TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
225 research outputs found
Sort by
Readiness of Study Programs in Achieving Superior Accreditation Ratings: An Analysis Using the CIPPO Evaluation Model
AbstractThis study explores the readiness of study programs to meet the nine-criteria policy set by the National Accreditation Agency for Higher Education (NAAHE/BAN-PT) in Indonesia and identifies strategies for achieving superior accreditation ratings. Using a qualitative case study approach, the research involved document analysis, observations, and in-depth interviews with fifteen key stakeholders. Data were analyzed through the CIPPO evaluation model. The findings reveal that: 1) the task force team meticulously prepared for the accreditation process across all stages; 2) effective coordination exists between university leaders, faculties, and study program teams; 3) accreditation criteria are clearly outlined with relevant and valid data; 4) all CIPPO elements are fulfilled, although student research integration remains suboptimal; 5) achieving superior accreditation enhances the university’s image and motivates further development in higher education, especially globally. Since the implementation of the nine-criteria policy in 2019, only one study program within the Ministry of Religion\u27s Islamic Religious Universities has achieved superior accreditation, highlighting the significant challenges faced. Continuous improvement of the tridharma of higher education and expand cooperation both nationally and internationally.AbstrakPenelitian ini menggali kesiapan program studi dalam memenuhi kebijakan sembilan kriteria yang ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) di Indonesia dan mengidentifikasi strategi untuk mencapai peringkat akreditasi unggul. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini melibatkan analisis dokumen, observasi, dan wawancara mendalam dengan lima belas pemangku kepentingan kunci. Data dianalisis menggunakan model evaluasi CIPPO. Temuan mengungkapkan bahwa: 1) tim task force mempersiapkan proses akreditasi dengan teliti di semua tahap; 2) terdapat koordinasi efektif antara pimpinan universitas, fakultas, dan tim program studi; 3) kriteria akreditasi dijelaskan dengan jelas dengan data yang relevan dan valid; 4) semua elemen CIPPO terpenuhi, meskipun integrasi penelitian mahasiswa masih kurang optimal; 5) pencapaian akreditasi unggul meningkatkan citra universitas dan memotivasi pengembangan pendidikan tinggi lebih lanjut, khususnya di tingkat global. Sejak implementasi kebijakan sembilan kriteria pada tahun 2019, hanya satu program studi di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama yang meraih akreditasi unggul, menyoroti tantangan signifikan yang dihadapi. Peningkatan kualitas tridharma perguruan tinggi dan memperluas kerja sama baik nasional maupun internasional. How to Cite: Asy\u27ari, H., Sukarti, D., Ratnaningsih, S., Azizah, N.R., (2023).Readiness of Study Programs in Achieving Superior Accreditation Ratings: An Analysis Using the CIPPO Evaluation Model. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(2), 237-250. doi:10.15408/tjems.v10i2.38392
Integration of Salaf Islamic Boarding School Education with Modern School Curriculum
AbstractThis study outlines the integration of salaf Islamic boarding school education with the public school curriculum (study of Islamic boarding schools in Cirebon). The discussion of the integration of education pesantren is managed in the traditional system, while madrasas and schools are managed by the conventional system. The existence of madrasahs and schools is a strategic step for pesantren in improving their education system. The presence of madrasahs and schools does not necessarily replace the traditional education system of pesantren, but complements it. Madrasahs and schools are managed with a modern system using the curriculum and always pay attention to strategic changes in responding to modernity. The framework method used in this article is field research, and the approach in this study uses a phenomenological approach and case studies with more emphasis on religious behavior. This type of research is a type of qualitative research. The results indicate that pesantren\u27s adaptation to changing times involves curriculum revisions and the establishment of educational institutions accommodating general education needs, emphasizing the importance of integration to create well-rounded individuals capable of excelling in both religious and general sciences. Penelitian ini menguraikan integrasi pendidikan pesantren Islam Salaf dengan kurikulum sekolah umum pada pesantren di Cirebon. Pembahasan tentang integrasi pendidikan pesantren dikelola dalam sistem tradisional, sementara madrasah dan sekolah dikelola oleh sistem konvensional. Keberadaan madrasah dan sekolah merupakan langkah strategis bagi pesantren dalam meningkatkan sistem pendidikannya. Keberadaan madrasah dan sekolah tidak selalu menggantikan sistem pendidikan tradisional pesantren, melainkan melengkapinya. Madrasah dan sekolah dikelola dengan sistem modern menggunakan kurikulum dan selalu memperhatikan perubahan strategis dalam merespons modernitas. Metode kerangka yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian lapangan, dan pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dan studi kasus dengan penekanan lebih pada perilaku keagamaan. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi pesantren terhadap perubahan zaman melibatkan revisi kurikulum dan pembentukan lembaga pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan pendidikan umum, menekankan pentingnya integrasi untuk menciptakan individu berkepribadian baik yang mampu unggul dalam ilmu agama dan umum.How to Cite: Zuhri, S., Syamsia, A. (2023). Integration of Salaf Islamic Boarding School Education with Modern School Curriculum. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(1), 103-116. doi:10.15408/tjems.v10i1. 35967.
The Construction Learning Model of Islamic Education in Society 5.0 and Its Relevance at Islamic Boarding Schools on Java Island
AbstractThe study aimed to determine the urgency of digitizing Islamic boarding school education in Society 5.0 and the effectiveness of the IT-based collaborative learning model on the creative thinking abilities of students in Islamic boarding schools on the island of Java. This mixed methods research method combines two previously existing forms of research, namely qualitative research and quantitative research. The population referred to in this research were all class X students in Islamic boarding schools on the island of Java, including Islamic boarding schools in Banten and Islamic boarding schools in East Java. The variables of this research are the IT-based collaborative learning model and creative thinking abilities. Based on the results of data analysis, it was concluded that 1) urgency digitizing Islamic boarding school education in Society 5.0 is one of the efforts that must be made for all Islamic boarding schools, especially Islamic boarding schools on the Island of Java; 2) Collaborative learning model was very effective for improving students\u27 creative thinking abilities. All aspects of creative thinking can be developed through IT-based collaborative learning in facing Society 5.0 in Islamic boarding schools on the island of Java.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menentukan urgensi digitalisasi pendidikan pesantren di dalam Masyarakat 5.0 dan efektivitas model pembelajaran kolaboratif berbasis IT terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa di pesantren di pulau Jawa. Metode penelitian campuran ini menggabungkan dua bentuk penelitian yang sebelumnya ada, yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X di pesantren di pulau Jawa, termasuk pesantren di Banten dan pesantren di Jawa Timur. Variabel penelitian ini adalah model pembelajaran kolaboratif berbasis IT dan kemampuan berpikir kreatif. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa 1) urgensi digitalisasi pendidikan pesantren di dalam Masyarakat 5.0 adalah salah satu upaya yang harus dilakukan untuk semua pesantren, khususnya pesantren di Pulau Jawa; 2) Model pembelajaran kolaboratif sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Semua aspek berpikir kreatif dapat dikembangkan melalui pembelajaran kolaboratif berbasis IT dalam menghadapi Masyarakat 5.0 di pesantren di pulau Jawa.How to Cite: Afif, N., Aziz, A., Mubin, F. (2023) The Construction Learning Model of Islamic Education in Society 5.0 and Its Relevance at Islamic Boarding Schools on Java Island. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(1), 69-84. doi:10.15408/tjems.v10i1. 35967
Traditional vs Online Games: Their Benefits for Young Learners
AbstractAs young learners like to learn in a fun atmosphere with engaging interactions, the present study argues that when children learn English as a foreign language, implementing games in teaching English can benefit young learners. The research was conducted following the library research method, where the content of the research from previous studies on English for young learners and the benefits of using games in teaching English for young learners were collected with the keywords "young learners", "traditional games", and "online games." The sources were selected from articles published in reputable international and accredited national journals from 2010-2022. The result of this study shows that two types of games can be chosen such as traditional and online games. The implementation of each type of game in teaching has strengths, weaknesses, and suggestions to improve the quality to help young learners learn. Overall, young learners will get more positive impacts due to the implementation of both traditional and online games. They can be recommended as strategies to teach English to young learners. AbstrakSebagai pembelajar muda yang suka belajar dalam suasana yang menyenangkan dengan interaksi yang menarik, penelitian ini berargumen bahwa ketika anak-anak belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, penggunaan permainan dalam pengajaran Bahasa Inggris dapat memberikan manfaat bagi pembelajar muda. Penelitian ini dilakukan mengikuti metode penelitian perpustakaan, di mana konten penelitian dari studi sebelumnya tentang Bahasa Inggris untuk pembelajar muda dan manfaat penggunaan permainan dalam pengajaran Bahasa Inggris untuk pembelajar muda dikumpulkan dengan kata kunci "pembelajar muda", "permainan tradisional", dan "permainan online". Sumber-sumber ini dipilih dari artikel yang diterbitkan dalam jurnal internasional terkemuka dan jurnal nasional yang terakreditasi dari tahun 2010-2022. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dua jenis permainan dapat dipilih, yaitu permainan tradisional dan permainan online. Implementasi setiap jenis permainan dalam pengajaran memiliki kelebihan, kelemahan, dan saran untuk meningkatkan kualitasnya agar membantu pembelajar muda belajar. Secara keseluruhan, pembelajar muda akan mendapatkan dampak positif lebih banyak karena penggunaan baik permainan tradisional maupun online. Kedua jenis permainan ini dapat direkomendasikan sebagai strategi untuk mengajar Bahasa Inggris kepada pembelajar muda.How to Cite: Suwastini, Ni Komang A., Radhaswati, I Dewa A. A., Jayantini, I Gusti A.S.R., Artini, Ni Nyoman. (2023). Traditional vs Online Games: Their Benefits for Young Learners. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(1), 13-38. doi:10.15408/tjems.v10i1.31329
Ex-Terrorist Motivation in Reeducation Program: Case Study of Terrorism Convicts in Indonesia
AbstractTerrorism is one of the extraordinary crimes, creating terror based on ideological differences and misinterpreting religious teaching. This research focuses on how the re-education program for terrorist convicts is carried out and what are the factors that influence a person to be involved in criminal acts of terrorism. The research uses qualitative methods within the exploratory, investigative approach. The participants of the research are 36 terrorism convicts who are still serving their sentences. The research found that the re-education program given to terrorism convicts centered on strengthening ideology related to strong religious values and nationalism spirit. The ideological aspect is the main point in the re-education program, this is because the ideological aspect is more permanent and effective. The terrorists were still dominated by males and members of JAD (Jamaah Anshorut Daulah). The background of the individuals is also varied, ranging from uneducated to bachelor or higher, unemployed to civil servants. The convicts who join a terrorist group have different reasons. However, several reasons generally stated by convicts involved in terrorist groups are a strong belief in a particular ideology or religion, hatred of certain groups or ideologies, and the urge to make radical changes in society. In addition, convicts may also be affected by factors such as poverty, injustice, and discrimination they experienced. The research also unveils that the convicts have regret for their previous acts. Therefore, the re-education program\u27s main role is to ensure the convicts are part of society once again.AbstrakTerorisme adalah salah satu kejahatan luar biasa yang menciptakan ketakutan berdasarkan perbedaan ideologi dan penafsiran yang salah terhadap ajaran agama. Penelitian ini berfokus pada bagaimana program reedukasi terhadap terorisme dijalankan dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi seseorang untuk terlibat dalam tindakan kriminal terorisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif dan investigatif. Peserta penelitian adalah 36 narapidana terorisme yang masih menjalani hukuman mereka. Penelitian menemukan bahwa program reedukasi yang diberikan kepada narapidana terorisme berpusat pada penguatan ideologi terkait nilai agama dan semangat berbangsa yang kuat. Aspek ideologis menjadi poin utama dalam program reedukasi, hal tersebut dikarenakan aspek ideologis lebih bersifat permanen dan efektif. Teroris masih didominasi oleh laki-laki dan anggota JAD (Jamaah Anshorut Daulah). Latar belakang individu-individu ini juga beragam, mulai dari yang tidak berpendidikan hingga sarjana atau lebih tinggi, dari pengangguran hingga pegawai negeri. Narapidana yang bergabung dengan kelompok teroris memiliki alasan yang berbeda. Namun, beberapa alasan yang umumnya dinyatakan oleh narapidana yang terlibat dalam kelompok teroris adalah keyakinan kuat pada ideologi atau agama tertentu, kebencian terhadap kelompok atau ideologi tertentu, dan dorongan untuk membuat perubahan radikal dalam masyarakat. Selain itu, narapidana juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang mereka alami. Penelitian juga mengungkapkan bahwa para narapidana menyesal atas tindakan mereka sebelumnya. Oleh karena itu, program reedukasi menjalankan peran utamanya untuk memastikan para narapidana kembali menjadi bagian dari masyarakat.How to Cite: Nisa,P.K., Mustofa, T. A., Albantani, A.M., Syafri, M. (2023). Ex-Terrorist Motivation in Reeducation Program: Case Study of Terrorism Convicts in Indonesia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(1), 69-86. doi:10.15408/tjems.v10i1.35047
Life and Career Skills in Mathematics Learning for High School Students in Indonesia: The Perspectives of Teachers and Students
AbstractStudents need to possess the right life and career skills to face future challenges. Therefore, this study aims to determine the effect of mathematics teachers\u27 life skills on high school students in Indonesia. Data were collected from 190 mathematics teachers and 627 high school students through questionnaires consisting of 15 and 45 statements, respectively. The data collected were analyzed using the Structural Equation Modeling (SEM) method and the Smart-PLS v.3.2.9 software. The results showed that both mathematics teachers (77.50%) and high school students (83%) had a good understanding of life and career skills. However, their life skills were rated low due to teachers\u27 difficulty in translating life and career skills into planning and implementing mathematics learning. This means that the methods used by teachers do not explore students\u27 potential. Furthermore, the correlation between indicators of student life skills was found to be in the medium and large categories, indicating a significant relationship between the indicators of student life skills.AbstrakPara Siswa perlu memiliki keterampilan hidup dan karier yang tepat untuk menghadapi tantangan masa depan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh keterampilan hidup guru matematika terhadap siswa SMA di Indonesia. Data dikumpulkan dari 190 guru matematika dan 627 siswa SMA melalui kuesioner yang terdiri dari 15 dan 45 pernyataan, masing-masing. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dan perangkat lunak Smart-PLS v.3.2.9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik guru matematika (77,50%) maupun siswa SMA (83%) memiliki pemahaman yang baik tentang keterampilan hidup dan karier. Namun, keterampilan hidup mereka dinilai rendah karena kesulitan guru dalam menerjemahkan keterampilan hidup dan karier ke dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika. Ini berarti metode yang digunakan oleh guru tidak mengeksplorasi potensi siswa. Selain itu, korelasi antara indikator keterampilan hidup siswa ditemukan berada dalam kategori sedang dan besar, menunjukkan hubungan yang signifikan antara indikator keterampilan hidup siswa.How to Cite : Miftah, R., Kurniawati, L., Herman,T., Juandi, D., Maulida, A. S. (2022). Life and Career Skills in Mathematics Learning for High School Students in Indonesia: The Perspectives of Teachers and Students. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 9(2), 135-148. doi:10.15408/tjems.v9i2.25660
Empowering Religious Counselors as Agents of Religious Moderation in the Indonesian Ministry of Religious Affairs
AbstractThis study aims to analyze how a training model strengthens the competence of religious counselors in spreading the value of religious moderation. This research uses a qualitative approach of case study type by collecting data through in-depth interviews, observations, and literature studies. The research participants consisted of Religious Counselors working in various regions in Indonesia who participated in the education and training program for religious moderation activists conducted by the Indonesian Ministry of Religious Affairs training center. The results showed that Religious Counselors need to increase their understanding of the principles of religious moderation, practical communication skills, and conflict-handling strategies. In addition, the training model can strengthen the competencies of religious counselors in disseminating the value of religious moderation and conducting their duties as religious counselors. This training model uses an andragogy learning approach with group discussions, case studies, simulations, and team-based training methods. The training materials such as interfaith dialogue, the concept of religious moderation, religious diversity, religious tolerance, and conflict management can strengthen the understanding of Religious Counselors about pluralism and religious moderation, communication skills, and building interfaith cooperation. After attending this training, the counselors became more confident in carrying out their duties and more prepared to deal with religion-driven social conflicts in the community. Furthermore, they can develop digital media learning on religious moderation through social media.AbstrakMakalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana model pelatihan untuk memperkuat kompetensi Penyuluh Agama dalam menyebarkan nilai moderasi agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tipe studi kasus dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Partisipan penelitian terdiri dari Penyuluh Agama yang bekerja di berbagai wilayah di Indonesia yang mengikuti program pendidikan dan pelatihan untuk aktivis moderasi agama yang diselenggarakan oleh pusat pelatihan Kementerian Agama Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penyuluh Agama perlu meningkatkan pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip moderasi agama, keterampilan komunikasi efektif, dan strategi penanganan konflik. Selain itu, model pelatihan dapat memperkuat kompetensi Penyuluh Agama dalam menyebarkan nilai moderasi agama dalam menjalankan tugas mereka sebagai Penyuluh Agama. Model pelatihan ini menggunakan pendekatan pembelajaran andragogi dengan metode diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, dan pelatihan berbasis tim. Materi pelatihan seperti dialog lintas agama, konsep moderasi agama, keragaman agama, toleransi beragama, dan manajemen konflik mampu memperkuat pemahaman Penyuluh Agama tentang pluralisme dan moderasi agama, keterampilan komunikasi, dan membangun kerjasama lintas agama. Setelah mengikuti pelatihan ini, Penyuluh menjadi lebih percaya diri dalam menjalankan tugas mereka, lebih siap dalam menghadapi konflik sosial keagamaan di masyarakat. Selain itu, mereka dapat mengembangkan pembelajaran media digital dengan tema moderasi agama melalui media sosial.How to Cite: Kusumaningrum, H., Rubiyanah., Fadhilla, I. (2023). Empowering Religious Counselors as Agents of Religious Moderation in the Indonesian Ministry of Religious Affairs. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(2), 219-236. doi:10.15408/tjems.v10i2.37771.
The Accessibility of Tahfidz Al-Qur\u27an for Teachers with Disabilities at the Tahfidz Daarul Qur\u27an Islamic Boarding School
AbstractThe purpose of this study was to investigate the implementation of tahfidz Al-Qur\u27an learning by disabled teachers at the Tahfidz Daarul Qur\u27an Islamic Boarding School Tangerang and the efforts of teachers with disabilities to create a welcoming environment during the implementation of tahfidz Al-Qur\u27an learning at the Tahfidz Daarul Qur\u27an Islamic Boarding School Tangerang. This is a field study with a qualitative descriptive method. This study was carried out at Tangerang\u27s Tahfidz Daarul Qur\u27an Islamic Boarding School. Tahfidz Al-Qur\u27an Teachers (blind and physically disabled) and the Tahifdz Bureau Head were among the informants. The data was gathered through observation, interviews, and literature study on the concept of disability in Islam. The findings of this study show that teachers with disabilities at the Tahfidz Daarul Qur\u27an Islamic Boarding School Tangerang are capable of effective educational communication, allowing them to carry out tahfidzul Qur\u27an learningn along with other tahfidz teachers. There is a change while completing the rote progress report in the mutaba\u27ah book. Additionally, teachers with impairments make an attempt to enforce the relevant regulations by Rewarding students who comply the regulation punishing students who are against the regulation.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki pelaksanaan pembelajaran tahfidz Al-Qur\u27an oleh guru-guru penyandang disabilitas di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur\u27an Tangerang dan upaya guru-guru penyandang disabilitas untuk menciptakan lingkungan yang ramah selama pelaksanaan pembelajaran tahfidzh Al-Qur\u27an di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur\u27an Tangerang. Ini adalah studi lapangan dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur\u27an Tangerang. Guru-guru Tahfidz Al-Qur\u27an (tuna netra dan penyandang disabilitas fisik) dan Kepala Biro Tahfidz adalah beberapa informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literatur tentang konsep disabilitas dalam Islam. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru-guru penyandang disabilitas di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur\u27an Tangerang mampu melakukan komunikasi pendidikan yang efektif, memungkinkan mereka untuk melaksanakan pembelajaran tahfidzul Qur\u27an bersama guru-guru tahfidz lainnya. Ada perubahan saat menyelesaikan laporan kemajuan hafalan dalam buku mutaba\u27ah. Selain itu, guru-guru dengan keterbatasan berusaha untuk menegakkan peraturan yang relevan dengan memberikan penghargaan kepada siswa yang mematuhi peraturan dan menghukum siswa yang melanggar peraturan.How to Cite : Jamil, A., Khaled, N. A., Al Rasyid, H. (2022). The Accessibility of Tahfidz Al-Qur\u27an for Teachers with Disabilities at the Tahfidz Daarul Qur\u27an Islamic Boarding School. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 9(2), 123-134. doi:10.15408/tjems.v9i2.31326
Synergisticity of Family, School, and Community Education In Strengthening Religious Moderation
AbstractThis research aims to analyze how the synergy between family, school, and community education can strengthen the understanding and practice of religious moderation and the supporting factors, forms, and effects of this synergy. The research was conducted at Sindang Jati, Rejang Lebong, Bengkulu using qualitative methods and a phenomenological approach. The data collection technique used snowball sampling for interviews, accompanied by observation and documentation. The data were analyzed with a phenomenological model through epoch and ideation. The research results show that close collaboration between education received in the family, at school, and in society can significantly improve understanding and practice of religious moderation. These findings confirm that the synergy between these three components provides a large positive impact, in line with the social theory proposed by Parson and Brofenbrenner. Factors such as shared goals, effective communication (associative interaction), parental involvement, school commitment, and community trust and roles are essential in strengthening this synergy. In line with Murphy\u27s law, the synergy of the three educational centers minimizes opportunities for immoderate attitudes and actions to grow.AbstrakTujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana sinergisitas antara pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat menguatkan pemahaman dan praktik moderasi beragama, faktor-faktor pendukung, bentuk dan pengaruh sinergisitas tersebut. Penelitian dilakukan di Sindang Jati, Rejang Lebong, Bengkulu dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan data menggunakan snowball sampling untuk wawancara, disertai observasi dan dokumentasi. Data dianalisis dengan model fenomenologi melalui epoche dan ideation. Hasilnya menunjukkan sinergisitas antara pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat membantu meningkatkan pemahaman dan praktik moderasi beragama selaras dengan teori sosial Parson dan Brofenbrenner. Faktor-faktor seperti kesamaan tujuan, komunikasi yang efektif (interaksi asosiatif), keterlibatan orang tua, komitmen sekolah, dan kepercayaan serta peran masyarakat, merupakan hal yang penting dalam memperkuat sinergi ini. Selaras dengan hukum Murphy bahwa sinergisitas tiga pusat pendidikan meminimalisir peluang sikap dan tindakan yang tidak moderat untuk tumbuh. How to Cite: Daheri, M., Rohimin, Amin, A., Iqbal, M., Warsah, I. (2023). Synergisticity of Family, School, and Community Education In Strengthening Religious Moderation. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(1), 103-122. doi:10.15408/tjems.v10i1. 36028
Improving Children\u27s Interpersonal Intelligence by Adding Quality Time Intensity
AbstractThe primary objective of this paper is to investigate the correlation between the intensity of quality time and the level of interpersonal intelligence among students at SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. The study employed a quantitative research methodology, with a sample size of 68 students selected from a larger population of 215 students. This study assessed the degree of family quality time and the level of interpersonal intelligence among students through the administration of a questionnaire to the participants. The findings indicated that the level of family quality time intensity among the participants was moderate, with a percentage of 63.2%. In the interim, it is seen that pupils exhibit a notable level of interpersonal intelligence, amounting to 79.4%. The results of this study suggest that while the degree of family quality time remains moderate, students at SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta exhibit a significant level of interpersonal intelligence. However, it is imperative to address the issue of intensifying family quality time in order to promote social contact and bolster emotional bonds among family members. This, in turn, has the potential to further augment the development of kids\u27 interpersonal intelligence.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara intensitas waktu berkualitas dan tingkat kecerdasan interpersonal di antara siswa di SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kuantitatif, dengan ukuran sampel sebanyak 68 siswa yang dipilih dari populasi yang lebih besar sebanyak 215 siswa. Penelitian ini menilai tingkat waktu berkualitas keluarga dan tingkat kecerdasan interpersonal siswa melalui pemberian kuesioner kepada partisipan. Temuan menunjukkan bahwa tingkat intensitas waktu berkualitas keluarga di antara partisipan adalah sedang, dengan persentase sebesar 63,2%. Sementara itu, terlihat bahwa para siswa menunjukkan tingkat kecerdasan interpersonal yang mencolok, mencapai 79,4%. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa sementara tingkat waktu berkualitas keluarga tetap sedang, siswa di SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta menunjukkan tingkat kecerdasan interpersonal yang signifikan. Namun, sangat penting untuk mengatasi masalah intensitas waktu berkualitas keluarga guna meningkatkan kontak sosial dan memperkuat ikatan emosional antara anggota keluarga. Hal ini, pada gilirannya, berpotensi untuk lebih meningkatkan perkembangan kecerdasan interpersonal anak-anak.How to Cite: Shodiq, S.F. (2023). Improving Children\u27s Interpersonal Intelligence by Adding Quality Time Intensity. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(1), 1-12. doi:10.15408/tjems.v10i1.29000