Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Penanganan Paraparesis Kaki Belakang pada Kucing Domestik dengan Metode Terapi Elektroakupunktur

    Get PDF
    Paraparesis atau paresis merupakan suatu kondisi ditandai oleh lemahnya gerak badan, atau hilangnya sebagian gerakan badan atau adanya gangguan gerakan. Kucing domestik berumur ±4 bulan, berjenis kelamin jantan, ras kucing domestik campuran, warna rambut putih bercampur coklat muda, dengan berat badan 1,5 kg mengalami kelemahan pada kedua kaki belakang, tidak bisa berjalan disertai dengan kondisi tubuh yang tampak lemah serta lesu, dan tidak memberikan respon rasa sakit saat dilakukan penekanan pada regio femur dan digit sehingga menyebabkan ketidakmampuan pada kedua kaki belakang untuk mengangkat tubuh bagian belakang dengan sempurna sehingga menunjukkan adanya gangguan pada sistem saraf yang mempengaruhi anggota gerak dan muskuloskeletal. Hasil foto x-ray menunjukkan bahwa tidak adanya tulang yang fraktur dan pada organ visceral juga tidak menunjukkan perubahan ataupun kelainan yang signifikan. Namun terdapat suatu kondisi radiopaque dari perkembangan osteofit pada tulang belakang diantara L6-L7 sehingga menunjukkan diagnosa yaitu paraparesis kaki belakang. Terapi paraparesis kaki belakang pada kucing dengan metode elektroakupunktur dilakukan di titik BL-23, BL-25, BL-32 dan ST-36 pada tubuh kucing selama 4 minggu dengan durasi setiap terapi selama 15 menit yang dilaksanakan seminggu sekali selama 4 minggu. Kucing diberikan terapi Neurobion® injeksi 0,15 cc intra muscular setelah setiap terapi akupunktur dan diresepkan neurobion® sebanyak seperdelapan tablet satu kali sehari. Kesimpulannya yaitu metode terapi elektroakupunktur dengan titik akupunktur BL-23, BL-25, BL-32 dan ST-36 pada kucing yang mengalami paraparesis kaki belakang menunjukkan perkembangan yang membaik setelah dilakukannya terapi selama empat kali

    Kombinasi Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica val.) dan Mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai Antidiare

    Get PDF
    Kunyit dan mengkudu sudah digunakan sebagai pengobatan tradisional penyakit. Tanaman ini secara empiris digunakan untuk pengobatan diare. Akan tetapi, sejauh ini belum ada studi farmakologi aktivitas antidiare kombinasi ekstrak kunyit dan mengkudu. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi secara ilmiah pengaruh kombinasi ekstrak kunyit dan mengkudu terhadap diare yang diinduksi minyak jarak pada mencit. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok dibagi menjadi kelompok kontrol negatif (Tween 80 1%), kelompok kontrol positif (Loperamid HCl) dan kelompok perlakuan kombinasi ekstrak kunyit dan mengkudu (perbandingan 1:1) dosis 20 mg/kg BB, 40 mg/kg BB dan 80 mg/kg BB. Perlakuan dilakukan secara peroral. Parameter yang digunakan adalah proteksi intestinal (frekuensi defekasi mencit setiap 30 menit selama empat jam) dan transit intestinal (persentase lintasan penanda usus mencit). Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak kunyit dan mengkudu dosis 20 mg/kg BB, 40 mg/kg BB dan 80 mg/kg BB memiliki efek antidiare dalam menurunkan frekuensi defekasi mencit dan menurunkan persentase lintasan penanda usus mencit, dengan dosis terbaik 80 mg/kg BB. Hasil penelitian ini memberikan informasi ilmiah terhadap penggunaan kombinasi ekstrak kunyit dan mengkudu untuk pengobatan diare

    Karakteristik Spermatozoa Domba yang Diinkubasi Dalam Medium Fertilisasi dengan Waktu dan Konsentrasi Berbeda

    Get PDF
    Keberhasilan fertilisasi in vitro tidak hanya dipengaruhi oleh oosit tetapi juga kualitas spermatozoa, konsentrasi spermatozoa, dan lamanya waktu inkubasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik spermatozoa domba post-thawed yang diinkubasi pada waktu dan konsentrasi yang berbeda dalam medium fertilisasi. Spermatozoa domba berasal dari semen beku domba garut dan ekor gemuk. Konsentrasi spermatozoa yang digunakan adalah 1 dan 5 juta spermatozoa/mL. Setiap kelompok spermatozoa diinkubasi dalam inkubator CO2 5% pada suhu 38,5oC selama 0, 3, dan 6 jam. Setiap akhir masa inkubasi, spermatozoa dievaluasi pola gerak, motilitas, MPU, dan TAU sebanyak tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motilitas total, motilitas progresif, MPU, dan TAU pada kedua bangsa domba dengan konsentrasi 1 dan 5 juta menurun secara signifikan dengan bertambahnya waktu inkubasi. Pola pergerakan spermatozoa kedua bangsa domba pada konsentrasi 1 juta menunjukkan hiperaktivitas pada jam ke 3 inkubasi dengan nilai STR 0,47-0,49% dan nilai LIN 0,33-0,34%, sedangkan pada konsentrasi 5 juta menunjukkan adanya hiperaktivitas pada jam ke 6 inkubasi dengan nilai STR 0,69-0,80% dan nilai LIN 0,52-0,55%. Selama inkubasi, spermatozoa menunjukkan pola renang sedang dengan nilai VCL 50,70-77,85 µ/s. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas spermatozoa setelah inkubasi menurun seiring dengan penambahan waktu inkubasi. Spermatozoa dengan konsentrasi 5 juta menunjukkan nilai motilitas total yang tinggi tetapi nilai progresifnya lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi 1 juta. Hiperaktivitas spermatozoa dengan konsentrasi 1 juta dapat terjadi pada jam ke 3 sedangkan kosentrasi 5 juta dapat terjadi pada jam ke 6 waktu inkubasi

    Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Pepaya Calina terhadap Indeks Gonadosomatik dan Perkembangan Folikel Ovarium Tikus Wistar

    Get PDF
    Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang relatif tinggi, sehingga diperlukan upaya dalam menekan laju pertumbuhan penduduk seperti mengembangkan potensi obat antifertilitas berbahan dasar herbal. Daun pepaya Calina merupakan varietas tanaman pepaya di Indonesia yang memiliki beberapa kandungan fitokimia yang berpotensi sebagai agen antifertilitas. Penelitian bertujuan mengetahui potensi ekstrak etanol daun pepaya Calina sebagai agen antifertilitas terhadap Indeks Gonadosomatik (GSI) dan perkembangan folikel ovarium tikus Wistar. Penelitian dilakukan selama 30 hari menggunakan 25 ekor tikus Wistar betina umur ± 15 minggu. Perlakuan terdiri dari 5 kelompok yaitu kontrol (akuades), kontrol positif (pil kontrasepsi dosis 14,184 mg/kg BB), ekstrak etanol daun pepaya Calina dosis 200mg/Kg BB, 300 mg/Kg BB dan 400 mg/Kg BB yang diberikan secara oral gavage 1 ml. Parameter terdiri indeks gonadosomatik dan perkembangan folikel ovarium yang terdiri dari folikel primer, sekunder, de graaf, korpus luteum dan atresia. Pada hari ke 31 dilakukan pembedahan dan pengambilan ovarium pada tikus. GSI dihitung dengan membagi bobot ovarium dengan bobot badan tikus, sedangkan pengamatan folikel ovarium dilakukan dengan pembuatan preparat histologi menggunakan metode paraffin (Pewarnaan HE). Seluruh data dianalisis menggunakan One Way Anova dengan uji lanjut Duncan. Hasil menunjukan bahwa dosis 300 mg/Kg BB dapat menurunkan bobot ovarium, menurunkan indeks gonadosomatik, menurunkan jumlah folikel primer dan sekunder, menurunkan luas folikel de graaf, serta meningkatkan jumlah folikel atresia dibandingkan dengan kontrol (P<0,05). Kesimpulan penelitian adalah ekstrak etanol daun pepaya Calina dosis 300 mg/Kg BB berpotensi menjadi agen antifertilitas alami dengan cara menurunkan GSI dan perkembangan ovarium tikus Wistar

    Konsentrasi Mineral Serum saat Produksi Embrio dan Hubungannya dengan Kualitas dan Kuantitas Embrio pada Sapi Peranakan Ongole

    Get PDF
    Mineral merupakan salah satu nutrisi yang memiliki peran penting dalam reproduksi. Perubahan konsentrasi mineral akan menyebabkan masalah reproduksi termasuk mempengaruhi produksi embrio. Penelitian bertujuan untuk menganalisis konsentrasi mineral serum selama produksi embrio dan menganalisis hubungan antara konsentrasi mineral serum dengan kualitas dan kuantitas embrio pada sapi donor Peranakan Ongole (PO). Sampel darah dikoleksi dari 10 ekor sapi donor PO sebelum superovulasi dan saat melakukan panen embrio. Darah diambil melalui vena coccygea kemudian disentrifugasi untuk diambil serumnya. Serum dianalisis terhadap parameter kalsium (Ca), fosfor (P), dan magnesium (Mg) dengan prinsip fotometer menggunakan kit komersial. Data diuji secara statistik menggunakan uji nonparametrik Wilcoxon untuk membandingkan konsentrasi mineral serum sebelum superovulasi dan saat panen embrio. Hubungan antara konsentrasi mineral serum dengan kualitas dan kuantitas embrio dianalisis menggunakan uji korelasi nonparametrik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi embrio tidak mempengaruhi konsentrasi mineral serum. Konsentrasi Mg secara signifikan berhubungan dengan embrio morula, tetapi tidak signifikan dengan total embrio (TE), embrio layak transfer (LT), embrio degenerasi (DG), oosit unfertile (UF), dan embrio blastosis. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsentrasi Ca dan P dengan TE, embrio LT, DG, oosit UF, embrio morula, dan blastosis

    Peningkatan Bobot Badan, Konsumsi dan Konversi Pakan dengan Pengaturan Komposisi Seksing Ayam Broiler Jantan dan Betina

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaturan seksing komposisi jantan dan betina pada ayam broiler masa rearing pada variabel pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi pakan. Sebanyak 40 ekor ayam broiler digunakan dalam penelitian dibagi menjadi lima kelompok perlakuan dengan masing-masing 8 ulangan komposisi jantan:betina, yakni (P1) 8:0, (P2) 2:6, (P3) 4:4, (P4) 6:2, dan (P5) 0:8. Semua kelompok perlakuan dipelihara selama masa rearing hingga usia panen 35 hari. Pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan dihitung harian dengan timbangan analitik dilanjutkan perhitungan konversi pakan. Data yang didapat selanjutnya dianalisis dengan ANOVA univariate dan dilanjutkan dengan uji post-hoc Duncan (p<0,05). Hasil mengungkap konsumsi pakan (0,041) dan konversi pakan (0,041) pada kelompok P1 dan P4 meningkat signifikan dibandingkan kelompok P2, P3, dan P5. Sementara itu, pertambahan bobot minggu ke 5-6 pada kelompok P1, P3, dan P4 terungkap meningkat signifikan dibandingkan kelompok P2 dan P5. Kesimpulannya, perbandingan jantan:betina (8:0) dan (6:2) menunjukkan performa yang signifikan pada aspek pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi pakan

    Korelasi Virulen gelE dan Pembentukan Biofilm pada Isolat Enterococcus faecalis yang Diisolasi dari Ayam Pedaging

    Get PDF
    Enterococcus faecalis merupakan patogen oportunistik yang membentuk biofilm dengan menghasilkan gen virulen seperti gelE. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberadaan gelE dan mengkaji korelasinya terhadap pembentukan biofilm pada isolat E. faecalis asal ayam. Sampel yang digunakan sebanyak 60 sampel arsip usap kloaka ayam. Isolasi dan identifikasi bakteri menggunakan media agar selektif diferensial KF Streptococcus. Konfirmasi molekuler menggunakan gen spesifik Efac untuk bakteri E. faecalis dan gen gelE untuk deteksi gen virulen gelatinase. Uji biofilm menggunakan teknik spektrofotometer pada densitas optik 630 nm. Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan uji chi-square dengan nilai P < 0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri terhadap 60 sampel arsip asal ayam pedaging yang digunakan dalam studi sebanyak 21 isolat positif terkonfirmasi secara molekuler sebagai bakteri E. faecalis dan memiliki gen virulen gelE. Pada uji biofilm terdapat sebanyak 20 isolat (95,23%) positif kuat (OD630 > 0,130) dan 1 (4,76%) positif lemah (0,065 < OD630 ≤ 0,130) dengan nilai P < 0,05 atau memiliki korelasi secara statistik antara keberadaan gen gelE dengan pembentukan biofilm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gen virulen gelE telah ditemukan pada 21 isolat E. faecalis dan 95,23% mampu membentuk biofilm dengan intensitas positif kuat

    Penanganan Distokia dengan Sectio Caesarea pada Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis)

    Get PDF
    Distokia merupakan kejadian parturisi berkepanjangan yang dapat terjadi pada hewan sehingga diperlukan penanganan oleh tenaga medik veteriner. Distokia umumnya disebabkan oleh gangguan atau kelainan pada komponen utama proses kelahiran yang meliputi kekuatan induk mengejan, kecukupan saluran kelahiran, serta ukuran dan posisi fetus. Seekor anoa berumur delapan tahun di Anoa Breeding Centre Manado menunjukkan tanda-tanda distokia pada Juli 2021. Umur kebuntingan yaitu 310 hari dan induk merupakan betina nulipara. Anoa teramati sudah mengalami anoreksia dan penurunan suhu tubuh satu hari sebelum partus. Proses partus ditandai dengan induk yang merejan kuat, terjadi poliuria, serta keluarnya vaginal discharge dengan frekuensi yang meningkat disertai darah. Setelah lima jam, proses partus terpantau tidak progresif dan induk berhenti mengejan sehingga dilakukan restrain fisik terhadap anoa ke area isolasi.  Hasil pemeriksaan palpasi intravaginal mengindikasikan adanya kesalahan postur fetus dengan postur kaki depan menekuk (bilateral carpal flexion) dan ukuran kepala fetus relatif besar dibandingkan pelvis induk (fetopelvic disporportion). Tindakan yang dilakukan yaitu sectio caesarea dengan kombinasi anastesi umum dan anastesi lokal. Insisi dilakukan pada flank kiri secara vertikal. Terapi pasca operasi yang diberikan yaitu sediaan antibiotik, antiinflamasi, hematopoetik, suplemen, anti hemoragik, dan hormon oksitosin. Anoa menunjukkan persembuhan dua minggu pasca operasi dengan kondisi luka jahitan menutup rapat dan mengering tanpa bantuan pelepasan benang jahit. Siklus estrus induk teramati kembali normal dua bulan pasca operasi sehingga memungkinkan untuk dilakukan perkawinan berikutnya.Dystocia is a prolonged parturition that can occur in animals and requires treatment by veterinarian. It is generally caused by disorders or abnormalities in the main factors of parturition such as contraction (power), birth canal (passageway), and fetus condition (passenger). An eight-year-old anoa at the Anoa Breeding Centre Manado showed signs of dystocia in July 2021. The gestational age was 310 days and the anoa had no previous history of parturition. Anoa showed symptoms of decreased body temperature along with anorexia since the previous day. The process of parturition is characterized by abdominal contraction, polyuria, and the increasing frequency of bloody vaginal discharge. After five hours, the parturition process is considered non-progressive and the dam stopped pushing. The dam was then physically restrained to isolation area. The results of intravaginal palpation indicated flexion of both fetal forelimbs (bilateral carpal flexion) and the fetal size is too large for the maternal pelvis (fetopelvic disporportion). Caesarean section was taken with a combination of general and local anesthesia. The incision is made on the left flank vertically. The postoperative therapy given was antibiotic, anti-inflammatory, hematopoietic, supplement, anti-hemorrhagic, and oxytocin hormone. Anoa showed recovery two weeks after surgery with fully healed stitches, without suture removal. The dam\u27s estrous cycle was observed back to normal two months postpartum, thus allowing for the next mating

    Operasi Pengangkatan Batu Kandung Kemih Pada Anjing Mini Pomeranian

    Get PDF
    Urolithiasis adalah penyakit umum yang mempengaruhi saluran kemih, termasuk kandung kemih. Penyakit ini ditandai dengan adanya batu yang terbentuk di saluran kemih. Anjing Mini Pomeranian betina umur 5 tahun dengan berat badan 5 kg mengeluh anoreksia, oliguria, dan hematuria. Pemeriksaan fisik dengan palpasi pada daerah perut, anjing merintih kesakitan dan mengalami distensi abdomen. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan ultrasonografi (USG). Hasil pemeriksaan USG menunjukkan benda asing berwarna hyperechoic dengan bentuk oval dengan tepi halus di dasar kandung kemih dan menghasilkan bayangan akustik di bagian bawah batu. Selain itu, analisis hematologi menunjukkan granulositistosis, leukositosis, dan peningkatan Alkaline Phosphatase (ALKP). Anjing didiagnosis dengan urolitiasis dengan prognosis Fausta. Operasi cystotomi dilakukan untuk menghilangkan batu kandung kemih. Terapi pasca operasi adalah pemberian antibiotik Cefixime, Cystaid®, Fibumin®, dan Coatex®. Penyembuhan menunjukkan kemajuan yang baik dalam 5 hari.Urolithiasis is a common disease affecting the urinary tract, including the bladder. This disease is characterized by the presence of formed stones in the urinary tract. A five years old female mini Pomeranian dog with a bodyweight of 5 kg was complaint with anorexia, oliguria, and hematuria. The result of the physical examination by palpation is a distended abdominal area. The supporting examination was carried out in the form of an ultrasound examination (USG). The results of ultrasound examination showed a hyperechoic colored foreign object with an oval shape with smooth edges at the base of the bladder and resulted in acoustic shadowing at the bottom of the calculi. In addition, the hematology analysis exhibited granulocytosis, leukocytosis, and increase Alkaline Phosphatase (ALKP). The dog was diagnosed with urolithiasis with the prognosis of Fausta. The cystotomy surgery was performed to remove the bladder stone. Postoperative therapy is Cefixime, Cystaid®, Fibumin®, dan Coatex®. The healing showed good progress in 5 days

    Mekanisme Resistensi Antibiotik pada Lactobacillus dan Potensinya untuk Mengatasi Salmonellosis pada Ayam Broiler

    Get PDF
    Ayam broiler harus dipastikan terhindar dari penyakit zoonosis, salah satunya Salmonellosis. Resistensi Salmonella sp. terhadap berbagai antibiotik menjadi salah satu alasan dalam penggunaan probiotik sebagai pilihan alternatif untuk mengatasi Salmonellosis. Lactobacillus sp. umum digunakan sebagai probiotik untuk menanggulangi Salmonellosis pada ayam broiler. Lactobacillus sp. dapat menerima agen resisten terhadap antibiotik, baik dari lingkungan maupun di saluran pencernaan ayam. Lactobacillus sp. dapat menjadi reservoir dalam penyebaran agen resisten antibiotik. Berdasarkan hasil studi literatur, Lactobacillus sp. mampu melakukan CE (competitive exclusion) sehingga dapat mengurangi populasi bakteri patogen. Lactobacillus sp. yang diambil dari biakan, saluran pencernaan, feses, daging serta sumber air di sekitar peternakan dan rumah potong unggas memiliki sifat resisten terhadap antibiotik vankomisin, kloramfenikol, tetrasiklin dan eritromisin. Lactobacillus sp. bertindak sebagai pendonor maupun penerima gen resisten terhadap antibiotik kloramfenikol, tetrasiklin dan eritromisin yang disebarkan secara horizontal melalui konjugasi plasmid dan transposon. Lactobacillus sp. yang teridentifikasi resisten terhadap antibiotik vankomisin memiliki potensi transfer gen resisten yang rendah dikarenakan sifat resisten terhadap vankomisin merupakan resistensi instrinsik sehingga secara tidak langsung sifat tersebut sangat kecil kemungkinannya dapat disebarkan secara horizontal kepada mikroorganisme lainnya

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇