TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
225 research outputs found
Sort by
Educational Honesty: The Main Philosophical Value in School
AbstractThis study aims at exploring the educational honesty that a school in Aceh has created to discover the fundamental principles and definitions of honesty education that schools have built up to promote integrity in the schools. Data collected through a qualitative approach, interview, observation, and documentation study. The results of this research showed that educational honesty could work well because it focused on universal, academic, and professional principles that established philosophical values. The definition of truth designed from the foundation level of schools, schools in general and taught in detail in the classroom. The concept of educational honesty is stronger because it has included in the Vision, Mission, Objectives, and School Programs. This research expected to offer a new idea of honesty education in schools.AbstrakStudi ini bertujuan untuk mengeksplorasi kejujuran pendidikan yang telah diciptakan oleh sebuah sekolah di Aceh untuk menemukan prinsip-prinsip dasar dan definisi pendidikan kejujuran yang telah dibangun oleh sekolah untuk meningkatkan integritas di sekolah-sekolah tersebut. Data dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif, wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejujuran pendidikan dapat bekerja dengan baik karena berfokus pada prinsip-prinsip universal, akademik, dan profesional yang menetapkan nilai-nilai filosofis. Definisi kebenaran dirancang dari tingkat dasar sekolah, sekolah pada umumnya dan diajarkan secara rinci di kelas. Konsep kejujuran pendidikan lebih kuat karena sudah termasuk dalam Visi, Misi, Tujuan, dan Program Sekolah. Penelitian ini diharapkan dapat menawarkan gagasan baru tentang pendidikan kejujuran di sekolah.How to Cite: Suud, F. M., Sutrisno, Majid, A. (2019). Educational Honesty: The Main Philosophical Value in School. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 141-154. doi:10.15408/tjems.v6i2. 11769
Conversation Analysis and Its Implications to Language Teaching
AbstractThe present study analyzed the use of Conversation Analysis in casual conversation and how it can serve as a potential means in language teaching. Casual conversation concerns the type of conversation that people do when they talk just for the sake of talking (Eggins & Slade, 1997). This includes daily conversations among people. Employing a qualitative research methodology, data were taken from a casual conversation taking place in Australia regarding a birthday party preparation between a husband and a wife whose native language is Bahasa Indonesia. Data were first transcribed in Bahasa Indonesia using CA conventions, and then were translated into English. The transcription of the conversation attempted to follow the guidelines proposed by Cook (1990) and Bailey (2008). The study found that turn-taking systems, adjacency pairs, overlaps, response tokens, and repairs were evident from the analysis of conversation. The conversation confirms the theories of CA: the occurrence of a large number of response tokens, such as mm hm or yes, various types of adjacency pairs, each speaker speaks one at a time even though there are several gaps and overlaps, and so forth. The study drew the implication of CA to language teaching. CA contributes to language teaching in terms of offering not only the authentic real-life communication, but also the authentic spoken interaction which will encourage learners to be able to produce authentic utterances. Also, CA can serve as a potential means to shape the students’ ability as active participants in the learning process.AbstrakStudi ini menganalisis penggunaan Analisis Percakapan (Conversation Analysis, selanjutnya CA) dalam percakapan kasual dan mengulas bagaimana CA dapat berfungsi sebagai sarana yang potensial untuk dipergunakan dalam pengajaran bahasa. Percakapan kasual diartikan sebagai jenis percakapan yang dilakukan orang ketika mereka berbicara dengan topik sehari-hari (Eggins & Slade, 1997). Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan mengambil data dari percakapan kasual antara suami istri yang berlangsung di Australia mengenai persiapan pesta ulang tahun. Bahasa ibu para pembicara adalah Bahasa Indonesia. Data pertama-tama ditranskripsikan dalam Bahasa Indonesia menggunakan konvensi CA, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Transkripsi percakapan mengikuti panduan Cook (1990) dan Bailey (2008). Studi ini menemukan bahwa sistem turn-taking, adjacency pairs, overlaps, token response, dan repair terbukti dari analisis percakapan. Hasil penelitian mengkonfirmasi teori-teori CA: terjadinya sejumlah besar token response, seperti mm hm atau ya, berbagai jenis adjacency pairs, masing-masing pembicara berbicara satu per satu walaupun ada beberapa celah dan overlaps, dan sebagainya. Studi ini juga menggali implikasi CA terhadap pengajaran bahasa. CA berkontribusi pada pengajaran bahasa dalam hal menawarkan tidak hanya komunikasi kehidupan nyata yang otentik, tetapi juga interaksi lisan yang otentik yang akan mendorong peserta didik untuk dapat menghasilkan ucapan-ucapan otentik. Selain itu, CA dapat berfungsi sebagai sarana potensial membentuk kemampuan siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.How to Cite: Hidayat, D. N. (2019). Conversation Analysis and Its Implications to Language Teaching . TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 197-209. doi:10.15408/tjems.v6i2. 15138.
Investigation into The Effect of Arabic Incompetence on The Students’ Performance in Islamic Studies in Ibadan South-East Of Oyo State In Nigeria
Abstract This study investigated the effect of incompetence in Arabic language on students’ performances in Islamic studies in the selected senior secondary schools in Ibadan South-East Local Government Area of Oyo State, Nigeria. The main objective of this study was to ascertain the argument that the poor performance of senior secondary students in Islamic studies is as a result of incompetence and non-proficiency in Arabic language on the side of learners and teachers. The methodology employed in this study was the quantitative approach. Location of the study was Ibadan South-East Local Government Area of Oyo State. Teachers of Islamic studies and students were randomly selected using the stratified random sampling technique from six senior secondary schools. The data gathered were analysed using simple percentages and chi-square statistical analysis. The findings revealed that significant number of students in Senior Secondary School’s poor performance in Islamic studies was due to their incompetence in Arabic as a result of their lack of exposure to the Arabic language and their poor background in Arabic from the previous classes. It also revealed that some of their teachers in Islamic studies were not competent in Arabic reading and writing. Abstrak Penelitian ini menginvestigasi efek ketidakmampuan bahasa Arab terhadap kinerja siswa studi Islam di sekolah-sekolah menengah atas terpilih di Ibadan Tenggara, di Area Pemerintahan Daerah Negara Oyo, Nigeria. Tujuan utama penelitian ini untuk menegaskan argumen bahwa buruknya kinerja siswa sekolah menengah atas pada studi Islam adalah akibat dari ketidakmampuan dan ketidakmahiran bahasa Arab pada peserta didik dan guru. Metode penelitian pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian adalah di Area Pemerintah Daerah Ibadan Tenggara Negara Oyo. Guru dan siswa program studi Islam dipilih secara acak menggunakan teknik stratified random sampling dari enam sekolah menengah atas. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan persentase sederhana dan analisis statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan buruknya kinerja sebagian besar siswa sekolah menengah atas studi Islam adalah karena ketidakmampuan mereka dalam bahasa Arab sebagai akibat dari kurangnya eksposisi terhadap bahasa Arab dan kurangnya latar belakang bahasa Arab mereka dari kelas sebelumnya. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa beberapa guru mereka pada program studi Islam tidak kompeten dalam membaca dan menulis bahasa Arab. How to Cite : Kazeem Adekunle Adegoke. (2016). Investigation into The Effect of Arabic Incompetence on The Students’ Performance in Islamic Studies in Ibadan South-East Of Oyo State In Nigeria. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(1), 20-31. doi:10.15408/tjems.v3i1.3374. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i1.3374
An Analysis of Factors Influencing Parents in the Selection of Schools
Abstract Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), as an International school provided by the government of Indonesia is not a favourite among Indonesian parents living in Malaysia. They prefer to send their children to other International or Islamic-based schools. It results in a big question on what are their reasons behind such decision. Thus, the aim of this study is to explore the experiences of Indonesian parents living in Kuala Lumpur, Malaysia, regarding their reasons of not choosing Indonesian School for their children. For the purpose of this research, a case study approach was adopted. Using in-depth interviews, three Indonesian parents who live in Malaysia and opt for other International schools were selected. The data of the interviews were analysed and categorized based on unique themes. The result of an interpretive analysis found that parents’ reasons are demonstrated in three interrelated themes: (1) The need of specific curriculum, (2) The lack of creative teaching methods used in Indonesian School, and (3) The less strategic location of Indonesian School. As a final point, this paper provides an insight analysis of parents’ reasons and some recommendations for improvement. Abstrak Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), sebagai sekolah Internasional yang disediakan oleh pemerintah Indonesia, tidaklah favorit di antara orang tua Indonesia yang tinggal di Malaysia. Mereka lebih memilih untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah Internasional lain atau sekolah Islam. Hal ini membuat pertanyaan besar kepada apa alasan mereka di balik keputusan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengalaman orang tua Indonesia yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia, terkait dengan alasan mereka tidak memilih sekolah Indonesia bagi anak-anak mereka. Untuk tujuan penelitian ini, pendekatan studi kasus dilakukan. Menggunakan wawancara mendalam, tiga orang tua Indonesia yang tinggal di Malaysia dan memilih sekolah internasional lain dipilih. Data wawancara dianalisis dan dikelompokkan berdasarkan tema-tema khusus. Hasil interpretasi analisis menemukan bahwa alasan orang tua tergambarkan pada tiga item: (1) kebutuhan kurikulum tertentu, (2) kurangnya metode mengajar kreatif yang digunakan di sekolah Indonesia, dan (3) kurang strategis dari lokasi sekolah Indonesia. Akhirnya, tulisan ini memberikan analisis wawasan tentang alasan orang tua dan rekomendasi untuk peningkatan. How to Cite : Faizuddin, A. An-Nuaimy, T. Irzal, M. (2016). An Analysis of Factors Influencing Parents in the Selection of Schools. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(1), 90-95. doi:10.15408/tjems.v3i1. 3398. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i1.3398
THE PROSPECT OF INTEGRATED AND HOLISTIC MADRASAH EDUCATION SYSTEM (IHMES) IN THE PHILIPPINES: A Sustainable Approach to Prevent Violent Extremism
ABSTRACTThe madrasah education system in the Philippines was recently impugned as a source of radicalized Muslim Filipino youths. This assertion was based on the presumption that most radicalized youths who happened to be members of either the revolutionary groups or the ISIS-inspired groups went through the diverse madrasah institutions in the country. This indictment, however, may be parti pris to the substantial majority of Muslim Filipino youths who served the nation in various capacities as also a product of various madrasah institutions in the Philippines and abroad. More vividly, many of the highly educated Muslim Filipino youths are actively engaged in various government and non-government programs on preventing and countering violent extremism. These two opposing views made the examination of the dynamics of the Philippine madrasah education system imperative to vindicate the issue. Using analysis of documents, the study found that there are challenges and gaps in the implementation of the madrasah programs even though it is mandated by existing legislations, policies, and peace agreements. Thus, a sustainable integrated and holistic madrasah education system (IHMES) acquiescent to the religio-cultural orientations of Muslim Filipinos is proposed to empower Muslim communities, eliminate various social ills particularly violent extremism, and meaningfully participate in nation-building. ABSTRAKSistem pendidikan madrasah di Filipina akhir-akhir ini dibantah telah menjadi sumber bagi radikalisasi pemuda Muslim Filipina. Pernyataan ini didasari pada dugaan bahwa generasi muda yang paling banyak terpapar radikalisme dan menjadi anggota grup revolusioner ataupun grup yang terinspirasi oleh ISIS menempuh pendidikan di berbagai institusi madrasah di negara tersebut. Meski begitu, dakwaan ini mungkin saja merupakan prasangka atas adanya mayoritas pemuda Muslim Filipina yang bekerja dalam melayani negara di bergagay bidang yang juga merupakan lulusan dari institusi-institusi madrasah, baik di dalam maupun luar Filipina. Lebih jelasnya lagi, kebanyakan pemuda Muslim Filipina yang berpendidikan tinggi berperan aftif dalam berbagai program, baik yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta dalam rangka menangkal dan melawan ekstrimisme dan kekerasan. Kedua pandangan yang menentang ini membuat pemeriksaan dinamika sistem pendidikan madrasah Filipina sangatlah penting, demi membuktikan kebenaran kasus ini. Dengan menggunakan analisis terhadap dokumen yang ada, studi ini pun menemukan fakta bahwa terdapat tantangan dan kesenjangan dalam penerapan program madrasah, meskipun mereka telah berada di bawah pengawasan perundang-undangan yang ada, kebijakan, dan juga perjanjian kedamaian. Oleh karenanya, sebuah sistem pendidikan madrasah yang terintegrasi dan holistik yang berkelanjutan (integrated dan holistic madrasah education system, IHMES) sepakat pada orientasi agama-budaya Muslim Filipina agar dapat diajukan, hal tersebut betujuan dilakukannya pemberdayaaan komunitas Muslim demi menyingkirkan berbagai penyakit sosial, terutama ekstrimisme kekerasan, dan yang juga berarti sebuah partisipasi dalam membangun negara.
Muslim Employment in Commonwealth Government Departments and Agencies in the Context of Access and Equity
Abstract Government agencies and departments are considered as a collectively owned body and therefore they can be assumed as a reflection of the whole society. But the current research, Muslim Employment in Commonwealth Government Departments and Agencies in the Context of Access and Equity, suggests that migrants face a greater exclusion of Australia from government department in general but Muslim community is bearing the extensive brunt. In this research the exclusion was examined at three different sphere, at national employment level, national government department’s level and managerial levels of government employment. In each sphere it was found that the Muslim community was two times less inclusive thus making it six times excluded from the society overall. After collecting these results and combining them with an academically defined state of inclusion, it yielded new conditions for Harmony as: access and equal opportunities for all Australians while having a sense of being equally valued and have the opportunity of full participation with redistribution of power for the powerless. Abstrak Instansi pemerintah dan departemen dianggap sebagai badan yang dimiliki secara kolektif dan karena itu mereka dapat diasumsikan sebagai refleksi dari seluruh masyarakat. Tetapi penelitian saat ini, Pekerjaan Muslim di Departemen Pemerintah Persemakmuran dan Instansi dalam Konteks Akses dan Kesetaraan, menunjukkan bahwa migran secara umum menghadapi pengucilan lebih besar dari Australia dari departemen pemerintah di masyarakat tetapi Muslim terpaksa menanggung beban yang luas. Dalam penelitian ini pengucilan diselidiki pada tiga bidang yang berbeda, di tingkat kerja nasional, tingkat departemen pemerintah nasional dan tingkat manajerial kerja pemerintah. Dalam setiap lingkup ditemukan bahwa komunitas Muslim dua kali lebih inklusif sehingga membuatnya enam kali dikucilkan dari masyarakat secara keseluruhan. Setelah mengumpulkan hasil-hasil dan menggabungkannya dengan negara inklusi yang didefinisikan akademis, itu menghasilkan kondisi baru untuk Harmony sebagai: akses dan kesempatan yang sama bagi semua warga Australia sementara memiliki rasa yang sama-sama dihargai dan memiliki kesempatan berpartisipasi penuh dengan redistribusi kekuasaan untuk ketberdayaan. How to Cite : Amin, U. B. (2016). Muslim Employment In Commonwealth Government Departments And Agencies In The Context Of Access And Equity. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(1), 1-19. doi:10.15408/tjems.v3i1.3485. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i1.3485
Scientific Approach-Based Fikih Learning Model
AbstractThis study aims to find a model of Fikih learning based on a scientific approach in Islamic Senior High Schools. The methodology used is qualitative analysis supported by quantitative data. This type of research uses the Research & Development (R & D) approach. The source of the data is the Fikih learning based on the scientific approach held by MAN Insan Cendekia Serpong and MAN Insan Cendekia Gorontalo. The model that has been conceptualized is experimented on in MAN 1, South Tangerang City. The design of the scientific approach emphasizes the performance and exploration of students both independently and in groups. research results show that scientific approach based learning can encourage students to be active and creative. Students are able to produce a useful product. So it can be concluded that the application of the intended model is considered effective in achieving learning objectives through the application of flexible and conditional steps 5 M. As a recommendation, this learning model innovation based on student-centric is considered feasible to be applied at various levels of education those are equal.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan sebuah model pembelajaran Fikih berbasis pendekatan ilmiah di Madrasah Aliyah. Metodologi yang digunakan adalah analisis kualitatif yang didukung oleh data kuantitatif. Jenis penelitian menggunakan pendekatan penelitian Research & Development (R&D). Sumber data adalah pembelajaran Fikih berbasis pendekatan saintifik yang diselenggarakan oleh MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN Insan Cendekia Gorontalo. Model yang telah terkonsep di eksperimenkan di MAN 1 Kota Tangerang Selatan. Desain pendekatan ilmiah ditekankan kepada kinerja dan eksplorasi siswa baik secara mandiri maupun kelompok. Diperoleh hasil penelitian, pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah mampu mendorong siswa bersikap aktif dan kreatif. Siswa mamapu menghasilkan suatu produk yang bermanfaat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model dimaksud dinilai efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui penerapan langkah 5 M yang fleksibel dan kondisional. Sebagai rekumendasi, inovasi model pembelajaran yang berbasis student centris ini dinilai layak untuk diterapkan di berbagai jenjang pendidikan yang sederajat. How to Cite: Sapiudin. (2019). Scientific Approach-Based Fikih Learning Model. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 155-168. doi:10.15408/tjems.v6i2. 14884
Comparative Analysis on the Primary English Curricula of Japan and Indonesia
Abstract Primary English education in Indonesia and Japan is developing rapidly nowadays. Children in both countries have started to learn English since they are at least in grade four or five. Although English is not a compulsory subject in primary schools, the interest of schools in the two countries toward English education for children is getting higher. This paper tried to reveal the similarities and differences of primary English curiculum contents in Indonesia and in Japan in order to understand better about the development of English education in primary schools in the two countries. Abstrak Pendidikan bahasa Inggris dasar di Indonesia dan Jepang berkembang pesat saat ini. Anak-anak di kedua negara tersebut sudah mulai belajar bahasa Inggris setidaknya sejak mereka kelas empat atau kelas lima. Meskipun bahasa Inggris bukan mata pelajaran wajib di sekolah dasar, minat sekolah-sekolah di kedua negara terhadap pendidikan bahasa Inggris untuk anak-anak semakin tinggi. Tulisan ini mencoba untuk mengungkapkan persamaan dan perbedaan isi kurikulum bahasa Inggris dasar di Indonesia dan di Jepang untuk memahami lebih baik tentang perkembangan pendidikan bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar di kedua negara. How to Cite : Tuswadi. (2016). Comparative Analysis of the Primary English Curricula of Japan and Indonesia. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(1), 96-106. doi:10.15408/tjems.v3i1.3224. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i1.322
SCHOOL OF MASTER TEACHER (SMT) TRAINING: DEVELOPING TEACHERS’ PEDAGOGIC COMPETENCE
AbstractThis study aimed at analyzing School of Master Teacher (SMT) training in developing teacher\u27s pedagogic competence. This study applied a qualitative approach within the framework of case study research. The data was collected through documentation, observation, and interviews. The results showed that SMT training consisted of lectures, social projects, and Classroom Action Research (CAR). Secondly, the training was able to improve teachers’ pedagogic competence with excellent results. 22 of 33 teachers showed accomplished pedagogic competence. While, 9 teachers performed a very good level of the competence in their instruction, 1 teacher gained a medium level, and only 1 teacher received a poor mark.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelatihan School of Master Teacher (SMT) dalam mengembangkan kompetensi pedagogik guru. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dalam kerangka penelitian studi kasus. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan SMT terdiri dari ceramah, proyek sosial, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kedua, pelatihan ini mampu meningkatkan kompetensi pedagogik guru dengan hasil yang sangat baik. 22 dari 33 guru menunjukkan kompetensi pedagogik yang baik. Sementara, 9 guru menunjukkan tingkat kompetensi yang sangat baik dalam pengajaran mereka, 1 guru memperoleh tingkat sedang, dan hanya 1 guru yang mendapat nilai buruk. How to Cite : Musfah, J., Erviani, D. (2018). School of Master Teacher (SMT) Training: Developing Teachers’ Pedagogic Competence. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 126-134. doi:10.15408/tjems.v5i2.10622
Arabic Language as the Icon of Islamic Higher Education: A Study of the Implementation of Arabic Intensive Program
AbstractArabic intensive Program is important to improve the quality of foreign language ability for UIN Imam Bonjol students. The planning, implementing and evaluating the process of the Arabic Intensive Program needs to be addressed and improved from various aspects. Thus, the study aims to identify appropriate policies to improve the management of the Intensive Arabic Language program, to develop Arabic language competency standards based on an analysis of the real conditions of the main components and program supporters, and to formulate the standard to improve the quality of Arabic Intensive Programs at UIN Imam Bonjol, Padang. This study used a qualitative approach where the data taken from interviews, documentation and focus group discussion. Data sources are managers, lecturers, and students participating in Arabic Intensive Program. The results of the study showed that the Arabic programs need appropriate policies to overcome the obstacles and problems. The visible problems were in the planning process, especially planning in the learning objectives, materials, and the provision of lecturers; In connection with the implementation of Arabic Intensive programs, there are still constrained by the available facilities and infrastructure, related to evaluation, the results of the study show that comprehensive evaluation needs to be done in relation to the evaluation of inputs, processes, outputs, and impacts to improve the quality of Arabic as an institutional brand in the future..AbstrakProgram intensif bahasa Arab penting untuk meningkatkan kualitas kemampuan bahasa asing bagi siswa UIN Imam Bonjol. Perencanaan, implementasi dan evaluasi proses Program Intensif Arab perlu ditangani dan ditingkatkan dari berbagai aspek. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebijakan yang tepat untuk meningkatkan manajemen program Bahasa Arab Intensif, untuk mengembangkan standar kompetensi bahasa Arab berdasarkan analisis kondisi nyata dari komponen utama dan pendukung program, dan untuk merumuskan standar untuk meningkatkan kualitas Program Intensif Bahasa Arab di UIN Imam Bonjol, Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana data diambil dari wawancara, dokumentasi dan diskusi kelompok terarah. Sumber data adalah pimpinan, dosen, dan mahasiswa yang berpartisipasi dalam Program Intensif Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program-program Arab membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mengatasi hambatan dan masalah. Masalah yang terlihat dalam proses perencanaan, terutama perencanaan dalam tujuan pembelajaran, bahan, dan penyediaan dosen; Sehubungan dengan pelaksanaan program-program Intensif Bahasa Arab, masih ada kendala oleh fasilitas dan infrastruktur yang tersedia, terkait dengan evaluasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi komprehensif perlu dilakukan sehubungan dengan evaluasi input, proses, output, dan dampak untuk meningkatkan kualitas bahasa Arab sebagai merek kelembagaan di masa depan. How to Cite : Warnis, Triana, H. W., Remiswal, Kustati, M., Nelmawarni. (2019). Arabic Language as the Icon of Islamic Higher Education: A Study of the Implementation of Arabic Intensive Program. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(1), 102-115. doi:10.15408/tjems.v6i1. 10910