 1), mampu menekan pertumbuhan gulma, serta mengefisiensi intersepsi cahaya matahari
Pemanfaatan Gulma Kangkung Laut (Ipomoea pes-caprae) sebagai Pupuk Organik untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium cepa L.)
Kangkung laut merupakan gulma pantai yang mudah sekali ditemukan di pantai-pantai di kota Bengkulu. Kehadiran gulma ini, selain mengganggu keindahan, ternyata juga memiliki kandungan hara yang cukup tinggi, khususnya Nitrogen. Sehingga kangkung laut berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan organik utama dalam pembuatan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan produktivitas tanaman bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh beberapa dosis pupuk organik kangkung laut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dirancang dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non-faktorial dalam 5 taraf perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah dosis bokashi kangkung laut yang diberikan dalam 5 taraf yaitu 0, 2,5, 5, 7,5, dan 10 ton per hektar. Penelitian telah dilaksanakan di kebun percobaan yang berlokasi di desa Talang Boseng, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah dari bulan Agustus 2022 hingga Februari 2023. Hasil penelitian membuktikan bahwa perbedaan dosis bokashi kangkung laut memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah rumpun, jumlah umbi, diameter umbi, dan berat umbi kering. Pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah semakin baik seiring dengan penambahan dosis. Dosis pupuk organik kangkung laut yang terbaik untuk budidaya tanaman bawang merah adalah 7,5 dan 10 ton/h
Respon Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Dan Pupuk Kandang Sapi
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang tergolong dalam tanaman sayuran. Bawang merah sangat tergantung pada pupuk anorganik yang memberikan hasil yang tinggi namun banyak menimbulkan masalah dan menurunkan produktivitas lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi PGPR dan dosis pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian ini dilakukan pada bulan januari-maret 2023 di Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Ngajuk, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdari Faktor 1 yaitu konsentrasi PGPR (P) dengan 3 taraf: P0 = Kontrol, P1 = PGPR 15 ml l-1, P2 = PGPR 30 ml l-1. Faktor ke 2 adalah pemberian pupuk kandang sapi (K) terdiri dari 4 taraf yaitu: K0 = Kontrol, K1 = 10 ton ha-1, K2 = 20 ton ha-1, K3 = 30 ton ha-1. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara konsentrasi PGPR dan dosis pupuk kandang sapi terhadap semua parameter pengamatan. Konsentrasi PGPR 30 ml l-1 mampu meningkatkan panjang tanaman, jumlah daun saat 42 HST dengan persentasi kenaikan mencapai 10%-20%, diameter umbi, bobot segar umbi dan bobot kering umbi per rumpun dan per hektar memiliki hasil tinggi dengan persentasi kenaikan sebesar 20%-40% dibandingkan perlakuan lainnya. Pupuk kandang sapi 20 ton ha-1 mampu meningkatkan panjang tanaman, jumlah daun dan, jumlah anakan pada 42 HST dengan persentasi kenaikan 15%-20%, diameter umbi, jumlah anakan bobot segar umbi dan bobot kering umbi per rumpun dan per hektar memiliki hasil yang tinggi dengan persentasi kenaikan mencapai 25%-40% dibandingkan perlakuan kontrol
Pengaruh Pupuk Kandang dan Pupuk N - Anorganik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) var. Shinta
Tanaman sawi hijau meruapakan tanaman sayuran semusim yang banyak di jumpai di daerah dataran tinggi. Terjadi peningkatan produksi tanaman sawi hijau, peningkatan produksi ini menjadikan sawi hijau sebagai komoditas yang mempunya prospek yang tinggi untuk dikembangkan di Indonesia, namun kualitas dari sawi hijau ini cukup rendah dikarenakan budidayanya yang masih menggunakan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik seperti kandang sapi mampu membantu mengurangi penggunaan pupuk anorgnaik. Tujuan penelitian adalah mendapatkan dosis kombinasi pupuk anorganik dan pupuk kandang sapi yang tepat untuk tanaman sawi hijau. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2021 - Januari 2022 di Kebun Percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian ini merupakan percobaan yang dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang digunakan antara lain B0 = Pupuk Kandang 0 ton/ha + Pupuk N 0 kg/ha, B1 = Pupuk N 130 kg/ ha, B2 = Pupuk kandang 10 ton/ha, B3 = Pupuk kandang 10 ton/ ha + pupuk N 65 kg/ha, B4 = Pupuk kandang 20 ton/ ha, B5 = Pupuk kandang 20 ton/ha + pupuk N 65 kg/ha, B6 = Pupuk kandang 30 ton/ha, B7 = Pupuk kandang 30 ton/ha + Pupuk N 65 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk kandang 30 ton/ha + pupuk N 65 kg/ha pada pengamatan indeks klorofil dengan nilai 62.38 pada 21 hst dan 64.44 pada 28 hst. Pengamatan hasil pupuk kandang sapi 30 ton/ha + pupuk N 65 kg/ha dengan nilai bobot segar per tanaman sebesar 14.65 g/tanaman, bobot tanaman per hektar sebesar 16.28 ton/ha, dan daya tahan hijau daun dengan nilai rerata 4.5 har
Uji Keragaman Genetik dan Kekerabatan 7 Galur Harapan Kacang Bambara (Vigna Subterranea (L.) Verdcourt) Berdasarkan Karakter Morfologi
Kacang bogor atau kacang bambara merupakan tanaman yang adaptif di wilayah indonesia. Kandungan gizi yang terdapat dalam kacang bogor menjadikan tanaman ini berpotensi sebagai pangan alternatif. Di Indonesia, kacang bambara kurang banyak diperhatikan atau diketahui oleh masyarakat sehingga produksinya di dalam negeri masih tergolong rendah. Selain itu, minimnya ketersediaan varietas unggul juga mempengaruhi rendahnya produktivitas kacang bambara yang dibudidayakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keragaman genetik tujuh galur harapan tanaman kacang bambara sebagai evaluasi adanya galur potensial yang mampu dikembangkan sebagai varietas unggul atau sebagai tetua dalam persilangan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Jambegede Balitkabi yang terletak di Jalan Pertanian No. 6, Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang pada Bulan Desember 2020 sampai Mei 2021. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Galur kacang bambara yang digunakan diantaranya PWBG 5.2.1, PWBG 6, SS 2.4.2, SS 3.4.2, BBL 1.1, CCC 1.6, TVSU 8.6. Nilai KVG didapatkan dengan kategori sedang pada karakter jumlah polong per tanaman, jumlah biji per polong, dan bobot polong per tanaman. Nilai heritabilitas tinggi didapat pada tinggi tanaman, jumlah polong per tanaman, panjang polong, bobot polong per tanaman, jumlah biji per polong, panjang biji, dan berat 100 biji. Pengelompokan tujuh galur kacang bambara membentuk dua klaster yaitu kelompok PWBG 6, BBL 1.1 dan kelompok PWBG 5.2.1, SS 3.4.2, CCC 1.6, TVSU 8.6, SS 2.4.2. Berdasarkan pada koefisien kemiripan, galur yang memiliki kekerabatan paling dekat yaitu galur CCC 1.6 dengan PWBG 5.2.1. Galur yang memiliki kekerabatan paling jauh yaitu galur PWBG 6 dengan SS 3.4.2
Kajian Kualitas Gula Cair Dari Tiga Varietas Singkong (Manihot esculenta Crantz)
Singkong merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas gula cair singkong dari tiga varietas. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pasca Panen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Laboratorium Pratama Chem-Mix Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan mengambil 3 jenis varietas singkong dengan pertimbangan ketiga varietas singkong tersebut mudah dijumpai dan ditanam oleh petani. Variabel yang diamati meliputi rendemen pati (%), kadar pati (%), analisis gula reduksi (%), dan uji organoleptik (warna, rasa, dan aroma). Uji jarak berganda Duncan dan sidik ragam digunakan untuk menganalisis data yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gula cair yang dihasilkan adalah varietas Melati (rendemen pati 22,83%, kadar pati 82,91%, gula reduksi 58,31%) dan varietas Mentega (rendemen pati 19%, kadar pati 85,75%, gula reduksi 59,96%) dengan rasa yang manis
Perkecambahan Biji Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dengan Variasi Konsentrasi Ekstrak Tomat (Solanum lycopersicum L.) dan Lama Waktu Perendaman
Buah naga dapat diperbanyak secara generatif menggunakan biji. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempercepat proses perkecambahan adalah dengan merendam biji menggunakan zat pengatur tumbuh (zpt). Ekstrak tomat merupakan zpt yang dapat mempercepat perkecambahan biji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak tomat dan lama waktu perendaman terhadap perkecambahan biji buah naga. Bahan yang digunakan pada penelitian ini, yaitu aquades, biji buah naga (Hylocereus polyrhizus), ekstrak buah tomat (Solanum lycopersicum L. var. intan). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu konsentrasi ekstrak tomat dan waktu perendaman. Faktor pertama, konsentrasi ekstrak tomat (T), yaitu terdiri dari Kontrol (T0), 4% (T1), 6% (T2), 8% (T3), dan 10% (T4). Faktor kedua lama perendaman (P), yaitu Kontrol (P0), 6 Jam (P1), 12 Jam (P2), 24 Jam (P3), 48 Jam (P4). Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Umum, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu perendaman 48 jam merupakan waktu terbaik pada parameter persentase perkecambahan (74,8%), waktu muncul kecambah (3,96 hst), dan panjang radikula (0,29 cm). Konsentrasi ekstrak tomat 10% merupakan konsentrasi terbaik pada parameter waktu muncul kecambah. Kombinasi konsentrasi ekstrak tomat dan lama waktu perendaman memberikan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan
Pengaruh Berbagai Konsentrasi Eco Enzyme dan Pinching Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Pacar Air (Impatiens hawkeri Bull) Pada Vertical Pipe
New Guinea Impatiens (Impatiens hawkeri Bull) is a plant with beautiful crown with a lot varieties of colors that has potentially used as an ornamental plant. Production is influenced by many factors such as knowledge about technologies in cultivation techniques. The cultivation techniques are being implementation a vertical system using paralon pipes and application of eco enzyme and pinching treatment. The aim of this research is to learn the interaction between application of various concentrations of eco enzyme and pinching methods on the growth and flowering of New Guinea Impatiens. The research was conducted from December 2021 to April 2022 at greenhouse on the experimental area of the Faculty of Agriculture, Brawijaya University, Jatimulyo Village, Lowokwaru District, Malang City, East Java. This research used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors and 3 repetition. The first factor is concentration of eco enzyme and the second factor is pinching treatment. Observations were made on plant growth and flower production. The data which is obtained from the observations were analyzed using ANOVA with the rate of 5%, if there is a significant effect, a further test using the Honest Significant Difference (HSD) with the rate of 5%. The results showed that there is significant interaction occurred in the application of eco enzyme and pinching treatment in all observation variables. The highest result of New Guinea Impatiens’s growth and flower production was obtained in the eco enzyme treatment with concentration of 10 ml.l-1 and double pinching. Number of flowers of New Guinea Impatiens in that treatment increased 2.95 times compared to without eco enzyme and without pinching. The time of flower appear of Impatiens hawkeri Bull showed a significant interaction with the application of eco enzyme with concentration of 5 ml.l-1 and double pinching treatment because the average time of flowers appear is 9.44 days slower than the treatment without eco enzyme and without pinching