TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
    225 research outputs found

    Brain and Critical Thinking in Education: A Bibliometric Review and Wordcloud Analysis

    No full text
    AbstractThis article uses data from the Scopus database for bibliometric review and wordcloud analysis visualization of publications related to Brain and Critical Thinking in Education (BCTE). The study highlights the importance of the brain in the learning process and critical thinking, as well as identifying research trends, key topics, and geographic distribution of authors over the decade 2013-2023. With a focus on English-language publications, the study reveals that "critical thinking" is the most frequently cited topic, with the United States as the most significant contributor. This analysis also suggests the need for further research that integrates brain-based learning with critical thinking to improve students\u27 critical thinking and 21st-century skills in education. Understanding how the brain works will enable educators to design a comprehensive learning plan, including teaching materials, implementation, media, models, strategies, approaches, and appropriate methods, to achieve learning goals.AbstrakArtikel ini menggunakan data dari database Scopus untuk review bibliometrik dan visualisasi analisis wordcloud dari publikasi terkait Brain and Critical Thinking in Education (BCTE). Studi tersebut menyoroti pentingnya otak dalam proses pembelajaran dan berpikir kritis, serta mengidentifikasi tren penelitian, topik utama, dan distribusi geografis penulis selama dekade 2013-2023. Dengan fokus pada publikasi berbahasa Inggris, penelitian ini mengungkapkan bahwa “berpikir kritis” adalah topik yang paling sering dikutip, dengan Amerika Serikat sebagai kontributor paling signifikan. Analisis ini juga menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut yang mengintegrasikan pembelajaran berbasis otak dengan berpikir kritis untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa dan keterampilan abad 21 dalam bidang pendidikan. Memahami cara kerja otak akan memungkinkan pendidik merancang rencana pembelajaran yang komprehensif, meliputi bahan ajar, pelaksanaan, media, model, strategi, pendekatan, dan metode yang tepat, untuk mencapai tujuan pembelajaran.  How to Cite: Sesrita, A., Supena, A., Sumantri, M. S., Gumelar, G., & Wibowo, F. C. (2024). Brain and Critical Thinking in Education: A Bibliometric Review and Wordcloud Analysis. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 65-80. doi:10.15408/tjems.v11i1.40506

    Self-Regulated Learning in Distance Education to Foster Twenty-First-Century Skills

    No full text
    AbstractThis research aimed to fill the existing research gap by examining the relationship between SRL and the 21st Century skills in distance education, highlighting the significance of understanding how these competencies intersect to enhance remote learning outcomes. The research design of this study is a systematic literature review adopting George’s (2008) model. The data were collected through assigning codes, developing themes, comparing and conducting close scrutiny of the codes and themes using 48 articles as secondary data sources. After the data were collected, qualitative analysis was done. The findings of this article have mainly addressed the positive light of twenty-first-century learning. The 21st Century skills fall into three categories: learning, literacy, and life skills. Students’ SRL directly affects their self-efficacy towards distance learning, while other factors, such as readiness and motivation, are also very contributive. The component of self-regulation concerns students \u27 active learning and taking a reflective role in their cognition, behaviour, emotions, and motivation of academic functioning to fulfill the requirement of twenty-first-century skills. Distance education potentially provides an environment that helps students manage their way of thinking in a way aligned with the 21st Century\u27s needs. Furthermore, within Islamic studies, this research contributes to an emerging discourse on how SRL strategies can be tailored to cultivate critical Islamic perspectives and knowledge acquisition in online educational settings.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan penelitian yang ada dengan menguji hubungan antara SRL dan keterampilan abad ke-21 dalam konteks pendidikan jarak jauh, menyoroti pentingnya memahami bagaimana kompetensi-kompetensi ini berpotongan untuk meningkatkan hasil pembelajaran jarak jauh. Desain penelitian ini adalah tinjauan literatur sistematis yang mengadopsi model George (2008) dan data dikumpulkan melalui pemberian kode, pengembangan tema, perbandingan, dan melakukan pemeriksaan teliti terhadap kode dan tema menggunakan 48 artikel sebagai sumber data sekunder. Setelah data terkumpul, analisis kualitatif dilakukan. Temuan artikel ini sebagian besar mengarah pada pandangan positif tentang pembelajaran abad ke-21. Keterampilan abad ke-21 terbagi menjadi tiga kategori yaitu keterampilan belajar, keterampilan literasi, dan keterampilan kehidupan. SRL mahasiswa secara langsung memengaruhi efikasi diri mereka terhadap pembelajaran jarak jauh, sementara faktor-faktor lain seperti kesiapan dan motivasi mahasiswa juga sangat berkontribusi. Komponen pengaturan diri yang berpusat pada mahasiswa untuk melakukan pembelajaran aktif dan mengambil peran reflektif dalam kognisi, perilaku, emosi, dan motivasi fungsional akademik untuk memenuhi persyaratan keterampilan abad ke-21. Pendidikan jarak jauh berpotensi memberikan lingkungan yang membantu mahasiswa untuk mengelola cara berpikir mereka sesuai dengan kebutuhan abad ke-21. Selain itu, dalam bidang studi Islam, penelitian ini berkontribusi pada wacana yang muncul tentang bagaimana strategi SRL dapat disesuaikan untuk membudayakan pandangan Islam kritis dan pemerolehan pengetahuan dalam pengaturan pendidikan online.How to Cite: Mahayanti, N.W. S., Suwastini, N.K.A., Dantes, G.R., Suryandani, P.D., & Minxia, Z. (2023). Self-Regulated Learning in Distance Education to Foster Twenty-First-Century Skills. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(2), 1-26. doi:10.15408/tjems.v10i2.37797

    University Students\u27 Awareness and Preparedness for Natural Disasters: A Study on Preventing Landslides, Earthquakes, and Volcanic Eruptions in Indonesia

    No full text
    AbstractThis study seeks to understand the disaster-prevention consciousness focused on landslide, earthquake, and volcanic eruption among 22 students pursuing a major in Geography in the Social Science Faculty, Semarang State University (UNNES), Indonesia. It analyzed the students’ consciousness through short comments toward questions “What can we do?”, which focused on preventing, defending, reducing, and mitigating the impacts of the three kinds of natural disasters. The average number of the description was 5.7, and the median was 5. More than half of the students mentioned points related to “before disaster and usual life,” “after disaster and restoration,” “hardware/structural,” and “software/non-structural.” All the answers described ideas with reasons. But only four students described ideas based on educational viewpoints, indicating students’ lack of scientific viewpoints in elaborating their ideas about disaster prevention. This finding calls for improving students’ consciousness regarding disaster prevention through education.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami kesadaran pencegahan bencana yang difokuskan pada tanah longsor, gempa bumi, dan letusan gunung berapi di antara 22 mahasiswa yang mengambil jurusan Geografi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang (UNNES), Indonesia. Kesadaran mahasiswa dianalisis melalui komentar singkat terhadap pertanyaan "Apa yang bisa kita lakukan?", yang difokuskan pada pencegahan, pertahanan, pengurangan, dan mitigasi dampak dari tiga jenis bencana alam tersebut. Rata-rata jumlah deskripsi adalah 5,7, dan median adalah 5. Lebih dari setengah mahasiswa menyebutkan poin-poin yang terkait dengan "sebelum bencana dan kehidupan biasa," "setelah bencana dan pemulihan," "perangkat keras/struktural," dan "perangkat lunak/non-struktural." Semua jawaban menggambarkan ide-ide dengan alasan yang mendasarinya. Namun, hanya empat mahasiswa yang menguraikan ide-ide berdasarkan sudut pandang pendidikan, yang menunjukkan kurangnya sudut pandang ilmiah dalam mengelaborasi ide-ide mereka tentang pencegahan bencana. Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran mahasiswa mengenai pencegahan bencana melalui pendidikan.  How to Cite: Yoshinori, F, Tuswadi, Takehiro, H, Tetsuo, I., Subekti, N. (2024). "University Students\u27 Awareness and Preparedness for Natural Disasters: A Study on Preventing Landslides, Earthquakes, and Volcanic Eruptions in Indonesia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 81-92. doi:10.15408/tjems.v11i1.40444

    The Experience of Muslim Students in the Catholic Academia

    Full text link
    AbstractThis study investigates Muslim students\u27 experiences at a Catholic university in Mindanao, including their perceptions of institutional support for religious practice and identity construction. A quantitative approach was utilized to gather data via an online survey, employing a snowball sampling technique, which involved 60 Muslim students from diverse academic programs participating in the study. The study assesses satisfaction levels across three primary domains: classroom instruction, co-curricular activities, and extracurricular engagement. The results demonstrate that Muslim students typically report a strong sense of satisfaction regarding their classroom instruction and participation in co-curricular activities. Nonetheless, participation in extracurricular activities garnered lower satisfaction scores, underscoring a disparity between the institution\u27s dedication to inclusivity and the actual experiences of students in more informal social environments. This discrepancy indicates a necessity for focused institutional initiatives aimed at improving inclusion outside of academic environments, especially in extracurricular activities where informal interactions significantly influence student experiences. The findings enhance the discourse surrounding religious pluralism in higher education, highlighting the necessity for organized support systems that reach beyond just academic and co-curricular environments. By enhancing its dedication to inclusive extracurricular programs, the university can cultivate a more comprehensive and fair learning atmosphere. Finally, while the university has demonstrated strengths in promoting religious inclusiveness, resolving extracurricular concerns is critical to ensuring that students from all faith backgrounds feel appreciated and involved.. Abstrakpenelitian ini menyelidiki pengalaman mahasiswa Muslim di sebuah universitas Katolik di Mindanao, termasuk persepsi mereka terhadap dukungan institusional terhadap praktik keagamaan dan pembentukan identitas. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data melalui survei daring dengan teknik snowball sampling, yang melibatkan 60 mahasiswa Muslim dari berbagai program akademik dalam penelitian ini. Studi ini menilai tingkat kepuasan dalam tiga domain utama: pembelajaran di kelas, kegiatan ko-kurikuler, dan keterlibatan dalam kegiatan ekstra-kurikuler.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Muslim umumnya melaporkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengalaman mereka dalam pembelajaran di kelas dan partisipasi dalam kegiatan ko-kurikuler. Namun, keterlibatan dalam kegiatan ekstra-kurikuler memperoleh skor kepuasan yang lebih rendah, menyoroti adanya kesenjangan antara komitmen institusi terhadap inklusivitas dan pengalaman nyata mahasiswa dalam lingkungan sosial yang lebih informal. Disparitas ini mengindikasikan perlunya inisiatif kelembagaan yang lebih terarah untuk meningkatkan inklusi di luar lingkungan akademik, terutama dalam kegiatan ekstra-kurikuler di mana interaksi informal memiliki pengaruh signifikan terhadap pengalaman mahasiswa.Temuan ini memperkaya diskusi mengenai pluralisme agama dalam pendidikan tinggi, dengan menekankan pentingnya sistem dukungan yang terstruktur dan mencakup lebih dari sekadar lingkungan akademik dan ko-kurikuler. Dengan meningkatkan komitmennya terhadap program ekstra-kurikuler yang inklusif, universitas dapat menciptakan suasana belajar yang lebih komprehensif dan adil. Pada akhirnya, meskipun universitas telah menunjukkan keunggulan dalam mempromosikan inklusivitas keagamaan, penyelesaian tantangan dalam aspek ekstra-kurikuler sangat penting untuk memastikan bahwa mahasiswa dari semua latar belakang keagamaan merasa dihargai dan terlibat sepenuhnya.How to Cite: Velez, D.A., & Camilo, T.H. (2024). The Experience of Muslim Students in the Catholic Academia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(2), 225-238. https://doi.org/10.15408/tjems.v11i2.4266

    Unveiling Functions and Patterns of Intra-Sentential Code-Switching in the Video Podcast \u27Culture Shock Kuliah di Inggris\u27 on YouTube Channel

    Full text link
    AbstractThe research delves into code-switching among Indonesian speakers in the UK, covering the syntactic and functional reasons why they use code-switching in intra-sentential contexts by applying Poplack\u27s theory in syntactic and Hoffmann\u27s theory in functional. Data collection includes repeated video watching, taking notes, and categorising code-switching used in the video podcast. Those steps require repeated execution to ensure accurate and comprehensive data collection and analysis. After categorising and identifying patterns of code-switching, it is followed by interpreting the findings and making connections to Poplacks and Hoffmans’ theories which led to the conclusion-drawing. The analysis presents nine states of intra-sentential switching parts of speech and seven categories of code-switching functions. Of 134 instances of code-switching, 104 were intra-sentential, with ICs being the most common (32%). Speakers primarily used code-switching to discuss specific topics, accounting for 37.67% of all instances. The results indicate that speakers would rather negotiate higher units, such as clauses, because the language feature is part of their regular use of English in the UK. This study demonstrates how code-switching helps with communication and identity formation for bilingual speakers. In relevance for language education, code-switching, as a pedagogical tool, can enhance comprehension and participation in language education programs, particularly in more complexly multilingual classrooms. Future research should also examine code-switching in various cultural contexts and use interdisciplinary methodologies to fully fund this linguistic phenomenon. AbstrakPenelitian ini menyelidiki peralihan kode di antara penutur bahasa Indonesia di Inggris, yang mencakup alasan sintaksis dan fungsional mengapa mereka menggunakan peralihan kode dalam konteks intra-kalimat dengan menerapkan teori Poplack dalam sintaksis dan teori Hoffmann dalam fungsional. Pengumpulan data meliputi menonton video berulang kali, membuat catatan, dan mengkategorikan peralihan kode yang digunakan dalam podcast video. Langkah-langkah tersebut memerlukan pelaksanaan berulang untuk memastikan pengumpulan dan analisis data yang akurat dan komprehensif. Setelah mengkategorikan dan mengidentifikasi pola peralihan kode, analisis dilanjutkan dengan menafsirkan temuan dan menghubungkan dengan teori Poplack dan Hoffman yang mengarah pada penarikan kesimpulan. Analisis ini menyajikan sembilan keadaan bagian-bagian pidato peralihan intra-kalimat dan tujuh kategori fungsi peralihan kode. Dari 134 contoh alih kode, 104 di antaranya adalah intra-kalimat, dengan IC menjadi yang paling umum (32%). Penutur terutama menggunakan alih kode untuk membahas topik-topik tertentu, yang mencakup 37,67% dari semua contoh. Hasilnya menunjukkan bahwa penutur lebih suka menegosiasikan unit-unit yang lebih tinggi, seperti klausa, karena fitur bahasa adalah bagian dari penggunaan bahasa Inggris mereka secara teratur di Inggris. Studi ini menunjukkan bagaimana alih kode membantu komunikasi dan pembentukan identitas bagi penutur bilingual. Dalam relevansi untuk Pendidikan Bahasa, alih kode, sebagai alat pedagogis, dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi dalam program pendidikan bahasa, khususnya di kelas-kelas multibahasa yang lebih kompleks. Penelitian di masa mendatang juga harus memeriksa alih kode dalam berbagai konteks budaya dan menggunakan metodologi interdisipliner untuk sepenuhnya mendanai fenomena linguistik ini. How to Cite: Suwastini, N. K. A., Anggara, I. P. D., Mahendrayana, G., & Mahayanti, N. W. S. (2024). Unveiling Functions and Patterns of Intra-Sentential Code-Switching in the Video Podcast \u27Culture Shock Kuliah di Inggris\u27 on YouTube Channel. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(2), 135-158. doi:10.15408/tjems.v11i2.39295

    Integration of Islamic Values in Civic Education at Pesantren-Based Universities

    Full text link
    AbstractThis article aims to examine the integration of Islamic values into civic education at pesantren-based higher education institutions. Using a qualitative research design, data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and document analysis at Universitas Abdullah Faqih (UNKAFA) in Gresik, East Java. The study explores how Islamic teachings are integrated into the civic education curriculum and extracurricular activities to instill values such as patriotism, respect for the law, and political awareness. The findings demonstrate the effectiveness of this integrative model in producing graduates who are not only academically competent but also possess strong moral character and deep spirituality. Key findings include increased student engagement in social and civic responsibilities, the promotion of tolerance and respect for diversity, and the alignment of Islamic and national values. This approach offers a sustainable framework for character development and national identity formation while addressing challenges such as radicalism and social fragmentation. The implications of this research suggest that pesantren-based higher education institutions can serve as a model for harmonizing religious and civic education. Further research is recommended to quantitatively evaluate the impact of this model and explore its application in broader educational contexts.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengkaji integrasi nilai-nilai Islam ke dalam pendidikan kewarganegaraan di institusi pendidikan tinggi berbasis pesantren. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen di Universitas Abdullah Faqih (UNKAFA) di Gresik, Jawa Timur. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana ajaran Islam diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan kewarganegaraan dan kegiatan ekstrakurikuler, dengan tujuan menanamkan nilai-nilai seperti patriotisme, penghormatan terhadap hukum, dan kesadaran politik. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas model integratif ini dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik tetapi juga memiliki moral yang kuat dan spiritualitas yang mendalam. Temuan utama mencakup peningkatan keterlibatan mahasiswa dalam tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan, promosi toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman, serta keselarasan nilai-nilai Islam dan kebangsaan. Pendekatan ini menawarkan kerangka kerja yang berkelanjutan untuk pembangunan karakter dan pembentukan identitas nasional, sekaligus menjawab tantangan seperti radikalisme dan fragmentasi sosial. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi berbasis pesantren dapat menjadi model harmonisasi pendidikan agama dan kewarganegaraan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengevaluasi dampak model ini secara kuantitatif dan mengeksplorasi penerapannya dalam konteks pendidikan yang lebih luas. How to Cite: Kurniasih, M. D., Sastradiharja, EE. J., & Syaidah, K. (2024). Integration of Islamic Values in Civic Education at Pesantren-Based Universities. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(2), 179-196. doi:10.15408/tjems.v11i2.41447

    Islamic Psycho-spiritual Education as a Holistic Solution to Alleviating Extreme Poverty in Indonesia

    No full text
    AbstractThis study explores the role of Islamic education through a psycho-spiritual approach in alleviating extreme poverty in Indonesia. Extreme poverty, which encompasses economic, social, psychological, and spiritual dimensions, requires a holistic approach to empowerment. Islamic education is more than just a transfer of knowledge; it shapes character and positive mentality through values such as patience, sincerity, and social care. This study employs a literature review method with a qualitative approach to analyze how psycho-spiritual education can be part of a sustainable solution. The findings indicate that integrating psycho-spiritual education into poverty alleviation programs can help build individuals’ mental and spiritual resilience. With collaboration between the government, Islamic educational institutions, and community organizations, this approach has the potential to be an effective strategy for addressing the challenges of extreme poverty. This research offers a new perspective on empowering communities through holistic education.AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi peran pendidikan Islam melalui pendekatan psikologis spiritual dalam mengentaskan kemiskinan ekstrim di Indonesia. Kemiskinan ekstrim, yang tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi tetapi juga mencakup dimensi sosial, psikologis, dan spiritual, memerlukan pendekatan holistik untuk pemberdayaannya. Pendidikan Islam berfungsi lebih dari sekadar transfer pengetahuan, melainkan membentuk karakter dan mentalitas positif melalui nilai-nilai seperti kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Studi ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis bagaimana pendidikan psikologis spiritual dapat menjadi bagian dari solusi berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan psikologis spiritual dalam program pengentasan kemiskinan dapat membantu membangun ketahanan mental dan spiritual individu. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan Islam, dan organisasi masyarakat, pendekatan ini berpotensi menjadi strategi yang efektif dalam menghadapi tantangan kemiskinan ekstrim. Penelitian ini menawarkan perspektif baru dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan yang holistik.  How to Cite: Dawam, A., & Syaidah, K. (2024). Islamic Psycho-spiritual Education as a Holistic Solution to Alleviating Extreme Poverty in Indonesia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 93-104. doi:10.15408/tjems.v11i1.42131

    Islamic Values in Coastal SME Education: A Model for Sustainable Development

    Full text link
    AbstractThis study analyses the integration of Maqasid Syariah (MS) principles, including shiddiq (honesty), adl (justice), and maslahah (public welfare), in supporting the sustainability of micro-enterprises (SMEs) in Desa Segara Jaya, Indonesia. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews and observations with Muslim entrepreneurs. SMEs face challenges such as limited financial resources, inadequate Islamic values-based training, and insufficient infrastructure, which hinder the consistent application of ethical practices. To overcome these barriers, an MS-based educational model is required, combining workshop-based training with tailored educational programmes to address these challenges effectively, mentorship programmes with pesantren and madrasahs, and scalable digital learning platforms. Integrating technical and ethical skills helps align business practices with economic objectives and Islamic values. A collaborative Penta helix approach, engaging government, educational institutions, businesses, communities, and media, is essential for overcoming systemic barriers. Applying the MS framework and the Theory of Planned Behaviour, this research contributes to Islamic entrepreneurship studies and offers practical insights for policymakers, educators, and practitioners. Aligning SME operations with ethical principles enhances resilience, competitiveness, and sustainable development in Muslim communities navigating socio-economic challenges.AbstrakPenelitian ini menganalisis integrasi prinsip-prinsip Maqasid Syariah (MS), termasuk shiddiq (kejujuran), adl (keadilan), dan maslahah (kesejahteraan publik), dalam mendukung keberlanjutan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Desa Segara Jaya, Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap pengusaha Muslim. UMKM menghadapi tantangan seperti keterbatasan sumber daya keuangan, pelatihan berbasis nilai-nilai Islam yang tidak memadai, dan kurangnya infrastruktur, yang menghambat penerapan praktik etis secara konsisten. Untuk mengatasi hambatan ini, diperlukan model pendidikan berbasis MS yang menggabungkan pelatihan berbasis lokakarya dengan program pendidikan yang dirancang khusus, program pendampingan dengan pesantren dan madrasah, serta platform pembelajaran digital yang dapat diskalakan. Integrasi keterampilan teknis dan etis membantu menyelaraskan praktik bisnis dengan tujuan ekonomi dan nilai-nilai Islam. Pendekatan kolaboratif Penta helix yang melibatkan pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan media sangat penting untuk mengatasi hambatan sistemik. Dengan menerapkan kerangka kerja MS dan Teori Perilaku Terencana, penelitian ini berkontribusi pada studi kewirausahaan Islam dan memberikan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan praktisi. Penyelarasan operasional UMKM dengan prinsip-prinsip etis meningkatkan ketahanan, daya saing, dan pembangunan berkelanjutan di komunitas Muslim yang menghadapi tantangan sosial-ekonomi. How to Cite: Doktoralina, C. M., Abdullah, M. A. F., Febrian, W. D., Maulana, D., Prayogo, D. A., & Anuar Ahmad Shukor, A. S. (2024). Islamic Values in Coastal SME Education: A Model for Sustainable Development. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(2), 105-114. doi:10.15408/tjems.v11i2.43868

    Beating Barriers to Formative Assessment in a Testing-Oriented Nation

    No full text
    AbstractIndonesia has a been a testing-oriented country since its inception. Yet, over the past decade, assessment policies in Indonesia have gradually strengthened their emphasis on formative assessment. In general, Indonesian teachers’ understanding of formative assessment is still relatively modest; in fact, some teachers still consider formative assessment to be challenging, if not impossible.  Nevertheless, others have embraced the concept and have managed to overcome the barriers of large classes, limited time, and the long-standing culture of high-stakes testing.  This article aims to provide examples of good practice in formative assessment in ELT.  We present the results of a multiple case study, involving eight ELT senior high school teachers representing various learning contexts in Indonesia. Drawing on data from interviews and classroom observations, the study revealed that these teachers recognized the barriers in implementing formative assessment deriving from limited time and large classes, yet they were able to overcome these barriers by using teaching modifications and technological tools as solutions to applying formative assessment. This study highlights the pivotal role of teachers’ assessment literacy to enhance and reap the benefits from formative assessment. AbstrakIndonesia telah menjadi negara yang berorientasi pada ujian sejak awal berdirinya. Tetapi, selama dekade terakhir, kebijakan penilaian di Indonesia secara bertahap semakin menekankan pada penilaian formatif. Secara umum, pemahaman guru-guru Indonesia tentang penilaian formatif masih relatif terbatas; faktanya, beberapa guru masih menganggap penilaian formatif sebagai hal yang menantang, bahkan tidak mungkin dilakukan. Meskipun demikian, beberapa guru telah menerima konsep ini dan berhasil mengatasi hambatan seperti kelas yang besar, waktu yang terbatas, dan budaya ujian berisiko tinggi yang telah berlangsung lama. Artikel ini bertujuan untuk memberikan contoh praktik baik dalam penilaian formatif dalam pengajaran Bahasa Inggris. Kami menyajikan hasil studi multi-kasus, yang melibatkan delapan guru Bahasa Inggris sekolah menengah atas yang mewakili berbagai konteks pembelajaran di Indonesia. Berdasarkan data dari wawancara dan observasi kelas, studi ini mengungkapkan bahwa para guru ini menyadari hambatan dalam menerapkan penilaian formatif yang berasal dari waktu yang terbatas dan kelas yang besar, namun mereka mampu mengatasi hambatan tersebut dengan menggunakan modifikasi pengajaran dan alat teknologi sebagai solusi untuk menerapkan penilaian formatif. Studi ini menyoroti peran penting literasi penilaian guru untuk meningkatkan dan memetik manfaat dari penilaian formatif. How to Cite: Defianty, D., Wilson, K. (2024). Beating Barriers to Formative Assessment in a Testing-Oriented Nation. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 1-12. doi:10.15408/tjems.v11i1. 40391

    Integrating Islamic Values in Online Learning: A Comparative Study of Western and Islamic Education Philosophies

    No full text
    AbstractThe aim of this research is to examine the application of Islamic values in online learning and compare the principles of online learning from the perspectives of Western Education Theory and Islamic Education Philosophy. This qualitative research employs a literature review methodology. The findings indicate that integrating Islamic values into online learning is essential without compromising these values. The research contrasts practical online learning principles as viewed by Western educational theories and classical Islamic scholarship. A significant difference identified is that Islamic education incorporates worship values, whereas Western educational philosophy focuses solely on the humanitarian process without the worship aspect.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran daring dan membandingkan prinsip-prinsip pembelajaran daring dari perspektif Teori Pendidikan Barat dan Filosofi Pendidikan Islam. Penelitian kualitatif ini menggunakan metodologi tinjauan literatur. Temuan menunjukkan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran daring adalah penting tanpa mengkompromikan nilai-nilai tersebut. Penelitian ini membandingkan prinsip-prinsip praktis pembelajaran daring menurut teori pendidikan Barat dan karya-karya cendekiawan Islam klasik. Perbedaan signifikan yang teridentifikasi adalah bahwa pendidikan Islam mengandung nilai ibadah, sedangkan filosofi pendidikan Barat hanya berfokus pada proses kemanusiaan tanpa aspek ibadah.  How to Cite: Afif, N., Aziz, A., Mukhtarom, A., Mubin, F., & Lubis, M.R. (2024). Integrating Islamic Values in Online Learning: A Comparative Study of Western and Islamic Education Philosophies. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 27-36. doi:10.15408/tjems.v11i1.40392

    21

    full texts

    225

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇