TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
    225 research outputs found

    Enculturated Education for Strengthening Character Education in Preventing Intolerance and Radicalism

    No full text
    AbstractIntolerance and extremism have recently increased in the academic atmosphere or among students. The purpose of this study was to discover the origins of intolerance and radicalism among students, identify the core cause of educational problems, and examine the role of cultural education in building the character of Indonesian students. The Delphi approach was used to assess data gathered from a variety of expert informants. The study\u27s findings revealed four significant causes of intolerance and radicalization: personal factors, education, economic-social-political-cultural issues, and a lack of religious comprehension. The study also found that religious education is less in-depth, with less reading, weak persuasive logic, and a focus on binary truth. Cultural education begins with establishing superior national identity through the Pancasila character ("gotong-royong" or cooperation, empathy, and good critical-thinking abilities); fosters the habit of reading texts critically and comprehensively. Both serve as the foundation for pupils\u27 capacity to solve complex challenges. This study makes recommendations for promoting pupils\u27 religious belief in God and tolerance values. Intoleransi dan ekstremisme akhir-akhir ini meningkat di lingkungan akademik atau di kalangan mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui asal mula intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa, mengidentifikasi inti penyebab masalah pendidikan, dan mengkaji peran pendidikan budaya dalam membangun karakter siswa Indonesia. Pendekatan Delphi digunakan untuk menilai data yang dikumpulkan dari berbagai informan ahli. Temuan penelitian mengungkapkan empat penyebab signifikan intoleransi dan radikalisasi: faktor pribadi, pendidikan, masalah ekonomi-sosial-politik-budaya, dan kurangnya pemahaman agama. Studi tersebut juga menemukan bahwa pendidikan agama kurang mendalam, dengan bacaan yang kurang, logika persuasif yang lemah, dan fokus pada kebenaran biner. Pendidikan budaya diawali dengan pembentukan jati diri bangsa yang unggul melalui karakter Pancasila (“gotong-royong” atau kerjasama, empati, dan kemampuan berpikir kritis yang baik); menumbuhkan kebiasaan membaca teks secara kritis dan komprehensif. Keduanya berfungsi sebagai dasar bagi kapasitas siswa untuk memecahkan tantangan yang kompleks. Kajian ini memberikan rekomendasi untuk mempromosikan keyakinan agama siswa kepada Tuhan dan nilai-nilai toleransi.How to Cite: Cardinale, P., Rofi’I, M. S., Samputra, P. L., Achdiawan,  R. (2021). Enculturated Education for Strengthening Character Education in Preventing Intolerance and Radicalism. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(1), 20-43. doi:10.15408/tjems.v8i1.20359

    Plural Conceptions of Integration of Science and Religion

    No full text
    AbstractAlong with the transformation of Islamic higher educations into full-fledged universities, the concept of integration of science and religion is their key characteristic. Indonesian education has witnessed the dynamic and development of paradigm, concept, and metaphor for Islamic university’s science integration. Many studies dealing with the paradigm and concept of science integration and its implementation in curriculum design and learning process have been conducted but tend to focus on the monolithic understanding of each university. By distancing itself from the general trend, this study attempted to analyze the plural conceptions of science integration and factors affecting the plural conceptions at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. To achieve the goal, we employed a mixed method of quantitative and qualitative approach with questionnaires distributed to the sample of 147 lecturers, focus group discussion with 25 participants, and library studies. The study found three types of conceptions have developed and co-existed at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, namely official conception, senior academia’s conception, and general lecturers\u27 conception. Each has its formulation and emphasis, although they share some similarities. The study also revealed the institutional factor as context and individual factors, mainly experience and expertise, resulting in the plural conceptions of science integration. Thus, the concept of science integration at an Islamic university should be considered as a dynamic and plural entity.AbstrakSeiring dengan transformasi perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi universitas penuh, konsep integrasi ilmu dan agama menjadi karakteristik utamanya, dan pendidikan Indonesia telah menyaksikan dinamika dan pengembangan paradigma, konsep, dan metafora integrasi ilmu di universitas-universitas Islam tersebut. Banyak penelitian yang berhubungan dengan paradigma dan konsep integrasi ilmu serta implementasinya dalam desain kurikulum dan proses pembelajaran telah dilakukan, tetapi penelitian-penelitian tersebut cenderung berfokus pada pemahaman monolitik dari masing-masing universitas. Berbeda dengan itu semua, penelitian ini berusaha menganalisis beragam konsepsi tentang integrasi ilmu dan agama dan faktor-faktor yang mempengaruhi beragam konsepsi tersebut di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kami menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif dengan teknik kuesioner yang disebarkan kepada 147 responden, Focus Group Discussion dengan 25 partisipan, dan studi kepustakaan. Studi ini menemukan bahwa tiga jenis konsepsi telah berkembang dan hidup berdampingan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu konsepsi resmi, konsepsi akademisi senior, dan konsepsi dosen umum. Masing-masing memiliki rumusan dan penekanan sendiri meskipun mereka memiliki beberapa kesamaan. Studi ini juga mengungkapkan faktor kelembagaan sebagai konteks dan faktor individu terutama pengalaman dan keahlian yang mempengaruhi beragam konsepsi integrasi ilmu. Dengan demikian, konsep integrasi ilmu di universitas Islam harus dipahami sebagai entitas yang dinamis dan beragam. How to Cite:  Zulkifli, Nurhayati, C., Ruswandi, B., Suralaga, F. (2020).  Plural Conceptions of Integration of Science and Religion. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7(2), 142-157. doi:10.15408/tjems.v7i2.18991

    A Comparison of Muslim Millennial Students\u27 Religiousity at Islamic and Non-Faith Based Universities

    No full text
    AbstractThe purpose of this study was to assess the influence of learning in a higher education institution and the type of institution, on the religiosity of Muslim Millennial students in Indonesia. In this study, religiosity is defined using an Islamic theoretical framework and divided into two sub-variables: hablumminallah and hablumminannas behavior, which serve as dependent variables hablumminallah behavior also serve as an intervening variable. Thus, this work used the Structural Equation Modeling technique using 292 samples to analyze direct and indirect influences. The findings indicated that higher educational institutions directly affect the habluminallah behavior, but not on the habluminannas behavior. While this has an indirect effect on hablumminannas behavior, it is mediated by hablumminallah behavior. It suggests that the level of students\u27 hablumminallah behavior, which is high, makes the higher educational institutions potentially affect the students\u27 hablumminannas too. Moreover, this study used the One-way Anova test to determine whether there are differences in the socio-religious milieu and student religiosity of Islamic and non-faith-based universities. The findings indicate that religious facilities are superior in non-faith-based universities to those in Islamic universities, whereas Islamic subject professors\u27 roles and management support are identical. , there is no difference in the behavior of hablumminallah and hablumminannas students. This shows that if a university provides adequate religious facilities, both Islamic and non-faith-based universities will encourage students\u27 religiosity similarly. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perguruan tinggi terhadap religiusitas mahasiswa muslim milenial di Indonesia. Penelitian ini menggunakan kerangka teori dengan pendekatan Islami dimana religiusitas terbentuk dari dua sub variabel yaitu perilaku habluminallah dan hablumminannas sebagai variabel terikat, dimana perilaku hablumminallah juga sebagai variabel antara. Karenanya, untuk dapat menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung, penelitian ini menggunakan teknik Structural Equation Modelling dengan 292 sampel. data. Hasilnya menunjukkan bahwa secara langsung, perguruan tinggi hanya mempengaruhi perilaku habumminallah mahasiswa, namun tidak perilaku hablumminannasnya. Sedangkan secara tidak langsung, perguruan tinggi mampu mempengaruhi perilaku hablumminannas mahasiswanya yang dimediasi oleh perilaku hablumminallahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perilaku hablumminallah mahasiswa yang tinggi, menjadikan perguruan tinggi berpotensi mempengaruhi perilaku hablumminanas mahasiswanya pula. Penelitian ini juga melakukan uji One-way Anova untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan kondisi sosial keagamaan di lingkungan kampus dan perilaku religius mahasiswa di universitas Islam dengan di universitas Umum. Hasilnya menunjukkan bahwa fasilitas keagamaan di universitas Umum lebih tinggi dibandingkan universitas Islam. Yang mengejutkan, tidak terdapat perbedaan perilaku habluminallah maupun hablumminannas antara mahasiswa universitas Islam dengan Umum. Hal ini mengimplikasin bahwa, jika fasilitas keagamaan di lingkungan universitas memadai, maka baik universitas Islam maupun Umum akan efektif mempengaruhi religiusitas mahasiswanya.How to Cite: Suzanawaty, L., Aisyah, M., Umiyati. (2021). A Comparison of Muslim Millennial Students\u27 Religiousity at Islamic and Non-Faith Based Universities. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(1), 44-56. doi:10.15408/tjems.v8i1.19210

    Students’ Responses to Adapted Online Tahsin Quran Learning during the COVID-19 Pandemic

    No full text
    AbstractTahsin Quran is a method of learning to read the Quran that strives to increase the reader\u27s ability to adhere to the guidelines established (tajwid). In tahsin Quran learning, teachers must pay close attention to students\u27 letter pronunciation in the Quran, ideally face-to-face or in sync. However, the COVID-19 pandemic has necessitated online learning, requiring some alterations to its application. The purpose of this study was to determine how students respond to online Quran learning conducted virtually in one of South Tangerang\u27s Quran learning facilities. Students are given questionnaires about instructor competencies, the substance of learning materials, and the efficiency of tahsin online learning, which are reinforced by an interview with one of the teachers, an institution member, and students. The results indicated that, based on student answers, the institution\u27s implementation of tahsin Quran online learning has been highly successful, with some notes and inputs to consider to improve the quality of Quran online learning in the future.AbstrakTahsin Al-Qur’an merupakan pembelajaran membaca Al-Qur’an yang bertujuan untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan kaidah (tajwid) yang ditetapkan. Dalam pembelajaran tahsin Al-Qur’an, guru atau instruktur perlu memperhatikan ketepatan tiap siswanya dalam melafalkan huruf dalam Al-Qur’an sehingga pembelajaran idealnya dilakukan secara tatap muka atau sinkron. Namun pandemi COVID-19 mengharuskan pembelajaran dilaksanakan secara daring sehingga membutuhkan beberapa penyesuaian dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana respon siswa pembelajaran tahsin Al-Qur’an online yang dilaksanakan secara virtual di salah satu lembaga pembelajaran Al-Qur’an di Tangerang Selatan. Kuesioner mengenai kemampuan guru, isi materi pembelajaran, dan efektifitas pembelajaran tahsin yang dilaksanakan secara online diberikan kepada siswa yang kemudian hasilnya dilengkapi dengan hasil wawancara kepada salah satu guru, pihak lembaga, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan respon siswa pembelajaran tahsin Al-Qur’an online yang dilaksanakan di lembaga tersebut telah berjalan sangat baik dengan beberapa catatan dan masukan yang perlu diperhatikan untuk peningkatan kualitas pembelajaran tahsin Al-Qur’an daring yang akan datang.How to Cite: Shabrina, R., Chaeruman, U. A., Tarjiah, I. (2021). Students’ Responses to Adapted Online Tahsin Quran Learning during the COVID-19 Pandemic. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(1), 57-65. doi:10.15408/tjems.v8i1.21715

    English as a Foreign Language (EFL) Student Teachers\u27 Readiness to Deal with Online Learning During the Covid-19 Pandemic

    No full text
    AbstractThe COVID-19 pandemic has forced all teachers to deliver online teaching and learning whether they are ready or not. Some studies have reported that many teachers face many challenges in delivering online classrooms. Hence, it is logical to assume that student teachers are likely to face even a more complex situation dealing with this issue. Unlike in-service teachers, for student teachers, they lack experience in both face-to-face and online learning. Therefore, this study attempts to report the readiness of English as a Foreign Language (EFL) student teachers and the kinds of digital competencies they need to be ready to teach English with digital technology using a quantitative approach. There were 60 respondents who participated using convenience sampling, from an Islamic university in Bogor, Indonesia. Using the TESOL Technology Standards for Teachers and Technology Acceptance Model (TAM) theory, a questionnaire consisting of 50 items was written in \u27yes\u27 and \u27no\u27 questions. The findings of the study show that most respondents possess adequate basic digital skills to teach digital technology. However, they need to learn various digital technology that more effectively supports language instructions.The respondents also indicate acceptance of the utilization of technology and are willing to integrate it into their future classrooms. This study implies the need to include technology in the curriculum of the English Education Department.AbstrakPandemi COVID-19 telah memaksa semua guru untuk melaksanakan belajar mengajar secara online baik siap atau tidak. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa banyak guru menghadapi banyak tantangan dalam memberikan ruang kelas online. Oleh karena itu, masuk akal untuk mengasumsikan bahwa siswa guru cenderung menghadapi situasi yang lebih kompleks dalam menangani masalah ini. Tidak seperti guru yang sudah mengajar, mahasiswa, kurang pengalaman dalam pembelajaran tatap muka dan online. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba melaporkan kesiapan siswa guru Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) dan jenis kompetensi digital yang mereka butuhkan untuk siap mengajar Bahasa Inggris dengan teknologi digital menggunakan pendekatan kuantitatif. Ada 60 responden yang berpartisipasi menggunakan convenience sampling, dari sebuah universitas Islam di Bogor, Indonesia. Menggunakan teori TESOL Technology Standards for Teachers and Technology Acceptance Model (TAM), kuesioner yang terdiri dari 50 item ditulis dengan pertanyaan \u27ya\u27 dan \u27tidak\u27. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki keterampilan digital dasar yang memadai untuk mengajarkan teknologi digital. Namun, mereka perlu mempelajari berbagai teknologi digital yang lebih efektif mendukung pengajaran bahasa. Responden juga menunjukkan penerimaan pemanfaatan teknologi dan bersedia mengintegrasikannya ke dalam kelas masa depan mereka. Studi ini menyiratkan perlunya memasukkan teknologi ke dalam kurikulum Departemen Pendidikan Bahasa Inggris. How to Cite: Sari, E.N.A., Azkiyah. S.N., Sumintono, B. (2021). English as a Foreign Language (EFL) Student Teachers\u27 Readiness to Deal with Online Learning During the Covid-19 Pandemic. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(2), 135-154. doi:10.15408/tjems.v8i2.23324

    Strengthening Children\u27s Religious Education Impact of the Covid-19 Pandemic Through Family Empowerment

    No full text
    AbstractThe purpose of this study is to analyze the extent to which the family has an important role in instilling and growing character values that exist in society through strengthening religion in children as a result of the Covid -19 pandemic. The research method used is a qualitative method with a religious approach. Data collection techniques using documentation techniques in the form of scientific journals and books written by competent authors. The study of data analysis used content analysis techniques. The findings of this study are the strategic position of the family, if properly prepared, will become a vital place for human development, especially in preparing human resources who have noble character qualities. On the contrary, it will be a source of disaster when religion in the family is ignored or does not get an adequate portion. This study contradicts the reinforcement theory of motivation proposed by B. F. Skinner but supports the theory of moral strengthening of Imam Al-Gazali. The conclusion of the study is that family empowerment can strengthen the practice of religion in children as a result of the  Covid-19 pandemic which is very strategic because it essentially aims to change individual behavior, knowledge, attitudes and values and skills.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai karakter yang ada di masyarakat melalui penguatan agama pada anak akibat pandemi Covid -19. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan religi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi berupa jurnal ilmiah dan buku-buku yang ditulis oleh penulis yang berkompeten. Kajian analisis data menggunakan teknik analisis isi. Temuan penelitian ini adalah posisi strategis keluarga, jika dipersiapkan dengan baik, akan menjadi tempat vital bagi pembangunan manusia, terutama dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kualitas akhlak mulia. Sebaliknya, akan menjadi sumber malapetaka ketika agama dalam keluarga diabaikan atau tidak mendapat porsi yang memadai. Penelitian ini bertentangan dengan teori penguatan motivasi yang dikemukakan oleh B. F. Skinner tetapi mendukung teori penguatan moral Imam Al-Gazali. Kesimpulan penelitian adalah pemberdayaan keluarga dapat memperkuat pengamalan agama pada anak akibat pandemi Covid-19 yang sangat strategis karena pada hakikatnya bertujuan untuk mengubah perilaku individu, pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan. How to Cite: Uksan, A. (2021). Strengthening Children\u27s Religious Education Impact of the Covid-19 Pandemic Through Family Empowerment. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(2), 212-2281. doi:10.15408/tjems.v8i2.25099

    Islamic Religious Education Study Program at UIN Syarif Hidayatullah and UIN Sunan Gunung Djati

    No full text
    AbstractThis study aimed to depict the educational process in the Islamic Religious Education Study Program (IRESP) at Islamic States Universities (UIN) of Jakarta and Bandung, such as the recruitment of students, educational process, and their graduates. This study was conducted with a qualitative approach. Data collection techniques used were document study, Focus Group Discussion (FGD), in-depth interviews, and observation. The study concluded: 1) IRESP’s student recruitment system did not produce students with ample basic competences as teacher candidates such as mastering Arabic, teaching materials, and reading and writing the Koran. The recruitment system also ignored the interests and talents of being a teacher. 2) The educational process of IRESP had not been maximized and effective, such as writing papers, Field Experience Program (Program Pengalaman Lapangan/PLP) 1 and 2, and peer teaching. Teaching practice of the students was still minimal. Besides, Teacher and Teaching Staff Training Institutions (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan/LPTK) did not have laboratory schools where the students can practice teaching. 3) Graduates of the Islamic Education Departments generally became honorary teachers even though they did not have teaching certificates. Public and private schools or madrasas recruited teachers without the requirement of teaching certificates. This was UIN’s reason for neither immediately designed a pre-service Teachers’ Professional Education (Pendidikan Profesi Guru/ PPG) curriculum nor carried out in-service PPG till now. 4) LPTK had already standard microteaching rooms, the lecturers of LPTK had met the minimum requirement, and learning had used an active approach.AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis proses pendidikan di Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Negeri Islam Jakarta (UIN) Jakarta dan Bandung, seperti perekrutan mahasiswa, proses pendidikan, dan lulusan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen, Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam, dan observasi. Studi ini menyimpulkan: 1) sistem rekrutmen mahasiswa PAI tidak menghasilkan mahasiswa dengan kompetensi dasar yang cukup sebagai kandidat guru seperti menguasai bahasa Arab, bahan ajar, dan membaca dan menulis Alquran. Sistem rekrutmen juga mengabaikan minat dan bakat menjadi seorang guru. 2) Proses pendidikan PAI belum maksimal dan efektif, seperti menulis makalah, Program Pengalaman Lapangan (PLP) 1 dan 2, dan peer teaching. Praktik mengajar mahasiswa masih minim. Selain itu, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak memiliki sekolah laboratorium tempat mahasiswa dapat berlatih mengajar. 3) Lulusan PAI umumnya menjadi guru meskipun mereka tidak memiliki sertifikat mengajar. Sekolah atau madrasah negeri dan swasta merekrut guru tanpa persyaratan sertifikat mengajar. Ini adalah alasan UIN tidak segera merancang kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG) pra-jabatan Guru atau melaksanakan PPG dalam jabatan sampai sekarang. 4) LPTK memiliki ruang microteaching yang sesuai standar, dosen LPTK telah memenuhi kualifikasi, dan pembelajaran menggunakan pendekatan aktif

    Development of E-Learning with Web Enhanced Course Model in Arabic Language Learning at UIN Syarif Hidayatullah

    No full text
    AbstractThe aim of this study was to develop the design of the e-learning concept through web-enhanced model for students at the Department of Arabic Education at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Research and Development (R&D) by using a 4-D model. The 4-D development model consists of four main stages, namely: Define, Design, Develop and Disseminate. Data were collected through interview and distribution of questionnaire. After that, data analysis process was conducted in the form of both qualitative and quantitative data analysis. The results of the study showed that the development of e-Learning in Arabic learning gave students a new experience / nuance in learning Arabic for 63.5%. In terms of human resources, there is still an assumption that the conventional learning model through face-to-face is still an easy means and at the same time pays attention to the emotional bond between educators and students. This study concludes that the use of e-Learning media is still new to learning Arabic, and therefore, literacy in digital media needs to be developed to make them more accustomed to using it. Moreover, there are still many shortcomings and complaints by students in using e-Learning media in Arabic learning, and therefore, it required lecturers to be more intensive in guiding them.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk pengembangan desain konsep e-learning dengan Model Web Enhanced pembelajaran bahasa Arab pada generasi Z yaitu Mahasiswa pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jenis penelitian yang digunakan yaitu dengan mengacu pada research and development (R&D) by using a 4-D model. Model pengembangan 4D terdiri atas 4 tahap utama yaitu: Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan) dan Disseminate (Penyebaran). Dan teknik pengumpulan data yang diterapkan dengan wawancara dan kuesioner. Adapuun Analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Hasil penelitian yang didapat bahwa pengembangan e-learning dalam pembelajaran bahasa arab memberikan mahasiswa pengalaman/nuansa baru dalam pembelajaran bahasa arab yakni sebesar 63.5%. Dari sisi sumber daya manusianya sendiri masih ada anggapan bahwa model pembelajaran konvensional melalui tatap muka masih menjadi sarana yang mudah dan sekaligus memperhatikan ikatan emosional antara pendidik dengan peserta didik. Kesimpulan pada penelitian ini adalah penggunaan media e-learning ini masih baru pada pembelajaran Bahasa Arab, tentunya literasi pada media digital perlu dikembangkan sehingga mahasiswa lebih terbiasa dalam menggunakannya. Masih banyak kekurangan dan keluhan oleh mahasiswa dalam menggunakan media e-learning dalam pembelajaran, sehingga mengharuskan dosen harus lebih intens lagi dalam membimbing mereka

    How the Asian and European Communities Accept Negative Numbers

    No full text
    AbstractThis research is based on several inquiries from mathematics educators on the origins of negative numbers and their acceptance in the community. This study used library research, or more precisely, bibliographical studies, as a method. The research examined how the Asian and European communities accept negative numbers. The study\u27s findings indicated that the Asian and European communities accept negative numbers differently. In comparison to the Asian population, the European populace takes a long time to accept negative figures. It resulted in numerous contrasts between the Asian and European Communities, one of which is in terms of religiosity. This study established that religiosity has an effect on the Asian and European communities\u27 acceptance of negative numbers.AbstrakPenelitian ini didasarkan pada beberapa pertanyaan dari pendidik matematika tentang asal-usul bilangan negatif dan penerimaannya di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan atau lebih tepatnya studi kepustakaan. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana masyarakat Asia dan Eropa menerima angka negatif. Temuan studi menunjukkan bahwa komunitas Asia dan Eropa menerima angka negatif secara berbeda. Dibandingkan dengan penduduk Asia, penduduk Eropa membutuhkan waktu lama untuk menerima angka negatif. Hal ini mengakibatkan banyak perbedaan antara Komunitas Asia dan Eropa, salah satunya dalam hal religiositas. Studi ini menetapkan bahwa religiusitas berpengaruh pada penerimaan masyarakat Asia dan Eropa terhadap angka negatif. How to Cite: Maryati, T. K., Aisah, K., Miftah, R. (2021). How the Asian and European Communities Accept Negative Numbers. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(2), 167-178. doi:10.15408/tjems.v8i2.25042

    Inclusive Education at Islamic and General Universities: An Analysis of Policies, Teaching Strategies, and Curriculum Implementation

    No full text
    AbstractThis study recruited participants from UIN Sunan Kalijaga and Universitas Sanata Dharma in Yogyakarta and the University of Sydney, and the University of Western Sydney in Australia and aimed at investigating whether policies are implemented as a bridge to accommodate disabled students for admission and academic pursuits. In this combined policy research and case study, individual, group, and policymaker interviews were conducted. The findings indicate that, while university policymakers admit students with special needs, a lack of academic advocates among faculty has hampered understanding of pertinent policies. As a result, some lecturers do not pay attention to inclusiveness. There are environmental impediments, a dearth of services throughout the enrollment process, a lack of faculty competencies, and a paucity of information in syllabi indicating where impaired students can access resources. In Australia, colleges are more forthright about accommodating students with special needs during the enrolling process and during class time. Both campuses have disability assessment clinics. However, some are more physically and centrally positioned to facilitate impaired students who self-refer for services. The purpose of this paper is to argue that genuinely inclusive education is not segregated schooling that separates \u27normal\u27 pupils from those with special needs. For authentic inclusion, disabled populations require considerate, if not extraordinary, care and services.  AbstrakPenelitian ini merekrut partisipan  di UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta serta University of Sydney dan University of Western Sydney di Australia dan bertujuan untuk investigasi apakah kebijakan sebagai sarana untuk mengakomodasi mahasiswa difabel pada proses pendaftaran dan pencapaian akademik. Penelitian kebijakan dan studi kasus ini dilakukan melalui serangkaian interview dengan individu, kelompok, pembuat kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun para pengambil kebijakan menjamin penerimaan mahasiswa dengan kebutuhan khusus, lemahnya dukungan para pengajar telah mengurangi perhatian penerapan kebijakan yang relevan. Akibatnya, beberapa pengajar kurang menaruh perhatian pada inklusivitas. Terdapat halangan lingkungan, kurangnya layanan selama proses pendaftaran dan kompetensi para pengajar, serta kurangnya petunjuk dalam silabus menjelaskan dimana mahasiswa difabel mengakses sumber-sumber yang diperlukan. Kampus-kampus di Sydney lebih transparan dalam memfasilitasi mahasiswa difabel selama proses pendaftaran dan kuliah. Terdapat banyak pusat layanan, beberapa secara struktural terpusat di kampus untuk diakses. Artikel ini berargumentasi bahwa pendidikan inklusif itu bukan sistem kelas yang memisahkan mahasiswa ‘normal’ dari yang berkebutuhan khusus. Untuk inklusi, mahasiswa difabel perlu digandeng dan mendapatkan pengajaran dan layanan yang memadai.How to Cite: Lessy, Z., Assegaf, A. R., Sirait, S. (2021). Inclusive Education at Faith-Based and Non-Faith Based Universities: A Policy, Teaching, and Curriculum Analysis. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 8(1), 1-15. doi:10.15408/tjems.v8i1.18992

    21

    full texts

    225

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇