Acta VETERINARIA Indonesiana
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Kelimpahan Fungi Kelas Dothideomycetes Pada Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops aduncus)
Mamalia laut memainkan peran ekologis penting di lautan, dan menjadi prioritas global karena kepekaan terhadap perubahan lingkungan. Lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) merupakan salah satu mamalia laut yang tersebar luas di Indonesia. Informasi mengenai mikrobioma masih sangat sedikit diketahui, terutama informasi mengenai mikrobioma fungi. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelimpahan fungi kelas Dothideomycetes pada saluran pencernaan khususnya usus lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) dengan menggunakan Platform Next Generation Sequencing (NGS). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 6 genera dari 4 ordo yang yang meliputi Neodevriesia, Altenaria, Stemphylium, Phaeophleospora, Diplodia dan Venturia. Kelompok Neodevriesia adalah yang paling mendominasi sebesar 62%, diikuti Alternaria 16% dan Phaeophleospora 14%. Fungi yang tidak teridentifikasi mencapai 5%. Kelimpahan fungi pada usus lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) diasumsikan memiliki korelasi dengan lingkungan dan makanan lumba-lumba pada pusat konservasi
Short Communication: Detection Of The Serotype Of Avibacterium Paragallinarum From Indonesian Poultry Field Isolate Using Hemagglutination Inhibition Test
Infectious coryza (IC) merupakan penyakit saluran pernapasan atas yang bersifat oportunistik dan menular pada unggas. Penyakit ini disebabkan oleh Avibacterium paragallinarum. Sifat infeksi penyakit ini dikenal memiliki morbiditas yang tinggi namun dengan mortalitas yang rendah. Kerugian utama yang disebabkan oleh IC adalah berkurangnya produksi telur dan peningkatan rasio konversi pakan (FCR). Ada tiga serovarian Avibacterium paragallinarum yang dikenal, yaitu serovarian A, B, dan C. Laporan mengenai serovarian Avibacterium paragallinarum di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi serovaran Avibacterium paragallinarum dari isolat peternakan unggas di Indonesia menggunakan uji hemaglutinasi inhibisi (HI). Sepuluh isolat lapang Avibacterium paragallinarum diidentifikasi ulang untuk kemudian diolah menjadi larutan antigen menggunakan teknik sonikasi yang selanjutnya digunakan untuk uji hemaglutinasi (HA). Setelah titer unit 4HA diperoleh, antigen diuji dengan HI menggunakan antisera referensi (Strain 221 serovar A, strain Spross serovar B, dan regangan Modesto, serovar C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu isolat memiliki titer paling tinggi dengan antiserum serovarian A yaitu >5120 HI unit dan sembilan isolat memiliki titer tertinggi dengan antiserum serovarian B yaitu >5120 HI Unit. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa satu isolat lapang Avibacterium paragallinarum dari ayam petelur adalah serovarian A dan sembilan isolat lapang dari Avibacterium paragallinarum dari ayam petelur, ayam pedaging, ayam kampung, puyuh isolat lapangan merupakan serovarian B.Infectious coryza (IC) is an opportunistic and infectious upper respiratory tract disease in poultry, caused by Avibacterium paragallinarum. This disease has high morbidity but low mortality. The major losses caused by IC are the reduced egg production and increased feed conversion ratio (FCR). There are three recognized Avibacterium paragallinarum serovars, which are serovar A, B, and C. Limited reports regarding the serovars of Avibacterium paragallinarum in Indonesia are available. This research was done to detect the serovar of Avibacterium paragallinarum from Indonesian poultry field isolate using hemagglutination inhibiotion (HI) test. Ten field isolates of Avibacterium paragallinarum were re-identified, then processed into antigen solution using sonication, further on used for hemagglutination (HA) test. After the 4HA unit titer was obtained, the antigens were tested with HI using reference antisera (Strain 221 serovar A, strain Spross serovar B, and strain Modesto, serovar C). The results showed that one isolate had the highest titer with antiserum serovar A which was >5120 HI unit and nine isolates had the highest titer with antiserum serovar B which was >5120 HI Unit. Therefore, it can be concluded that one field isolates of Avibacterium paragallinarum from layer chicken is serovar A and nine field isolates of Avibacterium paragallinarum from layer, broiler, free range chicken, quail field isolates are serovar B
Asites dan Hypoalbuinemia Pada Kucing Mix Domestic Long Hair
Asites adalah sebuah manifestasi klinis dari sebuah penyakit dengan adanya cairan yang bocor ke dalam rongga abdomen baik transudat maupun eksudat. Kucing memiliki gejala distensi abdomen dan kepucatan pada mukosa ginggiva namun kondisi umum masih bagus. Tindakan paracentesis dilakukan untuk mengeluarkan cairan dan melakukan pemeriksaan cairan serta pemeriksaan darah dan kimia darah dilakukan untuk menunjang diagnosa. Cairan yang dikeluarkan berupa transudat (bening dan cair), pemeriksaan darah didapatkan adanya anemia, pemeriksaan kimia darah hanya menunjukan tingkat albumin yang rendah (hipoalbuminaemia), maka diagnosa ditetapkan asites akibat hipoalbuminaemia. Kucing Mola di rawat inap dengan terapi diuretik (furosemid), Hematodin® injeksi, Catosal® injeksi, suplemen albumin (Fibumin), suplemen Hepacartine, antibiotik Amoxicillin dan Clavulanate Potassium, dan antiinflamasi dan antipiretik Tolfenamic Acid serta tindakan paracentesis (pungsi). Selama rawat inap menunjukan adanya perkembangan pada kucing, berkurangnya cairan ditandai dengan adanya berkurangnya ukuran abdomen pada kucing walaupun membutuhkan waktu yang lama. Tidak terdapat penurunan kondisi selama rawat inap. Demam yang muncul dapat dikendalikan dengan pemberian tolfenamic acid dan kondisi suhu masih normal hingga saat ini.Ascites is a clinical manifestation of a disease with fluid leaking into the abdominal cavity either transudate or exudate. Cat has symptoms of abdominal distension and pallor of the gingival mucosa but the general condition is still good. Paracentesis is performed to remove fluid and perform fluid checks as well as blood and blood chemistry tests to support the diagnosis. The fluid released is in the form of a transudate (clear and liquid), blood examination reveals anemia, blood chemistry examination only shows a low albumin level (hypoalbuminemia), then the diagnosis is established ascites due to hypoalbuminemia. Mola\u27s cat was hospitalized with diuretic therapy (furosemide), Hematodin® injection, Catosal® injection, albumin supplement (Fibumin), Hepacartine supplement, Amoxicillin and Clavulanate Potassium antibiotics, and anti-inflammatory and antipyretic Tolfenamic Acid and paracentesis (puncture). During the hospitalization showed progress in the cat, the decrease in fluid was marked by a decrease in the size of the abdomen in the cat, although it took a long time. There was no deterioration in the condition during hospitalization. The fever that appears can be controlled by giving tolfenamic acid and the temperature is still normal until now
Pengaruh Transplantasi Ovarium pada Kelinci Lokal Bunting Semu Terhadap Peningkatan Hormon Kortisol
Implantasi atau proses memindahkan organ tubuh dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup yang lain dapat menginisiasi terjadinya stres. Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan konsentrasi hormon kortisol pada kelinci lokal bunting semu yang mendapat transplantasi ovarium sapi aceh dengan durasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan sembilan ekor kelinci betina lokal berumur 3-5 tahun, bobot badan 1,5-2,9 kg. dibagi dalam tiga kelompok perlakuan (n=3) yakni kelompok transplantasi ovarium sapi di dalam uterus kelinci lokal bunting semu selama 3 hari (K1), 5 hari (K2), dan 7 hari (K3). Sampel feses untuk pemeriksaan konsentrasi kortisol diambil pada waktu sebelum dan setelah transplantasi. Konsentrasi metabolit hormon kortisol diukur dari sampel feses menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan rerata konsentrasi hormon kortisol pada kelinci H-3 sebelum transplantasi ovarium sapi aceh adalah 125,12±74,68 ng/g. Konsentrasi kortisol sesudah transplantasi pada kelompok K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 433,94±207,44; 176,74±83,00; 343,28±178,42 ng/g (P>0,05). Disimpulkan bahwa transplantasi ovarium sapi aceh pada kelinci lokal bunting semu cenderung meningkatkan hormon kortisol namun durasi ovarium di dalam uterus tidak memengaruhi konsentrasi kortisol
Tongue Structure of Rhinolophus pusillus and Miniopterus schreibersii
Kelelawar memiliki berbagai peran penting baik secara ekologis maupun ekonomis yaitu dalam pengendalian hama, siklus nutrien, pollinator, dan penghasil guano. Namun, kelelawar mengalami ancaman kepunahan yang disebabkan karena kerusakan lingkungan maupun perburuan liar, sehingga upaya konservasi sangatlah penting. Upaya ini dapat dilakukan melalui pendekatan studi struktur histologis lidah untuk memahami kesukaan pakan binatang tersebut. Di Yogyakarta, Indonesia, terdapat dua spesies kelelawar, Rhinolophus pusillus dan Miniopterus schreibersii yang hidup di habitat sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur histologis lidah R. pusillus dan M. schreibersii. Tiga ekor kelelawar pada masing-masing spesies ditangkap menggunakan sweep net dan mist net, selanjutnya kelelawar dianastesi menggunakan kloroform dan dikorbankan. Lidah dikoleksi dan difiksasi dalam neutral buffered formalin 10%. Preparasi histologis dilakukan menggunakan metode parafin dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin dan tebal irisan 6 µm. Data histologis dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil menunjukkan bahwa struktur histologis lidah R. pusillus dan M. schreibersii serupa. Secara histologis, lidah kelelawar tersebut tersusun atas 3 lapis yaitu tunika mukosa, tunika submukosa, dan tunika muskularis. Pada bagian lapisan epitel pipih berlapis berkeratin terdapat tonjolan papila filiformis, fungiformis, dan sirkumvalata. Tunika muskularis tersusun dalam 3 orientasi. Pada lidah kedua spesies tersebut juga terdapat kelenjar ludah dengan sel-sel penghasil kelenjar serosa dan mukosa. Kelenjar ludah R. pusillus terdapat di bagian sublingual dan anterior lidah, sedangkan kelenjar ludah M. schreibersii terdapat di bagian antero-inferior dan posterior lidah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua spesies kelelawar memiliki struktur lidah yang serupa sehingga dapat mengembangkan pola adaptasi yang serupa terhadap pakan
Deteksi Virus Newcastle Disease pada Burung Merpati (Columba Livia) dan Burung Tekukur (Streptopilia Chinensis) yang Menunjukkan Gejala Syaraf
Dewasa ini dilaporkan banyak kasus pada burung merpati (Columba Livia) dan burung tekukur (Streptopilia Chinensis) menunjukkan gejala syaraf, terutama: tortikolis, dan kepala gemetar, yang merupakan indikasi penyakit Newcastle Disease (ND). Kedua spesies burung tersebut banyak berkeliaran di lokasi farm ayam komersial untuk mencari pakan. Kondisi tersebut dapat bertindak sebagai faktor penular penyakit ND. Penelitian ini bertujuan mendeteksi virus ND pada burung merpati dan burung tekukur yang memperlihatkan gejala saraf, dengan uji serologis dan molekuler. Sampel darah diambil dari vena brakhialis, diproses untuk mendapatkan serum darah. Serum tersebut selanjutnya diuji dengan uji hemaglutinasi inhibisi (HI), untuk mendeteksi titer antibodi ND. Sampel pool otak, trakea, dan lien diekstraksi RNA-nya dan diamplifikasi dengan primer spesifik gen F virus ND. Sampel pool tersebut juga dikultur pada telur ayam berembrio specific pathogen free (TAB-SPF). Identifikasi dilakukan dengan uji hemaglutinasi (HA) dan HI dengan serum kontrol positif ND. Hasil deteksi serologis 7 sampel burung merpati menunjukkan titer antibodi ND bervariasi dari titer 25 sampai 28., sedangkan 2 sampel diperoleh seronegatif dengan titer 20. Salah satu pool gerusan organ kode M3/Sleman/2021 menunjukkan hasil RT-PCR positif. Analisis sekuens isolat virus ND tersebut termasuk NDV virulen dan dikelompokkan ke dalam genotipe VII-i. Pasase pool sampel organ tersebut masing-masing dikultur pada TAB-SPF dengan pasase sebanyak 3 kali, menunjukkan hasil negatif
Analisis Sebaran Kasus African Swine Fever pada Babi Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019–2020
Wabah African Swine Fever (ASF) pertama di Indonesia terjadi pada tahun 2019 dan menyebar hingga tahun 2020 ke hampir seluruh kabupaten di Sumatera Utara. African Swine Fever dilaporkan menginfeksi babi domestik di peternakan. Kasus ASF dilaporkan oleh petugas veteriner melalui sistem informasi kesehatan hewan nasional Indonesia (iSIKHNAS). Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis kartografi untuk mengetahui sebaran arah dan pola kasus ASF tahun 2019–2020 di Provinsi Sumatera Utara. Analisis yang digunakan untuk mengetahui sebaran kasus ASF di Sumatera Utara tahun 2019-2020 adalah analisis kartografi yaitu standard deviational ellipse, sedangkan analisis pola kasus ASF menggunakan Moran’s Index. Sebaran kasus ASF tahun 2019 mengikuti arah barat laut-tenggara, sedangkan pada tahun 2020 mengikutiarah timur-barat. Pola kejadian kasus ASF tahun 2019 dibagi menjadi 4 kuadran, terdiri dari 34 kasus di kuadran pertama, tinggi tinggi (HH) dan 203 kasus di kuadran ketiga, rendah rendah (LL). Terdapat satu kasus di area hotspot dan 36 kasus di area coldspot. Pola kejadian kasus ASF tahun 2020 terdiri dari kuadran I tinggi tinggi (HH) sebanyak 81 kasus dan kuadran III rendah rendah (LL) sebanyak 173 kasus. Terdapat 10 kasus di area hotspot dan 55 kasus di area coldspot. Upaya pengendalian ASF dapat dilakukan di wilayah hotspot dan upaya pencegahan ASF dapat dilakukan di wilayah coldspot
Aktivitas Gel Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit dan Gel Gamat Terhadap Penyembuhan Luka
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui khasiat dari gel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan gel gamat sebagai obat untuk mempercepat proses penyembuhan luka sayatan yang mudah diaplikasikan, praktis, dan efektif pada tikus putih galur Sprague-Dawley berdasarkan pengamatan patologi anatomi. Sebanyak 30 tikus yang digunakan dibagi ke dalam rancangan acak lengkap dengan 5 kelompok perlakuan. Kulit tikus dilukai pada sebagian sisi perut kiri atau kanan sepanjang 3 cm. Setiap luka kemudian diobati dengan perlakuan yang berbeda. Perlakuan yang diberikan adalah kontrol negatif (gel plasebo), gel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan gel gamat dengan berbagai konsentrasi (0,5%, 1%, 2%), dan kontrol positif (salep komersil yang mengandung Centella asiatica 15%). Pengamatan patologi anatomi dilakukan setiap hari selama 21 hari. Pengamatan dilakukan dengan membandingkan perubahan yang terjadi secara deskriptif selama proses penyembuhan luka. Parameter yang diamati adalah ukuran luka, kedalaman luka, tepi luka, jenis eksudat, warna kulit, dan keberadaan rambut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelompok yang diberikan gel kombinasi dan kontrol positif memberi pengaruh lebih baik terhadap percepatan penyembuhan luka dibandingkan dengan kontrol negatif yang hanya diberikan gel placebo. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyembuhan luka dipercepat dengan pemberian gel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan gel gamat. Kelompok konsentrasi 2% memberikan hasil penyembuhan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok konsentrasi 0,5% dan 1%.The purpose of this study is to determine the efficacy of a combination gel of turmeric extract and gamat gel as a medicament to accelerate the healing process of incisions which is easy to apply, practical, and effective in white Sprague-Dawley rats based on anatomical pathology observations. A total of 30 rats used were divided into a randomized design with 5 treatment groups. The skin of the rats was incised on the left or right stomach along 3 cm. Each wound was then treated with a different treatment. The treatments given were negative control (placebo gel), combination gel of turmeric extract and gamat gel with variated concentrations (0.5%, 1%, 2%), and positive control (commercial ointment contained Centella asiatica 15%). Anatomical pathology were observed every day for 21 days. Observations are made by comparing the changes that occur descriptively during the healing process. The parameters observed were wound length, wound depth, wound edge, exudate type, skin color, and the presence of hair. The results showed that the group that was given a combination gel and positive control had the better effect on the acceleration of wound healing compared to the negative control which was only given placebo gel, this shows that the wound healing process is accelerated by giving a combination gel of turmeric extract and gamat gel. The 2% concentration group gave better healing results compared to the 0.5% and 1% concentration groups.
Keywords: Extract, gamat, gel, turmeric, wound healing
Data Prevalensi, Pemetaan Spasial, Analisis Morfologi, dan Morfometrik Trypanosoma lewisi Pada Tikus Liar Di Malang
Trypanosomiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa darah ekstraseluler berflagela yaitu Trypanosoma sp. Trypanosoma lewisi adalah parasit darah pada tikus, yang ditularkan oleh pinjal Xenopsylla cheopis. Walaupun parasit ini bersifat non patogen, tetapi keberadaannya dapat mengancam kesehatan manusia. Kasus infeksi T. lewisi pada manusia telah dilaporkan di Thailand dan India, yang mengindikasikan bahwa penyakit ini dapat menginfeksi manusia dalam beberapa keadaan yang belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi T. lewisi berdasarkan morfologi dan morfometrik serta dilakukan perhitungan prevalensi dan pemetaan spasial kasus infeksi T. lewisi pada tikus liar di Malang. Sebanyak 74 ekor tikus dikumpulkan dari berbagai wilayah di Malang dengan menggunakan perangkap hidup tunggal. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi T. lewisi pada tikus liar di Malang dari bulan Agustus sampai Oktober 2020 sebesar 17,5%. Analisis data menggunakan uji chi-square dan uji Fisher, diperoleh hasil tidak ada hubungan atau korelasi yang signifikan antara infeksi T. lewisi dengan jenis kelamin dan umur tikus. Morfologi T. lewisi memiliki posterior tipis dengan kinetoplas oval di sub-terminal, dan nukleus di anterior. Secara morfometrik, T. lewisi memiliki panjang rata-rata 33,19 μm, lebar 3,52 μm, panjang inti 7,82 μm, lebar inti 3,05 μm, panjang kinetoplas 5,25 μm, serta jarak inti ke kinetoplas 10,79 μm. Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa Trypanosoma lewisi menginfeksi tikus liar dan hasil gambaran geografis didapatkan bahwa terdapat risiko penyebaran penyakit trypanosomiasis di wilayah Malang
Identifikasi Endoparasit pada Sapi Brahman Cross (BX) di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Tangerang
Rumah Potong Hewan (RPH) sangat diperlukan sebagai tempat pemantauan dan survailans penyakit hewan. RPH secara rutin melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap hewan di RPH. Penyakit pada ternak akibat infeksi parasit dapat merugikan secara ekonomis dengan mempengaruhi kesehatan ternak. Keadaan ini mengakibatkan penurunan produksi terkait dengan kualitas karkas yang dihasilkan. Penyakit parasitik jarang mendapat perhatian (neglected diseases) sehingga jarang sekali dilakukan pemeriksaan terhadap adanya infeksi endoparasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi endoparasit darah maupun gastrointestinal pada sapi potong di RPH kota Tangerang. Data hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan untuk meningkatkan kualitas layanan jasa pemeliharaan dan pengawasan kesehatan ternak. Sampel darah dan feses dikumpulkan dari 25 ekor sapi Brahman Cross yang akan dipotong di RPH Kota Tangerang. Morfologi endoparasit darah diidentifikasi dari preparat ulas darah yang diwarnai Giemsa sedangkan pemeriksaan telur trematoda dilakukan dengan metode uji endap terhadap 3 gram feses. Pemeriksaan protozoa dan telur nematoda dalam 3 gram feses dilakukan dengan metode uji apung. Identifikasi endoparasit maupun telurnya yang dilakukan berdasarkan pengamatan morfologi dan ukuran parasit menunjukkan adanya infeksi parasit darah 48% dan parasit saluran cerna 72% termasuk infeksi campuran. Endemisitas parasit ini di RPH Indonesia harus diperhatikan untuk melakukan pengendalian dini terhadap infeksi endoparasit patogen.Abattoir (RPH) is very necessary as a place for monitoring and surveillance of animal diseases. RPH routinely monitors and inspects animal health. Diseases in livestock due to endoparasitic infections can be economically detrimental by affecting the health of livestock. This situation resulted in a decrease in production related to the quality of the carcass produced. Parasitic diseases rarely receive attention (neglected diseases) so that it is rarely examined for endoparasitic infections. It is necessary to examine beef cattle at the Tangerang abattoir for the presence of endoparasitic infections, both blood parasites and gastrointestinal parasites. From the results of this study, it is expected to improve the quality of livestock health maintenance and supervision services. Blood and feces samples from 25 Brahman Cross cows from Tangerang City abattoir were identified for endoparasitic infections in the blood and digestive tract. The examination carried out based on the observation of parasite morphology showed 48% blood parasite infection and 72% gastrointestinal parasite including mixed infection. The endemicity of these parasites in Indonesian abattoirs must be considered to carry out early control of pathogenic endoparasitic infections