Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Nigella Sativa Seed Extract has Potential Antimicrobial Activity on Pasteurella multocida in Vitro

    Get PDF
    Nigella sativa known as black cumin has various bioactive compounds to treat many diseases. Some of the benefits of N. sativa seed are as immune booster, antihistamin, anti-diabetic, antihypertension, antiinflammatory, antimicrobial, and antitumor. This study aimed at determining the antimicrobial activity and finding out the effective concentration of N. sativa seed ethanolic extract on Pasteurella multocida in vitro. N. sativa seed extract was divided into three groups consisting of 15% extract (T1), 25% extract (T2), 45% extract (T3), and chloramphenicol was used as positive control. For antimicrobial test, Kirby Bauer diffusion method was used, and the data were analyzed by ANOVA. The results revealed that T3 had the most effective antimicrobial activity, shown by the largest inhibition zone (17.72 mm), followed by T2 (15.93 mm) and T1 (10.75 mm). ANOVA test results showed significant differences (P<0.05) in each group. The antimicrobial effect of T3 and T2 was categorized as strong, whilst T1 as moderate. From the results it can be concluded that N. sativa seed extract had strong and moderate inhibition activity on the growth of P. multocida, therefore, N. sativa seed is a potential candidate for antimicrobial drug development againts P. multocida.Nigella sativa known as black cumin has various bioactive compounds to treat many diseases. Some of the benefits of N. sativa seed are as immune booster, antihistamin, anti-diabetic, antihypertension, antiinflammatory, antimicrobial, and antitumor. This study aimed at determining the antimicrobial activity and finding out the effective concentration of N. sativa seed ethanolic extract on Pasteurella multocida in vitro. N. sativa seed extract was divided into three groups consisting of 15% extract (T1), 25% extract (T2), 45% extract (T3), and chloramphenicol was used as positive control. For antimicrobial test, Kirby Bauer diffusion method was used, and the data were analyzed by ANOVA. The results revealed that T3 had the most effective antimicrobial activity, shown by the largest inhibition zone (17.72 mm), followed by T2 (15.93 mm) and T1 (10.75 mm). ANOVA test results showed significant differences (P<0.05) in each group. The antimicrobial effect of T3 and T2 was categorized as strong, whilst T1 as moderate. From the results it can be concluded that N. sativa seed extract had strong and moderate inhibition activity on the growth of P. multocida, therefore, N. sativa seed is a potential candidate for antimicrobial drug development againts P. multocida

    Feline Atopic Skin Syndrome: an Introduction to Recently Proposed Terminology and How to Work Up the Case

    Get PDF
    Atopic disease remains as an enigmatic hypersensitivity disorder in feline patients. Studies of cutaneous atopic syndrome in cats have reported several reaction patterns in cats, presenting as a diagnostic challenge, and a recent literature review has proposed a new set of terminologies for such diagnoses. This paper aims to report a case workup of feline atopic skin syndrome in a patient presented with severe pruritus and reaction patterns of self-inducd alopecia and facial excoriation. Feline food allergy and flea allergic dermatitis were ruled out by a 6-week elimination diet and use of fluralaner respectively. Clinical symptoms were successfully managed with the use of oral glucocorticoid (GC) and systemic and topical antimicrobial, the use of all of which for 8 weeks was deemed successful based on the degree of clinical relief provided. It is concluded that feline atopic skin syndrome is a clinical diagnosis and pharmacological interventions, including drugs to treat skin inflammation and secondary infection, are warranted

    Koinfeksi Fasciola dan Paramphistomum pada Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) di Kabupaten Sumba Timur

    Get PDF
    Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) merupakan ternak yang memegang peranan dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Kabupaten Sumba Timur. Salah satu penyakit yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan pada ternak, termasuk kerbau, adalah infeksi Trematoda. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis cacing Trematoda yang menginfeksi serta mengukur prevalensi dan intensitas infeksinya. Metode filtrasi bertingkat digunakan untuk mendeteksi keberadaan Trematoda pada penelitian ini. Hasil pemeriksaan 105 sampel tinja kerbau asal Kabupaten Sumba Timur menunjukkan sebanyak 17/105 (16,19%) kerbau mengalami Trematodosis yang disebabkan oleh infeksi tunggal Fasciola gigantica (0,95%; rataan telur tiap gram tinja [TTGT] 1,00) dan Paramphistomum sp. (14,29%; rataan TTGT 2,26), serta infeksi campuran (koinfeksi) kedua Trematoda tersebut (0,95%; rataan TTGT 2,45). Prevalensi infeksi Trematoda kerbau betina (17,33%) ditemukan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerbau jantan (13,33%). Umur dan jenis kelamin diketahui tidak berasosiasi nyata (p > 0,05) dengan kejadian dalam penelitian ini. Intensitas infeksi Trematoda pada penelitian ini dikategorikan ringan, dengan rataan geometrik 2,18 TTGT. Temuan ini menunjukkan bahwa kerbau lumpur di Kabupaten Sumba Timur terinfeksi oleh cacing Trematoda, sehingga diperlukan upaya pengendalian untuk mencegah kerugian akibat infeksi tersebut

    Potensi Penularan Bovine Tuberculosis pada Sapi Perah dan Manusia di Wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa, Indonesia

    Get PDF
    Kejadian kasus tuberkulosis pada manusia di Indonesia dilaporkan masih tinggi. Bovine tuberculosis pada sapi perah diduga turut berperan dalam meningkatkan kasus tuberkulosis karena dapat menular ke manusia (zoonosis). Penularan penyakit ini antar ternak dan ke manusia perlu dikendalikan untuk menurunkan tingkat kejadian kasus. Potensi penularan kasus antar ternak dan ke manusia di suatu wilayah dapat diperkirakan dengan mengombinasikan data pemeriksaan sampel susu dan praktik manajemen peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan potensi penularan kasus tuberkulosis pada sapi perah dan manusia di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa yang merupakan sentra peternakan sapi perah di Indonesia. Pemeriksaan bakteri Bovine tuberculosis dengan metode PCR konvensional dilakukan terhadap 163 sampel susu dari 92 peternakan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data praktik manajemen peternakan dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur. Potensi penularan kasus diperkirakan dengan nilai yang diperoleh dari metode Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA). Kriteria yang digunakan antara lain data pemeriksaan sampel susu, dan praktik manajemen pemeliharaan yang terdiri atas manajemen kesehatan, higiene sanitasi dan biosekuriti. Pemeriksan terhadap susu tidak menemukan bakteri M. bovis pada seluruh sampel yang diperiksa. Potensi penularan kasus tuberkulosis antar ternak sapi perah memiliki nilai 0.53 (sedang) dan potensi penularannya ke manusia memiliki nilai 0.4 (sedang)

    Evaluasi Performa Ayam Broiler Setelah Pemberian Produk Cellulovit® pada Fase Finisher

    Get PDF
    Peningkatan produksi ternak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Peningkatan kualitas nutrisi, penambahan suplemen dan pemberian bahan bahan yang meningkatkan kecernaan pakan. Selain faktor pakan,  perlu diberikannya sediaan yang dapat memperbaiki kualitas usus karena didalam usus terdapat mikroflora normal yang membantu pencernaan makanan. Pertumbuhan mikroba yang menguntungkan diperlukan dalam tubuh ayam broiler untuk memperlancar pencernaan pakan. Pemberian enzim sebagai suplemen pakan masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan peningkatan performa ayam broiler pada fase finisher setelah diberikan produk Cellulovit®. Produk yang digunakan mengandung enzim papain yang diindikasikan dapat meningkatkan kecernaan usus ayam. Penelitian ini dilakukan di peternakan ayam dengan sistem close house dngan populasi 6.285 ekor ayam. Produk diberikan pada minggu ke 4 pemeliharaan. Pemberian sediaan dilakukan dengan menambahkan bahan kedalam air minum dengan dosis 1 mL dalam 2 Liter air minum. Pemberian sediaan dilakukan dari hari ke 21 hingga hari ke 26. Penelitian ini mengamati performa ayam yang meliputi Feed Intake (FI), Average Daily Gain (ADG), Body Weight (BW), dan Feed Consumption rate (FCR). Data dikleksi dalam bentuk tabulasi dan diolah dengan metode ANOVA single parameter menggunakan perangkat lunak R software. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan dalam konsumsi pakan, feed consumption rate (FCR), dan peningkatan bobot badan harian ayam. Parameter feed intake meningkat 72% dibandingkan dengan sebelum pemberian produk, FCR menurun dari 1.9 menjadi 1.8. Bobot badan meningkat 59.9% dibandingkan dengan sebelum pemberian sediaan. Pertambahan bobot badan mingguan meningkat 89.6% dibandingkan dengan sebelum pemberian sediaan.  Hal ini menunjukan pemberian Cellulovit® memberikan efek yang baik terhadap performa ayam broiler fase sinisher.Peningkatan produksi ternak dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan meningkatan kualitas nutrisi, penambahan suplemen dan pemberian bahan bahan yang meningkatkan kecernaan pakan. Selain faktor pakan, sediaan yang dapat memperbaiki kualitas usus perlu diberikan karena didalam usus terdapat mikroflora normal yang membantu pencernaan makanan. Pertumbuhan mikroba yang menguntungkan diperlukan dalam tubuh ayam broiler untuk memperlancar pencernaan pakan. Pemberian enzim sebagai suplemen pakan masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan peningkatan performa ayam broiler pada fase finisher setelah diberikan produk Cellulovit®. Produk yang digunakan mengandung enzim papain yang diindikasikan dapat meningkatkan kecernaan usus ayam. Penelitian ini dilakukan di peternakan ayam dengan sistem close house dengan populasi 6.285 ekor ayam. Produk diberikan pada minggu ke 4 pemeliharaan. Pemberian sediaan dilakukan dengan menambahkan bahan ke dalam air minum dengan dosis 1 mL dalam 2 Liter air minum. Pemberian sediaan dilakukan dari hari ke 21 hingga hari ke 26. Penelitian ini mengamati performa ayam yang meliputi Feed Intake (FI), Average Daily Gain (ADG), Body Weight (BW), dan Feed Consumption Rate (FCR). Data dikoleksi dalam bentuk tabulasi dan diolah secara statistic dengan ANOVA single parameter menggunakan perangkat lunak R software. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan dalam konsumsi pakan, Feed Consumption Rate (FCR), dan peningkatan bobot badan harian ayam. Parameter Feed Intake meningkat 72% dibandingkan dengan sebelum pemberian produk, Feed Consumption Rate (FCR) menurun dari 1.9 menjadi 1.8. Bobot badan meningkat 59.9% dibandingkan dengan sebelum pemberian sediaan. Pertambahan bobot badan mingguan meningkat 89.6% dibandingkan dengan sebelum pemberian sediaan. Hal ini menunjukan pemberian Cellulovit® memberikan efek yang baik terhadap performa ayam broiler fase finisher

    Performa Reproduksi Ayam IPB-D1 Betina pada Konsentrasi IgY Berbeda

    Get PDF
    Ayam IPB-D1 merupakan hasil persilangan antara jantan F1 pelung-sentul dengan betina F1 kampung-broiler parent stock. Keunggulan yang dimiliki ayam IPB-D1 yaitu pertumbuhan yang cepat dan mencapai bobot potong (jantan 1.18 kg dan betina 1.04 kg) pada umur 10-12 minggu. Salah satu indikator ketahanan tubuh terhadap penyakit yakni konsentrasi Immonoglobulin Yolk (IgY) pada serum. Induk ayam yang memiliki konsentrasi IgY serum tinggi menghasilkan kuning telur dengan konsentrasi IgY yang tinggi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi konsentrasi IgY yang berbeda terhadap reproduksi pada ayam IPB-D1 betina. Penelitian ini menggunakan 20 ekor ayam IPB-D1 7 bulan, terdiri dari 10 ekor dengan konsentrasi IgY tinggi dan 10 ekor dengan konsentrasi IgY rendah. Variabel yang diamati reproduksi meliputi fertilitas, daya tetas, dan bobot DOC ayam IPB D-1. Hasil penelitian mengenai performa reproduksi ayam IPB -D1 yang memiliki IgY rendah pada kondisi normal menghasilkan persentase fertilitas yang lebih tinggi dibandingkan ayam IPB-D1 IgY tinggi. Daya tetas dan bobot tetas pada telur ayam IPB-D1 yang menunjukkan data persentase daya tetas dan bobot DOC ayam IgY tinggi lebih rendah dibandingkan ayam IgY rendah. Bobot tetas pada penelitian dapat dikatakan kurang maksimal. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya peningkatan suhu panas dan penurunan kelembaban pada mesin tetas yang menyebabkan daya tetas pada telur kurang maksimal. Dapat disimpulkan bahwa induk Ayam IPB-D1 yang memiliki IgY tinggi pada kondisi normal menghasilkan performa reproduksi yang lebih rendah dibandingkan ayam IPB-D1 IgY rendah.Ayam IPB-D1 merupakan hasil persilangan antara jantan F1 pelung-sentul dengan betina F1 kampung-broiler parent stock. Keunggulan yang dimiliki ayam IPB-D1 yaitu pertumbuhan yang cepat dan mencapai bobot potong (jantan 1.18 kg dan betina 1.04 kg) pada umur 10-12 minggu. Salah satu indikator ketahanan tubuh terhadap penyakit yakni konsentrasi Immonoglobulin Yolk (IgY) pada serum. Induk ayam yang memiliki konsentrasi IgY serum tinggi menghasilkan kuning telur dengan konsentrasi IgY yang tinggi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi konsentrasi IgY yang berbeda terhadap reproduksi pada ayam IPB-D1 betina. Penelitian ini menggunakan 20 ekor ayam IPB-D1 7 bulan, terdiri dari 10 ekor dengan konsentrasi IgY tinggi dan 10 ekor dengan konsentrasi IgY rendah. Variabel yang diamati reproduksi meliputi fertilitas, daya tetas, dan bobot DOC ayam IPB D-1. Hasil penelitian mengenai performa reproduksi ayam IPB -D1 yang memiliki IgY rendah pada kondisi normal menghasilkan persentase fertilitas yang lebih tinggi dibandingkan ayam IPB-D1 IgY tinggi. Daya tetas dan bobot tetas pada telur ayam IPB-D1 yang menunjukkan data persentase daya tetas dan bobot DOC ayam IgY tinggi lebih rendah dibandingkan ayam IgY rendah. Bobot tetas pada penelitian dapat dikatakan kurang maksimal. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya peningkatan suhu panas dan penurunan kelembaban pada mesin tetas yang menyebabkan daya tetas pada telur kurang maksimal. Dapat disimpulkan bahwa induk Ayam IPB-D1 yang memiliki IgY tinggi pada kondisi normal menghasilkan performa reproduksi yang lebih rendah dibandingkan ayam IPB-D1 IgY rendah

    Studi Kejadian Infeksi Protozoa Saluran Pencernaan pada Pasien Kucing di Klinik Rvet Bogor

    No full text
    Kucing adalah inang definitif untuk beberapa infeksi protozoa saluran pencernaan. Kejadian infeksi protozoa saluran pencernaan masih menjadi kategori penyakit terabaikan pada hewan maupun manusia. Penyakit ini perlu diperhatikan karena penyebarannya pada kucing terjadi secara masif dan beberapa diantaranya zoonosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis data penyakit protozoa saluran pencernaan pada pasien kucing di Klinik Rvet Bogor dan membandingkan tingkat infeksi penyakit tersebut dengan curah hujan. Pengambilan data dilakukan dengan merekap rekam medik di Klinik Rvet Bogor pada September 2020–September 2021. Selain itu, data curah hujan diperoleh dari Stasiun Meterologi Citeko, Bogor. Seluruh data rekam medik infeksi protozoa saluran pencernaan pada kucing di klinik tersebut berjumlah 74 kasus, yang terdiri atas 48 kasus Giardia sp., 6 kasus Toxoplasma sp., 11 kasus Entamoeba sp., dan 9 kasus Isospora sp. Tingkat kejadian tertinggi terjadi pada kasus Giardia sp. sebesar 64,86%. Cuaca merupakan salah satu faktor penting dalam transmisi infeksi protozoa saluran pencernaan pada kucing. Bulan tertinggi infeksi protozoa saluran pencernaan terjadi pada November–Desember 2020, Maret 2021, dan Mei 2021 dengan curah hujan menengah. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan sanitasi dan higienitas oleh kucing maupun pemilik hewan.Kucing adalah inang definitif untuk beberapa infeksi protozoa saluran pencernaan. Kejadian infeksi protozoa saluran pencernaan masih menjadi kategori penyakit terabaikan pada hewan maupun manusia. Penyakit ini perlu diperhatikan karena penyebarannya pada kucing terjadi secara masif dan beberapa diantaranya zoonosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis data penyakit protozoa saluran pencernaan pada pasien kucing di Klinik Rvet Bogor dan membandingkan tingkat infeksi penyakit tersebut dengan curah hujan. Pengambilan data dilakukan dengan merekap rekam medik di Klinik Rvet Bogor pada September 2020–September 2021. Selain itu, data curah hujan diperoleh dari Stasiun Meterologi Citeko, Bogor. Seluruh data rekam medik infeksi protozoa saluran pencernaan pada kucing di klinik tersebut berjumlah 74 kasus, yang terdiri atas 48 kasus Giardia sp., 6 kasus Toxoplasma sp., 11 kasus Entamoeba sp., dan 9 kasus Isospora sp. Tingkat kejadian tertinggi terjadi pada kasus Giardia sp. sebesar 64,86%. Cuaca merupakan salah satu faktor penting dalam transmisi infeksi protozoa saluran pencernaan pada kucing. Bulan tertinggi infeksi protozoa saluran pencernaan terjadi pada November–Desember 2020, Maret 2021, dan Mei 2021 dengan curah hujan menengah. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan sanitasi dan higienitas oleh kucing maupun pemilik hewan

    Studi Kasus Gallbladder Mucocele disertai Ehrlichiosis pada Anjing Beagle

    Get PDF
    Komplikasi gallbladder mucocele dan Ehrlichiosis akibat infeksi bakteri Ehrlichia canis (E. canis) dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian pada anjing. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik gallbladder mucocele serta Ehrlichiosis pada anjing melalui interpretasi ultrasonografi abdomen, hematologi, dan kimia darah serta studi terkait terapi yang diberikan. Seekor anjing beagle betina berumur ±15 tahun milik RSHP SKHB IPB University memiliki keluhan muntah frekuen, penurunan nafsu makan, dan lesu. Pemeriksaan fisik pada hewan menunjukkan BCS rendah dan dehidrasi. Sonogram abdomen menunjukkan adanya pembesaran gallbladder disertai adanya endapan sekitar 90 % dengan ekhogenitas hiperekoik. Pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan nilai ALT 132 U/L, total protein 8.3 g/dL, anemia (eritrosit 2.68 x 106 µL), trombositopenia (trombosit 20 x 103 µL), leukopenia (leukosit 4.8 x 103 µL), limfopenia (limfosit 0.6 x 103), dan kadar blood urea nitrogen yang tinggi (187 mg/dL). Evaluasi Rapid test kit menunjukkan anjing positif terinfeksi E. Canis.  Kombinasi terapi asam ursodeoxycholic, hepatoprotektan, antibiotik, suplemen darah, dan vitamin diberikan selama 2 bulan. Evaluasi sonogram dan darah dilakukan setiap 4 minggu. Kondisi anjing sempat menunjukkan adanya perbaikan, namun akhirnya pasien mati setelah 8 minggu pengobatan

    The Bambara Groundnut’s Potential for Heart Histological Repair in Protein-Deficient Female Mice

    Get PDF
    Defisiensi protein diketahui memberikan perubahan histologis yang signifikan pada jantung seperti hipertrofi, penebalan dinding ventrikel kiri, peningkatan deposisi matriks ekstraseluler dan diameter kardiomiosit, serta fibrosis interstisial. Kacang bambara (Vigna subterranea) dengan kandungan protein dan asam amino berpotensi untuk menanggulangi defisiensi protein dan memperbaiki perubahan struktur histologis pada jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh defisiensi protein 10% dan penambahan kacang bambara terhadap struktur histologis jantung mencit betina galur Swiss-Webster. Lima belas jantung dari 5 kelompok dikumpulkan untuk dipreparasi dengan metode parafin setebal 6 μm, dan diwarnai dengan Hematoxylin-Eosin dan Mallory Acid Fuchsin. Data dalam penelitian ini adalah parameter biometrik, lebar kardiomiosit, dimensi internal ventrikel kiri (LVID), ketebalan dinding posterior ventrikel kiri (LVPW), dan struktur histologis otot jantung. Data kuantitatif dianalisis dengan ANOVA satu arah dan post hoc dengan Duncan (p-value=0,05), sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan Kruskal Wallis (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan pada parameter biometrik, LVID, LVPW, dan lebar kardiomiosit. Pada parameter struktur histologis otot jantung, kelompok defisiensi protein menunjukkan perubahan berupa lesi atrofi, hipertrofi, nekrosis, dan fibrosis yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok kacang bambara. Dengan demikian, penambahan kacang bambara berpotensi sebagai suplemen protein yang dapat memperbaiki struktur jantung pada kondisi defisiensi proteinDefisiensi protein diketahui memberikan perubahan histologis yang signifikan pada jantung seperti hipertrofi, penebalan dinding ventrikel kiri, peningkatan deposisi matriks ekstraseluler dan diameter kardiomiosit, serta fibrosis interstisial. Kacang bambara (Vigna subterranea) dengan kandungan protein dan asam amino berpotensi untuk menanggulangi defisiensi protein dan memperbaiki perubahan struktur histologis pada jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh defisiensi protein 10% dan penambahan kacang bambara terhadap struktur histologis jantung mencit betina galur Swiss-Webster. Lima belas jantung dari 5 kelompok dikumpulkan untuk dipreparasi dengan metode parafin setebal 6 μm, dan diwarnai dengan Hematoxylin-Eosin dan Mallory Acid Fuchsin. Data dalam penelitian ini adalah parameter biometrik, lebar kardiomiosit, dimensi internal ventrikel kiri (LVID), ketebalan dinding posterior ventrikel kiri (LVPW), dan struktur histologis otot jantung. Data kuantitatif dianalisis dengan ANOVA satu arah dan post hoc dengan Duncan (p-value=0,05), sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan Kruskal Wallis (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan pada parameter biometrik, LVID, LVPW, dan lebar kardiomiosit. Pada parameter struktur histologis otot jantung, kelompok defisiensi protein menunjukkan perubahan berupa lesi atrofi, hipertrofi, nekrosis, dan fibrosis yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok kacang bambara. Dengan demikian, penambahan kacang bambara berpotensi sebagai suplemen protein yang dapat memperbaiki struktur jantung pada kondisi defisiensi protei

    Potensi daun kumis kucing dalam meningkatkan hematopoiesis pada kondisi kerusakan ginjal

    Get PDF
    Kerusakan ginjal berdampak pada proses eritropoiesis karena ginjal merupakan organ utama penghasil eritropoietin (EPO). Tanaman kumis kucing secara turun-temurun sudah digunakan untuk pengobatan gangguan saluran kemih, hipertensi, dan diabetes mellitus. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif yang bersifat nefroprotektif, seperti flavonoid, tannin, saponin, phenol, serta terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi tanaman kumis kucing untuk memperbaiki profil eritosit pada kondisi kerusakan ginjal yang diinduksi oleh etilen glikol. Sebanyak 35 ekor tikus galur Sprague Dawley jantan berumur 7 bulan dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan dengan pemberian etilen glikol dan atau ekstrak kumis kucing dengan lama permberian yang berbeda. Pemberian ekstrak daun kumis kucing mampu meningkatkan jumlah eritrosit pada tikus serta menekan penurunan jumlah eritrosit saat dan setelah pemberian etilen glikol. Selain itu, pemberian ekstrak kumis kucing juga mampu menurunkan jumlah leukosit serta rasio neutrofil: limfosit yang meningkat akibat induksi etilen glikol. Ekstrak kumis kucing memiliki potensi untuk memperbaiki proses eritropoiesis dan menekan peradangan pada kasus kerusakan ginjal.Kerusakan ginjal berdampak pada proses eritropoiesis karena ginjal merupakan organ utama penghasil eritropoietin (EPO). Tanaman kumis kucing secara turun-temurun sudah digunakan untuk pengobatan gangguan saluran kemih, hipertensi, dan diabetes mellitus. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif yang bersifat nefroprotektif, seperti flavonoid, tannin, saponin, phenol, serta terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi tanaman kumis kucing untuk memperbaiki profil eritosit pada kondisi kerusakan ginjal yang diinduksi oleh etilen glikol. Sebanyak 35 ekor tikus galur Sprague Dawley jantan berumur 7 bulan dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan dengan pemberian etilen glikol dan atau ekstrak kumis kucing dengan lama permberian yang berbeda. Pemberian ekstrak daun kumis kucing mampu meningkatkan jumlah eritrosit pada tikus serta menekan penurunan jumlah eritrosit saat dan setelah pemberian etilen glikol. Selain itu, pemberian ekstrak kumis kucing juga mampu menurunkan jumlah leukosit serta rasio neutrofil: limfosit yang meningkat akibat induksi etilen glikol. Ekstrak kumis kucing memiliki potensi untuk memperbaiki proses eritropoiesis dan menekan peradangan pada kasus kerusakan ginjal

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇