Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
    324 research outputs found

    Hubungan Karakteristik Individu Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Penerapan Kesejahteraan Hewan pada Mahasiswa Universitas Padjadjaran

    Get PDF
    Jumlah kepemilikan hewan di Indonesia terus tumbuh dan berasal dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan mahasiswa jenjang sarjana yang memutuskan untuk memelihara kucing. Hal ini dilakukan untuk meredakan stres dan menjadi pengalih perhatian semua masalah yang sedang dialami pada usia tersebut. Naiknya jumlah kepemilikan hewan ini, harus diikuti dengan pemahaman dan pengetahuan mengenai kesejahteraan hewan untuk menghindari terjadinya penelantaran hewan dan kekerasan fisik serta psikis yang dilakukan terhadap hewan peliharaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan dan penerapan kesejahteraan oleh mahasiswa Universitas Padjadjaran, serta menganalisis hubungan karakteristik mahasiswa (jenis kelamin, fakultas, tingkat pendidikan, jumlah hewan peliharaan, dan tujuan pemeliharaan) terhadap pengetahuan dan penerapan kesejahteraan hewan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan beberapa variabel, antara lain: jenis kelamin, fakultas, tingkat pendidikan, jumlah hewan peliharaan, dan tujuan pemeliharaan. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan melakukan survei kuesioner dan wawancara terhadap 100 responden yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Padjadjaran dan memiliki hewan peliharaan kucing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesejahteraan hewan dengan penerapan konsep kesejahteraan hewan dengan hasil uji chi square <0,05. Di sisi lain, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti terhadap tingkat pengetahuan kesejahteraan hewan dan penerapan kesejahteraan hewan

    Penggunaan Microscopic Agglutination Test (MAT) dalam Pendiagnosaan Leptospira sp. di Anjing

    Get PDF
    Leptospirosis merupakan penyakit infeksius yang dapat menyerang berbagai macam hewan termasuk anjing dan kucing. Leptospirosis memiliki potensi zoonosis, sehingga diperlukan konfirmasi diagnosa definitif pada pasien yang dicurigai mengalami leptospirosis. Penegakan diagnosis penting bagi sektor kesehatan masyarakat karena anjing dan kucing yang terinfeksi Leptospira sp. dapat menyebarkan organisme melalui urine ke lingkungan. Microscopic agglutination test (MAT) merupakan gold standard diagnosis leptospirosis. Namun, MAT memiliki keterbatasan dalam sensitivitas dan spesifisitas uji karena bekerja dengan mendeteksi antibodi di dalam serum. Pengulangan uji MAT diperlukan untuk peneguhan diagnosis, khususnya apabila diuji pertama nilai titer antibodi tidak meningkat signifikan. Empat kasus anjing ditangani di Praktek Dokter Hewan Bersama (PDHB) drh Cucu Kartini Sajuthi dkk dengan gejala klinis selaput lendir jaundice, muntah, diare, serta pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan nilai blood urea nitrogen dan kreatinin menggambarkan adanya gangguan fungsi ginjal dan peningkatan nilai serum glutamic pyruvic transaminase serta alkaline phosphatase menggambarkan adanya kerusakan dari sel-sel hati. Munculnya gejala klinis dan kelainan gambaran darah tersebut mendorong timbulnya kecurigaan pasien terinfeksi Leptospira sp. Pengujian MAT dilakukan di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Bogor. Pengujian dilakukan berulang dengan jeda waktu 7-14 hari. Peningkatan titer antibodi sebanyak empat kali lipat atau lebih mengindikasikan kuat adanya infeksi Leptospira sp. Dari empat kasus yang disajikan terdapat tiga pasien yang mengalami peningkatan titer antibodi ≥4 kali lipat pada pengujian MAT kedua sedangkan satu pasien lainnya tidak mengalami peningkatan titer antibodi. Studi ini menyimpulkan bahwa pengujian MAT aplikatif dalam diagnosis leptospirosis di klinik, namun diperlukan pengulangan pengujian dengan jeda waktu 7–14 hari.Leptospirosis is an infectious disease that can affect various kinds of animals including dogs and cats. Leptospirosis has a zoonotic potential, therefore it is necessary to confirm a definitive diagnosis in patients suspected infection by leptospirosis. Establishing a diagnosis is important for the public health sector because dogs and cats infected with Leptospira sp. can spread organisms through urine to the environment. Microscopic agglutination test (MAT) is the gold standard for diagnosing leptospirosis. However, MAT has limitations in the sensitivity and specificity of the test because it works by detecting antibodies in the serum. A repeat of the MAT test is necessary to confirm the diagnosis, especially if the antibody titer value is not significantly increased in the first test. Four cases of dogs treated at the Joint Veterinary Practice (PDHB) drh Cucu Kartini Sajuthi with clinical symptoms of jaundice mucous membrane, vomiting, diarrhea, and blood tests showed an increase in blood urea nitrogen and creatinine values ​​indicating impaired kidney function and an increase in serum glutamic pyruvic values transaminase and alkaline phosphatase indicating the impaired of liver cells. The emergence of clinical symptoms and abnormalities in the blood picture led to the suspicion of the patient being infected with Leptospira sp. The MAT test was carried out at the Center for Veterinary Research (BB Litvet) Bogor. The test was repeated with interval of 7-14 days. An increase in antibody titer fourfold or more indicates a strong presence of Leptospira sp. Of the four cases presented, three patients had a 4-fold increase in antibody titer on the second MAT test while one patient did not have an increase in antibody titer. This study concludes that MAT testing is applicable in the clinical diagnosis of leptospirosis, but it is necessary to repeat the test with an interval of 7–14 days

    Kondisi Fertilitas Mencit Jantan yang Diberi Ekstrak Etanol Akar Alang-alang (Imperata cylindrica)

    Get PDF
    Pengendalian populasi hewan umumnya dilakukan dengan sterilisasi. Namun biaya yang diperlukan cenderung mahal sehingga diperlukan tindakan lain untuk mengendalikan populasi hewan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai herbal yang digunakan untuk kontrasepsi alami hewan sedang dikembangkan. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa pemberian ekstrak etanol akar alang-alang menyebabkan penurunan bobot kelenjar testis, vesical seminalis dan epididimis sehingga menyebabkan penurunan produksi spermatozoa dan perubahan profil metabolit pada mencit jantan. Namun, pengaruh ekstrak etanol akar alang-alang terhadap morfometri fetus dari mencit betina dikawinkan dengan mencit jantan perlakuanbelum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol akar alang-alang hasil konsepsi mencit jantan pada mencit betina yang tidak diberi perlakuan. Mencit jantan diberi ekstrak etanol akar alang-alang selama 180 hari (Imperata cylindrica) 90 dan 115 mg/kg BB per oral kemudian dikawinkan dengan mencit betina yang tidak diberi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah fetus, berat badan dan panjang fetus pada kelompok perlakuan 90 dan 115 mg/kgBB. Pemberian ekstrak etanol akar alang-alang pada mencit jantan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah mencit betina yang bunting dan morfometri fetus yang dikandung mencit betina

    Kualitas Mikrobiologis Daging Ayam yang Dijual di Pasar Kota Dili, Timor Leste

    Get PDF
    Daging ayam merupakan salah satu produk pangan asal hewan yang banyak dikonsumsi di Timor Leste. Salah satu aspek kualitas daging ayam yang harus diperhatikan adalah kualitas mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penjualan daging ayam dan kualitas mikrobiologis daging ayam berdasarkan jumlah hitungan cawan (Total Plate Count/TPC) dan jumlah Enterobacteriaceae pada daging ayam lokal maupun impor yang dijual di Pasar Kota Dili, Timor Leste. Penelitian dilakukan pada 8 pasar dengan sampel sebanyak 150 yang terdiri dari 60 sampel daging ayam lokal dan 90 daging ayam impor. Metode TPC dan jumlah Enterobacteriaceae dilakukan berdasarkan SNI Nomor 2897 Tahun 2008 tentang Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam Daging, Telur dan Susu, serta Hasil Olahannya. Menurut International Commission on Microbiological Specification for Foods (ICMSF) tentang Kriteria Mikrobiologi dalam Pangan jumlah maksimum nilai TPC dan jumlah Enterobacteriaceae setiap bahan makanan masing-masing adalah 7 log cfu/g dan <102 cfu/g (toleransi negara tertentu 102–104 cfu/g). Nilai rata-rata TPC dan jumlah Enterobacteriacea daging ayam yang beredar di Timor Leste berdasarkan penelitian ini masing-masing 4.78 ± 0.90 log cfu/g (3.05 × 105 ± 5.66 × 105 cfu/g) dan 3.34 ± 0.93 log cfu/g (2.86 × 104 ± 9.93 × 104 cfu/g). Kualitas mikrobiologi seluruh jenis daging ayam yang beredar di Timor Leste memenuhi standar yang ditetapkan oleh ICMSF berdasarkan nilai rata-rata TPC. Sementara itu, berdasarkan jumlah Enterobacteriaceae, hanya daging ayam lokal dan daging ayam impor dari Brazil memenuhi standar jumlah Enterobacteriaceae yang ditetapkan oleh ICMSF. Berdasarkan analisis statistik, maka kualitas mikrobiologis daging ayam yang dijual di Pasar Kota Dili, Timor Leste berdasarkan TPC dan jumlah Enterobacteriaceae dapat disimpulkan yang terbaik adalah daging ayam lokal dan daging ayam impor dari Brazil, sedangkan kualitas yang kurang baik adalah daging ayam lokal dan daging ayam impor dari Malaysia, dan impor dari Amerika. Tingginya TPC dan jumlah Enterobacteriaceae pada daging ayam yang dijual mengindikasikan bahwa praktik higiene sanitasi di pasar perlu diperbaiki

    Evaluation of Curcumin Analog Supplementation in Diet for Hematological Response and Growth Performance of Red tilapia (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Nilai hematologi dapat digunakan untuk mengevaluasi respon fisiologi pada ikan. Suplementasi bahan herbal ke dalam pakan merupakan salah satu cara meningkatkan produksi akuakultur melalui peningkatan kekebalan dan fungsi fisiologis yang berhubungan dengan kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian pakan dengan suplementasi analog kurkumin terhadap nilai hematologi ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan dan tiga kali ulangan. Sampel yang digunakan berupa induk nila betina dengan bobot badan 294,11±51,40 g. Pemeliharaan dilakukan selama 6 minggu pada jaring masing-masing berukuran 2x1x1m, dengan kepadatan 5 ekor/jaring. Pengambilan sampel darah sebanyak tiga kali, yaitu pada minggu ke-2,minggu ke-4, dan minggu ke-6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian analog kurkumin memengaruhi respons hematologi dan kinerja pertumbuhan ikan nila merah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, suplementasi analog kurkumin 2,4 mg/100 g pakan adalah dosis yang terbaik untuk peningkatan kesehatan dan pertumbuhan ikan nila

    Aktivitas Aalanine Transaminase dan Aspartate Transaminase pada Babi yang Terdeteksi Sistiserkosis Secara Serologi

    Get PDF
    Sistiserkosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh larva (cysticercus) cacing pita. Sistiserkosis pada babi disebabkan oleh Cysticercus Taenia solium yang berparasit pada otot, hati, otak, dan mata babi. Bentuk dewasanya ada dalam usus manusia, disebut T. solium. Babi juga dapat terinfeksi Cysticercus T. hydatigena yang berparasit pada hati, peritoneum, omentum dan mesenterium. Bentuk dewasanya, T. hydatigena, berparasit pada usus anjing. Cysticercus yang berkembang pada hati babi menyebabkan kerusakan hati. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan nilai biokimia darah pada babi yang secara serologis terdeteksi sistiserkosis dengan yang tidak terdeteksi. Paramater yang diamati meliputi aktivitas enzim alanine transaminase (ALT) dan aspartate transaminase (AST). Deteksi serologi sistiserkosis dilakukan dengan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), menggunakan antigen glikoprotein; aktivitas enzim ALT dan AST diperiksa dengan uji spektrofotometri UV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ALT pada babi yang positif terdeteksi sistiserkosis adalah 57,7 + 4,96 µ/l dan untuk babi yang negatif adalah 53,6 + 3,71 µ/l. Nilai AST pada babi yang positif terdeteksi sistiserkosis adalah 53,8 + 13,38 µ/l dan untuk babi yang negatif adalah 52,7 + 12,01 µ/l. Pada penelitian ini, walaupun masih dalam rentang nilai normal, tampak rataan nilai ALT dan AST pada babi yang terdeteksi sistiserkosis lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terdeteksi

    Performa Broiler dengan Pemberian Jamu Kombinasi Jahe, Kunyit, dan Temulawak

    Get PDF
    Jamu dapat diberikan sebagai feed additive untuk meningkatkan performa dan kesehatan broiler. Penelitian bertujuan menentukan konsentrasi optimal pemberian jamu kombinasi jahe, kunyit, dan temulawak yang dapat meningkatkan performa broiler, pengaruh jamu terhadap fungsi organ dan cita rasa daging ayam broiler. Sebanyak 96 ekor ayam galur Cobb dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, yaitu konsentrasi jamu 0%, 0,25%, 0,5%, dan 0,75% masing-masing dengan 2 kelompok ulangan. Pemberian jamu dimulai pada hari ke-20 sampai hari ke-36 dengan cara mencampur serbuk ke dalam air minum. Peubah yang diamati terdiri atas konsumsi pakan, konsumsi minum, bobot akhir, pertambahan bobot badan, Feed Conversion Ratio (FCR), indeks performa (IP), mortalitas, profil organ, dan karakteristik organoleptik daging. Hasil menunjukkan jamu dengan konsentrasi 0,25% dapat meningkatkan bobot akhir, pertambahan bobot badan, dan bobot karkas, tetapi tidak menunjukkan pengaruh terhadap konsumsi pakan, konsumsi minum, FCR, IP, dan cita rasa daging. Selain itu, mortalitas dapat ditekan pada konsentrasi jamu 0,25% dan 0,5%. Jamu kombinasi jahe, kunyit, dan temulawak dapat meningkatkan performa dan kesehatan broiler

    Potensi Alfa Enolase (ENO1) Membran Plasma Spermatozoa Sapi Bali Sebagai protein Antigenik

    Get PDF
    Antibodi imunoglobulin G (IgG) merupakan salah satu immunoglobulin yang dikandung oleh antibodi anti-sperma (ASA) yang terdapat pada saluran reproduksi betina. Imunoglobulin G dapt berikatan dengan protein-protein yang berpotensi sebagai protein antigenik seperti alfa enolase (ENO1). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dinamika dan potensi ENO1 membran plasma spermatozoa sebagai protein antigenik serta kualitas spermatozoa sapi Bali dengan perlakuan 0,5 mg/ml IgG. Sampel penelitian adalah 16 ejakulat yang diperoleh dari 4 ekor pejantan. Motilitas spermatozoa dievaluasi menggunakan CASA, viabilitas melalui metode pewarnaan diferensial, Keutuhan Membran Plasma (MPU) menggunakan metode Hypo-osmotic Swelling Test (HOS-Test), nilai Mix Anti-globulin Reaction (MAR) diperoleh dari MAR-Test, sedangkan kuantitas ENO1 diukur dengan ELISA. Analisis data menggunakan analisis ragam RAK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan IgG sampai 0,5 mg/ml menurunkan motilitas, kinematika spermatozoa, viabilitas, MPU dan kuantitas ENO1 membran plasma spermatozoa (P<0,01), serta meningkatkan nilai MAR-test (P<0,05). Penelitian menyimpulkan bahwa IgG dapat menurunkan kualitas spermatozoa dan kuantitas ENO1, sekaligus menunjukkan bahwa ENO1 membran plasma spermatozoa sapi Bali berpotensi sebagai protein antigenik

    Kajian Pustaka: Komparasi Metode Deteksi Mastitis Subklinis

    Get PDF
    Mastitis subklinis merupakan radang pada kelenjar susu yang menyerang ternak penghasil susu. Ambing ternak yang terinfeksi akan tampak normal, namun ternak akan mengalami penurunan produksi serta kualitas susu. Deteksi dini mastitis subklinis penting bagi peternak untuk mengurangi kerugian ekonomi. Berbagai macam metode deteksi untuk mendiagnosis mastitis subklinis telah tersedia. Studi komparasi ini dilakukan untuk mengetahui sensitivitas, spesifisitas, kelebihan, dan kekurangan dari metode-metode deteksi mastitis subklinis yang dapat dilakukan di lapangan seperti California Mastitis Test (CMT), Surf Field Mastitis Test (SFMT), Milk Electrical Conductivity (EC), Infrared Thermography (IRT), pH Detector, White Side Test (WST), dan Somatic Cell Counted (SCC). Jenis penelitian yang digunakan yaitu kajian pustaka dari literatur yang dikumpulkan sesuai dengan topik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CMT memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dan dapat digunakan sebagai metode alternatif dalam mendiagnosis mastitis subklinis. Waktu deteksi yang singkat, penggunaannya yang praktis, dan ketersediaan CMT di berbagai tempat dapat digunakan sebagai alternatif metode tes skrining dalam mendiagnosis mastitis subklinis

    Penanganan GSD (German Sheperd) yang Terinfeksi CPV (Canine Parvovirus) dan Parasit Darah Babesia sp. serta Anaplasma Sp. di Antasari Pet Clinic Samarinda

    Get PDF
    Canine Parvovirus (CPV) merupakan penyakit virus pada anjing yang menyebabkan penyakit pencernaan akut pada anak anjing. Penyakit ini sangat menular dan menjadi penyebab kematian paling tinggi terutama menyerang anak anjing umur 2–6 bulan. Babesia dan Anaplasma merupakan suatu penyakit parasit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraseluler gram negatif akibat infeksi protozoa yang ditularkan melalui vektor caplak. Seekor anjing ras german sheperd dengan kondisi lemas, anorexia, serta diare berdarah. Pemeriksaan Klinis menunjukkan terdapat infestasi ektoparasit sekitar 30 %, dan mukosa mulut pucat. Pengujian CPV Antigent rapid test menunjukkan garis dua yang berarti positif terinfeksi Parvo Virus. Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan ada penurunan WBC yang menunjukkan adanya infeksi virus, dan ada kenaikkan di nilai SGOT yang menunjukkan adanya kerja berat pada organ hati. Dan dari hasil ulas darah ditemukan parasite darah yaitu babesia sp. dan anaplasma sp. Terapi yang diberikan berupa terapi cairan ringer laktat, doxycycline 20mg/kg BB sebagai antiparasit. Antibiotic menggunakan Gentamicin injeksi 5 mg/kg BB atau 0.005 ml/kg BB, pemberian vitamin k3 (hemostop k) injeksi 0,1 ml/kg BB sebagai antipendarahan, hematofos 0,1 ml/kg BB untuk mengatasi anemia.dan pemberian promax sebagai probiotik, serta pakan khusus gastrointestinal. Pada hari pertama terapi, anjing sudah menunjukkan progress, berupa nafsu makan yang telah kembali, dan pada hari yang ketiga sudah tidak diare lagi dan feses sudah normal.Canine parvovirus (CPV) is a highly contagious viral disease of dogs that commonly causes acute gastrointestinal illness in puppies.. This disease is highly contagious and is the highest cause of death, especially affecting puppies aged 2-6 months. Babesia and Anaplasma are parasitic diseases caused by gram-negative intracellular microorganisms due to protozoan infections transmitted through tick vectors. A dog of german sheperd breed with a limp condition, anorexia, as well as bloody diarrhea. Clinical examination showed that there was an ectoparasite infestation of about 30%, and the oral mucosa was pale. The CPV Antigent rapid test showed a line of two which means it is positively infected with parvo virus. And from the results of a complete blood examination, it shows that there is a decrease in WBC indicating the presence of viral infections, and there is a rise in the SGOT values that indicates the presence of heavy work on the liver. And from the results of the blood review, it was found that the blood parasite was babesia sp. and anaplasma sp. The therapy given is in the form of lactic ringer fluid therapy, doxycycline 20mg / kg BB as an antiparasitic. Antibiotics use Gentamicin injection of 5 mg / kg BB or 0.005 ml / kg BB, administration of vitamin k3 (hemostop k) injection of 0.1 ml / kg BB as anti-rest, hematophos 0.1 ml / kg BB to overcome anemia. On the first day of therapy, the dog already shows progress, in the form of appetite that has returned, and by the third day there is no diarrhea anymore and feces are normal.organs

    283

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Acta VETERINARIA Indonesiana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇