Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Analisis Kadar Nitrit pada Sarang Burung Walet Asal Pulau Sumatera Menggunakan Metode Kromameter

    Get PDF
    Kadar nitrit dalam sarang burung walet (SBW) telah menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir. SBW yang diekspor dari Indonesia ke Negara Tiongkok harus memenuhi standar kadar nitrit (NO2), yaitu maksimum 30 ppm. Dinamika perkembangan teknologi dan jaman saat ini menuntut instrumen pengujian kadar nitrit secara akurat, diantaranya menggunakan spektrofotometer dan kromameter. Penelitian ini mengkaji kadar nitrit pada SBW bersih yang telah dilakukan pencucian asal Pulau Sumatera dengan menggunakan metode spektrofotometer dan mengevaluasi warna menggunakan kromameter berbasis sistem CIE pada parameter L*, a*, b*, C*, dan h*. Jumlah sampel ditentukan secara purposif dari rumah burung walet (RBW). Sebanyak 18 sampel SBW berasal dari berbagai wilayah di Sumatera. Sampel SBW diuji kadar nitritnya menggunakan spektrofotometer di Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) Jakarta dan kromameter diuji di laboratorium Ilmu Teknologi Pangan IPB, Bogor. Hasil kadar nitrit pada SBW menunjukkan bahwa persentase kadar nitrit di bawah 30 ppm adalah 72,22%. Nilai rata-rata L* pada grup A (kadar nitrit >30 ppm) dan B (kadar nitrit <30 ppm) secara berurutan adalah sebesar 67,65±1,97 dan 68,47±5,25. Hasil analisis statistik dengan uji-t menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara nilai L*, a*, b*, C* dan *h pada kedua grup. Metode kromameter tidak dapat digunakan sebagai metode tunggal dalam mengukur kadar nitrit pada SBW serta tidak dapat membedakan secara signifikan warna SBW yang berasal dari RBW yang berbeda

    Analisis In Silico Senyawa Flavonoid Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) pada Reseptor α-Amilase Sebagai Antihiperglikemik

    Get PDF
    Pengujian in vitro dan in vivo kayu secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai antihiperglikemik sudah dilakukan sebelumnya dan memberikan hasil yang efektif, namun mekanismenya pada hewan belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme senyawa metabolit kayu secang (Caesalpinia sappan L.) yang dapat menghambat enzim α-amilase pada hewan melalui penambatan molekuler secara in silico. Profil farmakokinetik ligan diprediksi berdasarkan aturan Lipinski. Prediksi toksisitas dilakukan menggunakan admetSAR. Reseptor diperoleh dari basis data PDB (ID 1OSE). Ligan pembanding yang digunakan adalah akarbosa. Penambatan molekuler dilakukan dengan menambatkan ligan uji brazilin, protosappanin B, protosappanin C, dan sappanchalcone pada enzim α-amilase menggunakan Autodock Vina. Penambatan molekuler dianalisis dengan energi ikatan (ΔG), konstanta inhibisi, serta ikatan kimia. Hasil penambatan molekuler menunjukkan semua ligan uji memiliki potensi sebagai antihiperglikemik. Ligan uji brazilin memiliki aktivitas penghambatan enzim α-amilase lebih baik daripada akarbosa berdasarkan nilai ΔG dan %BSS.Pengujian in vitro dan in vivo kayu secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai antihiperglikemik sudah dilakukan sebelumnya dan memberikan hasil yang efektif, namun mekanismenya pada hewan belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme senyawa metabolit kayu secang (Caesalpinia sappan L.) yang dapat menghambat enzim α-amilase pada hewan melalui penambatan molekuler secara in silico. Profil farmakokinetik ligan diprediksi berdasarkan aturan Lipinski. Prediksi toksisitas dilakukan menggunakan admetSAR. Reseptor diperoleh dari basis data PDB (ID 1OSE). Ligan pembanding yang digunakan adalah akarbosa. Penambatan molekuler dilakukan dengan menambatkan ligan uji brazilin, protosappanin B, protosappanin C, dan sappanchalcone pada enzim α-amilase menggunakan Autodock Vina. Penambatan molekuler dianalisis dengan energi ikatan (ΔG), konstanta inhibisi, serta ikatan kimia. Hasil penambatan molekuler menunjukkan semua ligan uji memiliki potensi sebagai antihiperglikemik. Ligan uji brazilin memiliki aktivitas penghambatan enzim α-amilase lebih baik daripada akarbosa berdasarkan nilai ΔG dan %BSS

    The Potential of Ciplukan Leaf Extract (Physalis Angulata L.) to Improve Kidney Function

    Get PDF
    Gagal ginjal merupakan penyakit tidak menular namun dapat mengancam nyawa manusia. Penyakit ini dapat dialami dari berbagai macam usia mulai dari anak-anak hingga lansia. Salah satu tanaman yang biasanya dijadikan sebagai obat herbal ialah tanaman ciplukan (Physalis angulata L.). Gagal ginjal merupakan penyakit tidak menular namun dapat mengancam nyawa manusia. Penyakit ini dapat dialami dari berbagai macam usia mulai dari anak-anak hingga lansia. Salah satu tanaman yang biasanya dijadikan sebagai obat herbal ialah tanaman ciplukan (Physalis angulata L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari daun tanaman ciplukan dalam memperbaiki fungsi ginjal. Penelitian ini dilakukan di Kampus IPB Dramaga, IPB University, Bogor. Tikus putih digunakan sebanyak 24 ekor dan dibagi menjadi 8 kelompok dengan perlakuan dosis 150mg/kg BB dan 300mg/kg BB. Perlakuan dilakukan selama 14 hari dan 28 hari.Etilen glikol digunakan sebagai agen nefrotoksik. Pemberian kombinasi etilen glikol 1 ml/100g BW secara oral dan ekstrak ciplukan dosis 300mg/kg BB secara bersamaan mampu menormalkan kadar ureum dalam darah. Hasil histologi juga menunjukkan adanya perbaikan pada glomerulus ginjal. Ekstrak daun ciplukan memiliki kandungan flavonoid yang berpotensi memperbaiki fungsi dan morfologi ginjal

    Distribusi Penyebaran Bovine Viral Diarrhea Virus (BVDV) pada Sapi Potong Impor asal Australia Di Sukabumi Berdasarkan Uji Serologis

    Get PDF
    Virus Bovine Viral Diarrhea (BVDV) secara luas diakui memiliki dampak ekonomi yang signifikan pada ternak yang terinfeksi. Kerugian penyakit ini meliputi, hewan Persistenly Infection (PI) yang kurang sehat, penyakit reproduksi, penurunan produksi, pertumbuhan yang buruk, dan berpengaruh immunosupressif terhadap hewan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan suatu kajian pola distribusi penyebaran dengan karakterisasi gejala klinis serta mendeteksi adanya kaitan pemeliharaan kandang sebagai faktor risiko sumber penularan penyakit BVD pada sapi potong impor. Jumlah hewan yang diambil 100 ekor sapi yang didapatkan dengan metode penghitungan kajian lintas seksional dengan pertimbangan penyakit ini sudah ada di Indonesia. Persebaran penyakit pada setiap kandang kandang A sampai H dengan total 80 ekor sapi terlihat sampel positif merata sebanyak 21 sampel pada posisi nilai S-N sebesar 0,3-0,7 di pengambilan awal dan meningkat pada nilai S-N sebesar 0,9-1,5 sebanyak 53 sampel. Peningkatan penyebaran pada kandang diluar kandang karantina mencapai 2,5x lipat mengindikasikan penyebaran BVDV cukup tinggi. Pengelolaan limbah buruk akan berpeluang 2,483 kali lebih besar menimbulkan hasil ELISA antigen positif bila dibandingkan dengan peternakan yang memiliki pengelolaan limbah yang baik (OR=2,483; CI=1,066-5,783). Program biosekuriti buruk akan berpeluang 2,667 kali lebih besar menimbulkan hasil ELISA Ag BVD positif dibandingkan dengan peternakan yang memiliki program biosekuriti yang baik (OR=2,667; CI=1,145-6,210). Bangsa Brahman Cross berpeluang tiga kali lebih besar memiliki peluang hasil positif bila dibandingkan dengan sapi yang memiliki ras non-Brahman Cross (OR=3; CI=1,269-7,091). Sedangkan umur sapi > dua tahun akan berpeluang 3,241 dibandingkan dengan umur sapi yang < dua tahun (OR= 3,241; CI=1,411-8,912). Impak studi penelitian terhadap jurnal ini adalah memberikan informasi distribusi penyebaran penyakit BVD asal dari hewan sapi impor dari Australia yang berguna sebagai pertimbangan tindakan preventif dalam upaya pengendalian penyakit

    Surgical Repair Hernia Ventralis dengan Omentum Flap

    Get PDF
    Hernia ventralis merupakan penonjolan area vetral abdomen yang terjadi akibat kegagalan penutupan dinding abdomen setelah tindakan bedah. Penelitian ini bertujuan untuk observasi klinis dan pencitraan imaging penutupan defek hernia ventralis menggunakan omentum flap pada kucing lokal. Penelitian ini menggunakan pasien kucing lokal betina berusia 2 tahun dengan bobot badan 3,6 kg dari Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (RSHP FKH USK). Kondisi kucing secara klinis sehat dan hanya menunjukan penonjolan area abdomen yang terjadi setelah tindakan bedah sebelumnya. Tindakan bedah dilakukan secara steril dan aseptis. Defek hernia ventralis ditutup menggunakan omentum flap yang diambil dari omentum kucing yang sama dengan ukuran 5 x 10 cm. Observasi kondisi klinis luka dilakukan setiap hari, pengamatan Digital Radiography (DR X-ray) dan Ultrasonografi (USG) dilakukan pada hari ke- 0, 5, 10 dan 20 setelah bedah penutupan defek hernia. Hasil pengamatan kondisi klinis luka sembuh dengan baik. Pencitraan DR X-ray defek hernia ventralis tertutup dengan baik dan tidak ditemukan peradangan disekitar omentum flap. Pencitraan USG, struktur lapisan dinding abdomen tertutup dengan baik, omentum flap menunjukkan ekhogenisitas hypoechoic dan tidak ditemukan masa anechoic pada hari-20 setelah bedah. Omentum flap mempercepat penyembuhan luka, menguatkan jaringan dinding abdomen, sehingga mencegah terjadi risiko hernia berulang

    Edible Bird’s Nest as Potential Food with Anti-Viral and Anti-Inflammatory Properties Against Covid-19: an in Silico Study

    Get PDF
    The Chinese believe consuming edible bird’s nests (EBN) can increase immunity to various diseases, including Covid-19. This study attempts to identify SARS COV-2-specific anti-viral and anti-inflammatory agents of EBN. We gathered samples from PubChem and Protein Data Bank (PDB). Afterwards, drug likeness was examined using the Lipinski model from the SCFBIO online service. The PASS web server analyzed the bioactive likelihood of chemicals found in EBN. Using PyRx 0.8 software with the blind docking technique. The PoseView web server and PyMol v2.4.1 software were utilized to ascertain molecular interactions. The in silico results show the potential of EBN as food therapy for Covid-19 sufferers, which is indicated by the presence of bioactive compounds from edible bird’s nest consisting of 9-O-acetylated GD3, glycopeptide, N-acetyl neuraminic acid, N-glycolyl-neuraminic acid, sialic acid, and tetra acetyl-thymol-beta-D-glucoside. These bio compounds are predicted to work as anti-viral and anti-inflammatory candidates against SARS-COV-2

    Terapi Water Treadmill untuk Penanganan Hip dysplasia pada Anjing Beagle

    No full text
    Water treadmill is a modality in veterinary medical rehabilitation belongs to therapeutic exercise with natural muscle stimulation. Water treadmill use advantageous physical properties of water to improve joint flexibility, endurance, balance, and animal posture by increasing muscle mass and strength, range of motion, and reducing pain. Water treadmills are often used to rehabilitate hind limb musculoskeletal problems in dogs with hip dysplasia. Hip dysplasia can occur in all dog breeds including the Beagle. A five year old Beagle, female sex, weighing 14.60 kg came to the Mody Pet\u27s Club and RnD Clinic with complaints of limping and weakness on his hind legs. The results of the physical examination showed the dog was lame with a score of 2/4. The results of the radiographic examination observed moderate degree of hip dysplasia. Measurement of the thigh muscles showed muscle atrophy. The therapy carried out was therapeutic exercise with a water treadmill every week for ten times. The results of the study concluded that water treadmill therapy provided an improvement in the condition of dogs with moderate hip dysplasia to close to mild hip dysplasia

    Survei Ancylostomiasis pada Anjing di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Selama masa pandemi Covid-19, mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah. Waktu interaksi antara pemilik dan hewan peliharaan di rumah semakin banyak dihabiskan bersama. Namun, di satu sisi terdapat risiko penularan penyakit dari hewan peliharaan seperti anjing ke manusia. Penyakit yang sering dilaporkan pada anjing adalah ancylostomiasis. Ancylostoma spp. umumnya dikenal sebagai "cacing tambang" dari golongan nematoda. Gejala klinis penyakit ancylostomiasis tidak spesifik karena agen infeksi memiliki siklus hidup dan periode infeksi. Hal ini menjadi perhatian karena tidak adanya gejala yang spesifik sehingga ada potensi infeksi yang tidak terdeteksi pada hewan peliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi penyakit ancylostomiasis pada anjing yang dipelihara oleh masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan survei dengan melibatkan sampel anjing sebanyak 203 ekor anjing. Spesimen yang dikoleksi berupa feses dari anjing jantan dan betina berbagai umur di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemeriksaan sampel feses dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif (metode natif) untuk mengidentifikasi telur dari cacing. Total kasus helminthiasis yang teridentifikasi dari pemeriksaan sampel feses berjumlah 19 dari total 203 anjing. Prevalensi telur Ancylostoma spp. adalah 6,89% (14 dari total 203 anjing). Telur cacing yang teridentifikasi menginfeksi adalah telur cacing spesies Ancylostoma spp. (6,89%) Toxocara spp. (1,97%) dan Dipylidium spp. (0,98%). Proporsi penyakit ancylostomiasis di Daerah Istimewa Yogyakarta pada survei penelitian ini ditemukan 6,89%.The majority of Indonesians spend nearly all of their time at home during the Covid-19 epidemic. Owners and dogs are spending more time together at home. On the other side, there is a chance that dogs and other pets potentially transmit diseases to people. Helminthiasis, a condition caused on by the zoonotic parasitic worms, is frequently found in dogs. Some of the parasitic worms that are often found infecting dogs include Ancylostoma spp. Toxocara spp. and Dipylidium spp. The clinical symptoms of helminthiasis are non-specific, such as dogs having a thin body shape, weight loss and the consistency of soft to liquid stools. This study aims to determine the proportion of helminthiasis in dogs in the Special Region of Yogyakarta. This research was conducted with a survey approach involving a sample of 203 dogs. The specimens collected were feces from male and female dogs of various ages in the Special Region of Yogyakarta. Feces samples were examined using a qualitative method (native method) to identify worm eggs. The total number of helminthiasis cases identified from the examination of faecal samples was 19 out of a total of 203 dogs. The worm eggs identified were Ancylostoma spp species. (6.89%) Toxocara spp. (1.97%) and Dipylidium spp. (0.98%). The proportion of helminthiasis found in the Special Region of Yogyakarta is 9.35%

    Hubungan Penggunaan Antimikroba terhadap Resistansi pada Peternakan Unggas Broiler Mandiri di Kabupaten Bogor

    Get PDF
    Penggunaan antimikroba di peternakan mengakselerasi proses resistansi antimikroba pada sektor peternakan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan antimikroba dengan kejadian resistansi pada bakteri komensal Escherichia coli di peternakan unggas broiler. Data penggunaan antimikroba dikumpulkan selama 4-6 periode produksi (97 siklus) dan periode siklus akhir diambil 1 sampel litter dengan boot swab dari 19 peternakan broiler mandiri di Kabupaten Bogor selama 2019-2022, dan 25 strain E. coli diisolasi dari tiap peternakan. Sebanyak 475 isolat bakteri E. coli diuji Susceptibility dengan metode microdilution (Sensititre®) untuk resistansi fenotipik. Hubungan frekuensi pemberian antimikroba (Treatment Frequency Used Daily Dose/TFUDD) jangka panjang (97 siklus) dan jangka pendek (siklus akhir dimana diambil sampel, 19 siklus) dengan proporsi isolat resistan dianalisis menggunakan regresi linear. Peternakan paling sering menggunakan antimikroba yang termasuk dalam kategori Highest Priority Critically Important Antimicrobials/HPCIA for human medicine (WHO, 2019). Dari 475 isolat E. coli yang diisolasi, terlihat bahwa tingginya persentase populasi E. coli non-wild type (‘resistan’). Resistansi tertinggi terhadap antimikroba ciprofloksasin (93%), ampisilin (88%), tetrasiklin (83%), sulfametoksazol (75%), dan trimethoprim (71%). Dari 5 kelas antimikroba yang dianalisa, didapatkan hubungan signifikan antara frekuensi pemberian antimikroba dan proporsi isolat resistan pada penggunaan jangka panjang terhadap kuinolon dan tetrasiklin (p<0.05), serta pada penggunaan jangka pendek terhadap makrolida (p<0.05) dan tetrasiklin (p<0.01).The use of antimicrobials in livestock selects for antimicrobials resistance in the livestock sector what is a potential threat for human health. This study aims to determine the association between antimicrobials use and the incidence of resistance in commensal Escherichia coli in Indonesian broiler farms. Data was collected on the use of antimicrobials for 4-6 production periods on 19 independent broiler farms in Bogor Regency from 2019 to 2022 (97 cycles). At the end of one of the last cycles, a boot swab sample of the bedding/litter was taken and 25 E. coli strains were isolated per farm. A total of 475 isolates of E. coli were tested with Susceptibility using the microdilution (Sensititre®) method for determining phenotypic resistance. The association between the antimicrobials used (Treatment Frequency Used Daily Dose/TFUDD) in the long term (97 cycles) and the short term (in the end cycle in which the sample was taken, 19 cycles) with the proportion of resistance was analyzed using linear regression. Farms most frequently used antimicrobials which were categorized as Highest Priority Critically Important Antimicrobials/HPCIA for human medicine (WHO, 2019). From 475 isolates of E. coli that were isolated, it was seen that the population of E. coli shows a high percentage of non-wildtype isolates (here called ‘resistant’). The highest resistance was seen to antimicrobials ciprofloxacin (93%), ampicillin (88%), tetracycline (83%), sulfamethoxazole (75%), and trimethoprim (71%). Of the 5 classes of antimicrobials analyzed, a significant association was found between the frequency of antimicrobials treatment and the proportion of resistance to quinolones and tetracyclines (p<0.05) in long-term use, and macrolides (p<0.05) and tetracyclines (p<0.01) in short-term use

    Atypical Presentation of a Tick Paralysis in a Dog

    Get PDF
    An 11-month-old Guregh dog was admitted to the hospital with history of vomiting and regurgitation, gait disorder and unilateral thread-like hypersalivation for last a few days. Clinical and radiographic examinations revealed quadriplegia, facial paralysis, grave MGCS (5) and VAS (4) scores, severe megaesophagus and gas-filled distended intestines. In hematochemical analysis, leucocytosis due to granulocytosis with polycythemia, elevated BUN, creatinine, CPK and AST levels were determined. During careful clinical examination, engorged ticks were found in the head and neck region of the dog. After excluding diseases that may cause similar symptoms, diagnosis of atypical tick paralysis was made on the basis of clinical findings such as history of vomiting and regurgitation before the onset of gait abnormalities and the presence of megaoesophagus although the patient is less than 1 year old. The clinical appearance, MGCS and VAS scores improved after 5 days of hospitalization period. It was concluded that the presence of megaesophagus in young dogs with vomiting and/or regurgitation before the onset of neurological findings are observed in atypical tick paralysis and hospitalization of the patient, tick removal, supportive treatment administration and MGCS and VAS score assessments provide successful clinical results

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇