Jurnal Produksi Tanaman
Not a member yet
1828 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jarak Tanam dan Defoliasi Terhadap Pembentukan Iklim Mikro dan Pertumbuhan serta Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata)
Tanaman jagung manis (Zea mays L. saccharata) merupakan komoditas pangan yang populer di Indonesia. Laju produksi tanaman jagung manis masih rendah di angka 6-8ton/ha. Penyebab rendahnya produksi tanaman ini adalah terjadinya mutual shading sehingga laju fotosintesis tanaman menjadi kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh defoliasi dan jarak tanam terhadap pembentukan iklim mikro, pertumbuhan dan hasil pada tanaman jagung manis varietas janisa dan untuk menentukan jenis defoliasi dan jarak tanam yang sesuai pada tanaman jagung manis varietas Janisa. Hipotesis dari penelitian adalah jarak tanam yang berbeda membutuhkan tingkat defoliasi yang berbeda untuk mendapatkan pembentukan iklim mikro dan pertumbuhan yang baik serta hasil yang tinggi pada tanaman jagung manis varietas Janisa. Penelitian dilakukan di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2022. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi terhadap 9 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan interaksi jarak tanam dan defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap luas daun, panjang tongkol dan diameter tongkol tetapi berpengaruh nyata pada pembentukan iklim mikro, dan hasil tanaman. Penggunaan jarak tanam 50cm x 35cm memberikan hasil panen per hektar sebesar 6,08ton ha-1 lebih tinggi 33,04% dibandingkan dengan jarak tanam 70cm x 35cm dengan hasil 4,57ton ha-1. Defoliasi bunga jantan dan 2 daun bendera serta defoliasi 2 daun bawah dapat meningkatkan penerimaan cahaya matahari pada bagian tengah tanaman jagung manis varietas Janisa, tetapi tidak dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil dari tanaman jagung manis varietas Janisa
Pengaruh Konsentrasi Mutagen Etil Metan Sulfonat (EMS) Dan Asam Giberelat (GA3) Terhadap Induksi Tunas Aglaonema Widuri Secara In Vitro
widuri adalah tanaman hias dengan daya tarik utama terletak pada keindahan daunnya dan termasuk tanaman hias yang secara komersial sangat prospektif dikembangkan. Akan tetapi, tanaman aglaonema ini memiliki kendala terkait pertumbuhan yang lambat. Oleh sebab itu, dilakukan perbanyakan melalui bioteknologi seperti kultur jaringan yang dipadukan dengan teknik mutasi agar mendapatkan tanaman yang tumbuh cepat, seragam dan bernilai tinggi. Untuk itu dikombinasikan bahan EMS karena terbukti dapat menyebabkan terjadinya mutasi titik dan bahan GA3 yang dapat meregenerasi tunas secara in vitro sehingga diperoleh kombinasi dengan konsentrasi terbaik dalam menginduksi variegata dan mengetahui heritabilitas keragaman dan pertumbuhan tanaman variegata aglaonema widuri. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap 2 Faktorial dengan faktor pertama yaitu EMS dengan konsentrasi (0%, 0.3%, 0.6%, 0,9) dan Faktor kedua yaitu GA3 dengan konsentrasi (0 ppm, 15 ppm, 30 ppm, 45 ppm) sehingga di peroleh hasil bahwa perlakuan yang memberikan data kecepatan tumbuh tunas, panjang tunas, banyak tunas yang paling baik adalah perlakuan E2G2 meliputi perlakuan EMS (E2) 0,6 % dan Konsentrasi GA3 (G2) 25 ppm. Selain itu, pada tahap analisis regresi semua variabel memiliki pengaruh terhadap variabel lain yang diamati, dan hasil analisis korelasi mengarah ke positif. Kemudian untuk hasil analisis nilai heritabilitas setiap variabel memiliki nilai heritabilitas yang tinggi, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pertumbuhan dan arah variegata dari setiap karakter, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik dibandingkan dengan faktor lingkungan. Olehnya, terdapat interaksi yang nyata berbagai konsentrasi perlakuan terhadap parameter yang di amati
Pengendalian Gulma Pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Melalui Penerapan Penyiangan dan Populasi Itik
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan, namun di Indonesia produktivitasnya masih rendah dan tidak stabil. Hal tersebut disebabkan oleh gulma yang menjadikan menurunnya produktivitas padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengendalian gulma yang berbeda yakni penyiangan dan integrasi padi-itik terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukoharjo, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada bulan Juni sampai Oktober 2022. Disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan yang terdiri dari A1 = bergulma; A2 = penyiangan sebanyak 2 kali; A3 = penyiangan sebanyak 3 kali; A4 = populasi 1 ekor itik per 20 ; A5 = populasi 2 ekor itik per 20 ; A6 = populasi 3 ekor itik per 20 . Data yang terkumpul dari hasil penelitian ditabulasi dengan Microsoft Excel, lalu dianalisis dengan menggunakan tabel Sidik Ragam (ANOVA) dan di uji lanjut menggunakan Uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan populasi itik sebanyak 3 ekor per 20 m2 menghasilkan pertumbuhan dan hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan populasi itik sebanyak 1 ekor per 20 m2 dan populasi itik sebanyak 2 ekor per 20 m
Respon Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) terhadap Berbagai Kombinasi Sumber Nitrogen dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)
ABSTRAK
Bawang merah (Allium ascalonicum L.)merupakan tanaman hortikultura yang dibutuhkan masyarakat Indonesia sebagai bumbu pelengkap masakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi dosis pupuk N anorganik, pupuk organik kotoran sapi, dan PGPR yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2023 di Desa Mlorah, KecamatanRejoso, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 9 perlakuan dan 3 kali ulangan, meliputi : P0 {150 kg N Urea + 50 kg N ZA}, P1 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 2,5 ton.ha-1 + PGPR 5 ml.l-1}, P2 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 5 ton.ha-1 + PGPR 5 ml.l-1}, P3 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 2,5 ton.ha-1 + PGPR 10 ml.l-1}, P4 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 5 ton. ha-1 + PGPR 10 ml.l-1}, P5 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 2,5 ton.ha-1 + PGPR 15 ml.l-1}, P6 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 5 ton.ha-1 + PGPR 15 ml.l-1}, P7 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 2,5 ton.ha-1+ PGPR 20 ml.l-1}, P8 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Pupuk organik kotoran sapi 5 ton.ha-1 + PGPR 20 ml.l-1}. Hasil penelitian menunjukkanbahwa P7 memiliki pengaruh yang tidakberbeda nyata dengan P8. Kedua perlakuan inidapat mengurangi penggunaan pupukanorganik dan menunjukkan hasil yang lebih tinggi pada seluruh variabel pengamatan.Kombinasi dosis P7 menghasilkan bobot kering umbi sebesar 12,47 ton.ha-1 lebih tinggi 69% dan berbeda nyata dibandingkan dengan dosis P0 yang menghasilkan bobot kering umbi sebesar 7,37 ton.ha-1.
Kata Kunci: Bawang Merah; Pertumbuhan; PGPR; Pupuk Organik
ABSTRACT
Shallot (Allium ascalonicum L.) is a horticultural crop that is needed by Indonesian people as a complementary seasoning for food. This research was carried out using a Randomized Block Design consisting of 9 treatments and 3 replications, including: P0 {150 kg N Urea + 50 kg N ZA}, P1 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 2,5 ton.ha-1 + PGPR 5 ml.l-1}, P2 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 5 ton.ha-1 + PGPR 5 ml.l-1}, P3 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 2,5 ton.ha-1 + PGPR 10 ml.l-1}, P4 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 5 ton. ha-1 + PGPR 10 ml.l-1}, P5 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 2,5 ton.ha-1 + PGPR 15 ml.l-1}, P6 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 5 ton.ha-1 + PGPR 15 ml.l-1}, P7 {112,5 kg N Urea + 37,5 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 2,5 ton.ha-1 + PGPR 20 ml.l-1}, P8 {75 kg N Urea + 25 kg N ZA + Cow dung organic fertilizer 5 ton.ha-1 + PGPR 20 ml.l-1}. The results of the research showed that P7 has an effect which was not significantly different from the combination of P8. Both of these treatments can reduce the use of inorganic fertilizer and showed higher results in all observed variables. The combined dose of P7 produced a tuber dry weight of 12.47 tons. ha-1 so that it is 69% higher and significantly different compared to the dose of P0 which produces a tuber dry weight of 7.37 tons. ha-1.
Keywords : Growth; Organic Fertilizer; PGPR; Shallots
 
Observasi Hasil Persilangan Intraspesifik dan Interspesifik pada Beberapa Galur Labu
Labu merupakan tanaman penting di Indonesia. Pembuatan keragaman dalam rangka pembentukan varietas unggul dapat dilakukan dengan persilangan intraspesifik maupun interspesifik. Namun, sering kali timbul permasalahan pada rekombinasi gen dalam persilangan interspesifik. Penelitian ini bertujuan mempelajari kompatibilitas persilangan intraspesifik dan persilangan interspesifik pada beberapa galur labu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2022 - February 2023 di green house CV. Blue Akari Kel. Dadaprejo Kec. Junrejo, Kota Batu. Bahan tanam yang digunakan dalam penelitian ini ialah 3 galur inbrida jantan generasi S2, yaitu C. moschata(T44), C. maxima (KJ17), dan C. maxima(JP70). Galur betina yang digunakan adalah 5 galur inbrida C. moschata (T30 dan T45), C. maxima (H59, KJ19, dan KJ24) generasi S2. Penelitian ini menggunakan rancangan perkawinan Line x Tester. Hasil menunjukkan semua galur betina self-compatible. Persilangan Intraspesifik dan Interspesifik pada C. moschatadan C. maxima memiliki tingkat kompatibilitas yang bervariasi. Perbedaan perlakuan menunjukkan adanya pengaruh perlakuan penyerbukan terhadap karakter bobot buah dan bobot 100 biji
Distribusi Warna Polong Ungu Pada 6 Varietas Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth)
Kacang panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) merupakan salah satu produk hasil pertanian yang banyak digemari karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kacang panjang yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat pada umumnya memiliki warna polong hijau. Saat ini terdapat varietas kacang panjang berpolong ungu yang sudah mulai dikembangkan di Indonesia. Adanya keragaman genetik berarti terdapat variasi nilai genotipe antar individu dalam suatu populasi. Kacang panjang berpolong ungu merupakan salah satu hasil rakitan dari varietas-varietas unggul yang memiliki produktivitas tinggi dan memiliki manfaat lain bagi kesehatan manusia. Warna ini merupakan hasil perbaikan potensi dan kualitas hasil yang diharapkan dapat menjadi varietas yang unggul. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang distribusi warna polong ungu pada 6 varietas kacang panjang. Penelitian ini dilakukan dengan metode single plot tanpa ulangan yang terdiri dari 6 varietas kacang panjang ungu. Pengamatan dilakukan secara single plant pada 100 tanaman. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai April 2020, di Agro-Techno Park Universitas Brawijaya Jatikerto. Hasil penelitian ini menunjukkan pada varietas Brawijaya Ungu 1 terdapat hasil yang berdistribusi normal pada karakter warna polong, namun tidak terdistribusi normal pada karakter warna batang dan warna bunga. Sedangkan pada varietas Brawijaya Ungu 2, Brawijaya Ungu 3, Brawijaya Ungu 4, Brawijaya Ungu 5, dan Brawijaya Ungu 6 tidak terdapat hasil yang berdistribusi normal pada karakter warna batang, warna bunga, dan warna polong
Pengaruh Penambahan Kalium dan Konsentrasi Giberelin terhadap Pertumbuhan dan Hasil Melon (Cucumis melo L.) Sistem Hidroponik
Melon merupakan salah satu komoditas buah-buahan semusim yang digemari oleh masyarakat karena mempunyai banyak keunggulan pada rasanya yang enak. Namun produktivitas buah melon di indonesia dari tahun 2017-2019 mengalami hasil panen yang naik turun. Demi meningkatkan produktivitas buah melon agar optimum diperlukan teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan hasil dan kualitas buah melon. Diperlukan budidaya dengan sistem hidroponik untuk meningkatkan hasil tanaman melon dengan penambahan Kalium dan Giberelin. Kalium dapat meningkatkan kualitas buah melon dan Giberelin berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman dan perkembangan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi antara penambahan Kalium dan Giberelin dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas buah Melon. Penelitian ini telah dilaksanakan di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya mulai November 2020-Maret 2021. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT). Perlakuan konsentrasi Kalium pada pupuk KNO3 ditempatkan di petak utama. Sedangkan perlakuan konsentrasi Giberelin ditempatkan pada anak petak. Hasil Penelitian menunjukan perlakuan penambahan Kalium berpengaruh terhadap variabel tebal daging buah melon yang dipengaruhi oleh Giberelin. Penambahan KNO3 menunjukan pengaruh yang berbeda nyata pada variabel luas daun, berat kering tanaman, berat buah, diameter buah dan kemanisan buah melon. Sedangkan perlakuan Giberelin juga menunjukan hasil yang berbeda nyata pada variabel luas daun, berat kering tanaman dan diameter buah melon. Perlakuan Giberelin dengan konsentrasi 60 ppm mampu menghasilkan berat buah melon tertinggi
Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh GA3 Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Pada Hidroponik Sistem Deep Flow Technique
Pada budidaya hidroponik, transplanting menentukan hasil akhir suatu budidaya. Apabila tanaman terlambat untuk dipindahtanamankan ke instalasi, pertumbuhannya tidak dapat maksimal. Salah satu cara untuk menjaga produksi pada umur pindah tanam yang tidak sesuai yaitu dengan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) yaitu gibberelin. Tujuan penelitian mempelajari pengaruh pemberian ZPT GA3 pada berbagai umur bibit tanaman pakcoy. Penelitian dilakukan di Sehati Farm Kota Batang, Jawa Tengah pada bulan April hingga Juni 2022. Penelitian merupakan percobaan faktorial yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi GA3 dengan 3 taraf yaitu Z1 = Tanpa GA3, Z2 = 50 ppm, dan Z3 = 100 ppm. Faktor kedua adalah umur bibit dengan 4 taraf yaitu U1 = 3 HSS, U2 = 5 HSS, U3 = 7 HSS, dan U4 = 9 HSS. Variabel yang diamati meliputi panjang tanaman, jumlah daun, luas daun per tanaman, bobot segar per tanaman, bobot konsumsi per tanaman, bobot bagian bawah per tanaman, diameter bonggol, dan shoot root rasio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang terlambat dipindahtanamkan yaitu 7 HSS dapat menghasilkan bobot konsumsi per tanaman yang baik apabila ditambah GA3 konsentrasi 100 ppm (159,59 g.tan-1). Sedangkan pada bobot segar per tanaman, umur bibit yang terlambat dipindahtanamkan yaitu 7 HSS menghasilkan bobot segar per tanaman yang baik jika diberi GA3 50 ppm (143,39 g.tan-1) dan 100 ppm (187,2 g.tan-1). Hasil bobot segar per tanaman dan bobot konsumsi per tanaman terbaik pada umur bibit 3 HSS dan 5 HSS yang diberikan GA3 50 ppm dan 100 ppm
Eksplorasi Plasma Nutfah Markisa (Passiflora sp.) Di Kecamatan Tombolo Pao dan Tompobulu Gowa Sulawesi Selatan
Tanaman markisa (Passiflora sp.) merupakan salah satu jenis tanaman buah-buahan yang berasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia pada abad ke-19. Tanaman markisa banyak dibudidayakan di Indonesia sebab kondisi lingkungan memiliki kemiripan dengan daerah asal markisa. Eksplorasi plasma nutfah merupakan kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui informasi awal pada suatu tanaman dengan melakukan karakterisasi morfologi. Kecamatan Tombolo Pao dan Tompobulu merupakan kecamatan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang menjadi sentra budidaya tanaman markisa, namun saat ini data menunjukkan terdapat penurunan produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari keberadaan tanaman markisa manis dan markisa asam di Kecamatan Tombolo Pao dan Tompobulu, Kabupaten Gowa serta mempelajari perbedaan tanaman markisa manis dan markisa asam di Kecamatan Tombolo Pao dan Tompobulu. Data penunjang penelitian diperoleh dari jawaban responden atas kuisioner dan deskripsi tanaman berdasarkan deskriptor markisa dari UPOV. Data dianalisis menggunakan software PAST versi 3 dan software R-package. Hasil penelitian didapatkan 7 jenis tanaman markisa berdasarkan warna buah kemudian dilakukan karakterisasi dengan melihat 17 karakter morfologi markisa. Berdasarkan dendogram similaritas sampel tanaman markisa yang didapatkan terbagi menjadi 2 klaster utama. Klaster pertama dengan nilai koefisien perbedaan sebesar 65% yang terdiri dari 4 jenis markisa yaitu markisa lokal kanreapia, markisa ungu kehitaman, markisa ungu terang dan markisa lokal rappolemba. Klaster kedua dengan nilai koefisien perbedaan sebesar 69% terdiri dari 3 jenis markisa yaitu markisa merah, markisa ungu dan markisa kuning
Studi Intensitas Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produktivitas Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)
Ubi jalar merupakan komoditas pangan yang penting bagi kehidupan manusia khususnya masyarakat Indonesia. Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang berpotensi sebagai pengganti beras karena efisien dalam menghasilkan energi. Produksi tanaman ubi jalar di Kabupaten Malang mengalami penurunan setiap tahunnya dari 2018 hingga 2021 sebesar 10.694 ton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas curah hujan dan hari hujan terhadap produktivitas tanaman ubi jalar di Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2022 dengan metode survei di Kabupaten Malang, yang dilaksanakan di tiga tempat yaitu Kecamatan Pakis, Kecamatan Jabung dan Kecamatan Ngajum. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer berupa data wawancara sedangkan data sekunder berupa data iklim seperti intensitas curah hujan, hari hujan, bulan basah dan bulan kering serta data produktivitas ubi jalar di Kecamatan Pakis, Jabung dan Ngajum selama 11 tahun dari 2011-2021. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi antara intensitas curah hujan, hari hujan, bulan basah, dan bulan kering terhadap produktivitas tanaman ubi jalar di Kabupaten Malang dan apabila ada hubungan maka dilanjutkan dengan uji regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga lokasi sentra produksi ubi jalar (Pakis, Jabung dan Ngajum) terdapat korelasi positif dan negatif antara unsur iklim (intensitas curah hujan, hari hujan, bulan basah dan bulan kering) terhadap produktivitas ubi jalar. Hari hujan dan bulan basah berkorelasi positif sedangkan intensitas curah hujan berkorelasi negatif, bulan kering tidak berkorelasi di Kecamatan Ngajum sedangkan dua kecamatan yang lain tidak berkorelasi terhadap intensitas curah hujan, hari hujan, bulan basah dan bulan kering terhadap produktivitas tanaman ubi jala