Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Penghambatan Faktor Virulensi Vibrio parahaemolyticus Menggunakan Isolat Bakteri dari Saluran Pencernaan Ikan Kerapu
Ikan kerapu adalah komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi pada pasar domestik dan internasional. Akan tetapi, dalam budidaya ikan kerapu masih sering ditemukan kasus penyakit vibrosis yang berdampak terhadap kerugian ekonomi akibat kematian yang ditimbulkan. Penyakit ini disebabkan salah satunya oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus yang faktor virulensinya diregulasi oleh mekanisme kuorum sensing (QS). Pencegahan penyakit bakteri selama ini sering dilakukan dengan menggunakan antibiotik yang berisiko munculnya bakteri resisten antibiotik. Salah satu upaya untuk menghindari hal tersebut adalah dengan menghambat sistem QS menggunakan bakteri pendegradasi molekul sinyal N-acyl homoserine lactone (AHL). Pada penelitian ini dilakukan isolasi kandidat bakteri pendegradasi AHL pada media menggunakan AHL komersial sebagai sumber N tunggal dan juga melakukan isolasi bakteri V. parahaemolyticus pada media Thiosulfate-Citrate-BileSalts-Sucrose Agar dari saluran pencernaan ikan kerapu. Pengaruh penambahan isolat kandidat pendegradasi AHL terhadap tiga faktor virulensi V. parahaemolyticus yaitu motilitas, produksi kaseinase dan hemolisa diuji dengan mengkultur V. parahaemolyticus dengan dan tanpa penambahan isolat pendegradasi AHL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 isolat kandidat pendegradasi AHL yaitu SNA02 dan SNA03 mampu menurunkan ketiga faktor virulensi yang diuji tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa isolat SNA02 dan SNA03 berpotensi sebagai kandidat bakteri untuk mencegah penyakit vibriosis. Hasil ini diharapkan dapat membantu pembudidaya ikan kerapu dalam mengendalikan patogenitas bakteri V. parahaemolyticus
Efikasi Pemberian Maserasi Kemangi sebagai Antifertilitas terhadap Profil Hematologi dan Biokimia Darah Tikus Betina
Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi khasiat fitofarmaka lokal Indonesia yaitu kemangi sebagai antifertilitas dalam meningkatkan kesehatan dan keamanan tikus betina. Sebanyak 15 ekor tikus betina galur Sprague-Dawley (umur 8 minggu, bobot badan 220-230 g) dibagi acak ke dalam 3 perlakuan dan 5 ulangan, yaitu: kontrol (K0); kemangi 1% (K1); dan kemangi 5% (K5) dalam bentuk maserasi yang ditambahkan ke dalam air minum. Pemberian jamu dilakukan selama 20 hari dimulai pada fase diestrus. Parameter profil darah yang diamati adalah gambaran darah merah (jumlah butir darah merah, hematokrit, dan hemoglobin) dan diferensial darah putih (limfosit, monosit, neutrofil, eosinofil, basofil). Parameter keamanan diamati dengan melihat fungsi organ hati (SGPT, SGOT) dan ginjal (ureum, kreatinin). Hasil menunjukkan bahwa profil darah dan pengamatan fungsi hati dan ginjal pada kelompok tikus betina yang diberi kemangi tidak terdapat perbedaan nyata (P>0.05) dengan kelompok kontrol. Pemberian kemangi tidak memengaruhi kondisi fisiologis tikus betina dan tidak toksik sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan tikus betina
Efek Ekstrak Fraksi Etil Asetat Daun Pelawan pada Kinerja Ovarium Tikus Pascamelahirkan
Daun Pelawan memiliki kandungan flavonoid dan steroid yang dapat mempengaruhi sistem reproduksi betina. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas ekstrak fraksi etil asetat Pelawan pada fisiologis ovarium tikus pacamelahirkan berdasarkan pada prediksi jumlah anak, bobot anak, kadar estrogen, dan bobot ovarium. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial. Perlakuan dibagi menjadi perlakuan tikus yang melahirkan sekali dan melahirkan dua kali. Tiap perlakuan terdiri atas kontrol tanpa ekstrak pelawan, tikus diberikan ekstrak pelawan dengan dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 150 mg/kg BB secara peroral. Hasil penelitian menunjukkan jumlah anak dan bobot anak pada induk melahirkan dua kali mengalami peningkatan pada dosis 50 mg. Jumlah anak dan bobot anak pada induk melahirkan sekali mengalami penurunan pada dosis 100 mg. Konsentrasi estrogen pada semua perlakuan mengalami penurunan di hari ke-3 dan meningkat di hari ke-5. Konsentrasi estrogen pada dosis 100 mg memiliki kadar tertinggi dibandingkan dosis 50 mg dan 150 mg. Bobot ovarium mengalami penurunan di hari ke-3 dan meningkat di hari ke-5. Induk melahirkan dua kali dengan dosis 100 mg mengalami peningkatan bobot ovarium dibandingkan dengan dosis lain. Senyawa bioaktif ekstrak Pelawan mempengaruhi jumlah anak, bobot anak, kadar estrogen, dan bobot ovarium. Diduga, senyawa antioksidan pada ekstrak mempengaruhi kinerja hormon pertumbuhan dan faktor pertumbuhan untuk menghasilkan LH dan FSH di kelenjar pituitari
Gambaran Kesejahteraan Musang Luwak Tangkar (Paradoxurus hermaphroditus) Penghasil Biji Kopi Luwak Pegunungan Malabar, Jawa Barat
Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan salah satu jenis mamalia kecil seukuran kucing (cat-sized mammals) yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Di Indonesia, musang jenis luwak kerap dimanfaatkan sebagai hewan untuk produksi biji kopi luwak. Dalam praktiknya, produksi biji kopi luwak ini sering ditemukan pelanggaran kesejahteraan hewan terhadap musang luwak sebagai hewan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas pemeliharaan musang luwak pada salah satu penangkaran yang berlokasi di daerah Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Variabel yang diamati meliputi tingkat kesejahteraan musang luwak serta manajemen pemeliharaan dan pengelolaan yang diterapkan di penangkaran. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi tidak langsung, pengisian daftar pertanyaan campuran (tipe tertutup dan tipe terbuka), pengisian checklist serta studi literatur. Selanjutnya, data yang diperoleh diolah dan disajikan secara deskriptif dengan kategori penilaian akhir meliputi buruk (skor 1) hingga memuaskan (skor 5). Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai 88.7 dari peneliti dan 100 dari pengelola, dengan angka rata-rata sebesar 94.35. Skor yang diperoleh diklasifikasikan ke dalam kategori ‘Sangat Baik’. Meski demikian masih terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk menyempurnakan implementasi praktik kesrawan bagi satwa di penangkaran, terutama hal-hal yang berkaitan dengan aspek bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit serta aspek bebas dari rasa takut dan tertekan
Seroprevalensi Rabies Pascavaksinasi pada Populasi Anjing di Kawasan Endemik Rabies di Kabupaten Sukabumi
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil vaksinasi rabies dan membandingkan kenaikan titer antibodi yang terbentuk di Kecamatan Cisolok dan Jampang Tengah sebagai Kawasan endemik rabies Kabupaten Sukabumi dan mengasosiasikan titer antibodi yang terbentuk dengan umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan anjing yang diperiksa . Sebanyak 211 anjing diamati pada studi ini. Sampel serum prevaksinasi dan pascavaksinasi diambil dan selanjutnya diuji dengan uji ELISA tidak langsung untuk mengetahui titer antibodinya. Data titer antibodi dari masing-masing sampel dianalisis secara deskriptif, sedangkan asosiasi umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan dengan titer antibodi yang terbentuk pascavaksinasi dihitung menggunakan uji chi-square. Hasil pengujian menunjukkan seroprevalensi rabies di Kecamatan Cisolok dan Jampang Tengah sebelum vaksinasi adalah 17,3% dan 2,6% dengan titer 0,58 EU/mL dan 0,55 EU/mL, sedangkan seroprevalensi setelah vaksinasi menjadi 62,5% dan 93% dengan titer 1,29 EU/mL dan 1,33 EU/mL. Variabel umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan tidak berasosiasi nyata dengan peningkatan titer antibodi rabies setelah vaksinasi. Hasil studi menyimpulkan bahwa seroprevalensi rabies di kawasan endemik rabies di Kabupaten Sukabumi meningkat setelah dilakukan vaksinasi dari sebelumnya 11% menjadi 75,8%, dengan nilai peningkatan titer (Δ titer) sebesar 1,09 EU/mL
Karakteristik Semen dan Korelasi antara Konsentrasi Testosteron dengan Libido Pejantan Sapi Simental
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik semen dan mengevaluasi hubungan antara konsentrasi testosteron dengan libido pejantan sapi Simental. Sebanyak 12 ekor sapi Simental, 9 ekor dengan motilitas spermatozoa ≥70% (A) dan 3 ekor dengan motilitas spermatozoa <70% (B) berdasarkan data sekunder dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) tahun 2018-2019. Semen ditampung menggunakan vagina buatan pada pagi hari. Evaluasi kualitas semen segar hanya dilakukan dengan penilaian morfologi spermatozoa. Sampel darah disentrifugasi (3000 rpm, 10 menit), supernatan dimasukkan ke dalam microtube dan disimpan pada suhu -20 °C. Analisis testosteron menggunakan metode ELISA. Data kualitas semen segar sapi pejantan Simental dianalisis secara deskriptif. Korelasi antara karakteristik semen, libido dan konsentrasi hormon testosteron menggunakan korelasi Pearson’s. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (P<0,05) antara kualitas semen segar kelompok pejantan A dengan pejantan B dalam parameter motilitas, konsentrasi, dan morfologi spermatozoa normal. Volume semen dan skor libido pada semua pejantan tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Konsentrasi testosteron pada kelompok pejantan A lebih tinggi (42,57 ng/mL) dibandingkan dengan kelompok pejantan B (33,26 ng/mL). Konsentrasi testosteron menunjukkan korelasi positif (P<0,01) dengan karakteristik semen seperti motilitas spermatozoa (0,813), morfologi spermatozoa normal (0,639), dan libido (0,952). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk dilakukannya pengukuran konsentrasi testosteron dalam proses seleksi sapi jantan menjadi pejantan
Karakteristik Siklus Estrus Domba Garut Dara
Tujuan penelitian mengetahui karakteristik siklus estrus domba garut dara dengan pengamatan tingkah laku estrus domba garut dara, sitologi vagina, pengamatan perkembangan folikel dan CL, serta pengukuran konsentrasi hormon P4. Penelitian ini menggunakan lima ekor domba garut dara dengan usia 6–7 bulan dan berat badan berkisar 17–21 Kg. Pengambilan data tingkah laku, sitologi vagina, ultrasonografi ovarium dan analisis hormon P4 dilakukan selama dua siklus estrus dengan interval tiga hari sekali. Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA). Hasil penelitian sel superfisial mencapai persentase tertinggi pada periode estrus sebesar 50,08±11,57% dengan diameter folikel ovulatorik 0,61±0,02 cm dan konsentrasi hormon P4 pada level terendah 3,86±1,62 ng/mL. Setelah ovulasi, terjadi penurunan sel superfisial dan peningkatan sel parabasal dan sel intermediat. Persentase tertinggi sel parabasal dan sel intermediat sampai fase luteal dengan diameter CL 0,822±0,194 cm dan konsentrasi hormon P4 mencapai level maksimal 24,49±13,27 ng/mL. Tingkah laku estrus domba garut dara tidak teramati dengan jelas adanya perubahan pada alat kelamin luar. Siklus estrus domba garut dara sulit dideteksi hanya dengan melihat tingkah laku saja. Siklus estrus domba garut dara dapat diamati berdasarkan gambaran sel epitel vagina, konsentrasi hormon P4, serta hubungannya dengan perkembangan folikel dan CL
Kombinasi Penggunaan Butorphanol, Medetomidine dan Midazolam pada Anastesia Badak Sumatera di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK)
Badak Sumatera merupakan salah satu satwa liar yang semakin menurun populasinya dan saat ini terdapat 8 ekor badak Sumatera yang tinggal di habitat semi insitu SRS Tn Way Kambas. Pemeriksaan gigi dan dental floating merupakan salah satu tindakan medis yang rutin dilakukan dalam kondisi teranastesi pada badak Sumatera di SRS. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek pemberian dari kombinasi obat bius Butorphanol, Medetomidine dan Midazolam selama prosedur kegiatan dental floating berlangsung. Pengambilan data dilakukan pada tiga ekor badak jantan dewasa di SRS berumur 10 tahun (jantan 1), 15 tahun (jantan 2), dan 21 tahun (jantan 3) dalam keadaan sehat. Ketiga badak tidak dipuasakan sebelum kegiatan anastesi dilakukan. Metode anastesi dibagi menjadi tiga tahap yaitu pemberian induksi, supplementary drug dan antidota (recovery). Sediaan obat bius sebagai prosedur induksi adalah 40-50 mg Butorphanol, 3-4 mg Medetomidine dan 15 mg Midazolam yang diberikan secara intramuskular (IM). Pengambilan data dilakukan selama prosedur dental floating berlangsung dengan memperhatikan perubahan nilai respirasi, suhu tubuh, dan denyut jantung pada setiap tahapannya. Induksi menggunakan kombinasi obat Butorphanol, Medetomidine dan Midazolam memperlihatkan efek anastesi rata-rata pada 6±2,6 menit dan efek sternal recumbency muncul rata-rata pada 24±16,5 menit. Badak terlihat diam berdiri, hilang kesadaran, penis relaksasi, hipersalivasi, tidak merespon lingkungan, hingga muncul respon sternal recumbency. Pengambilan data parameter fisiologis (suhu tubuh, respirasi, denyut jantung) dan saturasi oksigen dilakukan setelah badak dalam poisisi sternal recumbency pada rentang waktu 3-5 menit. Nilai rata-rata saturasi oksigen adalah 98,5% (jantan 1), 94% (jantan 2), dan 91% (jantan 3), nilai rata-rata pemeriksaan suhu tubuh adalah 36,90c (jantan 1), 36,90c (jantan 2), dan 37,30c (jantan 3), nilai rata-rata frekuensi nafas adalah 13,5x/menit (jantan 1), 12,8x/menit (jantan 2), dan 15,7x/menit (jantan 3), dan nilai rata-rata denyut jantung adalah 46 x/menit (jantan 1), 39x/menit (jantan 2), dan 43,9 x/menit (jantan 3). Obat supplementary yang digunakan selama prosedur berlangsung adalah Ketamine yang memberikan efek sedasi lebih lama. Penggunaan Naltrexone dan Atipamezole sebagai reversal atau antidota memperlihatkan efek yang cukup cepat yaitu 1 menit setelah pemberian secara intravena (IV). Kombinasi Butorphanol, Medetomidine dan Midazolam dapat memberikan efek anastesi yang baik ditandai dengan kondisi relaksasi otot yang baik, respon denyut jantung serta respirasi yang normal.Sumatran rhino is a critically endangered species and their population decreased every year. Currently, there are 8 Sumatran rhinos living in the semi-in situ habitat of SRS in Way Kambas National Park (TNWK). Dental check-ups and dental floating are one of the routine medical procedures performed under anesthesia for Sumatran rhinos at SRS. The aim of this study was to determine the effect of using anesthetic combination of Butorphanol, Medetomidine and Midazolam during the dental floating procedure. Data were collected on three adult male rhinos in SRS aged 10 years (1st male), 15 years (2nd male), and 21 years (3rd male) and they were not fasted before anesthesia. The anesthetic method is divided into three stages: induction, maintenance/supplementary and antidote (recovery). The anesthetic drugs that were used are 40-50 mg Butorphanol, 3-4 mg Medetomidine and 15 mg Midazolam by intramuscular (IM) injection. Data were collected by taking the result of respiration rate, body temperature rate and heart rate from each stage. Induction using a combination of drugs Butorphanol, Medetomidine and Midazolam showed an average anesthetic effect at 6±2.6 minutes and the average sternal recumbency effect appeared at 24±16.5 minutes. Rhinos were seen standing still, lost consciousness, relaxed penis, hypersalivation, did not respond to the environment, until a sternal recumbency response appeared. Data collection on physiological parameters (body temperature, respiration, heart rate) and oxygen saturation was carried out after the rhino was in the position of sternal recumbency every 3-5 minutes during the process. The average value of oxygen saturation was 98.5% (1st male), 94% (2nd male), and 91% (3rd male), the average value of body temperature examination was 36.90c (1st male), 36.90c (2nd male), and 37.30c (3rd male), the average respiration rates were 13.5x/minute (1st male), 12.8x/minute (2nd male), and 15.7x/minute (3rd male) , and the average heart rate values were 46 beats/minute (1st male), 39x/minute (2nd male), and 43.9 x/minute (3rd male). The supplementary drug used during the procedure is Ketamine which provides a longer sedative effect. The use of Naltrexone and Atipamezole as a reversal or antidote shows a fairly rapid effect, which is 1 minute after intravenous (IV) administration. The combination of Butorphanol, Medetomidine and Midazolam can provide a good anesthetic effect characterized by good muscle relaxation, normal heart rate and respiration rate responses
Komparasi Data Hematologi pada Beberapa Spesies Macaca
Satwa primata merupakan salah satu hewan model yang banyak digunakan dalam penelitian biomedis karena secara anatomi dan fisiologis memiliki kesamaan dengan manusia. Darah merupakan salah satu cairan tubuh ekstraseluler yang berfungsi sebagai alat angkut atau media transport dan pertahanan tubuh. Gangguan keseimbangan yang terdapat pada setiap variabel kuantitatif dan kualitatif dari jenis sel-sel darah dapat menyebabkan validitas suatu penelitian menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dasar hematologi Macaca siberu dan untuk mendapatkan informasi kekerabatan melalui data sekunder hematologi secara kuantitatif dan kualitatif dari Macaca leonina, dan Macaca nemestrina. Sampel diambil dari 8 ekor Macaca siberu (5 jantan dan 3 betina) dengan umur yang bervariasi dan tergolong sehat serta telah dipuasakan. Analisis sampel yang dilakukan yaitu berupa pemeriksaan diferensial leukosit, pemeriksaan kuantitatif sel-sel darah, dan indeks eritrosit yang dianalisis secara deskriptif. Profil hematologi pada Macaca siberu secara keseluruhan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan Macaca nemestrina dan Macaca leonina. Variasi nilai yang ditemukan dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsik seperti jenis kelamin, nutrisi, aktivitas dan stres, serta faktor ekstrinsik seperti suhu, ketinggian, dan letak geografis
Meta-Analisis: Kuantifikasi Efektivitas Antelmintik Herbal pada Pengujian In Vivo
Pemberian terapi obat pada ternak seringkali diberikan secara kurang tepat. Salah satunya adalah kebiasaan dalam pemberian antelmintik yang diberikan terlalu sering, tidak tepat dosis, dan menggunakan satu jenis antelmintik sintetik yang sama dalam jangka waktu yang panjang. Kebiasaan tersebut memunculkan permasalahan baru yaitu mempercepat terjadinya resistansi. Permasalahan ini telah dihadapi secara global sehingga dilakukan banyak penelitian untuk mencari solusi alternatif dalam mencegah terjadinya resistansi. Pemanfaatan tanaman herbal dapat digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan antelmintik sintetik. Melalui metode meta-analisis, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan dari dua jenis antelmintik ini. Metode diawali dengan pengumpulan data studi primer menggunakan database yang terdapat di ScienceDirect, Pubmed, ReasearchGate, Academia.edu, dan CABI pada rentang tahun 2007-2020. Data diseleksi dan dianalisis dengan melihat effect size sebagai indikator perbandingan efektivitas antelmintik sintetik dan antelmintik herbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antelmintik sintetik lebih efektif dengan effect size -2,90 ± 0,27, sedangkan antelmintik herbal -1,72 ± 0,28. Hal ini dikarenakan senyawa aktif dalam ekstrak herbal memiliki nilai afinitas ikatan yang lebih rendah. Senyawa herbal terbukti efektif sebagai antelmintika namun efeknya tidak sekuat antelmintika sintetik. Faktor metode ekstraksi bahan herbal dan interaksi senyawa herbal dalam campuran tanaman yang berbeda diduga menjadi faktor yang membuat efek kerja bahan herbal tidak sekuat antelmintika sintetik