TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
225 research outputs found
Sort by
“What do fishermen catch?”; Exploring Talk between Students in Primary Science Classroom Implementing Curriculum 2013
AbstractThe objective of this research is to explore of dialogue in primary science classrooms that implement Curriculum 2013. Dialogue is a term used in a broad sense to mean the exchange of information, thought and ideas from the sources to audiences through both written and spoken language. In this study, the sort of dialogue I am interested in is classroom talk; even more specifically, talk between students in the primary science classroom. A case study approach is employed for this study. I am focusing my study on twelve science lessons at year four of one primary schools in the Greater Jakarta. Data were gathered using classroom observations. I wrote a field note for each lesson and record the observation using audio and video recorder For analysing the data, I employed socio culture discourse analysis. The study shows that talk between students during a science lesson is adapted from both a traditional triadic pattern called Initiation, Response, Feedback (IRF) and a non-triadic pattern of Initiation, Response, Feedback, Response, Feedback (IRFRF) chain. In addition, the findings indicate that students were able to develop the four domains of scientific literacy through talks during science lessons.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dialog di dalam kelas sains dasar yang menerapkan Kurikulum 2013. Dialog adalah istilah yang digunakan dalam arti luas berarti pertukaran informasi, pemikiran dan ide-ide dari sumber pembicara ke lawan bicara melalui komunikasi baik lisan maupun tulisan. Dalam penelitian ini, jenis dialog yang menarik bagi peneliti adalah pembicaraan di kelas; khususnya, pembicaraan antara siswa di kelas sains tingkat Sekolah Dasar. Pendekatan studi kasus digunakan pada penelitian ini. Fokus penelitian ini adalah dua belas materi ajar mata pelajaran sains pada kelas empat dari salah satu sekolah dasar di Jabodetabek. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan observasi kelas. Peneliti menulis catatan lapangan untuk setiap pengajaran dan merekam kegiatan pengajaran menggunakan audio dan perekam video. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan analisis wacana sosial budaya. Studi ini menunjukkan bahwa perbincangan antara siswa selama pelajaran sains diadaptasi dari pola triadic-tradisional yang disebut Initiation (Inisiasi), Response (Respon), dan Feedback (Timbal Balik) yang disingkat IRF dan pola non-triadic yang disebut Initiation (Inisiasi), Response (Respon), Feedback (Timbal Balik), Response (Respon), Feedback (Timbal Balik) yang disebut denga Rantai IRFRF. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa siswa mampu mengembangkan empat domain literasi ilmiah melalui diskusi selama pelajaran ilmu pengetahuan How to Cite : Ramli, M. (2018). What do fishermen catch?”; Exploring Talk between Students in Primary Science Classroom Implementing Curriculum 2013. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(1), 1-10. doi:10.15408/tjems.v5i1.7496.
Contextualization of Islamic Education Curriculum in Junior High Schools
AbstractSeveral years of experience teaching PLPG training for teachers in the Ministry of Religion, especially Islamic Religious Education (PAI) teachers, found the fact that "the teacher" as the essential instrument in the process of teaching and learning activities in the classroom is considered unattractive. Therefore, "teachers" are required to design PAI curriculum development and conduct contextual learning on PAI subjects, to be able to connect the material with real-life students. This study aims to explore the relationship between curriculum development and the improvement of PAI contextual learning. The research approach used is descriptive qualitative with a multi-case design carried out at SMPN (Junior High School) 3 Rejoso Darul Ulum and MTsN (Islamic Junior High School) Tambak Beras Jombang. The results showed that; (1) the curriculum development approach commonly referred to and used in both institutions is academic and humanistic. While the technological approach is still unclear. (2) The use of additional PAI literature such as Jurisprudence and Arabic language development, by referring to Fath al-Qarib and Amsilah Tasrifiyah as a form of integration between the formal curriculum in schools and the boarding school curriculum. (3) Factually it can be stressed that the process of curriculum development can increase the contextually of active PAI learning in both educational institutions through the use of project-based learning strategies.AbstrakBeberapa tahun pengalaman mengajar pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) untuk guru di Kementrian Agama terutama guru Pendidikan Agama Islam (PAI), ditemukan fakta bahwa “guru” sebagai instrumen terpenting dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas dianggap tidak menarik. Oleh karenanya, “guru” dituntut untuk mendesain pengembangan kurikulum PAI dan melakukan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran PAI, sehingga mampu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata siswa. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara pengembangan kurikulum dengan peningkatan pembelajaran kontekstual PAI. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan rancangan multi-kasus yang dilaksanakan di SMPN 3 Rejoso Darul Ulum dan MTsN Tambak Beras Jombang. Hasil penelitian menunjukan bahwa; (1) Pendekatan pengembangan kurikulum yang biasa dirujuk dan digunakan pada kedua lembaga tersebut adalah pendekatan akademik dan humanistik. Sedangkan pendekatan teknologis masih belum jelas penggunaannya. (2) Penggunaan literatur tambahan PAI seperti Fikih dan pengembangan bahasa Arab, dengan merujuk kitab Fath al-Qarib dan kitab Amsilah Tasrifiyah sebagai bentuk integrasi antara kurikulum formal di sekolah dengan kurikulum pondok pesantren. (3) Secara faktual dapat ditegaskan bahwa proses pengembangan kurikulum dapat meningkatkan kontekstualitas pembelajaran PAI secara aktif pada kedua lembaga pendidikan tersebut melalui penggunaan strategi project based learning. How to Cite: Abitolkha, A. M., Ismail, A. N., Hady, Y. (2020). Contextualization of Islamic Education Curriculum in Junior High Schools. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7 (1), 48-66. doi:10.15408/tjems.v7i1.13843.
Analysis of Students\u27 Creative Thinking Ability with Problems Solving in Terms of Adversity Quotient
AbstractStudents’ difficulties in chemistry subject are the main cause of their low rate to think creatively. Students with high adversity quotient are most likely to overcome the difficulties in finding a solution to answer the creative thinking problems. The objective of this research is to analyze the creative thinking ability in chemistry from the perspective of adversity quotient. The subjects of the study are 72 senior high school students from XII grade in Tangerang. The sampling applies a random sampling technique. Data collection technique is carried out by giving a test about chemical creative thinking skills in the form is essay question with 0,727 realibility scale. Adversity quotient data is obtained using a questionnaire scale with 0,652 realibility scale. The method used in this study is a descriptive qualitative and quantitative method. The result indicates that camper and quitter subjects are classified as creative and climber subjects are classified as very creative. The different aspects of students’ ability in solving problems can be used in mapping students\u27 creative thinking abilities. As a recommendation, to improve creative thinking ability requires a high level of adversity quotient. Therefore, in this research students are expected to explore their creative thinking abilities in the learning process.AbstrakKesulitan siswa pada mata pelajaran kimia menjadikan rendahnya kemampuan berpikir kreatif. Siswa yang memiliki adversity quotient tinggi maka dapat mengatasi kesulitan untuk menemukan solusi jawaban dari soal berpikir kreatif. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis kemampuan berpikir kraetif kimia ditinjau dari adversity quotient. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII SMA di Kabupaten Tangerang yang sebanyak 72 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melaksanakan tes kemampuan berpikir kreatif kimia berupa soal uraian dengan realibilitas sebesar 0,727. Data adversity quotient, diperoleh dengan menggunakan skala angket dengan realibilitas sebesar 0,652. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek camper dan quitter tergolong kreatif dan Subjek dengan climber tergolong sangat kreatif. Perbedaan aspek kemampuan siswa dalam mengatasi kesulitan dapat digunakan dalam memetakan kemampuan berpikir kreatif siswa. Sebagai rekomendasi, dengan memiliki tingkat adversity quotient yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya. Oleh karena itu, Penelitian ini diharapkan siswa dapat mengeksplorasi kemampuan berpikir kreatifnya dalam proses pembelajaran. How to Cite: Muslim, B., Suryaningsih, S., Aprianti, R. F. (2020). Analysis of Students\u27 Creative Thinking Ability with Problems Solving in Terms of Adversity Quotient. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7(2), 217-225. doi:10.15408/tjems.v7i2.15234
Fiqh Learning Methodology in Responding Social Issues in Madrasa
AbstractThis research aims to find out how students in Fiqh learning should have the ability to direct or form themselves in the learning process, what will be studied and to what extent, when, and how they will learn. Thus, students do not just become passive recipients in the learning process itself. In this case, it also emphasizes the importance of emotions, open communication and the values that each student has. This type of research uses a qualitative research methodology with a focus on literature research methods (data collection/sources). The results of this research show that Fiqh subjects in madrasas and public schools that should be able to raise awareness of students in terms of religion after studying Fiqh are increasingly motivated to practice it, but in fact, the students have not been able to adjust the learning maximally in their daily lives. Abstrak enelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana siswa dalam pembelajaran Fiqih harus memiliki kemampuan mengarahkan atau membentuk diri sendiri dalam proses pembelajaran, apa yang akan dipelajari dan sejauh mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi penerima yang pasif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Dalam hal ini juga ditekankan pada pentingnya emosi, komunikasi yang terbuka dan nilai-nilai yang dimiliki setiap siswa. Jenis penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan menitikberatkan pada metode penelitian kepustakaan (pengumpulan / sumber data). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mata pelajaran Fiqih di madrasah dan sekolah negeri yang semestinya dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam hal agama setelah mempelajari Fiqh semakin termotivasi untuk mengamalkannya, namun nyatanya siswa belum mampu menyesuaikan belajar secara maksimal dalam kehidupan sehari-hari mereka. How to Cite: Mansir, F., Karim, A. (2020). Fiqh Learning Methodology in Responding Social Issues in Madrasa. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7(2), 241-251. doi:10.15408/tjems.v7i2.20024
Interest to be Teacher and Cumulative Grade Point Average (CGPA) Analyzed by the Admissions of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstract This study aims to explore the interest to be teacher for FITK (Faculty of Tarbiyah and Teachers Training) students associated with the other types of variables such as gender, origin of High School, Cumulative Grade Point Average (CGPA), and the admission types to UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. A survey method was administered to students in Science Education department from three courses, by200 people as samples. The instruments were an open questionnaire to record the factual data and an enclosed questionnaire to asses their interest. The data analysis employed the descriptive and inferential techniques. The results showed that the students’ interest to be teacher is quite high. There was no interest different between male and female students based on the educational background and the entrance types to UIN. Even though based on gender women’s CGPA was relatively higher than men’s, generally, there was no distinction of students CGPA based on the educational background, and admission of UIN Jakarta.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat mahasiswa FITK menjadi guru ditinjau dari berbagai latar belakang seperti jenis kelamin, asal SLTA, indeks Prestasi Kumulatif (IPK), dan jalur masuk UIN. Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini difokuskan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA, dari 3 angkatan dengan sample data sebanyak 200 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terbuka untuk mencatat data faktual dan kuesioner tertutup untuk menilai minat mahasiswa. Teknik analisis data ini bersifat deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukan bahwa minat mahsiswa menjadi guru cukup tinggi. Tidak ditemukan perbedaan minat antara mahasiswa dan mahasiswi yang didasarkan pada asal sekolah SLTA dan jalur masuk UIN. Meskipun berdasarkan pengelompokan IPK sesuai jenis kelamin yang relatif lebih tinggi adalah perempuan, secara umum, tidak terdapat perbedaan IPK mahasiswa berdasarkan latar belakang pendidikan dan jalur masuk UIN. How to Cite : Ahmad Sofyan. (2016). Interest to be Teacher and Cumulative Grade Point Average (CGPA) Analyzed by the Admissions of Uin Jakarta. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(1), 107-120. doi:10.15408/tjems.v3i1.3407. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i1.340
Government Policy about the Integration of General Science and Religion at the Senior High School/Madrasah Aliyah
Abstract The research problem was how to extent government policy about the integration of general science and religion at the Senior High School/ Islamic Senior High School. The objective of the research was to know the factor of the government policy about the integration of general science and religion, its background, destination, contents, implementation, obstacle and solution of government policy at the Senior High School/Islamic Senior High School, DKI Jakarta. The method of research used was documentation, history and triangulation methods. The finding of research was to integrate general science and religion at Senior High School/Islamic Senior High School, its limited the justification of Qur’an verses only, not to the real science of Islamization. Abstrak Masalah penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan kebijakan pemerintah tentang integrasi ilmu umum dan agama di SMA / Madrasah Aliyah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor kebijakan pemerintah tentang integrasi ilmu pengetahuan umum dan agama, latar belakang, tujuan, isi, pelaksanaan, hambatan dan solusi atas kebijakan pemerintah di SMA / Madrasah Aliyah di DKI Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode dokumentasi, sejarah dan triangulasi. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa untuk mengintegrasikan ilmu umum dan agama di SMA / Madrasah Aliyah hanya terbatas pada pembenaran ayat-ayat Qur\u27an saja, bukan ilmu-ilmu Islam yang sebenarnya. How to Cite : Rahmatullah. Tafsir, A. Mujahidin, E. (2016). Integrating Science and Religion: An Analysis on The Policy of The Government at Senior High School/Madrasah Aliyah. TARBIYA: Journal Of Education In Muslim Society, 3(1), 32-50. doi:10.15408/tjems.v3i1. 3408. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/tjems.v3i1. 340
STIFIn Method as Intelligence Machine in Enhancing Children\u27s Intelligence Potential in Pesantren
AbstractThis article presents the role of STIFIn method as an intelligence machine for enhancing children\u27s intelligence potential as learning innovation in pesantren. This method is a new learning innovation, developed by pesantren to find genetic potential or intelligence machine that exists in each santri through STIFIn test by scanning on the ten fingers. Strokes or fingerprint data are processed by a computer application to determine the hemisphere and dominant brain layer, and those are; Sensing, thinking, intuiting, feeling and instinct. By that, studies learning style can be found, so it is easy for enhancing children\u27s intelligence in pesantren. This study adopts a qualitative research approach and uses a case study design with a multi-site approach. The study show that the strategiys carried out by educators at the three pesantren for enhancing santri intelligence potential through the STIFIn intelligence engine can be mapped as follows: my rival is my teacher, road to victory, the power of dream, a tribute to other, one step closer.AbstrakTulisan ini menyajikan tentang strategi metode STIFIn sebagai mesin kecerdasan dalam meningkatkan potensi kecerdasan anak sebagai bagian dari inovasi pendidikan di pondok pesantren. Metode ini merupakan inovasi baru dalam pembelajaran, yang dikembangkan oleh pesantren untuk mengenali potensi genetik atau mesin kecerdasan yang ada pada setiap individu santri melalui tes STIFIn, yaitu dengan melakukan scan pada sepuluh jari. Data guratan atau sidik jari diolah oleh aplikasi komputer untuk menentukan belahan dan lapisan otak dominan, yaitu; sensing, thingking, intuiting, feeling dan insting. Dengan begitu, akan ditemukan gaya dan tipe belajar siswa, sehingga mudah untuk ditingkatkan kecerdasannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis studi kasus dengan pendekatan multi situs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan potensi kecerdasan anak melalui metode STIFIn pada tiga pondok pesantren adalah; my rival is my teacher, road to victory, the power of dream, a tribute to other, one step closer.How to Cite: Baharun, H., Adhimiy, S. (2019). STIFIn Method as Intelligence Machine in Enhancing Children\u27s Intelligence Potential in Pesantren. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 233-250. doi:10.15408/tjems.v6i2.9247.
Intercultural Communicative Language Teaching in China: Highlight or Addendum?
AbstractInternational students were frequently reported of culture shock issues when entering a new cultural environment. Cultural knowledge was often treated as an addendum which focused on learning facts about the target country. This article demonstrated culture shock that experienced by 7 international students, and also reviewed intercultural communicative language teaching (ICLT) in Indonesian language classrooms practiced by 6 language practitioners from 3 different universities in China. Using findings that emerged from a series of one-to-one interviews, the research explored practitioners’ current perspective of ICLT and how these understandings influenced their practices, including teaching materials, methods, and activities. The researcher discussed the possible causes of the status quo of ICLT in China, and went on to put forward suggestions that ICLT should be promoted in foreign language teaching as a successful mediator of intercultural dimension.AbstrakMahasiswa internasional sering dilaporkan tentang masalah kejutan budaya ketika memasuki lingkungan budaya baru. Pengetahuan budaya sering diperlakukan sebagai tambahan yang berfokus pada mempelajari fakta tentang negara sasaran. Artikel ini menunjukkan kejutan budaya yang dialami oleh 7 siswa internasional, dan juga mengulas pengajaran bahasa komunikatif antarbudaya (ICLT) di ruang kelas bahasa Indonesia yang dipraktikkan oleh 6 praktisi bahasa dari 3 universitas berbeda di Tiongkok. Menggunakan temuan yang muncul dari serangkaian wawancara satu-ke-satu, penelitian mengeksplorasi perspektif praktisi saat ini tentang ICLT dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi praktik mereka, termasuk bahan ajar, metode, dan kegiatan. Peneliti membahas kemungkinan penyebab status quo ICLT di Cina, dan kemudian mengajukan saran bahwa ICLT harus dipromosikan dalam pengajaran bahasa asing sebagai mediator sukses dimensi lintas budaya. How to Cite :, Wang, Q., Syihabuddin., Mulyati, Y., Damaianti, V. S. (2018). Intercultural Communicative Language Teaching in China: Highlight or Addendum?. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 155-165. doi:10.15408/tjems.v5i2.9732
Ability of Mathematical Generalisation Thinking of Mathematics Education Students
AbstractThe main objectives of this study are: 1) describing and analyzing the mathematical generalization ability of mathematics education students at State Islamic University (UIN) in Indonesia, 2) investigating the differences in mathematical generalization abilities of mathematics education students across State Islamic University (UIN) in Indonesia. The study was conducted at 6 UIN in Indonesia with a sample of 5th semester students using the survey method. The results of this study indicate that: 1) The ability of mathematical generalizations thinking of Mathematics Education students from 6 state Islamic universities in Indonesia can be seen from the average value of each sample. The average mathematical generalization of Syarif Hidayatullah State Islamic University in Jakarta is higher high than the other 5 state Islamic universities, with the average value of 61.31. 2) There is no difference in the ability of mathematical generalization thinking among mathematics educations students of State Islamic University (UIN) in Indonesia.AbstrakTujuan utama dari penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan dan menganalisis kemampuan generalisasi matematika siswa pendidikan matematika di Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia, 2) menyelidiki perbedaan kemampuan generalisasi matematika siswa pendidikan matematika di Universitas Islam Negeri (UIN) ) di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di 6 UIN di Indonesia dengan sampel mahasiswa semester 5 menggunakan metode survei. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Kemampuan berpikir generalisasi matematika siswa Pendidikan Matematika dari 6 universitas Islam negeri di Indonesia dapat dilihat dari nilai rata-rata setiap sampel. Generalisasi matematika rata-rata dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta lebih tinggi daripada 5 universitas Islam negeri lainnya, dengan nilai rata-rata 61,31. 2) Tidak ada perbedaan kemampuan berpikir generalisasi matematika di kalangan mahasiswa pendidikan matematika Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia. How to Cite : Fatra, M., Angraini, L. M., Jatmiko, M. A. (2019). Ability of Mathematical Generalisation Thinking of Mathematics Education Students. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(1), 69-75. doi:10.15408/tjems.v5i1.12315